Aji Mumpung

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yohanes 9:4

Waktu terus bergulir. Malam berganti pagi. Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji Tuhan, seiring waktu yang terus mengalir Tuhan tidak pernah berubah kasih-Nya atas kita. Kiranya kita semua sehat dan sejahtera pada pagi hari ini.

Firman Tuhan hari ini, ”Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja”.

Yohanes 9:4

Saudaraku, pasti tahu sebuah judul lagu yang cukup terkenal “hidup ini adalah kesempatan”. Pengarangnya belum lama meninggal dunia. Dalam syair lagunya, ia memaknai hidup itu kesempatan untuk tidak disia-siakan.

Kata kesempatan menunjukkan ada waktu yang tengah kita miliki saat ini, besok bisa jadi tidak ada lagi. Dan yang namanya kesempatan bisa tidak terulang kembali. Sebuah ungkapan mengatakan, “ Engkau tidak dapat turun dua kali ke sungai yang sama”, (You cannot step twice to the river, for the fresh waters are ever flowing upon you).

Kesempatan identik dengan hal yang terjadi satu kali. Masa muda tidak akan pernah terulang lagi. Meski sekarang ada perkembangan teknologi operasi plastik yang membuat orang menjadi lebih muda penampilannya. Tapi, tetap saja masa mudanya jika sudah lewat tidak bisa dikembalikan lagi. Bukan hanya masa muda saja, banyak hal bersifat kesempatan.

Kumpul dan tinggal satu atap dengan orang tua dan saudara kandung itu juga kesempatan. Mengapa? Karena ada waktunya semua saudara kita memisahkan diri. Ada yang tinggal sendiri. Ada yang merantau. Ada pula yang menikah. Mereka punya kehidupan sendiri masing-masing. Jadi, kebersamaan keluarga pun bersifat kesempatan, karena kelak tidak akan terulang sama.

Tuhan Yesus juga berbicara mengenai kesempatan. Dia menggunakan kata “selama masih siang”. Istilah itu menunjuk bahwa kita masih punya waktu. Sedangkan kata “malam” mengandung arti berakhirnya kita bekerja. Dengan kata lain, hidup kita sudah berakhir.

Jadi, selagi kita hidup itu merupakan kesempatan. Karena jika sudah berakhir hidup di dunia ini, kita tidak bisa lagi berbuat atau berkarya apa2. Dengan demikian, Tuhan Yesus mengajak agar Anda, saya dan setiap orang beriman, tidak menyia-nyiakan waktu hidup kita. Selagi kita bernafas, maka itu pertanda masih siang. Dan panggilan kita untuk bekerja.

Bekerja di sini adalah berbuat baik. Tuhan Yesus mengajarkan, ketika kita melihat ada orang yang susah, bukan untuk menyalahkan dosa siapa yang menyebabkan hal itu. Melainkan, itu sebuah kesempatan bagi kita mengisi kebaikan untuk orang itu.

Selagi kita masih memiliki “hari masih siang”. Dalam bahasa populer sepadan dengan kata “mumpung”. Tapi, dengan isi dan tujuan positif. Mumpung kita masih hidup, kita melayani Tuhan. Kalau kita mati, justru kita yang butuh dilayani. Mumpung orang tua kita masih ada, kita cintai mereka semaksimal mungkin. Jika orang tua sudah tidak ada, kita tidak bisa menyapanya dengan cinta kasih.

Begitu pula, mumpung kita masih diberi kemampuan berjalan, silaturahmilah dengan saudara dan tetangga. Karena, jika sudah kena osteoporosis betapa menderitanya kaki kita untuk bisa melangkah. Mumpung kita masih aktif bekerja, dana yang kita miliki cukup tersedia, bantulah saudara dan orang-orang yang membutuhkan. Karena jika sudah pensiun keuangan serba terbatas.

Jadi, sikap bijak bestari akan menjadi milik kita, saat kesempatan itu kita manfaatkan sebaik-baiknya. Sebab dengan itu, kita bisa produktif berbuat baik. “Hari masih siang” mengingatkan kita, masih ada waktu berharga yang dikaruniakan Tuhan atas kita. Hal berharga yang jangan disia-siakan. Jangan dibiarkan lewat begitu saja, kita musti mengisinya dengan hal yang bermakna.

Hari ini, jantung kita masih berdegup. Orang tua atau saudara sekandung atau kerabat masih kita miliki. Saatnya buat kita mengunjungi mereka dan memperkuat bakti kepada orang tua. Mempererat ikatan persaudaraan. Kesempatan buat kita bersilaturahmi. Menjaga merekatkan relasi. Bagi yang telah sekian waktu hidup bermusuhan selagi masih ada kesempatan, berdamailah. Ubahlah relasi yang jauh jadi dekat. Yang benci jadi bersimpati.

Semoga juga, para elit bangsa kita memanfaatkan aji mumpung. Mumpung berkuasa, tatalah negeri ini dengan menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.

Mari, selagi “hari masih siang” kita tidak menunda-nunda apa yang harus kita lakukan. Karena kita tidak tahu hari esok. Selama masih siang, setiap orang berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Kita berdoa, “ ya, Allah, kuasai kami dengan Roh Kudus agar kami mampu mengisi dan memanfaatkan “hari siang” kami. Sehingga kami terus mengasihi-Mu, juga mengasihi sesama kami.”

Semua doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Pilih Yang Asli

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Matius 7:22-23

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki hari baru. Mari, kita memuji nama-Nya yang indah.

Firman Tuhan hari ini, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Matius 7:22-23

Saudaraku, dalam dunia barang2 ada istilah asli dan KW (baca kawe) atau imitasinya. Biasanya untuk barang-barang lux dan mahal selain ada produk asli, tapi juga tersedia barang kawenya. Nama-nama produk seperti, antara lain: tas Hermes, sepatu Bally, kaos Adidas, dll. Selain orang bisa beli yang asli, mudah juga membeli yang kawe. Tentu, keduanya berbeda. Beda kualitas, pun beda harganya. Yang satu lebih mahal sebab mutunya lebih baik. Sedangkan yang KW lebih murah. Tentu dengan kualitas tidak sebaik aslinya.

Meskipun demikian, konsumen barang-barang KW sudah sangat senang dan bangga mengenakan barang-barang KW alias tiruan. Mengapa? Karena nama labelnya. Orang suka menghibur diri, “gak, apa gak asli, yang penting merknya terkenal.” Apalagi didukung sulitnya membeli harga yang asli saking mahalnya. Sedang yang KW lebih terjangkau.

Saudaraku, dalam kehidupan iman ternyata ada tiruannya juga. Tuhan Yesus sendiri yang mengatakannya. Bahwa ada nabi-nabi palsu. Palsu berarti KW. Nabi KW ini juga menyandang nama kebesaran Tuhan kita Yesus. Lebih- lebih mereka berbuat hal-hal yang membuat decak kagum saking hebatnya.

Mereka bisa bernubuat dan membuat mukjizat. Mengusir setan pun bisa. Luar biasa, khan? Dengan ke-KW-annya mereka mampu memukau dan menarik banyak pengikut. Jelas, pengikut mereka silau dengan segala kelebihan para nabi palsu. Sayangnya, kelak Tuhan Yesus menyatakan kepada para nabi palsu, “Aku tidak mengenal engkau.”

Saudaraku, kekurangan nabi palsu adalah hidupnya tidak berbuah. Memang nama Yesus disebut. Disebut dalam mukjizat mereka. Nama Yesus disebut mereka pakai, ketika mereka mempraktikkan pengusiran setan. Nubuatan mereka.

Tapi, mereka minus melaksanakan pola hidup Yesus dalam keseharian mereka. Yesus adalah hamba yang menderita, sedangkan mereka mengagungkan hamba yang sukses dan kaya. Yesus berjalan mencari dan menghampiri yang sakit, yang hilang. Mereka mengutamakan dirinya yang dicari untuk dipuja dan dipuji. Pendeknya, dari buahnyalah nurani kita bisa menditeksi asli atau KW.

Di hari baru ini, saudaraku untuk tetap setia pada ajaran yang benar adalah perlu dan wajib. Memang lebih sulit. Jika tidak, kita akan mengikuti ajaran yang menarik, menyenangkan bahkan sangat meyakinkan kita, padahal membawa kita jauh dari keselamatan.

Dalam hal barang saja, kita berusaha memiliki yang asli. Apalagi soal ajaran dan iman janganlah kita bergeser dari yang asli. Jika tidak, kekeliruan itu membawa petaka besar. Ajaran dan iman yang keliru akan berhadapan dengan ucapan Juru Selamat kita, “Aku tidak mengenal engkau.”

Kita berdoa, Tuhan, tuntunlah kami agar kami tetap pada ajaran dan iman yang benar. Supaya kami terhindar dari bujuk rayu yang menggelincirkan kami dari kebenaran.

Tuhan, perkenankan kami mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Lindungi kami hari ini, Tuhan. Jauhkan kami dari ancaman bahaya dan kecelakaan. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.

Setia Dan Sabar

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Ayub 23:11-12

Selamat pagi, mas-mbak, bapak-ibu, opa-oma dan saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Allah yang menempatkan kita di bawah sayap pernaungan-Nya. Laksana anak ayam berada di bawah sayap induknya. Sehingga pagi ini, kita bangun dan menghirup kehidupan.

Firman Tuhan yang kita renungkan, “Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.”

Ayub 23:11-12

Saudaraku, betapa indah isi firman di atas. Menunjukkan tekad kuat dari orang yang mau tetap taat. Pernyataan orang yang berkomitmen mengikuti kemanapun Allah pergi. Sekaligus ingin menyimpan suara Tuhan di tempat terbaik pada dirinya, yaitu sanubari.

Mengapa saya katakan indah? Karena pernyataan itu terucap dari seorang Ayub. Sedangkan ia tengah berada dalam situasi berat. Harta yang tadinya berlimpah, telah sirna semua. Padahal harta bendanya sungguh berlimpah. Ia memiliki puluhan ribu ternak. Setara ratusan miliar rupiah. Jumlah yang bukan main.

Anak-anak meninggal oleh berbagai sebab. Sedangkan istri larut dalam kekecewaan dan tidak memberikan dukungan moral ataupun spiritual. Dari orang terkaya menjadi amat miskin. Tidak hanya itu, Ayub pun telah kehilangan kesehatan terbaiknya.

Jadi, ungkapan tekad itu lahir dari seorang yang tengah menghadapi kemalangan besar. Untuk orang biasa, mungkin bisa memerlukan penanganan dokter jiwa. Sebab beban yang dipikul amat berat. Ada yang hilang sementara, seperti harta benda. Ada yang hilang selamanya, yakni kematian anak yang dicintainya.

Bagaimanapun, tidak mudah menyatakan komitmen atau tekad mau taat pada saat menderita. Lebih mudah mengeluh dan menggugat. Lebih gampang menyatakan kata “mengapa?”. Mengapa saya jadi miskin, Tuhan? Mengapa anak-anakku mati, Tuhan? Mengapa istriku tidak tabah dan menemani di saat kesusahan berat, Tuhan?

Apakah Ayub tidak mengeluh? Oh, Ayub pun mengeluh. Tapi, ia lebih berpegang kepada Allah di tengah penderitaan. Dan ia menemukan wajah Allah sebagai Bapa yang Pengasih dalam penderitaan itu. Ayub memperlihatkan mau tetap setia dan taat pada Allah. Ini sungguh mental baja dan iman luar biasa.

Saudaraku. Dalam kehidupan nyata, kehilangan banyak hal yang berharga menyebabkan hati seseorang limbung. Semangat hidup hilang. Perasaan lesu. Gairah untuk melanjutkan hidup sangat rendah.

Betapa pahit dan teramat getir pengalaman Ayub itu. Ia harus kehilangan hal yang terbaiknya. Bukan hanya harta benda, bahkan juga sosok-sosok tercinta pun hilang selama-lamanya. Saya yakin, ini situasi yang stressfull. pengalaman berat tak terkira.

Orang yang tidak tahan akan stress berat dan depresi. Ia akan kehilangan energi terbaik dan kehilangan motivasi untuk bangkit. Tidak mau dengar nasihat. Waktu dan tenaga lebih banyak hanya untuk melamun dan melamun.

Orang yang tengah bergumul dalam situasi demikian, bisa hanyut dalam kepedihan. Merasa hidup tidak punya arti lagi. Ia merasa hidupnya hampa. Buat apa dan buat siapa lagi jika hendak bangkit. Seperti Ayub, Anak-anak sudah meninggal. Teman-teman menjauhi.

Jika Ayub tidak kuat, ia bisa lebih memilih menenggelamkan diri dalam kemasa bodohan. Sekaligus hanyut dalam kemurungan. Hebatnya, bukan itu pilihan Ayub.

Di sini kita kita melihat butir berharga yang diajarkan firman Tuhan melalui figur Ayub. Saudaraku, dalam situasi terburuk apapun, Ayub masih menyimpan rasa percaya kepada Allah. Semua memang sudah habis. Anak-anak tercinta, kesehatan fisik dan harta semuanya hilang.

Sedangkan teman-temannya hanya pandai menasihati dan menyalahkan dirinya. Seakan penderitaan itu berawal dari keberdosaan Ayub sendiri. Yang masih tetap mau di samping Ayub cuma satu. Dia adalah Allah. Allah tetap sabar menjadi Sahabat setia di kala duka.

Saudara. Kesetiaan dan kesabaran Ayub terbukti tidak sia-sia. Allah mengganjarnya. Ia memulihkan ulang. Saudara-saudara dan teman-temannya yang dulu menjauhinya, lalu mendekat lagi. Hartanya pun diganti berlipat ganda.

Hal kedua, dan amat penting. Segala sesuatu bisa berlalu dari hidup kita. Kesehatan, tenaga, jabatan, teman, uang, bahkan umur kehidupan kita di dunia. Karena semua itu bersifat fana. Sementara. Tidak kekal.

Saudaraku, di masa pandemik ini ada orang kehilangan sesuatu yang bersifat sementara. Seperti kehilangan pekerjaan, berkurangnya pendapatan.Tetapi ada pula yang kehilangan orang yang dikasihi untuk selama-lamanya karena terpapar Covid-19. Ada yang kehilangan suami, istri, anak, pendeknya yang punya hubungan emosional kuat sekali.

Semoga Allah terus menemani mereka sebagai Sahabat dan mengawalnya. Kasih-Nya yang kekal membuat mereka kuat.

Semua bisa berlalu namun Allah dan kasih-Nya selalu setia dan terus ada. Berbahagialah kita mendapat kasih-Nya yang kekal, yang membuat kita sabar dalam menghadapi segala seduatu.

Kita berdoa, “ya, Allah, kiranya kami terus mengikuti jejak-Mu meski hati dan perasaan kami pada saat tertentu tengah menghadapi ujian kehidupan. Engkaulah, Sahabat setia kami.

Kami berdoa, hari ini langkah kaki kami mengikuti jalan-Mu dan perbuatan kami memenuhi perintah-Mu. Di mana pun kami sedang berada. Di situ, kami menyenangkan-Mu dan membuat sesama kami tersenyum.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

PERKARA-PERKARA YANG DI PERKARAKAN TUHAN

Oleh Pdt. Weinata Sairin

“Enam perkara ini yang dibenci Tuhan bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hatiNya : mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.”

Amsal 6 : 16-19

Nilai atraktif sebuah dokumen tertulis, terkadang dipengaruhi tidak saja oleh isinya, kontennya, tetapi juga oleh bentuknya, oleh cara mengekspresikannya. Hal ini utamanya berlaku pada dokumen (tertulis) di bidang sastra dan juga di bidang teologi/keagamaan. Bahkan pada dunia sastra misalnya nilai atraktif itu sudah dimulai pada judul, judul novel atau judul puisi. Kita tertarik pada sebuah buku novel misalnya pada tahap awal pada lay out buku, desain cover, judul, penulisnya, penerbitnya, materi atau isu utama yang dibahas pada novel itu. Fakta-fakta itu yang kemudian memberi dorongan kepada kita untuk membeli atau tidak membeli buku itu. Ada juga faktor lain selain butir-butir 2tadi yang membuat kita terdorong untuk membeli sebuah buku yaitu tingkat kehebohan publik dalam mengomentari sebuah buku. Dalam kasus buku “Satanic Verses” atau “Ghost Fleet” tingkat kehebohan itu amat tinggi dan mendunia, sehingga kita memutuskan untuk membeli (dan membacanya).

Dokumen tertulis yang berisi peraturan perundangan, perjanjian kerjasama, dll sudah memiliki bentuk dan format baku yang ditentukan undang-undang sehingga tidak lagi dicari nilai atraktifnya, tetapi apakah diktum-diktum dalam dokumen itu telah mengakomodasi kepentingan para pihak, dan memiliki kekuatan hukum yang legitim.

Dalam hubungan dengan buku teks pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah, Pemerintah melalui PP 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan telah menetapkan kriteria buku yang layak untuk digunakan di sekolah. PP 19 Tahun 2005 Pasal 43 ayat ( 5) menyatakan bahwa “kelayakan isi, bahasa, penyajian dan kegrafikaan buku teks pelajaran dinilai oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Walaupun kriteria kelayakan sebuah buku teks pelajaran itu sudah amat jelas namun dalam praktik masih banyak buku teks pelajaran yang dibawah standar sehingga tidak lolos dalam penilaian BSNP. Pengalaman selama lebih dari enam tahun terlibat dalam proses penilaian Buku Teks Pelajaran dalam kapasitas sebagai Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ada kesan kuat bahwa aspek profesional dalam penerbitan buku belum sepenuhnya menjadi pegangan utama dari para penulis dan penerbit kecuali kalkulasi-kalkulasi yang lebih bersifat ekonomis.

Dalam konteks itu banyak sekali kasus-kasus kehebohan tentang konten buku teks atau aspek kegrafikaannya yang tidak mempertimbangkan aspek agama dan realitas konteks sosiologis masyarakat kita. Contohnya pernah ada buku teks pelajaran agama Islam yang kutipan ayat Al Qurannya ternyata tidak menggunakan mushaf AlQuran yang sesuai dengan ketentuan Kementerian Agama. Pernah juga terjadi ada gambar seronok menjadi ilustrasi buku teks pelajaran agama Islam yang menimbulkan protes publik. Beberapa kasus yang berhubungan dengan buku teks pelajaran yang menimbulkan reaksi negatif dari publik, memang dapat diselesaikan dengan baik. Kasus-kasus itu membuktikan bahwa adanya ketentuan perundangan tidak serta merta bisa melahirkan buku yang baik.

Kitab Amsal yang dikutip pada bagian awal tulisan ini memiliki makna yang amat khas dan spesifik baik dari segi bentuk narasinya maupun kontennya. Menurut para ahli PL ada 5 jenis sastra hikmat Sumeria, salah satunya adalah Amsal. Kata Amsal berasal dari kata Ibrani masyal yang kemungkinan besar diambil dari akar kata yang berarti “menyerupai” atau “dibandingkan dengan”. Pada mulanya Amsal sering merupakan semacam perbandingan (vide. Ams. 15 : 17; 16:24)

Kitab Amsal sebagai sebuah sastra hikmat difahami para ahli sebagai buku petunjuk untuk hidup yang berhasil. Dengan memaparkan kebiasaan hidup yang positif atau negatif kitab Amsal menjelaskan perilaku yang benar dan salah dalam berbagai keadaan. Kitab Amsal dalam gaya bahasa yang tidak terlalu sulit berfungsi untuk memberi penjelasan elaboratif tentang hukum Kasih (Im.19:6; Ul.6:5)

Amsal 1-9 ini adalah semacam bagian pendahuluan dari seluruh kitab yang menurut ahli PL tidak ditulis langsung oleh Salomo, dan naskah ini sudah dikenal sejak lk tahun 600 SM. Gaya penulisan Amsal 6:16-19 sangat spesifik. Kita lihat narasinya “Enam perkara…. bahkan tujuh perkara..”. Mengapa seolah penulis Amsal ini tidak pasti terhadap jumlah keseluruhan dari “perkara” (hal, isu, tema, things)? Bentuk seperti ini diulangi lagi pada Pasal 30:7; “Dua hal aku mohon…”

Sangat jelas imperatif dalam Ams 6:16-19 ini yang menyatakan bahwa 7 perkara yang dibenci Tuhan dan menjadi kekejian bagi hatiNya. Mata sombong, lidah dusta, tangan penumpah darah orang tidak bersalah, hati jahat, kaki jahat, saksi dusta, penyebab pertengkaran. Ketujuh hal itu secara sadar atau tak sadar, mungkin saja dalam berbagai bentuk telah kita lakukan dalam hidup kita dan itu nembuat kita dibenci Tuhan dan menjadi kekejian bagi hati Tuhan

Kita bersyukur diingatkanulang oleh penulis kitab Amsal agar kita tidak (lagi) melakukan hal-hal negatif seperti itu bahkan perbuatan negatif lainnnya yang dibenci Tuhan. Kita anak-anak Tuhan yang telah ditebus oleh Yesus dengan darahNya harus mewujudkan hidup yang menyukakan hati Tuhan. Hal itu tidak selalu mudah dalam dunia yang garang dan sangar seperti sekarang ini; tetapi tak ada pilihan lain !
Diksi “perkara” yang digunakan
dalam Kitab Amsal menarik bagi kita, oleh karena diksi itu dalam keseharian kita lebih banyak digunakan di didunia peradilan. Menurut pejabat LAI, diksi “perkara” tidak digunakan lagi dalam Akitab terjemahan baru yang akan beredar beberapa tahun lagi.
Sebagai umat beriman, kita memang tidak boleh diperkarakan oleh dunia peradilan, apalagi diperkarakan oleh Tuhan!.
Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu.
God Bless !

Mengajar Dan Mendidik

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Hakim-hakim 13:8

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah, “Lalu Manoah memohon kepada TUHAN, katanya: “Ya Tuhan, berilah kiranya abdi Allah, yang Kauutus itu, datang pula kepada kami dan mengajar kami, apa yang harus kami perbuat kepada anak yang akan lahir itu.”

Hakim-hakim 13:8

Saudaraku, kini makin banyak praktik kekerasan dengan korban anak-anak. Kekerasan atas anak-anak mengambil banyak ragam, kekerasan verbal (ucapan-ucapan yang melukai perasaan), kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Anak-anak yang rentan dan tidak mempunyai kemampuan fisik yang cukup untuk menolak, menjadi korban. Bagi pelaku anak-anak dijadikan sasaran empuk.

Fenomena atau gejala di atas tentu harus disikapi dengan bijak, perduli dan tepat. Kita tidak boleh lengah agar anak kita terlindungi. Pada sisi lain, kita jangan over protektif. Dalam arti berlebihan mengawasi dan menjaga anak-anak kita. Dalam suasana serba takut, lalu menghalangi aktivitas anak-anak kita terlalu ketat dan kaku.

Jangan sampai anak kita hidup terisolir dari pergaulan. Sehingga mereka serba takut untuk bergaul dengan orang-orang yang tepat. Anak-anak kita juga butuh bersosialisasi. Supaya mereka memiliki sikap mandiri dan berani masuk ke dalam dunia.

Jangan sampai dijuluki “anak mama”. Anak yang lebih banyak bersembunyi di dalam lingkungan yang terbatas.

Selain hal di atas, ada juga fenomena yang memprihatinkan kita. Anak-anak, mungkin lebih tepat kategori remaja dan pemuda, ternyata mereka pelaku kekerasan. Seakan mereka tidak pernah mengecap pendidikan budi pekerti atau etika.

Mereka melakukan ejekan dan hinaan kepada sesama usia mereka, bahkan pada taraf sangat menguatirkan. Apa itu? Yakni, melakukan pelecehan seksual. Ditemukan pelakunya adalah kalangan anak remaja dan pemuda.

Saudaraku. Kita tidak menginginkan pengalaman buruk itu terjadi atas anak, cucu, adik atau keponakan kita. Firman Tuhan pagi ini, merupakan permohonan dan doa Manoah. Dalam pandangannya, penting orang tua bisa memperlakukan anak secara pas sejak masih jabang bayi. Karena itu, Manoah memohon abdi Allah mengajarnya.

Permintaan Manoah demikian tepat sekali. Sebab mempunyai anak tidak cukup dengan menyediakan makanan, busana dan tempat tinggal. Hal itu memang amat dibutuhkan. Tapi, mendidik anak secara tepat merupakan tugas utama orang tua.

Manoah sadar bahwa ia butuh nasihat Abdi Allah. Ia mendambakan keselamatan calon bayi yang ada dalam kandungan istrinya, yang tadinya mandul. Sekaligus abdi Allah menanamkan pengajaran bersumber dari Allah.

Setiap pasangan suami-istri yang merindukan anaknya sehat dalam aspek etika, rohani dan kehidupan pergaulannya. Musti belajar dari sikap Manoah. Ia tahu, tuntunan Tuhan dan abdi Allah patut hadir dan diberikan peran. Agar nasihat mereka menjadi patokan. Saran mereka jadi rujukan.

Saudara. Firman Tuhan mengingatkan pertumbuhan manusia secara ideal harus mulai sejak dalam kandungan. Kini, malah ada metode memperdengarkan lagu instrumental klasik pada jabang bayi. Untuk apa? Agar sejak dini pengembangan manusia itu sudah harus dimulai.

Kita mengakui, dunia kita sekarang lebih maju secara teknologi. Teknologi membuat hidup lebih mudah, nyaman dan praktis. Tapi, mendidik anak, atau cucu, adik maupun keponakan tidak bisa dipercayakan kepada teknologi. Atau karena waktu orang tua terbatas, lalu segalanya dipercayakan kepada asisten rumah tangga.

Bagaimanapun, dari Firman Tuhan di atas, selain peran abdi Allah, betapapun peran seorang ibu tidak tergantikan. Dalam hal ini, demi keselamatan bayinya, seorang calon ibu harus hati-hati memperhatikan asupan baik makanan maupun minuman yang sehat. Gagal memperlakukan anak sejak dini, kelak melahirkan anak bermasalah.

Demikian juga, kehadiran nasihat Abdi Allah perlu diindahkan. Sebagai figur yang paham dunia agama, dia dipercaya berperan untuk menanamkan rasa takut pada Tuhan. Dan memberi nasihat pastoral kepada calon ibu, bagaimana merawat calon bayinya.

Melalui suara nasihat Abdi Allah, kita sadar sebaiknya sejak dini kita bertanggung jawab atas anak-anak. Firman Tuhan mengajak agar kita tahu dan mampu bagaimana kita memperlakukan (parenting) anak-anak kita secara tepat.

Kita berdoa, “Tuhan, tolonglah, kami insan ciptaan-Mu yang kerap melakukan kesalahan. Jauhkanlah tindakan, ucapan dan sikap kami yang keliru atas anak-anak, cucu-cucu atau keponakan kami.

Kami berdoa juga buat anak-anak, cucu-cucu dan adik-adik kami yang masih berusia muda sekali. Jauhkanlah mereka jadi korban maupun pelaku kekerasan. Semoga jiwa mereka ditanami benih kebaikan yang berasal dari Tuhan. Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.