Kreatif Di Tengah Pembatasan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Mentari telah terbit di timur. Pertanda hari baru telah datang. Kita berterima kasih pada Tuhan. Kita masih mengecap kehidupan di hari baru.

Firman Tuhan diambil dari Lukas 24:49, ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”

Orang modern paling suka suasana ramai. Pergi ke tempat wisata, berkunjung ke mall, mencari makan-minum yang dipenuhi pelanggan. Di sana, tempat itu menjadi tempat favoritnya. Bisa juga habitat sehari-harinya. Bagaikan ikan butuh air, demikian orang modern tidak bisa terpisah dengan keramaian.

Saking sukanya dunia ramai, tidak heran begitu tiba di rumah dari kegiatan di luar, masih menghidupkan televisi. Seakan kunjungan keluar rumah masih kurang cukup. Tidak sedikit, akhirnya jatuh tertidur di depan televisi yang menyala. Sampai- sampai ada ungkapan jenaka, “ bukan orang nonton televisi, tapi televisi yang menonton orang.”

Selain suka yang ramai, kemodernan ditandai dengan serba melakukan pergerakan. Orang modern itu sangat senang bepergian kesana-kemari. Lihatlah, bandara sudah seperti terminal bus. Saking banyaknya orang hendak melakukan perjalanan.

Orang modern, termasuk kita tidak betah diam. Jarang orang modern menghabiskan waktu di rumah. Bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Dari rumah ke gereja. Setelah selesai, lanjut ngopi bareng teman. Setelah ngopi bersambung cari makan sambil memanfaatkan internet. Setelah tubuh terasa penat, barulah pulang ke rumah atau apartemen.

Saudaraku, paska Tuhan Yesus bangkit tiga kali Ia menemui murid-murid-Nya. Pertemuan yang ketiga, Ia meminta agar mereka tidak kemana-mana. Tinggal di kota. Tidak bepergian kemanapun. Karena, mereka akan disiapkan menerima kuasa. Yakni kuasa yang memampukan mereka melanjutkan kehidupan. Dalam hal ini, bukan kehidupan biasa. Melainkan, hidup dengan tugas baru yang lebih besar.

Saudaraku, meski mungkin tidak tepat, mereka bisa dikatakan menjalani karantina. Tinggal di kota. Dibatasi ruang gerak. Mereka memusatkan pikiran dan emosi pada hal yang akan mereka miliki untuk tugas ke depan. Dalam hal ini, mereka menanti turunnya Roh Kudus. Roh yang melengkapi dan memampukan mereka mengerjakan pemberitaan injil keselamatan.

Saudaraku. Hidup dalam pembatasan. Tinggal di rumah. Diam dalam keheningan bisa menyiksa emosi orang modern. Diasumsikan itu momen memboroskan waktu belaka. Karena terbiasa dengan keramaian. Sekaligus banyak berada di luar rumah. Berdiam dalam keheningan bisa merupakan suasana menyiksa orang modern. Seperti tadi, tidurpun masih perlu ditemani televisi yang masih menyala, atau earphone yang masih di telinga.

Saudaraku, kini bagaikan para murid, kita dibatasi ruang gerak. Konteks kita untuk memutus mata rantai virus korona. Social dan physical distancing adalah pembatasan ruang gerak. Bagaimanapun sangat kurang nyaman buat orang yang biasa bergerak kesana-kemari. Biasa bersosialisasi. Bergaul dan mengobrol langsung.

Meskipun demikian, kita tidak boleh menarik kesimpulan bahwa kita kehilangan segala-galanya. Tentu tidak. Sekaligus, ketika menjalani masa hening dan diam di rumah, itu pun kita tidak bisa katakan sebagai pemborosan waktu. Kita tidak kehilangan waktu berharga dengan sia-sia.

Betul, kita tidak bisa mendambakan saat-saat sekarang untuk produktif. Produktif ukuran suasana waktu normal. Tapi, ternyata ada sisi lain yang mencuat. Apa itu? Kreativitas. Ada pergeseran dari produktivitas ke kreativitas. Gereja tidak bisa beribadah seperti corak biasanya, bersifat konvensional. Bersekutu secara fisik. Namun, lihatlah gereja-gereja tidak lumpuh. Muncul bentuk-bentuk kreatif pelayanan memakai media daring atau online.

Seorang ayah atau ibu yang selama ini tersita waktunya dikejar-kejar target produktivas. Sedangkan waktu buat anak cuma sisa-sisa. Itupun dengan tubuh yang sudah lelah fisik dan emosinya. Kini, dengan dibatasi ruang gerak, mereka satu sama lain makin dekat. Dan melahirkan banyak permainan buatan sendiri. Permainan yang mempertautkan emosi dan fisik antara ayah-ibu dengan anak atau antar anggota keluarga.

Saudaraku, para murid Tuhan tidak boleh kemana-mana. Bukan sama dengan pasif. Mereka
menanti untuk hal besar, yang kelak menuntun pada tugas lebih besar dan misi yang mulia. Diam tapi tengah dalam penyiapan. Mari, kita pun memanfaatkan kehidupan yang dibatasi ruang gerak saat ini. Diam dan menikmati kehidupan. Niscaya, ada banyak hal bermanfaat dan melahirkan hidup lebih bijaksana buat orang lain dan kita juga.

Kita berdoa, “Tuhan. Di masa sulit ini, kiranya kami menikmati suasana hening dan banyak diam di rumah. Mampukan kami agar ketika sulit produktif, kami mampu bersikap kreatif.

Inilah doa kami. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Buah Hati Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mbak-mas, Saudara-saudaraku yang baik. Terpujilah Tuhan Yesus yang telah menang atas maut.🙏🏻🌺

Bacaan diambil dari Yohanes 20:25, “Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ”Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Saudaraku, dalam sebuah keluarga tentu terdapat keragaman watak, kepribadian dan mental para anggotanya. Ada yang lembut dan pendiam. Ada pula yang terbuka. Mengutarakan sesuatu tanpa tedeng aling-aling. Straight forward. Meskipun secara fisik punya kemiripan, tapi bagaimanapun tidak punya kesamaan mental, karakter dan kepribadiannya.

Kristus bangkit. Segera kabar itu menjadi viral dari mulut murid yang satu ke lainnya. Segera andrenalin mereka beredar kencang. Para murid Tuhan Yesus sangat antusias menyambutnya. Bersemi kembali iman dan semangat yang sempat layu. Mereka bersatu kembali. Reuni, setelah sempat tercerai berai.

Saudaraku, ternyata tidak semua murid matanya berbinar oleh suka cita dan harapan oleh karena kabar itu. Tomas berbeda. Ia malah memberi pernyataan menantang. Bahwa ia tidak akan sekali-kali percaya jika tangannya belum mencucukan di bekas luka Tuhan Yesus. Ia ingin melihat bukti dengan mata kepala sendiri.

Ia beda sendiri. Ia ragu-ragu. Skeptis. Tipe Tomas ini bisa bikin gregetan teman-temannya. Buat orang tidak sabaran bisa mengatakan, “koq, tidak percaya?”. “ Sudah kita tinggalkan saja dia”. Tomas lambat merespon. Slow respon.

Saudaraku, Tomas bisa saja punya pertimbangan sendiri dengan sikapnya. Ia berhati-hati dengan kabar baru sekitar kebangkitan. Ia tidak mau itu bersifat hoax, sebab salah-salah ia akan kecewa dua kali. Ia ingin berita itu dilandasi fakta. Thomas tidak mau jatuh dalam kekecewaan dua kali dan lebih dalam lagi. Karena cenderung ragu-ragu, bahkan bisa digolongkan orang kurang percaya.

Saudaraku, bagaimanakah sikap Tuhan Yesus tatkala penerimaan para murid-Nya beragam? Ada yang segera percaya, tapi ada pula tipe seperti Tomas, yang ragu-ragu.

Tuhan Yesus merangkul para murid-Nya yang antusias menyambut kabar kebangkitan. Ia mengapresiasi mereka. Pada sisi lain, Tuhan Yesus tidak meninggalkan Thomas dengan pendiriannya. Yang punya semangat ditemui, yang lambat dicari. Tuhan Yesus tidak mau ada yang tercecer. Karena itu, Ia menemui Thomas dan berdialog. Ia perlihatkan bekas luka itu. Ia minta agar Thomas mengkoreksi pendiriannya dan agar menjadi percaya.

Tampak Tuhan Yesus, menghargai keanekaragaman para murid-Nya. Yang kuat dijaga agar tetap kokoh. Yang lemah dan keliru diluruskan agar tetap menjadi bagian murid-Nya. Ia memperlakukan semua sama. Tidak ada favoritisme buat yang imannya lebih kuat dan menelantarkan yang lemah dan ragu-ragu.

Saudaraku, di tengah sebuah keluarga ada yang punya kelebihan, ada yang biasa-biasa saja. Tetapi ada yang kurang. Sebagai orang tua tentu gagal dan salah jika bersikap favoritisme ke anak tertentu lantaran kelebihannya. Orang tua akan memperlakukan sama. Mengapa? Karena semua buah hatinya.

Syukurlah, Tuhan Yesus menempatkan mayoritas para murid-Nya yang semangat imannya diapresiasi dengan baik. Begitupun dengan Tomas, Ia hampiri dan rangkul. Semua dirangkul sebagai buah hati-Nya. Kita yang kuat jangan tinggi hati dan kita yang lemah tidak perlu rendah diri. Ia menyayangi kita semua.

Hidup Ini Adalah Kesempatan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, opa-oma, ibu-bapak, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Selamat pagi. Patutlah kita selaku anak-anak Tuhan mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Juga syukur atas kemenangan Kristus atas maut.

Firman Tuhan hari ini adalah,” Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Yohanes 9:4b

Saudaraku, pasti tahu sebuah judul lagu yang cukup terkenal “hidup ini adalah kesempatan”. Kata kesempatan menunjukkan ada waktu yang tengah kita miliki, besok bisa jadi tidak lagi. Dan yang namanya kesempatan bisa tidak terulang kembali.

Kesempatan suka identik dengan hal yang terjadi satu kali. Masa muda tidak akan pernah terulang lagi. Meski sekarang ada perkembangan teknologi operasi plastik yang membuat orang menjadi lebih muda penampilannya. Tapi, tetap saja masa mudanya jika sudah lewat tidak bisa dikembalikan lagi. Bukan hanya masa muda saja, banyak hal bersifat kesempatan.

Kumpul dan tinggal satu atap dengan orang tua dan saudara kandung itu juga kesempatan. Berkaitan dengan itu, kebersamaan itu merupakan kesempatan yang musti dikelola sebaik-baiknya dan seindahnya. Kelak hal itu tidak akan terulang. Mengapa? Karena ada waktunya semua saudara kita dan anak kita memisahkan diri. Mereka tinggal sendiri, atau menata hidup masing-masing. Mereka punya keluarga sendiri atau hidup mandiri lepas dari orang tua. Akhirnya, ada saat bagi sebuah pasangan suami-istri, tinggal “kembali modal”, hidup berdua lagi.

Tuhan Yesus juga berbicara tentang kesempatan. Dia menggunakan kata “selama masih siang”. Istilah itu menunjuk selagi kita punya waktu. Sedangkan “malam” tanda berakhirnya kita bekerja. Dengan kata lain, hidup kita sudah berakhir. Jadi, selagi kita hidup itu merupakan kesempatan. Karena jika sudah berakhir hidup di dunia ini tidak lagi bisa berbuat atau berkarya apa-apa. Dengan demikian, Tuhan Yesus mengajak agar tidak menyia-nyiakan waktu hidup kita. Selagi kita bernafas, maka itu pertanda masih siang. Dan panggilan kita untuk bekerja.

Bekerja di sini adalah berbuat baik. Tuhan Yesus mengajarkan, agar Jikalau kita melihat ada orang yang susah, bukan untuk menyalahkan dosa siapa yang menyebabkan hal itu. Melainkan, itu sebuah kesempatan bagi kita mengisi kebaikan untuk orang itu selagi kita masih memiliki “hari masih siang”.

Dalam bahasa populer diungkapkan dengan kata “mumpung”. Tapi, dengan isi dan tujuan positif. Mumpung kita masih hidup, kita melayani Tuhan. Kalau sudah mati, kita yang butuh dilayani. Mumpung orang tua kita masih ada, kita cintai semaksimal mungkin. Jika orang tua sudah tidak ada, kita tidak bisa menyapanya dengan cinta kasih. Mumpung kita masih diberi kemampuan berjalan, silaturahmilah dengan saudara dan tetangga. Berkunjunglah ke rumah mereka. Karena, jika sudah kena osteoporosis betapa menderitanya kaki kita untuk bisa melangkah. Mumpung kita masih aktif bekerja, dana yang kita miliki cukup tersedia, bantulah orang-orang yang membutuhkan. Karena jika sudah pensiun keuangan akan terbatas.

Jadi, sikap bijak bestari akan menjadi milik kita, saat kesempatan itu kita manfaatkan sebaik-baiknya sehingga kita bisa produktif berbuat baik. “Hari masih siang” mengingatkan kita ada waktu berharga yang dikaruniakan Tuhan atas kita. Hal berharga yang jangan disia-siakan. Jangan dibiarkan lewat begitu saja, kita musti berbuat hal yang bermakna.

Hari ini, masuk dalam Minggu Paskah. Kemarin kita merayakan kebangkitan Kristus. Dia menang atas maut. Maut yang gelap telah dipatahkan. Yesus yang berdaya sedangkan maut tidak berdaya. Kebangkitan itu menandakan hidup itu berharga. Alangkah bagusnya hidup hasil perjuangan karya Kristus itu kita tata.

Untuk itu, kita musti merawat kehidupan, baik pribadi maupun persekutuan. Jangan kita menenggelamkan diri pada kegelapan. Kegelapan sama dengan hidup yang sia-sia. Jangan begelimang dalam kegelapan. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kemenangan Kristus.

Dengan kata lain, hidup yang aktif bekerja selagi masih ada kesempatan. Itu sama dengan menghargai kemenangan Kristus. Amin.

Paskah: Diutus Untuk Membuah Di Kancah Wabah

Oleh: Weinata Sairin

“Kita berjalan Terus
dengan segenggam keyakinan paling tulus
tiada seorang pun yang berhak
memaksakan segala kehendak
atas keyakinan
yang telah kita gariskan

Kita berjalan terus
dengan keyakinan tak pernah pupus
walau jalan Kristus
penuh bukit batu dan tandus…”
(Weinata Sairin, “Disebuah Perjalanan, Serangkai Puisi”, BPK Gunung Mulia , Jakarta 2003)

Gereja tdak pernah berhenti hanya sebatas kata benda, Gereja adalah sebuah kata kerja. Itulah sebabnya walaupun gedung Gereja dibakar, dirusak, ditutup, dilarang, dibongkar, sejarah Gereja tidak pernah akan berakhir.

Gereja sebagai kata benda, oleh kebencian dan sifat-sifat arkais manusia dapat dimusnahkan, tetapi Gereja sebagai kata kerja tetap hidup, tetap kreatif, dan dinamik berkarya di tengah zaman. Orang-orang Kristen memang bisa dibunuh, dihabisi, dilibas, tetapi kekristenan tak pernah mati. Sejarah telah menyaksikan hal itu.

Dalam peristiwa kebakaran di Kota Roma tanggal 19 Juli tahun 64, para pejabat Romawi saat itu memang tidak bersikap positif terhadap kekeristenan bahkan memusuhi kekristenan sebagai agama baru yang ajarannya berbeda dari keyahudian.

Menurut legenda, Kaisar Nero sedang bermain biola ketika kota Roma terbakar. Api mengganas selama 7 hari tak bisa dipadamkan, melalap 10 dari 14 blok rumah dengan banyak menelan korban jiwa. Banyak yang menduga Nero-lah yang bertanggung jawab atas kebakaran itu, tetapi ia justru menuduh orang Kristen menjadi penyebab. Nero bersumpah untuk memburu orang Kristen. Mereka disalib, dibakar, dimasukkan ke kandang menjadi santapan binatang.

Penganiayaan itu tidak mematikan kekristenan. Tertullianus, penulis Kristen abad ke-2, berkata: “Darah para martir adalah benih Gereja”, orang Kristen tetap bertumbuh dan bertambah. Uskup Smyrna bernama Polikarpus menjadi martir tahun 156. Polikarpus bersama orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, mereka hanya beriman kepada Kristus. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan pekik: “Enyahkan orang-orang kafir.”

Polikarpus diminta untk percaya kepada dewa-dewa Roma dan menghujat Kristus, namun ia tetap menolak. Gubernur Romawi mengancam Polikarpus dengan melemparkan dia ke binatang buas, atau bahkan dibakar. Polikarpus tetap tegar, ia setia kepada Kristus. Ia berkata: “Apimu hanya akan membakar satu jam lamanya, kemudian akan padam. Namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi.”

Akhirnya, Polikarpus dibakar hidup-hidup. Namun menurut saksi mata badannya tidak termakan api. Ia seperti emas atau perak dimurnikan diatas tungku perapian. Ada aroma harum seperti kemenyan atau rempah-rempah mahal dari perapian itu; ketika algojo Romawi menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.

Para martir itu memahami benar bahwa ketaatan kepada Allah adalah sesuatu yang absolut. Ketaataan itu berada di atas segala-galanya. Mereka lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia (Kis.5:29) . Mereka berani membayar ketaatan itu dengan kematian yang mesti mereka jalani.

Tatkala bangkit dari kematian, pertama kali Yesus menyapa murid-murid-Nya dengan ungkapan: “Damai sejahtera bagi kamu!” Pernyataan ini amat penting untuk menghapus rasa takut, panik, dan pesimisme yang mewarnai kehidupan para murid sesudah kematian Yesus.

Yesus yang memenangkan kematian memang sosok yang layak dan memiliki kredibilitas untuk menyatakan bahwa damai sejahtera (syalom) itu berlaku dan terwujud di antara para murid, di antara umat manusia. Lebih penting dari itu, damai sejahtera yang Yesus berikan adalah damai sejahtera yang berbeda dari apa yang diberikan oleh dunia.

Pernyataan damai sejahtera yang diucapakn sesudah kebangkitan itu dilanjutkan Yesus dengan penugasan: “Seperti Bapa mengutus aku, demikian juga Aku sekarang mengutus kamu” (Yoh. 20:21). Oleh sebab itu, peristiwa Paskah dan pernyataan damai sejahtera tidak berdiri sendiri; peristiwa itu dilanjutkan dengan tugas pengutusan.

Kebangkitan Kristus memiliki implikasi misioner, peristiwa Paskah menjadikan gereja sebuah persekutuan yang diutus, yang bergerak menyusuri lorng-lorong dunia. Oleh sebab itu gereja dan umat Kristen Indonesia yang lahir di tengah bangsa , masyarakat dan bangsa Indoneisa tidak boleh menjadi persekutuan yang statis, apatis, tetapi yang dinamis, responsif, sesuai dengan makna kedirian gereja sebagai persekutuan yang kreatif-dinamik, yang sedang diutus Tuhan di tengah dunia.

Sejak dasawarsa 1960-an, tugas profetis gereja dalam kancah pembangunan bangsa dirumuskan dengan mengembangkan sikap positif, kreatif, kritis dan realistis. Sikap seperti itu telah memungkinkan gereja membuat arah yang jelas dengan kekuasaan bahkan mampu menghindar dari posisi sebagai instrumen dan legitimator kekuasaan.
Persekutuan yang sedang diutus di tengah dunia adalah pengutusan yang belum tiba di terminal penghabisan. Ia masih berada di tengah jalan, sehingga ia juga harus menjadi persekutuan yang siuman, berjaga-jaga, dan memahami tanda-tanda zaman. Kita sebagai bangsa tengah menghidupi era baru, sehingga gereja dan umat Kristen yang memahami diri sebagai bagian integral dari bangsa, tak bisa tidak harus memainkan peran signifikan, sehingga kehadirannya memiliki makna di tengah bangsa.

Umat Kristen di seluruh dunia sedang memperingati hari Jumat Agung yaitu wafat Yesus Kristus tanggal 10 April 2020 yang dilanjutkan Hari Raya Paskah yaitu Kebangkitan Yesus dari kematian tanggal 12 April 2020. Suatu hal yang membanggakan dalam menjalani kehidupan dalam NKRI yang majemuk.

Utamanya di bidang keagamaan adalah bahwa negara, pemerintah memberikan perhatian sangat besar bagi perayaan hari raya keagamaan. Setiap tahun pemerintah menetapkan hari libur nasional bagi hari raya agama sehingga umat dapat memperingati hari raya keagamaan itu dengan lebih leluasa. Paling tidak 6 agama yang selama ini memdapat pelayanan dari pemerintah yaitu: Islam, Kristen, Katolik Hindu,Buddha dan Khonghucu, merayakan hari raya keagamaan dengan lebih baik karena dilaksanakan pada saat libur nasional.

Paskah memberikan perspektif baru bagi Gereja dan umat Kristen Indonesia. Paskah mengajak umat untuk tidak terbelenggu pada kekinian, pada yang di sini tetapi mengajak untuk menatap ke depan, ke-akan-nan.

Paskah tahun 2020 ini dirayakan dengan sangat khusus oleh karena bangsa kita dan dunia internasional tengah fokus melawan virus Covid 19 yang telah merenggut ribuan nyawa di berbagai belahan dunia, dan ribuan juga yang positif terpapar virus Corona itu.

Paskah berarti hadirnya hidup dan harapan baru bagi manusia. Gereja yang ber-Paskah mestinya ikut menyatakan empati dan solidaritas nyata bagi para korban Corona, bagi para dokter dan tenaga medis yang berjuang di garda depan menyelamatkan para korban Corona, bahkan ikut membantu warga masyarakat yang kehilangan mata pencarian akibat Corona.

Gereja yang merayakan Paskah harus tampil sebagai gereja yang memuliakan kehidupan, Gereja yang bersaksi dan melayani, Gereja yang konsisten dan kontinyu mengembangkan wawasan teologis, oikumenis dan kebangsaan sehingga kiprahnya di tengah dunia yang penuh turbulensi memberi kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Kita bersyukur bahwa dalam seruan Paskah 2020, Dirjen Bimas Kristen mengajak Gereja dan umat Kristen untuk mengembangkan tiga aspek itu, yaitu menjadi Gereja yang memuliakan kehidupan, menjadi Gereja yang bangkit dan bersaksi, menjadi Gereja yang mengembangkan tri wawasan: wawasan teologis, oikumenis dan kebangsaan agar Gereja makin mampu meningkatkan kiprahnya di tengah sejarah.

Pernyataan Dirjen ini menjadi amat penting dan strategis ketika dunia digempur oleh kematian lewat Covid 19, genocida terselubung, peperangan antar kelompok dan antar bangsa, angka bunuh diri melonjak. Gereja harus pro dan berpihak pada kehidupan dan secara sadar melawan kematian.

Merujuk kepada peryataan Dirjen sebagaimana dikutip di atas, peristiwa Paskah seharusnya makin menyadarkan Gereja bahwa Gereja adalah komunitas yang mesti bersaksi dan melayani di tengah realitas dunia dalam kondisi apapun. Paskah harus mendorong Gereja menjadi komunitas yang membuah di kancah wabah dan bukan komunitas yang pasrah menyerah kehilangan gairah dan darah.

Tujuan Hidup

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan diambil dari Filipi 1: 26, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Saudaraku, saat kita tiba di bumi ada dua hal yang melekat pada diri kita. Yakni kehidupan dan kematian. Sama seperti dengan koin uang ada dua sisi, demikianlah kita juga di dunia ini. Sisi yang satu kehidupan, dan sisi yang lain kematian.

Sekarang kita ini kita tengah menjalani salah satu sisi, yaitu kehidupan. Nanti, entah kapan. Bisa esok, lusa atau sekian waktu yang kita tidak ketahui, kematian pasti datang. Kita pun akan menjalani kematian. Jadi, cepat atau lambat, kematian pun akan tiba juga menjadi bagian kita.

Dua sisi kenyataan itu, tidak dapat kita hindari. Menarik, bagaimana Firman Tuhan memberi arti keduanya. Rasul Paulus menyatakan hidup itu buat Kristus. Artinya, ia darma baktikan hidup yang dijalaninya untuk berkarya. Hidup ada misi. Kristus menaruh tugas suci di pundaknya. Tujuan hidupnya memberitakan Kristus bagi orang non Yahudi. Bukan untuk bertopang dagu. Bermalas-malasan. Hidup bukan sekedar mengisi waktu. Ada karya buat Kristus yang diukir. Jadi, hidup itu bukan sekedar waktu yang lewat begitu saja. Ada yang dipraktikkan buat tujuan mulia.

Lalu kematian? Terus terang, soal sisi ini, banyak orang gentar. Takut. Sebab, memang tidak pernah ada orang mati, lalu bercerita tentang pengalaman kematiannya. Ya, kematian itu misteri. Kematian datang, kita tidak tahu. Suasana di sana pun sama, tidak ada informasi gamblang. Jelas. Memang, sepintas ada gambaran tentang kematian. Misalnya, “ di sana ada suasana kertak gigi”. Sebagai penanda ada penderitaan di sana.

Sungguh lain, firman Tuhan di atas memaknainya. Kematian adalah keuntungan. Ya, keuntungan karena dengan kematian ada kesatuan lebih dekat lagi dengan Kristus. Dan reuni dengan orang-orang yang dikasihinya, yang telah mati lebih dulu.

Jadi, bukan kerugian kematian itu. Bukan pula yang menakutkan. Dengan gambaran itu, buat Anda dan saya, hidup dan mati adalah sama mulianya. Masing-masing punya kelebihannya. Meskipun kita sadar, kematian merenggut hal yang indah dalam hidup. Popularitas, relasi dengan orang yang dicintai, harta, jabatan itu semua berakhir. Berakhir begitu kematian datang. Tak heran, ada pemahaman kematian itu merugikan.

Saudara, hari ini, kita masih hidup. Kita masih menghirup nafas kehidupan. Maka, kita masih punya kesempatan berkarya. Hidup kita arahkan buat Kristus.