Refleksi Harian: 2 Timotius 1:7

Menata Hidup Teratur

Selamat pagi bapak, ibu, eyang kung, eyang ti, opung, dan saudara-saudara yang kami cintai. Kita masih hidup dalam tantangan dan tidak mudah, karena kita masih ada di dalam masa pandemi. Saat kita bangun pagi, sungguh pemberian-Nya yang membuat hati suka cita. Bahan refleksi harian: 2 Timotius 1:7.

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban

2 Timotius 1:7

Saudaraku, keteraturan itu indah. Saat kita menata rumah, setiap benda diletakkan dengan susunan yang teratur enak dipandang mata. Lain, dengan meletakkan barang yang serampangan. Terlihat berantakan. Betapa tidak nyaman kita melihatnya.

Hidup tertib sama dengan hidup teratur. Jika kita menata hidup kita secara teratur dampak positifnya terasa. Pukul lima pagi kita bangun. Kita lanjutkan dengan berdoa dan mendengar firman Tuhan. Setelah itu menyiapkan sarapan pagi buat keluarga. Dan itu, kebiasaan yang dilakukan secara rutin. Maka, kita sebut hidup teratur.

Beda, dengan seseorang yang bangun kadang pukul lima pagi. Besoknya bangun agak siangan. Jika moodnya sedang baik bikin sarapan, bila tidak cukup makan makanan kecil yang ada. Berdoa dan baca firman Tuhan jika sedang mau atau ingat.

Saya kira, lebih banyak dampak positifnya hidup yang teratur. Bagi kesehatan tubuh maupun kesehatan jiwa. Suatu kota yang tidak tertib atau teratur mencerminkankan jiwa penduduknya. Siapapun tahu, kota Singapura lebih tertib dibanding Jakarta. Karena penduduknya sudah tinggi budaya hukumnya. Disiplin sosialnya sudah kuat.

Saudaraku, sebagai orang kristen pada diri kita sudah ada roh ketertiban. Roh yang diberikan Tuhan pada diri kita (implant). Jadi, potensi untuk hidup dalam ketertiban kita memilikinya. Sekaligus kita diarahkan memiliki arah hidup yang tertib.

Ketika kita menemukan sesama yang hidupnya tertib, lalu juga berjumpa dengan yang tidak. Pasti kita merasakan keperbedaan satu sama lain.

Saudara, dalam kitab Amsal terdapat pesan bahwa kita berkenan belajar dari binatang. Kita belajar dari semut, burung rajawali. Saya mengajak Anda belajar dari ikan. Ikan lele dibanding ikan tuna.

Kita tahu, habitat ikan lele itu di kolam yang airnya kotor dan berlumpur. Ikan jenis ini tidak suka hidup di air yang jernih. Dan hati-hati, salah menangkapnya kita bisa tertusuk patilnya. Patilnya mengandung racun yang membuat kulit bengkak kemerahan, nyeri, dan kebas atau kesemutan.

Sedangkan ikan tuna adalah ikan yang hidup di laut dalam. Ikan ini tidak bisa diam. Selalu bergerak dalam jumlah ribuan sekaligus tapi teratur. Bergerak searah mengikuti ikan tuna yang memimpinnya. Satu sama lain bersinergi. Dan harganya tentu mahal dan rasanya lezat.

Jika kita belajar dari kedua ikan itu. Maka, seseorang yang senang hidupnya di lingkungan kotor. Berbahaya bagi orang lain. Jelas, ia bermentalintas lele. Berbeda jika bermentalitas tuna. Gerak hidupnya terarah. Dia senang dengan keteraturan. Hidupnya tidak berantakan tapi tertata dengan apik. Menghargai yang lain dan mengindahkan pemimpinnya.

Saudaraku, di akhir pekan ini, kiranya kita terbuka untuk menata hidup tertib, teratur. Kehidupan pribadi maupun kelompok yang dijiwai roh ketertiban menjadikan hidup nyaman, indah dan menyenangkan.

Tuhan, tumbuhkanlah di hati kami semua agar di masa pandemi ini kami berperilaku yang tidak merugikan orang lain. Demikian juga tidak merugikan diri sendiri.

Tuhan, berilah di hari ini buat saudara kami yang ulang tahun, Berilah hati yang gembira, rasa syukur dan panjang umur serta kesehatan yang baik.

Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 2 Timotius 1:7

Refleksi Harian: Amos 5:21-22

Ibadah Mendonrong Mengasihi

Selamat pagi, ibu-bapak, kakek-nenek, dan saudara-saudaraku yang baik. Ketika kita bangun di pagi ini, ada yang tubuhnya sehat. Ada juga yang justru masih terbaring sakit. Meskipun demikian, kiranya tetap bersyukur kepada Tuhan. Dengan bersyukur itulah, kita masih melihat banyak hal yang kita terima dari Allah. Bahan refleksi harian: Amos 5:21-22

Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang

Amos 5:21-22

Saudaraku, ibadah adalah ungkapan hormat, pujian dan mengandung permintaan manusia kepada Tuhan. Dengan ibadah terjadi perjumpaan. Allah yang maha suci berkenan hadir dan menjumpai manusia. Ibadah kerap disebut untuk “menyenangkan Tuhan”.

Kita melihat dalam firman ini, Tuhan justru menolak ibadah umatnya. Ia tidak senang. Lebih dari itu diungkapkan bahwa Tuhan “membenci” segala bentuk ungkapan ibadah Israel. Ia juga bukannya menerima segala ibadah itu, malah menghinanya.

Mengapakah sebuah ibadah, doa dan berbagai ungkapan persembahan tidak berkenan kepada Tuhan? Apakah ibadah, doa dan pujian kita pun bisa Tuhan perlakukan sama?

Saudaraku, era atau jaman Nabi Amos, Istael hidup penuh dengan kemakmuran, tapi masalah sosial, terutama keadilan diinjak-injak seakan manusia itu tidak berguna. Terutama rakyat kecil mereka dipinggirkan. Wong cilik diperas. Sementara itu, para pejabat hidupnya mewah di tengah deraan penderitaan rakyatnya sendiri. Mereka hidup dalam kelimpahan, kesenangan dan kepuasan pribadi.

Karena kemakmuran itu, mereka dapat menyelenggarakan ibadah dengan semarak. Persembahan hewan terbaik dilaksanakan. Dengan demikian, perlakuan kurang manusiawi berlangsung. Ibadah yang meriah dan mewah pun diselenggarakan pula.

Saudaraku, bagaikan air di atas daun keladi, pepatah kita mengatakan. Yaitu sikap ibadah mereka tidak berpengaruh pada kehidupan sosial. Artinya, sikap kesalehan mereka berhenti di ruang ibadah. Perlakuan buruk atas sesama manusia tetap berjalan.

Di sinilah, Tuhan gemas. Ia benci dan merendahkan ibadah dan sikap kesalehan mereka. Doa dan ibadah menjadi kesalehan yang steril terhadap masalah sosial. Dalam ibadah demikian, memang orang Israel orang kaya dan pejabatnya menikmati kenyamanan dan kemapanan. Tapi, hilang jiwa kepedulian sosialnya.

Saudaraku, Tuhan menginginkan umat-Nya, dulu juga kini, berdoa dengan benar. Dia menginginkan kita beribadah dengan benar. Itu berarti, tidak cukup kesalehan kita berhenti di hari Minggu dan di ruang gedung gereja.

Doa dan badah kita mewarnai kehidupan sehari-hari, dari Senin-Sabtu pula. Sehingga kehadiran kita terasa bedanya. Alangkah ganjilnya (ironi), Minggu beribadah lalu Senin hingga Sabtu praktik-praktik yang menistakan martabat manusia dijalankan.

Tentu, kita tidak mau mendengar suara yang menyatakan “Allah membenci, menghina dan tidak senang” dengan ibadah kita. Kita tentu tidak mau mempraktikkan ibadah yang semu, kosong dan tak bermakna. Untuk itulah, ibadah kita justru mendorong kita mengasihi sesama. Ramah dengan keadilan. Benci terhadap tindak pemerasan.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya jadikan kami pembawa kehidupan yang adil dan memuliakan kemanusiaan. Bukan yang suka dengan kemunafikan. Kiranya itu tercipta di lingkungan keluarga, gereja dan masyarakat.

Kami ikut bersyukur dan mendoakan Saudara kami yang berulang tahun. Doa dan harapan kami, saudara kami mengecap indahnya berkat-Mu, hati yang gembira dan panjang umur.

Kami berdoa untuk kesehatan dan keselamatan diri kami. Jauhkanlah dari bahaya. Hindarkanlah dari sakit-penyakit. Khusus, buat mereka yang tubuhnya lemah dan memerlukan perawatan. Ulurkanlah pertolongan-Mu yang ajaib. Sehinggga cepat pulih dan sehat kembali.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Amos 5:21-22

Refleksi Harian: Yesaya 40:1-2

Masalah Berlalu Tersenyumlah

Selamat pagi, ibu- bapak, oma-opa dan saudaraku terkasih. Seiring datangnya pagi baru, kita patut mengucap syukur karena itu bertambahnya satu hari kepercayaan Tuhan pada kita. Kita dipercaya melanjutkan kehidupan. Puji Tuhan. Bahan refleksi harian: Yesaya 40:1-2

Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya

Yesaya 40:1-2

Saudaraku, seorang pastor dari Bandung bernama MAW Brouwer menyatakan tentang kehidupan. Sang pastor yang telah lama meninggal lama itu menyatakan, hidup itu terdiri dari menangis dan tertawa. Satu bersifat kepedihan dan satu lagi kegembiraan.

Bagaimanapun, pernyataan sang pastor itu ada benarnya. Dua realitas itu amat dekat dengan kita. Itu merupakan realitas yang lazimnya dialami siapapun. Hari ini tertawa tanda suka cita. Kelak, esok atau lusa kita akan menangis karena sebab tertentu.

Apa saja yang membuat kita sedih identik dengan menangis. Menitikkan air mata. Apa saja yang menciptakan kita gembira, identik dengan tertawa. Dalam kehidupan pribadi terjadi. Ternyata dalam kehidupan kolektif pun itu dialami. Israel tengah bersedih. Sebuah bangsa menangis. Dan yang paling dibutuhkan saat orang bersedih atau menangis adalah penghiburan.

Di masa pandemik Covid-19, ada banyak pengalaman hidup, yang diberi label: kesedihan. Keluarga yang harus kehilangan orang tercinta. Siapa yang tidak sedih? Seseorang yang kehilangan kerja, siapa yang tidak perlu dihibur? Keluarga yang kehilangan sosok yang dicintai. Pasti sedih sekali. Orang yang terhenti dari sumber nafkah tentu sulit bergembira. Masih banyak contoh lain. Semua itu, digolongkan sebagai pengalaman kesedihan.

Saudaraku, Umat Tuhan juga mengalami apa arti sesungguhnya realita kepedihan. Ketika mereka dalam status orang buangan di negeri Babel. Hidup mereka bukan di tanah air sendiri. Hidup mereka berada dalam cengkraman bangsa lain. Pendeknya, hari-hari yang mereka jalani tidak ideal.

Yesaya 40:1-2, menyatakan kabar baru bagi Umat Tuhan. Kabar baik. Ada perubahan bahwa umat itu tidak lagi sedih oleh kepahitan yang selama ini membelit mereka. Mengapa? Karena Tuhan mengakhiri masa perhambaan.

Kita tahu mereka menjalani pembuangan ini sebagai bentuk hukuman Allah atas perbuatan dosa mereka. Kepahitan hidup mereka tidak bisa dipisahkan dari kekeliruan yang mereka perbuat. Kepahitan merupakan buah kegagalan sebagai orang beriman.

Allah menyatakan melalui Yesaya, sangsi telah dicabut. Pengampunan sudah diberlakukan. Dengan demikian kepedihan akan berakhir, diganti suka cita. Oleh sebab itu, hati umat Allah hendaknya terhibur. “Hiburkanlah- hiburkanlah umat-Ku”. Sekaligus jiwa mereka tenang.

Kepahitan yang berat telah dilewati. Rute kehidupan baru akan dijalani. Kembali ke Yerusalem mengecap hidup di negeri sendiri.

Saudaraku, setiap orang secara pribadi, setiap manusia secara kolektif pasti pernah mengalami kepedihan disebabkan kegagalan dalam hidupnya.

Saudaraku, setiap orang pernah mengalami kepedihan. Dan merasa pedih sekali. Termasuk Tuhan Yesus pernah menangis. Tapi itu tidak membuatnya terpuruk selamanya. Kepedihan itu tidak menghalanginya untuk kemudian mampu berbuat karya lainnya.

Saudaraku, kepedihan bila diumpamakan bagaikan badai. Suatu saat kelak akan berlalu. Masalah akan berakhir dan kepahitan akan berujung. Tidak ada badai yang tidak berhenti. Demikian juga badai kehidupan. Apalagi, kita melangkah bersama Tuhan. Kelak saatnya tiba, kita terhibur. Kita tertawa. Kita bersuka cita. Oleh sebab masalah berlalu, kehidupan baru yang lebih baik akan dihadirkan Tuhan.

Kita berdoa: Tuhan, dalam suka-duka kehidupan, Engkaulah Penghibur setia kami. Menguatkan dan menopang kami.

Kami berdoa untuk saudara kami yang berulang tahun. Kiranya berkat terindah beserta dengannya. Dilimpahi suka cita dan panjang umur.

Kami membawa kepada-Mu, saudara-saudara kami yang sakit. Di tengah penanganan medis, kuasa-Mu kiranya bekerja dan memberi kelegaan dan kesembuhan.

Doa ini, kami mohonkan dalam nama Yesus, Juru Selamat kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yesaya 40:1-2

Refleksi Harian: Matius 7:1

Mengapresiasi Itu Memberdayakan

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan Saudara-saudara yang baik. Pagi baru telah hadir. Kita masih menghirup nafas kehidupan. Terima kasih kepada Tuhan yang memungkinkan ini kita kecap. Bahan refleksi harian: Matius 7:1

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi

Matius 7:1

Saudaraku, betapa mudahnya orang suka menghakimi orang lain. Menghakimi menyatakan seseorang punya kekurangan tertentu. Seseorang menghakimi pihak lain karena kekurangan pada tindakannya dan juga lantaran penampilannya.

Dulu, orang yang badannya bertato kerap jadi obyek penghakiman. Orang itu dinilai tidak baik. Meski masih ada praktik penghakiman berdasarkan penampilan itu, tapi sekarang sudah berubah. Tato dilihat sebagai bentuk seni.

Saudaraku, kekurangan, itulah yang menjadi sasaran sorotan. Dengan demikian, orang yang suka menghakimi adalah orang sebenarnya suka melihat dan mencari-cari kekurangan atau kelemahan seseorang.

Di mata Tuhan Yesus, tindakan demikian sebaiknya dihindari. Sebab, barangsiapa suka menghakimi orang lain, bagaimana jika orang lain pun melakukan hal sama buat pelakunya.

Saudaraku, dihakimi itu berdampak pada kejiwaan dan mental. Anak yang terus-menerus dihakimi sebagai bodoh. Maka, ia akan mencitrakan dirinya memang benar bodoh. Akhirnya, kurang percaya diri. Dan tidak mampu mengaktualisasikan dirinya secara total.

Seorang pianis terkenal dari Korea Selatan bernama Hee Ah Lee merasakan pahitnya penghakiman. Ia punya jari tidak lengkap. Tangan kanan berjari dua, demikian juga tangan kiri. Kakinya tidak lengkap, harus dilengkapi kaki palsu.

Sejak lahir, ayahnya tidak punya suka cita dan kebanggaan melihat kondisi tubuhnya seperti itu. Kelahirannya bagaikan aib keluarga. Bersyukur, sikapnya berbeda. Ibunya menyatakan bahwa, sejak He Ah Lee dalam kandungannya, ia sudah sangat mencintai.

Sampai sebagai anak yang tumbuh dengan kekurang lengkapan, cinta ibunya tak tergoyahkan. Ibunya pula yang gigih agar Putrinya itu belajar piano secara privat. Sewaktu mencari guru bermain piano, ibunda Hee Al Lee dinilai gila. Kurang waras. Bagaimana mungkin dengan kondisi organ tubuh seperti itu bisa bermain piano. Akhirnya, ada juga guru yang bersedia mengajarnya. Dan bisa, bahkan berprestasi.

Ilustrasi itu gambaran ada orang yang menghakimi karena penampilan pihak lain. Ada juga orang yang justru tidak melihat kekurangan melainkan kelebihan. Rupanya, yang mengapresiasi itu orang yang mampu membuat orang lain berkembang.

Saudaraku, jika kita tidak mau dihakimi pihak lain, maka kita pun tidak boleh menghakimi pihak lain. Menghakimi merupakan tindakan yang bertolak belakang dengan mengasihi. Mengasihi itu memberdayakan. Melihat kelebihan orang lain. Dan itu, yang diajarkan Tuhan Yesus.

Sedangkan menghakimi akan berdampak melemahkan seseorang yang dihakimi. Kejiwaan dan kehidupan orang yang dihakimi tidak tumbuh dengan sehat. Dengan demikian jelas, perbuatan menghakimi tidak senafas etika kristiani. Mari, daripada menghakimi lebih baik mengapresiasi. Melihat kelebihan seseorang lebih bermanfaat daripada mencari-cari kekurangan dan kelemahan sesama kita.

Kita berdoa: Tuhan ajarkan dan mampukan kami bersikap apresiatif, menghormati orang lain daripada menghakimi. Setiap orang punya kelebihan yang Tuhan anugerahkan.

Kami mendoakan saudara kami yang berulang tahun. Kiranya hari ini membawa suka cita dan kebahagiaan. Tuhan limpahkan berkat yang indah dalam hidupnya. Dan keluarga ijut bersuka cita.

Seluruh doa ini kami minta dalam nama, Yesus, amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Matius 7:1

Refleksi Harian: 2 Korintus 12:9

Tegar Dan Sabar

Selamat pagi, ibu-bapak, kakek-nenek dan saudara-saudaraku yang baik. Waktu terus bergulir. Perjalanan hidup kita berlanjut. Ada yang sehat, ada yang sembuh dari sakit, ada pula yang tengah menantikan pemulihan dan kesehatan. Dalam keragaman itu, kita tetap bersyukur. Bahan refleksi harian: 2 Korintus 12:9.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku

2 Korintus 12:9

Saudaraku, setiap orang yang mengajukan permintaan harapannya satu, dikabulkan. Keinginannya terpenuhi sesuai dambaan. Jawaban “ya” atas sebuah permintaan melahirkan kelegaan dan suka cita. Sebaliknya, orang tidak siap jika permohonannya mendapat penolakan. Kata “tidak” adalah kata yang paling tidak ingin didengar.

Orang tidak siap menerima kenyataan bahwa permintaannya tidak dikabulkan. Seorang anak yang permintaannya tidak dipenuhi orang tua, bisa langsung menangis. Kesal dan kecewa. Demikian pun sebaliknya, jika orang tua mengajukan permohonan kepada anaknya. Hanya berbeda ekspresi atau ungkapan kekecewaannya.

Rasul Paulus, imannya besar, pengikut Kristus yang setia dan pekabar Injil yang gigih. Tiga kali ia memohon Tuhan mengambil “ duri dalam daging”, tiga kali pula ia ditolak. Ia mendapat jawaban “tidak” dari Allah. “Duri” itu masih terus ada dalam dirinya. “Duri” yang dimaksud penyakit yang menghambat aktivitasnya.

Saudaraku, ditolak sebenarnya hal lazim dalam kehidupan. Akan tetapi, berdampak rasa kecewa, marah, jengkel bila penolakan itu lahir dari pihak yang diasumsikan akan memberi. Ketidaksiapan menerima kata “tidak” dari anak, orang tua, apalagi Allah lebih besar. Ketimbang ditolak oleh orang yang tidak kenal.

Rasul Paulus sendiri pernah meminta kepada Allah buat kesembuhan buat orang lain yang lumpuh. Allah kabulkan. Namun, ketika Rasul Paulus meminta buat dirinya sendiri jawaban Allah adalah “tidak”. Dengan menyatakan “cukuplah kasih karunia-Ku kepadamu”. Allah menolak permohonan hamba-Nya yang setia. Sehingga kemana pun Rasul Paulus pergi, penyakit itu tetap mendekam dalam tubuhnya.

Bagaimanakah Rasul Paulus menyikapi penolakan Allah? Apakah kemudian dia meragukan kebaikan Allah? Atau merasa kecewa berat lalu menghentikan aktivitas mengabarkan Injil, ia mogok?

Saudaraku, sekali-kali rasul Paulus tidak berpikir untuk berhenti setia setelah permohonannya ditolak Allah. Tak terlintas pada pikirannya hendak bermalas-malasan. Ia pun tidak memutuskan untuk berhenti mengabarkan Injil. Ia menempatkan penolakan itu dengan pernyataan “aku bermegah dalam kekuranganku supaya kuasa Kristus menaungiku”.

Justru dengan rasul Paulus dalam kondisi tetap sakit, ia makin mengandalkan Allah. Karena itu, ia tetap setia, kegigihannya tidak berkurang.

Saudaraku, sikap Rasul Paulus menyikapi penolakan Allah dengan sikap positif. Ia tidak berpaling dari Allah karena perasaan kecewa. Beda sekali, dengan orang yang melupakan gereja. Persekutuan ditinggalkannya. Dan itu dilakukan dengan dalih Allah tidak menjawab doa-doanya.

Saudaraku, Beethoven, seorang komposer lagu terkenal. Salah satu karyanya sangat disukai mantan presiden kita, alm. Gus Dur. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya telinganya menjadi tuli. Tidak bisa mendengar apa-apa. Padahal modal komposer harus mampu mendengar karyanya.

Dengan hati yang hancur ia berkata, “seandainya saya dibebaskan dari penderitaan ini seluruh dunia akan saya peluk”. Keinginan hatinya yang berapi-api itu juga tidak mengalami kesembuhan. Ahli musik terkenal itu tidak menyerah. Ia berkata, “ saya akan mati-matian melawan nasib saya. Betapapun ketulian saya ini takkan bisa mematahkan saya”.

Saudara, kita meminta kepada Allah tentu dengan harapan dikabulkan. Jika tidak bukan berarti kehidupan berhenti dan kasih Tuhan berhenti pula. Dalam situasi itu, kita dididik untuk tegar. Tidak cepat menyerah. Dan terus semangat berjalan bersama Allah.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya kami mampu menanamkan pentingnya ketegaran dan kesabaran. Sehingga kami tetap setia jika permohonan kami di mata Tuhan tidak berkenan dan ditolak.

Kami mendoakan buat Saudara kami yang sakit, tubuhnya lemah dan mendambakan uluran kebaikan-Mu. Tuhan kiranya hadir di tengah-tengah kerinduan mereka.

Tuhan, bagi Saudara kami yang berulang tahun. Tuhan, karuniakan hidupnya penuh arti. Momen ini dikecap dengan penuh keceriaan. Di tengah suka cita dan bahagia, dia menjadikan hidupnya terus sebagai garam dan terang. Berikan kebahagiaan dan panjang umur.

Kami berdoa agar anak-anak kami yang mengikuti Ulangan Tengah Semester diberi kemampuan dan ketekunan. Sehingga hasil yang dicaoai membawa suka cita.

Tuhan, berkenanlah berada dekat dengan mereka yang mengalami pergumulan pribadi dan keluarga. Semoga Tuhan memberi solusi bagi mereka.

Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 2 Korintus 12:9