Meninggalkan Jejak Kebaikan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 13:8-9

Selamat pagi, Saudaraku yang baik. Baik dalam keadaan sehat maupun sakit, kita bersyukur kepada Allah di pagi yang baru. Karena mengaruniakan kita kepercayaan menjakani hidup ini.

Petikan firman Tuhan pagi ini adalah, “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, (9) mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”

Lukas 13:8-9

Saudaraku, sebuah lagu berjudul ” Hidup adalah kesempatan”, sampai sekarang masih hit. Melodi dan iramanya terasa indah, dan isi pesannya sederhana serta mudah dicerna. Saya yakin Anda tahu lagu itu, atau jangan-jangan Anda juga pandai menyanyikannya dengan baik dan merdu.

Ya, hidup itu kesempatan. Kesempatan mengandung waktu yang dimiliki namun kelak akan berlalu. Waktunya bersifat singkat. Sehingga jika tidak segera dimanfaatkan kesempatan akan lewat dengan cepat.

Nah, siapa yang menyangkal bahwa hidup seseorang berada dalam kurun waktu tertentu. Kita hidup di bumi ini tidak kekal. Ada yang mencapai usia 20 tahun, 40 tahun sudah meninggal dunia. Ada pula yang bisa mencapai umur panjang, 80-an, baru menutup usia selama-lamanya. Berapapun usia kita sekarang, selama kita masih miliki itu merupakan kesempatan.

Setiap orang punya kesempatan tapi berbeda-beda memanfaatkannya. Ada yang memanfaatkan sebaik-baiknya, sayangnya ada pula orang yang membiarkan kesempatan berlalu tanpa mengisinya dengan hal bermakna secara optimal. Setiap orang punya orang tua, sekaligus Tuhan memberi kesempatan anak-anaknya untuk mengasihinya. Lalu, apakah setiap anak mengasihi sungguh-sungguh orang tuanya? Tentu ada, dan banyak mereka yang memperlakukan orang tua dengan cinta kasih. Cuma, tidak sedikit juga anak-anak yang gagal untuk itu. Sikap suka melawan orang tua, hidup ugal-ugalan, mengesalkan hati dan tidak menyantuni orang tua dengan cinta kasih, merupakan contoh- yang mudah ditemui. Jelaslah, anak dengan sikap seperti itu membiarkan kesempatan untuk mencintai orang tua gagal dilaksanakannya.

Pada kasus lain, orang tua yang mengabaikan kesempatan mencintai anak-anak juga tidak sedikit. Kita bisa lihat ada anak-anak yang haus perhatian dan cinta kasih ayah atau ibunya. Mereka melihat ayah atau ibunya lebih banyak menghabiskan waktu untuk orang lain, sedangkan buat mereka sendiri seakan hanya sisa-sisa waktu saja.

Tuhan Yesus memberi perumpamaan, yakni tentang sebatang pohon ara. Tiga tahun sudah pemiliknya berharap dapat memetik buahnya. Ternyata harapannya tidak terpenuhi. Tiga tahun harapannya sia-sia. Dia memutuskan memberi waktu tambahan satu tahun lagi, jika pohon ara itu tetap tidak berbuah pengurus kebunnya mengusulkan supaya ditebang saja pohon itu.

Selama ini tuan pemilik pohon ara sudah memberi kesempatan 3 tahun, ternyata 3 tahun itu ia harus pulang dengan tangan hampa. Maka, ia memberi kesempatan terakhir, dan jika tetap saja pohon aranya tidak berbuah maka akan ditebang.

Saudaraku, Kesempatan itu berharga, tidak bisa terulang. Hidup Anda dan saya di dunia ini tidak berulang, sebab kita tidak menganut reinkarnasi. Mengutip sepenggal puisi Chairil Anwar, ” sekali hidup. Lalu mati”.

Tentu banyak kesempatan yang dikaruniakan Tuhan buat Anda dan saya. Mengemban pelayanan di gereja, itu kesempatan. Hidup kita dilengkapi kesehatan itu juga kesempatan. Anak-anak kita tengah memasuki masa remaja itu juga kesempatan. Termasuk jika anak-anak masih tinggal serumah dengan kita, jelas itu pun kesempatan. Pada saatnya itu semua di atas akan lewat. Pelayanan akan selesai. Anak-anak kelak menikah dan tinggal terpisah. Suatu ketika kita sakit-sakitan.

Maka, jangan biarkan kesempatan yang kita miliki itu semua berlalu tanpa kita memberi makna. Dengan tidak memberi makna itu sama dengan pohon ara yang tidak berbuah. Anda dan saya tahu pesan firman Tuhan tadi, konsekuensi jika kita tidak berbuah, ditebang. Kasarnya, ” hidup kita percuma. Tidak bisa menghasilkan apa-apa. Maka, mandat kehidupan kita bisa berakhir.”

Dengan pertolongan Tuhan dan perawatan iman yang rutin dan tekun, percayalah dan bertekadlah bahwa kita bukan pohon ara yang tidak bisa berbuah. Kita berpotensi menghasilkan buah, bahkan bisa jadi telah berbuah lebat. Sekaligus potensi itu telah dan terus menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di hari baru. Apa yang Saudara nilai sebagai sebuah kesempatan? Pasangan kita masih hidup, itu musti kita tempatkan kesempatan untuk berbagi kasih. Karena siapa yang tahu, pasangan kita berakhir hidupnya di dunia ini, esok atau lusa. Selagi kita masih punya pita suara yang baik, itu kesempatan mengikuti paduan suara di gereja. Karena saat pita suara sudah rusak, pasti sulit bust bicara apalagi bernyanyi. Dan banyak macam lagi. Jangan biarkan kesempatan berlalu tanpa dan memberi kesan. Tidak boleh kesempatan berlalu sia-sia tanpa meninggalkan jejak kebaikan.

Mari kita berdoa, “Tuhan hendaklah Roh Kudus bekerja dalam diri kami agar kami tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup yang Engkau karuniakan.

Kami berdoa untuk para orang tua serta saudara kami yang telah lama sakit, agar kiranya Tuhan bersama mereka. Engkau Memulihkan kesehatan, memberikan harapan dan kesabaran bersama mereka dan keluarga mereka masing-masing.”. Dalam nama Yesus, doa ini kami naikkan kepada-Mu. Amin.

Rawat Alam Jadi Berkat

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Mazmur 24:1

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Mentari dengan setia terbit di timur setiap pagi. Terlebih Allah Sang Penciptanya, Dia setia dan selalu setia mendampingi kita. Puji syukur kepada-Nya di pagi baru.

Firman Tuhan menyatakan, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”

Mazmur 24:1

Saudaraku, setiap makhluk yang disakiti menjerit. Perlakuan sewenang-wenang pasti melahirkan erang kesakitan. Tidak semata-mata sebatas manusia, binatang, dan juga alam.

Selama ini, telinga kita selalu diarahkan atas korbannya manusia. Mata kita ditatapkan ke sana. Itu tidak salah, itu tanda simpati kita. Itu benar sebab menunjukkan empati kita. Telinga dan mata kita sangat sensitif mendengar erang kesakitan manusia yang diciderai manusia. Dari sana, dari telinga dan mata, kemudian tumbuhlah kesadaran untuk mencegah dan menghentikannya.

Manusia memang menjadi pusat kepedulian kita. Lalu, bagaimana dengan jeritan binatang yang dilukai, bahkan dieksploitasi berlebihan? Manusia rela membantai berlebihan binatang untuk memenuhi nafsu keserakahan manusia. Konon, setiap tahun puluhan malah ratusan spesies binatang punah oleh manusia.

Saya ingat masa kecil. Hidup dan dibesarkan di desa. Dan secara teratur pergi ke sungai menangkap ikan. Saya ingat betapa beragam ikan yang didapat. Ikan paray, beunteur, kancra, tawes, beureum panon, dan banyak lagi. Kini, telah puluhan tahun saya tidak pernah melihat jenis-jenis ikan itu, apalagi menyantapnya.

Lebih ekstrim, bagaimana pula dengan tumbuhan yang hidup di Indonesia, dan belahan dunia lain? Hutan-hutan tropis dengan keaneka ragaman hayati makin kehilangan kekayaannya.

Saudaraku, firman Tuhan hendak mengajak kita meresapi makna alam semesta ini. Bagaimanapun, manusia bukan pemiliknya. Allah Pencipta, Dialah Pemilik sesungguhnya. Manusia punya mandat terbatas untuk menguasai. Menguasai alam, binatang dan semesta yang harus dipertanggung jawabkan. Menguasai harus disertai sikap merawat dan melestarikan. Kemudian tidak boleh dilupakan, harus dipertanggung jawabkan kepada Allah.

Kenyataannya seperti apa? Seluruh bumi mengerang karena penyalahgunaan yang menguras sebanyak-banyaknya potensi alam dan segenap makhluk yang hidup di dalamnya. Alam sebagai anugerah Tuhan disakiti. Tidak sekali tapi berkali-kali. Terus dan terus tanpa jeda. Eksploitasi menjadi bahasa biasa yang menafasi praktik perbuatan manusia yang tidak kenal merasa cukup. Bumi dan isinya yang merupakan berkat Tuhan, dieksploitasi sewenang-wenang sehingga menjadi kutuk.

Saudaraku, telah berulang-ulang para peduli lingkungan menyatakan bahwa ada yang tidak beres dari sikap manusia atas bumi dan isinya. Ada praktik manusia yang tidak sesuai nafas agama dalam hal memperlakukan tanaman, binatang dan semesta ini. Perubahan cuaca secara global, banjir bandang, dll, itu sebenarnya dering alarm bahaya. Tapi, manusia, khususnya sang penguasa negara adi daya, penguasa rakus dan insan konsumtif, tuli. Mereka (termasuk kita pun) terus menutup mata-telinga dan kesadarannya.

Saudara, jangan-jangan virus corona adalah penjelmaan dari rusak parahnya alam semesta ini. Ia merupakan bentukan dari jeritan dan erangan dari alam dan semesta yang tersakiti. Keganasan mereka, virus corona, mencerminkan tindakan keganasan manusia atas alam semesta ini.

Jika, ya. Kita semua harus bertobat. Kita tidak menjalankan amanah Allah, mengelola alam ini jadi berkat tapi jadi laknat. Kita rawat, lestarikan agar kita bukan merusak dan menghancurkan alam. Bentuk sederhana, lebih banyak menanam tumbuhan daripada menebangnya. Kita merawat alam dengan bijak. Sebab, kita bukan pemilik. Dia, Allah adalah Pemilik sejatinya.

Kita berdoa, “ Tuhan, ampuni kami dengan tidak mengelola alam dengan tidak bijaksana.”

Kami juga berdoa agar semua diberi panjang umur. Setia pada Tuhan dan mencintai keluarga kami. Beri masa depan yang cerah dan terus tekun dalam bekerja. Kami tetap bersuka cita dan bersyukur”.

Tuhan, secara khusus kami ingin berdoa bagi pekerja di bidang kesehatan, para dokter, perawat dan tenaga medis lainnya. Lindungilah nyawa mereka. Kuatkan semangat dan energi mereka. Sampai saat ini, mereka berjuang untuk kami dan kepentingan kesehatan serta keselamatan kami semua. Kiranya virus corona pelan tapi pasti dapat diatasi.

Lindungilah kami dan segenap orang yang kami kasihi. Seluruh doa ini kami panjahatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Memetik Berkat Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan : Ester 2:17

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena cinta kasih Tuhan, kita dan keluarga kita masih diberi masih kehidupan ini.

Firman Tuhan pada hari ini, ”Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.”

Ester 2:17

Saudaraku, hidup itu misteri. Perjalanan hidup sulit ditebak. Kita tidak tahu seseorang akan mengalami peristiwa apa. Demikian juga, kita tidak bisa menduga seseorang kelak menjadi apa. Kita tidak punya alat teknologi secanggih apapun, yang bisa meramalkan dengan pasti dan akurat tentang kehidupan seseorang. Jangankan untuk orang lain, untuk diri kita sendiri saja kita tidak tahu perjalanan hidup kelak. Benarlah ungkapan nyanyian rohani, ”Ku tak tahu kan hari esok.”

Dalam Alkitab, kisah Ester sangat menarik menjadi contoh. Seorang gadis muda. Ayah dan ibunya telah meninggal. Seorang gadis yatim piatu, yang sehari-hari hidupnya bergantung pada kebaikan Mordekhai. Pria yahudi yang terdampar di sebuah negeri buangan. Ester pasti tidak pernah membayangkan atau bermimpi bisa menginjakkan kaki di istana. Apalagi bisa sebagai penghuni dengan posisi permaisuri dari seorang raja. Dalam hal ini, raja Ahasyweros yang kaya-raya. Raja dengan daerah kekuasaannya membentang luas hingga tanah Afrika.

Walau cuma sebatas mimpi, itu sudah berlebihan. Tidak realistis. Ester sebagai gadis Yahudi, identitasnya amat berbahaya jika diketahui penduduk negeri itu. Ya, bisa hidup tanpa gangguan saja, itu sudah merupakan kemewahan. Tinggal di istana tidak pernah dibayangkan. Khusus menjadi istri seorang raja itu sebuah kemustahilan. Imposible. Gak mungkin, deh.

Tapi, itulah hidup. Misteri kehidupan berlaku pada siapa saja, termasuk berlaku bagi Ester. Siapa menduga, suatu ketika muncul peristiwa yang belum pernah terjadi. Permaisuri raja, Wasti namanya, melakukan pembangkangan kepada raja. Dia tidak mau mengikuti keinginan raja. Wasti keberatan dan menolak hadir dalam perhelatan besar, untuk memamerkan kecantikannya.

Raja butuh pengakuan, dalam hal ini butuh pujian rakyat dalam selera memilih perempuan. Dengan berani Wasti tidak mau mengikuti pikiran raja. Sikap Wasti ini dari sisi martabat tentu baik. Perempuan tidak boleh dipajang bagaikan benda. Sebaliknya, pada sisi raja tindakan permaisurinya menampar mukanya di muka umum. Raja merasa dipermalukan Apa akibatnya? Wasti dihukum dan raja memerlukan seorang gadis yang menggantikan posisi permaisuri.

Dari sanalah, tiba-tiba terbentanglah karpet merah buat Ester memasuki istana. Siapa nyana, di antara banyak gadis rupawati, raja jatuh hati pada Ester. Hati raja terpaut pada kecantikannya. Dan raja tidak ragu-ragu menjatuhkan pilihan pada gadis Yahudi yang elok parasnya untuk dipinang.

Ester dari bukan siapa-siapa, menjadi seorang dara yang kemudian menghuni istana dan menjadi istri raja. Begitulah, Tuhan menjadikan perjalanan hidup seseorang. Luar biasa, sulit diduga. Dari sebuah kesalahan yang dibuat orang lain, ada seseorang yang kemudian memetik indahnya berkat Tuhan.

Saudaraku, hidup itu misteri. Tuntunan Tuhan Pemilik kehidupan sulit kita tebak. Bersama Tuhan misteri hidup itu berujung indah. Tuhan mengubah hidup seseorang tanpa pernah diduga siapapun. Termasuk tidak diketahui oleh yang bersangkutan.

Untuk kita, jangan gegabah dan berani-beraninya memastikan seseorang jadi apa kelak. Dan tidak sekali-kali merendahkan martabat hidup seseorang. Tidak boleh menyepelekan seseorang. Bisa jadi ada orang sekarang ini status sosialnya biasa saja. Kita tidak boleh menghinanya bahwa nasibnya akan terus demikian. Siapa tahu kelak ia jadi tokoh besar.

Di Indonesia, pernah hidup seorang yang pernah merajai usaha di dunia otomotif. Seorang yang gigih, saleh, rendah hati dan setia pada iman kristennya. Waktu ia masih muda, tidak akan pernah orang yang menyangka bahwa kelak ia menjadi pengusaha otomotif dan bisnis lainnya yang berhasil. Mengapa? Karena pada awalnya, ia berusaha mencari uang dari membersihkan botol.

Saudaraku. Karena itu, hanya Tuhan yang Maha Tahu tentang hari esok. Maka, bijaklah kita yang bersandar pada-Nya di tengah ketidak tahuan perjalanan hidup kita. Tugas dan panggilan kita, anak, cucu, adik, keponakan adalah bekerja dan belajar sebaik-baiknya. Dan Tuhan lebih tahu kelak kita akan diganjar dengan kebaikan seperti apa.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selalu bersama-Mu. Sehingga di tengah menjalani hidup yang penuh misteri, kami tidak perlu cemas. Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

Kami serahkan hidup kami, semoga aman, suka cita dan berkat yang indah menemani langkah kami hari ini.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Penuh Rasa Syukur

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 17:17

Seiring malam berlalu, kita memasuki pagi di hari yang baru. Puji syukur kepada Tuhan, semalam kita tidur di bawah lindungan-Nya.

Firman Tuhan yang menjadi pijakan refleksi pagi ini, ”Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?”

Lukas 17:17

Saudaraku, meski tiap orang mendapat pemberian yang sama dari pihak tertentu. Belum tentu responnya sama. Kisah sepuluh orang kusta memberi gambaran tersebut.

Tuhan Yesus bertemu dengan sepuluh orang kusta. Mereka hidup di koloni bersama-sama, tersisih dari pergaulan sosial. Permintaan mereka satu dan sama, agar Tuhan Yesus mengasihani mereka. Wujud nyatanya mereka minta disembuhkan.

Penyandang sakit kusta bebannya berlapis-lapis. Mereka tidak bisa hidup normal. Tempat tinggal di tempat sepi di pinggir kota. Tidak bisa bergaul bebas. Pintu tempat beribadah tertutup bagi mereka. Jangankan dulu, jika sekarang ada orang mantan penyandang sakit kusta masuk beribadah di gereja. Mungkin saja, semua mata kurang ramah menatapnya. Dan tidak ada yang mau duduk di sampingnya.

Begitu juga, penyandang sakit kusta dihakimi sebagai orang yang kena hukuman Allah. Itu jelas, membebani pikiran mereka. Sehingga orang kusta tidak cuma emosinya yang sarat kelelahan. Pandangan keagamaan pun menambah kesesakan batinnya. Karena pandangan keagamaan yang menghakimi tidak memberi sikap simpati, apalagi empati.

Hari itu, Tuhan Yesus berjumpa dengan kalangan penyakit kusta. Tentu, harapan besar mereka
meruap atau bergejolak bahwa perjumpaan itu akan mengubah nasib mereka ke depan.

Untuk itu, mereka siap melakukan apa yang diminta Tuhan Yesus. Tak heran bagitu Tuhan Yesus meminta mereka pergi ke imam, mereka patuh. Mereka mengindahkan permintaan Tuhan Yesus. Patuh total tanpa sedikitpun ada rasa keberatan. Di tengah perjalanan itulah, mujizat terjadi. Mereka tahir. Penyakit mereka sembuh.

Saudaraku. Semua orang kusta sembuh. Tuhan Yesus tidak pilih kasih. Tidak ada yang tertinggal. Tuhan Yesus memperlakukan sama dan merata. Tidak ada yang satu diperlakukan lebih istimewa daripada yang lain.

Lalu, apa yang terjadi kemudian. Ternyata dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan, cuma satu orang yang kembali. Satu orang ini merasakan betapa besar kebaikan Tuhan Yesus. Beban selama ini berakhir. Dia dipulihkan baik dari segi penyakitnya, sekaligus juga pergaulan sosialnya. Dengan kesembuhannya, ia bisa kembali ke tengah keluarga. Dan masyarakat membuka pintu lebar-lebar menerimanya.

Dengan demikian sungguh sangat berarti tindakan mukjizat itu. Sayangnya, kemana mayoritas yang telah sembuh itu? Cuma satu kembali buat mencurahkan rasa syukur dan terima kasih. Sisanya bagaikan kacang lupa kulitnya. Sembilan orang lupa diri.

Saudaraku, seharusnya berkat yang diterima dari Tuhan makin mendekatkan diri seseorang dengan Tuhan. Gejolak terima kasihnya mendorong untuk menghargai pemberian Tuhan. Ternyata, buat sembilan orang yang sembuh, berkat itu justru tidak mendorongnya menghargai tindakan Tuhan Yesus.

Saudaraku. Orang yang telah menerima kebaikan Tuhan, ada yang mengapresiasi Tuhan. Sebaliknya, ada juga yang melupakan kebaikan Tuhan. Saya kira Anda pun bisa jadi pernah mengalaminya. Anda telah berbuat baik kepada seseorang, boro-boro diapresiasi justru malah dilupakan. Kita memberi tentu tanpa pamrih tertentu. Kita tidak menuntut agar diingat kebaikan kita. Hanya, jangan lupa. Orang yang tahu berterima kasih adalah orang yang menyimpan dalam hatinya setiap kebaikan yang diterimanya.

Tuhan Yesus sempat bertanya, “Dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”.

Saudaraku, jaman now, terdapat kasus yang ekstrem, ternyata ada anak yang tidak tahu berterima kasih kepada jerih dan juang orang tuanya sendiri. Legenda Malin Kundang, yakni kisah anak yang menyangkali ibunya. Yang berarti juga mengingkari seluruh kebaikan ibunya. Tidak cuma kisah fiktif. Dalam kenyataan bisa terjadi, dan kita bisa temui. Ada anak-anak yang menelantarkan hidup ibu atau ayahnya di masa tua mereka.

TV BBC, London menyiarkan bahwa di Inggris banyak sekali orang tua yang merayakan natal sendiri dan dalam suasana kesepian. Kemana anak-anaknya? Ada. Tapi mereka tidak perduli. Orang tua seolah-olah tercampak di lorong kesendirian yang sepi. Dan TV itu menayangkan bagaimana pemuda-pemuda muslim dengan tulus, semangat, mendatangi orang-orang tua tersebut. Mereka berbagi suka cita. Ironi, anaknya sendiri asyik dengan dunianya sendiri tanpa ingat orang tua.

Saudaraku. Pada hari Senin ini, kita melangkah dengan mengawalinya berbentuk ungkapan syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Sejalan dengan itu, kita menengok ayah atau ibu kita. Mereka yang sejak awal kehidupan kita menabur benih-benih kebaikan. Kita tidak melupakan mereka. Kita patut catat dalam kamus hidup kita, bahwa kita seperti sekarang pertama karena Tuhan. Kedua lantaran peran kebaikan ayah atau ibu kita. Dan yang tentu juga kita harus catat, ada banyak orang yang kepadanya kita pun patut berterima kasih. Mari kita teladani sikap satu orang kusta yang kembali kepada Tuhan Yesus. Mari, kita hindari sikap sembilan orang kusta yang larut dengan sikap tidak tahu diri. Berterima kasih saja tidak.

Kita berdoa, “ Tuhan, Engkau Maha Baik dan orang tua kami pun amat baik. Ajar kami tidak melupakan upaya dan kegigihan mereka mengasihi kami. Kiranya bibir dan hati kami dipenuhi rasa syukur dan terima kasih. Demikian pula kepada sesama kami yang banyak berperan dalam keberadaan kami. Kepada mereka pun, kami tidak melupakannya.

Kami serahkan mereka yang tengah bergumul dengan ujian hidup, apapun bentuknya. Tuhan, Engkau memberi kekuatan, kesabaran dan jalan keluar. Seluruh doa ini, kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MENAMPILKAN KEKRISTENAN ELEGAN

Oleh Weinata Sairin

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.”

Kolose 3:8

Pada masa awal-awal sejarahnya, kekristenan (baca: umat Kristen) berhadapan dengan resistensi kuat dari masyarakat. Bukan saja dunia sekuler zaman itu menggugat teologi yang dikembangkan kekristenan, karena isinya yang berbeda dengan yang dianggap baku dan sesuai standar di zaman itu, melainkan juga praksis hidup kekristenan dipersoalkan, dicemooh, dan dihujat. Dari literatur yang dapat kita baca misalnya, bagaimana komunitas Kristen yang berhimpun untuk merayakan Perjamuan Kudus sering kali ditafsirkan sebagai komunitas rahasia yang “memakan tubuh dan meminum darah”.

Bertolak dari realitas zaman itu, penulis Surat Kolose pun mendorong umat agar menampilkan kekristenan yang elegan, cantik, berkarakter dan civilized (beradab), yang mampu menghadirkan sebuah citra positif di tengah sejarah. Karakter kekristenan diingatkan harus menjungkirbalikkan realitas kehidupan negatif yang sedang menjadi tren dalam kehidupan masyarakat. Umat memang berasal dari realitas itu, tetapi tatkal mereka telah dinapasi roh kristiani, mereka tidak boleh terbelenggu pada roh kelampauan.

Gaya hidup barbar, sekuler, dan uncivilized tidak bisa lagi menguasai kedirian umat Kristen. Umat Kristen harus hidup dalam era “kesekarangan” bukan kelampauan kita. Kata “Tetapi sekarang …” mengingatkan warga Gereja untuk melawan kelampauan, kejahiliahan. Tatkala masih saja ada dari antara kita – umat yang sudah diselamatkan Kristus – yang tertangkap tangan oleh KPK, dikenai pidana, melakukan pembohongan publik, tidak sudi bayar pajak dan melakukan berbagai perbuatan melawan hukum, bagaimana kekristenan bisa hadir menciptakan sejarah baru yang lebih berkeadaban dan manusiawi? Mari menampilkan kekristenan “kesekarangan” yang cantik dan elegan di ruang-ruang sejarah. Tak ada pilihan lain, kecuali jika kita memang menginginkan bahwa kekeristenan hanya
menjadi fosil dalam sejarah,
nir makna!.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God bless.