Curahan Perhatian

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Filemon 1:16

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang dikasihi dan diberkati Tuhan. Malam telah berganti pagi, dan kasih Tuhan tetap mendampingi kita.

Firman Tuhan, “bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.”

Filemon 1:16

Saudaraku, salah satu kebutuhan hidup manusia adalah mendapat perhatian. Sebab, dengan menerima itulah manusia merasa berharga di mata sesamanya yang lain. Jika kita seorang istri, kita butuh perhatian suami. Dengan perhatian itulah kita tahu betapa sebagai seorang istri mempunyai arti di mata suaminya. Seorang suami yang hapal benar makanan kesukaan istrinya, dan suatu ketika sang suami membelikannya diam-diam makanan favorit istrinya. Tentu dapat dibayangkan betapa happy hati sang istri bahwa sang suami telah melakukan hal demikian.

Seorang suamipun rindu mendapat perhatian istrinya. Anak pun butuh perhatian orang tua. Manakala di tengah keluarga kebutuhan perhatian tak terpenuhi, maka bisa saja anak itu akan lari mencari perhatian ke komunitas atau teman bergaulnya.

Rasul Paulus usianya sudah tua, sakit-sakitan dan tengah mendekam dalam penjara. Kondisi seperti itu, siapapun memakluminya sebagai keadaan yang membutuhkan perhatian. Rasul Paulus secara fisik lemah dan tidak punya ruang gerak. Betapa saat-saat demikian ia sangat memerlukan topangan dan bantuan orang lain. Lazimnya manusia ia pun harus mendapat prioritas perhatian.

Di Jakarta, siapa yang suka naik bus transjakarta atau kereta komuter? Di kedua moda transportasi publik itu ada tertulis, “mohon kesadaran memberikan kursi kepada yang lebih membutuhkan”. Disertai gambar selain perempuan hamil, orang difable juga orang tua. Mereka digolongkan yang paling membutuhkan.

Sebuah contoh baik, bentuk perhatian atas orang -orang golongan tertentu, yang ingin dijadikan budaya publik. Artinya kebiasaan baik yang mau dijadikan perilaku bersama.

Rasul Paulus yang berada dalam kondisi usia lanjut, sakit-sakitan, berada di balik jeruji besi, tidak menuntut apalagi merengek-rengek menuntut perhatian dari orang yang dilayaninya. Padahal kita tahu, dia dipenjara karena Injil bukan tindakan kriminal yang dilakukannya. Ia berjerih lelah untuk melayani Tuhan, memberitakan Injil dan membangun Jemaat. Sungguh, masa tua hidupnya sulit sekali. Tanpa teman. Tanpa perawatan kesehatan yang memadai. Tanpa bisa menikmati udara bebas. Betapa berat situasi yang ditanggungnya.

Sebagai seorang pendeta, saya pagi ini terharu sekali dengan masa tua yang dijalani rasul Paulus dengan ketabahannya. Saya merasa melihat keagungan seorang hamba yang setia hingga di masa tua, meski ia tidak mendapat perhatian yang memadai tapi ia tidak menuntut atau mengeluhkannya.

Idealnya, rasul Paulus mendapat perhatian setimpal dengan jerih lelah perjuangannya. Ini tidak. Dan ia tidak mau menyusahkan orang2 beriman yang dilayaninya. Malah yang dilakukannya adalah ia meminta Jemaat mau menerima Onesimus, seorang hamba yang setia mendampinginya.

Artinya, rasul Paulus justru berkonsentrasi menaruh perhatian untuk orang lain. Ia mengabaikan kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini, ia berusaha agar Onesimus bisa punya kehidupan yang lebih baik. Onesimus adalah seorang hamba. Artinya seorang manusia kelas dua jaman itu. Manusia yang punya kewajiban tapi tidak punya hak. Rasul Paulus berjuang agar Jemaat menerima Onesimus sebagai saudara bukan sebagai hamba. Sehingga Onesimus mengalami perubahan status, yang otomatis nantinya berubah pula nasib hidupnya menjadi lebih baik.

Saudara, keagungan seorang manusia terpancar dari sikap dan perbuatannya yang mulia. Demikianlah Rasul Paulus, seorang hamba Allah yang setia sampai akhir dalam pelayanan. Sakit tidak menghentikan semangat pelayanannya. Jeruji penjara tidak dapat membatasi ruang gerak pancaran wibawa keteladanannya. Kesendiriannya tidak jadi alasan ia ogah-ohahan atau hambatan mengabdi bagi Allah.

Ia justru tetap berjuang agar Injil diberitakan. Dan ia mencurahkan perhatian buat orang lain, yakni buat Onesimus. Rasul Paulus terus memikirkan orang lain, bukan tuntutan buat kebutuhannya sendiri.

Saudara, inilah pelajaran rohani kita pagi ini. Saudara dan saya butuh perhatian, tapi kita harus membebaskan dari tuntutan egoistik. Artinya, kita jangan hanya berjuang terpenuhinya kebutuhan untuk kita sendiri saja. Kita pun berusaha keras agar pasangan hidup kita, anak-cucu kita, teman sekantor, bahkan orang tidak kita kenal sekalipun untuk mendapat perhatian pula dari kita.

Dengan demikian, kita membuat orang happy. Dan percayalah orang yang happy akan melahirkan aura dan tindakan membahagiakan juga. Alangkah indahnya hidup jika tercipta demikian. Semoga.

Kita berdoa, Tuhan, kami punya kebutuhan hidup penuhilah. Tuhan, tumbuhkan pada kami, hati yang mengalirkan perhatian buat sesama kami. Anak atas orang tua, orang tua buat anak. Kehidupan perkawinan yang saling berbagi perhatian. Persahabatan yang saling menguatkan. Dalam nama Yesus kami memohon. Amin.

Andai Nanti Ku Mati

Oleh Pdt. Weinata Sairin

Andai nanti ku mati
di lilit covid 19, serangan jantung, broncho pneumoni, kanker otak, kanker prostat,
atau karena apapun
tak usah bersedih berurai air mata
mati adalah kepastian yang pasti
malah hidup itu sendiri penuh ketidakpastian.


Covid 19 telah membunuh ribuan orang
covid 19 merenggut nyawa siapa saja
tanpa diskriminasi
tenaga kesehatan, negarawan, rakyat jelata
terpapar dan terbunuh oleh covid 19
mengenaskan.

Andai nanti ku mati dihantam covid 19
atau akibat apapun
ikhlaskan ku pergi dari dunia fana,
ku yakin Tuhan membawaku ke rumahNya, memasuki era ke kekalan

Pakaikan toga kependetaan di jasadku
kidungkan lagu-lagu gerejawi mengantar perjalanku yang panjang.

Pelihara buku karyaku,puisiku dan semua tulisanku
wariskan kepada Gereja
dan sekolah teologi

Andai nanti ku mati
direnggut covid 19 atau apapun
jangan tampilkan suasana duka
kenakan baju putih dan tenda putih
seputih hati kita memasuki era hidup kekal

Mengandalkan Pertolongan Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 17:45

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Allah itu tidak pernah tidur. Dialah yang menemani dan melindungi kita saat tidur malam. Dia juga yang memungkinkan kita bangun menyongsong hari baru. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah.

Firman Tuhan hari ini, “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.”

1 Samuel 17:45

Saudaraku, yang besar tidak selalu menang, yang kecil tidak selalu kalah. Ungkapan ini untuk menyatakan kemenangan atas sesuatu tidak ditentukan oleh ukuran besar-kecil sesuatu.

Jika kemenangan ditentukan ukuran besar-kecil, jelas perkelahian antara Goliat dan Daud sudah bisa ditebak. Goliat akan berada di pihak pemenang, sedangkan Daud di pihak yang kalah. Goliat tidak hanya tubuhnya besar, tapi juga seorang jago perang dan perlengkapan perangnya lengkap. Orang jaman itu akan ciut nyalinya berhadapan dengan Goliat. Kalaupun ada orang yang coba-coba memberanikan diri menghadapinya, paling-paling dianggap, “orang yang cari mati”.

Jika melawan Goliat berdasarkan pendekatannya ukuran, tidak ada lagi manusia yang sepadan dan mampu mengimbangi dia. Tapi, bukankah kita tahu, kisah ini justru kemenangannya di tangan Daud. Pemuda yang masih hijau. Tubuhnya tidak menjulang tinggi dan besar seperti Goliat. Pengalaman perang masih minim. Persenjataan perang tidak ada, cuma membawa tongkat dan sebuah umban.

Saudaraku, bimbingan Allah membuat percaya diri. Sehingga umban benda sederhana itu bisa menjadi penentu kemenangan Daud. Ya, umban dan batu itu yang Daud bidikan ke arah Goliat. Tepat mengenai persis di bagian paling terbuka yakni dahinya. Batu mengenai titik terlemah sang pahlawan Filistin. Tumbanglah raksasa itu, oleh pemuda yang berpostur kecil dan belum berpengalaman.

Saudara, sekali lagi jika mengandalkan postur, pasti Daud akan kalah dan Israel dipastikan akan berada di bawah kekuasaan Filistin. Dari pengalaman ini, Daud memberi kesaksian tentang sumber kemenangannya. Yaitu berupa ucapan Daud kepada orang Filistin, “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.”

Belajar dari pengalaman Daud. Allah yang menuntun Daud, sehingga meyakini langkah kemenangannya. Ia tidak panik. Justru akhirnya mengenali titik kelemahan Goliat. Dan Daud menggunakan keahliannya secara efektif. Tidak asal-asalan. Kelihatannya kekalahan telak Goliat ‘cuma’ oleh batu umban. Sesungguhnya, karena berjalan bersama Tuhanlah, sehingga umban dan batu bukan lagi benda sederhana. Melainkan berubah menjadi senjata mematikan (deadly weapon).

Dari sana kita bercermin. Kesuksesan tidak ditentukan besar atau kecilnya postur tubuh, atau faktor manusia semata. Sesungguhnya bimbingan Allah dan dipadukan keahlian Daud di sanalah kuncinya.

Saudaraku, terdapat hambatan dalam diri seseorang ketika dituntun Tuhan untuk meraih keberhasilan. Hal itu terungkap dari ungkapan, “diri saya tidak punya apa-apa”, “ah, itu saya tidak mampu, terlalu berat buat saya hadapi”, atau “ wah, gak mungkin, deh”.

Jika ungkapan-ungkapan itu melekat pada diri Daud, percayalah kita tidak akan menemui kisah Daud mampu mengalahkan Goliat. Sebab, cukup alasan Daud untuk mengatakan “saya tidak mampu”, “itu mustahil”, “siapa, sih saya”, ketika berhadapan dengan Goliat. Apalagi memang fakta Goliat itu tinggi-tegap, tubuhnya ditutupi rompi atau baju zirah agar tidak bisa dilukai. Pengalaman perangnya sangat kaya.

Saudaraku, bimbingan Tuhan dan kesadaran bahwa kita punya sesuatu dan kita mampu, bukan berarti sikap berlebihan dan tidak realistis. Sama sekali bukan. Sesungguhnya, itu modal penting menjalani kehidupan. Tanpa keyakinan itu, kita akan kalah sebelum maju berperang.

Selasa ini, mari kita berjalan membawa nama Allah. Selain itu, apa yang kita miliki sesederhana apapun, jangan sekali-kali dilihat sebelah mata. Tapi, kita yakin itu bisa menjadi modal berguna dalam menjalani kehidupan. Siapa sangka Goliat tumbang bukan disebabkan pedang yang tajam, justru oleh umban sederhana.

Saudaraku, kita tidak boleh takabur diri dan mengabaikan kekuatan Allah. Orang yang mengabaikan Allah bisa tumbang dalam hidupnya. Hendaknya kita tidak mengandalkan kekuatan semata-mata hanya pada yang namanya harta, popularitas ataupun kekuasaan. Sementara itu, nama Allah diabaikan. Niscaya siapapun kelak kecewa. Sebab, begitu menghadapi suatu masalah baru sadar, ternyata kita tidak bisa mengandalkan harta, popularitas dan kekuasaan.

Kita berdoa, Tuhan, ijinkan kami mengarungi kehidupan dengan mengandalkan pertolongan utamanya adalah kehadiran-Mu.

Kami berdoa buat orang tua, tangan Tuhan kiranya merangkul mereka dengan kehangatan cinta. Kami mengingat perjuangan dan pengorbanan yang mereka jalani tanpa pamrih. Karuniakan kesehatan dan hati gembira di masa tuanya.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.

Hadir Dalam Hening

Oleh: Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Raja-raja 29:11b-12

Selamat pagi, seluruh Saudara-saudaraku yang baik. Kita berjumpa lagi dengan sama-sama memasuki hari Senin. Mari, selaku orang percaya kita memberikan hati, suara, pikiran dan tenaga mewujudkan pujian dan syukur kepada Allah.

Firman Tuhan hari ini, “Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. (12) Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.”

1 Raja 29:11b-12

Saudaraku, setiap orang pasti mengalami kelelahan. Lelah setelah melakukan kegiatan fisik, seperti antara lain: memasak, menyetir kendaraan, berjalan jauh, dan olah raga. Tubuh kita capek dan nikmatnya rasanya jika duduk berbaring untuk istirahat. Kelelahan juga kita alami disebabkan faktor lain, yakni tekanan psikologis. Seseorang yang terkuras pikirannya bisa karena belajar, banyak pikiran yang bercabang-cabang atau disebabkan ketakutan tak kunjung habis. Itu pun bisa membuat seseorang lelah secara kejiwaan.

Seorang nabi tidak terkecuali. Dia bisa mengalami kelelahan, bahkan kelelahan fisik dan psikologis secara bersamaan. Pengalaman demikian, dialami nabi bernama Elia. Ia melarikan diri ke padang gurun. Melakukan perjalanan ke padang gurun pasti menguras tenaga. Panas, jauh dan haus menjadi satu. Pergi ke tempat seperti itu jelas membuat tubuh cepat lelah.

Selain itu, dia pergi ke padang gurun bukan buat piknik. Dia menyelamatkan diri. Nyawanya terancam. Dia bersembunyi dari kejaran tentara utusan Izebel, ratu yang mau membunuhnya. Tentu, perjalanan demikian, menguras pikirannya dan menggelisahkan hatinya. Pergi wisata meski jauh dan sulit, bisa membawa rasa senang di hati. Beda, dengan perjalanan Elia ini.

Secara fisik dan psikologis sang nabi, Elia lelah. Ia frustasi. Sudah mengalahkan 450 nabi Baal. Bukannya Izebel, sang ratu memuji tindakannya yang berani dan heroik itu. Ia malah berbalik hendak membunuh Elia. Sampai-sampai nabi Elia putus asa, “Sekarang, ya, Tuhan, ambillah nyawaku”. Ini ekspresi seorang yang amat lelah dan menyerah pasrah. Ada nada jengkel, sekaligus protes seolah-olah dia menghadapi kesulitan sendirian.

Saudaraku, apa yang dilakukan Allah untuk menunjukkan tanda Ia hadir, sekaligus memulihkan kelelahan fisik dan batin nabi-Nya. Allah memberinya makan. Ya, aktivitas sehari-hari. Bukan tindakan mujizat yang bombastis, tapi tepat. Makan adalah kebutuhan tepat buat yang lelah fisik agar segar kembali.

Selain itu, Allah datang dalam angin sepoi-sepoi. Tidak dalam bentuk yang “wahh..”. Allah tidak hadir dalam gempa yang dashyat dan angin kencang luar biasa. Setelah gempa datang api. Di situ pun Allah tidak hadir.

Lalu di mana? Ternyata Allah ada di dalam ketenangan. Angin sepoi-sepoi itu keheningan. Ya, melalui keheningan itulah nabi Elia menemukan Tuhan. Di tengah perjumpaan dengan Allah di tengah hal sederhana dan hening itulah, memancar kuasa Allah. Dari sanalah nabi Elia merasakan terjadinya pemulihan batin dan emosi yang lelah.

Saudaraku. Kita pun pasti mengalami kelelahan, sebagaimana pengalaman nabi Elia. Cara Allah memulihkan nabi-Nya yang mengalami kelelahan ganda, bisa juga dilakukan-Nya atas Anda dan saya. Makanan hal sederhana. Rutin. Tapi, sebenarnya di balik kehadiran makanan kita melihat kehadiran Tuhan yang setia memelihara.

Demikian juga, kita memerlukan keheningan. Saat teduh. Suasana yang tidak hiruk pikuk. Dalam keheningan itulah, kita menemukan Tuhan yang menyegarkan kembali pikiran, jiwa dan emosi kita.

Jadi, Tuhan hadir itu bisa dalam bentuk-bentuk sederhana. Ada Allah di balik hal kecil (small things). Hari ini, jika kita memasuki pagi, nikmati keheningan itu. Rasakan kehadiran Allah. Kini, masa pandemik orang yang tadinya suka ibadah yang ‘ramai’ dan ‘meledak’. Ibadah bagaikan panggung hiburan. Kini, diubah. Ibadah lebih sederhana dan keheningan. Kembali ke inti ibadah. Kita melihat Allah menemui Elia di saat hening. Sepi. Tapi, kuasa dan kehadiran-Nya dirasakan.

Kita berdoa, “Tuhan, saat kami lelah kiranya Engkau menemui kami, agar kami disegarkan ulang.

Kami juga berdoa, buat mereka yang terus setia kepada-Mu. Semoga berkat-Mu yang indah turun atas mereka dalam wujud kesehatan dan keamanan. Semoga mereka bersuka cita dan bahagia. Mereka masing-masing menyambut hari ini dengan kegembiraan.

Doa- doa ini kami panjatkan kepada-Mu dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MENGAKU ITU PENTING

Oleh Weinata Sairin

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga”.

Matius 10 : 32, 33

Sikap setia dan taat asas (konsisten) sangat diperlukan dalam kehidupan kita. Sikap itu mesti kita wujudkan dalam kehidupan keluarga, dan dalam kehidupan di lingkup yang lebih luas. Setia, konsisten artinya “tetap”, ” tidak berubah” , tidak mengikuti arah angin, tidak menyanyi mengikuti gendang orang lain. Setia, konsisten artinya stabil, tidak plin-plan, tidak mencla-mencle, tidak mudah berubah dan terpengaruh. Setia, konsisten juga berarti terang-terangan, tidak menyembunyikan diri, tidak bersikap abu-abu, tetapi tidak juga mesti demonstratif dan secara arogan mempertontonkan kesiapaan kita. Kita sebagai warga Gereja dituntut untuk setia tidak hanya pada “hal-hal yang besar” tetapi juga terhadap hal-hal yang kecil (Luk.19:17)

Dari pengalaman empirik kita mencatat bahwa ada banyak orang selalu terpukau pada sesuatu yang “besar” dan acap tidak peduli bahkan menutup mata terhadap yang “kecil”. Di Jemaat-jemaat kita juga acap terjadi semacam keluhan terhadap sikap pimpinan Jemaat yang acap lebih care pada ‘orang besar’ ketimbang ‘orang kecil’. Yesus sendiri meneladankan sikap yang amat peduli terhadap mereka yang dimarginalisasi oleh masyarakat di zaman itu. Yesus berdialog, menangkap aspirasi mereka, Yesus duduk bahkan makan bersama dengan mereka. Narasi dalam Injil mengungkapkan semua kisah itu dengan terang benderang yang mestinya menjadi referensi utama dari gerak pelayanan Gereja.

Setia dalam melayani dan setia dalam mengaku nama Yesus memang bukan hal yang mudah dan sederhana. Oleh karena itu pembiasaan dalam melayani dan mengaku harus dimulai sejak dini. Gereja-gereja sudah sejak awal menyadari tentang pentingnya kedua aspek. Per istilah, kata ‘pelayanan’, diakonia sudah menyatu dengan kedirian Gereja. Eksistensi dan presensia Gereja sebagai institusi yang melayani amat disadari dan difahami (Mrk 10:45). Dalam konteks kesadaran itu juga jika nama komisi yang ada dalam Gereja sebagian besar mengakomodasi istilah ‘pelayanan’, misalnya Komisi Pelayanan Perempuan, Komisi Pelayanan Lansia, dsb.

Bahwa kemudian ada orang yang beranggapan atau berpandangan bahwa hal yang berbau pelayanan itu seolah meniadakan profesionalisme, pandangan itu mesti dikoreksi. Berorganisasi, berpaduan suara, berkoperasi, mengelola keuangan, dsb dalam konteks pelayanan Gereja mesti dilakukan sesuai dengan standar profesional, tidak bisa dengan cara-cara kuno dan “amatiran”.

Setiap ibadah hari Minggu, umat mengucapkan rumusan teks Pengakuan Iman Rasuli (Symbolum Apostolicum). Rumusan itu yang biasa juga disebut 12 pasal Pengakuan Iman adalah sebuah kredo yang banyak digunakan oleh Gereja-gereja di Indonesia. Rumusan yang ada, dalam bentuknya yang sekarang dibuat sekitar tahun 750 diucapkan setiap hari Minggu untuk mengingatkan umat tentang inti kepercayaan kristiani yang berbasis kuat pada pemahaman Trinitas. Pengakuan Iman yang diucapkan dengan lantang, dan terkadang dengan sikap sempurna, mestinya dilanjutkan dalam kehidupan umat pada hari Senin -Sabtu ditengah dunia sekuler. Pelanjutan Pengakuan Iman dalam kehidupan konkret umat adalah bagaimana agar dimensi pengakuan itu diimplementasikan dalam tugas, pekerjaan, dan kehidupan umat dimanapun.

Dalam konteks implementasi itu, umat tidak boleh berada dalam posisi menyembunyikan kekristenannya, atau bersikap ragu terhadap agama yang ia anut agar ia bisa menduduki jabatan-jabatan tertentu dalam sebuah lembaga. Umat harus terus terang, dan terang-terangan tentang agama yang ia anut sehingga publik masyarakat disekitarnya jelas.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di beberapa institusi di negeri ini ada aturan-aturan tidak tertulis dan atau terselubung yang menyatakan bahwa yang bisa menjadi pimpinan di institusi itu adalah sosok beragama tertentu. Di sebuah universitas negeri misalnya ada ketentuan bahwa syarat menjadi rektor adalah yang bisa membaca ayat-ayat kitab suci agama tertentu. Ada juga satu dua orang warga kita yang tegiur dengan sesuatu jabatan sehingga ia dengan mudah meninggalkan Yesus Kristus dan berpindah ke agama lain.

Ucapan Yesus dalam Injil Matius 10 : 32, 33 yang dikutip diawal bagian ini amat lugas, tegas dan keras, dan sangat relevan di sepanjang zaman. Ada saja orang yang terpesona, terpukau, tegiur dengan pangkat, jabatan atau benda-benda lainnya yang dengan mudah menyangkal Yesus dan berpindah agama. Mereka terpenjara kepada kenikmatan sesaat, mereka tidak menghargai karya keselamatan yang telah diukir Yesus lewat penderitaan, siksaan dan kematian yang Ia jalani. Ada banyak orang yang menyangkal Yesus, yang berpindah agama yang kita tahu hidup dalam timbunan dosa yang menyesakkan. Kita harus setia kepada Yesus, kita harus mengaku namanya secara verbal juga dalam tindak nyata. Jika kita menyangkal Dia di kekinian dunia, Ia akan menyangkal kita di keakanan, di depan Bapa di surga. Pengakuan Iman yang kita ucapkan dengan lantang bahkan dengan sikap sempurna dalam kebaktian hari Minggu di gedung Gereja harus kita teruskan dan wujudkan pada hari Senin hingga Sabtu ditengah pandemi yang mendera, di luar gedung Gereja, secara kontinyu hingga maut merenggut. Mengaku itu penting!!

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God bless.