Kasih Kalahkan Kekerasan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 4:5

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram”.

Kejadian 4:5

Saudaraku, betapa berbahaya perasaan tersinggung dan cemburu yang tidak bisa dikendalikan. Tindakan kekerasan bisa lahir gara-gara itu. Kisah Kain dan Habel mengingatkan bahaya tersebut. Walaupun keduanya terikat persaudaraan, malah saudara kandung. Tetapi begitu salah satu terbakar cemburu dan tersinggung, maka muncullah sikap gelap mata. Saudaranya sendiri jadi sasaran pelampiasan tindakan kekerasan.

Persaudaraan merupakan nilai tertinggi dalam relasi antar manusia. Dua orang atau kelompok manusia yang berbeda bisa bersatu. Mengapa? Karena ada nilai persaudaraan yang merekatkan. Dengan nilai dan semangat persaudaraan ini, kita memandang orang lain bagaikan saudara sendiri. Hidup bersama dengan rukun dan damai. Hidup saling membantu.

Dalam hal Kain justru lain. Karena disulut perasaan egoisnya, yang merasa bahwa sikap Allah lebih mencintai Habel, saudaranya. Ia abaikan Habel sebagai saudara. Di matanya, saudaranya adalah sasaran pelimpahan gejolak hati yang panas. Sepatutnya Kain introspeksi dan memperbaiki kekurangannya saat persembahannya ditolak Allah. Sayang, jalan itu tidak ditempuh. Ia lebih melihat Habel, saudaranya selaku saingan. Rival. Kain melihat saudaranya sebagai penyebab, mengapa persembahannya ditolak Allah.

Saudaraku, ketersinggungan dan dipadu dengan rasa cemburu, akhirnya mengambil korban. Adik kandung yang sepatutnya dikasihi justru kehilangan nyawa oleh tangan kakaknya sendiri. Semestinya posisi kakak dalam keluarga mengambil peran melindungi. Terutama dari ancaman dan bahaya dari luar keluarga. Kain, bukan saja gagal sebagai kakak yang melindungi adiknya. Bahkan ia sendiri pelaku tunggal yang menghilangkan nyawa saudara yang sepatutnya dikasihinya.

Saudaraku, kita mengenal istilah KDRT. Sebuah singkatan atau akronim yang menunjukkan bahwa orang terdekat dalam sebuah keluarga bisa tega berbuat kekerasan atas anggota keluarga yang lain. Sedangkan korbannya sesama anggota keluarganya sendiri. Bisa suami atas istri, atau orang tua atas anak. Dengan KDRT rumah bukan lingkungan aman dan nyaman. Aura menakutkan memancar.

Dalam masyarakat kita, korban terbanyak adalah perempuan dan anak. Laki-laki dewasa tentu ada juga, tapi sedikit. Perempuan dan anak jadi korban karena lebih rentan. Secara fisik lebih lemah. Menurut ahli sosial, dalam budaya patriarki (dominan bapak atau laki-laki), bisa tersimpan sikap “pembiaran” terjadinya kekerasan atas perempuan.

Saudaraku, kekerasan itu berdampak pahit. Luka secara fisik dan batin berupa trauma akan dialami korbannya. Kita tidak boleh diam, membisu. Kita punya panggilan. Agar kita harus jadikan keluarga kita bebas kekerasan ( zero violence). Apakah itu kekerasan verbal berupa kata-kata, seperti: cacian, olok-olok, kata-kata intimidasi, dll. Kekerasan fisik: pukulan, tidak dipenuhi kebutuhan makan-minum, dsb. Dan kekerasan seksual yang belakangan ini merebak di banyak tempat. Di dekat Jakarta baru-baru ini tertangkap pelaku pelecehan anak. Praktik yang sudah bertahun tahun berlangsung. Ironinya, terjadi di lingkungan tempat ibadah.

Kita mesti proteksi keluarga kita atau lingkungan sekitar kita, agar menjadi lingkungan yang nyaman, dan terhindar dari budaya kekerasan. Kita membangun suasana keluarga yang mengutamakan persaudaraan sebagai nilai tertinggi.

Sehingga cinta kasih, kehangatan dan saling memberi perhatian hadir dalam keluarga kita. Cemburu dan tersinggung, pasti terjadi dalam hidup sebuah keluarga. Namun, jangan disimpan, agar suatu saat tidak meledak dalam bentuk mencederai fisik dan batin orang yang kita cintai. Kita harus mengelola emosi yang tidak sehat untuk ditundukkan oleh penguasaan diri yang kuat dan baik. Dan sikap ajaran kasih menjiwai setiap perangai dan perilaku Anda dan saya.

Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Jadikan kami mampu membangun kehidupan yang nyaman buat hati dan tentram dari ancaman. Baik di tengah keluarga, tempat ibadah, tempat kerja dan masyarakat.

165 Tahun HPI GKP: Butir-butir Refleksi

Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Pada 11 Juli 1855. Seratus enam puluh lima tahun silam. Dua orang putra Sunda di Banten, Minggu dan Sarma dibaptis. Peristiwa pembaptisan dua orang dari Cikuya ini kemudian diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil GKP.

Momentum 165 tahun lalu setidaknya menegaskan dua hal pokok. Pertama gereja dan pekabaran Injil tidaklah bisa dilepaskan. Gereja ada justru karena dan untuk misi pekabaran Injil. Inilah raison d’etre atau alasan keberadaan gereja. Kedua, pekabaran Injil pada hakikatnya bermaksud untuk membawa manusia mengalami kasih Allah yang memanusiakannya. Jadi, pekabaran Injil tidak sama atau bukan kristenisasi, tetapi humanisasi. Sebagai karya humanis, pekabaran Injil dilakukan dalam beragam aspek kehidupan yang fokusnya adalah pada pembangunan manusia seturut dengan nilai-nilai Injil Kerajaan Allah.

Nilai-nilai Kerajaan Allahlah yang menjadi dasar dan spirit gereja dalam melakukan praktik misi. Gereja menyemai nilai-nilai tersebut melalui proses pembinaan, pendidikan, dan pembangunan manusia agar menjadi manusia yang bernilai dan utuh.

Karena itu, gereja tidak hanya melakukan pembinaan mental spiritual, tetapi juga mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit agar manusia dapat dibangun secara utuh.

Pelayanan di dalam dunia pendidikan dan kesehatan adalah bagian penting karya pekabaran Injil yang membawa dampak signifikan dalam mendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan negara. GKP sebagai gereja yang tumbuh dan hidup di Jawa bagian Barat (Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Propinsi Banten) memiliki rekam jejak penting dalam dua bidang pelayanan tersebut.

Sebagai gereja hasil pekabaran Injil NZV, GKP mewarisi beberapa rumah sakit dan sekolah. Dalam spirit pelayanan pekabaran Injil untuk memanusiakan manusia itu, GKP juga mendirikan dan mengelola perguruan tinggi, yakni Sekolah Tinggi ilmu Kesehatan Imanuel Bandung, dan UK. Maranatha bersama GKI Sinode Jawa Barat, saudara kandung yang sama-sama diasuh oleh NZV.

Tak bisa dipungkiri bahwa pekabaran Injil di wilayah Jawa bagian Barat cukup banyak mendapatkan tentangan, baik dari pemerintah kolonial di masa lalu, juga oleh sebagian masyarakat Jawa Barat sendiri. Mengenai hal yang terakhir ini, Jawa Barat oleh zending Hendrik Kraemer malah pernah disebut sebagai Nova Zembla, padang tandus. Penilaian semacam ini tentu masih diwarnai oleh sikap keagamaan yang memandang kekristenan lebih unggul dari yang lain. Jika masyarakat menolak Injil yang disampaikan dengan gaya Barat di masa lalu, maka hal itu dipandang sama dengan membiarkan diri untuk hidup dalam situasi tandus dan gersang.

Sikap superior semacam itu jugalah yang menyebabkan gereja kian tertolak. Dari latar belakang penolakan tersebut, para zending kemudian membangun desa-desa Kristen di Jawa Barat, yang terpisah dari masyarakat yang menolak mereka.

Sejarah tersebut mengajar GKP di kemudian hari untuk membangun paradigma bergereja yang inklusif. Rumah sakit atau pun sekolah dan perguruan tinggi yang dikelola oleh GKP benar-benar diabdikan untuk memanusiakan manusia tanpa perasaan superior.

Relasi persaudaraan dengan umat agama lain, khususnya dengan Islam, terus dipupuk dan dikembangkan. Relasi antar umat beragama ini sudah seyogianya dibangun demi mewujudkan masyarakat yang harmonis dan bergotong-royong menanggulangi masalah-masalah kemanusiaan dan lingkungan. Karena itulah, melalui pertimbangan yang cukup panjang, GKP kemudian menetapkan visi Menjadi Gereja bagi Sesama” sebagai visi GKP secara sinodal.

Sesama yang dimaksudkan dalam visi tersebut tentu tidak terbatas pada sesama anggota GKP, melainkan sesama manusia secara universal. Bahkan, alam sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Visi tersebut mencerminkan komitmen GKP untuk hadir secara relevan dan signifikan dalam kehidupan sosial masyarakat, bangsa, dan negara. Visi tersebut yang mendorong GKP untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Hal ini mengingatkan GKP akan misi Allah, missio Dei, yang jauh lebih besar dari dirinya. Menjadi gereja bagi sesama adalah cara GKP menghayati misi Allah dalam konteks historis dan sosialnya di masa kini.

Bertolak dari visi dan konteks sejarah-sosial yang dijalani GKP hingga di masa pandemi sekarang ini, sudah sepatutnya di Hari Pekabaran Injil (HPI) GKP yang ke-165 tahun ini, GKP semakin bergairah untuk melakukan panggilan pekabaran Injil demi mewujudkan kebaikan bersama (bonum commune).

Pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang ini sudah pasti memberikan tantangan tersendiri bagi GKP dan gereja-gereja lain. Gereja-gereja serta agama-agama lain juga ditantang oleh krisis akibat Covid-19 untuk memperbarui perspektif bergereja dan beragama.

Pertama, kita semakin diingatkan bahwa keselamatan bersama sebagai manusia adalah hal yang sangat penting. Gereja dan agama-agama sejatinya ada untuk menata-layani kehidupan manusia dan alam agar menjadi hidup yang penuh kasih, adil, dan sejahtera sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Kedua, komunitas-komunitas lain yang berbeda bukan lawan, tetapi kawan untuk membangun peradaban. Karena itu, spirit hidup bersamalah yang perlu dihidupi. Bukan semangat kontestasi tetapi kooperasi. Perasaan superior atas yang lain sudah seharusnya ditinggalkan oleh semua penganut agama.

Ketiga, karya konkret membangun peradaban mesti terus dilipatgandakan. GKP dan gereja-gereja lain serta komunitas agama lain sudah harus menurunkan surga ke bumi. Pelayanan sosial dalam bidang lain, selain pendidikan dan kesehatan, sudah harus dilakukan dengan sama baiknya, terlebih dalam bidang ekonomi.

Guncangan besar (great disruption) akibat Covid-19 telah merusak tatanan ekonomi. Rakyat dan umat dalam situasi krisis ini terus membutuhkan logistik untuk bertahan, sehingga kita semua mesti berdaya secara ekonomi. Maka, karya-karya karitas dan pemberdayaan dalam bidang ekonomi perlu mendapatkan perhatian lebih di masa pandemi dan pasca pandemi. Dengan spirit gotong-royong kita betolong-tolongan mencegah dan mengatasi dampak krisis yang lebih besar lagi.

Kita tidak bisa mencari selamat sendiri. Kita mesti bergandeng tangan untuk selamat bersama-sama. Inilah yang sesungguhnya dikehendaki oleh Allah kehidupan. Mengupayakan keselamatan bersama melalui karya nyata di masa sekarang ini adalah cara terbaik kita merayakan dan melakukan karya pekabaran Injil. Spirit ini harus tumbuh dan dilakukan secara konkret, mulai dari pribadi, keluarga, jemaat, klasis, sampai dalam lingkup kehidupan bersinode, bermasyarakat, dan bernegara.

Selamat HPI GKP, gereja kita semua. Gereja bagi sesama. Tuhan memberkati GKP.

(Pendeta GKP yang bertugas sebagai pendeta UK. Maranatha)

Energi Sinergi

oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Hakim-hakim 1:2-3

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan hari ini, “Firman TUHAN: “Suku Yehudalah yang harus maju; sesungguhnya telah Kuserahkan negeri itu ke dalam tangannya.” (3) Lalu berkatalah Yehuda kepada Simeon, saudaranya itu: “Majulah bersama-sama dengan aku ke bagian yang telah diundikan kepadaku dan baiklah kita berperang melawan orang Kanaan, maka akupun akan maju bersama-sama dengan engkau ke bagian yang telah diundikan kepadamu.” Lalu Simeon maju bersama-sama dengan dia.”

Hakim-hakim 1:2-3

Saudaraku, pepatah kita mengatakan “ berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Artinya, dalam menghadapi pekerjaan berat akan terasa ringan dikerjakan bersama. Kebersamaan itu merekatkan dua kekuatan menjadi satu, sehingga kesulitan pun bisa teratasi.

Bangsaan Kanaan dibanding Yehuda bagaikan langit dan bumi. Kanaan jauh lebih maju, kuat dan hebat ketimbang Yehuda. Yehuda bagaikan kekuatan tidak ada apa-apanya di mata bangsa Kanaan. Wajar Kanaan itu sebuah bangsa, sedangkan Yehuda itu suku.

Meski perbandingan akan mengunggulkan Kanaan serba lebih daripada Yehuda. Garis tangan Yehuda memperlihatkan Yehuda akan mengalahkan Kanaan. Itu bukan ramalan kosong, melainkan firman Tuhan. Menurut kalkulasi atau hitung-hitungan jelas itu mustahil. Kekuatan mereka tidak berimbang. Dan Yehuda pasti bukan pihak yang diunggulkan.

Saudaraku, satu sisi Yehuda harus percaya pada pesan firman Tuhan. Di tangan-Nya-lah kemenangan akan terjadi. Tapi, secara realistis, jika berhadapan sendiri, Yehuda pasti kalah telak. Lalu, bagaimana Yehuda bisa mengalami pesan firman Tuhan itu bukan isapan jempol belaka?

Yehuda menggunakan cara melihat potensi bukan hanya yang ada pada diri sendiri saja. Melainkan juga ia melirik potensi Simeon. Kekuatan Simeon dan orang-orangnya dimanfaatkan. Sehingga keduanya menjadi kekuatan baru yang kemudian mampu merealisasi apa yang dikatakan firman Tuhan.

Saudaraku, tindakan Yehuda itu, sekarang sering disebut sinergi. Dua kekuatan dipadukan. Lalu, lahirlah kekuatan baru. Kekuatan yang tidak akan dimiliki jika tanpa perpaduan. Ikan hiu dan ikan teri jelas beda kelas. Siapapun tahu, tidak ada artinya ikan teri dibanding ikan hiu. Tapi, jangan remehkan ikan teri. Ikan teri bisa mengalahkan ikan hiu, manakala ikan teri itu berjumlah ratusan ribu lalu menyatukan diri. Sekuat dan seganas apapun ikan hiu, ikan hiu itu akan melarikan diri dari serbuan ratusan ribu ikan teri yang kecil-kecil namun saling menyatu. Seumpama itulah, Yehuda dan Simeon digabungkan. Keduanya menjadi satu kekuatan hebat.

Saudaraku, Pikiran cerdas Yehuda patut dicontoh. Bersinergi kini juga dibutuhkan. Dengan sinergi kekuatan orang lain menjadi milik kita. Kekuatan kita menjadi milik orang lain. Hidup di tengah keluarga, gereja, kantor pasti ada kesulitan. Mungkin kesulitan yang berat sulit diatasi oleh sendirian. Namun, tidak ada kesulitan tanpa teratasi jika kita menghadapinya dengan sinergi.

Bagian lain Alkitab menggambarkan tentang gereja. Gereja dikiaskan satu tubuh banyak anggota (lih. 1 Kor 12:22-31). Di sana ada yang jadi tangan, telinga, kaki, hidung, dsb. Maka terkandung makna ada beragam potensi. Jelas, setiap anggota membutuhkan satu sama lain. Di meja makan tersedia makanan, tidak cukup asal punya mulut. Tentu perlu gigi, lidah, dan anggota tubuh lain. Tiap-tiap anggota tubuh ini menjadi satu kesatuan karena bersinergi.

Jadi, kita tidak bisa hidup sendiri. Dan mustahil berhasil cuma karena diri sendiri. Pasti karena kehadiran yang lain dan bersinergi dengan yang lain. Karena itu, kita butuh kehadiran yang lain. Sekaligus, orang lain pun membutuhkan kita.

Di sinilah, satu sisi kita harus rendah hati. Tanpa topangan dan kerja sama dengan pihak lain, kita tidak bisa maju, mustahil berkembang. Pada sisi lain, kita harus punya modal. Apakah ilmu, ketrampilan, pengalaman serta lainnya. Sehingga orang lain pun membutuhkan kita. Kita ditempatkan mitra berharga meraih kemajuan dan perkembangan bersama.

Saudaraku, ini pelajaran berharga. Dengan sinergi kita punya kekuatan lebih besar dan lebih hebat. Semoga, pelayanan kita menjadi optimal. Karena kita membangun sinergi yang kokoh di antara pimpinan Jemaat. Demikian pula di kantor, di gereja, di masyarakat, dan bangsa. Kekompakan kita menjadi makin kuat. Ketika dihadirkan sinergi satu sama lain.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selalu bersama-Mu. Dan kami memadukan kekuatan dengan yang lain agar makin menjadi berkat lebih besar.

“Tuhan, kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai. Jika hadir kesulitan dan ujian Engkau karuniakan ketahanan iman dan kesabaran.

Kami membawa dalam doa, kehidupan hari ini dan masa depan buat kaum muda. Tuhan kiranya memberi hari-hari berharga. Tuhan mengaruniakan kepada mereka tubuh sehat, kesetiaan dalam iman dan hidup penuh tanggung jawab serta mempersiapkan masa depan dengan baik. Berkati juga orang tua mereka dengan kebahagiaan.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Jerumus Rakus

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Raja-raja 21:7

Ketika kita terlelap tidur, mata terpejam dan organ tubuh kita istirahat. Tuhan kita sungguh setia, Dia tetap menjaga kita. Puji Tuhan dan selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik.

Firman yang melandasi refleksi pagi ini, “Kata Izebel, isterinya, kepadanya: “Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu.”

1 Raja-raja 21:7

Saudaraku, keinginan kuat terhadap sesuatu adalah hal wajar. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bisa meraih keberhasilan. Malah, dari sanalah pangkal lahirnya berbagai upaya serius untuk mewajudkannya. Ini juga terungkap di balik ucapan penghiburan atas Izebel suaminya, Ahab, yang tengah sedih.

Sayangnya, keinginan Izebel berkaitan dengan penguasaan atas nama milik orang lain. Sang raja masygul, sedih, murung sebab keinginannya memiliki tanah Nabot ditolak pemiliknya. Raja tertarik dengan tanah subur milik Nabot. Lahan yang subur. Lokasinya pun berdekatan dengan istananya. Bagi seorang raja penolakan seorang warga biasa, wong cilik, sebuah pukulan. Bahkan bisa saja dilihat sebagai bentuk ketidak hormatan atau penghinaan atasnya.

Saudaraku, Izebel sebagai istri ikut merasakan pukulan batin suaminya. Sekaligus ia tidak bisa menerima keinginan raja ditolak warganya. Dia tidak mau tahu bahwa penolakan Nabot dikarenakan tanah itu warisan tanah leluhur. Izebel tidak perduli alasan Nabot. Yakni Nabot menolak keinginan rajanya karena punya kewajiban moral untuk terus menjaga tanah itu.

Jual-beli tanah leluhur adalah tabu. Tanah menjadi media yang mengikatkan mereka yang masih hidup dengan leluhurnya terdahulu. Tanah leluhur yang dijual sama dengan memutuskan ikatan dengan leluhur dan merusak nilai kekeluargaan.

Nah, nilai ini di mata Nabot lebih berharga daripada uang. Nabot memegang teguh prinsip bahwa tidak semua hal bisa dibeli oleh uang. Termasuk sikap hormat kepada keluarga dan leluhur tidak bisa dibeli.

Keinginan kuat Izebel untuk memenuhi hasrat raja Ahab, suaminya, membuat ia nekad melanggar nilai luhur itu. Keinginan kuat Izebel dan suaminya bukan lagi hal wajar. Itu sudah masuk wilayah kerakusan. Tidak pernah merasa cukup. Pemenuhan keinginan demikian, lebih pada mengikuti nafsu memiliki yang tidak terkendali.

Lihatlah, saudaraku, apa yang kemudian mereka lakukan atas Nabot, orang kecil dengan sepenggal tanah leluhur yang dijaganya? Mereka merancang pembunuhan berencana. Mereka merekayasa bahwa sikap Nabot telah menghina Allah dan raja. Agama diperalat untuk kepentingan kotor. Nama Allah yang suci dimanipulasi buat merekayasa rencana jahat. Itu bukan tindakan cerdik, tapi licik.

Saksi palsu disiapkan. Peradilan digelar. Akhirnya, dengan tuduhan palsu itulah Nabot dijatuhi hukuman mati. Vonis dijatuhkan. Hukumannya adalah Nabot dilempari batu sampai tewas. Nabot yang mati sama dengan keadilan yang mati buat orang kecil. Tindak lanjut kemudian, duet pasangan jahat itu menguasai tanah Nabot, si malang. Teganya. Sungguh, kerakusan itu membuat mata gelap dan hati nurani menjadi bisu.

Saudaraku, Izebel dan raja Ahab yang punya hasrat besar dan upaya merealisasikannya, telah menempuh jalan keliru. Itu bukan keinginan yang tergolong normal. Tetapi kerakusan yang berbahaya. Hingga nyawa seseorang pun tidak ada harganya demi memenuhi roh kerakusan. Kerakusan yang menguasai jiwa seseorang akan menjadi virus berbahaya dalam kehidupan bersama.

Zaman kini, hal demikian kerap terjadi. Yang kuat dengan segala nafsu kerakusannya merampas tanah milik orang kecil. Kekuasaan diperalat untuk memperkaya diri, bukan membantu orang kecil. Orang kecil kehilangan suara jeritan karena berhadapan dengan penguasa zholim dan serakah.

Saudaraku, rasa tidak puas, tidak pernah merasa cukup, selalu mendominasi orang-orang rakus. Meski harta yang dimiliki bisa tidak habis tiga generasi, tetap saja merasa tidak cukup. Haus kekayaan seolah tidak mengenal titik batas. Sampai seorang tokoh bernama Mahatma Gandhi, semasa hidupnya menyatakan, “ bumi ini dirancang Tuhan cukup untuk menghidupi seluruh umat manusia. Tetapi, bumi ini tidak cukup untuk menghidupi satu orang yang rakus”.

Orang yang rakus, seperti Ahab dan Izebel, adalah tipe orang-orang yang tidak mampu bersyukur. Orang yang selalu melihat yang tidak dipunyai, bukan mensyukuri yang Tuhan telah berikan. Pendeknya, harta telah menjadi mamon. 🙏🏻

Kita berdoa, “ Tuhan mampukan kami mampu mengendalikan diri agar tidak terjebak pada sikap kerakusan. Sehingga kami tetap bersyukur dakam setiap keadaan”.

Seluruh doa ini, kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Relasi Mertua Menantu

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 31:5-7

Selamat pagi, ibu-bapak, Eyang kung-eyang ti, mbak-mas, dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik, serta memungkinkan kita memasuki pagi yang baru.

Firman Tuhan pagi ini, “Telah kulihat dari muka ayahmu, bahwa ia tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadaku, tetapi Allah ayahku menyertai aku. (6) Juga kamu sendiri tahu, bahwa aku telah bekerja sekuat-kuatku pada ayahmu. (7) Tetapi ayahmu telah berlaku curang kepadaku dan telah sepuluh kali mengubah upahku, tetapi Allah tidak membiarkan dia berbuat jahat kepadaku. “

Kejadian 31:5-7

Saudaraku, Yakub adalah menantu Laban karena menyunting Lea dan Rachel anaknya sebagai istri pertama dan keduanya. Tapi, perlakuan Laban atas Yakub lebih mencerminkan relasi tuan dan hamba. Bahkan, Laban telah melakukan berbagai kecurangan dalam pemberian upahnya. Besaran upah disunat dari jumlah yang semestinya. Berpuluh tahun praktik kecurangan itu terjadi. Laban telah dibutakan hati nuraninya demi harta kekayaan. Ia berambisi ingin semakin kaya. Betul, berhasil. Jumlah ternaknya semakin banyak. Sayangnya, salah satunya bersumber dari hasil tindakan kecurangan atas menantunya sendiri.

Saudara, relasi mertua-menantu ini sama sekali tidak mencerminkan relasi kasih sayang. Mertua lebih banyak memeras atau mengeksploitasi menantunya sendiri. Tentu saja, ada titik batas kesabaran Yakub. Ia bersama kedua istrinya akhirnya bersepakat meninggalkan Laban. Cukup sudah menanggung perilaku curang dan keserakahan Laban. Menantu dan anak-anak bulat tekadnya meninggalkan Laban. Mereka melarikan diri dari rumah Laban.

Sudah hilang kesabaran menghadapi mertua/ayah yang kemaruk harta. Sudah saatnya Yakub mengajak Lea dan Rachel pulang, meski pada waktu itu relasi Yakub dan Esau belum pulih. Tapi, yang penting keluar dulu dari lingkungan rumah Laban.

Rupanya relasi mertua-menantu tidak selalu serasi dan harmonis. Hingga kini pun relasi kurang sehat itu dapat ditemui. Ada mertua yang dianggap terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya, padahal dengan berumah tangga orang tua harus tahu batas. Mana yang boleh dan tidak boleh orang tua ikut mengaturnya. Ada keluhan yang menandakan mertua terlalu jauh mengatur atau mendikte.

Kekurang rukunan relasi mertua dan menantu sudah merupakan gejala yang dapat mudah ditemui. Sampai-sampai ada guyonannya. Konon, ada pertanyaan berikut, “siapa perempuan paling bahagia di dunia?” Maka, jawabnya adalah Hawa. Mengapa? Karena Hawa tidak punya mertua. Atau ada satu jenis bunga yang daunnya cukup tajam. Nama bunga itu, “bunga lidah mertua”. Hal demikian lahir bisa jadi disebabkan dari perasaan ketidak sukaan atas sosok mertua.

Saudaraku, relasi mertua dan menantu hendaknya mencerminkan relasi dua orang yang saling mengasihi. Mertua melihat menantunya bukan untuk mendapat keuntungan, terselubung atau terbuka. Jika kita punya menantu, dia itu harus diperlakukan tidak kurang sebagai anak. Karena menantu itu, adalah belahan hati dari anak kita. Sayang sekali, Laban gagal mempraktikkan hal itu. Melihat menantu bagai buruh. Diperas tenaganya untuk menarik keuntungan sendiri. Bukan memandangnya sebagai sosok anak yang patut dikasihi.

Demikian juga, sebaliknya ada saja kasus menantu yang memoroti mertuanya yang kaya. Dengan cerdik tapi sayangnya malas, si menantu hidup berteduh pada kekayaan mertua tanpa mau bekerja keras. Ini pun bentuk eksploitasi. Memanfaatkan orang yang harusnya dihormati, malah jadi obyek meraih keuntungan pribadi.

Saudaraku, dalam menjalani hidup perkawinan, maka suasana bahagia juga ikut ditentukan relasi mertua dengan menantu. Kiranya sikap saling hormat, saling mengasihi, saling menghargai, menjadi bagian nyata dalam hidup kita. Sehingga mertua tidak mengeluh terus tentang anak menantunya. Atau, juga sebaliknya. Mertua tidak kecewa terus dengan sikap dan perilaku menantunya.

Kita berdoa, “ Tuhan, tuntunlah kami menjadi mertua atau menantu yang menaruh hormat dan cinta kasih sejati satu sama lain dalam relasi sehari2.

Pada hari Kamis ini, Tuhan karuniakan kami kesehatan, tenaga dan kegairahan agar terus dekat kepada-Mu. Peliharalah seluruh anggota keluarga kami.

Inilah doa kami. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.