KAMBING HITAM ITU MENGHITAM KAN KEHIDUPAN

Oleh Weinata Sairin

“Not to fix blame for the past but to fix the course
for the future
”

John F. Kennedy

Ada banyak di antara kita yang suka membuat alasan atau mencari
kambing hitam. Seseorang yang tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk wawancara dan gagal dalam pencalonan menjadi direktur sebuah perusahaan mencari alasan atau kambing hitam. Ia mengatakan, pertanyaan dalam wawancara itu terlalu mengada-ada dan tak berkaitan
dengan tugas-tugas seorang pimpinan, atau ia beralasan ruangan tempat
wawancara terlalu dingin sehingga konsentrasinya buyar. Bisa juga ia mengatakan, ia sengaja diskenariokan tidak lulus dalam wawancara karena ia berasal dari etnis tertentu. Ia sama sekali tidak mau mengakui bahwa ia sebenarnya tidak siap menghadapi wawancara itu. Ia menganggap wawancara tersebut sekadar formalitas dan yakin lulus.

Mencari excuse (’alasan pemaafan’) atau menghidupkan ”kambing hitam” agaknya telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan umat manusia.
Realitas itu terjadi hampir di semua aspek kehidupan kita, bukan hanya di dunia politik. Yang dijadikan kambing hitam bisa apa saja: keadaan, zaman tertentu, orang per orang, benda-benda, dan sebagainya.

Uraian dalam Alkitab, tentang Hawa yang memakan buah yang
dilarang oleh Allah, memberikan afirmasi bahwa hal yang berkaitan dengan ”kambing hitam” itu adalah cerita yang sudah terjadi dalam awal sejarah manusia.

Dalam Alkitab diceritakan tatkala Allah mendesak Adam dengan pertanyaan, mengapa ia memakan buah yang dilarang itu, Adam tidak menjawab sportif. Adam mengatakan kepada Allah, ”Perempuan yang
Kautempatkan di sisiku itu yang memberikan kepadaku buah itu, maka kumakan!” Adam mencari alasan pembenar kesalahannya. Adam malah ”melahirkan” kambing hitam.

Kisah tentang excuse dan kambing hitam ini kemudian menjalari relung-relung sejarah kemanusiaan dari waktu ke waktu; menembus abad
dan zaman, bahkan tetap hadir dalam peradaban modern sekarang. Bagi Adam, di zaman itu, perempuan bernama Hawa itulah penyebab dia tergoda. Jika dielaborasi, kambing hitam dalam kasus buah terlarang itu bisa meluas. Tidak hanya berhenti pada Hawa. Dalam zaman modern, kambing hitam juga bisa amat luas dan menambah kerumitan dalam memahami esensi sebuah permasalahan.

Memang, kita harus berupaya untuk tidak membuat excuse atau menghidupkan kambing hitam, ataupun mempersalahkan sesuatu atau
seseorang apabila kita mengalami kegagalan. Kita harus merancang sebuah
program dengan lebih baik. Cermat perhitungannya. Jelas konsekuensi dan risikonya. Kita bisa membuat plan A, B, atau C dengan berbagai kalkulasinya. Jika sebuah program, dalam pelaksanaannya kurang berhasil atau gagal, tak usah kita membuat excuse atau mencari kambing hitam. Kita analisis saja penyebabnya dan kita cari jalan keluar lain.

Di zaman pandemi ini juga, kambing hitam banyak berkeliaran. Ada juga kelompok yang secara sadar membuat kambing hitam, sehingga pamor pemerintah bisa jatuh dimata rakyat. Pada semua level, anehnya ada kambing hitam. Ada keluarga yang sudah beberapa hari tidak bisa makan, tapi ia gagal mendapat bansos atau BLT. Peran kambing hitam? Nama warga itu tidak terdaftar di wilayah itu sehingga ia gagal menerima bantuan.

Pada sebuah dunia yang modern, berkeadaban, ketika profesionalisme, intelektualisme, moral, agama,makin mengemuka mewarnai kehidupan manusia, maka kambing hitam takboleh lagi dilahirkan. Kambinghitam itu menghitamkan kehidupan. Akhlak mulia manusia takboleh dicemari oleh kambing hitam.

Selamat Berjuang. God Bless!

Iman Mewujud Dalam Disiplin

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Hakim-hakim 7:6

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru dengan tubuh segar. Kita mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, “Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air“.

Hakim-hakim 7:6

Saudaraku, kita pernah merenungkan bacaan ini. Waktu itu, kita mengangkat arti penting tentang kualitas. Betapa diperlukannya kita sebagai orang kristen bermutu. Bukan berapa banyak jumlah orang kristen yang ada, melainkan seberapa jauh kita berkualitas. Punya kualitas yang dirasakan sebagai garam dan terang buat masyarakatnya.

Kini, kita hendak melihat arti lain di balik cara minum 300 tentara itu. Kelompok ini minum dengan cara menciduk air dengan tangan lalu meminumnya. Sedangkan kelompok lain, yang tidak terpilih minum air dengan berlutut. Dan dari dua model itu, Tuhan meminta agar para anggota pasukan yang minum dari tanganlah yang harus dipilih. Jangan yang minum dengan cara kedua.

Saudaraku, tentara yang minum air dengan cara pertama, mencerminkan orang yang walau haus tetap waspada. Tentara yang demikian menunjukkan sikap hati-hati. Jika musuh datang, posisi mereka tetap bisa mengetahui lebih dini. Waspada. Dengan kata lain, tentara yang minum dengan cara menghirup air dengan tangan adalah tentara yang disiplin. Pembelajaran dari pesan Tuhan ini adalah, kondisi haus tidak boleh menganggap remeh keadaan sekelilingnya. Jika tiba-tiba ada musuh datang dan menyerbu, maka kedisiplinan mereka mengurangi tingkat resiko.

Sedangkan tentara yang minum dengan berlutut mencerminkan sikap lengah. Rasa haus mengalahkan sikap waspada terhadap lingkungan. Mereka bisa jadi sasaran empuk buat musuh. Jelas, tipe tentara seperti itu sebanyak apapun akan mudah dikalahkan. Kurang waspada mencerminkan sikap mengecilkan potensi serangan musuh. Dalam peperangan sikap demikian mengandung potensi kekalahan.

Saudaraku, di sini kita mendapat pesan betapa pentingnya sikap disiplin, waspada dan tidak takluk godaan. Banyak orang jatuh dalam hidup karena tidak disiplin. Konon, salah satu penyebab kita sakit adalah ketidak disiplinan hidup kita. Sudah umur di atas 50 tahun, masih saja makan saksang atau daging babi yang sangat berlemak. Atau daging iga yang gurih oleh lemaknya. Bagaimana tidak kena kolesterol, darah tingginya naik dan akhirnya dirawat di rumah sakit.

Sebaliknya, kita perhatikan anak-anak kita yang bermasa depan bagus, terlihat sejak dini sudah tertanam disiplin diri yang kuat. Mereka sejak kecil sudah terbiasa membantu pekerjaan2 di rumah. Belajar tidak didorong-dorong atau diiming- imingi. Tapi, sejak kecil sikap disiplin belajar sudah tercipta.

Sama, dalam kehidupan iman pun perlu disiplin diri. Bangun pagi lalu berdoa. Menyapa Tuhan dan membaca firnan-Nya. Itu memerlukan disiplin. Jika tidak, maaf, hangat-hangat tahi ayam, istilah kita. Sebentar saja semangatnya. Setelah itu hilang.

Disiplin dalam hal apapun, sama amat diperlukan. Jika kita tidak disiplin mengecek kendaraan kita secara rutin. Tunggulah waktunya, suatu saat kendaraan kita menghukum kita. Mobil bisa mogok di tengah jalan.

Saudaraku, tiap hari mereka yang sembuh dari virus Covid -19 menunjukkan angka melegakan. Patut kita syukuri. Pada sisi lain, mereka yang positif angka pertambahannya mencemaskan. Tentu, zona hijau tanda zona aman menjadi dambaan kita. Pertanyaan yang muncul berulang-ulang adalah, “kapan situasi ini berakhir. Dan ujian berat ini berlalu?”

Jika kita berani mengatakan, sesungguhnya situasi ini juga sangat ditentukan manusia itu sendiri. Tuhan kita Maha Penolong, namun bila manusianya mengabaikan pentingnya sikap disiplin, situasi berat ini akan berlarut- larut. Disiplin merupakan ekspresi paling tepat untuk disandingkan dengan pertolongan Tuhan, sehingga pertolongan lebih efektif.

Saudaraku. Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, itu harus menjadi kebiasaan (habit). Sayangnya, ketika rendahnya disiplin, sikap-sikap itu sulit menjadi kebiasaan. Hal mudah dan sangat bermanfaat, menjadi hal sulit ketika miskin disiplin.

Iman itu bukan cuma percaya, lalu boleh bertindak semaunya. Bahkan seolah-olah berani melakukan hal yang menyerempet bahaya. Iman mewujud dalam sikap hidup yang menghargai kedisiplinan.

Saudaraku, mari berjalan bersama Tuhan. Berjalan bersama-Nya kita akan memetik arti berkemenangan. Kita tidak sembrono. Perlu pola hidup tertata. Dan dalam prosesnya bagaimanapun disiplin perlu hadir.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tetap disiplin menjadi murid-Mu. Sehingga kami tidak perlu cemas. Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

Demikian juga para oma-opa dan lansia. Kiranya tubuh sehat, kesetiaan iman dan hidup suka cita serta sejahtera tetap menyertai mereka.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Kesalehan Mendorong Keberhasilan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Mazmur 1:3

Mentari di Timur kembali terbit. Selamat pagi, bapak- ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan Ia yang mengantar kita memasuki tengah pekan. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan diambil dari, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”.

Mazmur 1:3

Saudaraku, musim kemarau masih berlangsung. Akibatnya, persediaan air berkurang. Sungai-sungai kering. Pepohonan kering kerontang. Warna daun bunga dan tanaman lebih dominan kecoklatan. Konon, penduduk desa di Nusa Tenggara Timur, untuk bisa mendapatkan air harus berjalan 5 km. Itu setara jarak dari Jatinegara ke Cililitan. Kekeringan itu jelas berdampak bagi kehidupan.

Itu artinya, betapa bermanfaatnya air. Bagaimanapun, air merupakan sumber kehidupan. Tanaman bisa tumbuh segar. Pohon buah bisa berproduksi dengan baik. Dedaunan serba hijau. Enak di mata, sedap dipandang. Maka, air itu yang memberinya. Tidak heran, apalagi di musim kemarau, air menjadi dambaan buat manusia dan tanam-tanaman dan makhluk hidup lainnya.

Firman Tuhan mengumpamakan orang benar, khususnya, biasa disebut orang yang takut akan Tuhan, seperti pohon di tepi air. Artinya, pohon yang berpotensi menjadikan hidup secara sehat dan berbuah lebat. Penampilan orang yang takut Tuhan hidupnya begitu segar. Sekaligus mampu berproduksi dengan baik.

Dengan demikian, kehidupan orang yang takut Tuhan itu membahagiakan orang lain. Hidupnya membuat orang tersenyum senang. Tak heran ada nasihat orang tua atas anaknya berbunyi “anakku, kiranya hidupmu kamu takut akan Tuhan”. Ungkapan harapan agar kelak anak yang dinasihati hidupnya berbuah lebat. Menarik. Dan berhasil.

Sebaliknya, sebuah kehidupan yang tidak takut akan Tuhan maka jiwanya layu. Tidak menarik. Membosankan. Hidupnya tidak produktif. Dari yang diperbuatnya tidak ada hasil baik, yang memberi rasa senang bagi orang lain. Bagi seseorang dengan tipe seperti itu, siapapun sulit menemukan pada diri orang itu praktik hidup yang memberi inspirasi. Hidupnya tidak memberikan pembelajaran bagi orang di kuar dirinya. Kering. Membosankan.

Ben Carson, seorang dokter ahli bedah syaraf terkenal di Amerika. Ia dijuluki si tangan berbakat (gifted hand). Waktu kecil prestasi sekolahnya bagus. Tapi kerap dibully, termasuk oleh gurunya berkulit putih. Kerap ia pulang ke rumah dengan kepedihan. ibunya yang saleh mampu terus memompa semangatnya. Sehingga selalu terngiang-ngiang ucapan ibundanya, “ orang lain bisa berhasil, kamu juga bisa bahkan kamu bisa lebih berhasil.” Itu sebuah contoh, kesalehan mendorong keberhasilan.

Saudaraku. Hari demi hari, kita berjalan menelusuri kehidupan. Memang kita tengah berada di musim kemarau yang kering. Meski demikian, harapan kita, selama berada di tengah fenomena kekeringan, dengan susah payah kita tetap memompa semangat agar tetap menjadi pohon di tepi sungai. Aktivitas kita melahirkan buah. Buah yang baik dan produktif. Dengan apa yang kita katakan dan praktikkan melahirkan senyum buat orang yang kita temui. Kita membuat senyum orang tua, pasangan hidup, anak-anak, sahabat, kerabat. Pendeknya, sesama yang kita jumpai. Hidup kita mengalirkan buah-buah kebaikan yang dibutuhkan sesama kita.

Kita berdoa, ya Tuhan, jadikanlah kami bagaikan pohon yang berbuah lebat karena dekat dengan air sumber kehidupan, yakni Engkau sendiri.

Kami berdoa pula buat saudara kami membutuhkan kesehatan lebih baik. Puji syukur Tuhan selalu mencintai mereka yang sakit. Dulu, kini dan hari esok semoga berkat indah-Mu terus bersama mereka dan keluarganya. Kiranya kesembuhan dan sejahtera dikaruniakan oleh-Mu. Berikan kesehatan yang baik.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan.

Selamat menikmati aktivitas.

TIDAK SIA-SIA

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 19:27

Selamat pagi, Saudaraku yang baik dan dikasihi Tuhan. Bertambah hari maka bertambah pula pengalaman kita bersama Allah bersama kasih-Nya. Puji Tuhan.

Hari Senin ini firman Tuhan diambil dari, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?”

Matius 19: 27

Saudaraku, orang suka mengharapkan imbalan dari apapun yang dikerjakannya. Wajar dan alami. Hal itu menandakan yang dikerjakannya tidak ingin sia-sia. Pertanyaannya, apakah berbuat baik butuh imbalan? Jika, ya, kebaikannya bersifat pamrih. Jika seorang berdoa kepada Tuhan maka itu berarti tidak murni sebagai bentuk pujian dan syukur. Bukankah kita tahu yang namanya tindakan yang dijiwai ketulusan dan kasih yang murni tidak mengharapkan apa-apa.

Seorang ibu yang mengandung anaknya, lalu melahirkan, setelah itu merawat dengan kasih, membesarkan dengan cinta, merawatnya dengan sayang, bukankah itu tidak dilakukan dalam rangka mencari dan mendapat imbalan? Jika bermotif imbalan, imbalan dari siapa? Kalau menuntut imbalan, maka orang tua mencatat semua pengeluaran untuk anaknya. Dan suatu waktu orang tua minta agar diganti sebesar yang telah dikeluarkan, atau lebih.

Saya kira tidak ada seorang ibu pun atau orang tua berpikir demikian. Kita menempatkan seluruh pengeluaran sebagai wujud cinta kasih. Saudara, kita pasti setuju semuanya dilakukan bukan dalam rangka imbalan. Terkecuali ada istilah dalam bahasa Inggris “Surrogate“, ibu pengganti. Rahim seorang perempuan yang dipinjam atau dititipi untuk tempat pembuahan sampai melahirkan. Dan perempuan itu memang dibayar. Di negeri kita praktik demikian belum bisa dan masih kontroversi.

Kini, pertanyaan Petrus dalam bacaan firman Tuhan di atas agak kurang lazim. Dia bertanya tentang imbalan, bahkan upah. Seolah-olah mengikut Tuhan Yesus bagaikan melakukan pekerjaan berpamrih. Dalam dunia kerja umumnya, hal yang dikerjakan mendapat imbalan berbentuk upah atau gaji. Dengan dasar pemikiran, kita bekerja menguntungkan pihak lain, dan pihak lain itu, juga harus menghargai pekerjaan kita. Dan upah adalah bentuknya.

Sementara itu, mengikut Yesus jelas yang diuntungkan adalah kita. Sekaligus, beriman itu bukan pekerjaan. Apakah perlu imbalan?

Saudaraku. Simon Petrus mempertanyakan imbalan apa dengan mengikut Yesus. Ia menempatkan menjadi murid Yesus harus diganjar dengan imbalan. Tidak mau menjadi murid Yesus tidak ada yang diperoleh. Dan rupanya Tuhan Yesus tidak menolak ide Petrus. Tuhan Yesus menangkap pola pikir Petrus yang ingin mendapat imbalan. Jawab Tuhan Yesus, buat Petrus bahwa mereka akan duduk di singgasana. Sedangkan mereka yang telah berkorban demi mengikut Yesus akan mendapat upah ganti seratus kali lipat dan hidup yang kekal.

Artinya, jika berbicara upah mengikut Yesus, Petrus atau semua orang beriman, termasuk Anda dan saya, jangan takut. Tidak perlu kuatir soal imbalan mengikut Yesus. Tersedia upah yang melebihi pengorbanan yang telah kita lakukan. Upah yang tidak bisa diberikan siapapun.

Saudaraku, dengan demikian panggilan kita lebih baik berkonsentrasi pada bagaimana kita tetap setia. Setia beriman, setia mengikut jalan-Nya, dan memelihara kesetiaan itu sampai akhir. Yang paling penting kita pikirkan adalah soal-soal hidup sekarang di dunia ini. Soal kehidupan kelak, soal sorga itu tidak perlu kita risaukan. Semua sudah disediakan Tuhan Yesus. Yakinlah, bahwa iman kita kepada-Nya tidak sia-sia. Tidak sia-sia selama hidup di dunia, juga tidak sia-sia untuk nanti kelak.

Ya, lebih baik kita fokus memelihara hidup yang tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Kita menerjemahkan iman dalam hidup sehari-hari. Dalam mengelola keluarga, dalam mengembangkan kerja dan karier, dalam bersosialisasi dengan sesama, dalam menjaga perilaku, dan sebagainya. Konsentrasi kita sekarang yakni mengasihi Allah dan manusia di dunia yang kita jalani ini. Pada hari Senin ini, bagaimana kita berkomitmen menyelaraskan corak hidup kita dengan kehendak-Nya.

Kita berdoa, Tuhan, dengan beriman kepada-Mu, jauhkanlah kekuatiran kami tentang imbalan mengikuti-Mu. Karena Engkau lebih mengerti harapan dan kebutuhan yang paling dalam. Ajarlah kami untuk setia berjalan mengikuti jejak Yesus, Juru Selamat kami.

Kami berdoa agar kami yang bekerja di kantor, atau WFH (di rumah), tuntun kami oleh tangan-Mu yang penuh kuasa. Agar kami aman waktu pergi, saat bekerja maupun pulang. Dan mereka yang beraktivitas di rumah pun Tuhan pelihara kesehatan dan keamanannya.

Kiranya semua anggota keluarga, anak-menantu-cucu bagian dari orang yang beriman, yang Engkau kasihi. Mereka bertekun dalam belajar, bekerja, dijauhkan dari bahaya dan kecelakaan. Semoga semua para buah hati kami semua riang gembira dan mempunyai tubuh yang bugar dan sehat.

Seluruh doa ini, kami naikkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

MENIKMATI HIKMAT ORANG BERHIKMAT

Oleh Pdt. Weinata Sairin

”Tetapi roh yang di dalam manusia dan napas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan
orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.”

Ayub 32:8–9

Dalam skema berpikir standar dan baku, hampir selalu dipahami bahwa orang yang sudah lanjut usia, sudah beruban rambutnya, diasumsikan lebih berhikmat. Oleh karena itu, mereka sering
diminta nasihat dan pendapatnya atau diminta duduk menjadi penasihat dalam suatu organisasi. Rambut putih dan khazanah kata-kata wisdom yang dimiliki, mampu menempatkan mereka
pada posisi khusus dalam masyarakat kita.

Skema berpikir bahwa yang beruban dan lanjut usia lebih berhikmat, ternyata dalam konteks Kitab Ayub tidak sepenuhnya berlaku. Diskursus yang berkembang antara para sahabat dan
Ayub, sebagaimana direkam dalam beberapa bagian Kitab Ayub, menggambarkan dengan cukup jelas berbagai pemikiran yang out of the box, pemikiran yang spesifik, yang tidak biasa, yang melawan arus.

Pemikiran cerdas bernas, penuh hikmat, dan diwarnai wisdom menurut Kitab Ayub, ternyata tidak hanya bisa keluar dari seseorang yang sudah lanjut usia, tetapi hanya atas kuasa roh yang ada di dalam manusia dan napas Yang
Mahakuasa! Usia tua dan rambut putih tidak serta-merta membuat seseorang mampu memproduksi kata-kata hikmat. Orang-orang muda yang rambutnya masih menggumpal dan hitam legam bisa saja memiliki hikmat, jika roh yang ada dalam dirinya itu dikuasai oleh napas Yang Mahakuasa. Oleh karena itu, mari kita berjuang dan berdoa penuh kesungguhan agar napas Yang Maha Kuasa itu menguasai diri kita, baik sebagai pribadi maupun komunitas atau
institusi. Hanya jika diri kita dipenuhi napas Yang Mahakuasa maka kata-kata kita, pernyataan kita, serta ungkapan kita mampu memproduksi ungkapan hikmat yang meneguh-teduhkan umat, dan bukan sebuah arogansi sekuler yang cenderung hedonistik dan kontraproduktif.

Relasi pribadi seseorang dengan Tuhan, melalui doa, membaca Alkitab, mendengar kotbah, membaca buku-buku keagamaan akan besar pengaruhnya dalam menambah khazanah kata-kata hikmat di dalam diri seseorang pada saatnya bisa dibagi dan atau dipraktikkan dalam kehidupan seseorang. Buku-buku filsafat, pemikiran seorang Nelson Mandela, Bunda Teresa, Rumi, Gandi, Confucius dan pemikir-pemikir dunia dari berbagai latarbelakang acap menambah dan mengelaborasi narasi-narasi hikmat yang ada dalam diri kita, yang berbasis pada agama yang kita peluk. Pemikiran Hans Kung dalam konteks dialog antar agama, misalnya acapkali kita rasakan memiliki benang merah dengan pemikiran yang berkembang dalam agama-agama.

Di zaman pandemi yang serba sulit seperti sekarang ini, kita harus lebih sering mengucapkan kata-kata hikmat, diksi-diksi elegan, ungkapan empati dan simpati, rasa kesalingan dan kekitaan, kebersamaan, gotongroyong, diapasi roh kolegialitas.
Jauhi dan hindarkan diksi-diksi yang melukai dan menghakimi, yang sarat dengan dengki, benci dendam kesumat berlabel SARA/denominasi. Tinggalkan sikap egoisme, keakuan, kekamian, primordial dalam segala bentuknya.

Kata-kata hikmat, ungkapan yang cool, damai sejahtera, bisa meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh. Ungkapan hikmat,cinta kasih, solidaritas mari kita mulai dari rumah kita, lalu kita bawa ke ruang publik.

Selamat Hari Minggu.
God Bless!