Menghakimi

Oleh Pdt Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Mentari mulai menerbitkan sinarnya di Timur. Burung-burung mulai bersiul. kita menghirup udara hari baru yang diberikan Tuhan. Syukur kepada Allah. Cinta kasih-Nya ini telah menanti kita dan keluarga kita di hari baru.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Matius 7:3

Saudaraku, salah satu karunia yang memperlengkapi diri kita sebagai manusia adalah kemampuan menilai. Kita bisa menilai suara itu merdu atau sumbang, benda tertentu indah atau jelek, makanan yang kita kecap enak atau tidak, seseorang itu baik hati atau jahat.

Selain karunia Allah, kemampuan ini muncul dan terasah tidak terlepas dari pengalaman. Dengan sering kita makan berbagai jenis kuliner atau makanan, kita jadi tahu mana makanan yang enak dan tidak.

Begitu juga, kita mampu menilai oleh sebab pengetahuan dan pendidikan. Dengan pengetahuan yang diperoleh secara lisan dari orang lain, atau buku yang kita baca. Maka, kita bisa menilai bahwa suatu berita hoax itu sesungguhnya berbahaya.

Menilai itu masih pada taraf netral. Dalam arti menyatakan mana yang indah dan buruk, mana yang baik dan mana yang jahat. Menilai membantu kita sehingga bisa mengambil pilihan yang tepat. Dengan bisa menilai mana makanan yang sehat dan mana yang berbahaya buat kesehatan. Maka, Anda dan saya dituntun untuk memilih secara benar mana yang mestinya kita makan. Kemampuan menilai sangat membantu menentukan pilihan tepat.

Saudaraku, meski demikian ada kemampuan menilai yang harus hati-hati. Apa itu? Penilaian yang mengarah bersifat menghakimi. Tuhan Yesus mengingatkan kita musti mewaspadainya. Ia mengajak kita jangan jatuh pada sikap penghakiman. Mengapa? Karena menghakimi merupakan penilaian tidak netral. Ada unsur terlalu menyalahkan. Penilaian gegabah. Orang lain belum apa-apa dinilai selaku obyek kesalahan.

Orang yang dihakimi ditempatkan pada posisi bersalah. Sedangkan yang menghakimi mengklaim diri lebih benar. Lebih suci. Dalam dunia keagamaan orang suka terjebak pada kesalahan menghakimi. Contoh kecil, ada orang yang berbulan-bulan tidak bergereja. Buat orang yang suka menghakimi, maka spontan ia akan menilai orang tersebut adalah orang tidak setia, malas, tidak cinta Tuhan, kurang taat. Tanpa lebih dahulu mengenali penyebab utamanya, bahkan tidak mau mendengar alasan penyebab sebenarnya ketidak hadirannya di ibadah Minggu.

Pada era atau jaman Tuhan Yesus, justru mereka yang mengaku pimpinan agama. Rajin berdoa. Buku utama yang dibacanya kitab suci. Tokoh di bidang kehidupan keagamaan. Dengan mudahnya mereka menghakimi orang yang di mata penilaian mereka sangat bersalah.

Saudara-saudara, ironinya, para pemimpin agama itu tidak bersih-bersih amat. Mereka juga punya kekurangan. Bahkan dibandingkan dengan orang yang dihakimi, mereka punya cacat dan kelemahan lebih besar. Tuhan Yesus memakai bahasa kiasan, yatu “selumbar” dan “balok”. Selumbar itu sepercik debu. Gambaran benda kecil sekali. Sedangkan balok jelas kayu yang besar, yang bisa menutupi penglihatan.

Pemimpin agama itu membesarkan kesalahan yang kecil. Kesalahan orang lain itu di-zoom. Diperbesar ukurannya. Sedangkan kesalahan besar yang mereka miliki seakan-akan tidak mereka lihat.

Sungguh, orang yang jelas punya kesalahan lebih besar malah menghakimi orang yang berbuat kesalahan kecil sekali. Orang demikian, orang yang ingin “memberesi rumah tangga” orang lain. Padahal “rumah tangganya” sendiri lebih berantakan. Mereka yang menyapu tapi sapunya lebih kotor. Menuntut orang lain sempurna, tapi yang bersangkutan kompromi dengan kesalahan pada diri sendiri. Orang demikian, kata Tuhan Yesus orang munafik. Indah di luar, buruk di dalam. Membeberkan bahwa orang lain salah. Sayangnya, pada dirinya sendiri melekat kesalahan yang lebih besar.

Saudaraku, fungsi pemimpin agama bukan menghakimi. Tetapi hadir menemani yang tersesat agar kembali kepada Allah. Menjadi sahabat bukan memusuhi. Mengulurkan tangan buat yang jatuh, agar bisa bangkit kembali. Membalut yang luka, bukan menambah luka. Betapa pentingnya hati-hati menilai orang lain. kita mengasah diri terus-menerus agar mampu menilai sesuatu dengan tepat.

Belakangan ini, ada penolakan terhadap jenazah karena penyakit tertentu saat mau dikebumikan. Lebih dari itu, ada yang sudah dikubur, masyarakat menuntut dibongkar lagi. Dan mereka meminta dipindahkan ke tempat lain.

Ada apa ini? Bisa jadi, lantaran kurang informasi, sehingga mereka takut secara kurang pada tempatnya. Sungguh fenomena memprihatinkan. Jika dalam benak mereka terdapat sikap menghakimi. Bahwa orang yang meninggal karena wabah itu dianggap aib. Ibaratnya keluarga sudah jatuh, ditambah tertimpa tangga pula. Betapa pedih kehilangan orang yang dikasihi lalu ditambah lagi dengan penilaian yang keliru. Ditolak dengan dasar suasana kental penghakiman.

Kita sebagai orang beriman tidak meniru tindakan yang melukai orang yang sudah terluka. Tugas kita membebat orang yang terluka. Bukan menambah luka baru. Jika memang ada orang yang benar-benar bersalah. Bagaimanapun kita menghindar dari sikap menghakimi. Lebih baik mendampingi, menemani dan mengajak bangkit kembali. Hati-hati. Kita jangan jatuh terjerembab dalam sikap dan tindakan menghakimi. Itu tidak elok. Tidak senafas dengan perintah Tuhan Yesus.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tidak cepat menghakimi orang lain.😇

Kami serahkan orang-orang yang kami kasihi. Kiranya terlindung dari ancaman yang menakutkan. Dan berlindung pada-Mu, Pemilik kehidupan. Dalam nama Yesus, nama yang indah dakam hidup kami, doa ini kami panjatkan. Amin.

Meringankan Bukan Menambah Beban

Oleh Pdt Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, “Berkatalah aku kepada mereka: “Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.” Nehemia 2:17

Saudaraku, ada beragam sikap manusia ketika berhadapan dengan problem bangsanya. Ada yang tanggap. Menyingsingkan lengan baju, kemudian berbuat sesuatu. Ada yang masa bodoh. Pura-pura tidak tahu. Dan menganggap bukan prioritasnya. Ada juga yang mau berkontribusi namun menunggu ajakan pihak lain.

Yerusalem. Kota suci dan pusat kebanggaan Israel mengalami porak poranda. Tak terurus dan terabaikan. Nehemia merupakan contoh sosok yang tanggap melihat keadaan mengenaskan yang menimpa Yerusalem. Hatinya tersentuh oleh perasaan terpanggil.

Ia menanamkan dalam dirinya, bahwa ia harus berbuat sesuatu demi Yerusalem. Karena itu, ia pulang dari negeri lain, dengan meninggalkan pekerjaan yang baik dan hidup yang lebih dari cukup. Pekerjaannya bukan pekerjaan biasa. Ia orang istana. Ia lepaskan jabatan juru minuman raja.

Selain merasa terpanggil dan bertanggung jawab, Nehemia membangun kesadaran di tengah orang Israel. Bahwa kondisi muram Yerusalem merupakan tanggung jawab bersama. Ia tidak mau dirinya saja yang bekerja dan yang lain menjadi penonton. Ia menantang dan mengajak, “ mari kita bangun kembali”. Undangan ini bersifat penyadaran tanggung jawab bersama. Tanggung jawab kokektif. Ramai-ramai berpartisipasi.

Saudaraku, apakah Nehemia berhasil? Undangan dan ajakan untuk membangun kembali yang dilakukan Nehemia, menjadikan kita tahu karakter seseorang. Ada yang tergerak, bahkan dari kalangan bukan orang Israel. Mereka membantu dengan mendonasikan bahan bangunan. Mereka antusias mendukung ajakan Nehemia membangun Yerusalem.

Sayangnya, ada juga sikap yang nyinyir. Tidak berbuat sesuatu tapi lebih banyak merecoki. Sudah tidak membantu, ditambah lagi memproduksi opini negatif. Orang seperti ini untuk mengeluarkan dana dan bantuan buat kebersamaan kikir sekali. Tapi untuk kepentingan popularitas pribadi bisa royal.

Saudaraku, puji Tuhan. Terdapat karakter responsif di komunitas manapun. Ternasuk di lingkungan gereja. Ada orang yang tanggap berkontribusi buat kepentingan orang banyak, untuk gereja. Punya uang dia donasikan uang. Punya tenaga, ia sumbangkan tenaga. Punya ilmu ia mau berbagi ilmu. Pendeknya, yang dia punya menjadi aset untuk kebersamaan.

Sejalan dengan itu, ada juga orang yang menutup mata. Menganggap bukan agenda dan tanggung jawabnya. Lebih senang menjadi penonton. Dana bisa jadi dia punya. Tenaga juga dia punya. Yang tidak dia punya adalah kesadaran dan tanggung jawab buat kepentingan lebih besar.

Orang itu kaya tapi miskin. Secara material ia cukup, tetapi jiwanya ia miskin. Di jaman Nehemia, orang seperti Sanbalat. Tipe orang banyak kritik, sedikit sedikit memberi sumbangsih.

Saudaraku. Negeri kita tidak membutuhkan orang model Sanbalat. Sebab, bukannya meringankan beban malah menambah-nambah persoalan.

Saudaraku, hari-hari ini dibutuhkan di negeri kita sosok seperti Nehemia. Dan diperlukan sikap saling membantu satu sama lain. Saling menolong. Sikap tanggap terhadap gerejanya, masyarakat dan bangsa. Bergandengan tangan berbuat sesuatu yang bermakna.

Diperlukan anak-anak Tuhan yang punya sikap kesadaran mau berkontribusi. Bisa material, pengetahuan, bisa tenaga. Sebenarnya mendengar himbauan pemerintah. Tinggal di rumah. Dengan mematuhinya, kita sedang berkontribusi bagi situasi tidak makin memburuk.

Saudara, mari singsingkan lengan baju. Apa yang Anda miliki akan berati jika berkontribusi bagi situasi kehidupan lebih baik.

Introspeksi: Mawas Diri

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik.

Firman Tuhan pagi ini yang kita renungkan yaitu, “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal. “ 1 Raja 18:18

Saudaraku, ada ungkapan yang menyatakan, “ kau yang bertindak, kau yang bertanggung jawab”. Artinya, pada satu sisi kita sebagai manusia mempunyai pilihan sendiri atas apa yang kita lakukan. Kita punya emosi, keinginan dan kehendak. Kita bisa bertindak hal yang baik, dan bisa juga yang jahat. Kita bukan robot, yang disetel dulu pihak lain, baru kemudian bertindak. Kita punya kehendak bebas (freewill).

Pada sisi lain, setiap apa yang kita pilih dan lakukan ada konsekwensinya. Biasanya sekarang populer memakai istilah, “tabur-tuai”. Apa yang kita tuai merupakan akibat dari apa yang tabur. Kita menabur kejujuran, kita menuai kepercayaan. Kita menabur keramahan, kita akan punya banyak teman.

Sayangnya, Ahab tidak melihatnya demikian. Ketika mereka menuai musibah, yang pertama ia lihat adalah pihak lain. Dia menganggap nabi Allah, dalam hal ini yang mencelakakannya. Seolah-olah Allah kurang perduli dengan keselamatannya. Pola pikir seperti ini lazim terjadi sekarang juga. Sikap yang tidak melakukan introspeksi, melainkan mencari kambing hitamnya pada pihak di luar dirinya.

Elia membantah bahwa musibah kekeringan alam yang ekstrim, yang dituai Ahab merupakan kelengahan dan abainya nabi Allah. Ahab mendakwa ada pembiaran dari Elia. Telunjuknya diarahkan kepada Nabi Elia.

Elia menolak itu. Ia menyatakan, bahwa Ahab sendiri biang kesalahan dan biang keladinya. Ada ketidak beresan relasi Ahab dengan Allah. Ia mengkhianati kesetiaan. Ia menyimpang dari Allah sejati. Penyembahannya kepada Baal membawa konsekwensi. Musibah itu buah dari ulah diri sendiri.

Saudaraku, banyak kita temui mental demikian saat ini. Bertindak sendiri, ternyata langkahnya keliru, lalu Tuhan atau pihak lain yang disalahkan. Jika ada orang mengalami sakit yang berat. Jangan salahkan Allah, dengan tuduhan Dia tidak memberi kesehatan. Padahal sakitnya bersumber pada pola makan dan disiplin diri yang rendah yang dilakukannya.

Jangan salahkan Allah, bahwa Allah tidak mengabulkan doanya ketika hidupnya berantakan secara ekonomi. Padahal, itu buah dari perbuatannya sendiri. Malas. Manja. Orang tua menyediakan fasilitas tapi disia-siakan. Tidak gigih melakukan hal yang bisa memberikan kesejahteraan.

Mental mau bertanggung jawab merupakan sikap langka. Lebih gampang berusaha cuci tangan. Merasa tidak bersalah. Selanjutnya, pihak lainlah didakwa penyebab utamanya kejadian buruk. Seperti itulah tindakan Ahab kepada Elia. Elia dituduh sebagai kambing hitam. Orang yang didakwa bersalah di balik musibah kekeringan parah yang melanda Israel. Ahab merasa bersih dan nabi Allah itu diposisikan bersalah.

Saudaraku, Elia balik mengingatkan. Justru perilaku Ahablah yang jadi biang kesalahan yang menyebabkan parahnya alam harus ditanggung bangsanya. Ada kesalahan fatal yang dilakukan Ahab dan kerabatnya. Yakni meningggalkan Allah Penguasa alam semesta, lalu menjadikan dewa Baal pujaan barunya.

Di sinilah, saudaraku, manakala sebuah realitas tidak menyenangkan terjadi dalam hidup kita pribadi, atau yang menimpa kehidupan bersama. Jangan cepat-cepat menengok pihak lain, lalu menjatuhkan tuduhan bahwa pihak lainlah yang menjadi sumber kesalahan. Sikap terburu-buru demikian akan menimpakan kesalahan kepada orang lain yang bisa saja tidak bersalah. Selain itu, sikap demikian akan menutup diri untuk introspeksi.

Seseorang atau masyarakat yang tidak mau introspeksi, tidak akan memperbaiki. Dan itu berarti orang bersalah yang tidak mau bertobat. Padahal, iman itu tumbuh dan matang, jika orang beriman itu belajar mengalami kegagalan. Lalu mengakui kesalahan dan terus bertekad membarui diri. Mari, di minggu Pra paskah ini lebih baik kita menata diri sendiri daripada cepat-cepat menyalahkan pihak lain.

Kini, di negeri ini dan belahan bumi lainnya, banyak penderitaan, banyak tangis, banyak kepedihan akibat virus yang mewabah. Ini momen introspeksi, adakah ini semua berawal dari kesalahan manusia? Adakah sikap keagamaan yang keliru? Memanggil Nama Allah, tapi sementara itu menguras alam milik alam miliknya dengan tidak bijaksana.

Tuhan sertai langkah kehidupan kami. Yang sakit berikanlah pemulihan dan perkembangan yang melegakan. Kami berdoa kiranya yang saat tergolek sakit, cepat pulih dan sehat kembali. Pengetahuan dokter dan konsumsi obat mempercepat perkembangan kesehatannya.

Kami menyerahkan juga kepada-Mu, mereka yang sehat. Mampukan menjaga kesehatan dengan baik. Berikan kesadaran betapa penting dan berharganya kesehatan.

Resah? Berserah!

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, paru-paru kita masih bernafas, panca indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, betapa baiknya Tuhan. Sekaligus kita masih dipercaya Tuhan melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Yohanes 14:2

Saudaraku, gelisah adalah salah satu gejolak perasaan. Ditandai dengan adanya rasa hati yang tidak tentram. Ketika tidur malam, kualitas tidur tidak lelap. Bahkan, suka bangun tiba-tiba di malam hari dan sulit memejamkan mata kembali. Pikiran menerawang kemana-mana.

Orang yang dilanda kegelisahan mengalami “tidur tak nyenyak, makan tak enak.” Ada persoalan yang seakan-akan tak terselesaikan. Atau ada persoalan yang kelak dihadapi. Kedua hal itu, bisa langsung memicu kegelisahan seseorang.

Bagaimanapun, Saudaraku, setiap gejolak perasaan tentu ada sebabnya. Orang yang tidak pasti masa depannya bisa gelisah. orang yang tiba-tiba mengalami pemutusan hubungan kerja. Tentu, tak lepas dari sergapan kegelisahan. Khususnya, manakala orang itu tidak tahu pasti bagaimana mengisi hari-hari ke depan. Belum tahu mau bagaimana membiayai hidup esok hari.

Saudaraku, banyak faktor penyebab ketidaktentraman hati. Kini kasus virus korona pun bisa menjadi sumber kegelisahan.

Orang yang gelisah bisa siapa saja. Bisa dari buruh kecil sampai pejabat tinggi. Dari orang yang serba kekurangan sampai orang yang serba kelimpahan. Atau bisa juga Anda dan saya. Sesungguhnya, semua orang bisa dihinggapi kegelisahan diri. Tidak ada yang imun dari kegelisahan.

Sama. Para murid Tuhan tidak kebal dari perasaan gelisah. Mereka pun gelisah. Mereka sadar kelak akan ada perpisahan fisik dengan Guru mereka, Yesus Kristus. Akibatnya, mereka takut dan kuatir bilamana hal itu menjadi kenyataan. Bagaimana nasib mereka baik, Atau nasib buruk yang menanti mereka? Pertanyaan-pertanyaan demikian, mengusik ketentraman hati mereka.

Saudaraku, Tuhan Yesus menangkap suasana hati dan batin mereka. Hati dan batin yang tidak tenang dan tentram. Ada keraguan dalam diri para murid-Nya memasuki masa depan. Kurang percaya diri. Rasa ragu yang menumbuhkan rasa takut.

Tuhan Yesus melihat gelagat itu. Ia menyadari bahwa para murid-Nya musti diyakinkan agar mereka tidak takut maupun kuatir. Untuk itu, Tuhan Yesus meminta mereka percaya. Ya, kata kunci menangkal kegelisahan adalah percaya. Dalam hal ini percaya kepada Allah dan percaya pada Tuhan Yesus.

Percaya di sini mengandung arti menyerahkan hidup dan masa depan kepada rencana Allah. Percaya bahwa Tuhan memiliki kekuatan dan kekuasaan yang mampu menghapuskan atau paling tidak mengurangi beban batinnya. Kegelisahan akan terobati dengan memasrahkan nasib kepada Tuhan saja. Sebab Tuhan yang penuh kuasa itu, adalah Tuhan perduli atas mereka yang percaya kepada-Nya. Tuhan yang peka melihat kegelisahan hati seseorang.

Saudaraku. Banyak orang tetap gelisah sebab beban kekuatirannya tidak dilepaskan. Dia pegangi terus masalahnya. Segelas air itu ringan. Namun jika kita angkat terus berhari-hari apalagi berbulan-bulan. Segelas air itu akhirnya menjadi hal berat yang bisa melelahkan tangan yang mengangkatnya terus-menerus.

Demikianlah juga jika sebuah beban hidup yang tidak dilepaskan. Jika beban hati tidak diserahkan kepada Tuhan. Bisa melumpuhkan hidup seseorang.

Untuk itu, mari, kita biarkan Tuhan yang memimpin hidup kita ke depan. Biarkan Allah memegang tangan kita. Serahkan masa depan kita kepada-Nya. Kita pasrahkan kesehatan kita, keluarga kita, pekerjaan kita ke dalam tangan-Nya.

Bagaimanapun, Dia paling tahu hal terbaik buat kita. Niscaya, kelak Dia akan melepaskan beban kegelisahan kita. Bukankah kita ingat dan meyakini kebenaran firman Tuhan, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” ( 1Petrus 5:7).

Imam Pilihan Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi ibu, bapak, mbak, mas, oma, opa, dan saudaraku yang baik. Semoga pagi ini kita menghirup udara yang baru sambil mengucap syukur kepada Allah. Sebab Allah kita adalah Allah yang baik, dan Ia yang memberi usia kehidupan atas kita.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, adalah 1 Petrus 2:9.
Namun, kamu adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani , bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri supaya kamu dapat memberitakan kebaikan-kebaikan-Nya, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib.

Saudara kita kenal burung bernama pinguin. Unggas yang hidup di Kutub Utara. Sebuah wilayah bumi yang amat dingin. Ketiak kita memperhatikan gaya jalan dan sosok fisik serta wana bulu pinguin, kita melihat semuanya sama. Warnanya hanya hitam dan putih, dan caranya jalannya hampir sama, langkahnya pendek-pendek. Semuanya serba sama satu sama lain. Kita pasti sulit menentukan dan membedakan satu sama lain. Meskipun demikian, sang induk pinguin pasti sangat mudah menentukan dan menemukan anaknya di antra puluhan pinguin yang lain. Relasi yang dekat antar induk dengan anaknya membantu induknya mengetahui yang mana anaknya dan yang bukan.

Begitu juga manusia, yang berasal dari satu etnis atau ras mempunyai banyak kesamaan. Etnis Cina pada umumnya mata sipit, berkulit kuning, dan rambutnya lurus. Umumnya seperti itu. Tak terkecuali orang yang berasal dari Etnis Arab. Hidungnya mancung, lelakinya banyak berkumis dan berjanggut, serba serupa.

Dari etnis dan ras yang sama, maka ada kebiasaan dan pola hidup yang sama pula. Orang Indonesia secara umum punya kesamaan satu dengan yang lain. Entah selera makan, cara berbusana, cara menyapa, kepribadiannya dan hampir keseluruhan punya kemiripan. Tapi Allah kita tidak sulit mengenali kita dibandingkan dengan orang Indonesia lainnya. Hal ini karena status kita di mata Allah berbeda. Allah mengenali kita di antara orang Indonesia lainnya. Sebagai orang Kristen kita memiliki posisi khas.

Firman Tuhan menyatakan kita disebut bangsa pilihan. Iman kita kepada-Nya membedakan Allah. Allah yang mengenal dan mengasihi kita membuat kita berbeda. Relasi Allah yang menyelamatkan kita menjadikan kita lain. Di tengah kesamaan kita dengan orang Indonesia lainnya, iman kita menjadikan kita unik, tidak sama dengan yang lainnya. Sekaligus pilihannya menjadikan kita berbeda pula.

Namun bukan asal beda, kita berbeda selain status juga tugas. Ya di pundak kita terdapat tugas atau misi. Dikatakan kita adalah Imamat yang Rajani. Apa arti Imamat yang Rajani? Di era Perjanjian Lama, imam berfungsi sebagai perantara umat dengan Tuhan, namun dengan pengorbanan Kristus tidak lagi memerlukan perantara. Kita dapat berkomunikasi langsung dengan Allah. Sebagai imam kita menuntun orang lain mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita. Ingat yang jadi imam itu adalah semua orang yang beriman kepada-Nya, bukan hanya laki-laki. Seperti opini yang sering kita dengar.

Saudaraku, seiring dengan status sebagai kita sebagai imam, posisi kita sangat dekat dengan Tuhan. Untuk itu kita jangan jauh atau menjauhkan diri dengan Tuhan. Dulu imam menjadi penyambung lidah umat yang berdosa kepada Tuhan, kini mewakili diri sendiri. Itu berarti posisi kita teramat dekat dengan Allah. Semoga hari ini kita tidak jauh-jauh dan tidak pernah berpikir menjauh dari Allah. Kita dekat dan tetap ingin mendekat.