Menyambut Undangan Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 11:28

Selamat pagi, bapak- ibu, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Perjumpaan dengan Tuhan senantiasa membawa kita kekuatan dan rasa suka cita. Karena kita bertemu dengan kasih-Nya yang tak berkesudahan.

Firman Tuhan hari ini diambil dari ucapan Tuhan Yesus, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Matius 11:28

Saudaraku, sebuah undangan yang kita terima dari seseorang, menandakan bahwa ada relasi khusus antara kita dan pengundangnya. Undangan beraneka ragam, bisa seperti: undangan pesta pernikahan, undangan makan malam, undangan kunjungan kenegaraan, undangan mengikuti seminar, dll. Memenuhi undangan itu, biasanya memberi manfaat. Paling tidak, yang diundang akan mendapat sesuatu dan pengundang pun bersuka cita saat undangannya direspon dengan bentuk kehadiran.

Ucapan Tuhan Yesus tadi bersifat undangan, sekaligus ajakan. Ditujukan kepada siapapun, terutama terbuka bagi yang percaya kepada-Nya. Terlebih bagi seseorang yang sedang mengalami bagian kehidupan yang berat. Beban hidup yang menjadikannya lelah. Dalam hal ini, mereka yang bergumul dengan realitas hidup yang menguras tenaga, pikiran dan batinnya.

Dalam hal ini, orang yang sedang sakit, orang mengalami stress karena persoalan yang belum ada solusinya, sedang menghadapi usaha yang mengalami penurunan keuntungan, perkawinan yang diwarnai konflik berkepanjangan, pengeluaran ekonomi yang lebih besar daripada pendapatan, dan banyak lagi yang lain. Kita suka mengumpamakan realitas yang berat dengan kata “badai kehidupan”. Sedangkan kita berada di sebuah perahu. Sehingga badai itu membuat perahu kehidupan kita terombang-ambing. Oleng. Bahkan, tidak sedikit ada perahu kehidupan yang tenggelam tak terselamatkan.

Saudaraku, undangan Tuhan Yesus bukan sebuah tawaran basa-basi. Melainkan, tawaran yang kita yakini Dia akan memenuhi janji-Nya. Dia pasti memberi kelegaan, seperti yang dikatakan-Nya. Sebab, Dia-lah Pemilik kehidupan kita. Ia selalu penuh belas kasihan. Ia mengasihi kita. Ia pasti memberi kebebasan sebab Ia lebih besar dan berkuasa dari segala beban yang membuat kita letih dan lelah.

Saudaraku, salah satu bentuk kita memenuhi undangan-Nya adalah kita menghampiri-Nya dalam doa maupun ibadah. Hati, batin dan emosi kita yang terbeban, kita bawa dalam doa dan pujian. Kita tidak simpan sendiri hal-hal yang menyesakkan diri kita. Kita utarakan dan luapkan kelelahan batin kita. Dan membiarkan kuasa-Nya masuk, bekerja dan membarui diri kita. Dengan demikian, persekutuan kita dengan Tuhan Yesus dalam doa atau ibadah, memberi kesegaran dan langkah baru yang tegap.

Dan seperti di katakan tadi, saat badai kehidupan datang. Jangan sekali-kali kita keluar dari perahu dan melompat. Itu pilihan fatal. Kita bukannya selamat malah bisa nasibnya lebih buruk. Kita ingat pengalaman murid ketika bersama Tuhan Yesus dalam satu perahu. Ada badai datang. Mereka panik. Ketakutan menguasai mereka. Tapi, satu hal yang tidak mereka lakukan, mereka tidak melompat keluar dari perahu itu. Itu poin yang mengingatkan kita. Apalagi, Tuhan Yesus yang mengundang kita tentu tidak dalam keadaan tidur. Ia yang siap membantu dan menguatkan Anda dan saya. Mari hampirilah, jangan melihat ke yang lain ketika ujian hidup datang.

Kita berdoa, Tuhan, kami menyadari selama kami masih hidup di dunia ini, kami masih berhadapan dengan tantangan dan ujian hidup. Kiranya Roh-Mu yang menguatkan kami memperoleh hati yang lega dan hati yang tetap percaya kepada-Mu.

Kami ingin berdoa untuk saudara kami yang tubuhnya lemah dan sakit sejak lama. Harapan kami, kuasa-Mu bekerja atas tubuhnya. Dan obat-obatan yang dikonsumsi memberi efek pemulihan. Berikanlah istirahat yang baik. Kuatkan keluarga besar yang setia mendampingi dan terus menyerahkan pengharapan kesembuhan kepada-Mu, Tuhan.

Tuhan sertai para lansia dengan perjalanan panjang kehidupan yang sudah ditempuh. Kiranya semangat dan suka cita bersama mereka. Demikian juga para orang tua kami. Mereka yang mencurahkan kasihnya kepada anak-anaknya dengan tanpa pamrih. Kiranya di tengah pekan ini mereka berbahagia.

Seluruh doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MEMAKNAI ULANG KEBAHAGIAAN

Oleh Weinata Sairin

”Happiness is not something ready made.
It comes from your own actions.”

Dalai Lama

Dalam kehidupan sehari-hari, kata ”bahagia” atau ”kebahagiaan” acap kita dengar. Pada acara pernikahan, para tamu senantiasa menyampaikan ucapan ”selamat menempuh hidup baru; semoga berbahagia” kepada kedua mempelai. Tentu saja kata ”bahagia” memiliki definisi yang agak beragam.

Ada orang yang memberi definisi atas kebahagiaan ketika ia telah dapat memenuhi kewajibannya kepada istri dan anak-anaknya secara penuh. Ia telah memberi nafkah bagi keluarga dengan berkecukupan. Ia telah menyekolahkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan terbaik di kotanya. Saat itulah sebagai suami dan ayah ia merasakan kebahagiaan yang sempurna.

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi banyak arti terhadap kata ”bahagia”. ”Bahagia” dimaknai sebagai ’keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)’; ’beruntung’; ’berbahagia’. Jadi, kebahagiaan dikaitkan dengan kesenangan, keberuntungan, ketenteraman hidup, kemujuran, kenikmatan, dan kepuasan. Namun, harus dicatat bahwa istilah ”bahagia” atau ”kebahagiaan” lebih banyak dipergunakan dalam konteks relasi lelaki dan perempuan, relasi suami-istri dalam institusi pernikahan. Itulah sebabnya orang berbicara tentang pernikahan yang bahagia atau rumah tangga yang bahagia.

Ada perbedaan pemaknaan tentang ”bahagia” jika dilihat dari perspektif seorang pedagang, komposer, novelis, filsuf, politisi, dan psikolog.
Menarik untuk menghayati resep seorang Goethe dalam mencapai kebahagiaan. Ia menyatakan bahwa untuk mencapai kebahagiaan minimal ada tiga hal yang perlu dilakukan. Pertama, seorang harus cukup berdoa untuk mengakui segala dosa dan meninggalkan dosa. Kedua, cukup memiliki
cinta agar dirinya tergerak untuk berguna dan bermanfaat bagi orang lain.

Ketiga, meyakini keberadaan Tuhan. Seligman, seorang profesor psikologi, menyatakan tiga hal yang mesti dilakukan oleh seseorang untuk mengalami kebahagiaan. Pertama, have a
pleasant life.
Seseorang harus memiliki hidup yang menyenangkan. Kedua, have a good life. Terlibatlah dalam pekerjaan, enjoy dalam pekerjaan. Ketiga, have a meaningful life (life of contribution). Hidup dalam semangat melayani,
hidup yang bermakna.

Goethe dan Seligman membantu membuka horizon pemikiran dan cakrawala pandang kita untuk memahami makna kata ”bahagia” dan bagaimana mencapainya. ”Bahagia” memang sangat relatif. Seorang X menyatakan bahwa ia sudah berada pada tingkat berbahagia. Namun,
seorang Y menyatakan bahwa pada tahap seperti itu ia belum mencapai kebahagiaan sejati.

Bahagia memang sangat relatif. Walaupun demikian, tetap ada sebuah standar yang berlaku umum. Apa yang dinyatakan Dalai Lama dalam pepatah yang dikutip di bagian awal tulisan ini cukup menarik. Kebahagiaan itu bukan sebuah barang jadi, kata Dalai Lama. Kebahagiaan itu datang dari tindakan kita sendiri, dari upaya kita sendiri. Kebahagiaan tidak jatuh dari langit.

Marilah dengan doa dan kerja keras kita berusaha untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Bagi umat beragama, ukuran kebahagiaan kita terletak pada kesetiaan kita dalam menjalani perintah agama. Kita bahagia jika kita tetap berjalan pada jalan lurus, jalan yang telah di tetapkan Tuhan. Kebahagiaan sama sekali tidak tergantung pada harta, uang, jabatan tinggi, atau hal-hal duniawi lainnya. Kebahagiaan dengan ukuran-ukuran duniawi hanya mendorong hasrat berkorupsi, melakukan perdagangan orang, menipu masyarakat dengan arisan atau perusahaan bodong, membobol bank, cyber crime dan sebagainya.

Kebahagiaan itu terwujud jika setiap orang melakukan metanoia(Yun. bertobat), tobat nasuha, hidup memberlakukan perintah Allah, hingga maut menjemput.

Selamat Berjuang. God Bless!

Tanamkan Jiwa Mengasihi

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ulangan 6:5-7

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu Maha baik, Ia menghadirkan hari baru dengan kasih yang baru. Kita melewati malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Kini kita memasuki hari baru. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan refkeksi, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (6) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Ulangan 6:5-7

Saudaraku, setiap kebaktian Minggu ada bagian liturgi yang berisikan Hukum Kasih. Bagian ini disampaikan ke seluruh Jemaat yang beribadah. Tentu, dengan maksud agar semua mempraktikkan hukum kasih tersebut. Yakni, kasih kepada Allah, yang bersifat vertikal (ke atas) dan kasih kepada sesama yang bersifat horizontal (ke samping). Bolehlah kita katakan, hukum kasih itu standar kita berucap dan bertindak. Kita sudah atau belum memenuhi jiwa kekristenan kita, diukur dengan sudah menunaikan hukum kasih atau belum.

Ternyata, bagian firman ini menyatakan bahwa menanamkan untuk memenuhi kasih Tuhan tidak seminggu sekali. Tidak berhenti saat ibadah minggu. Didarah dagingkan dalam kesempatan apa pun agar kita menjiwainya. Sedang duduk, berbaring, tengah dalam perjalanan, pendeknya setiap momen berharga untuk menyelipkan pesan untuk mengasihi. Apa tidak bosan? Apalagi, saat kita harus menyampaikannya kepada anak2 kita, “apa mereka tidak jenuh?”

Saudaraku, dengan menanamkan jiwa mengasihi lewat segala aktivitas dan momen, memperlihatkan betapa pentingnya mengasihi. Kasih itu nilai utama kita. Tanpa itu, keroposlah kekristenan kita. Sementara itu, jika kita sedikit-dikit bicara kasih. Memang bisa bosan. Bosan jika kita bergaya mengkotbahi. Memakai metode menasihati yang menggurui. Terlebih, minus disertai contoh keteladanan. Bisa-bisa para anak kita mendengar tapi tidak menyimak.

Saudaraku, penanaman jiwa mengasihi kepada anak-anak kita akan efektif dan berkesan, saat mereka melihat kita terlebih dahulu mempraktikkannya. Sebuah perbuatan jauh lebih kuat daripada ribuan kata-kata nasihat. Dengan demikian, saat bangun, saat berbaring, saat dalam perjalanan, kita konsisten di mata anak-anak dengan sepenuh hati mengasihi secara konkrit. Mereka akan tercerahkan. Mereka terinspirasi. Dan mereka membatinkan dalam dirinya bahwa kasih itu indah.

Saudaraku, saat kita mengisi hari ini, mewujudkan tindakan kasih dengan penuh penjiwaaan. Sekaligus anak-anak kita ditanamkan semangat mengasihi. Niscaya, kita memetik indahnya hidup dalam kasih.

Dalam rangka mengasihi patut dihindari mengasihi diidentikan dengan hal perbuatan besar. Pagi ini tersenyum tulus. Menyapa dengan nada hangat. Mengucapkan hati-hati di jalan dengan wajah berseri. Kita mencium kening orang yang kita kasihi sambil berucap, “hati-hati, di jalan, sayang”. Betapa, kasih itu membuat hati kita dan anggota keluarga kita berbunga-bunga sepanjang hari ini. Mungkin, ada yang mengatakan “ah, lebay”. Tidak apa-apa lebay sejauh tidak merugikan pihak lain, dan malah menghadirkan keindahan hidup. Dan kita melakukannya bukan buat basa-basi. Tapi, karena kita bertekad kasih harus menjadi standar kehidupan kita sehari-sehari.

Kita berdoa, “Tuhan nyalakanlah api kasih di dalam diri kami hari ini. Sehingga kami menjadikan hidup penuh kehangatan cinta kasih.

Berkati aktivitas kami semua sepanjang hari ini. Kiranya aktivitas menjadi media kami menyalurkan kasih dalam wujud yang nyata. Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus Juru selamat kita.

Selamat beraktivitas.

Menabur Kekeliruan, Menuai Penyesalan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 2:22

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, opa-oma dan seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Dia memberi istirahat dan tidur dengan didampingi-Nya. Hari baru telah disediakan. Sungguh, Dia senantiasa Maha Baik kepada kita.

Petikan firman Tuhan untuk direnungkan, ”Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.”

1 Samuel 2:22

Saudaraku, masa tua adalah anugrah Tuhan. Sebab, Tuhan memberi kesempatan untuk melihat dan mengecap berbagai ragam peristiwa dalam hidup. Orang yang diberi usia panjang, bisa melihat dan menikmati banyak hal. Seseorang bisa melihat kehidupan dari sudut perkembangan transportasi. Mereka bisa cerita tentang jaman kendaraan oplet hingga busway, misalnya.

Sungguh kaya pengalaman menjadi orang tua. Apalagi ditambah punya kesempatan mengunjungi tempat-tempat indah di dalam negeri atau negara lain. Wah, makin berkesan diberi Tuhan usia yang tua. Tidak heran, banyak orang berdoa agar diberi panjang umur. Agar banyak hal atau peristiwa dapat dilihat dan dialami.

Selain itu, usia panjang sebagai pemberian Tuhan yang indah bagi kita, karena kita bisa mengikuti perjalanan karier, pertemanan atau perkawinan kita. Dalam perkawinan bisa merasakan saat masih berdua, lalu hadir anggota keluarga yang lain hingga menikmati indahnya dan manisnya kedatangan cucu. Bagaimanapun, pesona bisa berusia tua mendorong seseorang bersyukur atas pemberian Tuhan itu. Jadi kakek, opung, wow..sungguh bahagia dan bersyukur kepada Tuhan.

Sekali lagi, dengan kesempatan memasuki masa tua, maka tersimpanlah dalam memori kita, berupa pengalaman, peristiwa dan aneka pernak-pernik kehidupan yang mewarnai hidup kita. Tidak heran ada yang menyebut usia tua itu usin, usia indah. Ya, memang betul indah.

Saudaraku. Sayang sekali, imam Eli mengalami masa tua yang berbeda. Bukannya mengecap keindahan dan pesona masa tua, malah sebaliknya. Ia menjalani usia tua dengan kepedihan. Siapa yang tidak sedih, masa tua harus melihat fakta bahwa anak-anaknya tukang buat ulah. Perilaku anak-anaknya mencoreng muka orang tuanya sendiri.

Hopni dan Pinehas bukannya menjadikan ayahnya di usia tuanya bangga dan bahagia. Melainkan mereka malah membebani orang tuanya dengan pergumulan berat. Kedua anak imam Eli itu, mencemari persembahan kepada Allah dan mengumbar kehidupan seksual yang tidak senonoh. Perbuatan mereka tidak tahu malu. Sedangkan Imam Eli tentu terpukul, sedih dan merasa gagal, itulah yang dipetik imam Eli pada usia tuanya.

Dosa-dosa Hopni dan Pinehas sudah melampaui batas. Memang sebagai anak seorang pemimpin agama tidak ada seorang pun yang berani menegur. Orang-orang bisa saja sudah jengkel dan muak dengan perbuatan keterlaluan dua anak imam besar itu. Tapi, semua bungkam. Dan sikap diam orang-orang Israel, malah membuat Hopni dan Pinehas makin meraja lela berbuar kurang ajar.

Mereka melihat jabatan orang tua untuk melindungi kebobrokan perilakunya. Mereka betul-betul tidak tersentuh hukum. Dan memang betul. Siapa yang berani menjatuhkan sanksi atas mereka. Jangankan menjatuhkan sanksi, menegurpun mereka merasa enggan. Sedangkan nasihat imam Eli saja tidak digubris. Mereka mengabaikan pesan yang berguna untuk membaharui diri.

Hopni dan Pinehas merusak masa tua ayahandanya. Mereka tidak peka atas hati imam Eli yang gundah oleh sebab perbuatan mereka. Dan yang mereka lupa adalah, kalau manusia diam, maka Tuhan tidak diam. Tuhan tidak mentolerir perbuatan yang mencemari kehidupan pribadi dan dampaknya kepada umat Tuhan.

Saudaraku. Kita tahu ujung episode nasib anak-anak imam Eli. Mereka tewas mengenaskan. Sungguh masa tua bagi imam Eli, hamba Tuhan itu, menjadi masa muram. Momen yang menyedihkan. Hilangnya kebanggaan dan kebahagiaan.

Di sini, kita belajar bahwa masa tua kita sangat ditentukan oleh anggota keluarga kita sendiri. Dalam hal imam Eli oleh anak-anaknya. Karena itu, betapa pentingnya pendidikan budi pekerti dan takut akan Tuhan ditanamkan dengan baik oleh orang tua kepada anak-cucu.

Pendidikan karakter itu akan menentukan apa yang akan kita tuai nanti. Kita perlu lembut tapi tegas mendidik anak, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Jangan melakukan pembiaran jika mereka melakukan kesalahan. Memanjakan yang berlebihan sama dengan menuntun orang tua sendiri kelak menuai situasi sulit.

Kita patut mendampingi dan membimbing mereka dengan bijaksana. Dengan diam dan memanjakan secara keliru, itu sama dengan kita sedang menabur kekeliruan dan kelak menuai penyesalan. Ya, penyesalan disertai kepedihan nanti.

Buat kita sebagai anak, mari tatalah perilaku dan perbuatan yang mencerminkan niat dan kehendak agar membuat orang tua bangga dan bahagia di masa tuanya. Orang tua meski tidak kita taburi harta yang bergelimang, mereka akan senang jika perilaku anak-anaknya baik. Penuh perhatian.

Mari kita berdoa, ” Tuhan karuniakan kami tahu dan memahami mana tindakan salah dan benar. Bentuklah kami pribadi yang takut kepada-Mu dan penuh hormat atas orang tua kami, sehingga mereka tidak menuai kepedihan nanti atau pada masa tuanya.

Sertai para tua kami agar saat ini mereka bisa menikmati indahnya dan manisnya masa tua pemberian Tuhan.

Iringi kami, ya Tuhan, yang pergi belajar, kerja atau aktivitas lain. Iringi dengan keselamatan dan hari yang indah. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Mulai Dari Yang Kecil

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 16:10

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan memasuki akhir pekan. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Lukas 16:10

Saudaraku, setiap orang gandrung mendapatkan atau memiliki sesuatu dengan ukuran besar. Rumah besar. Gereja besar. Prestasi besar. Gaji besar. Negara besar. Termasuk mendapat kepercayaan besar dari pihak lain. Hal besar itu sangat disukai. Sebab, ukuran yang bersifat besar menunjukkan siapakah kita ini. Punya rumah besar, tanda sebagai orang kaya. Gereja besar menunjukkan pertumbuhan gereja yang membanggakan. Gaji besar menjadi bukti posisi baik seseorang dalam pekerjaannya.

Sebaliknya, yang kecil dalam hal tertentu kurang diminati. Coba saja, siapa yang mau bekerja ditawari gaji kecil? Begitu juga, orang tidak mau punya rumah kecil. Karena merasa kehilangan rasa nyaman. Ruang tamu pun bisa berubah jadi gudang penyimpanan barang. Prestasi kecil, menandakan pencapaian yang kurang greget. Tidak berarti lantaran tidak bisa mengkatrol popularitas diri bagi yang senang sorotan publik.

Mengingat hal kecil berkesan kurang greget, maka hal itu mengakibatkan seseorang atau orang banyak mengabaikan hal tersebut. Padahal, hal besar itu tidak ujug-ujug. Tidak juga jatuh dari langit. Orang bergaji besar, pasti dilatar belakangi kecakapan, prestasi, keseriusan kerja, lebih dahulu. Orang bergaji besar awalnya dari bawah. Gaji kecil dulu. Baru karena itu didukung komptensi dan kesetiaan, lama kelamaan merangkaklah posisi dan gajinya. Jadi, mulai dari kecil dulu. Karena itu, jika ada orang mencari kerja dan langsung minta gaji besar. Itu sudah keliru dari segi prinsip.

Lihatlah, contoh menarik jenjang karier Jokowi. Mulai dari kota ‘kecil’ dulu. Karena berprestasi, jujur dan pekerja keras. Orang percaya, dipilihlah dia sebagai gubernur. Setelah itu karena konsisten dengan prestasi dan kepribadiannya yang baik, terpilih jadi presiden. Bahkan sampai dua periode. Bandingkan, dengan yang belum pernah meniti karier dari walikota, gibernur. Lalu langsung ingin jadi presiden. Gagal dia. Karena orang belum melihat kesetiaannya dalam menunaikan tugas dari yang ‘kecil’ dulu.

Saudaraku, tepatlah yang dikatakan Firman Tuhan. Allah akan memberi kita hal-hal besar, jika kita sudah membuktikan setia dalam perkara-perkarw yang kecil. Jika yang kecil diabaikan, dan disepelekan. Itu sama dengan melepas peluang untuk mendapat perkara-perkara atau berkat-berkat besar dari Tuhan. Jadi, Tuhan menghargai orang yang menjalankan hal-hal kecil dengan serius. Akan tiba waktunya, Allah mengganjarnya dengan memberikan kepercayaan yang lebih besar. Jabatan pelayanan yang di mata manusia, “oh itu jabatan kecil”, biarlah komentar demikian tidak menghalangi kesetiaan kita. Demikian pun dengan hal lain. Mari kita terus setia sekecil apapun buat Tuhan dan bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

Kita berdoa, Tuhan, terima kasih atas pemberian hati nurani dalam diri kami. Kiranya melalui suara hati nurani kami setia atas kehendak-Mu.

Kami berdoa pula buat saudara kami yang telah memasuki lansia. Puji syukur Tuhan selalu mencinta mereka. Dulu, kini dan hari esok semoga berkat indah-Mu terus bersamanya dan keluarganya. Kiranya suka cita dan sejahtera dikaruniakan oleh-Mu. Berikan kesehatan dan panjang umur.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan.

Selamat menikmati akhir pekan.