Hidup Dalam Janji Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Keluaran 14:21-22

Selamat pagi, bapak-ibu, eyang kakung-eyang putri, mas-mbak dan seluruh Saudara yang kami kasihi dalam Yesus Kristus. Terpujilah Allah Yang Maha Baik, Dia yang senantiasa memelihara hidup kita hingga pagi ini.

Firman hari ini, ”Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. (22) Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.”

Keluaran 14:21-22

Saudara, umat Israel tengah berada pada posisi menakutkan. Mereka tengah terjepit dua pilihan sulit. Kita tahu, rombongan besar mereka tengah keluar negeri Mesir menuju tanah perjanjian. Dari negeri perbudakan ke negeri yang merdeka.

Mereka tiba pada posisi yang sangat pelik. Rombongan besar itu tiba di tepi laut, jelas perjalanan sulit diteruskan. Perahu tidak ada. Berenang? Mana mungkin. Jelas perjalanan mereka terhenti. Sebaliknya, bila mereka memutuskan mengambil perjalanan kembali, tentara terbaik Mesir sudah mengepung mereka. Dilema. Serba salah. Maju kena, mundur kena. Pepatah kita seperti “makan buah simalakama”. Makan buah ayah mati, tidak makan buah ibu mati.

Mereka diperhadapkan pada pilihan tidak mudah. Tidak ada pilihan yang menawarkan pemecahan. Inilah yang mungkin kita sebut jalan buntu. Mentok, tidak bisa kemana-mana. Tidak ada tawaran solusi yang memberi resiko minimal. Melanjutkan terus, umat itu akan tewas diterjang air laut. Mundur, mereka akan mati di tangan serdadu Mesir yang memburunya.

Saudaraku, di tengah situasi kritis dengan tanpa tahu mereka harus memilih yang mana, Musa menenangkan mereka. Ia meminta agar mereka yakin bahwa Allah tetap memberi keselamatan. Bisa saja Musa tidak tahu bentuk tindakan Allah, tapi sebagai pemimpin ia yakin Allah akan bertindak. Umat Israel semua bingung, seorang pemimpin tidak boleh tenggelam dalam kebingungan sama. Umat Israel putus asa. Seorang pemimpin harus kokoh dengan pengharapan. Jika tidak, rombongan besar itu akan bertikai satu sama lain dan porak poranda.

Dan, benar ucapan Musa. Musa tidak cuma menghibur supaya mereka tidak panik. Apa yang terjadi kemudian, kita tahu akhir kisah ini. Allah memerintahkan agar Musa mengangkat tongkat dan mengulurkan ke laut. Terjadilah air laut menjadi kering, memberi jalan kepada rombongan. Lalu, setelah mereka tiba di ujung daratan, Allah mengulurkan tongkat yang sama ke air laut. Maka, serdadu yang tengah mengejar mereka semuanya binasa tergulung air laut yang dashyat.

Loloslah umat Israel dari situasi dilematis. Kebuntuan terpecahkan. Saudara, kita juga bisa jadi pernah berada dalam posisi serba salah. Kita tidak tahu lagi jalan keluar terbaik dari sebuah permasalahan. Begini salah, begitu juga salah. Kita tidak menemukan jalan dan pilihan mana yang terbaik harus ditempuh. Atau, saat sekarang kita sedang dalam posisi serba salah.

Kita lihat, dari pengalaman umat Israel, mereka pasti panik dan mengalami ketakutan mencekam. Sampai sempat muncul penyesalan mengapa harus meninggalkan Mesir jika nasib akhirnya harus mati dalam situasi mengenaskan dalam perjalanan pelarian. Jelas, siapapun orangnya akan punya perasaan sama dengan mereka. Mereka berhadapan dengan masalah besar sedang mereka kecil sekali. Kita pun akan takut dan menyerah, karena tidak terlintas bagaimana solusinya.

Satu hal yang tidak diduga oleh mayoritas umat Israel duga, peranan Allah. Mereka sudah dicekam ketakutan sehingga mereka tidak ingat Allah. Di sinilah peran penting pemimpin, di saat semua pesimis selamat, nabi Musa menenangkan mereka. Mengajak mereka berpaling pada Allah. Dan terbukti, Allah tidak mengecewakan mereka.

Saudara, berlindung dan mengandalkan Allah tidak akan pernah mengecewakan kita. Allah tidak pernah menutup mata dan membiarkan kita binasa oleh masalah kita. Yang sering mengewakan adalah jika kita mengandalkan manusia. Janji Allah selalu ditepati hanya soal waktu yang misteri. Janji manusia yang suka indah dan merdu didengar namun tidak seindah dan semerdu realisasinya. Hidup dalam janji Allah akan menempa kita agar tidak takut. Badai kehidupan tidak akan menenggelamkan kita.

Kita berdoa, “ya, Tuhan pautkan kami dengan janji-Mu agar kami selalu hidup mengandalkan Engkau.”

Kami berdoa hari ini untuk kebaikan Tuhan Para Lansia, opa-oma kami. Semoga anak-mantu serta cucu semua berbahagia. Berilah kesehatan, suka cita dan panjang umur. Engkau baik di hari lalu, juga baik hari ini dan tetap baik di hari esok pada Para Lansia yang kami kasihi ini. Terpujilah nama-Mu.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Sehat Jiwa Raga

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 3 Yohanes 1:2

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, opa-oma dan Saudaraku yang baik. Terpujilah Tuhan yang tidak berkesudahan kasih setia-Nya, selalu baru setiap pagi. Kita bisa bangun dari tidur, sungguh karena kasih Tuhan.

Firman Tuhan pagi ini, “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.”

3 Yohanes 1:2

Saudaraku, mensana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Istilah bahasa latin ini adalah istilah bahasa latin yang pertama saya kenal. Dan mungkin sampai sekarang motto dalam bahasa latin yang saya paling hapal, sejak diperkenalkan guru olah raga saya waktu di bangku Sekolah Lanjutan Pertama. Guru saya mengingatkan betapa pentingnya tubuh yang sehat. Karena dari tubuh yang sehat akan lahir jiwa yang sehat. Hal ini ditanamkan agar kami suka berolah raga untuk menjaga tubuh.

Saudaraku, memang benar tubuh sehat itu penting. Bahkan sekarang ada ungkapan supaya kita menjaga dan menghargai kesehatan kita, yaitu “Sehat itu mahal”. Tujuannya adalah kita terus perduli merawat kesehatan dengan benar. Dan itu bisa dilakukan dengan cara olah raga yang teratur, dan juga pola hidup yang benar. Akan menjadi tindakan sia-sia efek olah raga yang dilakukan, jikalau perilaku kita tidak disiplin dan pola makan kita sembrono.

Saudaraku, hidup yang sehat itu ternyata tidak terlepas menjadi bagian kehidupan iman. Karena itu, firman di atas menempatkannya untuk menjadi bagian dari pokok doa. Dan siapapun tahu betapa pentingnya aspek fisik kesehatan kita. Baik buruknya, akan berpengaruh juga baik langsung atau tidak langsung dalam aktivitas kehidupan iman kita. Sekaligus juga pada berpengaruh pada sikap kejiwaan kita.

Saat rongrongan fisik terjadi, misalkan kolesterol kita tinggi. Tentu akan terasa sakit di kepala. Pundak terasa berat. Tubuh terasa tidak nyaman. Pasti berefek pada sikap emosi kita, bisa mengeluh dan bermalas-malasan. Akhirnya, kita terbaring di ranjang untuk beristirahat.

Saudaraku, fisik yang lemah, sakit-sakitan itu juga menghambat aktivitas bahkan kebahagiaan. Pernahkah Anda mengalami di mana sebuah pertemuan keluarga yang tadinya meriah dan penuh suka cita, tiba-tiba ada di antara mereka yang kena serangan stroke? Saya yakin, acara suka cita berubah. Suasana menjadi kaku. Perhatian bergeser. Semua menahan diri untuk tidak mengekspresikan kegembiraannya. Efeknya acara terganggu dan kebahagiaan terhenti.

Itu berandai-andai. Dalam kenyataan sakit itu melahirkan 3 beban: pertama, beban personal. Penderita mengalami kesakitan dan ketidaknyamanan pada tubuhnya. Kedua, beban sosial. Melahirkan kerepotan baik atas orang tua, anak atau kerabat keluarga. Ketiga, beban finansial. Harus mengeluarkan dana untuk pengobatan. Karena itu, tubuh atau fisik yang sehat patut dijaga dan disyukuri.

Jadi, jangan menganggap remeh kesehatan fisik dan jangan mengabaikan keutamaannya dalam hidup kita. Ia bagaikan pilar yang menopang kegiatan hidup kita. Firman Tuhan mengajak kita sadar tentang itu, dan menyampaikan kepada kita agar menjadi kesadaran bersama. Bahwa jiwa yang sehat sama pentingnya dengan tubuh yang sehat. Keduanya harus hadir pada sosok orang beriman. Bukankah itu juga salah satu misi Tuhan Yesus dalam berkarya. Ia menyembuhkan orang sakit sebagai tanda kerajaan Allah sudah tiba. Jadi, sehat itu penting, indah dan berharga. Mari, kita berupaya sungguh-sungguh disertai doa agar Anda, saya dan seluruh anggota keluarga kita memiliki kesehatan prima di tengah pekan ini.

Kita berdoa, “ Tuhan, mampukan kami untuk menjaga kesehatan kami, dengan doa dan olah raga serta pola hidup yang sesuai dengan kebutuhan itu.

Demikian juga kami berdoa bagi bapak-ibu dan saudara-saudara kami yang masih sakit. Mereka yang masih mendapat perawatan di rumah sakit atau di rumah. Tuhan terus mengaruniakan berbagai berkat, hati yang gembira dan kebahagiaan di tengah tubuh mereka yang lemah.

Kami berdoa agar keluarga kami, orang tua yang kasihi, saudara kami, pasangan hidup, anak-cucu dan mereka yang istimewa dalam hidup kami. Semoga sehat lahir dan batin, fisik dan jiwanya. Dan kami semua menikmati kebersamaan dan persaudaraan di tengah pekan ini. Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Tetap Fokus

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Yosua 1:7

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan bagi kita, “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.”

Yosua 1:7

Saudaraku, pernah memberi nasihat kepada anak-anak demikian, “ mama dan papa tidak mau kamu pacaran dulu. Karena kamu masih sekolah. Selesaikan sekolah dulu, baru boleh pacaran”? Nasihat demikian dianggap “jadul”, alias kuno. Masak, sih, jaman sudah modern begini anak sudah masuk sekolah menengah atau mahasiswa masih dilarang-larang, apalagi dalam soal pacaran? Terlepas nasihat demikian sudah dianggap sebagian orang “ tidak jamannya lagi”. Tetapi, pasti ada alasan di balik anjuran atau nasihat itu.

Bagaimanapun di balik nasihat orang tua pasti ada motif kebaikan di dalamnya. Saya atau Anda dengan mudah menemukan faktor yang menjadi alasan utamanya. Pasti, salah satu motifnya adalah supaya anak kita fokus. Perhatian mereka tidak bercabang. Karena status mereka pelajar atau mahasiswa maka ingin mereka fokus belajar.

Tidak bisa dibantah, ada orang tua yang beranggapan bahwa pacaran bisa mempengaruhi ketidak fokusan sang anak. Tidak fokus berarti belajar tidak dilakukan dengan baik, sedangkan pacaran lebih banyak merebut posisi perhatian utama. Orang tua tidak mau di kelas yang mendominasi isi kepala anaknya adalah wajah sang pacar daripada materi pelajaran. Orang tua menilai belajar yang seharusnya prioritas nomor satu. Untuk itu, jangan sampai gara-gara pacaran lalu berakibat belajar menjadi terbengkalai.

Persepsi bahwa pacaran mengganggu fokus bisa diperdebatkan. Ada yang lantaran pacaran justru makin semangat belajar. Mungkin karena pola pacarannya terkendali dan pacarnya ikut memotivasi untuk tetap fokus.

Tapi, pesan penting yang mau saya sampaikan adalah, untuk meraih keberhasilan kita memang harus fokus. Pernahkah ada yang punya pengalaman pergi ke mal mau membeli sesuatu, tapi begitu masuk mal lalu terpesona oleh tawaran barang-barang menarik yang tidak direncanakan untuk dibeli? Akhirnya tujuan utamanya lupa atau ditunda untuk dibeli. Malah, barang lain yang dibeli. Itulah konsekuensi kehilangan fokus karena godaan lain.

Saudaraku, ayat yang dikutip dari kita Yosua di atas, pesan utamanya adalah agar orang Israel fokus. Pusatkan kepada tujuan utama mengapa mereka diberi tanah perjanjian. Fokus bahwa negeri yang mau dituju itu tanah di seberang sungai Yordan. Hal ini penting, jika mereka mengalihkan arahnya ke kanan, mereka akan jauh dari negeri yang mau dimasuki. Demikian pun kalau mereka menyimpang ke kiri. Jadi, mereka tidak boleh bergeser dari fokus yang hendak dituju. Tujuan akan tercapai jika tetap fokus sesuai arah dan tujuannya.

Demikian juga dalam hal iman. Selama dalam perjalanan, umat Israel berjumpa berbagai agama dan keyakinan yang dianut bangsa-bangsa yang mereka temui. Dan agama-agama itu punya daya tarik. Terbukti ada yang menyimpang karena luluh atas godaan ajaran agama-agama lain itu. Akhirnya, mereka banting setir, balik kanan atau balik kiri. Mereka hilang dalam rimba kehidupan. Artinya, mereka meninggalkan iman kepada Allah yang selama ini menuntun dan menyelamatkan mereka keluar dari Mesir.

Saudaraku, memilih keluar dari fokus atau tujuan utama membawa resiko. Ada umat Israel yang tidak sampai dan menginjakkan kaki ke negeri yang dijanjikan Allah. Ada yang tercecer keluar dari rombongan besar yang memasuki negeri yang berlimpah susu dan madu itu. Ada pula yang beralih keyakinan dari percaya kepada Allah ke penyembahan dewa-dewa. Itu artinya, mereka tidak mengecap indahnya negeri yang dijanjikan Allah dan kehidupan iman yang setia serta benar. Yakni dikarenakan mereka kehilangan fokus. Tujuan utama digeser oleh godaan dari hal-hal yang ditemui di tengah jalan. Yang utama dilepaskan, yang tidak utama dijadikan prioritas. Maka, hilanglah cita-cita utama yang selama ini menjadi sasaran yang mau digapai.

Saudaraku, hari ini ketika ia melakukan aktivitas pasti ada tujuan utama yang mau dicapai. Tujuan utama seorang pelajar adalah ingin meraih hasil akademis yang baik. Seorang pekerja atau seorang karyawan ingin agar ada pengembangan karier dan penghasilan. Pebisnis ingin meraih laba yang besar. Tapi, kita pasti sepakat tujuan semua itu sulit digapai jika tanpa fokus. Apakah menjalani studi, bekerja dan berbisnis, kita tidak akan meraih hasil yang optimal. Bagaimana berprestasi dalam pekerjaan, jika sambil mengerjakan tugas kantor lalu nyambi berbagai aktivitas di jam yang sama. Sadar atau tidak waktu dan pikirannya menjadi bercabang.

Begitupun dalam menjalani dan menghidupi iman kita, termasuk dalam hal melayani. Itupun serupa membutuhkan kita harus fokus. Dengan fokus itulah kita tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Lurus terus ke arah cita-cita dan tujuan. Kita tidak ingin apa yang kita ingin raih tak tercapai karena “gagal fokus”.

Kita berdoa, Tuhan karuniakan kemampuan dalam mengemban tugas apapun dan termasuk juga dalam kehidupan iman agar kami bisa fokus.

Tuhan berkati hari ini, para lansia dan orang tua kami. Kiranya mereka berada di tangan pemeliharaan-Mu yang penuh kuasa. Semoga aktivitas mereka menyenangkan Hati-Mu dan keluarga. Iringi mereka yang sakit, yang dalam proses pemulihan dan para lansia, dengan curahkan pengasihan-Mu, Tuhan. Sehingga mereka sabar dan kuat di dalam Engkau di saat-saat kelemahan tubuh.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Hati Untuk Mendengar

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 1:12-13

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu maha baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan, kita memasuki hari baru.

Firman Tuhan pagi ini, “Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; (13) dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.”

1 Samuel 1:12-13

Saudaraku, sebuah tindakan yang baik tidak selalu langsung dipahami dengan baik. Dalam realita kehidupan bisa saja disalah mengerti oleh orang lain. Meski demikian, tindakan demikian tidak menjadi alasan hal baik itu dihentikan. Sekalipun kesalah mengertian itu bisa saja menurunkan semangat. Meski demikian, hal tersebut tidak boleh melemahkan tekad baik yang dimiliki. Pengalaman itu terjadi pada diri Hana. Seorang perempuan yang dimadu dalam perkawinan.

Awal mulanya tidak terlepas dengan tindakan Penina. Seorang istri Elkana yang lain, terus-menerus tanpa bosan dan tak berperasaan mencemooh ketidak mampuan Hana memberi keturunan dalam perkawinan itu. Hana menjadi obyek hinaan Penina bertahun-tahun. Penina menganggap dirinya punya kelebihan, sedangkan Hana dilihatnya punya kekurangan. Tanpa henti Penina mengejek Hana. Menghina dan merendahkan Hana dengan kelemahannya. Istilah sekarang mem-bully. Sehingga Hana mengalami tekanan batin yang berat. Stress. Ia menangis, karena merasa ucapan tajam Penina terlalu menyakitkan. Bujukan dan hiburan dari Elkana, suaminya bahwa ia sangat menyayangi Hana tidak mempan. Hana merasa kehidupan perkawinannya bagaikan neraka. Tiada kesejukan dan kedamaian di hati.

Dalam kondisi batin yang berat dan tekanan psikologis yang tidak ringan, Hana tahu kemana ia mengadu dan siapa yang menjadi sumber harapan ia mendapat kekuatan. Doa dan Tuhan menjadi tumpuan harapan Hana. Ke Silo, tempat suci dan pusat ibadah, Hana dan keluarga pergi. Tempat ibadah menjadi kesempatan ia meluapkan seluruh kegundahan hati, kepedihan serta pergumulannya. Saat ia menumpahkan seluruh beban emosi yang disimpannya melalui doa, ternyata bibirnya saja yang bergetar-getar. Tiada suara yang keluar. Itu berlangsung berjam-jam. Tidak mengherankan, tindakannya disalah mengerti imam Eli. Ia disangka mabuk. Imam Eli menilai Hana mengoceh tanpa jelas apa yang diutarakannya. Lebih jauh, imam Eli menilainya sedang mabuk dan bukan perempuan baik-baik.

Di rumah Hana dihina dan direndahkan. Di tempat ibadah dia dituduh dan dimarahi seolah-olah perempuan jahat. Perlakuan buruk yang bertubi-tubi menimpa Hana. Jelas, itu makin membuat dirinya makin tertekan. Bersyukurlah, setelah Hana menjelaskan siapa dirinya dan kemalangan yang menimpanya, sikap imam Eli berubah. Imam Eli berubah sikap, lalu ia bersimpati dan meyakinkan Hana bahwa Allah memahami gundah gulananya dan Ia akan mengabulkan permohonannya.

Saudaraku, banyak orang menilai bahwa mendengar merupakan aktivitas biasa. Sesungguhnya tidak. Mendengar dan disertai sikap simpati (juga empati) bisa menjadi obat yang paten buat seorang yang tertekan berat secara psikologis. Dengan mau mendengar maka emosi yang menggumpal itu mencair, dan hati menjadi tenang. Lihatlah Hana, di rumah Allah awalnya dia disalah mengerti. Namun, begitu imam Eli mau mendengar dan memotivasinya, hati Hana menjadi lebih ringan.

[Perlu dicatat, mau mendengar itu kesediaan mau berdiam dan membiarkan suara yang menderita masuk dalam relung hati. Menarik dalam bahasa Inggris mendengar itu: LISTEN. Dan diam itu: SILENT. Jenis abjad dan jumlahnya sama. Ingin mendengar, harus mau berdiam menyimak.]

Ditambah pesan terakhir imam Eli, bahwa Allah akan mengabulkan permohonannya. Ia membangkitkan gairah hidup Hana yang bertahun-tahun pudar. Segera Hana bangkit dari keterpurukan. Tangisnya terhenti dan dia mulai mau makan. Makan pertanda mulai tumbuhnya kelegaan batin. Mau dan berani mengatasi apa yang kelak akan terjadi. Sedangkan tidak mau makan tanda kehilangan semangat dan pengharapan. Lesu.

Saudaraku, kita bersyukur hidup bersama Tuhan, kita berjalan dilengkapi berkat-Nya. Namun, siapa yang menyangkal bahwa dalam hidup itu juga kita harus mengalami kesesakan batin. Bisa disebabkan kita sendiri atau orang yang kita kasihi. Bisa karena faktor dihina orang lain. Bisa berbagai usaha yang kita lakukan tak kunjung memberikan hasil. Bisa karena kecewa ulah teman atau bahkan keluarga sendiri. Bisa karena merasa ditinggalkan keluarga dan merasa kesepian. Dan bisa penyebab lainnya. Apa, kemana dan siapa sumber kekuatan kita? Jawabnya adalah doa, Allah dan tempat kudusnya. Di samping hamba-Nya yang mau mendengar. Ke sanalah kita akan menemukan obat yang melegakan kita. Pada sisi lain, kita pun mau memberi hati dan momen mendengar buat yang sedang gundah yang datang pada kita.

Kita berdoa, Tuhan, beri kami kekuatan saat ujian datang. Beri kami kemampuan mendengar, saat ada sesama datang dengan beban. Kabulkanlah harapan kami.

Tuhan, kami ingin berjalan terus bersama-Mu. Peganglah tangan kami di sepanjang perjalanan kami hari ini. Doa ini, kami mohon dalam Kristus Tuhan kami. Amin.

Pengaruh Lingkungan Pergaulan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Raja-raja 12:14

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Hanya karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan hari ini, “ia mengatakan kepada mereka menurut nasihat orang-orang muda: “Ayahku telah memberatkan tanggungan kamu, tetapi aku akan menambahnya; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi.”

1 Raja-raja 12:14

Saudaraku, pemimpin baru melahirkan harapan baru. Begitulah biasanya yang lahir dari banyak orang, seiring munculnya pemimpin baru. Harapan ini merupakan wajar apalagi jika pemimpin terdahulunya lebih banyak mengecewakan dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Seiring dengan itu, pemimpin yang memegang kekuasaan berhubungan dengan bagaimana memperlakukan manusia. Salah menjalankan amanatnya niscaya berdampak dalam kehidupan manusia. Terutama menyangkut kehidupan bersama. Rehabeam sebagai raja telah melakukan kesalahan fatal itu. Ia baru saja diresmikan sebagai raja. Segera orang-orang Israel menaruh harapan besar padanya. Bahwa di bawah kepemimpinannya negeri itu dan rakyatnya menjadi sejahtera dan adil. Yang dipimpinnya mendapat perlakuan lebih baik daripada pendahulunya.

Tidak heran Yerobeam, pemimpin terdahulu yang tersingkir ke Mesir dan rakyat mengutarakan harapan dan tuntutan. Mereka terbuka menyampaikan aspirasi agar Rehabeam mendengar suara mereka. Raja Rehabeam mau mendengar dan mengambil kebijakan yang pro rakyat. Apa yang terjadi? Bukannya Rehabeham menyerap aspirasi dan mengabulkannya, malah kekuasaan dipakainya untuk makin menindas rakyat. Tindakan lebih buruk yang dilakukan raja sebelumnya.

Saudaraku, hal ini terjadi oleh sebab Rehabeam lebih mendengar bisikan teman-teman dekatnya, orang-orang muda. Kalangan yang tidak punya pengalaman mengurus kepentingan orang banyak. Melainkan Sosok yang ingin menarik keuntungan dari tahta Rehabeam.

Sedangkan nasihat bijak dari penasihat raja dari kalangan tua diabaikan. Rehabeam mencampakkan nasihat baik, merangkul bujukan teman yang menyesatkan.

Akibatnya apa? Tindakan raja malah menyengsarakan rakyat. Bukan kesejahteraan melainkan rakyat makin sengsara. Akhirnya, rakyat Israel merasa tidak puas. Puncak ketidak puasan mereka adalah memisahkan diri. Karena kasus salah kelola kekuasaan pecahlah kerajaan. Israel menjadi dua kerajaan; kerajaan Israel dan kerajaan Yehuda. Salah kelola kekuasaan terjadi karena pemegang kekuasaannya salah gaul. Teman yang salah akan memberikan nasihat yang salah.

Saudaraku, betapa penting kita mempunyai lingkungan pergaulan yang tepat. Jika kita bergaul dengan kelompok bergajul, ya ikut bergajul. Anak muda yang “ngegeng” dengan pecandu narkoba, tidak perlu tunggu tahunan, sebulan saja niscaya anak muda itu sudah jadi pengguna narkoba. Sebaliknya, berteman dengan aktivis gereja, maka jiwa pelayanan akan tumbuh. Dan rasa cinta pada gereja makin menguat.

Di sinilah, kita dan anak-anak muda harus memilih dan menyaring teman pergaulan yang pas. Sebab, kuat sekali pengaruh lingkungan pada pembentukan sikap dan perilaku seseorang dan atas kita. Sekaligus, kita harus berani mengingatkan, jika orang-orang yang kita kasihi salah gaul. Berani memutuskan dan keluar dari lingkungan yang salah. Sebab, jika sudah terperangkap pada lingkungan pergaulannya yang salah, susah sekali keluarnya.

Lihat saja, orang yang kecanduan narkoba atau kecanduan apa saja. Proses rehabilitasi akan efektif jika dipisahkan dari teman-teman sesama pecandu. Tapi, jika sudah ‘bersih’ orang itu kembali masuk ke lingkungan lama, pasti kambuh lagi. Oleh karena itu, ingin sukses bisnis bergaullah dengan orang-orang yang sukses, jangan yang gagal. Ingin pintar, berteman dengan murid yang pintar. Ingin menjadi murid Tuhan yang setia, pilihlah lingkungan pergaulan orang-orang yang punya minat kuat pada gereja.

Dan baik juga, kita menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat. Sehat jasmani dan rohani. Sehingga menjadi pilihan orang-orang lain untuk bergabung di dalamnya. Sebab kita sadar, bahwa lingkungan memang ikut menentukan apa yang kita akan lakukan. Apakah itu baik atau tidak baik perbuatan kita. Semoga kita tetap bergaul dengan Allah. Begitupun bergaul dengan orang-orang yang mengasihi Allah.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, bersama-Mu dan bersama lingkungan pergaulan yang sehat. Sehingga praktik hidup kami tidak mengecewakan Tuhan dan tidak mengecewakan diri kami.

Tuhan, Kiranya kami semua diberi tubuh sehat, setia dalam iman dan hidup suka cita serta sejahtera menyertainya. Berkati keluarga kami masing-masing dengan kebahagiaan.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.