Refleksi Harian: 1 Raja-Raja 19:20

Tanpa Pamrih

Selamat pagi, oma- oma, ibu- bapak dan Saudaraku yang baik. Puji syukur, Tuhan mendengar doa kita dan menerima permohonan kita. Dia mengabulkan keinginan kita untuk dapat beristirahat semalam. Bahan Refleksi Harian: 1 Raja-Raja 19:20.

Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu

1 Raja-Raja 19:20

Saudaraku, jika kita mempunyai kekayaan tentu kita ingin anak-anak kita mewarisinya. Kita berharap mereka bisa mengelola dengan benar sehingga harta warisan itu bertambah-tambah. Safat adalah seorang hartawan. Ternaknya banyak, tanahnya luas. Melihat perangai anaknya, bernama Elisa, tentu ia berbesar hati. Kelak hartanya yang berlimpah akan berada di tangan pewaris yang tepat. Mengapa? Elisa seorang pekerja keras dan penuh ketaatan pada orang tua.

Elisa bukan tipe pemuda kaya yang merongrong dan menghabiskan harta orang tuanya. Godaan terbesar punya orang tua kaya adalah bersikap puas diri, lalu menghambur-hamburkan harta tersebut. Berleha-leha dan kerjanya cuma ke bermalas-malasan. Enggan bekerja dan tidak produktif. Terutama muda yang berprinsip, ”buat apa kerja keras. Kekayaan orang tua tidak akan habis sampai beberapa generasi.” Safat sebagai orang tua tentu sangat beruntung punya anak dengan watak rajin dan tidak suka poya-poya.

Ternyata rencana Tuhan selain indah, juga melihat kepentingan orang banyak mendapat perhatian-Nya. Elisa, pemuda rajin dan berani berpeluh meski anak orang kaya, suatu saat bertemu Elia. Dan perjumpaan itu memutar 180 derajat seluruh perjalanan hidupnya (moment of truth). Elia menawari Elisa bekerja bagi Tuhan sebagai seorang nabi menggantikannya kelak.

Saudara tawaran nabi Elia bukan ajakan ringan. Menjadi seorang nabi berarti seluruh konsentrasi hidupnya buat Tuhan. Berani menegur umat yang salah. Bersedia membimbing umat yang bandel. Bahkan nyawanya bisa terancam. Dan ada satu lagi yang tidak ringan, yaitu hidup dalam kesederhanaan. Dunia materialistik harus ditinggalkan. Ini susah. Karena Elisa punya orang tua yang kaya yang warisannya bisa jatuh kepadanya. Ternyata, Elisa bukan menomor satukan kekayaan sebagai tujuan atau orientasi kehidupan. Ia rela hidup tanpa gelimang harta yang ada di keluarganya.

Saudaraku, Elisa pamit ke orang tuanya. Ia mohon restu menjalani hidup di jalan Tuhan. Semua konsentrasi hidupnya buat Tuhan dan siap hidup dengan segala kekurangannya. Di sini, kita melihat, Elia merekrut sosok tepat yang kelak menggantikannya selaku seorang nabi. Dia memilih seorang yang sudah selesai dengan hal duniawi. Hal ini, sungguh berbeda dengan gejala pemimpin agama sekarang. Justru banyak yang berlomba mencari dan menimbun harta duniawi. Elisa sudah selesai dengan urusan harta duniawi. Dia fokus pada pekerjaan buat Tuhan.

Manakala seorang hamba Tuhan belum selesai dengan orientasi duniawinya kasihan umatnya. Karena yang dilihat hamba itu atas umatnya bukan hatinya tapi melihat kantongnya. Akhirnya, yang kaya didekati dan yang miskin dijauhi. Firman ini merupakan kritik kepada mereka termasuk saya. Bahwa memenuhi panggilan Allah berarti konsentrasi melihat jiwa-jiwa yang perlu dilayani. Bukan lebih tergoda harta milik umatnya. Hamba Allah hendaknya berkaca pada Elisa. Sehingga di kepalanya dan di benaknya roh pengabdian bukan roh mata duitan.

Saudaraku, kita bersyukur betapa banyaknya pelayan non pendeta di gereja-gereja, bekerja berani berpeluh dan tanpa pamrih. Mereka yang dalam kesibukannya menyisihkan waktu, tenaga, pikiran dan komitmen melayani Tuhan. Bahkan harus ‘nombokin’, dengan dana pribadi. Menurut saya mereka adalah Elisa-Elisa jaman kini. Bersedia melayani tanpa tuntutan mendapatkan hal yang material. Mereka berani berpeluh. Bekerja tanpa pamrih. Ya, tanpa pamrih material.

Kami berdoa, kiranya Tuhan memberkati hidup kami hari ini. Anak-anak yang sekolah maupun kuliah online, bapak-ibu yang pergi ke kantor, opa-oma yang menikmati masa pensiun di rumah, dan pelayanan kami hari ini. Semoga kehadiran dan perlindungan-Mu bersama kami. Dalam nama Yesus, doa kami panjatkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Raja-Raja 19:20

MONUMEN KEBERSAMAAN PGI DAN KWI

1. Catatan Awal.

Dengan bersyukur kepada Tuhan, kita mencatat dengan sukacita bahwa relasi yang hangat antara PGI dan KWI telah terwujud dalam rentang waktu yang cukup lama.
Untuk menyebut beberapa contoh
misalnya, sikap bersama dalam menolak rumusan akhir Musyawarah Agama 1967, sikap bersama dalam merespons SKB 1969, yang kemudian diubah menjadi PBM 2006, kebersamaan dalam menerjemahkan Alkitab yang secara spesifik di garap oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan Lembaga Biblika Indonesia (LBI), saling menghadiri pada acara kegiatan dan atau sidang-sidang PGI dan Sidang KWI, serta bentuk-bentuk kegiatan lainnya.

Realitas itu cukup menggembirakan dan perlu sebuah kajian lebih mendalam bidang-bidang apa yang dimasadepan perlu lebih diberi perhatian untuk di kerjasamakan.

2.Pesan Bersama.

Hal monumental yang amat nyata dan dirasakan umat dalam membangun kebersamaan itu terwujud dalam hal pembuatan Pesan Natal Bersama dan Pesan Paskah Bersama PGI-KWI.
Sejauh dokumen yang ada, Pesan Natal Bersama PGI KWI dimulai tahun 1973 dengan penerbitan “Pesan Natal Bersama Dewan Gereja-gereja di Indonesia dan Majelis Agung Waligereja Indonesia Tahun 1973” Format Pesan saat itu belum memberi perhatian pada Tema, seperti yang dilakukan sekarang, tetapi mengacu kepada Injil Lukas 2:14. Pada saat itu Pesan di tandatangani oleh Dr JLCh Abineno dan Dr SAE Nababan-Ketua Umum dan Sekum DGI, serta Yustinus Kardinal Darmojuwono dan Uskup Agung Leo Sukoto, Ketua dan Sekretaris MAWI.

Pada saat penulis menjadi Wasekum PGI, 1989-1994; 1994-2000; 2004-2009, proses penyusunan Pesan Natal dilakukan secara standar sebagai berikut.
a. Sekitar bulan Mei, penulis mencoba membuat draft Tema Pesan berikut referensi Alkitabnya. Upaya itu dilakukan dengan melihat kembali Pesan Natal tahun yang lalu, dan pergumulan seputar Gereja dan Masyarakat pada tahun berjalan; b. Sesudah ada draf itu penulis mengkomunikasikan kepada Ketum, Sekum, Bendum dan mendiskusikannya. Sesudah ok maka draf itu disampaikan kepada seluruh anggota MPH dan meminta respons mereka dalam seminggu; c. Kemudian sesudah pandangan PGI bulat, draf itu disampaikan kepada KWI; d. Oleh karena Gereja/lembaga kristiani ingin lebih cepat mengetahui tentang Tema dan Referensi Alkitab, maka biasanya awal September, Tema dan Referensi Alkitab sudah disetujui PGI-KWI. Teks lengkap Pesan Natal baru final medio November sesudah KWI membahasnya dalam Sidang Tahunan KWI yang dihadiri para Uskup, minggu pertama bulan November.

Dalam pembahasan di Sidang Tahunan KWI pertanyaan para Uskup cukup kritis berkaitan dengan diksi atau frasa yang menurut mereka bisa menimbulkan masalah. Penulis ikut beberapa kali dalam sidang itu dan mendapat pembelajaran yang amat baik.

3.Pesan Paskah Bersama.
Pada waktu penulis menjadi Sekum Sinode GKP di Bandung 1978-1990 terbersit pemikiran agar selain Pesan Natal Bersama, perlu juga dibuat Pesan Paskah Bersama PGI-KWI. Gagasan itu kemudian dibagikan kepada MPH PGI, up Dr F Ukur Sekum DGI yg sering bertemu Penulis.

Pada saat penulis menjadi Wasekum PGI gagasan itu dikembangkan lagi yang kemudian mewujud dengan pembuatan Pesan Paskah Bersama PGI-KWI Tahun 1996 sd 1998.

Artinya sempat dibuat Pesan Paskah Bersama PGI-KWI sebanyak 3 kali yang saat itu di tandatangani oleh Dr Sulaso Sopater dan Dr JM Pattiasina-Ketua Umum dan Sekretaris Umum PGI, serta Yulius Kardinal Darmaatmadja,SJ dan Mgr MD Situmorang -Ketua dan Sekr Jendral KWI.

Sesudah 3 Pesan Paskah Bersama itu, maka PGI dan KWI tidak lagi membuat pesan bersama. Pada saat PGI dan KWI berbicara tentang hal itu tahun 1998, sahabat dari KWI menyampaikan kendala teknis yang mereka hadapi tatkala membuat Pesan Paskah Bersama.

Setiap menjelang Paskah, KWI menyelenggarakan program Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang diikuti semua keuskupan. Pada tahun 2021 ini misalnya tema APP Nasional : “Semakin Beriman, Semakin Solider (Membangun Ekonomi Solidaritas). Dalam APP ini setiap keuskupan menghimpun dana lalu mengirimkannya kepada KWI. Biasanya melalui Pesan Paskah itu KWI memberi motivasi kepada umat untuk mendukung kegiatan APP.

Tatkala pesan Paskah itu menjadi Pesan Bersama dengan PGI maka KWI tidak bisa lagi secara spesifik memotivasi umat untuk mendukung APP apalagi PGI sendiri tidak memiliki program semacam APP itu di lingkup PGI.

Atas dasar itu PGI memahami jika Pesan Paskah Bersama PGI-KWI tidak bisa dilanjutkan disebabkan oleh faktor-faktor teknis seperti itu berdasar kekhasan karakteristik dari 2 lembaga PGI dan KWI.

4.Wasana Kata.
Dalam perkembangan terkini ada baiknya sesudah pandemi reda PGI KWI bisa duduk bersama untuk mengkaji titik-titik hubung yang sudah ada dan bagaimana mengembangknnya di masa depan untuk merespons perubahan zaman.

Dunia kebahasaan baik juga mendapat perhatian agar terdapat kesamaan transliterasi istilah teologi dari bahasa Ibrani, Yunani, Latin sehingga menolong umat dalam menjakankan tugas pelayanannya.
Sebuah buku yang mendokumentasikan kebersamaan PGI dn KWI di berbagai bidang berikut analisisnya (misal dengan judul ENSIKLOPEDI RELASI PGI-KWI DI INDONESIA) layak untuk diterbitkan.

Umat Kristen dan Katolik, yang berhimpun dalam PGI dan KWI harus terus bergerak mendirikan tanda-tanda Kerajaan Allah, sambil memperkuat NKRI yang majemuk berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945.

Jakarta, 23 Maret
Pdt Em. Weinata Sairin,MTh.
(Wakil Sekum PGI, 1989-1994, 1994-2000, 2004-2009).

Refleksi Harian: Matius 27:24

Nurani Yang Bersih

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang selalu memberi hilmat dan tuntunan dalam mengambil keputusan. Bahan refleksi harian: Matius 27:24

Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!

Matius 27:24

Saudaraku, istilah “cuci tangan” sering kita mendengarnya. Bukan cuma di saat pandemi sekarang ini. Istilah ini mencerminkan sikap pengecut. Yakni sikap tidak mau bertanggung jawab atas lahirnya sebuah keputusan dan kejadian keputusan. Padahal orang yang cuci tangan tahu keputusan itu keliru atau salah. Demikianlah yang dilakukan Pilatus. Setelah desakan hebat orang banyak yang menekannya agar ia memvonis Yesus untuk dijatuhi hukum. Pilatus tidak menemukan kesalahan pada diri Yesus sebagai dasar untuk menjatuhkan hukuman mati.

Pilatus masih berusaha membebaskan Yesus dengan menyodorkan Barabas. Tapi, massa telah kehilangan akal sehat dan kewarasannya. Sehingga buat mereka memilih Barabas, seorang penjahat besar daripada Yesus yang bebas hukuman. Pilatus melihat desakan dan teriakan makin keras dari massa. Maka ia takut amukan massa tersebut. Akhirnya, Ia membebaskan Barabas dan “mencuci tangan”. Ia tidak mau disalahkan dari sebuah keputusan yang salah besar. Yesus akhirnya harus menjalani hukuman seperti pelaku kriminal, disalibkan.

Saudaraku, Pilatus kalah oleh suara tekanan massa. Ia memutuskan perkara tidak berdasarkan benar atau salah. Tapi berdasarkan ketakutan. Massa yang mengamuk lebih diperhitungkan karena takut menimbulkan gejolak sosial lebih besar.

Massa sementara itu menyuarakan tuntutan yang tidak rasional. Pikiran mereka tidak jernih. Mereka tahu bahwa walaupun mereka tidak punya jabatan tapi kekuatan massa bisa menjadi kekuatan yang memaksa lahirnya keputusan yang sesuai kepentingan mereka.

Saudaraku. Dalam proses peradilan atas Kristus menjadi catatan sejarah tak terhapus. Pemimpin yang tidak menegakkan hukum dengan benar, maka akan jatuh korban yang tidak bersalah. Massa yang marah menjadi pegangan memutuskan perkara. Jadi, keputusan tidak lahir dari hati nurani, keberanian dan prinsip keadilan.

Saudaraku. Semua manusia punya hati, tetapi tidak semua punya nurani. Nurani laksana cahaya yang menuntun manusia melangkah dengan pas di tengah kegelapan. Kerap nurani diam. Oleh sebab takut konsekuensi. Pegawai di kantor diam melihat ketidak beresan, sebab jika dia bicara bukannya diapresiasi malah disingkirkan. Kita melihat betapa massa yang seenaknya melanggar aturan. Kita bisu. Sebab, kita takut mereka kelak menggruduk rame-rame. Daripada jadi repot. Kita biarkan saja. Dan banyak contoh lain. Sehingga orang memutuskan diam daripada jadi repot.

Hati nurani dan keberanian untuk tetap di jalan Tuhan tidak gampang. Di sinilah kita mengundang Roh Kudus bekerja dalam hati kita. Kita mengharapkan agar nurani dan keberanian di jalan Tuhan tetap bersama kita. Kita sadar itu sulit. Sungguh sulit. Karena itu, orang seperti Pilatus saja, yang punya pasukan, kekuasaan, menyerah. Tidak mau repot. Namun sebagai orang beriman, sekecil apapun keberanian kita, kiranya nurani kita tetap ada, sebab di situlah makna berimanan kita.

Kita berdoa, Ya, Allah, kiranya pengorbanan Kristus memacu kami untuk tidak memperlakukan orang lain sewenang-wenang. Berikan kami pikiran yang bening dan nurani yang bersih untuk memutuskan tindakan yang tepat dalam hidup kami.

Kami berdoa buat mereka yang bergumul secara ekonomi di masa pandemi. Yang kehilangan pekerjaan sehingga sumber nafkahnya terganggu. Tolonglah mereka Tuhan. Berikan jalan agar mereka dilepaskan dari belitan kesulitan mereka. Dalam nama Yesus yang mati untuk manusia kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Matius 27:24

Gereja: Organisasi dan Organisme

Oleh: Hariman A. Pattianakotta

Saya pernah membaca sebuah artikel, kesaksian dari seorang pemimpin perusahaan. Kebetulan orang ini adalah seorang Kristen. Ia juga aktif dalam pelayanan di gereja.

Menurutnya, memimpin gereja jauh lebih sulit dari memimpin perusahaan. Apa pasal?

Ia mencontohkan. “Kalau di perusahaan, target yang ingin dicapai serba terukur. Perintah seorang atasan jelas kepada bawahannya. Jika performance bawahan tidak sesuai, evaluasi dan ganti! Keputusan yang diambil pun harus cepat, kalau tidak cepat akan ketinggalan. Rejekinya diambil orang.”

“Sementara kalau di gereja, yang dikedepankan adalah persekutuannya. Demi persekutuan, yang sudah jelas-jelas salah pun kadang sulit untuk diubah, sebab mekanismenya panjang.”

“Belum lagi soal rasa. Kita sering enak gak enak mengambil keputusan tegas. Kalau bersikap terlalu tegas, dianggap kurang pastoral. Sementara katanya gereja adalah persekutuan pastoral. Inilah yang terkadang membuat orang seperti saya tidak efektif dalam pelayanan.”

“Kalau di perusahaan, kita mengambil karyawan sesuai dengan standar kita. Harus sarjana dan punya kompetensi tertentu. Sementara di gereja, semua ada. Maaf, dari yang tidak sekolah sampai yang profesor ada di gereja. Bagaimana memimpin secara efektif dengan komposisi seperti ini sangat tidak mudah. Karena itu, menurut saya, memimpin di gereja lebih sulit dari memimpin perusahaan.”

Organisasi dan Organisme

Apa yang diungkapkan di atas mencerminkan tegangan antara gereja sebagai “organisasi” dan “organisme”. Jika kita membaca bukunya Romo Mangunwidjaya, “Gereja Diaspora”, kedua hal itu dipertahankan untuk selalu berada dalam ketegangan yang kreatif.

Betul, gereja adalah koinonia, persekutuan yang saling mengisi dan saling berbagi. Gereja adalah tubuh Kristus. Sebagai tubuh organis, anggota-anggota gereja diikat oleh Roh Kudus, yang membuat kita bisa saling merasa. Menangis dengan yang menangis, tertawa dengan yang berbagia.

Sebagai koinonia atau organisme yang hidup, kita diajak untuk peduli, berbagi, menyembuhkan, menguatkan. Karena itu, yang cepat mesti bertenggang rasa dengan yang tidak cepat atau yang lambat. Yang cepat tidak boleh berlari sendirian.

Namun, di sisi lain, gereja juga adalah organisasi. Gereja ditata dengan aturan. Gereja dituntun oleh visi dan misi. Gereja juga mesti dibuat menjadi organisasi yang efektif, efisien, dan transformatif. Strategi dan program-programnya mesti terukur dan harus selalu dievaluasi.

Demikian juga dengan para pelayannya. Orang-orangnya mesti terbuka untuk dikembangkan dan diperbaharui. Sebab, dunia terus berubah dengan cepat. Karena itu, orang-orang yang memimpin dan melayani gereja harus pula berubah dan berbesar hati untuk dievaluasi serta diperbarui.

Dengan demikian, antara organisme dan organisasi tidak perlu dipertentangkan. Gereja adalah persekutuan yang hidup, karena itu gereja juga harus ditata dan terus diperbarui. Hal ini sesuai dengan semboyan Reformasi: “Ecclesia reformata semper reformanda”

Supaya gereja bisa melakukan reformasi secara baik, gereja mesti belajar dari cara organisasi dunia ditata untuk menjadi semakin efektif, efisien, dan transformatif, tentu tanpa meninggalkan jatidirinya sebagai gereja Yesus Kristus.

Artinya, gereja harus serentak menjadi organisasi dan organisme yang hidup. Contoh konkretnya seperti apa?

Begini. Gereja sebagai persekutuan harus tetap dijaga. Kasih mesti tetap menjadi pengikat. Nilai-nilai Kerajaan Allah tetap menjadi misi gereja. Serentak dengan itu, gereja harus membuat visi, misi, strategi, dan program yang terukur dalam rangka implementasi misi Allah. Bahkan, gereja melalui para pemimpinnya harus selalu siap dievaluasi, program-programnya harus siap diganti apabila tidak relevan. Dan untuk itu, tidak perlu bertele-tele menunggu satu rapat atau persidangan yang satu ke rapat atau persidangan yang lain. Gereja harus bergerak cepat dan lincah di tengah arus perubahan yang tidak bisa ditahan-tahan oleh siapa pun.

Untuk itu, selain harus tetap berpegang pada Firman, gereja juga perlu membuat aturan main yang tidak mengekang perubahan. Mekanisme organisasi dibuat untuk memperlancar roda organisasi. Hal lainnya adalah leadership yang visioner, berani mengambil langkah perubahan meski tidak populer, dan tegas. Yang terpenting adalah apa yang hendak dikerjakan itu adalah sungguh-sungguh untuk kemajuan umat dan masa depan gereja itu sendiri, bukan untuk kepentingan diri pribadi atau kelompok.

Yang berlari kencang harus tetap berlari kencang. Yang berlari lambat, diberikan oksigen dan energi tambahan supaya bisa menyusul dengan cepat. Bukannya membuat yang cepat menjadi lambat.

Oleh karena itu, sistem ditata, program-program dirancang dan diimplementasikan, supaya yang lambat bisa menjadi lebih cepat. Yang lemah dibuat menjadi kuat. Sinergi dan energi harus diarahkan untuk itu seefektif mungkin. Yang tidak efektif dipotong, sama seperti yang Yesus Kristus sendiri ajarkan. Ranting yang tidak berbuah dipotong, dibersihkan, supaya bisa berbuah, atau minimal tidak menghambat ranting yang lain untuk berbuah lebih lebat.

Jika kita bisa memadukan secara kreatif organisasi dan organisme dalam hidup bergereja, maka gereja akan semakin efektif, efisien, dan mampu mentransformasi kehidupannya dan kehidupan masyarakat.

Selamat malam dan selamat beristirahat.

Tuhan memberkati kita semua.

Salam

Refleksi Harian: Lukas 15:1

Hadir Sebagai Sahabat

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, yang kasih setia-Nya kepada kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakan kasih-Nya. Puji syukur. Kita masih dapat membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita. Bahan refleksi harian: Lukas 15:1

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia

Lukas 15:1

Saudaraku, orang tua suka menasihati anak, seorang kakak menyarankan adiknya, opa-oma memberi wejangan kepada cucunya, agar mereka punya lingkungan pergaulan yang tepat dan sehat. Ya, kita ingin anak-anak tidak salah gaul. Kita tidak mengijinkan anak-anak bersahabat dengan para pencuri, pemabuk, dan orang yang secara moral maupun rohani punya catatan kehidupan buruk.

Mengapa? Alasannya, dalam rangka menjaga supaya mereka tidak mencontoh hal yang buruk. Sekaligus jangan mengikuti perilaku yang salah. Nasihat itu wajar dan tepat. Anak-anak masih mudah meniru. Sekaligus gampang terpengaruh. Jangankan buat anak-anak, orang sudah dewasa pun berusaha menghindari orang-orang berperilaku buruk. Kita membentengi diri supaya tidak mempunyai kontak dan relasi intens dengan orang jahat.

Dalam dunia keagamaan juga sama. Ada nasihat, bahkan larangan keras menjalin pergaulan dengan orang yang dinilai berperilaku buruk. Untuk itu, orang saleh hanya diperkenankan bergaul dengan orang yang juga saleh. Orang jujur dengan orang yang jujur. Orang baik-baik berteman dengan orang baik-baik juga. Termasuk orang suci lingkup pergaulannya hanya dengan orang suci. Alasan dasarnya adalah bahaya tercemari. Dalam hal ini, orang yang dinilai dan dicap jelek memberikan efek pencemaran atas orang baik. Orang jahat, orang berengsek, pendeknya cacat moral di mata masyarakat itu berpotensi membahayakan. Jadi harus dijauhi.

Sedangkan buat pemimpin agamanya larangan itu makin kuat lagi. Mereka harus bergaul dengan yang orang selevel. Pemimpin agama dinilai sebagai sosok orang benar. Tidak sedikit pula menggolongkannya sebagai orang suci. Maka, tidak pantas pemimpin agama banyak bergaul dengan mereka yang di mata masyarakat tercela. Pergaulan dengan orang yang buruk secara moral dan rohani merendahkan nama baik.

Tata pergaulan demikian terasa kuat di jaman Tuhan Yesus. Siapa harus bergaul dengan siapa diatur secara ketat. Saat Tuhan Yesus berhubungan orang berdoa, pemungut cukai muncul reaksi keras. Komentar sumbang muncul. Terutama dari tokoh-tokoh agama. Mereka yang merasa paling beragama. Mereka menilai Yesus merusak citra tokoh agama. Nama baik tokoh agama tercoreng. Karena Yesus bergaul dan suka ada di tengah-tengah orang berdosa di mata masyarakat.

Saudaraku, Tuhan Yesus punya gagasan dan konsep keagamaan berbeda. Sekaligus berbeda pula praktiknya. Menurut Tuhan Yesus, orang berdosa justru harus didekati. Semakin dijauhi, semakin mereka tersesat. Seumpama dunia kedokteran, mereka pasien dan pemimpin agama adalah tabib. Maka, tabib justru harus mengobati mereka. Bukannya menjauhkan mereka sehingga mereka makin sakit. Pasien memang bisa saja menulari tabib dengan penyakitnya. Tapi, ingat tabib itu panggilannya menghampiri yang sakit dan menyembuhkan. Bukan malah menjauhi.

Dengan memposisikan diri bahwa kita adalah orang berdosa. Kita sesungguhnya pasien, sedangkan Yesus adalah tabib. Betapa kita bersyukur, Allah tidak menjauhi kita. Dia hadir menjadi sahabat. Dia tidak alergi dengan keberadaan orang berdosa. Ia dekat dengan kita bukan berarti Tuhan setuju dan merestui kesalahan kita. Tidak. Allah membenci dosa, namun Dia mengasihi orang yang berdosa.

Saudaraku, betapa bersyukurnya kita mendapat kasih-Nya yang teramat besar. Dengan pengorbanan-Nya, Dia mau menghampiri orang berdosa. Dia tinggal di tengah-tengah kita. Dia pun memberi keselamatan buat kita yang berdosa.

Kita berdoa: Tuhan keberdosaan kami, Engkau tidak mencampakkan kami. Engkau merangkul dan menawarkan kehidupan yang terus diperbarui. Semoga menyambut dengan kesetiaan kepada-Mu.

Tuhan, ijinkan kami mengarungi kehidupan hari ini dengan mengandalkan pertolongan-Mu. Agar di hari di minggu pra paskah kami memperbaiki diri.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Lukas 15:1