Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 11:26

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 11:26

Dikenal Dari Buahnya

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Bahan refleksi harian: Kisah Para Rasul 11:26

Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen

Kisah Para Rasul 11:26

Saudaraku, Tuhan Yesus bersabda seseorang dikenal dari buahnya. Artinya siapa saya, siapa Anda dan siapa seseorang tidak cukup dikenali dari identitas nama diri. Melainkan juga melalui apa yang diperbuatnya. Tindakan, ucapan dan sikap seseorang mencerminkan profil seseorang.

Bagaimana mula-mula seseorang atau kelompok orang disebut sebagai orang kristen? Sejak kapan berawal? Nama kristen bukan produk yang langsung turun dari surga. Bukan ujug-ujug.

Di kota Antiokhia sebutan orang kristen muncul pertama kali. Sebuah kota di tepi pantai masuk wilayah negara Suriah saat ini. Latar belakang mereka bukan orang Yahudi. Tapi ada yang dari Siprus, Yunani dan Kirene, Libya. Boleh dikatakan pengikut Kristus ini merupakan perkembangan baik yang tidak terduga.

Mereka disebut orang kristen oleh masyarakat lingkungan sekitarnya. Mereka memberi identitas karena buah yang dihasilkan orang-orang yang berasal dari berbagai negeri itu.

Penduduk kota Antiokia melihat orang-orang itu mempraktikkan keimanan yang berbeda. Mereka orang-orang yang taat dalam iman. Patuh dalam bimbingan. Dari sanalah lahir sebutan orang kristen.

Tidak hanya mereka tergolong taat dan patuh dengan imannya. Mereka pun orang-orang yang murah hati. Terlihat saat Gereja induk Yahudi di Yerusalem mengutus Barnabas ke Antiokhia. Tujuannya agar orang-orang baru percaya ini didampingi, dan mereka tetap setia. Mereka tanggap mengulurkan bantuan. Mereka menyingsingkan lengan baju dan membantu secara finansial.

Saudaraku. Sementara itu, mereka juga orang-orang yang tahu resiko menjadi pengikut Kristus. Secara jumlah merupakan persekutuan yang kecil. Dan terlebih dari itu mengalami penganiayaan atau persekusi.

Jadi, sebutan kristen tidak bisa dipisahkan dengan buah baik yang telah diperlihatkan. Setia pada iman. Peka dan tanggap atas saudara seiman yang tengah kesulitan dan mempunyai karakter sabar terhadap penghinaan karena iman.

Dengan demikian, saat kita melekatkan identitas sebagai orang kristen pada diri kita. Itu tidak semata-mata karena hal simbolis, seperti: kalung salib yang dikenakan, penyebutan dalam KTP, atau hiasan rumah, dll. Namun ada yang lebih utama, atau esensial. Yaitu praktik kesetiaan dan semangat kemurah hatian dalam kehidupan beriman. Kita dikenal dan memperkenalkan diri dengan “buahnya”. Dalam hal ini, perbuatan terpuji.

Apa artinya kita menyebut diri orang kristen, tapi praktik hidupnya jauh dari esensi atau inti kekristenan? Apa artinya gembar-gembor menonjolkan simbol atau lambang kristen, sedangkan perbuatannya menodai kekristenan? Kekristenan adalah identitas yang nyata dari praktik hidup. Dalam hal ini orang yang mempraktekkan nilai: setia, penuh antusias, murah hati, suka cita dan tetap tegar. Dan itu semua diwujudkan oleh orang kristen di Antiokhia.

Semoga, kita mampu menyandang identitas kekristenan dengan sikap dan perilaku yang senafas dengan “jiwa” kekristenan. Sehingga orang-orang di jaman kita ini melihat kita sebagai orang kristen sejati, sebab sebagai orang yang punya praktik hidup terpuji. Semoga Tuhan memampukan kita.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya kami bisa menyandang identitas sebagai pengikut-Mu. Dan mampukan kami taat ke atas, tanggap ke bawah.

Kami berdoa bagi para guru yang telah purna tugas maupun masih aktif. Merekalah dengan profesi mendidik manusia agar cerdas dan berkarakter baik. Berkati hidup mereka.

Doa ini kami panjatkan dalam nama di atas nama, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami adalah kawanan kecil, namun kiranya mampu menjadi murid-Mu yang berkualitas. Jadikan kami orang kristen yang sejati. Kami ingin memuji-Mu setulus hati.

Kami berdoa agar apa yang kami alami hari ini, kiranya kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu.

Tuhan, semoga yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya kami bisa berbagi kebaikan dengan sesama kami hari ini.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Kiranya dengan beraktivitas kita menjadikan lebih berarti.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 11:26

Refleksi Haran: 1 Raja-raja 17:6

Refleksi Harian: 1 Raja-raja 17:6

Merasakan Mukjizat Tuhan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik di dalam Tuhan. Semoga pagi yang indah dapat kita nikmati saat bangun pagi ini. Bahan refleksi harian: 1 Raja-raja 17:6

Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu

1 Raja-raja 17:6

Saudaraku, banyak orang menyukai burung. Ada yang karena suaranya yang indah. Menyenangkan didengar telinga. Ada pula lantaran bulunya yang indah. Sehingga sedap dipandang mata. Dua hal itu, yang selalu menjadi pertimbangan orang suka memelihara burung atau menyukai itu.

Bagaimana dengan burung yang tidak memiliki keduanya? Bulunya tak indah, suaranya tak merdu. Jelas, orang tidak menyukainya. Termasuk di sini burung yang bernama burung gagak. Bulunya semua hitam, suaranya parau. Tidak sedap dilihat, tidak enak didengar. Malah, sosoknya menakutkan. Burung gagak dengan warnanya yang hitam mengilap, suaranya jauh dari merdu. Sering dinilai menyeramkan karena dianggap sebagai pertanda kematian. Mana ada orang mengoleksinya?

Tapi, dalam kisah nabi Elia, Tuhan menjungkir balikan asumsi bahwa burung gagak itu menyeramkan karena berkaitan dengan orang mati. Justru burung itu dipakai Tuhan buat kesinambungan hidup nabi Elia. Setiap hari burung gagak itu membawa roti dan daging. Dengan demikian buat nabi Elia burung gagak itu selalu ditunggu kedatangannya.

Tuhan menjadikan burung gagak sebagai media pensuplai kebutuhan hidup harian seorang nabi. Teratur, pagi dan sore. Luar biasa. Bukan burung itu yang diberi makan, tapi sebaliknya. Burung gagak itu pemberi makanan.

Saudaraku. Nabi Elia sedang dikejar-kejar raja Ahab yang kejam dan prajuritnya. Mereka tidak senang dengan nasihat nabi. Bukannya mereka berterima kasih kepada nabi, justru mereka mengancam kehidupan nabi Eli.

Di tengah kesulitan itu, Allah bertindak di luar dugaan. Allah menyembunyikannya di tepi sungai Kerit. Kemudian Allah memakai burung gagak bukan manusia biasa yang mensuplai konsumsi buat nabi Elia. Dengan Allah memakai burung, maka prajurit tidak bisa melacak keberadaan sang nabi.

Burung gagak rutin memasok kebutuhan makan nabi Elia. Dengan begitu, sang nabi tetap aman dalam persembunyiannya. Dan tetap tersedia konsumsinya.

Saudaraku, inilah mukjizat kehidupan. Allah mempergunakan media dengan kreatif. Bahkan tidak diduga oleh nalar atau pikiran manusia. Apakah mukjizat kehidupan yang Allah lakukan secara kreatif tidak ada lagi?

Sebenarnya, mukjizat kehidupan tetap ada dan terjadi dalam hidup Anda dan saya. Hanya sering hal biasa dianggap peristiwa biasa saja. Cobalah kita merenungkan, betulkah kita tidak pernah mengalami mukjizat kehidupan?

Orang yang mengalami mukjizat kehidupan akan peka atas tindakan Tuhan. Dia merasakan Allah yang bertindak dalam kehidupan. Jiwanya bergetar haru. Emosinya menangkap getar kehadiran Allah.

Yakinlah, ada pengalaman hidup yang membuat kita heran dan takjub atas tindakan Allah. Kehadiran Allah itu nyata dan fakta, bukan teori semata. Benarlah ungkapan sebuah lagu, “mukjizat itu ada”. Terutama pertolongan Tuhan yang datang indah pada waktunya dan teratur waktunya.

Kita berdoa: Tuhan, betapa ajaib karya yang Engkau lakukan di tengah hidup nabi Elia. Kami percaya, kiranya karya-Mu itu, terjadi saat ini dan nanti dalam bentuk lain dalam hidup kami.

Kami mendoakan mereka yang berulang tahun. Kiranya suka cita dan berkat Tuhan yang indah bersamanya. Demikian juga yang sakit. Jamahlah, Tuhan. Mohon pulihkan dan sembuhkan.

Dalam nama Yesus, kabulkanlah permohonan kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Raja-raja 17:6

Refleksi Harian: Yeremia 35:8

Refleksi Harian: Yeremia 35:8

Patuh Dan Taat

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Malam telah kita lalui. Kini kita memasuki pagi yang baru di hari yang baru. Mari, kita mesyukuri cinta kasih Tuhan yang telah hadir di hari yang baru. Bahan refleksi harian: Yeremia 35:8

Kami mentaati suara Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur kami dalam segala apa yang diperintahkannya kepada kami, agar kami tidak minum anggur selama hidup kami, yakni kami sendiri, isteri kami, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kami

Yeremia 35:8

Saudaraku, setiap manusia dibentuk oleh lingkungan sosialnya. Jika kita mempunyai 2 orang putra, lalu kirim mereka studi di luar kota. Satu studi di kota Jogja, dan satunya lagi di kota Bandung. Tunggulah empat tahun setelah mereka menuntaskan studinya. Saya yakin, gaya kedua orang itu punya perbedaan.

Cita rasa atas masakan sudah berbeda. Yang satu suka gudeg dan yang satu lagi senang sayur asem, ikan dan daun-daunan. Belum lagi kebiasaan dan cara berkomunikasi pun niscaya satu sama lain punya nuansa berbeda.

Keturunan kaum Rekhab adalah orang asing dan pengungsi di Yerusalem. Nabi Yeremia mengundang mereka. Sesuai pesan firman Tuhan kepada Yeremia agar mereka diundang datang di salah satu ruang di rumah Allah dan dijamu minum anggur.

Makan dan minum anggur sudah hal yang lazim. Anggur merupakan buah istimewa. Bagi tamu yang diundang dan dijamu minum anggur memperlihatkan rasa hormat tuan rumah atas tamunya, sekaligus istimewanya sang tamu.

Saudaraku, undangan nabi Yeremia dipenuhi. Kaum Rekhab menghargai undangan tersebut. Tapi jamuan minum anggur tidak disentuh. Mereka menolaknya. Mereka tidak bersedia meminumnya.

Mengapa? Apakah itu mencerminkan mereka merendahkan jamuan yang disajikan seorang nabi? Apalagi, firman Tuhan sendiri yang meminta nabi melakukannya.

Saudaraku, kaum Rekhab merupakan kaum yang setia memegang ketaatan. Mereka patuh dan konsisten pada pesan orang tua dan leluhur mereka. Yakni, seluruh anggota keluarga kaum itu musti memilih hidup sederhana. Mereka tinggal di kemah, berprofesi pandai besi dan tidak makan atau minum anggur.

Kepatuhan dan ketaatan itu tetap terpelihara meski mereka sedang mengungsi di kota Yerusalem. Kehidupan dan kebiasaan serta pola hidup lingkungan sosialnya tidak menggoyahkan prinsip mereka.

Kaum ini diundang nabi Yeremia tujuannya agar umat Israel melihat sikap ketaatan mereka. Karena saat Yeremia menjadi nabi, umat Israel tidak mau mendengar firman Tuhan dan menaatinya. Nah, dengan mengundang kaum ini supaya orang Israel berkaca diri. Contohlah kaum Rekhab. Terhadap suara manusia saja taat dan patuh tanpa kompromi. Tentu lebih lagi pada firman Tuhan.

Saudaraku, salah satu ciri hidup di kota besar adalah selalu mengikuti perubahan. Hal yang baru datang pergi silih berganti. Lihat saja, misalnya betapa cepatnya model handphone berubah.

Belajar dari kaum Rekhab adalah bagaimana memelihara ketaatan secara konsisten di tengah perubahan. Kota Yerusalem, kota terpenting dan utama, tidak mampu mengubah sikap konsisten mereka atas pesan orang tua dan leluhur.

Saudaraku. Kita pun baiknya bersikap demikian, selain taat dan patuh atas firman Tuhan. Kita juga patut taat dan patuh atas pesan mulia orang tua atau leluhur kita. Mengingat hal itu, seyogyanya kita simpan, jaga dan rawatlah pesan luhur orang tua kita. Kita tidak boleh sia-siakan. Taruhlah di tempat terhormat dan jadikan rujukan kita bertindak, selain Firman Tuhan.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya ketaatan dan kepatuhan kepada-Mu kami utamakan. Selain itu, kami taat dan hormat pesan luhur orang tua atau leluhur kami.

Kami mendoakan mereka yang sakit. Kami percaya Engkau tidak tinggal diam melihat anak-anak-Mu terbaring sakit. Mereka yang menjalani perawatan di rumah maupun dirawat di rumah sakit. Kami memohon sembuhkanlah mereka.

Tuhan, Engkau kiranya mengaruniakan hari ini penuh suka cita atas Saudara kami yang berulang tahun. Kiranya suka cita, rasa syukur, panjang umur bersamanya.

Dalam satu nama doa ini dialaskan yakni pada nama Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yeremia 35:8

Refleksi Harian: 1 Korintus 10:13

Refleksi Harian: 1 Korintus 10:13

Selalu Ada Jalan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Sungguh Allah itu penuh kuasa dan baik. Dia yang menciptakan alam semesta dan segenap makhluk serta memelihara keberlangsungannya. Puji syukur, kita adalah bagian dari ciptaan-Nya, yang dipelihara dan dikasihi-Nya hingga kini. Bahan refleksi harian: 1 Korintus 10:13

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya

1 Korintus 10:13

Saudaraku, segala yang terukur ada batasnya. Sebuah kendaraan dirancang pembuatnya mempunyai batas kecepatan tertentu. Presiden Jokowi meresmikan arena balap internasional, dengan mengendarai motor balap istimewa. Sepeda motor itu bisa melesat dengan kecepatan tinggi. Tapi, tetap ada batasnya.

Tidak hanya kendaraan, manusia pun demikian. Kita bisa mengangkat beban tapi juga ada batasnya. Saya bisa mengangkat barang seberat 50 kg, selebih dari itu tidak mampu. Memang, setiap orang kemampuannya berbeda. Meskipun demikian tiap orang pun ada batas kemampuannya.

Saudaraku, dalam kehidupan iman, setiap orang diperhadapkan pencobaan. Hal itu bisa berbentuk penderitaan, kesakitan, kesulitan, dsb. Realitas ini dialami siapapun, tidak pandang bulu. Dan ini pengalaman umum manusia. Contohnya, seorang yang kehilangan orang yang dicintai. Ini bukan pengalaman unik milik satu orang. Setiap manusia pasti pada saatnya mengalami.

Pencobaan itu meski pengalaman milik setiap manusia, tetap saja kenyataan yang berat. Menimbulkan tangisan, kesesakan batin, jerit pilu, bahkan tidak sedikit ada yang putus harapan. Seolah-olah kekuatan dirinya tak sanggup lagi menghadapinya. Ia merasa pencobaan yang dihadapinya sudah melampaui batas kekuatannya.

Saudaraku, saat pencobaan tertentu dianggap sudah melampaui batas kekuatan, maka pasti tidak bisa apa-apa. Menyerah kalah. Tidak ada yang mampu lagi yang bisa diperbuat.

Demikianlah, hal yang dipikirkan orang-orang kristen di Korintus. Mereka merasa tidak dapat lagi menanggung beban pencobaan. Beratnya sudah melampaui daya tahan mereka. Perasaan yang juga bisa dialami sekarang. Ada yang merasa beban pencobaannya berat sekali. Sehingga sudah melewati batas. Dan merasa tidak berdaya.

Saudaraku, pencobaan tetaplah beban. Pengalaman yang tidak menyenangkan. Namun, satu hal, Firman Tuhan menegaskan bahwa pencobaan itu tidak akan melampaui kekuatan kita. Apa maksudnya? Padahal kita tahu, dan kita merasa ada beban yang sudah melampaui kekuatan kita (overload).

Saudaraku, betul, bisa jadi kekuatan kita tak mampu. Namun, jangan lupa ada kekuatan ekstra, tambahan yang kita punya. Apa itu? Kita patut memperhitungkan pemeliharaan Tuhan. Dia mengontrol yang kita hadapi. Dia intervensi dalam hidup manusia. Tak heran, di saat pencobaan datang Tuhan memberi jalan.

Saudaraku, dalam hidup jika ada masalah pasti ada solusi. Di tengah himpitan ada kelegaan. Datangnya virus Covid 19, datang pula vaksinnya. Tidak ada masalah mengambang tak terselesaikan bagi umat beriman. Selalu ada jalan keluar.

Demikian, jika saat ini atau nanti, pencobaan datang dalam hidup kita. Itu hal yang bisa dialami siapapun. Dan bersama Tuhan selalu ada jalan. Tidak ada kata menyerah dan kalah. Yang ada harapan dan kekuatan.

Kita berdoa: Tuhan, hidup di dunia tidak akan lepas dari pencobaan. Kami bersyukur kami tetap mampu menghadapi dan mengatasinya bersama Engkau.

Kita berdoa, “Tuhan terima kasih atas berbagai berkat yang kami terima hingga hari ini. Kiranya kami terus mensyukurinya. Tuhan tambahkan usia bagi saudara kami yang berulang tahun. Semoga mereka sehat, bersuka cita dan membangun landasan hidup ke depan. Mereka mendapat berkat dari Tuhan.

“Kami juga berdoa, kiranya Tuhan mendengar suara hati mereka yang tubuhnya didera penyakit dan menanti kekuatan serta penyembuhan. Sendengkanlah telinga-Mu dan berkenan menjawab harapan kesembuhan mereka. dengarlah suara hati yang merindukan proses pemulihan berjalan baik dan lancar. Engkau Penyembuh Sejati kiranya berkenan dekat dengannya.

Kami mendoakan yang mencari pekerjaan yang tepat, pasangan hidup, dan kerinduan buah hati. Kiranya Tuhan menjawab dan memenuhinya.

Doa-doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Korintus 10:13

Refleksi Harian: Markus 4:1

Bersahabat Dengan Alam

Salam sehat dan suka cita, di pagi yang baru ini ibu-bapak, opa-oma dan saudara-saudara yang baik. Kita bersyukur malam hari sebagai karunia Tuhan agar kita bisa beristirahat. Bahan Refleksi Harian: Markus 4:1

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu

Markus 4:1

Saudaraku, mengajar dan berkotbah ada tempatnya. Bait Allah adalah tempat formal berlangsungnya pengajaran dan kotbah. Jika tidak di tempat itu, paling tidak di tempat ibadah.

Yesus membawa angin baru. Yang belum terjadi sebelumnya. Dia mengajar dan pasti ada unsur kotbahnya, di tempat kurang lazim. Dia mengajar di tepi pantai dan di atas perahu. Animo yang mau mendengar-Nya tinggi. Banyak orang datang.

Kita menemukan metode yang menarik yang Dia lakukan. Di balik lokasi kotbah itu, Dia memanfaatkan fenomena alam. Dalam hal ini Dia menggunakan tiupan angin sebagai media pengantar suara-Nya. Kita tahu, waktu itu belum ada sarana elektronik. Belum ada sound sistem lapangan.

Sungguh cerdas dan jeli. Dengan menggunakan kekuatan tiupan angin, suara Yesus sampai di telinga pendengar-Nya. Pesan pengajaran bisa didengar dengan jelas dan jernih. Alam ikut mendukung pekerjaan dan misi Yesus.

Saudaraku, jadi alam itu harus dimanfaatkan buat kemuliaan Allah. Dalam hal ini, angin mempunyai power meneruskan gema dan suara kebenaran. Bolehlah dikatakan, tindakan Yesus menjadikan alam bersahabat. Alam telah berfungsi positif.

Saudaraku, mungkin kerap mendengar ungkapan bahwa “alam tidak bersahabat dengan manusia”. Ungkapan itu muncul menanggapi bencana banjir, longsor, dsb. Dan berakibat kerugian finansial maupun nyawa. Betulkah? Atau sebaliknya, bencana banjir bandang, longsor, dsb itu akibat dari sikap manusia yang tidak ramah atas alam.

Diakui atau tidak, alam hadir dalam bentuk bencana disebabkan ulah manusia yang eksploitatif, atau menguras tanpa batas. Alam dikeruk manfaat sebesar-besarnya untuk mendapat keuntungan ekonomi. Akhirnya, alam nestapa. Tanah menjadi gundul. Hutan-hutan makin habis. Binatang pun kehilangan habitatnya. Suhu udara makin panas (global warming).

Lalu, apa yang harus dilakukan? Manusia harus tahu batas. Alam yang dikuras terus tanpa lelah, lama kelamaan tidak menjadi berkat. Justru berbalik, alam berpotensi menyulitkan hidup kita. Sekarang saja, suhu panas bisa sangat menyiksa di musim kering. Di musim hujan ancaman banjir, longsor seperti sudah jadi langganan.

Saudaraku, kita ingat, waktu Allah melakukan penciptaan bumi beserta segala isinya, termasuk manusia. Alkitab menyatakan bahwa alam itu “baik”. Dengan demikian maksudnya jelas, alam itu diciptakan dan diberikan kepada manusia agar tetap “baik”. Untuk itu, di saat-saat kita memasuki musim hujan ini, kita perlu membuat alam tetap “baik”.

Bagaimana caranya? Kita mengingat alam milik Allah. Dikelola agar tidak merugikan kita dan anak-cucu kita kemudian. Dan buat kita sendiri, banyak hal kecil tapi bermakna yang dapat kita lakukan. Tanamlah bunga atau tanaman lain sebagai bagian kontribusi kita. Hindari buang sampah semaunya. Sadarkan bahwa sungai bukan tempat pembuangan sampah. Dan banyak lagi. Kita meniru Tuhan kita, di depan Dia, alam bukan musuh dan ancaman tapi bersahabat. Berbuatlah hal yang bersahabat (friendly) dengan alam.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya kami dimampukan produktif dalam berbuat baik. Kami tidak jemu dan lemah, terus bersemangat dalam mempraktikkan kebaikan. Dalam hal ini menjaga dan melestarikan alam.

Kami bersyukur Tuhan telah memberi usia yang baru atas Saudara kami. Kiranya hari-hari yang dijalani selama ini disertai berkat, suka cita dan ucapan syukur.

Tuhan, pada hari ini, kami membawa kepadamu orang yang kami kasihi yang masih sakit. Yang dirawat di rumah maupun di rumah sakit. Anugerahkan kondisi kesehatan lebih baik.

Kami berdoa bagi para lansia. Semoga mereka tetap suka cita. Berbahagia bersama keluarga. Di masa pandemi ini, lindungilah mereka dengan kepak sayap-Mu. Dan kami tetap hati-hati serta waspada.

Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Markus 4:1