Daftar Youtube Gereja Kristen Pasundan

Tim Media Informasi dan Komunikasi GKP, mengumpulkan beberapa kanal Youtube jemaat yang dapat dijadikan alternatif saat melaksanakan Kebaktian di rumah secara online.

GKP Jemaat Bekasi


https://www.youtube.com/channel/UCWOBqF7svGnH9OzT2_X7AYA

GKP Jemaat Kampung Sawah

https://www.youtube.com/channel/UCW1JD5R4m0Zq-XHYwzwJKEQ

GKP Jemaat Rangkasbitung

https://www.youtube.com/channel/UCYxdlRoKEUgQnDX9TCJ4HNQ

GKP Jemaat Rangkasbitung

https://www.youtube.com/channel/UCMNltOnQk_-1L1BUQAD00Cw

GKP Jemaat Cawang

https://www.youtube.com/channel/UC3Abq6XR6FUzzIhydHk1dPA

GKP Jemaat Bogor

https://www.youtube.com/channel/UC20IEiQLhfKnSU9qdNHzY1A

GKP Jemaat Cianjur

https://www.youtube.com/channel/UCPxl5NCi5QtKBJQ3monZ1Pg

GKP Jemaat Depok

https://www.youtube.com/channel/UCoXa8SCDjAjulfO_WyOSAGw

GKP Jemaat Kramat

https://www.youtube.com/channel/UCIUo4aXEMPMWudy7F8sUs8w

GKP Jemaat Cakung

https://www.youtube.com/channel/UCx6UEjTqfb6ErQsufTyxWeA

GKP Jemaat Seroja

https://www.youtube.com/channel/UCXTiG7i41URnQaSVRYHeWUA

GKP Jemaat Sumedang

https://www.youtube.com/channel/UC03kJUlT7gGD-z9rUcE6mdw

GKP Jemaat Cimahi

https://www.facebook.com/gkp.cimahi.9?sk=wall

Kepedulian Menyelamatkan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Allah, kita masih dalam pemeliharaan Allah. semoga keluarga dan sesama kita pun mengalami hal sama.

Bacaan firman Tuhan dari Markus 2:5, “Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

Saudara, di tengah merebak virus korona yang tak kunjung usai. Mulai ada letup kejengkelan. Sasaran kejengkelan adalah mereka yang tidak menerapkan social distancing. Dalam hal ini, susah banget untuk tinggal di rumah. Dan kepada yang mendesain kegiatan yang bertentangan dengan social distancing.

Siang berada di tempat ramai. Malam menyesaki tempat kongko-kongko. Lebih memprihatikan pelakunya ada orang terdidik dan tokoh agama. Di Jakarta malah yang membuat aturan, justru yang melanggar. Memprihatinkan.

Saudaraku, sikap ini sungguh memperlihatkan ketidak pekaan. Seorang pendeta terkenal mencela ajakan untuk tidak salaman dan tidak melakukan ibadah konvensional. Dalihnya, virus korona seakan lebih berkuasa dari Tuhan. Kesannya sangat beriman. Saleh sekali. Padahal dia sedang ‘mensukseskan’ penyebaran virus makin panjang dan tak putus mata rantainya.

Berbeda sekali dengan 4 orang yang membawa orang lumpuh ke hadapan Tuhan Yesus. Beban seseorang menjadi pusat keperdulian mereka. Waktu, tenaga dan jerih juang mereka lakukan. Agar si lumpuh bertemu Tuhan Yesus, dan penderitaannya berakhir.

Sebuah tindakan terpuji. Dirinya berkorban, orang lain memetik buahnya. Tuhan Yesus menangkap di balik tindakan dan pengorbanan itu ada iman yang menggerakan. Karena itu Injil Markus mencatat, “ ketika Yesus melihat iman mereka…”. Betul, iman mereka bukan imannya. Ada sikap bersama. Tindakan solidaritas sebagai ungkapan iman.

Saudaraku, fenomena berbeda diperlihatkan para pelaku yang masih menutup telinga atas anjuran, hinbauan dan ajakan melakukan social distancing. Berkali-kali diberi tahu. Berulang-ulang diingatkan. Tinggallah di rumah, tetap bandel. Sebuah praktek egoisme bersebrangan dengan kepentingan orang lain. Itu tidak sejalan dengan iman.

Iman berorientasi berbuat baik. Sasaran tidak hanya diri sendiri. Cuma buat diri sendiri itu sempit, sesempit penerjemahan iman. Mengasihi diri sendiri itu dangkal. Sedangkal pemahaman keagamaannya.

Iman sejati menyasar diri sendiri. Tapi tidak berhenti di sana. Orang lain mendapat perhatian. Pertolongan diulurkan dan kebaikan ditabur bagi mereka.

Saudaraku, kesadaran untuk meringankan beban bukan menambah beban, itu yang dipraktikkan 4 orang yang menggotong orang lumpuh. Mereka tidak bernama. Identitas mereka tidak kita ketahui. Meski demikian sungguh relevan dan pas jika kita teladani di saat sulit ini. Banyak orang mulai menyediakan logistik cadangan di rumah. Kulkas dipenuhi. Sembako dilengkapi. Tapi, jangan lupa dan asyik sendiri. Ada ratusan atau ribuan dokter dan tenaga medis sedang berjuang. Bukan buat diri sendiri melainkan buat orang yang dilumpuh virus korona.

Tengoklah kanan-kiri tetangga kita, atau teman sejemaat kita. Adakah mereka juga tengah berjuang untuk tetap survive, bertahan di masa sulit ini. Italia jadi contoh buruk, Cina menjadi contoh baik. Bahwa kepekaan disetai keperdulian berbuah manis. Sedangkan ketidakpedulian dan asyik mengikuti sikap keras kepala berbuah pahit.

Kiranya kita bijak di tengah hidup yang diperhadapkan dengan tantangan dan ujian yang sama. Sama-sama berjuang memutus mara rantai persebaran virus ganas. Sama-sama bergandengan tangan saling menguatkan dengan doa, pengharapan dan tindakan saling meringankan.

Tuhan Tidak Tidur

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan diambil dari, Markus 4:37-38 “Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

Saudara, kedekatan dengan Tuhan secara fisik tidak menjamin seseorang bebas dari kekuatiran. Siapapun tahu, relasi Guru dan murid senantiasa mencerminkan kedekatan. Tatkala kita mengklaim bahwa kita adalah murid Yesus dan Yesus adalah Guru Agung kita, kita tengah menyatakan kedekatan kita dengan-Nya. Secara badani maupun kejiwaan. Tapi, sayang tatkala ada bahaya besar di depan matanya, ketakutan ternyata lebih dominan berkuasa di hatinya. Ketimbang rasa yakin bahwa Tuhan akan sigap bertindak menolongnya. Pelajaran ini yang dapat kita petik dari firman Tuhan hari ini.

Para murid Tuhan tengah berada dalam perahu. Di perahu yang sama hadir juga Tuhan di sana. Bedanya, mereka semua kondisi terjaga, sedangkan Tuhan Yesus tertidur. Kelelahan yang tinggi membuat Tuhan Yesus perlu istirahat. Di tengah perjalanan mengarungi danau itulah, tiba-tiba ombak datang. Perahu sederhana dan berukuran kecil itu tentu saja menjadi oleng. Ombak lebih besar dibanding perahu mereka. Air menyembur dan masuk dalam perahu. Insting mereka berbicara ada bahaya datang. Situasi mencekam. Nyawa terancam. Sementara itu, Tuhan Yesus tidak terjaga dari tidur. Para murid agak dongkol kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sama sekali tidak terbangun. Lelap dengan tidur-Nya. Menurut mereka itu wujud masa bodoh Guru atas keselamatan diri murid-Nya.

Saudaraku. Karena saking takutnya dan seolah Tuhan terus asyik dengan tidur-Nya, akhirnya mereka tidak tahan. Mereka membangunkan Tuhan Yesus. Malah disertai ungkapan yang kurang sedap didengar, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”. Rasa takut yang telah memuncak sampai mereka berkesimpulan bahwa Tuhan tidak perduli hidup dan keselamatan mereka. Padahal, secara fisik betapa dekat sekali dengan Tuhan Yesus. Tidak lebih dari 10 meter. Lebih dari itu Guru mereka ada dalam perahu yang sama.

Saudaraku, di mata Tuhan Yesus perasaan dan tindakan para murid, itu sudah cukup alasan untuk menyatakan bahwa, mereka kurang percaya. Ketakutan mereka mengalahkan keyakinan atas Allah yang peduli. Ketakutan punya kekuatan yang bisa meruntuhkan bangunan kepercayaan seseorang.

Yang berbahaya adalah saking takutnya atas ombak kehidupan, lalu ‘melompat keluar perahu’. Mengambil cara sendiri yang malah fatal akibatnya. Karena tidak sabar seolah-olah Tuhan tidak “action”. Akhirnya, mengambil keputusan yang berakhir sesal. Selain itu, orang yang over dosis rasa takutnya, lalu menakut-nakuti yang lain. Ketakutan pribadi menjadi ketakutan kolektif. Ketakutan personal ingin menjadi ketakutan komunal. Itu, yang kita lihat dari tulisan hoax yang beredar di mana-mana sekarang berkaitan dengan situasi terkini.

Ironisnya. tidak sedikit kita pun bisa temukan banyak opini dan tulisan yang jika kita mau simak dan resapi. Ternyata di dalamnya secara halus ada getar kandungan ketakutan. Hanya dengan rapi dibungkus oleh bahasa rasional bahkan keagamaan. Memang, begitulah kita, manusia. Antara pilihan takut dan berani yang selalu kita gumuli setiap saat.

Sesungguhnya, sikap demikian ada dalam kehidupan setiap orang. Saat ombak kehidupan yang besar menghantam hidup kita. Dalam hal ini mengambil bentuk berbagai ujian hidup. Apakah itu sakit, kehilangan pekerjaan, sulitnya menemukan pekerjaan yang menyejahterakan, anak yang kurang perhatian, orang tua yang asyik dengan dunia egoismenya sendiri. Dan kini dengan kasus virus korona melanda setiap jengkal wilayah negara manapun. Bukan tidak mungkin ada bertanya atau muncul perasaan Tuhan tidak perduli. Tuhan tidur.

Saudaraku, Tuhan tahu batas-batas kemampuan dan keberadaan kita. Ia pun tahu ketakutan dan kecemasan kita. Ia peka. Ia tidak tidur. Karena itu, kita musti tetap ada dalam satu perahu dengan-Nya. Jangan melompat keluar perahu. Kita memuji bukan meragukan dengan ungkapan, “Guru, Engkau tidak perduli aku binasa?”

Saudaraku, Tuhan itu berada dalam satu perahu dengan kita. Dia senantiasa berjaga-jaga, tidak tidur saat kita terancam kesulitan. Ia sungguh perduli. Kesadaran dan keyakinan ini, hendaknya juga kita rasakan dan hayati dari hari lepas hari. Selama kita hidup mengarungi dunia ini. Kita berlayar satu perahu dengan-Nya. Dan kita lihat, Dia sungguh perduli. Dengan suasana itulah, hidup sehari-hari kita diwarnai. Bagaimanapun, kita dalam perjalanan satu perahu dengan-Nya. Rona suka cita bukan ketakutan, hendaknya memancar dari wajah kehidupan orang percaya.

Ya Tuhan Tiap Jam

Syair: I Need Thee Every Hour, Annie Sherwood Hawks 1872,
terj. Yamuger 1977
Lagu: Robert Lowry 1872

Ya Tuhan, tiap jam ‘ku memerlukanMu, Engkaulah yang memb’ri sejahtera penuh.

Ya, Tuhan, tiap jam dampingi hamba-Mi; jikalau Kau dekat, enyah penggodaku.

Reff:

Setiap jam, ya Tuhan, Dikau kuperlukan; ‘ku datang, Jurus’lamat, berkatilah!