Berharganya Ucapan

Selamat pagi, selamat memasuki hari baru bapak-ibu, mas-mbak, kakek-nenek serta Saudara-saudaraku yang baik. Istirahat malam telah kita jalani. Kini, hari jumat telah datang, terpujilah Tuhan. Refleksi kita akan memaknai berharganya ucapan.

Landasan Firman Tuhan di pagi hari ini, “Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya. (21) Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi”.

Amsal 10:20-21

Saudaraku, pernahkah diingatkan bahwa ucapan yang dilontarkan bisa mengubah hidup seseorang. Lidah kita ini bukan semata-mata organ tubuh yang berfungsi untuk menciptakan kata-kata. Ternyata efeknya jauh, mampu mempengaruhi pembentukan corak kehidupan seseorang.

Saya mengantongi sebuah nama. Hidupnya sulit, tanpa ayah dan ibu kandung. Dia dilahirkan di penjara wanita, ibunya saat hamil tengah menjalani hukuman. Hidupnya berat. Orang itu bernama Antwone Fischer. Dia punya masalah dengan emosi. Dia sangat sulit menahan luapan emosinya, sehingga dia kerap kali terlibat keributan dan perkelahian.

Masa kecil dan remaja Fischer menjadi sepenggal waktu yang penuh pengalaman kegetiran. Dia korban kekerasan. Seorang penyintas atau survivor. Orang tua angkatnya menjadikan Antwone Fisher sebagai obyek bentuk kekerasan fisik dan pelecehan verbal. Mereka sering memukul, menghina dan merendahkan Fischer. Orang yang punya pengalaman demikian menjadi minder. Merasa hidupnya tidak berharga. Hidupnya kesepian. Pendeknya jalan hidup Fischer berat sekali.

Nama Antwone Fischer ini kurang akrab di telinga kita. Dialah penulis film-film bagus edisi Holywood. Para bintang film, sutrada, kru film pasti akrab betul dengannya. Penulis skenario hebat. Di tangannya lahir film-film bermutu keluaran Hollywood.

Di tengah kehidupan yang berat, siapa yang menduga ada orang yang memberi perhatian khusus yang ikut mengubah hidup Fischer. Dia adalah gurunya. Jika di rumah Fisher dihina dan dilecehkan, maka di sekolah ia menemukan mata air yang menyirami jiwanya yang gersang. Suara gurunya. Itulah penguat jiwanya. Fisher bersaksi, ada hal yang tidak akan pernah dilupakan dari budi baik gurunya. Yakni kata-katanya. Ucapannya. Gurunya mengatakan bahwa dia bangga atas dirinya. Dan sang guru meyakini dalam diri Fischer tersimpan kemampuan besar. Inilah yang memercikkan semangat hidupnya.

Saudaraku, kata-kata yang kuat dan menyejukkan bisa mengubah perjalanan hidup manusia. Dalam bahasa Amsal “menggembalakan”. Dalam arti bersifat menuntun seseorang menjadi kuat dan terhibur. Menguatkan batin. Menumbuhkan kuncup-kuncup sikap percaya diri. Karena itu, betapa berharganya lidah yang melahirkan ucapan-ucapan yang menghibur yang susah, menuntun ke jalan yang benar dan membesarkan jiwa. Ia diumpamakan perak. Perak itu perhiasan berharga. Jadi, betapa berharganya ucapan yang menggembalakan.

Sebaliknya, hindarilah produksi kata-kata kasar, merendahkan, menghina atas diri orang lain. Ucapan-ucapan jenis itu dilahirkan dari orang-orang yang tidak menghargai Allah dan sesama. Anda, saya, kita semua bukan orang fasik. Kita adalah orang-orang yang mencintai Allah dan sesama. Untuk itu, kita patut menghindari penggunaan kata-kata yang membuat orang lain terpuruk dan terhina.

Karakter orang yang mencintai adalah berupaya lewat ucapannya membuat orang lain bisa tersenyum. Bukan membuat orang lain terluka. Menangis. Kata-kata kita utarakan untuk membangun bukan merusak jiwa dan batin orang lain.

Marilah, di hari Jumat ini, suara kita melahirkan hal yang berkenan kepada Tuhan. Itu yang pertama dan utama. Dan yang sama dengan itu, kita menggunakan kata-kata bernada rasa respek atau hormat atas orang lain. Sehingga ucapan kita membangun pribadi yang punya kebanggaan sehat atas dirinya (self-esteem). Sapalah orang tua kita dengan kata yang manis dan tulus. Sapalah saudara-saudara kita dengan kata yang membuatnya suka cita. Sapalah sesama kita sehingga mereka bangga menyatakan kita adalah sahabatnya. Jika kita punya anak, punya cucu, sapalah mereka, sehingga mereka menempatkan kita sebagai sosok yang membanggakannya. Kita dimampukan untuk mengingat kembali betapa berharganya ucapan yang kita samapaikan.

Kita berdoa, “ya, Allah. Karuniakan kemampuan agar kami dapat memproduksi ucapan yang membuat sesama kami bersuka cita dan bahagia. Agar barang siapa mendengarnya mereka tercerahkan dan terberkati. Mampu kami menjaga lidah kami supaya tidak membuat luka perasaan orang tua, anak, pasangan hidup, saudara dan sesama kami.

Kami berdoa untuk ibu-bapak, para lansia dan anak-anak. Semoga Tuhan Yang Maha Baik melindungi dari berbagai ancaman bahaya. Kasih-Nya menuntun ke jalan yang benar.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Introspeksi Diri

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik. Refleksi kita pagi ini mengenai introspeksi diri.

Firman Tuhan yang kita refleksikan, ”Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal.”

1 Raja-raja 18:18

Saudaraku, ada ungkapan yang menyatakan, “ kau yang bertindak, kau yang bertanggung jawab”. Artinya, setiap tindakan yang diambil perlu kesiapan menghadapi konsekuensinya. Bagaimanapun, pada satu sisi kita sebagai manusia mempunyai pilihan sendiri atas apa yang kita lakukan. Kita punya emosi, keinginan dan kehendak. Kita bisa bertindak hal yang baik, dan bisa juga yang jahat. Kita bukan robot, yang disetel dulu pihak lain, baru kemudian bertindak. Kita punya kehendak bebas (freewill).

Pada sisi lain, setiap apa yang kita pilih dan lakukan ada konsekuensinya. Biasanya memakai istilah, hukum “tabur-tuai”. Apa yang kita tuai merupakan akibat dari apa yang tabur. Kita menabur kejujuran, kita menuai kepercayaan. Kita menabur keramahan, kita akan punya banyak teman.

Sayangnya, Ahab lupa tentang itu. Ketika dia menuai musibah, yang pertama ia lihat adalah pihak lain. Dia menganggap nabi Allah yang mencelakakannya. Seolah-olah Allah kurang peduli dengan keselamatannya. Pola pikir seperti ini lazim terjadi sekarang juga. Sikap yang tidak melakukan introspeksi diri, melainkan mencari kambing hitamnya pada pihak di luar dirinya.

Elia membantah bahwa musibah yang dituai Ahab merupakan kelengahan dan ketidak perdulian nabi Allah. Ahab mendakwa ada pembiaran dari Elia. Elia menolak itu. Ia menyatakan, bahwa Ahab sendiri biang kesalahan. Ia tidak setia. Ia menyimpang dari Allah sejati. Penyembahannya kepada Baal membawa konsekuensi. Musibah itu buah dari ulah diri sendiri.

Saudaraku, banyak kita temui mental demikian saat ini. Bertindak sendiri dan langkahnya keliru, lalu Tuhan atau yang lain disalahkan. Jika ada orang mengalami sakit yang berat. Jangan salahkan Allah, dengan tuduhan Dia tidak memberi kesehatan. Padahal sakitnya bersumber pada pola makan dan disiplin diri yang rendah yang dilakukannya. Jangan salahkan Allah, bahwa Allah tidak mengabulkan doanya ketika hidupnya berantakan secara ekonomi. Padahal, itu buah dari perbuatannya sendiri. Malas. Manja. Tidak gigih melakukan hal yang bisa memberikan kesejahteraan.

Sikap mau bertanggung jawab dengan terjadinya sebuah keadaan buruk merupakan sikap langka. Lebih gampang berusaha cuci tangan. Merasa tidak bersalah. Selanjutnya, pihak lainlah didakwa penyebab utamanya. Seperti itulah tindakan Ahab kepada Elia. Elia dituduh sebagai kambing hitam. Orang yang bersalah di balik musibah kekeringan parah yang melanda Israel. Ahab merasa bersih dan nabi Allah itu diposisikan bersalah.

Saudaraku, Elia balik menuduh. Justru perilaku Ahablah yang jadi biang kesalahan yang menyebabkan parahnya alam harus ditanggung bersama. Ada kesalahan fatal yang dilakukan Ahab dan kerabatnya. Yakni meningggalkan Allah Penguasa alam semesta, lalu menjadikan dewa Baal pujaan barunya.

Di sinilah, manakala sebuah realitas tidak menyenangkan terjadi dalam hidup kita pribadi, atau yang menimpa kehidupan bersama. Jangan cepat-cepat menengok pihak lain dan menjatuhkan tuduhan bahwa pihak lainlah yang menjadi sumber kesalahan. Sikap terburu-buru demikian akan menimpakan kesalahan kepada orang lain yang bisa saja tidak bersalah. Selain itu, sikap demikian akan menutup untuk introspeksi diri.

Seseorang atau masyarakat yang tidak mau introspeksi, tidak akan memperbaiki. Dan itu berarti orang bersalah yang tidak mau bertobat. Padahal, iman itu tumbuh dan matang, jika orang beriman itu belajar mengakui kesalahan dan terus bertekad membarui diri. Mari, di minggu Advent ini lebih baik kita menata diri sendiri daripada cepat-cepat menyalahkan pihak lain.

Kita berdoa, Tuhan, ajarkan sikap bijak kepada kami agar lebih berkaca diri daripada dengan mudah menyalahkan orang lain.

Tuhan sertai langkah kehidupan kami. Yang sakit berikanlah pemulihan dan perkembangan yang melegakan. Kami berdoa kiranya para lansia yang sakit. Semoga mereka cepat pulih dan sehat kembali. Perawatan di rumah memungkinkan penanganan yang baik. Pengetahuan dokter dan konsumsi obat mempercepat perkembangan kesehatannya.

Kami menyerahkan juga kepada-Mu, mereka yang sehat. Mampukan mereka menjaga kesehatan dengan baik. Berikan kesadaran penting dan berharganya kesehatan. Berkati aktivitas kami sepanjang hari ini.

Doa-doa ini kami naikkan dalam nama yang indah Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Pembenaran Allah

Mentari telah terbit di timur, pertanda pagi baru telah tiba. Selamat pagi oma-opa, ibu-bapak dan saudara-saudaraku yang dicintai Tuhan Yesus. Puji Tuhan. Kita masih dipercaya menjalani kehidupan bersama keluarga kita masing-masing. Refleksi kita hari ini adalah mengenai pembenaran Allah

Firman Tuhan hari ini: ”Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lukas 28:11-14

Saudaraku, ada dua sikap manusia di hadapan Tuhan. Pertama, tipe manusia yang merasa punya prestasi keagamaan. Dia merasa semua tuntunan agama sudah diikuti. Semua kewajiban agama telah dipenuhi. Sehingga perjumpaan dengan Tuhan lebih bersifat laporan keberhasilan. Dia membeberkan segala hal yang berhasil dicapainya. Orang seperti ini, datang kepada Tuhan dengan kepala tegak dan dada penuh kebanggaan.

Orang Farisi termasuk tipe itu pada jaman Tuhan Yesus. Orang terkemuka. Dihormati di kalangan masyarakat. Memakai istilah sekarang, mereka adalah para tokoh agama (toga) sekaligus tokoh masyarakat (tomas). Seakan-seakan penguasa bidang keagamaan. Yang menentukan mana orang yang layak dan tidak di hadapan Tuhan. Dan bisa dengan mudah menjatuhkan sangsi berat atas nama agama. Terutama kepada orang berpandangan berbeda.

Orang tipe seperti itulah, doa pun bukan momen perjumpaan yang diisi kerendahan hati. Doa lebih mengagungkan diri sendiri, merendahkan orang lain. Doa itu pameran kesuksesan. Dengan demikian, orang Farisi tidak butuh pembenaran Allah. Mereka merasa sudah benar. Sudah suci. Semua ketentuan agama telah tuntas dijalani.

Lain hal profil pemungut cukai. Ia merasa hidupnya sarat kesalahan. Hidupnya penuh kegagalan mewujudkan bimbingan dan nasihat keagamaan. Ia merasa kecil. Dosa terlalu berat. Tidak heran ia tidak mempunyai keberanian mendekatkan diri pada Tuhan. Ia merasa terlalu kotor di hadapan Tuhan yang suci. Sikapnya penuh sesal. Sesal bahwa ia telah gagal memberikan sikap terbaik pada Tuhan.

Saudaraku, di mata Tuhan orang Farisi tidak memerlukan pembenaran Tuhan. Sudah merasa benar. Tipe manusia seperti ini bisa jadi kita temukan saat kini. Kewajiban agama yang dipenuhi jadi pameran. Akhirnya, sikap kesombongan yang menonjol. Dia merasa lebih saleh, suci dan benar.

Lain halnya, dengan si pemungut cukai. Dia merasa dirinya tidak layak di hadapan Tuhan. Sehingga jika dia diterima Tuhan dengan segala cacat cela perilakunya, oh itu anugerah besar. Pemberian tak ternilai. Pemberian yang betul-betul sangat berharga. Doa menjadi pintu terbuka penerimaan Tuhan.

Saudaraku, Yesus datang bukan untuk tipe orang Farisi. Tuhan Yesus datang sebagai tabib. Sedangkan yang membutuhkan tabib adalah orang sakit. Mereka yang merasa tidak layak. Kotor. Menatap Allah pun tidak berani. Kepada mereka itulah, Dia datang ke dunia. Dia membuka hati-Nya menerima orang-orang yang tidak sempurna. Rendah hati di hadapan Tuhan. Mereka yang tidak mengecam orang lain. Karena merasa dirinyalah yang layak dikecam. Mereka yang tidak pameran prestasi keagamaan. Karena mereka merasa Allah begitu agung. Dan mereka debu di hadapan-Nya.

Saudaraku, mari kita mengisi hari-hari di Minggu Adven 3 dengan pengakuan jujur dan rendah hati. Bahwa benarlah kita orang bersalah. Dosa kerap kita lakukan. Kita merindukan pembenaran Allah. Dialah telaga pengampunan kita. Puji syukur, Allah datang ke dunia. Dia mengulurkan tangan kepada kita. Dia menjadikan kita layak di hadapan Sang Maha Suci. Kita menjadi anak-anak-Nya. Dalam ketidak layakan kita berbenah diri. Semoga Allah saja yang menguatkan kita.

Kita berdoa. “Tuhan, kami beruntung karena Engkau datang bagi kami orang yang berdosa ini. Kami membawa ke hadirat-Mu kehidupan hari ini kesehatan bagi semua yang berkenan kepada-Mu. Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin”.

Oleh Pdt. Supriatno

Titik Batas

Selamat pagi, ibu-bapak, aki-nini dan saudara- saudaraku yang baik. Malam telah lewat dan Tuhan memberi kita istirahat dengan baik. Puji Tuhan. Refleksi pagi ini kita akan memaknai tentang titik batas.

Firman Tuhan yang jadi sumber refleksi, ”Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”

Mazmur 90:5-6

Saudaraku. Saat kita melihat speedometer mobil di dash board, kita melihat angka kecepatan mobil. Dari angka 0 sebagai titik paling rendah, hingga 250 km/jam. Artinya angka 250 merupakan titik batas kecepatan mobil itu. Dengan demikian, siapapun tidak bisa mengendari mobil itu melebihi batas kecepatan. Jika dipaksakan, pasti mesinnya langsung rusak.

Pada dasarnya semua ada batasnya. Seorang pegawai negeri atau militer akan bersiap-siap mengakhiri tugasnya saat usianya sudah mencapai 58 tahun. Karena mereka tahu, ada batas usia yang harus dipatuhi. Usia pensiun. Siapapun terikat pada ketentuan itu.

Bacaan kita mengingatkan masa hidup manusia juga terbatas. Memang dalam kasus tertentu, ada yang mencapai usia hidup di atas 100 tahun. Namun, angka 70 tahun hingga 80 tahun merupakan batas pada umumnya. Itu pun disertai dengan memudarnya kebanggaan. Gantinya berbagai penderitaan, khususnya secara fisik. Dalam nada guyon dikatakan, orang makin tua ditandai dengan lambang kekayaan: ada ring di jantungnya, ada emas di giginya.

Jika sudah mencapai titik batas, maka dipaksakan jadi masalah. Setinggi apapun jabatan seorang pegawai, senang atau tidak. Rela atau tidak. Mau tidak mau, ia harus menerima segala sesuatu ada waktunya sebagai kenyataan. Yakni ia harus memasuki titik batas.

Lalu, ada pertanyaan penting. Apakah yang kita bisa lakukan menyangkut keselamatan? Kita membutuhkan, namun upaya apapun kita terbentur pada keyerbatasan. Kita sudah mencapai puncak kesalehan. Kita sudah berdoa sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Sayang, tidak ada satu pun manusia mampu meraih keselamatan. Lalu, bagaimana?

Saudaraku. Ada suatu fenomena alam, bernama pasir hisap. Jika seseorang terperosok ke pasir hisap lalu berjuang mau keluar. Justru pasir itu akan makin menyedotnya. Jadi, gerakan yang dibuat malah makin membahayakannya.

Lalu bagaimana agar bisa keluar dari pasir hisap dan lolos dari tenggelam? Satu-satunya jalan, ada orang yang mengulurkan tangan atau tongkat. Sekaligus bantuan ini harus dipercaya. Jika percaya orang terperosok pasir hisap itu, menangkap tangan terulur atau tongkat itu. Sehingga ia bisa ditarik keluar. Keselamatan seperti itu.

Natal adalah uluran tangan Allah, yang ditawarkan kepada manusia yang dihisap dosa. Tanpa itu, sekeras apapun perjuangan kita, justru dosa menghisapnya makin tenggelam. Kita berbuat kesalahan dan dosa. Segala usaha dan perjuangan tidak mampu membuat kita bisa keluar dari hisapan dosa. Itu berarti kematian. Syukurlah, natal merupakan wujud Tangan Allah yang terulur dan barang siapa percaya akan selamat (band Yohanes 3:16).

Jadi, kita sadar, betapa tanpa Allah yang datang dalam natal hidup kita binasa. Kita tidak bisa melewati titik batas kemampuan kita. Dalam hal ini tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Dengan minggu Advent kita mensyukuri dan bergembira bahwa Allah mengisi kebutuhan utama kita, yakni keselamatan. Sedangkan kita sendiri terbatas untuk menyelamatkan diri.

Kita berdoa, Tuhan, kami terbatas untuk meraih keselamatan. Kami bersyukur Engkau datang untuk mengambil alih dan menghadirkan Yesus, Bayi yang menyelamatkan kita.

Berkati hidup kami hari ini. Kiranya suka cita dan perlindungan dari-Mu menyertai sepanjang hari ini. Seluruh doa ini kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Relasi Serta Komunikasi

Selamat pagi. Selamat memasuki hari yang baru, ibu-bapak, oma-opa dan saudara-saudaraku yang baik. Terima kasih kita panjatkan kepada Tuhan. Tuhan melindungi istirahat malam kita. Dan kini kita memasuki hari Senin. Refleksi kali ini kita akan memaknai relasi serta komunikasi.

Firman Tuhan yang menjadi dasar refleksi, ”Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Yohanes 1:14

Saudaraku, seorang raja ingin tahu, bahasa apakah yang dikuasai seorang bayi jika sudah bisa bicara? Dan bayi itu tidak boleh ada yang mengajarinya bahasa tertentu, apakah bayi itu berbahasa Inggris, Korea, Jawa, Batak, Sunda, atau apa?

Lalu, sang raja membuat titah, “tidak boleh seorang pun yang mengajak bicara bayi-bayi yang dijadikan eksperimen”. Jika bayi itu menangis, tertawa atau ingin disapa, tidak boleh direspon. Termasuk orang tuanya. Mereka jangan mengajak bicara bayinya. Raja sekali lagi ingin tahu, dengan cara demikian, jika sudah waktunya bayi itu bisa bicara, bahasa apakah yang kemudian dipergunakannya.

Apa hasilnya? Apa yang terjadi? Memasuki usia 3 tahun, ternyata 2/3 dari bayi-bayi itu mengalami kematian. Sedangkan yang masih hidup mengalami kerusakan otak. Penelitian gagal dari tujuannya.

Tapi, muncul pandangan baru. Bahwa seseorang akan mengalami kematian atau mengalami gangguan otak dan pikiran, karena tidak ada relasi serta komunikasi. Manusia yang tidak bicara dan bergaul bersama orang lain akan mengalami gangguan perkembangan hidupnya.

Coba saja, jangankan 3 tahun, 8 bulan saja kita berada dalam isolasi sosial. Dikurung di tempat tertentu. Tanpa melihat orang lain. Jika pun melihat orang lain, tidak ada tegur sapa. Bicara sendiri. Tertawa sendiri. Menangis sendiri. Tidak ada yang menghibur. Tidak ada yang membuka diri dengan kita. Singkatnya, tidak ada yang mau berkomunikasi. Pasti manusia yang mengalami perlakuan seperti itu akan mengalami gangguan kejiwaan.

Saudaraku. Manusia tidak hidup dari makanan saja, tapi juga memerlukan relasi serta komunikasi. Saya mempunyai beberapa teman, di Jogja dan Cirebon yang terpapar virus. Mereka harus menjalani isoma, isolasi mandiri. Dalam status yang ditulisnya, ternyata mirip. Tantangan beratnya adalah kesepian, kejenuhan dan terputusnya komunikasi face to face dengan keluarga dan sahabat.

Keluhannya tidak soal makan, karena makan cukup. Tidak lantaran tempat pelayanan isolasi, karena fasilitas kesehatan cukup memadai. Melainkan, yang dirindukan sosok keluarga, teman, mereka yang bisa diajak bicara bersama atau tertawa bersama. Atau mendengar langsung kata-kata yang meneguhkan. Perasaan itu tidak terjawab, padahal sudah ada kemajuan teknologi media. Bisa video call atau percakapan lainnya.

Saudaraku. Bisa dibayangkan jika Allah tidak berkomunikasi dengan manusia? Kondisinya juga pasti buruk buat manusia. Kita mengalami ketidak beresan. Ada kekosongan jiwa. Jiwa yang labil. Tersumbat luapan emosi dan hati kita kepada Allah. Ada kehilangan dan kerinduan atas inti atau esensi kehidupan. Natal adalah Allah yang berkomunikasi. Ia memperkenalkan diri, bahkan tinggal di antara kita. Jauh jadi dekat.

Sedangkan doa adalah ekspresi komunikasi kita dengan Allah. Kepada-Nya kita mengeluh, menangis, melepaskan kepenatan jiwa. Tetapi juga doa penuh suka cita kita ungkapkan kepada-Nya. Pendeknya, kita tidak bisa hidup tentram, sehat, tenang, bahagia tanpa kehadiran berkomunikasi yang sehat dengan Dia.

Di hari Senin ini, kita melangkah. Kita tetap terpaut komunikasi dengan Allah, dengan sesama, dengan keluarga. Kita jaga dan pelihara komunikasi. Tanpa itu, kita tidak bisa mengecap hidup yang sehat dan sejahtera pikiran, hati dan emosi kita.

Kita berdoa, Tuhan, ikatkan kami dengan Engkau agar terus terpelihara komunikasi Engkau dan kami. Kami pun menjaga dan terus memelihara komunikasi dengan sesama kami.

Kami tengah menantikan kedatangan-Mu. Semoga relasi dalam keluarga kami tidak terputus atau terganggu yang disebabkan konflik keluarga. Kiranya damai dan rukun mewarnai keluarga kami masing-masing. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.