MEMULIAKAN TUHAN DENGAN MENYATAKAN KEBAIKAN

Ibrani 13:15-16

Rutger Bregman, seorang penulis dan sejarawan asal Belanda, dalam bukunya “Humankind: A Hopeful History” mengatakan sifat dasar manusia itu baik hati. Pandemi yang terjadi sekarang ini mengungkapkan fakta bahwa begitu banyak orang baik di dunia ini yang memberikan bantuan baik dalam bentuk materi maupun jasa. Di awal April 2020, Nabila seorang siswi kelas 4 SD di Bali membawa celengan bambunya ke Kantor Polisi untuk membantu para medis membeli Alat Pelindung Diri (APD). Aksi serupa juga terjadi di Sulawesi Selatan, di Maumere, di Kab. Bandung, dan kota-kota lainnya. Pandemi Covid-19 berdampak pada setiap orang tanpa terkecuali, termasuk anak-anak, tetapi dalam situasi yang sulit dan penuh keterbatasan, masih ada orang yang ingat untuk berbuat baik. Atau meskipun lupa, aksi anak-anak tadi bisa mengingatkan kita.

Berbuat baik rupanya bisa terlupakan dalam kehidupan seseorang. Hal inilah yang penulis surat Ibrani sadari, sehingga merasa perlu mengingatkan umat agar tidak lupa berbuat baik dan memberi bantuan. Untuk dapat terus mengingat untuk melakukan kebaikan, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah selalu mengingat kebaikan Allah. Kristus telah memberikan diri-Nya sebagai persembahan untuk dapat menguduskan umat-Nya. Kebaikan ini tidak boleh dilupakan oleh orang percaya, dan justru membuatnya menjadi orang yang bersyukur telah menerima kebaikan dan memilikinya. Sebab hanya orang yang “memiliki” yang bisa memberikan sesuatu, jika ia merasa tidak punya sesuatu yang berharga, ia pun merasa tidak memiliki sesuatu yang bisa dibagikan. Mengucap syukur akan kebaikan Allah akan mengingatkan betapa kaya dan berharganya hidup ini untuk dinikmati bersama.

Banyak hal yang dapat menjadi sebab orang lupa berbuat baik, mulai dari situasi yang semakin sulit, meningkatnya keinginan memuaskan diri hingga trauma karena pernah dikecewakan. Akibatnya naluri untuk melindungi dan memperhatikan diri sendiri menjadi lebih dominan, sehingga lupa untuk memperhatikan dan mengasihi sesamanya. Pesan “jangan lupa berbuat baik” memiliki makna mendalam dan berarti bagi orang percaya yaitu agar terus mengingat kebaikan Allah dan membagikannya kepada dunia. Panggilan kepada setiap orang percaya adalah terus berbuat baik, baik dalam keadaan yang mudah maupun keadaan yang terberat sekalipun. Sebab saat keadaan semakin bertambah berat, orang bisa lupa bagaimana caranya berbuat baik. (SY)

Pertanyaan Pendalaman:

  • Hal apa yang dapat Saudara lakukan untuk menolong Saudara mengingat kebaikan Allah?
  • Apa tantangan terberat bagi Saudara untuk terus berbuat baik dan memberi bantuan?

MEMBUKA TANGAN BAGI YANG BERKEKURANGAN

Ulangan 15:10-11

Pandemi Covid-19 telah memunculkan banyak korban, baik korban jiwa maupun korban ekonomi. Perekonomian dunia termasuk Indonesia mengalami kelesuan, banyak sektor usaha mengalami penurunan dan banyak penduduk yang kehilangan pekerjaannya. Pada bulan Agustus 2020, jumlah PHK mencapai 2,1 juta sementara kemiskinan naik dari 9,41% menjadi 9,78% dan kemungkinan masih akan terus bertambah. Pemerintah pun telah mengambil kebijakan dalam upaya menolong masyarakat yang terdampak pandemi, antara lain Bantuan Langsung Tunai (BLT), subsidi listrik hingga subsidi gaji. Setiap kementerian mendapat instruksi dari Presiden untuk mempercepat belanja negara untuk kepentingan rakyat, bahkan kementerian yang belum membelanjakan anggarannya mendapat teguran keras. Presiden meminta jajarannya untuk menerapkan terobosan kebijakan untuk mempercepat realisasi anggaran, semakin banyak uang yang beredar di masyarakat akan mendorong perekonomian di masyarakat.

Membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu yang tertindas dan yang miskin merupakan salah satu seruan kepada orang Israel saat hendak memasuki tanah perjanjian. Keberhasilan bangsa Israel hingga bisa tiba di seberang tanah perjanjian merupakan anugerah Tuhan, bukan karena kekuatan atau jasa mereka sendiri. Karena kemurahan Tuhan, mereka bisa mengalahkan bangsa-bangsa yang lebih besar dan kuat dari mereka (Ul. 9:1). Israel yang semula adalah bangsa yang miskin, lemah, dan tertindas di tanah Mesir, kini telah menjadi bangsa yang kuat dan bersiap menduduki tanah yang kaya akan madu dan susu. Semua itu bisa terjadi berkat penyertaan dan pertolongan Tuhan yang lebar dan luas, berkat yang maksimal dan tidak tanggung-tanggung.

Dengan mengingat kebaikan Tuhan yang begitu besar kepada bangsa Israel, mereka diharapkan memiliki kepedulian kepada orang miskin dan tertindas, ketika mereka menjadi bangsa yang kuat dan kaya. Kepedulian yang harus ditunjukkan dengan maksimal, yaitu membuka tangan lebar-lebar, tidak menunda atau menahan diri. Sebab hanya dengan pertolongan tangan Tuhan yang lebar, mereka bisa menjadi kuat seperti sekarang ini.
Dalam menanggulangi dampak pandemi Covid-19, kebijakan pemerintah dalam membuka tangan lebar-lebar perlu mendapat dukungan dari setiap bagian masyarakat. Bukan membuka tangan lebar-lebar untuk berlomba menerima bantuan pemerintah, tetapi membuka tangan untuk turut membantu orang miskin dan tertindas. (SY)

Pertanyaan Pendalaman:

  • Bentuk pertolongan apakah yang dapat Saudara berikan dalam situasi pandemi sekarang ini?
  • Upaya apakah yang dapat Saudara lakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam membantu masyarakat miskin?

YESUS, DIALAH JURUSELAMAT KITA!

Oleh Weinata Sairin

”Aku, Akulah Tuhan dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.”

Yesaya 43:11; 25

Gaya bahasa dengan menggunakan kata ganti orang pertama memiliki makna yang amat kuat, signifikan, dan definitif, untuk menyatakan secara pasti serta adekuat, bahwa ”Akulah” yang melakukan tindakan itu. ”Aku”, ”Akulah” yang melakukan action, bukan orang lain, pihak lain, atau institusi lain.

Gaya bahasa seperti ini bisa kita temukan baik dalam Per￾janjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, Yesus acap kali menggunakan gaya bahasa ”Aku” untuk menegas￾kan kesiapaan diri-Nya dan menyatakan dengan lebih kuat apa visi dan misi-Nya di tengah dunia. Materi dalam konteks itu dirasa lebih kukuh dan mendalam apabila disampaikan dalam bentuk ”Aku”.

Dari aspek ”rasa bahasa”, ada saja orang yang menafsirkan bentuk ”Aku” seperti ini sebagai wujud dari rasa superior, bahkan sikap arogan seseorang. Namun, jika membaca teks dan konteks dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tafsir semacam itu menjadi kehilangan
relevansinya. Yesus tidak dalam kapasitas arogan atau menunjukkan superioritas-Nya, tetapi Ia menyatakan hal itu lebih pada pengertian untuk menunjukkan kasih-Nya yang menyelamatkan umat manusia.

Dirinyalah penyelamat umat manusia, bukan orang lain. Dialah satu-satunya Juruselamat umat manusia; tidak ada pihak lain yang dapat melakukan tindakan besar seperti itu. Tindakan penyelamatan itu tidak ada bandingannya dengan peristiwa apa pun. Itu terjadi sekali, satu-satunya dan sempurna.

Gereja-gereja dalam hidup dan pelayanannya sangat memahami dan menghayati peristiwa penderitaan yang Yesus alami untuk membebaskan umat manusia dari belenggu dosa. Derita Yesus bukan fiktif atau cerita imajiner seorang novelis.

Yesus secara real dan konkret menderita ketika Pontius Pilatus memerintah. Sejarah mencatat peristiwa itu dan bisa diverifikasi kebenarannya.
Kitab Nabi Yesaya yang dikutip di awal tulisan ini memberikan penegasan bahwa Allah yang berfirman melalui Nabi Yesaya adalah Juruselamat, bahkan Juruselamat satu-satunya!

Hal yang menarik adalah bahwa istilah ”Juruselamat” sudah digunakan pada saat itu, sekitar abad ke-8 SM. Itu berarti, bahwa rencana Allah untuk menyelamatkan umat manusia dengan konsep Juruselamat bukan hal baru, melainkan telah lama sekali ”diprogramkan” Oleh dan melalui diri Yesus Kristus-lah konsep itu mewujud nyata secara sempurna. Mari kita fahami hal itu dengan lebih bersungguh-sungguh dan dengan penuh rasa syukur serta sukacita, karena melalui Yesus Kristus sajalah kita mengalami keselamatan yang sempurna.

Jika membaca kisah-kisah kesaksian warga Gereja, atau mereka yang baru menerima Kristus dalam hidupnya, jelas bahwa Yesus Juru Selamat itu memiliki daya magnet yang kuat, yang membuat seseorang datang dan percaya kepada Kristus.

Yesus Kristus bukanlah hanya seorang “guru selamat”, seseorang yang menjelaskan teoretik tentang abcnya selamat. Ia Juru Selamat,orang yang bertindak menyelamatkan, secara profesional dan sesuai dengan otoritas dan kompetensi yang ia miliki.

Ditengah pandemi yang merasuk dan merusak tata kehidupan kita, baik pribadi maupun komunitas, maka kita takboleh takut, pesimis atau kehilangan harapan. Allah sesuai dengan rencana dan kairosNya akan menyelamatkan kita dari genggaman Covid 19, dan kita akan tampil sebagai pemenang bahkan lebih dari pemenang. Yesus, Dialah Juru Selamat kita dan bukan yang lain!

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God Bless!

KEBAIKAN MANUSIA BERSUMBER DARI KASIH ALLAH

Yakobus 1:16-18

Ada sebuah kalimat menarik: lupakanlah kebaikan kita namun ingatlah selalu kebaikan orang lain! Hal yang seharusnya dilakukan adalah mengingat kebaikan orang lain supaya dapat bersyukur dan berterima kasih. Akan tetapi, hal lain yang seharusnya tidak dilakukan adalah mengingat kebaikan sendiri sebab dapat menjerumuskan kepada sifat sombong. Ketika merasa telah berdaya guna dalam menyelesaikan perkara orang lain, sehingga mampu mengeluarkannya dari situasi yang tidak baik, maka sebelum berbangga harus terlebih dahulu belajar untuk merendahkan diri di hadapan Allah. Oleh karena anugerah Allah-lah yang satu-satunya dapat mendorong manusia dalam berbuat baik.

Penulis surat Yakobus mengajarkan bahwa setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya berasal dari Allah. Pernyataan tersebut selain hendak mengatakan bahwa tak ada hal yang tidak baik datang dari Allah, juga menekankan soal segala yang baik sumbernya dari Allah, termasuk kebaikan manusia pun bersumber dari Allah. Penulis Yakobus ingin menekankan soal anugerah Allah yang berarti tentang kehendak Allah sendiri seperti yang tertulis di ayat 18 “atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita…” Kita menjadi milik Allah bahkan dikatakan menjadi anak sulung di antara semua ciptaan semata-mata karena anugerah-Nya.

Kebaikan bukan sekonyong-konyong atas kehendak diri sendiri, melainkan karena Allah. Ketika tidak dipahami demikian maka usai melakukan kebaikan biasanya akan muncul keinginan. Keinginan rentan menjatuhkan diri pada dosa. Sebelumnya, ayat 14 menuliskan demikian: “tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Sebuah pernyataan yang menjelaskan bahwa manusia sering kali jatuh ke dalam pencobaan karena terpikat oleh keinginannya. Kebaikan yang diiringi keinginan akan membentuk suatu pola timbal-balik. Misalnya saat menyapa orang lain tetapi tidak dibalas kemudian merasa kecewa, maka sudah menjadi tanda telah terbiasa dengan pola timbal balik. Ketika terbiasa dengan pola tersebut maka menjadi kesulitan besar untuk bisa ikhlas sebab selalu ada keinginan untuk mendapat pamrih.

Menginginkan mendapat balasan dapat membuat mudah kecewa pada sesama. Selain itu, telah banyak kasus di mana saat mengharapkan balasan tetapi tidak mendapatkannya, maka akan merenggangkan hubungan, yang tadinya dekat menjadi jauh bahkan putus hubungan. Ditambah lagi, memberi akan kehilangan nilai luhurnya ketika muncul keinginan. Pemberian dapat dikatakan pemberian jikalau terbebas dari pola timbal balik. Kini yang harus diubah dan mulai dijadikan kebiasaan adalah berpikir sederhana yaitu tidak repot berharap harus diberikan balasan. Ada kalimat serupa dengan pernyataan di awal, ukirlah kebaikan orang lain di atas batu dan ukirlah kebaikan sendiri di atas pasir! Artinya ialah kebaikan orang lain akan susah untuk dilupakan namun kebaikan sendiri yang ditaruh di pasir diharapkan mudah hilang karena terbawa ombak.

Kiranya dapat dipahami bahwa kebaikan manusia bersumber dari kasih Allah, Sang Kasih itu sendiri. Sesungguhnya pemberian Allah pun terbebas dari pola timbal balik. Segala pemberian dari-Nya tidak menjadikan kita berhutang. Ia memberi tanpa harus menerima kembali. Ia telah mengajarkan kita tentang ketulusan. (JST)

Pertanyaan pendalaman:

  • Bagaimana tanggapan Saudara tentang sosok yang suka berbangga atas kebaikannya sendiri?
  • Apakah Saudara setuju bahwa kebaikan itu harus berbalas?

MENGENAL KASIH ALLAH DAN MENJADI PELAKU KASIH

1 Yohanes 4:7-8

Belakangan, banyak pengguna internet membagikan percakapan seolah-olah telah berkomunikasi dengan salah seorang aktor/aktris. Tak kalah banyak juga yang beramai-ramai berkomentar menuliskan bahwa itu adalah hoax. Memang rasanya bangga jika dapat mengenal sosok terkenal, tetapi tidak sampai harus melakukan kebohongan dengan mereka-reka chat supaya akhirnya menjadi viral. Mungkin saja jika ada bukti foto atau video maka akan ragu diduga sebagai hoax.

Ketika seseorang telah memberi pernyataan kenal dengan sosok terkenal maka mesti dibuktikan. Lantas bagaimana dapat dibuktikan saat dikatakan manusia telah mengenal Allah? Tentu saja lebih sulit dipercayai, sebab Ia tak nampak secara fisik dan tidak bisa dibuktikan melalui chat, foto, atau video dengan-Nya.

Penulis surat 1 Yohanes menerangkan bahwa pengenalan Allah berkaitan dengan tindakan mengasihi. Satu-satunya bukti manusia telah mengenal Allah adalah menjalin relasi dengan sesama yang penuh kasih. Hal ini merupakan bukti dan jaminan bahwa Allah dikenal oleh mereka. Meski Allah tak dapat dilihat secara nyata, tetapi bukti konkret mengenal-Nya dapat dilihat. Barangsiapa mengasihi berarti telah mengenal Allah, sedangkan tidak mengasihi berarti tidak pernah mengenal Allah.
Latar belakang perikop ini ialah penulis surat merasa prihatin akan keadaan jemaat yang sudah mulai melupakan ajaran Injil yang pertama kali didengarkan. Ia lalu mengajak supaya umat kembali kepada dasar iman yang semula. Ia berharap pengenalan akan Allah dapat membawa kepada kesadaran untuk mengasihi sesama.

Seperti keadaan jemaat di dalam perikop ini, meskipun telah mendengar berita tentang kasih Allah, tetapi manusia mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk tidak mewujudkan kasih. Ketika dikatakan mengasihi Allah, tetapi mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan padahal mampu untuk menolongnya, maka itu adalah hoax.

Penyebab langkah terhenti untuk melakukan kasih ialah keegoisan. Ada rasa tak mau rugi dan tak mau berkorban bagi orang lain. Lawan dari orang baik itu bukan orang jahat, melainkan orang egois. Orang baik akan bertindak aktif bagi sesama, tetapi orang egois hanya akan diam ketika melihat derita sesamanya. Orang baik ke mana pun matanya memandang, telinganya mendengar, kakinya melangkah, hatinya peka, dan mudah merasa prihatin ketika melihat sesamanya susah. Ia mampu merasakan bagaimana keadaan orang lain. Akan tetapi, orang egois, mau ke mana pun, mau apa pun yang didengarnya, mau bagaimanapun susahnya orang lain menganggap bahwa itu merupakan tanggung jawab mereka, bukan menjadi urusannya.

Pengenalan akan Allah memotivasi diri kita agar serupa dengan-Nya. Kita dengan rendah hati mau mengasihi, karena Ia penuh kasih. Kita mau menolong, karena Ia juga penolong. Kita mau memberi, karena Ia juga suka memberi. Melalui dua ayat ini, orang Kristen diminta untuk benar-benar mempraktikkan kasih. Kehadiran kita ialah untuk menjadi orang baik dengan saling menolong, bukan menjadi orang yang egois dan saling apatis. Allah memperkenankan kita ada dalam dunia ini agar kehidupan bisa bermakna bagi lingkungan sekitar. Kiranya kita yang mengenal kasih-Nya mau menjadi pelaku kasih. (JST)

Pertanyaan Pendalaman:

  • Ceritakanlah bentuk kasih Allah yang Saudara pernah alami dan rasakan.
  • Apa yang menjadi alasan sehingga manusia sulit mengasihi sesamanya?