MENYUARAKAN SUARA-SUARA YANG BERSUARA

Oleh Weinata Sairin

Sonare inani voce

Bicara dengan suara kosong

Dalam kehidupan modern, peranan ”suara” sangat penting. ”Suara”,
dalam arti ’perkataan’, ’pendapat’, ’gagasan’, juga ”suara” dalam konteks pemilihan pimpinan dalam berbagai level, dan ”suara” dalam pengertian standar, semuanya memiliki makna yang penting. Dalam suatu acara penggalangan dana, panitia mengundang penyanyi top. Suara merdu sang penyanyi akan dilelang dan para tamu yang berkantung tebal akan ”membeli” suara itu. Andaikata pada saat yang sudah ditentukan sang penyanyi tak bisa datang karena ada masalah dengan ”suara”-nya maka upaya panitia menggalang dana bisa gagal. Padahal, karakter suara penyanyi itu amat khas, lembut melankolis, tak bisa dicarikan penggantinya.

Kita maklum bahwa karakter suara penyanyi amat spesifik. Dengan karakter seperti itu sang penyanyi cocok untuk membawakan lagu dari genre musik tertentu. Karakter suara dalam konteks menyanyi sangat penting. Orang yang menyanyikan sebuah lagu harus paham bagaimana karakter suaranya. Berdasarkan hal itu ia bisa memilih lagu yang pas.

Orang yang bersuara serak-serak basah tidak bisa menyanyikan sebuah lagu berirama keroncong dengan sempurna di suatu pentas musik, kecuali di kamar mandi. Itulah sebabnya, pada saat kita memasuki grup paduan suara, suara kita dites terlebih dahulu, apakah karakter suara kita lebih cocok untuk sopran, alto, tenor, atau bas. Dengan demikian, pada waktu kita berpaduan suara (koor), kita ditempatkan sesuai dengan karakter suara kita masing-masing. Sangat penting bagi kita, untuk memahami notasi sebuah lagu secara standar.

Di Sekolah Rakyat, lebih dari setengah abad yang lalu, para peserta didik dalam mata pelajaran menyanyi diajarkan lagu baru, dimulai dengan mempelajari not (angka). Seorang murid harus bisa membaca not angka sesuai dengan tangga nadanya dan tidak mengeluarkan suara yang sumbang (fals). Dengan demikian, sebuah lagu dipelajari dengan membaca notasinya. Dalam beberapa kesempatan upacara bendera terkadang kita masih mendengar suara yang fals dalam menyanyikan lagu.

Seorang mahasiswa di sekolah teologi biasanya mendapat mata kuliah
musik Gereja. Di situ dipelajari notasi lagu, bahkan not balok, sehingga jika
nanti mereka menjadi pemimpin umat, mereka akan mampu mengajari
umat bernyanyi dalam ibadah.

Suara yang bagus, merdu (dan tidak fals) amat penting dalam melantunkan pujian kepada Tuhan. Pernah terjadi lebih kurang 40 tahun yang lalu di sebuah Gereja di Jawa Barat. Dalam ibadah hari Minggu seorang pimpinan umat, yang notabene jebolan sekolah teologi, tidak paham notasi lagu. Ia mengambil nada tidak pas, mungkin karena ia kurang menguasai partitur sebuah lagu. Padahal, ia berada dalam posisi memimpin. Akhirnya, ibadah tidak bisa berlangsung khusyuk. Sang teolog menggunakan nada dasar C, sedangkan umat menggunakan E. Wow bisa dibayangkan!

Hidup modern kadang terasa kering dan membuat penat. Dalam konteks itu musik, sastra, dan bentuk-bentuk karya seni yang lain makin terasa perlu mewarnai kehidupan kita. Beberapa puluh tahun yang lalu, ada grup musik bernama Lingga Binangkit dari Bandung yang biasa membawakan lagu-lagu bernuansa Islami. Lagu-lagunya amat bagus karena ditata dalam format empat suara. Demikian juga grup Bimbo.

Paduan Suara Unpar Bandung, Paduan Suara Anak Indonesia, misalnya, untuk menyebut beberapa nama, sudah terkenal bahkan hingga mancanegara karena menampilkan suara yang sangat bagus. Suara-suara dalam konteks pemilihan pimpinan juga sangat penting, baik pada aras lokal, regional, maupun nasional. Suara-suara dalam
hubungan dengan Pilkada itu amat kental aroma politiknya, yang kadang-kadang tidak lagi senapas dengan ketentuan perundangan dan bahkan
menafikan nilai-nilai luhur ajaran agama. Aspek politik yang sarat dengan kekuasaan lebih mengedepan dalam konteks ini dan bukan politik dalam
konteks ”bagaimana mengelola sebuah ’polis’ dengan baik”.

Sebagai umat beragama, kita berharap agar warga bangsa kita tetap memiliki daya tahan keberagamaan yang tangguh, yang mengamalkan agama secara kaffah dan profesional dalam menjalankan peran sebagai
anggota partai politik.

Dalam konteks menjalankan aktivitas politik yang profesional kita berharap agar agama tidak dikerdilkan dan/atau direduksi
menjadi kendaraan, vehicle, instrumen politik (praktis). Pemikiran jernih
tentang peran dan posisi agama dalam sebuah NKRI yang majemuk yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 harus selalu kita suarakan. Pikiran tentang harmoni, tali silaturahmi, saling menolong, bahasa dan ”wording” yang respek terhadap kemajemukan, mesti selalu diperdengarkandan dikedepankan.

Suara-suara tentang persatuan bangsa, pengalaman empirik kelompok masyarakat dalam menumbuhkan toleransi, harus dibagikan kepada khalayak. Anggota parlemen, pejabat pemerintah, para tokoh masyarakat,
para akademisi, mari kita semua mengembangkan pikiran positif demi sebuah NKRI yang lebih baik. Kita harus lebih sering menggunakan kosakata ”saling”, ”kita”, “kesalingan”, “kekitaan”, “empati, “cinta kasih” dalam berinteraksi, apalagi dalam sebuah masyarakat majemuk. Mari ungkapkan suara-suara penuh persaudaraan; bukan ancaman, ujaran kebencian, dan/atau penghinaan. Ungkapkan kata dan suara memotivasi, bukan arogansi kelompok/golongan.

Pepatah kita mengingatkan agar kita jangan bicara dengan suara kosong: ”Bubarkan ini-itu!”, ”hentikan ini-itu!”, yang bisa dimaknai naif dan emosional. Mari bersuara yang beretika, cantik dan elegan sesuai dengan fitrah kita sebagai umat beragama dan berkepercayaan kepadaTuhan Yang Maha Esa. Suarakan suara-suara berwibawa dan bermakna di dalam rumah, di kantor, (di rumah-rumah ibadah), dan di ruang publik.
Takada pilihan lain!

Selamat Berjuang, God Bless!

Tuhan Mengasihi Seluruh Manusia

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kisah Para Rasul 10:35

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.”

Kisah Para Rasul 10:35

Saudaraku, diperlakukan secara berbeda bisa menyakitkan hati. Terutama diperlakukan lebih buruk. Seorang anak diperlakukan tidak sebaik saudaranya. Seorang karyawan tidak diberikan hak yang sama dibanding karyawan lainnya. Seorang warga negara tidak sama dan setara. Ketika kita mengalami pengalaman demikian, satu atau dua kali kita bisa bertahan. Kita hanya menyimpannya dalam hati. Namun, jika berkepanjangan perlakuan atas kita akan menimbulkan ledakan protes atau kemarahan.

Konflik di tengah keluarga bisa diawali karena ada yang tidak puas. Mengapa tidak puas? Karena bisa jadi, dalam keluarga itu diterapkan sengaja atau tidak sengaja praktik pembedaan. Istilah “anak emas” merupakan ungkapan bernada negatif. Yakni ada anak yang diperlakukan istimewa. Seiring dengan itu berarti, ada anak yang diperlakukan biasanya saja.

Saudaraku, Tuhan itu tidak memandang muka atau istilah lain tidak memandang bulu. Siapapun manusia di hadapan-Nya, Ia melihatnya sama dan setara. Setiap manusia yang mempraktikkan rasa takut kepada Tuhan, melakukan kebenaran dan berbuat welas asih kepada sesama, Tuhan menyayanginya. Tuhan itu tidak diskriminatif hanya karena suku yang berbeda: status sosial, ketampanan/kecantikan, kecerdasan, bangsa bahkan agama yang berbeda.

Banyak orang yang tidak siap ketika tahu Tuhan mengasihi seluruh manusia tanpa dibeda-bedakan. Ada manusia yang inginnya dan mencoba Tuhan dibatasi cinta-Nya. Seolah-olah hanya untuk dirinya, keluarganya, komunitas agamanya bahkan bagi kalangan kristen hanya pada Jemaatnya. Sadarkah bahwa ketika ada pola pikir demikian, kita memposisikan Tuhan telah membeda-bedakan manusia. Sekaligus membatasi kehadiran kasih Allah. Tuhan terkungkung.

Saudaraku. Kita ingat kisah Yunus. Tipe Yunus adalah orang yang tidak siap bahwa Tuhan mencintai siapapun. Keyakinan bahwa Tuhan mencintai semua manusia di luar kita, justru itulah Tuhan yang adil. Tuhan tidak mau ada sama-sama ciptaan-Nya terluka hatinya gara-gara Tuhan membeda-bedakan.

Di balik pemikiran bahwa Tuhan mencintai dirinya atau kelompoknya dan bahkan agamanya, tersimpan kesombongan cuma dirinya yang takut akan Tuhan, mengamalkan kebenaran dan bertindak welas asih. Padahal, dalam kelompoknya tidak sedikit ada yang tidak takut Tuhan, tidak mengamalkan kebenaran dan perbuatannya sadis serta tidak berperi kemanusiaan.

Saudaraku. Tidak hanya di keluarga. Pengalaman diperlakukan secara berbeda kerap terjadi di tengah masyarakat. Karena punya koneksi dengan pemegang kekuasaan, urusan dimudahkan. Berbeda dengan tidak punya koneksi, urusan bisa serba lama. Dipingpong ke sana kemari. Atau, ada tanda “K” di identitas KTP, lalu mengalami pembedaan. Karier dipersulit. Di masa pandemik ini, bisa saja muncul kekecewaan dari orang yang tidak mendapat bantuan, sedangkan tetangganya dapat. Perlakuan berbeda itu menyakitkan. Pengalaman pahit.

Syukurlah Tuhan Maha adil. Ia menghargai seluruh manusia ciptaan-Nya. Tidak memandang muka. Dan Dia mengampuni dan mengasihi mereka semua yang takut akan Tuhan, mengamalkan kebenaran dan bertindak penuh kasih kepada sesama (bandingkan Matius 7:21). Kita bersyukur mempunyai Tuhan yang demikian. Maka, kita musti menghindarkan mempunyai sikap diskriminatif. Memutuskan tindakan dengan tidak setara.

Kita berdoa, “Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Beserta para orang tua kami. Anak-anak kami. Cucu-cucu kami. Saudara sekandung kami serta para sahabat kami. Serta beserta semua sesama kami. Sehingga kami semua terpelihara dan aman bersama-Mu. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Dididik Mengasihi Sesama

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Galatia 3:28

Mentari telah terbit kembali di Timur. Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Cinta kasih Tuhan itu berkesinambungan, dari semalam hingga kini terus berlangsung. Kita bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.

Firman Tuhan hari ini, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

Galatia 3:28

Saudaraku, manusia adalah ciptaan Tuhan. Apapun keyakinan dan agama yang dipeluk. Dalam keragaman identitas suku, kebangsaan, adat kebiasaan berbeda-beda, tidak ada yang berani membantah bahwa Pencipta manusia itu sama dan esa, yaitu Allah. Sebagai orang Kristen kita bisa temukan kisah penciptaan manusia. Tegas dan jelas, Alkitab memberi kesaksian bahwa manusia dan makhluk hidup lainnya diciptakan Allah. Itulah keyakinan bahwa Allah itu esa (monoteisme).

Berabad-abad sejarah manusia diwarnai permusuhan, karena pengakuan yang kurang apresiatif atas mereka yang berbeda. Terutama berbeda agama. Merendahkan dan menjelek- jelekan satu sama lain. Dari sana konflik diawali dan permusuhan disulut. Kini, ternyata masih banyak sikap kurang toleran atas mereka yang berbeda. Agama bukan jadi perekat kemanusiaan, malah dipakai untuk membenarkan diri memusuhi yang lain. Bahasa agama bukan membangun persaudaraan, melainkan kebencian.

Buat orang kristen, berpalinglah pada Injil, di sana kita bisa temukan sikap Tuhan Yesus yang amat menaruh respek atas yang berbeda. Bahkan dijadikan contoh keteladanan. Kita ingat perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Padahal waktu itu, orang Samaria dicap tidak punya iman yang murni. Kisah perempuan Kanaan yang gigih meminta demi kesembuhan putrinya. Atau, kisah perwira Romawi, yang notabene berbeda keyakinan. Tuhan Yesus menyatakan tentangnya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.” (Matius 8:10).

Pada satu satu sisi, ada umat beragama mempergunakan agama untuk memusuhi yang berbeda. Sedangkan Tuhan Yesus bersikap sebaliknya. Jika orang itu baik, apapun agama dan kebangsaannya. Tuhan Yesus mengapresiasinya. Karena itu, ironis jika kita mengaku murid Yesus tetapi tidak menjiwai sikap dan tindakan Tuhan Yesus atas yang berbeda. Berarti pemahaman dan sikap yang tidak menaruh hormat atas yang berbeda itu, bukan bersumber dari spirit dan keteladan Tuhan Yesus.

Saudaraku, seharusnya bahasa agama adalah bahasa mempersatukan antar manusia. Siapapun manusia itu. Bahasa agama yang membuat kita merasa ngeri, penganutnya bersikap angker, sesungguhnya merendahkan keluhuran agama. Karena, bagaimanapun Tuhan Pencipta kita, menciptakan manusia buat saling mengasihi dan menyayangi.

Kita harus mengakui ada warisan sejarah, yang menyebabkan kita masih menyimpan curiga dan ingin serba menang atas yang lain. Sudah saatnya diganti dengan sikap yang bersahabat dan menghargai keyakinan dan agama yang dianut orang lain. Sikap ini tidak akan melemahkan dan mengurangi keimanan kita. Malah wujud nyata kesaksian kita. Kita dididik mengasihi sesama. Sedangkan sesama itu tidak dibatasi pada orang yang punya kesamaan. Melainkan juga mereka yang berbeda.

Tentu, kita tidak suka ketika sedang mencari tempat kost buat anak kita, lalu menemui ada tulisan “tidak terima kost buat yang non…”. Kita tidak happy, jika Anda menemui ada perumahan yang penghuninya dikhususkan beragama tertentu saja. Mengapa? Kita tidak suka agama dijadikan tembok yang memisahkan bukan jembatan yang mempertemukan manusia yang satu dengan yang lainnya.

Saudaraku, dalam surat Galatia, seperti yang kita kutip di atas. Itu nasihat sekaligus peringatan. Yakni panggilan kita sebagai orang percaya adalah bergaul itu dengan orang dari suku mana saja dan bangsa apa saja. Berteman dengan orang berstatus yang berbeda, demikian pula jenis kelamin yang tidak sama. Orang Yahudi jelas berbeda dengan orang Yunani. Kebangsaannya beda. Kebiasaannya tidak sama. Namun, sebagai orang kristen harus hidup membaur. Bersahabat dan membangun persaudaraan dengan yang berbeda itu.

Persahabatan dan persaudaraan sejati tidak akan tercipta. Yakni bila ada yang merasa paling benar, paling selamat, paling hebat. Segala ungkapan bernada merendahkan yang lain, yang berbeda, bisa menjadi tembok. Menghalangi kita berteman secara tulus dengan yang lain. Dan ungkapan bernada kesombongan sama sekali tidak diajarkan Kristus.

Kita ingat nasihat lama, ”belajarlah dari padi. Makin berisi makin merunduk”. Jadi, makin beriman harusnya semakin rendah hati dan semakin terbuka. Terbuka untuk berteman. Terbuka untuk bersaudara. Tidak makin tertutup dan takut dengan yang berbeda.

Senin ini, kita berbaur dengan siapa pun partner kerja kita, tetangga kita, teman sekolah, teman usaha dan teman seperjalanan kita. Dengan jiwa bersaudaralah pilihan terbaik kita, hidup bersama orang lain yang berbeda. Mari ikutlah teladan Yesus, jangan mengikuti jejak orang-orang yang mengajak mengedepankan permusuhan, kebencian dan keangkuhan. Kasih Tuhan Yesus merangkul semua yang Dia berkenan.

Kita berdoa, “Tuhan bangsa kami hidup di tengah beragam suku, budaya, agama dan kebiasaan. Semoga ini membuka kesadaran kami dan seluruh bangsa kami untuk saling menghormati hak hidup masing-masing. Demikian juga kesadaran kami, sebagaimana sikap Kristus yang mengasihi setiap manusia ciptaan-Nya.”

Kami berdoa buat para Oma-opa yang kondisi tubuhnya memerlukan topangan kekuatan dari Tuhan. Kiranya mereka mampu bersabar di dalam Tuhan.

Kami ingin berdoa untuk para anak-anak. Kami mendoakan agar kasih-Mu yang indah menyertai masa kanak-kanaknya. Semoga keluarganya bersuka cita dan berbahagia merawat dan memelihara mereka. Jadikanlah usia kehidupan mereka diisi dengan berbagai pengalaman indah bersama Tuhan dan sesama. Dalam nama Kristus, kami berdoa. Amin.

MEWUJUD NYATAKAN GEREJA YANG MISIONER

Oleh Pdt. Weinata Sairin

“Tetapi kita yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopogkan pengharapan keselamatan”

1 Tesalonika 5:8

Kekristenan tidak lahir dan hadir dalam sebuah dunia yang kosong dan steril, dunia yang putih bersih, dunia yang tanpa apa-apa. Kekristenan lahir dalam sebuah dunia yang sudah ”menjadi”, yangnyaris established dan mapan di zamannya.

Kekristenan datang berhadapan dengan struktur budaya, politik, dan agama yang sedang tumbuh dengan pengaruh kuat di dalamnya. Itulah sebabnya kekristenan yang datang dengan konsep (teologi) baru, budaya, dan paradigma baru di berbagai bidang ditentang, dihujat, dilawan, bahkan mencapai titik kulminasi dengan mengadili Yesus secara tidak adil dan menyalibkannya. Walaupun demikian, kekristenan tidak pernah berakhir dengan
kematian Yesus. Darah Yesus dan darah para martir telah membangkitkan kekristenan dengan kekuatan dan energi baru, melahirkan Gereja-gereja yang memenuhi seluruh muka bumi. Kekuatan kekristenan yang berlandaskan Injil, euangelion, yang adalah Kabar Kesukaan dan dunamos Allah, tak bisa lagi dibendung oleh kuasa mana pun yang ada di dalam dunia.

Gereja-gereja membentuk lembaga-lembaga pekabaran Injil dan dengan semangat misioner yang amat tinggi para misionaris/pekabar Injil
menyiarkan Kabar Kesukaan itu ke seluruh dunia. Injil tidak lagi merupakan sebuah ”produk lokal” dan ”produk domestik”. Injil telah merambah kelingkup global dan dikenal secara mondial.

Hal yang amat esensial yang acap diingatkan dalam surat-surat Perjanjian Baru adalah bahwa kekristenan minimal harus mengedepankan
dua hal signifikan yaitu bahwa ia adalah Jemaat Misioner, jemaat yang dinamis dan bergerak menyongsong ”Maranatha”, dan bukan jemaat yang apatis, membisu, dan loyo berhadapan dengan tantangan zamannya; dan bahwa kita adalah komunitas kristiani yang bekerja dalam terang, atau ”orang-orang siang” yang tidak berkolaborasi dengan ”kuasa kegelapan”.

Pemahaman tentang jemaat yang misioner atau kekristenan yang misioner menjadi amat penting agar Gereja dan kekristenan tidak berhenti sebagai kekuatan yang mapan, jumud, dan terpenjara pada roh-roh dunia, tetapi sebuah kekristenan yang berbasis Kabar Kesukaan dan tetap menjadi kekristenan yang energik, yang bersaksi, yang memberi pengharapan masa
depan bagi peradaban manusia.

Pada tahun 1970-an, Pdt. Dick Rudolf Maitimoe (GPIB) melakukan program pembinaan tentang membangun jemaat misioner dalam konteks Indonesia yang majemuk. Kata ”misioner” dalam konteks Gereja-gereja di Indonesia memberikan daya dorong kuat untuk mewartakan berita Injil di tengah medan yang amat sulit. Kita tidak boleh alergi dengan diksi “misioner”, seolah kata itu buatan para penjajah dan berkonotasi penaklukan satu terhadap yang lain. Istilah itu penuh dengan power, dunamos, semangat untuk memberitakan Injil yang di zaman now agaknya makin redup.

Surat Paulus kepada Jemaat Tesalonika sebagaimana dikutip di atas memberi lesson learn cerdas dan menyadarkan bahwa kita adalah ”orang-orang siang”, bukan ”orang-orang malam yang bersekutu dengan kuasa gelap” dengan baju zirah (baju tembaga), yaitu iman dan kasih, disertai dengan ketopong (helm pelindung kepala), yaitu pengharapan keselamatan.

Metafora ”baju zirah” dan ”ketopong” sengaja digunakan Paulus untuk menegaskan bahwa iman, kasih dan keselamatan sudah menjadi bagian (built in) dari kedirian kita. Dengan baju zirah dan ketopong kita terbebas dari kontaminasi roh-roh dunia. Sebab itu, kita akan mampu mewujudnyatakan kekristenan yang misioner, di kekinian sejarah.

Mari terus secara kreatif mencari bentuk-bentuk baru mewartakan Injil dalam era milenial. Gereja takboleh diam dan bisu. Gereja yang tidak punya hasrat mengabarkan Injil, ia kehilangan hakikatnya sebagai Gereja.

Beberapa tahun yang lalu seorang tokoh oikoumenis: Dr. SAE Nababan berdiskusi secara khusus dengan saya di kantor PGI bagaimana cara terbaik mengembangkan pekabaran injil di Jawa bagian Barat. Beliau bahkan akan mengajak Gereja-gereja lain dan mengupayakan dana untuk program itu. Melihat keseriusan Dr Nababan maka saya meminta pimpinan Gereja saya untuk menindaklanjuti hal tersebut dengan melibatkan beberapa orang di level pimpinan. Beberapa bulan kemudian Dr Nababan menjenguk saya tatkala saya dirawat di RS PGI Cikini. Saat itu beliau memberitahu bahwa program pekabaran injil di Jawa Barat, sebagaimana yang pernah kami diskusikan belum bisa terwujud. Jujur, saya merasa malu dan terpukul dengan realitas itu. Dan secara pribadi saya salut kepada tokoh sekaliber Dr Nababan yang tetap bersemangat tinggi mewartakan Injil.

Gereja-gereja tidak boleh terpenjara oleh Covid 19, Gereja-gereja harus tetap punya agenda untuk mengabarkan Injil!

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless!

Enough Is Cukup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ulangan 27:17

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara akhir pekan seraya mengucap syukur kepada Tuhan. Sebab, cinta Tuhan tidak mengenal jeda. Sampai kini, kita dan keluarga kita masih diberi tambahan umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, ”Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! “

Ulangan 27:17

Saudaraku, dalam diri manusia terdapat naluri dan hasrat mempunyai segala sesuatu secara berlebih. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa kekurangan itu membawa akibat kesusahan. Kurang uang. Kurang sehat. Kurang perhatian. Kurang makan. Hal kekurangan dalam hal tertentu, berdampak buruk bagi manusia, baik fisik maupun kejiwaan.

Kurang sehat mengakibatkan fisik menjadi lemah. Kurang uang menimbulkan perasaan murung. Kurang iman mudah mengeluh dan putus asa. Tidak heran, setiap manusia lebih menginginkan kelebihan daripada kekurangan. Apalagi kelebihan yang bersifat materi. Seakan-akan ada perasaan puas dan tenang jika hidup dalam kelebihan.

Tuhan pun memberikan Abraham, Ishak, Yakub dan tokoh lain dengan kehidupan melimpah secara materi. Hidup mereka dilengkapi tanah yang luas, hewan ternak yang lebih dari cukup. Bahkan sosok Ayub, misalnya. Dia “memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar…”. Fantastik sekali jumlah kekayaannya. Hidup mereka betul-betul sejahtera. Alkitab hendak menggambarkan nama-nama di atas hidupnya secara materi berlimpah. Tidak mengenal kekurangan.

Saudaraku, naluri ingin mempunyai lebih ternyata harus dikontrol. Sebab, jika itu tidak dikontrol bisa tergelincir jatuh ke dalam keserakahan. Akibat buruk dari keserakahan adalah ingin mengambil dan menguasai milik orang lain. Firman Tuhan tadi merupakan rambu-rambu buat manusia mematuhinya supaya tidak jatuh dalam keserakahan itu.

Dalam hal ini berbentuk bersifat peringatan keras agar tidak menggeser batas tanah milik pihak orang lain. Jelas, peringatan ini merupakan fungsi kontrol keserakahan. Dan bukan tidak mungkin, praktik yang suka menggeser batas tanah lazim terjadi.

Di jaman itu, bukti kepemilikan tanah belum berbentuk sertifikat tanah. Tanda kepemilikan tanah milik seseorang, hanya ditandai secara tradisional. Berupa batu atau pohon jadi penanda batas kepemilikan tanah. Dan terlihat betapa mudahnya orang berniat buruk mengambil tanah bukan miliknya, yakni dengan menggeser batas tanah. Orang Israel diperingatkan tidak boleh melakukan itu. Mengingat menguasai tanah bukan miliknya digolongkan perbuatan terkutuk. Sangsinya berat. Hidupnya kelak menderita. Tanah adalah sumber kehidupan. Tindakan mengambil dan menguasai tanah orang lain, itu sama dengan merusak sumber kehidupan seseorang. Itu tidak boleh.

Dengan demikian, pada satu sisi, Allah ingin melindungi hak kepemilikan atas sesuatu, termasuk sebidang tanah. Pada sisi lain, tidak menggeser batas tanah seseorang merupakan bentuk pencegahan hasrat memiliki lebih dan keserakahan seseorang.

Saudaraku, apakah kenal raja Midas? Tentu, ia bukan nama yang pernah hidup di negeri tercinta ini. Raja Midas adalah seorang raja yang ingin hidupnya sudah berlimpah, tapi ingin terus makin bertambah. Ia punya kemampuan, setiap tangannya menyentuh sesuatu maka yang benda yang disentuhnya berubah menjadi emas. Ia pegang tongkat, segera tongkatnya berubah menjadi emas berkilauan. Pegang kursi, wow, kursi itu berubah menjadi kursi emas. Tentu dia senang. Dengan kemampuan itu, ia berlimpah harta. Sebab emas ada di mana-mana.

Sampai suatu hari, anaknya kangen ingin dipeluk ayahnya, raja Midas. Sang raja pun sama, ia rindu memeluk anaknya. Anaknya melihat ayahnya segera berlari ke arah raja. Raja yang dikuasai perasaan rindu yang kuat, spontan membentangkan tangannya. Jatuhlah anak itu dalam pelukan ayahnya. Seketika itu juga, anak raja Midas berubah jadi emas. Sedih dan menyesallah sang raja.

Demikian, ilustrasi orang yang selalu berlebih tapi tidak mampu mengontrolnya. Akibatnya, ia memetik kesusahan dan penderitaan bukan suka cita dan kebahagiaan. Saudaraku. Keserakahan adalah racun kehidupan bukan madu yang memberi manisnya kehidupan. Orang kerap tidak berhasil menghayati pola hidup “sudah cukup”. Enough is enough. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan agar kita meminta dengan formula, “berikanlah makanan kami yang secukupnya. Sayang, banyak yang gagal.

Saudaraku, menurut WHO, lembaga kesehatan dunia, penyakit yang menempati nomor satu penyebab kematian seseorang dewasa ini. Yaitu, jantung. Terutama berkaitan erat dengan diabet dan kelebihan berat badan. Artinya, apa? Sekarang orang memkonsumsi berlebihan makanan yang masuk dalam tubuh. Manusia modern sulit menyatakan secukupnya. Termasuk membiarkan tubuhnya disuplai makanan berlebihan. Tentu, tidak hanya makanan, tapi juga hal lain selalu ingin berlebih tanpa daya mengontrolnya.

Kita berdoa, “Tuhan, ajar dan mampukan kami hidup dengan pola secukupnya. Hindari kami dari pola hidup yang membuat kami terjatuh dalam keserakahan“.

Kami membawa dalam doa, kehidupan kami hari ini. Semoga Tuhan memberi akhir pekan yang diwarnai kehadiran berkat dan kebaikan-Mu.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.