Tuhan Yang Peka

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak, Saudara-saudaraku yang baik. Pagi ini, kita memasuki hari terakhir 2020. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki akhir tahun ini. Dan kita patut memuji nama-Nya. Refleksi hari ini kita.diajak memaknai Tuhan yang peka.

Firman Tuhan hari ini, ”Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (33) Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” (34) Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.”

Matius 20:32

Saudaraku, orang yang peka dan perduli atas orang lain, ia punya kemauan mendengar suara harapan orang lain. Sesibuk apapun, ia akan berhenti dan membuka diri untuk pasang telinga. Demikianlah, yang dilakukan Yesus. Meski dalam perjalanan, perhatian-Nya atas orang buta tetap terbuka. Ia datang dan menghampiri mereka. Lalu, mengajukan pertanyaan apa keinginan mereka untuk diperbuat Yesus. Segera mereka mengutarakan keinginan terdalamnya, ingin melihat. Ya, sudah sekian lama mereka hidup dalam kegelapan. Mereka tidak punya pengalaman visual (penglihatan).

Sebagai kaum tuna netra, mereka punya kerinduan bisa menatap seperti apakah dunia ini jika dapat dilihat mata sendiri. Kegelapan selama ini menjadi rutinitas sehari-hari. Mereka ingin bebas dari kungkungan kegelapan. Yesus yang lewat merupakan kesempatan emas, di mana mereka bisa keluar dari penderitaan panjang selama ini. Peluang ini tidak boleh disia-siakan. Sekarang atau tidak sama sekali (it’s now or never).

Karena itu, mereka gigih berteriak. Yesus yang lewat merupakan kesempatan dan peluang emas. Hal itu musti dimanfaatkan maksimal. Tidak heran walau orang banyak menilai teriakan mereka mengganggu, mereka tidak perduli. Inilah waktu karunia Tuhan telah datang. Dan, gayung bersambut. Yesus peka dengan suara mereka. Yesus menghampiri, mendengar lalu mewujudkan impian yang telah lama bersemayam pada diri mereka. Kini, mimpi itu jadi kenyataan di tangan sosok yang perduli dan punya kuasa mewujudkannya. Sosok itu adalah Yesus, Tuhan kita.

Saudaraku, perjalanan kita setahun ini adalah perjalanan bersama Tuhan yang peka dan perduli atas suara kita. Terkadang kita berteriak, seperti dua orang buta itu. Kita meminta dengan penuh harap. Saat lain, kita berbisik dalam doa, Baik berteriak maupun berbisik, Tuhan berkenan mendengar suara harapan kita. Mimpi dan harapan kita memang bisa jadi ada yang belum jadi kenyataan. Tapi, siapa yang bisa menyangkali bahwa betapa banyak Tuhan telah mendengar dan menjawab teriakan dan bisikan suara harapan kita. Sampai di sini, ujung tahun ini Tuhan tetap perduli suara kita.

Maka, jika orang tua kita, anak-anak kita, pasangan hidup kita, saudara-saudara kita dan sesama pada umumnya, telah meneriakkan suara harapan mereka, dengarlah. Ketika mereka berbisik mengutarakan kebutuhan utama yang telah lama menggelisahkan mereka, bukalah telinga kita. Syukur dan puji Tuhan, jika setahun ini kita telah mempraktikkan kepekaan dan keperdulian kita.

Dunia sekarang adalah dunia yang riuh oleh suara. Banyak suara yang lemah dan hanya berupa bisikan, maka kita harus pasang telinga kita lebar-lebar. Suara demikian mendambakan ada hati yang peka dan jiwa perduli yang siap memperhatikan. Semoga di sanalah kita lewat. Lalu mau mendengar dan berjalan bersama mereka bangkit dari penjara keterbatasan.

Kita berdoa, “Tuhan kami bersyukur, Engkau peka dan perduli suara kami. Berilah kami hati dan kata-kata yang mencerminkan jiwa keperdulian kami, sehingga keluarga, teman, sesama kami menjadi semangat oleh karena mendengar ucapan kami yang penuh perhatian”.

Kami pun berdoa, Tuhan, ajar dan kuatkan tekad kami untuk membahagiakan sesama kami, entah orang tua, saudara, keluarga, istri/suami, anak atau siapapun. Kami ingin di 2021 berjalan terus di jalan Tuhan walau ada rintangan yang mencoba menghalangi.

“Kami bersyukur Tuhan bahwa hari ini saudara-saudara yang kami kasihi tiba di ujung tahun. Tuhan ini merupakan kebaikan-Mu atas mereka. Sepanjang tahun ini suka cita, kesehatan dan sejahtera mengiringi perjalanan. Anak-anak, para pemuda-remaja terus tumbuh dan berkembang. Para ibu-bapak semakin bijaksana dan terus setia. Kiranya keluarga mereka masing-masing merasakan kebahagiaan di hari terakhir 2020 ini yang merupakan pemberian Tuhan.

Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Jauhkan kami dari mara bahaya dan kecelakaan di tahun 2021.

Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa-doa kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Berani Berbeda

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Pada saat bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan berterima kasih dan mengucap syukur. Refleksi hari ini kita diajak memaknai berani berbeda.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, ”Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.”

1 Petrus 2:11

Saudaraku, banyak warga Jakarta adalah para perantau. Mereka berasal dari seluruh pelosok negeri kita, Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga pula Rote. Termasuk juga keanggotaan Gereja atau Jemaat beragam asal usul daerahnya.

Mereka yang disebut perantau. Tiba dan tinggal di Jakarta mengadu nasib.
Semua pendatang dan ingin sukses di kota, tempat yang ditinggalinya. Jarang yang mau pulang ke tempat asal dengan dalih mengalami kegagalan. Pulang kampung sesekali saja. Bahkan, ada yang tidak tahu lagi kampung atau kota asalnya. Terutama para generasi kemudian.

Salah satu cara agar para pendatang dan perantau sukses di tempat perantauannya adalah, bisa membawa diri. Ya, dia harus memahami kebiasaan lingkungannya. Agar mereka bertindak pas dan dapat diterima dengan baik. Seorang perantau yang senang minuman keras dan bernyanyi hingga tengah malam. Niscaya cepat atau lambat diminta untuk meninggalkan lingkungan tersebut.

Status kependudukan orang kristen yang menerima Firman Tuhan ini, mereka juga pendatang dan perantau. Mereka bukan penduduk pribumi. Nasihat kepada mereka sangat berbeda. Mereka justru diminta supaya jangan mengikuti kebiasaan lingkungan sekitar mereka. Mengapa? Apakah tidak takut diusir?

Saudaraku, mereka diminta berani berbeda. Nasihat ini muncul lantaran pola perilaku lingkungan, tempat orang kristen hidup di sana, bertentangan dengan pola perilaku kristiani. Yaitu sikap-sikap: percabulan. Menyembah dewa. Kerakusan. Munafik. Suka menipu. Terbiasa saling memfitnah. Orang kristen sebagai komunitas kecil diminta loyal pada ajaran Kristus, daripada terseret sikap-sikap tadi.

Mereka diminta jangan ikut-ikutan dengan kebiasaan buruk yang biasa dilakukan lingkungannya. Bahkan, jangan bergaul erat dengan lingkungan. Sebab, kebiasaan dan perilaku lingkungan itu bertentangan dengan etika kekristenan. Mengambil sikap yang berbeda ini sungguh berat. Karena beresiko dimusuhi dan tidak disukai. Bagaiamanapun tekanan masyarakat bisa menimbulkan penderitaan.

Tentu saja, kebiasaan dan perilaku yang bertentangan itu merugikan kualitas iman orang kristen. Sekaligus, merusak kehidupan moral mereka. Jika mereka ikut-ikutan. Pesannya jelas, meski kita pendatang di sebuah lingkungan jangan karena ingin diterima lingkungan, lalu ikut-ikutan kebiasaan buruk.

Tantangan ini sering dialami kita maupun anak-anak muda. Agar mereka diterima oleh teman-temannya, kemudian karena terpaksa atau tidak mereka ikut saja kebiasaan ‘gangnya’. Misalnya: tanda kesetiaan mereka dibuktikan dengan kesediaan berani mengkonsumsi narkoba, minum minuman keras, memalak, dsb. Jika mereka tidak mau, mereka disisihkan. Atau diolok-olok bukan pemuda sejati.

Saudaraku, jika kebiasaan di lingkungan kita ada yang baik, tentu bagus kita bergabung dan bersedia melakukan bersama-sama. Sebaliknya, kita berani menyatakan sikap dan pendirian berbeda atas kebiasaan buruk yang dilakukan lingkungan. Kita perlu berani berbeda. Kita punya identitas. Kita bukan bunglon, yang berubah warna tergantung lingkungan di mana kita hadir.

Di sinilah, kita harus berani menyatakan “tidak” jika ada ajakan lingkungan kantor, pergaulan, yang mengajak, merayu bahkan mengancam agar kita menyesuaikan dengan kebiasaan buruk di tempat-tempat itu. Belajarlah dari perbedaan ikan mati dan ikan hidup. Ikan mati jika dibuang ke air yang mengalir. Ikan mati itu cuma mengikuti kemana arus mengalir. Ikan hidup, tidak. Ada saat tertentu ikan itu ikut arus. Pada saat lain, ia berani berenang melawan arus. Ikan tersebut berani berbeda dengan arus yang ada. Semoga sepanjang tahun ini, Tuhan menguatkan kita.

Mari Kita berdoa, “ya, Tuhan, kiranya ucapan, pikiran dan perbuatan kami berani berbeda sesuai dengan iman kami kepada-Mu.

“Tuhan, kami berdoa untuk orang yang setia kepada-Mu menghayati sikap kristianinya. Tuhan, perkenankan hari ini, seluruh anak-Mu, hidup dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Tetap tersenyum di tengah kesulitan. Tetap setia pada-Mu di tengah ujian kehidupan.

Kiranya Engkau berkenan bersama kami sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Kesulitan Bagian Dari Kehidupan

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Refleksi kita hari ini akan memaknai kesulitan bagian dari kehidupan.

Firman Tuhan hari ini, ”Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; (3) dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”

Keluaran 16:2-3

Saudaraku, orang yang bersungut-sungut adalah orang yang tidak puas atas sebuah keadaan. Seandainya Seseorang di awal tahun ini mempunyai cita-cita dan harapan tertentu, yang diasumsikan bisa diraih. Tapi, sampai di ujung tahun gelagatnya tidak akan tercapai. Maka Orang itu bisa bersungut-sungut. Di dalam diri orang yang mengeluh tersimpan perasaan kecewa. Ada keluhan.

Demikianlah, suasana emosi dan kebatinan orang Israel. Mereka menyangka dan bermimpi tentu saja, bahwa dengan keluar dari Mesir hidup mereka lebih baik, lebih sejahtera dan bebas dari kesulitan. Dalam bayangan bersama (kolektif) mereka, begitu keluar dari Mesir segala sesuatu telah tersedia dan tidak membutuhkan perjuangan. Kesulitan bagian dari kehidupan bangsa Israel saat keluar dari Mesir.

Segala dugaan dan mimpi itu ternyata tidak sesuai kenyataan. Keluar dari Mesir mereka harus masuk wilayah gurun. Sangat panas suhunya di siang hari dan sangat dingin di malam hari. Dan ternyata, makanan pun tidak terus-menerus tersedia melimpah. Mereka harus menghadapi kelangkaan air minum, termasuk juga makanan.

Tumpukan atau akumulasi berbagai kesulitan yang ada di depan mereka, menumbuhkan rasa kecewa. Mereka tidak puas. Sekaligus tidak siap bahwa untuk meraih kehidupan yang lebih baik, jalan yang harus ditempuh berliku-liku. Butuh perjuangan dan kesabaran. Ujung dari ketidak siapan mental orang Israel adalah bersungut-sungut. Menggerutu.

Saudara, dari mulai awal tahun hingga Menjelang akhir tahun, hidup kita dipelihara Tuhan. Meski demikian, bukan berarti hidup kita mulus tanpa jalan terjal. Tahun ini, bisa jadi kita memetik suasana hidup yang suka cita. Tapi, bukankah kita pun bertemu dengan realitas kepedihan. Kita tidak pernah menduga tahun ini, kita berhadapan dengan virus covid 19, yang banyak merenggut hal berharga milik kita, bahkan ada orang yang kehilangan kekasih hatinya oleh sebab virus jahat itu.

Di sepanjang tahun ini, kita pun tidak cuma duduk manis. Lalu semuanya ada. Oh, tidak. Ada doa, ada pula karya dan usaha. Jika cuma doa lalu minus berbuat apa-apa, itu sikap tidak bertanggung jawab untuk kehidupan. Pemeliharaan Tuhan disertai sikap ketahanan diri kita untuk bekerja. Ada yang sampai harus membanting tulang. Kesabaran menjadi kebutuhan untuk ada.

Tayangan National Geography tentang perempuan-perempuan tangguh di pulau Jeju, Korea Selatan. Mereka disebut “Haenyeo”. Para perempuan ini setiap hari menyelam 3 jam sehari di kedalaman 20 meter dengan kemampuan menahan nafas selama 2 menit. Umur mereka yang paling muda 50 tahun dan yang tertua 81 tahun. Mereka mencari kerang, gurita, bulu babi, dll. Mereka menyelam tanpa bantuan tabung gas. Alami. Aktivitas mereka sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Berat dan membahayakan nyawa. Tapi mereka kerjakan tanpa mengeluh. Tidak mengherankan tradisi yang dijalani para perempuan penyelam ini sudah bertahan ratusan tahun. Mereka memaknai kesulitan bagian dari kehidupan, tak perlu ditangisi dan keluhkan. Melainkan dijalani dengan wajar.

Saudaraku, hidup itu dinamis. Ada suka-dukanya. Sehingga saat kita berhadapan dengan kesulitan, dituntut jiwa yang tegar. Tangguh. Tidak manja dan tidak cengeng menghadapi realitas yang terkadang tidak bersahabat.

Bagaimanapun, sikap kita tetap penuh rasa syukur, dan kemudian dengan modal itu kita tidak menyerah kepada keadaan yang tidak diduga dan kita harapkan, yang ternyata hadir sebagai realitas. Hidup bersama Tuhan bukan berarti tidak aral dan masalah. Tapi, Ia menjanjikan bersama-Nya aral dan masalah tidak menghentikan langkah kita berjalan ke depan.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya selama bersama-Mu, saat kami melangkah menjalani hidup ini, kami tetap bersyukur dan bersikap tegar.

Kami membawa dalam doa, Tuhan memberi pemulihan dan kesehatan kembali kepada Saudara-saudara seiman dan sebangsa yang terkena virus covid 19. Semoga Tuhan menjamah mereka dan menyembuhkan.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bekerja Segiat-giatnya

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan. Refleksi hari ini kita diajak memaknai bekerja segiat-giatnya.

Firman Tuhan hari ini, ”Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” (14) Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

1 Raja-raja 13b-14

Saudaraku, Elia tengah berada di gunung Horeb. Puncak gunung selalu dimaknai tempat yang sakral, atau keramat. Di sanalah perjumpaan Allah dan nabi-nabinya berlangsung. Anda ingat, gunung Sinai. Di puncaknyalah Allah memberi 10 hukum Allah. Kini, Elia pun ditemui Allah di gunung, gunung Horeb.

Dalam perjanjian Baru, kita tentu ingat bagaimana Tuhan Yesus berubah wujud. Kejadiannya berlangsung di puncak gunung Tibo. Di sanalah, dua orang murid-Nya melihat Gurunya bertemu dengan Musa dan Elia.

Saudaraku, gunung bukan semata-mata lokasi indah untuk menikmati pemandangan. Tapi, di sanalah perjumpaan dengan Allah. Khususnya menyangkut misi yang harus diemban. Jadi, gunung bukan lokasi melepaskan kesuntukan. Puncak gunung bukan buat bermalas-malas. Memang, udara yang segar dan pemandangan menarik menggoda untuk menghabiskan waktu buat melepaskan kepenatan.

Di puncak gunung Horeb, Allah menanyakan apa aktivitas nabi Elia. Tuhan tidak mau gunung menjadi tempat melarikan diri dari tanggung jawab. Atau lokasi menyembunyikan diri dari tugas yang harus dipikul. Gunung ditempatkan bukan buat itu. Gunung itu lokasi pengutusan. Sekaligus tempat mereka melihat karya Allah dialami.

Saudaraku, tepatlah Elia menjawab pertanyaan Allah. Bahwa, ia bukan berleha-leha. Tidak juga untuk menghabiskan waktu belaka. Elia menjawab, “bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan”.

Apa artinya bagi kita? Jangan sampai kita dijumpai Tuhan tengah malas-malasan. Apalagi malas yang kebablasan. Menghabiskan waktu tanpa berkarya apa-apa. Waktu hanya dibiarkan lewat tanpa makna.

Semalam, saya menonton acara Kick Andy. Ia mewancarai ibu Fera Manayang. Tindakannya inspiratif. Mencerahkan budi dan memotivasi hati. Ibu Fera ini, hidup bersama dan mengurus dengan orang yang kena gangguan jiwa. Suami, dua anak kandung serta kakak dan seorang keponakan, mengurus 71 orang perempuan. Mereka membawa orang-orang yang kena gangguan jiwa yang terlantar di jalan-jalan.
Bahkan ada beberapa yang menjadi korban perkosaan. Atau, yang ditelantarkan oleh keluarga. Bersama-sama di bawah satu atap mereka hidup bersama dengan suasana cinta kasih. Ketika Andi Noya bertanya, “sampai kapan ibu Fera akan mengurus dan mengasihi mereka. Jawabnya, “sampai selama-lamanya. Artinya hidupnya berakhir”.

Sebaiknya, kita melihat kisah ibu Fera sebagai contoh bagaimana menghargai waktu dan kehidupan yang berharga ini dengan aktivitas dan karya yang berharga pula. Waktu untuk dipakai buat bekerja dan berkarya. Ibu Fera menyatakan, sebelum tidur malam dia menengok keadaan mereka. Dan begitu bangun pagi, yang dilakukan menengok bagaimana keadaan mereka kembali.

Kita tahu, waktu yang datang tidak berulang. Sekali lewat terus hilang. Jangan sampai kita membiarkan waktu yang merupakan karunia Tuhan itu lewat tanpa karya apa-apa. Sungguh indah Tuhan bertanya “apa kerjamu?” Kita menjawabnya seperti nabi Elia, “bekerja segiat-giatnya buat sesama dan untuk Tuhan.” Semoga.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami terus bekerja dan berkarya, baik yang sederhana maupun yang agung. Karena waktu sangat berharga.

Kita berdoa, “Tuhan, Kami berdoa buat anak-anak Tuhan yang telah lama merindukan: pasangan hidup, keserasian dalam perkawinan, mendapatkan pekerjaan, sakit yang tak kunjung sembuh. Tuhan, kiranya Engkau membuka jalan agar pada waktunya mereka memperoleh apa yang mereka rindukan.”

Mampukan kami mengelola waktu dengan bekerja segiat-giatnya. Bentuklah kami sebagai pribadi yang ingin berkarya di tengah-tengah waktu yang diberikan Tuhan.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus, Juru Selamat kami. Amin. 😇😇

Oleh Pdt. Supriatno

Berpijak Pada Rencana Allah

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik. Refleksi kita pada hari ini mengajak kita untuk berpijak pada rencana Allah.

Firman Tuhan pagi ini, ”Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir”.

Matius 2:14

Saudaraku, situasi di Betlehem sangat membahayakan keselamatan bayi Yesus. Karena Herodes menempatkan bayi Yesus kelak pesaing atau kompetitor masa depannya. Ia merasa kelanggengan kekuasaannya terganggu. Betapa berbahayanya penguasa yang dihinggapi perasaan demikian. Akibatnya, terasa langsung. Yusuf, Maria dan Yesus harus hengkang dari kampung halaman.

Keputusan Yusuf sungguh berani dan tepat. Perjalanan dari Betlehem ke Mesir tidak boleh disamakan seperti perjalanan dari Jakarta Surabaya saat ini. Jauh, membahayakan dan lama. Maklum alat transportasinya yang tersedia adalah unta. Keputusan yang merupakan bentuk ketaatan Yusuf atas suara malaikat yang memberi perintah supaya pergi ke Mesir.

Dua kali Yusuf mendapat pesan dari malaikat. Pertama, malaikat meminta Yusuf tidak memutuskan pertunangannya dengan Maria. Oleh sebab kehamilan Maria. Yang kedua, permintaan malaikat untuk menyelamatkan bayi Yesus ke Mesir. Kedua permintaan dan nasihat malaikat itu dia ikuti. Suatu sikap penyerahan diri mengikuti rancangan Allah. Yusuf tetap berpijak pada rencana Allah.

Kedua permintaan malaikat itu beresiko. Tetapi, ia tetap mengutamakan kepatuhan daripada mencari selamat sendiri. Saudaraku, bagaimanapun kepatuhan kepada keinginan dan rencana Allah itu baik. Sikap terpuji. Tindakan mulia. Wibawa Allah kita hormati. Pada sisi lain, pemenuhan keinginan Allah menuntut keberanian menanggung resiko. Ada akibat yang harus dihadapi.

Yusuf dan Maria tentu harus berhadapan dengan kelelahan fisik, ketidak nyamanan padang gurun, bahkan ancaman orang-orang jahat yang beroperasi di wilayah padang gurun. Bisa jadi inilah salah satu perjalanan migran paling awal dengan motif keagamaan. Terpaksa pergi ke luar dari negerinya karena situasi dalam negerinya yang memaksa.

Saudaraku, kita melihat bahwa Allah yang hadir ke dunia, selain penuh kesederhanaan. Tetapi juga sarat dengan ancaman yang membahayakan. Penolakan manusia begitu kasat mata. Bayi Yesus diwarnai pengorbanan. Dan kelak puncaknya di kayu salib.

Kita bersyukur sebagai orang menyambut Yesus Sang Bayi Natal. Sekarang memang tidak ada lagi Herodes. Namun, orang yang menolak bayi Natal masih ada di mana-mana. Mereka yang takut Bayi Yesus mengancam kemapanannya. Mereka yang berwajahkan rasa takut dengan kehadiran natal. Ya, rasa takut bahwa Yesus mengusik rasa aman mereka. Seperti sikap melarang penyelenggaraan kebaktian perayaan natal. Hal ini menghambat hak paling dasar milik manusia, yakni kebebasan beragama.

Saudaraku, seperti Yusuf tidak menghentikan ketaatan dan kepatuhan atas suara Allah. Hendaknya kita pun bisa berbuat demikian. Langkah kita berpijak pada rencana dan keinginan Allah, meski jalannya terjal. Melelahkan. Tapi kita tidak boleh menyerah dan berhenti. Apalagi level tantangan dan masalah kita masih lebih rendah dibandingkan yang dihadapi Yusuf dan Maria.

Kita berdoa, Tuhan, ajarkan sikap taat dan mau dengar-dengaran suara-Mu. Meski untuk itu, terbentang resiko yang harus dilewati. Namun, kami percaya Engkau menuntun kami sehingga bisa menghadapinya.

Tuhan sertai perjalanan kami hari ini. Karuniakan kami dengan kesehatan, suka cita dan perlindungan-Mu.

Doa-doa ini kami naikkan dalam nama yang indah Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno