KERAJINAN MELAHIRKAN KEBAHAGIAAN

Oleh Weinata Sairin

“Omnia superat diligentia. Kerajinan mengalahkan segalanya.”

Pada zaman baheula kita masih ingat ‘peribahasa’ atau pepatah yang diajarkan oleh bapak-ibu guru kita di Sekolah Rakjat. Bunyinya tegas dan jelas : “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Pepatah ini biasanya diulang-ulang penjelasannya oleh bapak ibu guru pada saat-saat khusus, misalnya pada saat para murid datang terlambat ke sekolah. Atau pada saat diketahui bahwa para murid ternyata banyak yang tidak mengerjakan PR dengan berbagai alasan. Pada zaman itu dirasakan bahwa nasihat, pembentukan karakter atau pembinaan budi pekerti cukup efektif lewat peribahasa. Oleh karena itu ada beberapa peribahasa yang harus dihafal oleh para murid pada zaman itu.

Sejak awal kita selalu mendapat nasihat orang tua agar kita rajin, tekun, bekerja keras, jujur dan berani. Sikap seperti itu mesti diwujudkan dalam pergaulan dan secara kontinyu dilaksanakan sehingga pada akhirnya sikap itu menjadi bagian dari gaya hidup kita. Orangtua amat besar perannya dalam memberi teladan, misalnya pukul 5 pagi sudah bangun dan terus bekerja hingga sore hari, bersikap jujur dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang sehingga sikap inklusif dan apresiasi terhadap kemajemukan sudah ditanamkan sejak kita kecil.

Dari pengalaman sejarah ternyata orang-orang besar dan ternama adalah sosok yang rajin dan tekun dalam menjalankan tugasnya. Rajin, tekun, semangat dan komitmen tinggi yang membuat mereka berhasil dalam bidangnya masing-masing. Para tokoh, penemu bukan tidak pernah gagal dalam eksperimen yang mereka lakukan. Mereka jatuh bangun, mereka gagal, tapi mereka belajar dari kegagalan dan bangkit lagi dengan energi baru.

Mereka juga tidak terlalu mempersoalkan usia mereka yang penting mereka masih bisa tetap berkarya. Thomas Alva Edison menunjukkan diri sebagai pekerja keras. Pada HUTnya ke-80 seorang sahabatnya menyarankan agar ia memperlambat langkahnya jika berjalan. “Kau harus punya hobby tertentu. Mengapa kau tidak memilih golf saja?” kata kawannnya. “Aku belum terlalu tua!” kata Edison sang penemu. Thomas Edison adalah seorang yang rajin dan pekerja keras. Ketika seorang ibu meminta Thomas menuliskan semboyan bagi anak laki-lakinya, Thomas menulis : “Jangan pernah melihat jam!”

Thomas Edison mengabaikan waktu tatkala ia terobsesi untuk merampungkan tugasnya. Ia tidak terpenjara pada run down yang telah disiapkan oleh siapapun. Terpenjara pada run down bisa saja akan mengerdilkan daya kreativitasnya. Itulah sebabnya ia melarang untuk melihat jam. Acapkali kita orang modern “diperintah” oleh waktu dan itu acap mengganggu hubungan personal. Ketika kita sedang lakukan dialog dan orang yang kita ajak bicara itu selalu melihat jam tangannya maka suasana tidak lagi nyaman. Ketika kita sedang berpidato lalu ada ada orang yang memberi kode agar kita segera menghentikan pidato kita karena dianggap terlalu panjang, hal itu tak elok dan tak etis!

Kita memang harus menghargai waktu. Kita harus mengelola waktu dengan baik karena waktu adalah anugerah Tuhan. Namun kita harus tetap menghargai hubungan antar manusia, nilai-nilai etik tatkala kita menghargai waktu. Sikap yang amat ketat terhadap waktu tidak boleh mengorbankan hubungan antar manusia.

Agama-agama mengingatkan kita agar kita menjadi makhluk yang rajin dan bukan yang malas. Malas akan mengakibatkan kebodohan dan kemiskinan dan dua aspek itu yang menjadi musuh besar manusia disepanjang sejarah. Kebodohan dan kemiskinan membuat orang mudah di eksploitasi oleh pribadi dan atau institusi. Menarik sekali pepatah yang dikutip diawal bagian ini yang menyatakan bahwa kerajinan itu mengalahkan segalanya. Rajin beribadah, rajin berbuat baik, rajin berinteraksi dengan orang lain, rajin belajar, rajin berusaha, rajin berbuat kebajikan, rajin belajar, rajin bersilaturahim, rajin menengok orang tua ( yang uzur), ya rajin yang berdimensi positif mesti menjadi bagian dari agenda kehidupan kita. Kerajinan itu bermuara kepada kebahagiaan.

Selamat berjuang. God bless.

Merubah Keterpaksaan Jadi Cinta

oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Markus 25:21

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.”

Markus 25:21

Saudaraku, tindakan apapun yang dilahirkan dari keterpaksaan, membuat pelakunya terbeban bukan suka cita. Keterpaksaan adalah situasi di bawah tekanan. Bukan lahir dari kesadaran sejati. Seorang anak yang pergi sekolah karena motif terpaksa, maka pasti proses dan hasilnya berbeda jika dibandingkan ia melakukannya di bawah dorongan rasa cinta dan suka cita.

Simon dari Kirene. Nama Simon adalah nama yang umum dipakai. Sama seperti nama Bambang atau Robert pada masyarakat kita. Karena nama Simon banyak dipakai sebagai nama diri, maka agar membedakan dengan nama Simon yang lain, lalu ditambahkan nama kota asalnya.

Simon dari Kirene, berati Simon yang berasal dari sebuah kota Kirene. Kota Kirene adalah sebuah kota yang terletak di sebuah negeri yang zaman sekarang bernama Lybia. Negeri yang pernah dipimpin Muammar Khadafi, seorang diktator yang mati mengenaskan di akhir hidupnya.

Simon datang dari kota Kirene ke Yerusalem untuk merayakan paskah. Zaman itu, orang-orang Israel yang bermukim di negeri lain berdatangan untuk hari istimewa itu. Sengaja mereka datang untuk merayakan Allah membawa keluar Israel dari Mesir. Tujuan Simon ke Yerusalem dalam rangka untuk itu.

Ternyata, pada saat bersamaan, di Yerusalem tengah berlangsung proses pengadilan dan penjatuhan vonis hukuman atas diri Yesus. Hukumannya kita tahu semua, hukuman mati dengan bentuk disalib.

Sesungguhnya, saat melakukan ziarah ini, Simon berada pada waktu dan tempat yang tidak pernah diduganya. Entah bagaimana, ia berada tepat pada saat Yesus sedang memikul salib menuju Golgota. Prajurit melihat Yesus sudah limbung dan lemah. Mereka lalu berinisiatif mencari orang menggantikan Yesus sementara memikul salib tersebut. Karena beratnya salib itu, pasti tidak ada yang suka rela menerima tugas ini. Maka, para prajurit memaksa orang yang hadir di sana dan mereka memilih satu dari sekian banyak orang waktu itu. Dan orang itu adalah Simon dari Kirene tersebut.

Saudaraku, jelas memikul salib itu bukan tujuan utama Simon ke Yerusalem. Malah, bisa jadi tidak terbayangkan sebelumnya. Jadi, ia melakukannya karena dipaksa. Dan bisa saja ia mau melakukannya juga dengan perasaan terpaksa. Namun, dari sanalah ia melihat dan mendapatkan momen berjumpa dengan Yesus secara dekat. Memang tidak lama dan tidak ada percakapan langsung di antara Simon dan Tuhan Yesus. Tapi, komunikasi non verbal, tanpa kata-kata itu, dan yang teramat singkat itu mengubah diri Simon. Dari sanalah tumbuh cinta dan imannya kepada Yesus.

Saudaraku. Kegiatan apapun yang Kita jalani sekarang jika itu bersifat terpaksa, kaki kita berat untuk melangkah. Suasana hati pun tidak bergairah. Ogah-ogahan. Sama halnya untuk yang lain; bekerja di kantor, mengajar di sekolah, melayani di gereja, merawat orang tua, mendampingi yang sakit, dsb. Bila berangkat dari keterpaksaan, semua itu dijalani tanpa gairah. Penuh keluh. Kita tidak bisa menemukan keindahan yang lahir dari tindakan bersifat terpaksa.

Saudaraku, Alkitab banyak memberi kesaksian tentang perubahan karakter manusia. Terjadi pada diri nabi maupun rasul. Musa dari seorang peragu menjadi pemimpin yang matang dan tegar. Simon Petrus dari penakut berubah menjadi pemberani. Rasul Paulus dari sosok yang membenci Kristus berubah hidupnya untuk Kristus.

Dari Simon dari Kirene kita melihat perubahan. Allah mengubah dari orang yang bertindak terpaksa menjadi tindakan yang dilakukan dengan cinta dan suka cita. Maka, kita melihat siapapun di tangan Allah bisa berubah.

Bagaimanapun, ketika melakukan segala hal dengan cinta. Maka sejak itulah lahir tindakan yang mengesankan. Kita bisa merawat bertahun-tahun orang yang kita kasihi dengan sabar? Kita bisa menjalani tugas sampai pensiun tanpa cacat. Kita dapat merawat perkawinan tetap awet dan bahagia. Dsb. Jelas, kunci semuanya itu adalah menggeser dari keterpaksaan ke dorongan cinta dan suka cita.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami tetap mengasihi tidak dengan keterpaksaan dari ke hari. Setia kepada Tuhan dalam segala perubahan suasana kehidupan. Dan menghayati berkat yang datang, sekecil apapun. Karena Engkau memakainya bisa menjadi suka cita besar. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Mencari Yang Hilang

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yunus 5:1-2

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita, keluarga dan Saudara seiman kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini, “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. (2) Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.”

Yunus 5:1-2

Saudaraku, penilaian Allah dan manusia atas hal tertentu suka berbeda. Termasuk juga cara memperlakukannya. Seperti misalnya, antara Allah dan Yunus tentang orang-orang Niniwe. Bagi Tuhan orang-orang Niniwe telah berbuat jahat, begitupun di mata Yunus. Tapi, cara Tuhan memperlakukan orang Niniwe berbeda dengan Yunus. Sejahat-jahatnya manusia, Tuhan tetap menempatkannya selaku ciptaan yang harus diselamatkan. Sedangkan Yunus, tidak. Jika sudah berbuat jahat maka biarlah orang Niniwe mengalami kebinasaan. Begitulah jalan pikiran Yunus.

Berangkat dari sudut pandang yang satu sama lain berbeda itu. Kita bisa mengerti mengapa Yunus membelot dari perintah Tuhan. Seharusnya ke Niniwe, dia malah pergi ke Tarsus. Ia menolak sekaligus menghindar dari keinginan Tuhan. Kemana Yunus pergi bukan mengikuti petunjuk Tuhan, malah berbalik arah. Kita tahu, nasib malang yang dialami Yunus. Sampai-sampai ia diusir dari kapal yang ditumpanginya. Dan ia harus mengalami ditelan ikan.

Tapi, sudah mengalami pengalaman demikian, Yunus tidak mau mengubah pola pikir dan sikapnya atas orang Niniwe. Ia kukuh bertindak mengikuti keinginan dan rencananya sendiri. Meski sudah diingatkan Allah bahwa pengalaman pahitnya dipakai Allah agar ia harus berubah. Sikapnya sangat sempit tentang arti keselamatan. Sekali lagi Ia tidak mau mengubah kedangkalan pikirannya.

Saudaraku, sikap keras kepala Yunus sungguh luar biasa. Ia sama sekali tidak mau mengubah pola pikir dan sikapnya. Dan puncaknya, ketika tanpa peranan Yunus Tuhan membuat orang-orang Niniwe bertobat. Yunus bukannya senang. Ia bukannya melihat keagungan cinta Tuhan atas orang-orang jahat dan berdosa. Ia malah menyesali kemurah hatian Allah. Ia protes atas tindakan penyelamatan Allah.

Saudaraku, kita belajar setiap orang pernah jatuh dan berdosa. Dan bisa saja itu diri kita sendiri atau anggota keluarga kita, atau juga anggota jemaat kita. Pertama-tama, jangan jauhi dia dan mereka. Semakin jauh mereka akan makin terjatuh lebih dalam lagi. Prinsip kasih kristiani adalah mencari yang hilang. Bukan yang hilang semakin dibiarkan makin hilang.

Jangan seperti sikap Yunus, dia malah pergi makin jauh dari orang-orang yang seharus ditemani dan dicari. Semestinya Yunus menjadi teman atau sahabat bagi mereka yang hidup dalam kegelapan. Atau tengah punya pergumulan getir dan kelam dalam hidupnya.

Jika kita menolak ajakan Tuhan, seperti Yunus. Jangan mengira bahwa Tuhan tidak bisa memakai orang lain untuk menggantikan kita. Tuhan berkarya tidak tergantung kita. Dia bisa memakai siapapun, di luar kita. Jadi, jangan merasa di luar kita tidak ada orang berpotensi yang bisa dipakai Tuhan.

Sayang sekali, Yunus lupa hal ini. Orang2 Niniwe ternyata bisa bertobat meski Yunus menyesali tindakan Allah. Tuhan tidak tergantung satu figur seperti Yunus. Tuhan punya manusia ciptaan-Nya yang lain, yang siap mengikuti ‘jalan pikiran dan rencana Tuhan’. Mari, saudaraku, selaraskanlah langkah hidup kita dengan kemurah hatian dan rencana Tuhan ini.

Kita berdoa, “ Tuhan, karuniakan kami untuk selalu melakukan fungsi menasihati dan menegur kepada anggota keluarga kami. Dan terbuka ditegur mereka. Kami kiranya tidak lari dari ajakan untuk menjadi mitra-Mu di dunia ini.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Hidup Yang Memberi Makna

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Pengkotbah 9:4

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki hari Kamis ini. Kita patut memuji nama-Nya Yang Maha Baik.

Firman Tuhan hari ini, “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.”

Pengkotbah 9:4

Saudaraku, singa dijuluki raja hutan. Tanda bahwa di mata binatang yang lain sangat disegani dan ditakuti. Posturnya yang tegap, taringnya yang tajam dan sifat liarnya menempatkan singa sebagai binatang buas yang menggentarkan. Yang mampu memburu dan menerkam mangsanya dengan sigap.

Lain halnya anjing. Memang untuk jenis tertentu, anjing meski tergolong binatang tidak buas, dapat menakutkan dan membahayakan juga. Nama-nama jenis anjing, seperti: herder atau pitbull, bisa menakutkan manusia. Tapi, tetap saja anjing kalah pamor oleh singa sang raja hutan.

Jika diperhadapkan antara singa dan anjing, maka anjing kalah kelas. Di kebun binatang orang akan lebih tertarik mengunjungi kandang singa daripada kandang anjing. Jelas, meski kita tidak menguraikannya, itu tanda bahwa singa lebih istimewa. Orang penasaran melihat sosoknya. Anjing bagaimanapun tetap dinilai binatang rumahan. Ada di mana-mana. Mudah ditemui. Singa selain di kebun binatang, tentunya hanya ada di hutan. Populasi atau jumlahnya pun terbatas.

Itu seumpama dua binatang itu diperbandingkan dan sama-sama dalam keadaan hidup. Singa berada di posisi punya keunggulan di atas anjing. Lalu, bagaimana jika singa itu adalah singa mati sedangkan anjingnya adalah anjing hidup?

Di mata Pengkotbah, jelas, anjing hidup lebih baik ketimbang singa, singa mati. Kehadiran anjing hidup lebih berarti daripada keberadaan singa mati. Mengapa? Singa mati itu sudah tidak bisa apa-apa dan tidak dapat memberi apapun. Yang masih tinggal pada singa mati cuma julukan dan nama besar semata, si raja hutan.

Singa mati dalam realitanya, ia sosok yang tidak dapat diharapkan lagi bisa berbuat sesuatu. Singa yang mati berarti hanya seonggok bangkai. Tidak punya auman yang bisa menciptakan ketakutan siapapun dan binatang apapun. Taring dan cakarnya tidak berfungsi.

Anjing yang hidup, apapun jenisnya jelas lebih berguna. Ada yang bisa kita harapkan darinya. Bisa diajak bermain-main. Bisa menjaga rumah. Gonggongannya tetap bisa bikin nyali seseorang ciut. Artinya kondisi masih hiduplah yang menjadikan seekor anjing masih lebih berharga.

Saudaraku, jika hal tersebut di atas, ditarik untuk kita renungkan. Maka, Anda, saya dan siapapun yang masih hidup tetap lebih bermakna daripada siapapun insan yang telah mati. Meski yang telah mati menyandang nama besar. Mengapa? Tugas mereka sudah selesai. Bagian tanggung jawab mereka sudah tuntas.

Sedangkan kita masih bisa bernafas, jantung kita masih berdetak dan organ-organ lain berfungsi dengan baik. Maka, secara potensial kita masih punya peluang dan kesempatan melakukan hal yang berguna. Kita masih bisa berkarya. Dari diri dapat lahir tindakan berguna bagi yang lain. Orang lain masih bisa menaruh harapan pada kita. Keberadaan manusia hidup tetap jauh berharga karena di mana pun kita berada masih dapat memberi manfaat.

Hal ini bukan hendak merendahkan dan mengecilkan seseorang yang meninggal. Kita tidak melupakan hal terbaik mendiang orang tua kita, misalnya. Tidak sama sekali. Terlebih lagi jika orang itu orang yang kita kasihi dan hormati semasa hidupnya. Tidak ada niatan demikian. Melainkan hendak lebih memotivasi dan meyakinkan bagi orang yang masih hidup. Yakni bersifat mengajak, “Ayo, kita masih hidup, jangan biarkan hidup kita tidak memberi kegunaan bagi siapapun”.

Mari kita renungkan. Untuk orang yang sedih dan berduka, siapa yang bisa menghibur? Orang yang masih hidup. Untuk orang yang sedang tersesat, siapa yang bisa mengingatkan dan menasihati? Orang yang masih hidup. Untuk orang yang sedang lesu, siapa yang bisa mengajak untuk bersemangat? Orang yang masih hidup. Untuk orang yang sakit, siapa yang bisa menemani dan menyuapi? Orang yang masih hidup.

Saudaraku, pendeknya selama Anda dan saya masih hidup, apapun bisa kita lakukan sesederhana apapun, sehingga menerbitkan harapan dalam hidup seseorang. Ya, betapa banyak kita bisa perbuat selama hayat masih dikandung badan. Jangan sampai hidup, sih hidup. Sayangnya, kehidupan yang tidak punya arti apa-apa. Atau, malah membebani yang lain. Marilah, saudaraku, selama kita masih diberi hidup oleh Allah Yang Maha Baik, kita manfaatkan seoptimal mungkin melakukan tindakan yang menerbitkan terang dan pengharapan bagi sesama. Kita buat hidup yang tidak sia-sia.

Kita berdoa, Tuhan ajarlah kami untuk menjadikan hidup kami berarti karena diisi dengan mampu berbuat sesuatu.

Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Bagi kami yang punya kerinduan dalam lubuk hati, menyangkut diri kami masing2. Engkau yang bekerja tanpa dapat kami pahami dan selami cara yang Engkau lakukan. Kiranya Engkau berkenan merealisasikannya.

Sebentar lagi, kami memulai beraktivitas. Kami melakukan berbagai urusan kantor, bisnis, kebutuhan anak2 dan keluarga. Kiranya Engkau naungi kami dengan keselamatan.

Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.

MANUSIA: SOSOK FANA, NAMUN MULIA

Oleh Weinata Sairin

“Ignorance is the night of the mind, but a night without moon and star”

Konfucius

Manusia hidup ditengah dunia bukan kehendak dirinya sendiri, atau ‘pilihan’ berdasarkan interes individual. Manusia menghidupi dunia dengan realitas dinamikanya oleh karena diutus oleh Sang Pencipta untuk mengelola dunia dengan sebaik-baiknya sehingga bermakna bagi kemaslahatan umat manusia. Itulah sebabnya ada banyak predikat yang dikenakan kepada manusia, misalnya yang amat populer dilingkup Islam dan Kristen : manusia sebagai khalifah Allah dibumi, manusia sebagai imago dei(the image of God). Itulah hakikat manusia yang amat spesifik yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Kehadiran manusia ditengah dunia sebab itu bukan kehadiran yang diam, stagnan, apatis, masa bodoh, presensia yang ‘EGP’, tetapi sebuah presensia yang dinamik, yang berkarya, yang penuh dengan action, yang berempati, yang concern yang relasional, yang mengartikulasikan sosok manusia yang homo socius.

Dari perspektif agama-agama kita sudah amat faham bahwa hakikat manusia itu adalah sebuah realitas dan entitas yang dualitas, realitas yang terikat dalam keduaan yang tidak merasa lengkap dalam ketunggalannya. Bahwa dalam sejarah dan melalui perjalanan waktu serta lewat sebuah keputusan eksistensial manusia itu sosok yang tetap tunggal, atau pernah jamak kemudian berubah menjadi tunggal, itu adalah soal yang lain dan merupakan sebuah kasus.

Sejarah agama-agama memberi makna (teologis) yang amat penting tatkala Sang Pencipta dalam penciptaan manusia tidak berhenti pada sosok Adam, sebagai titik kulminasi ciptaan, tetapi kemudian dilanjutkan dengan menghadirkan seorang penolong yang sepadan dengan Adam, yaitu Hawa. Pemikiran bahwa manusia adalah sosok dualitas mendapatkan legitimasi teologis tatkala Sang Pencipta mengambil salah satu rusuk Adam dan kemudian “dibangunnyalah seorang perempuan lalu dibawanya kepada manusia itu” (Kejadian 2 : 22)

Manusia yang homo socius itu, yang mengikat diri dalam dimensi relasional, kemudian mewujud dalam komunitas suku, bangsa, bangsa- bangsa dan kemudian secara modern dengan mengacu pada pemikiran Ernest Renan membentuk komunitas besar yang bernama negara.

Negara lah yang kemudian sejalan dengan perkembangan iptek dan peradaban menjadi ruang dan media bagi umat manusia dalam mengekspresikan kediriannya sesuai dengan talenta dan kompetensi yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Dari zaman ke zaman manusia telah memberi kontribusi yang amat besar bagi pemantapan dan pengembangan peradaban. Abad-abad kegelapan dengan vandalisme, barbarisme ditinggalkan manusia, zaman jahiliyah diakhiri, agama-agama dan ilmu pengetahuan memberi pencerahan dan pencerdasan baru bagi umat manusia. Dengan cara itu manusia tampil mengubah dunia dari nature menjadi culture sehingga manusia bisa eksis bahkan memberi kontribusi signifikan bagi dunia.

Manusia jatuh bangun dalam menentukan sikapnya terhadap Allah. Sebuah ironi terjadi dalam sejarah manusia, tatkala sosok manusia yang Allah ciptakan, dan ia makin cerdas dalam berilmu justru mempertanyakan bahkan menolak untuk percaya kepada Allah. Atheisme hidup dan ikut disuburkan oleh banyak aliran filsafat sehingga sikap skeptis manusia terhadap yang sakral dan transenden mewujud bahkan berujung pada pemikiran yang atheistis.

Menarik sekali ungkapan Konfucius yang dikutip di awal bagian ini. Ia menyatakan bahwa ignoransi adalah sebuah malam pada pikiran kita, sebuah malam tanpa bulan dan bintang. Bagi Konfucius manusia tidak berada dalam posisi yang ignoran, tidak mau tahu, tidak peduli, masa bodoh. Realitas seperti itu bisa membuat pikiran kita diserang gelap gulita yang amat hitam dan pekat yang tidak lagi mampu menyalakan kembali mesin berfikir kita. Jika pikiran kita gelap gulita, tak ada lagi memori tersisa maka tak mungkin lagi bisa menjadi rahim dari ide-ide brilian dan bernas.

Secara implisit melalui ungkapan itu Konfucius mendorong kita untuk meninggalkan sikap ignoran, apatis, masa bodo dan mengembangkan sikap peduli, empati, kesediaan mengasihi sesama tanpa pamrih, melawan sikap ghetto, eksklusif dan primordial sehingga kehidupan yang nyaman, harmoni penuh talisilaturahim bisa mewujudnyata.
Manusia Fana itu adalah makhluk mulia, ia tak bisa begitu saja pasrah menyerah kalah terhadap Corona, atau virus dan “musuh” apapun. Akal budi, daya intelektualita sebagai perangkat yang Allah anugerahkan selalu mencari jalan, solusi, rumus untuk melawan “sang musuh”. Praktek PSBB, Protokol Kesehatan, pencarian Vaksin &teori plasma, adalah wujud perlawanan manusia fana terhadap musuh-musuh zaman modern sebagai perkembangan peradaban umat manusia.
Manusia fana adalah makhluk mulia, dan kemuliaan itu mestinya juga mengejawantah dalam perilaku moral.
Kemuliaan manusia mengalami distorsi, reduksi bahkan lenyap jika manusia menjadi Koruptor, Pembunuh, Perampok, Pelanggar HAM, Pelaku KDRT, Pelaku perdagangan orang, dan sebagainya, dan sebagainya.
Kita harus memulihkan manusia untuk kembali menjadi Imago Dei, Khalifah Allah dibumi.
Selamat Berjuang. God bless!