Refleksi Harian: Roma 12:9

Tulus Dan Murni

Selamat pagi, oma-opa, ibu-bapak dan Saudara2ku yang dikasihi Tuhan. Kita berterima kasih kepada Tuhan, semalam kita dapat menutup mata, membaringkan diri dan beristirahat. Dan pagi ini kita menghirup udara pagi yang baru. Puji Tuhan. Bahan refleksi harian: Roma 12:9

Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik

Roma 12:9

Saudaraku, saat kantor Sinode GKP berlokasi di jalan Pasir Kaliki 121-123. Rutin, beberapa orang pengemis setiap pagi pukul 06.00 datang dan masuk halaman kantor. Lalu, mereka berganti busana. Beberapa bagian tubuh dililiti perban dan dibubuhi obat merah. Selanjutnya mereka menuju lampu merah pas di depan kantor. Apa yang mereka lakukan? Mereka berbaring di dekatnya, memerankan orang yang seolah kesakitan sambil menadahkan tangan ke pengendara yang berhenti karena lampu menunjukkan warna merah.

Setelah dianggap cukup waktunya, mereka kembali ke halaman di depan kantor. Mereka menanggalkan semua perban yang berlumuran obat merah. Selesai, kemudian mereka pulang berjalan dengan normal.

Saudara, jika kita membaca firman Tuhan pagi ini, bahwa dalam hidup ini suka ada kepura-puraan. Sedangkan orang yang bertindak pura-pura, berarti orang yang tidak memperlihatkan jati diri sebenarnya. Orang Kristen tidak boleh melakukan sesuatu dalam tujuan pura-pura. Bagaimanapun, Anda atau saya tidak merasa nyaman menjalankan peran pura-pura: pura-pura bahagia, pura-pura rajin, pura-pura orang kaya, pura-pura ramah, pura-pura baik hati, pura-pura menolong, dsb.

Pesan firman Tuhan berisi ajakan dan anjuran, agar kita jangan mempraktikkan kasih yang pura-pura. Ketika disebutkan kasih yang pura-pura berarti tindakan kasihnya tidak tulus. Ada motif tersembunyi di balik apa yang dilakukan. Pepatah kita mengatakan ” ada udang di balik batu”. Kasih yang pura-pura bukan supaya orang lain merasa kesejukan dari efek perbuatan kita. Bukan. Justru malah orang lain dirugikan.

Saudara, kepura-puraan bersifat tidak langgeng. Cepat atau lambat akan tersingkap wajah aslinya. Sebagai ilustrasi, Jika saya pura-pura baik hati dan ramah kepada orang lain, itu pasti tidak akan bertahan lama. Niscaya, dalam waktu singkat orang lain akan mengenal sikap saya yang sebenarnya. Oh, ternyata saya itu orangnya kikir. Ketus.

Kepura-puraan tidak bisa disembunyikan terus menerus. Karena pelakunya akan lelah batinnya, sebab perbuatannya tidak sesuai sikapnya yang asli. Kata orang, ” akhirnya, ketahuan juga belangnya”.

Ganti pura-pura adalah perbuatan tulus. Murni. Motif yang sejujurnya di balik berbagai tindakan. Orang yang pura-pura akan menyeret dirinya sendiri pada hal yang jahat. Lihat saja, bukankah para penipu kebanyakan memerankan kepura-puraan. Kendaraan yang dikendarai, busana yang dipakai, makanan yang disantap, semua seakan mencerminkan bonafiditas orang itu. Padahal, ia sesungguhnya orang miskin yang pura-pura kaya. Hal itu dilakukan untuk mengelabui orang lain untuk mendapat keuntungan dari penampilannya yang bersifat pura-pura itu.

Saudara. Mari kita bercermin pada Allah yang kita imani. Dia adalah Allah yang Maha Kaya turun ke dunia dalam kesederhanaan. Perbuatan Allah ini tidak pura-pura, karena Allah tidak bersandiwara. Kepapaan dan kesederhanaan-Nya merupakan bukti cinta kasih-Nya. Ia bersedia mengosongkan diri ( Filipi 2:7) sebagai bentuk kesediaan sama dengan manusia. Sekaligus bentuk ketaatan pada rencana Allah Bapa.

Saudaraku. Orang yang pura-pura itu lupa. Ada dua pihak yang tidak bisa dikelabui oleh tindakan dan sikap kepura-puraannya, yaitu pertama Tuhan dan yang kedua adalah hati nuraninya. Karena itu, Saudaraku, mari kita berbuat wajar dan tulus. Jika kita kesulitan melakukannya, kita mohon Tuhan agar menguatkanya. Jika gagal melakukannya, kita mohon agar Tuhan berkenan mengampuninya.

Tanamkan dalam diri kita bahwa kita tidak mau hidup dalam kepura-puraan, yang membohongi orang lain, membohongi Allah dan juga membohongi nurani sendiri. Marilah kita hidup dalam kasih, sebab kasih itu sesungguhnya adalah sikap yang murni yang direstui Tuhan dan didukung hati nurani.

Kita berdoa, “Tuhan, kami ingin bersikap dan bertindak dalam bimbingan-Mu, agar hati yang tulus dan murni mewarnai tindakan kami. Janganlah kami bersandiwara, karena Engkau tidak dapat dibohongi.

Kami berdoa untuk saudara kami. Kiranya hari ini rasa suka cita dan rasa bahagia Tuhan limpahkan kepada mereka.

Tuhan, kami berdoa buat yang sakit. Kiranya Tuhan memberi ketenangan dan memakai dokter, teknologi kedokteran dan obat-obat menjadi berkat buatnya. Engkau jamah, sehinga boleh pulih kembali dengan tubuh yang sehat.

Doa kami ini, kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Roma 12:9

Refleksi Harian: Kejadian 12:2

Diberkati Menjadi Berkat

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa, dan saudara-saudara yang baik. Kita berterima kasih kepada Tuhan, kini kita memasuki hari baru. Seiring dengan itu, kasih-Nya sudah menanti kita. Inil adalah modal penting kita menjalani aktivitas di hari Senin ini. Bahan refleksi harian: Refleksi Harian: Kejadian 12:2

Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat

Kejadian 12:2

Saudaraku, kita amat mengenal Abraham. Sosok yang berasal dari Ur-Kasdim, Babilonia. Sebuah kerajaan besar pada jaman itu. Peradabannya sudah tinggi dan penduduknya hidup dalam kemakmuran. Hasil temuan bidang arkeologi, Ur-Kasdim merupakan kota yang sangat maju. Rumah-rumah bertingkat dua, pelabuhan kapal sungai, dan bangunan kuil yang megah.

Artinya, Abraham bukan dari kampung. Ia bukan orang desa. Kota dan negerinya sudah lebih maju dari bangsa-bangsa sekitarnya. Dengan demikian, Abraham meninggalkan kota dan negerinya sama dengan meninggalkan zona nyaman. Dia tinggalkan hidup yang lebih dari cukup dan masuk ke wilayah tantangan. Mengapa disebut wilayah tantangan? Karena ia melakukan perjalanan ke negeri yang belum jelas profilnya. Ia harus mengikuti rute dengan medan yang berat.

Apakah motif utama Abraham seberani itu, yakni meninggalkan kota dan negerinya? Memenuhi panggilan Allah itulah motif utamanya. Meski Allah yang memanggilnya ia pun belum mengenal dengan sungguh-sungguh. Tapi, ia percaya kepada Allah yang memanggilnya masuk ke negeri Kanaan. Di sanalah Abraham akan tinggal, hidup dan ketirunannya menjadi besar.

Saudaraku, Abraham demi mengikuti Allah yang memanggilnya, ia bersedia berpisah dengan segala kecukupan hidup. Berpisah dengan kerabat keluarga. Berpisah dengan budaya yang membesarkannya.

Patokan yang menjadikan Abraham mau mengikuti panggilan Allah adalah berkat. Ya, Abraham akan menerima berkat. Tapi, tidak berhenti di situ. Dia dan keturunannya menjadi berkat. Diberkati supaya menjadi berkat.

Saudaraku. Di Israel terdapat 2 danau besar. Danau yang satu bernama Laut Mati. Dinamai Laut lantaran begitu luasnya danau tersebut. Danau yang satu lagi adalah Danau Tiberias, atau Danau Galilea.

Kedua danau itu punya sifat yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Danau Tiberias menjadi sumber utama air minum penduduk Israel. Begitu juga danau ini amat kaya dengan berbagai jenis ikan. Ikan yang terkenal yaitu Ikan Petrus. Air danau ini yang mengairi tanah pertanian disekitarnya. Dan airnya, juga mengalir masuk ke Laut Mati.

Sebaliknya, Laut Mati. Tidak ada satupun makhluk bisa hidup di danau itu. Boro-boro buat minum, karena saking asinnya. Hampir 3-4 kali tingkat keasinannya dari yang normal.

Pertanyaannya, mengapa begitu asin airnya, sehingga tidak bisa dikonsumsi? Karena lokasi danau ini berada 200 meter lebih di bawa permukaan laut. Danau ini menampung air, tetapi tidak mengalirkannya lagi. Menerima. Menerima, namun tidak mengalirkan airnya ke mana-mana. Sama seperti air hujan hujan yang ngembeng bau.

Saudaraku, laksana Danau Tiberias itu fungsi Abraham. Dia dan keluarganya diberkati supaya lewat mereka sesama dan kehidupan merasakan berkat. Kiranya kita pun demikian, di hari Senin ini, hidup yang tidak hanya menerima berkat Allah. Tapi juga kita menjadi berkat buat yang lain.

Kita berdoa: Tuhan, nyalakan api cinta kami kepada-Mu dan sesama kami serta kepada siapapun. Kiranya kami mencintai dengan sepenuh hati dan membawa berkat.

Kami mendoakan yang berulang tahun. Semoga penyertaan Tuhan selama ini makin mensuka citakannya. Ia bersyukur atas berkat-berkat Tuhan yang telah diberikan. Dan keluargapun berbahagia.

Doa ini, kami naikkan dalam nama Yesus. Amin.

Happy monday.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kejadian 12:2

Refleksi Harian: Ayub 23:11-12

Persekutuan Menguatkan

Mentari telah terbit lagi di Timur. Tanda datangnya pagi dan berlalunya malam. Selamat pagi ibu-bapak, oma-opa dan saudararaku yang baik. Puji syukur, Tuhan mengijinkan kita masih menikmati hari yang baru diakhir pekan ini. Bahan refleksi harian: Ayub 23:11-12.

”Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.”

Ayub 23:11-12

Saudaraku, salah satu makanan favorit orang Indonesia adalah kerupuk. Ya, makanan yang amat sederhana dam murah itu amat disukai. Terutama dimakan menemani lauk pauk yang lain. Rasanya renyah, crispy. Tapi, kalau sudah “kena angin”, kerupuk itu hilang kegaringannya. Jelas, tidak enak.

Kami rutin membeli satu kaleng. Berisikan sampai 20-30 kerupuk. Dapat dipastikan tidak pernah habis. Karena faktor “kena angin” tadi, akhirnya lembek. Rasanya tidak enak. Lalu, apakah sisa itu dibuang? Oh, tidak. Kami berikan kembali ke penjualnya. Apakah Anda tahu bahwa kerupuk itu bisa garing kembali? Kerupuk itu akan ditempatkan di antara kerupuk-kerupuk baru yang masih garing. Kemudian kerupuk-kerupuk itu menyerap (absorb) unsur basah dari kerupuk yang lembek itu. Percayalah, kerupuk-kerupuk itu akan renyah kembali dan enak dimakan. Maknyus.

Ilustrasi ini hendak mengatakan, yang lemah carilah yang kuat. Yang tengah kehilangan semangat bergaullah dengan mereka yang optimis. Orang yang terhempas angin kehidupan ulurkan tangan ke tangan yang kuat. Niscaya, yang kuat dan optimis itu akan mensuplai tenaga baru, semangat baru dan optimisme baru.

Saudaraku. Ayub tengah lelah secara batiniah. Betapa tidak. Ia menghadapi gelombang kehidupan yang besar.ia tengah berada dalam situasi berat. Harta yang dimilikinya tadinya berlimpah, telah sirna semua. Padahal harta bendanya sungguh berlimpah. Ia memiliki puluhan ribu ternak. Setara ratusan miliar rupiah. Jumlah yang bukan main.

Anak-anak meninggal oleh berbagai sebab. Sedangkan istri larut dalam kekecewaan dan tidak memberikan dukungan moral ataupun spiritual. Dari orang terkaya menjadi amat miskin. Tidak hanya itu, Ayub pun telah kehilangan kesehatan terbaiknya.

Untuk orang biasa, mungkin bisa memerlukan penanganan dokter jiwa. Sebab beban yang dipikul terlalu berat. Ada yang hilang sementara, seperti harta benda. Ada yang hilang selamanya, yakni kematian anak yang dicintainya.

Saudaraku. Dalam kehidupan nyata, kehilangan banyak hal yang berharga menyebabkan hati seseorang limbung. Semangat hidup hilang.

Di sini kita kita melihat butir berharga yang diajarkan firman Tuhan melalui figur Ayub. Saudaraku, dalam situasi terburuk apapun, Ayub masih menyimpan rasa percaya kepada Allah. Ia yang lemah bersandar pada Allah yang kuat.

Semua memang sudah habis. Anak-anak tercinta, kesehatan fisik dan harta semuanya hilang. Tapi Ayub tetap menetapkan pilihan tepat. Ia tetap setia berada dalam ketaatan kepada Allah. Artinya, ia tetap berada di lingkungan yang memberinya pemulihan. Allah akan menyerap kelelahan batinnya.

Saudaraku, saat tertentu kita lemah. Batin kita loyo. Perasaan lesu. Semangat hidup hilang. maka kita bergabunglah dengan yang kuat. Apakah sahabat kita, persekutuan, kerabat, terlebih Allah sendiri. Sehingga kita disegarkan kembali. Kita bangkit. Ayub memberi teladan, di saat deraan hidup yang melemahkannya, dia tidak melepaskan tangannya dari tangan Tuhan yang kuat.

Kita berdoa: Tuhan, di akhir pekan ini kiranya jiwa, emosi, pikiran dan tubuh kami disegarkan. Karena kami berjumpa dengan kasih-Mu yang memberi vitalitas baru. Demikian juga sesama yang memberi semangat.

Kami juga berdoa buat saudara yang bertambah usianya. Kami percaya semua hidupnya berada dalam kasih-Mu. Jadikan rasa syukur dan kegembiraan hati besertanya dan juga keluarganya.

Kami serahkan mereka yang sakit, baik dirawat di rumah maupun di rumah sakit. Tolonglah mereka satu persatu. Dan hati mereka menjadi lega karena pertolongan-Mu.

Seluruh doa ini, kami minta mohonkan dalam nama Yesus. Amin.

Enjoy your week end with God.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Ayub 23:11-12

Refleksi Harian: Yohanes 1:46

Perjumpaan Yang Mengubahkan

Mentari telah terbit lagi di Timur. Tanda datangnya pagi dan berlalunya malam. Selamat pagi ibu-bapak, oma-opa dan saudararaku yang baik. Puji syukur, Tuhan mengijinkan kita masih menikmati hari yang baru. Bahan refleksi harian: Yohanes 1:46

Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?

Yohanes 1:46

Saudaraku, penilaian atas seseorang suka dilihat dari asal-usulnya. Salah satunya dari kota mana ia berasal. Itu dapat dipahami, karena lingkungan membentuk kepribadian dan sifat seseorang.

Rupanya, penilaian demikian juga terjadi di jaman Yesus. Natanael memandang rendah sosok Yesus. Saat ia tahu dari mana Yesus berasal. Dalam hal ini, dari Nazareth. Kota kecil itu adalah tempat Yesus dibesarkan hingga berusia 30 tahun. Tergolong udik.

Syahdan, Yesus tengah mencari dan merekrut murid-murid-Nya. Kabar ini sampai di telinga Filipus dan Natael. Bahkan Filipus telah berjumpa sekaligus diajak menjadi murid-Nya. Filipus menggambarkan Yesus sebagai sosok yang sudah dinubuatkan Musa. Dia berasal dari Nazareth.

Setelah Natanel diberi tahu bahwa Yesus dari kota kecil itu. Ia merespon dengan nada menghina dan merendahkan. Bagi Natanael kota itu seolah-olah tidak mungkin ‘melahirkan’ figur seorang Guru atau Nabi. Dengan demikian, ia juga meragukan sosok Yesus. Hanya karena dari kota mana Ia berasal.

Saudaraku, memang dalam anggapan umum waktu itu, tokoh besar itu tentu berasal dari Yerusalem. Di sana terdapat Bait Allah. Tempat para pemimpin agama berkiprah dan mendidik para murid-muridnya. Di sanalah pusat keagamaan yang bergengsi. Sehingga menurut kaca mata umum, Yerusalem ‘gudang’ para guru agama yang top.

Bukan Nazaret, yang tidak ada dalam peta kehidupan keagamaan waktu itu. Dari kota ‘udik’ itu menurut Natanael tidak mungkinlah muncul kaliber seperti Yesus.

Saudaraku, perubahan pandangan Natanael yang tadinya merendahkan dan bernada menghina berubah. Yakni setelah perjumpaan langsung dengan Yesus. Ia sadar penilaiannya keliru. Setelah berjumpa dan Yesus mengetahui sifat dan kepribadiannya. Yesus menyebut Natanael seorang Israel sejati dan tidak suka berbohong.

Bisa jadi, Natanael menyesal telah menilai Yesus secara keliru. Yang jelas, ia langsung bersedia menjadi murid Yesus. Sebab Yesus di mata Natanael adalah “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

Saudaraku, kerap kita juga keliru menilai seseorang. Terlalu cepat menilai dan sekaligus merendahkannya. Hal itu muncul karena kurang pengenalan. Dari dulu, Yesus yang adalah Tuhan dan Juru Selamat kita kerap dinilai salah. Terlebih dihina dan direndahkan. Termasuk oleh Saulus yang kemudian kita kenal rasul Paulus. Saulus bukan saja menghina, lebih dari itu. Para pengikut Tuhan Yesus diteror dan dibunuh. Demikian pun berlangsung hingga kini.

Baru, setelah berjumpa dengan Yesus, ada yang melalui mimpi atau seperti Saulus mendengar suara Tuhan Yesus. Ada juga perjumpamaan melalui bacaan. Atau pengalaman kebaikan orang kristen. Semua itu mengubah. Mengubah sifat seseorang, sekaligus mengubah dirinya menjadi murid Tuhan Yesus.

Kita berdoa: Tuhan perjumpaan dengan-Mu sungguh mengubah diri kami. Kiranya perjumpaan ini terus terjadi dalam hidup kami.

Kita berdoa: buat yang berulang tahun. Tuhan, Engkau di setiap saat hadir dengan kasih-Mu dalam hidup saudara kami itu. Karuniakan suka cita, rasa syukur dan panjang umur.

Kami juga berdoa buat para balita dan anak-anak. Kami percaya mereka semua hidup dalam kasih-Mu. Jadikan rasa syukur dan kegembiraan hati beserta mereka di hari ini.

Tuhan, Kami serahkan mereka yang mengalami pergumulan hidup. Hiburkan dan kuatkan mereka.

Kami serahkan mereka yang sakit, baik dirawat di rumah maupun di rumah sakit. Tolonglah mereka satu persatu. Dan hati mereka menjadi lega karena pertolongan-Mu.

Seluruh doa ini, kami minta mohonkan dalam nama Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yohanes 1:46

Refleksi Harian: Yakobus 1:23

Tanggung Jawab

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Bangun tidur, di antara kita ada yang tetap sehat. Tapi, bukan tidak mungkin ada yang sakit. Meski demikian kita masih mengecap kasih penyertaan Tuhan di pagi ini. Puji Tuhan. Bahan refleksi harian: Yakobus 1:23

Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin

Yakobus 1:23

Saudaraku, tatkala seseorang mendapat mandat atau tugas tertentu, tentu semustinya ia mengerjakan. Mengerjakan sebaik-baiknya. Sayang, tidak semua orang mewujudkan hal semestinya itu. Seseorang yang mendapat tugas, belum tentu ia melaksanakan tanggung jawabnya. Perasaan tanggung jawab lahir orang yang berkarakter kuat.

Kepanitiaan kegiatan di berbagai lembaga atau instansi biasanya anggota panitianya banyak. Saya pernah terima undangan acara natal, jumlah panitianya 117 orang. Luar biasa. Dan ketika saya melihat kegiatannya, hati kecil berbisik, “betulkah anggota panitia yang jumlahnya ratusan itu semua bekerja?”

Ketika kita mau dan berminat mendengar Firman Tuhan, tentu itu hal baik. Tindakan terpuji. Hati kita, pikiran kita, emosi kita disirami firman Tuhan maka akan berdampak pada pembawaan diri. Kita meneruskannya menjadi perbuatan nyata. Dan dari sana memori kita akan merekamnya. Bila kita menjadikannya satu rangkaian, di sinilah terletak tanggung jawab kita. Kita tidak cuma mendengar. Jika tanpa perbuatan firman itu cepat terlupakan.

Dalam bagian, Yakobus 2:17 menyatakan bahwa “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Jelas maksudnya, mendengar dan berbuat harus satu ayunan langkah.

Saudaraku, dalam pengalaman orang yang bertanggung jawab itu sangat dibutuhkan. Bahkan sosok seperti itu kerap menjadi alat Tuhan yang menyelesaikan situasi bermasalah.

Suatu kali saya memimpin sebuah ibadah perayaan. Penghadir memenuhi ruang gereja. Majelis semua sudah siap. Saya lihat di kursi organ duduk seorang anak. Saya pikir anak salah seorang anggota majelis jemaat yang sedang bermain-main di depan organ.

Saya tanya anggota majelis tentang itu. Dijawab bahwa anak itu pemain organnya. Dan ini buat pertama kali anak itu mengiring ibadah yang bersifat perayaan dengan jumlah hadirin memadati gedung gereja. Dalam hati, apa bisa anak itu bermain dengan baik? Apakah nanti tidak grogi? Saya tanya lagi anggota majelis itu, apakah pemain organ lain tidak ada? Jawabnya, pemain biasanya ada masalah dan sudah beberapa bulan tidak aktif.

Begitu mulai ibadah, waah indah sekali permainan organ anak kecil itu. Dia betul-betul menguasai mentalnya dan bermain iringan dengan tehnik yang baik. Ia bermain lincah. Tenang. Tidak nervous sama sekali.

Kemudian saya tahu, anak itu anak itu baru belajar 3 bulan secara serius. Dia muncul karena dia dimotivasi orang tuanya karena pemain organ lain tidak mau bermain. Dan anak itu berumur 9 tahun.

Ini contoh, orang yang memperlihatkan rasa tanggung jawab. Tuhan kemudian memakainya. Dipakai untuk mengatasi kesulitan. Anak itu pasti mendengar bagaimana orang percaya harus taat dan setia pada Tuhan. Dengan menjadi pemain organ pengganti ia tidak cuma mendengar namun melaksanakannya. Sehingga rasa tanggung jawabnya dipakai Tuhan menyelesaikan masalah.

Saudaraku, bagaimana dengan kita? Bagaimana ketika kita kerap mendengar firman Tuhan tentang panggilan bekerja untuknya, lalu kini gereja sedang membutuhkan sikap tanggung jawab kita? Kita bisa memilih tidak berkontribusi apa-apa. Biarkan orang lain saja. Toh, nanti yang lain akan mengisinya. Kita menghindar. Atau, kita terpanggil. Kita tunaikan tanggung jawab kita, sehingga gereja merasakan indahnya sikap kita.

Kita berdoa: Tuhan, ada beraneka ragam kehidupan yang kami hadapi. Tatkala realitas itu memperhadapkan kami dengan kesulitan, anugerahkan kami karakter kuat yang mau menjadi pelaku firman Tuhan di dalam hidup kami.

Kami berdoa buat yang berulang tahun. Semoga cinta kasih Tuhan yang menghadirkan suka cita, kebahagiaan dan rasa syukur hari ini buat saudara kami ini.

Kami mendoakan yang sakit. Tuhan karuniakan mereka pemulihan dan dan tubuh yang sehat kembali. Demikian juga atas saudara-saudara kami yang sedang menjalani isoman, jamahlah mereka, ya Tuhan oleh kuasa-Mu.

Doa kami ini, kami naikkan kepada-Mu dalam nama Yesus, amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yakobus 1:23