MEMBIASAKAN KEBIASAAN POSITIF

Oleh Pdt. Weinata Sairin

Adeo in teneris consuescere multum est

Bila selagi masih muda membiasakan diri (dalam hal yang baik) hal itu akan bernilai tinggi.

Kebiasaan baik, yang dilakukan secara kontinu, konsisten, dan berkesinambungan, adalah sesuatu yang memiliki makna dan manfaat yang amat penting bagi kehidupan umat manusia. Apabila kita sejak kecil dibiasakan oleh orangtua kita untuk mengucapkan ”terima kasih”, ”mohon maaf”, dan ”tolong”, suasana pergaulan dan interaksi kita dengan banyak orang dari berbagai latar belakang akan terwujud dengan lebih baik.

Andaikata orangtua kita mendidik dan membiasakan kita sejak kecil untuk mengucapkan ”selamat pagi”, ”selamat sore”, atau ”selamat malam” tatkala kita berjumpa dengan orang lain maka hingga memasuki usia dewasa kita akan tetap melakukan hal itu. Kita tentu amat menyadari, betapa tekun dan sungguh-sungguh orangtua mendidik kita sejak kecil. Kita masih ingat, misalnya, pesan orangtua agar kita berdoa sebelum makan, jangan bersuara saat mengunyah makanan, dan jangan berbicara ketika ada makanan di dalam mulut.

Pembelajaran yang amat praktis, detail, dan disertai dengan peragaan dan keteladanan amat membantu kita saat itu dalam pertumbuhan. Semua ”materi pembelajaran” yang diberikan orangtua kita itu kemudian lebih diperkaya lagi dengan pembelajaran yang kita peroleh di lembaga kegamaan, lembaga pendidikan, dan kehidupan masyarakat.

Sebagai orang beragama, kita amat bersyukur kepada Tuhan karena Ia menganugerahkan orangtua yang tekun, rajin, dan setia sehingga dengan segala keberadaan mereka yang terbatas, mereka tetap menjalankan peran sebagai orangtua. Sejak kecil kita dibiasakan oleh orangtua kita untuk menjalankan kehidupan dengan baik, dan pendidikan yang diberikan oleh orangtua kita rasakan bahkan hingga kita sudah tua.

Pembiasaan (habituation) dikenal dalam dunia pendidikan sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat
otomatis melalui proses pembelajaran berulang-ulang. Pembiasaan memang bisa dilakukan oleh orangtua atau guru. Orangtua memerankan diri sebagai figur yang membimbing dalam proses pembiasaan itu sehingga jika sesuatu itu sudah tertanam dalam diri seseorang maka akan menjadi bagian dari sikap dan perilaku seseorang.

Pembiasaan berintikan pengulangan; yang
dibiasakan itu berlaku berulang-ulang sehingga akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.

Kita berharap bahwa kegiatan pembiasaan itu masih tetap berlangsung dalam keluarga modern sekarang, di tengah serbuan internet dan penetrasi kuat dari era digital. Lembaga Civil Society punya peran besar dalam pelaksanaan proses pembiasaan itu, selain lembaga-lembaga pendidikan.

Kebiasaan membaca Kitab Suci dalam keluarga, kebiasaan melaksanakan ibadah bersama atau salat berjamaah dalam keluarga, kebiasaan untuk bicara dalam bahasa Indonesia yang baik dalam keluarga, kebiasaan makan bersama dan berwisata bersama keluarga adalah hal-hal yang perlu diteruskan melewati berbagai generasi menuju masa depan yang lebih ceria.

Pepatah yang dikutip di awal bagian ini mengingatkan kita bahwa jika selagi muda dibiasakan hal yang baik maka hal itu akan bernilai tinggi. Adalah tugas kita bersama untuk terus berupaya meneladankan dan membiasakan perbuatan positif kepada anak muda: sikap antisuap dan antikorupsi, sikap antidiskriminasi; sikap yang taat hukum, taat ajaran agama!

Masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan demoralisasi, intoleransi, KDRT, pelanggaran HAM, dan berbagai wujud kehidupan yang bertentangan dengan agama dan melawan hukum, apakah karena pada masa kecil kita kurang pembiasaan oleh orangtua kita, pengaruh roh zaman, atau karena faktor-faktor lain?

Kita bisa merenungkanya dengan saksama.
Selamat Berjuang. God Bless!

Membangun Masa Depan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 28:15

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudara-saudara. Selamat menyongsong hari baru, Saudaraku yang baik dan dikasihi Tuhan. Pagi ini cerah. Semoga sepanjang hari ini pun hati kita cerah.

Firman Tuhan mengantar aktivitas kita hari ini, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Kejadian 28:15,

Saudaraku, setiap orang menganggap penting hal berkenaan dengan masa depan. Terutama kerinduan punya masa depan yang cerah, atau penuh prospek. Tidak mengherankan, apa yang kita lakukan di hari ini dipengaruhi kepentingan masa depan. Jika Anda punya anak dan cucu atau keponakan, tentu kita merancang hal yang dibutuhkan, agar mereka punya masa depan yang baik. Dengan sekuat tenaga kita bisa mnyekolahkan mereka di sekolah yang baik. Kita menabung atau menyisihkan anggaran buat pembiayaan pendidikannya. Makanan yang disediakan memenuhi kriteria empat sehat lima sempurna. Berbagai kursus tambahan didorong untuk diikutinya. Semuanya sekali lagi, demi masa depan.

Mereka yang perduli masa depan, setiap sen uangnya diatur dengan baik. Bukan pelit, namun berhemat. Supaya dapat menabung, demi investasi masa depan. Orang beriman adalah orang yang sepatutnya sadar bahwa masa depan itu penting. Seorang bijak menyatakan, “kehidupan hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang (masa lalu), tapi tetap harus dijalani ke depan”.

Firman Tuhan di atas menyangkut hari esok. Diingatkan landasan untuk kita bisa membangun masa depan adalah penyertaan Tuhan. Tuhan hadir di hari lalu, hari ini dan hari depan. Dengan demikian, masa depan kita berada pada wilayah kebaikan Tuhan. Orang yang berhikmat meyakini janji itu dengan sikap yang tepat. Seperti Yakub yang mendapat janji itu mula-mula, dia tidak lalu duduk manis. Ia bekerja. Ia mengelola ternak dan tanahnya dengan kerja keras. Janji Tuhan tentang masa depan diimbangi dengan segala perjuangan.

Saya ingat kisah hidup mantan presiden Amerika Serikat bernama Theodore Roosevelt. Dua periode menjabat presiden. Prestasi luar biasa. Dia pintar. Didukung keluarga terutama istrinya. Perlu dicatat, ia adalah presiden yang terus berjuang dengan fisiknya. Ia terkena polio. Dari pinggang ke bawah nyaris lumpuh. Sehingga berjalanpun merupakan perjuangan. Tidak heran hampir menyerah. Tapi, keinginannya membangun masa depan Amerika Serikat lebih baik, menjadikan ia ekstra berjuang. Dan berhasil. Ia mengalahkan kendala fisik dan pergumulan mental serta psikologisnya.

Saudaraku. Di sini, kita pun hendak menyikapi masa depan dengan hikmat dan tepat. Pertama, jangan habiskan semua aset kehidupan kita hanya untuk hari ini. Kesehatan kita, keuangan kita, tenaga kita, sebaiknya dikelola dengan memperhatikan masa depan. Adapun pemabuk, penjudi, pemboros, pemalas, tidak mau sekolah baik-baik dan melupakan pentingnya Tuhan adalah contoh dari orang yang mengabaikan masa depan.

Kedua, masa depan yang disediakan Tuhan memacu kita tidak kuatir atas hari esok yang masih belum jelas. Belajar dari syair lagu yang menyatakan, “ tak kutahu kan hari esok. Namun langkahku tetap…” pesan bernada optimis. Bagi orang yang mengkawatirkan masa depan, ia bisa merasa tidak berdaya saat ini. Dan, sangat disayangkan jika akhirnya tidak berbuat apa-apa.

Ketiga, jika kita merancang masa depan dan upaya keras memenuhinya, itu adalah tindakan yang sesuai dengan iman. Iman itu tidak menina bobokan kita agar menunggu berkat jatuh dari langit. Tidak. Iman itu justru menyadarkan dan membuka pikiran kita untuk mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya.

Saudaraku. Semoga masa depan kita, anak-cucu- saudara-keponakan kita cerah. Tidak suram. Hidupnya tidak berantakan. Tapi mempunyai masa depan yang indah bersama Tuhan.

Kita berdoa, ” Tuhan, biarlah hari ini kami menabur segala yang baik, sehingga kelak kami menuai masa depan dengan penuh sorak sorai dan penuh pujian kepada-Mu. Semua ini, kami minta dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Buah Pimpinan Roh

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Galatia 5:22-23

Selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Perjalanan kita kini memasuki pagi baru di hari yang baru, kita bersyukur kepada-Nya istirahat malam telah dijalani bersama Tuhan Yang Maha Baik.

Firman Tuhan menyatakan, ” Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”

Galatia 5:22-23

Saudaraku, Tuhan Yesus mengatakan, “ dari buahnya pohon itu dikenal.” Jelas, murid-murid Kristus harus menghasilkan buah. Pilihannya ada dua: buah yang baik atau yang buruk? Rasul Paulus mengingatkan bahwa ada dua hal dalam sosok manusia, yaitu daging dan roh. Pola hidup baik kedagingan dan roh bisa hadir dari keberadaan orang-orang kristen.

Daging yang dimaksud bukan pengertian daging yang secara umum kita kenal. Tetapi, sifat kemanusiaan yang buruk. Seseorang yang mencuri, mabuk, mengamuk tidak terkendali, egois, membuat ujar kebencian, memfitnah, itu semua tindakan bersifat kedagingan.

Sedangkan hidup yang dipimpin roh Sifat kebaikan yang hadir pada keberadaan orang percaya. Bentuknya deretan kebajikan teks di atas, yakni kesabaran, lemah lembut, perduli atas mereka yang kesusahan, kasih dan kegembiraan. Itulah semua yang berkaitan dengan Roh.

Jika dipampangkan antara daging dan Roh, berbeda sekali. Bagaikan warna, yang satu hitam dan satunya lagi putih. Daging itu perilaku yang sifatnya merusak kehidupan manusia yang bermartabat. Sedangkan Roh menuntun kita berbuat hal yang luhur.

Saudara, jika seseorang mengaku pengikut Kristus tapi hatinya menyimpan iri, dendam, selingkuh, merampas kepunyaan orang lain, senang bikin hoax, kejam, masa bodoh atas orang yang menderita. Lalu apa arti kekristenannya?

John Maxwell berkisah. Suatu hari sebuah mobil truk menurunkan muatannya di suatu bagian kota Berlin Barat. Dengan seenaknya, truk itu menumpahkan sampah yang baunya tidak sedap dan barang-barang bekas yang tidak bisa dipakai. Setelah bongkar muat, truk itu pergi dengan seenaknya.

Beberapa hari kemudian, penduduk yang menerima tumpahan sampah itu, giliran pergi ke wilayah Berlin Timur. Mereka membawa truk. Lalu bongkar isi muatannya ke daerah orang yang pernah mengirimkan sampah. Isinya roti, keju, susu, dan bahan makanan lain. Diturunkan dan disusun dengan rapi. Setelah itu, ditaruhkah di atas tumpukan bahan makanan itu secarik kerta dan pesannya. Apa pesannya? Kertas itu berisikan pesan, “Kalian memberikan apa yang ada di hatimu. Dan kami memberikan apa yang ada pada kami”. Dari hal di atas kita gampang menilai tindakan mana yang bersifat kedagingan dan pemberian siapa yang datang dari sifat roh.

Saudara, meski demikian, hidup dalam pimpinan Roh tidak segampang membalikkan tangan. Kita sadar itu sulit. Tapi bukan tidak mungkin. Dari diri kita dituntut kesungguhan dan pertolongan Tuhan sendiri. Butuh perjuangan dan sekaligus topangan Tuhan. Tidak cepat menyerah dengan mengatakan: itu sulit, itu tidak mungkin, itu sia-sia. Percayalah, hidup dipimpin Roh adalah perjuangan. Dan kelak terasa indah buah dari sebuah perjuangan hidup dipimpin Roh.

Yang gampang itu hidup dalam daging. Tidak perlu membutuhkan sikap juang. Bisa mudah sekali, Tanamkan saja kata tanya: mengapa? Maka, itu segera menghantar kita hidup dalam kedagingan. Mari kita coba.

Mengapa harta teman dia lebih banyak dari hartaku? Kenapa dia bisa kariernya menanjak sedangkan aku tidak? Kenapa sakit saya tidak sembuh-sembuh? Kenapa dia berbahagia, saya tidak? Mengapa dia berhasil, saya gagal? Anda bisa menambah lagi pertanyaan kenapa atau mengapa. Silahkan ulangi dan tanamkan terus, maka kita akan diantar masuk dalam dunia kedagingan. Hidup yang penuh kemarahan, egois, mau menang sendiri, selalu tidak puas, mudah iri hati, tidak punya jiwa pengampun, malas, hidupnya jadi benalu, dst. Memakai kata tanya: mengapa dengan sudut pandang negatif

Saudaraku. Tuhan mengajak saya dan anda bukan mengikuti hal demikian. Dengan semangat juang kita hadir: dengan senyum, sapaan hangat, pelukan penuh persaudaraan, uluran tangan tanda berdamai, tatapan mata cermin kesediaan berkomunikasi. Sebagai buah kehidupan dipimpin Roh.

Kita berdoa, ” Tuhan, kami ingin selalu terbuka dipimpin oleh Roh-Mu, agar kami membangun hidup yang penuh kebajikan dan kasih sayang.

Kami berdoa agar kami dan keluarga kami hidup dan berkarya pada hari ini, dengan hidup dalam pimpinan Roh-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Api Kasih

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ulangan 6:5-7

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan memasuki tengah pekan. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan refleksi, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.

Ulangan 6:5-7

Saudaraku, setiap kebaktian Minggu ada bagian liturgi yang berisikan Hukum Kasih. Bagian ini disampaikan ke seluruh Jemaat yang beribadah. Tentu, dengan maksud agar semua mempraktikkan hukum kasih tersebut. Yakni, kasih kepada Allah, yang bersifat vertikal (ke atas) dan kasih kepada sesama yang bersifat horizontal (ke samping). Hukum kasih itu standar kita berucap dan bertindak. Kita sudah atau belum memenuhi jiwa kekristenan, diukur dengan sudah atau belum menunaikan hukum kasih.

Ternyata, teks firman ini menyatakan. bahwa menanamkan untuk memenuhi kasih Tuhan tidak seminggu sekali. Tidak berhenti saat ibadah minggu. Agar mendarah daging menjiwainya, kita perlu menanamkan dalam kesempatan apapun. Dalam kegiatan sehari-hari. Kegiatan duduk, berbaring, dalam perjalanan, itu mengandung pesan. Yaitu setiap momen berharga untuk menyelipkan pesan untuk mengasihi. Pertanyaannya, ”apa tidak bosan?”. Apalagi, saat kita harus menyampaikannya kepada anak-anak kita, ”apa mereka tidak jenuh?”

Saudaraku, dengan metode atau cara menanamkan jiwa mengasihi yang memanfaatkan segala momen. Dan dengan totalitas. Tidak separuh hati dan jiwa, maka memperlihatkan betapa pentingnya mengasihi. Kasih itu nilai utama kita. Tanpa itu, keroposlah kekristenan kita.

Sementara itu, jika kita sedikit-dikit bicara kasih. Memang bisa bosan. Bosan jika kita bergaya mengkotbahi. Nasihat yang menggurui. Satu arah dan bersifat perintah, atau instruktif. Terlebih, anak- anak sekarang lebih menyukai pola dialogis. Relasi orang tua dan anak tidak seperti atasan dan bawahan. Melainkan bersifat cair, bagaikan percakapan antar teman. Jika metode tidak pas, apalagi tidak disertai contoh keteladanan. Bisa-bisa para anak kita memang mendengar tapi tidak menyimak.

Saudaraku. Suatu hari seorang ibu memohon kepada Seorang tokoh agama, agar mau menasihati anaknya yang kecanduan gula-gula. Sang ibu merindukan kebiasaan buruk itu tidak berlama-lama dilakukan anaknya. Sang tokoh agama menyanggupi. Tapi ia meminta kelonggaran waktu untuk bisa menasihati anak itu. Seminggu lebih kemudian, ia mengabari si ibu bahwa dia siap menasihati. Ketika bertemu dengan si anak, tokoh agama itu menasihatinya supaya tidak makan gula-gula. Itu membahayakan kesehatan giginya. Cukup. To the point.

Sang ibu tidak puas. Mengapa untuk memberi nasihat seringkas dan sesederhana itu harus menunggu sekian lama. Mengapa sampai berhari-hari harus menunggu nasihat seperti itu. Apa susahnya. Apa jawab sang tokoh agama, “Ibu, waktu itu saya tidak mau memberi nasihat. Karena waktu itu, saya sendiri juga sedang makan gula-gula. Kini, setelah dua minggu, saya berhasil berhenti. Untuk itu, saya merasa bisa menasihati putra ibu”. Intinya, kita bisa layak menasihati orang lain, tapi sebelumnya isi nasihat itu sudah dipraktikkan lebih duku. Jadi, apa artinya memberi nasihat jangan makan gula-gula? Sementara itu, si pemberi nasihat juga melakukan hal bertentangan dengan isi nasihatnya.

Saudaraku, penanaman jiwa mengasihi kepada anak-anak kita akan efektif dan berkesan, saat mereka melihat kita pun terlebih dahulu mempraktikkannya. Sebuah perbuatan jauh lebih kuat daripada ribuan kata-kata nasihat. Dengan demikian, saat bangun, saat berbaring, saat dalam perjalanan, kita konsisten di mata anak-anak melakukan kasih sepenuh hati. Niscaya mereka akan tercerahkan. Mereka terinspirasi. Dan mereka dengan kesadaran sendiri menanamkan dalam dirinya, bahwa benar kasih itu indah.

Saudaraku, saat kita mengisi hari ini, kasih kita jiwai dan anak-anak kita ditanamkan semangat mengasihi. Kelak, kita memetik indahnya hidup diwarnai kasih. Tidak harus mengasihi diidentikan dengan hal besar. Pagi ini Anda tersenyum tulus. Memberi sapaan dengan nada hangat, “selamat pagi”. Mengucapkan kata “apa kabar” dengan wajah berseri. Mencium kening sambil berucap, “hati-hati, di jalan, sayang”. Betapa, kasih itu membuat kita dan anggota kita berbunga-bunha hatinya sepanjang hari ini.

Mungkin, ada yang mengatakan “ah, apa artinya itu.”. Percayalah, hal kecil demikian berdampak pada hati dan emosi. Selain tidak merugikan orang lain, justru menghadirkan keindahan hidup. Dan kita buat bukan untuk main-main. Melainkan, karena tekad kasih harus menjadi standar kehidupan kita.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya sekuat tenaga dan sepenuh hati, hari ini nyalakanlah api kasih di dalam diri kami. Sehingga kami menjadikan hidup penuh kehangatan cinta kasih.

Berkati aktivitas kami semua. Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan.

Selamat beraktivitas.🙏

MEMIMPIN ITU MELAYANI

Oleh Pdt. Weinata Sairin

The first renponsibility of a leader is to define reality. The last is to say thank you. In between the leader is a servant.

Max DePree

Menjadi pemimpin bukan pekerjaan mudah dan sederhana, baik pada level lokal, regional, nasional, atau internasional. Setiap level punya kerumitannya sendiri. Ada kondisi ”kegentingan yang memaksa” dalam bobot yang bervariasi. Ya, selalu ada saja kerumitan. Yang penting, bagaimana kita menyiasati kerumitan tersebut dan mengelolanya dengan baik agar program dan kehidupan bisa berjalan dengan baik.

Hal sulit bisa saja terjadi tatkala kita menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga. Pada level keluarga, yang lebih banyak dikedepankan adalah ”perasaan”. Dalam keluarga tak ada AD/ART, tak ada Tata Kerja atau Tata Kelola, tak ada SOP seperti yang kita temukan pada perusahaan-perusahaan.

Hampir semua hal dikelola berdasarkan kultur, konvensi, khotbah/tausyiah yang diberikan pejabat agama pada saat berlangsung acara pernikahan. Walau demikian, tidak berarti dalam keluarga tidak ada aturan. Kita tidak bisa urakan dan ”slebor” seenaknya.

Prinsip-prinsip organisasi secara umum ada dan diterapkan juga di dalam keluarga. Hanya, prinsip-prinsip itu tidak tercatat seperti dokumen-dokumen pada perusahaan.

Hal yang amat penting dibangun dalam keluarga adalah cinta kasih, kepercayaan, dialog, dan sikap ”kesalingan dan kekitaan”. Tingkat kerumitan dalam memimpin rumah tangga lebih dielaborasi tatkala ruang bagi keluarga besar (kakek/nenek/paman) diberi tempat.

Keikutsertaan dan elaborasi keluarga besar dalam kehidupan rumah tangga berpotensi positif, yakni memperkuat basis keluarga di tengah berbagai dinamika dunia yang acap mengancam daya tahan dan keberadaan keluarga.

Dulu pemimpin hampir selalu diberi persepsi ”orang yang berada di puncak”. Oleh karena itu, ia memerlukan banyak ”tangan” untuk mampu
menjangkau dan ”mengais” yang di bawah. Akibatnya, seorang pemimpin dikelilingi banyak orang (dengan sekian kepentingan). Pemimpin bisa menjadi amat jauh dengan yang dipimpin, baik dari segi jarak maupun ide atau pemikiran.

Realitas ini mengakibatkan lahirnya pemimpin elite yang tercabut dari akar sosiologisnya. Kita semua berharap agar para pemimpin pada level apa pun benar-benar memahami kebutuhan dasar dan mengakomodasi pemikiran orang-orang yang ia pimpin, selain memotivasi mereka menuju masa depan yang lebih baik.

Para pemimpin mesti mengayomi yang dipimpin, membuat mereka aman dan nyaman dalam membangun kehidupan. Pemimpin tidak hanya seorang yang visioner, tetapi juga orang yang peduli dengan pergumulan riil para anggotanya.

Kita bersyukur, dalam beberapa waktu terakhir ini kata ”pelayanan”, ”service”, dan ”ministry” diberi tempat lebih banyak dalam kehidupan masyarakat.

Kata ”pelayanan” berasal dari kata Yunani ”diakonia”, suatu sikap yang sangat ”memanjakan” orang lain. Kata ini awalnya diterapkan kepada orang-orang yang melayani tamu-tamu di restoran: mengantarkan makanan ke meja makan, mengatur piring, gelas, dan sendok sesuai dengan SOP.

Para tamu menjadi ”raja” dan dilayani penuh.
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang berinsiatif, yang mendatangi dan membantu sepenuhnya.

Banyak kantor pemerintah yang kini menyebut dirinya sebagai Kantor Pelayanan secara eksplisit sehingga warga yang datang dibantu, tidak dipersulit. Ada kepuasan dari warga karena dilayani secara cepat, transparan, menyenangkan, bahkan gratis.

Sebenarnya, semua kantor pemerintah yang berhubungan dengan kepentingan publik harus memahami diri sebagai kantor pelayanan. Para pejabatnya adalah para pelayan atau diakonos dalam bahasa Yunani! Pepatah yang kita kutip di bagian awal menyatakan dengan tegas bahwa pemimpin adalah pelayan, yakni figur yang menuntun, mengarahkan, membimbing,
dan mendampingi dalam perjalanan panjang menuju masa depan ceria.

Pada level apa pun kita membutuhkan pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang dilayani. Kita merindukan kepemimpinan melayani, bukan kepemimpinan laissez faire (’kendali bebas’), yaitu kepemimpinan yang semuanya terserah kepada yang dipimpin; kepemimpinan yang mandul dan bisu. Kepemimpinan model begini akan hancur digerus zaman!

Pemimpin itu bergerak dan bertindak, bukan berdiamdiri dan atau menyembunyikan diri.
Kita semua adalah Pemimpin pada level kita masing-masing di rumah, di kantor, di masyarakat dan di berbagai tempat dan bidang.

Marilah kita menjadi Pemimpin yang melayani, bukan Pemimpim yang dilayani, yang menjadi Big Bos!

Selamat Berjuang, God Bless!