MENTAL GRATISAN

Oleh Novembri Kristianto

Pemerintah memberikan bagi-bagi sembako gratis untuk rakyat miskin. Tapi banyak sekali yang salah sasaran. Mereka yang bisa dibilang dari kalangan menengah tetap mendapat bantuan.

Anehnya mereka yang menerima nyaman-nyaman aja tuh mendapatkan sembako gratisan buat rakyat miskin. Bahkan ada yang sampai protes karena tidak kebagian, padahal perekonomiannya tidak terlalu berdampak parah. (berkurang drastis sih pasti, tapi nggak sampe jadi kesulitan makan tiap hari).

Ini yang kusebut mental gratisan.

Waktu masih kecil setiap kali ada hari istimewa, seperti hari Natal, atau bertepatan dengan hari ulang tahun, aku selalu didorong oleh beberapa om atau tanteku untuk minta hadiah ke saudara yang lain; “tuh, minta sama Om A, duitnya banyak”, atau: ” Cepat minta, Tante B baru gajian..”, dan nyatanya memang seringkali aku mendapatkannya.

Tanpa disadari semakin tumbuh dan berkembang, kenikmatan mendapat hadiah cuma-cuma jadi sebuah candu yang diterima tanpa rasa bersalah.

Apa yang salah? Namanya juga dapet gratis. Dapet hadiah. Nggak salah dong..
Cara pikir ini membuatku mulai merasa memang ada yang salah. (Setidaknya menurutku)

Ketika akhirnya tiba saat aku bisa beroleh sesuatu dari hasil usahaku, ternyata ada kepuasan tersendiri. Ada usaha didalamnya. Jeri payah yang beroleh apresiasi. Pengalaman yang terdokumentasi. Ilmu bertambah, kebanggaan atas diri sendiri membesar.

Aku mulai sadar. Sifat lebih suka diberi membuat diri kita lemah dalam berusaha, merasa kurang bersyukur, atau merasa miskin.

Ketika seseorang menerima sesuatu tanpa usaha tetapi merasa tidak ada yang salah dengan itu, maka ia sedang menumpulkan kerja pikir kepalanya.

“Ah, sok kaya lu!”

Nggak bro!

Berusaha menolak pemberian cuma-cuma akan mengajarkan kita bahwa semua memang perlu usaha sehingga menjadi adil.

Ada buruknya? Tentu ada sisi negatif dari cara pikirku ini.

Ketika ada tukang parkir yang tiba-tiba muncul minta uang parkir, padahal sebelumnya nggak ada, aku merasa geram. (Tetap ngasih, tapi nggak rela!). Aku merasa cara kerjanya tidak sesuai dengan cara pikirku. Dia lebih seperti tukang minta-minta daripada penjaga parkir. Orang ini tidak mengerjakan bagiannya. Uang dua ribu perak jadi sangat berharga buatku. (Dibilang pelit juga gpp, bodo amat.)

Apa aku menolak pemberian gratis atau hadiah? Tergantung.

Setiap hal yang kita terima punya motif tersendiri. Jika sifatnya apresiasi dan nilainya wajar (sesuai UU KPK 😁) akan tetap diterima, jika punya tendensi akan dipertanyakan. Ketika sahabat memberi hadiah karena ucapan “selamat” atas sesuatu yang masih wajar, itu apresiasi. Itu adalah rasa kasih yang diwujudkan dalam bentuk hadiah. Tetapi pemberian gratis yang sifatnya “bantuan”, aku berusaha bilang Nggak! (Berusaha loh ya.. Karena memang jujur.. Dapet gratisan itu enak buanggeeed).

Yang jadi poin ku, setidaknya aku sadar ada yang salah dengan kita yang senang menerima bantuan gratis.

Jika kita punya kedua tangan dan kaki yang masih kuat tetapi membiarkan diri kita digendong oleh orang lain, semua jadi terasa kita menyiakan kemampuan diri sendiri. Kurasa itu berdosa.

Tiba-tiba aku jadi berpikir lebih luas lagi. Mengapa Indonesia kesulitan memberantas praktik korupsi? Ya karena mental miskin seperti ini. Padahal penghasilan sudah cukup, bahkan kalo dibuat beli nasi padang sederhana sehari bisa makan buat 10 keluarga, tapi kok ya masih korupsi.

Istilah Indonesia adalah negara yang kaya jadi seperti sebuah dongeng, padahal emang beneran kaya. Tapi manusia-manusia nya nggak mau berbagi. Merasa kurang terus harta dan kekuasaannya. Dan ini menurun ke lapisan paling bawah juga. Sampe tukang parkir! Sampai ke kita juga!

Apa aku akan korupsi, jika jadi anggota parlemen? Mungkin juga! Jika terlena.

Sok kaya jangan, tapi punya mental orang kaya itu harus! Mental lebih suka memberi daripada menerima. Karena Tuhan memang sudah menyediakan semua. Coba sadari lagi. Lihat ke bawah.

Karena jika kita merasa miskin, maka kita akan merasa kekurangan terus.

Dalam Alkitab sendiri ada ditulis dalam Mazmur 37:25;
“Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta”.

Dengan berpegang pada janji Tuhan itu, aku mencoba menjalani hidup. Sulit? Banget! Masih sering ngaco? Masih! Aku nggak naif.

Setidaknya terus berusaha.

Terakhir, ada sebuah kutipan dari Martin Luther King Jr yang bilang begini:

“Jika Anda tidak dapat terbang maka berjalanlah, jika Anda tidak dapat berjalan maka merangkaklah, namun apapun yang Anda lakukan Anda harus tetap bergerak maju.”

Tetap berusaha sebaik mungkin sampai akhirnya tidak mampu lagi dan baru kamu merasa berhak menerima bantuan orang lain.

Mengelola Harta

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Mentari telah terbit di Timur. Cuitan burung mulai ramai di pohon. Suara raungan kendaraan mulai terdengar. Itu sebagian tanda pagi baru telah tiba. Kita bersyukur dalam doa kita, atas kebaikan Allah yang mengantar kita melewati malam dengan aman.

Firman Tuhan berkata, “Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. (15) Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: “Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya.” Kis 16:14-15

Saudaraku, kekayaan bisa berwajah ganda. Kekayaan bisa menjerumuskan jika tanpa dikelola dengan mental yang benar. Lihat saja, orang yang dengan kekayaannya jatuh dalam hidup keberdosaan. Kecanduan narkoba, mengkhianati nilai suci perkawinan, dugem, dll.

Pada sisi lain, kekayaan yang dikelola secara tepat mampu membiayai kegiatan-kegiatan yang membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Uluran bantuan kepada yang mereka yang membutuhkan pertolongan, partisipasi kegiatan keagamaan, menjadi orang tua asuh buat murid yang kesulitan biaya, dsb. Kegiatan demikian membawa suka cita dan kepuasan batin. Sekaligus menciptakan orang lain tersenyum lega.

Demikianlah, kekayaan. Bisa menjadi alat yang membuat orang bahagia dan makin dekat Tuhan. Sebaliknya, tidak sedikit hidup seseorang tidak dibahagiakan oleh kekayaannya karena salah urus.

Lidia namanya. Seorang penjual kain ungu. Berarti dia seorang pengusaha tekstil dan pasti orang kaya. Dan pasti pada jaman itu ia tergolong perempuan terpandang di masyarakatnya. Ia punya hati terbuka atas pemberitaan rasul Paulus. Secara pribadi, dia belum kenal betul siapakah gerangan rasul Paulus, tetapi dia sangat menghargai pemberitaan yang benar tentang Kristus.

Orang kaya dan terpandang bisa godaan untuk bersombong diri. Karena, ia punya kelebihan dan bukan orang sembarangan. Berbeda dengan Lidia. Ia seorang kaya, terpandang, rendah hati dan peka atas kebutuhan orang lain. Tampak dari kesediaannya menerima untuk dibaptis. Sekaligus mengundang rasul Paulus menumpang di rumahnya.

Saudara, dua hal baik yang dilakukan Lidia. Ia menerima dan menyambut Yesus sebagai Juru Selamatnya. Yang kedua, dia memperlakukan rasul Paulus dengan sebaik-baiknya. Menumpang pada jaman itu sebuah kemewahan. Diperlakukan sangat baik dan dipenuhi kebutuhan hidupnya secara pantas.

Mengajak menumpang bukan hendak mempertontonkan derajat dan kekayaannya. Bukan. Ia mau menjamu tamunya sebaik mungkin. Rasul Paulus bisa beristirahat dengan nyaman setelah letih berjalan. Dan rasul Paulus bisa mengkonsumsi makanan yang mengembalikan kebugaran tubuhnya lagi.

Dua hal terpuji. Dan dua hal itu mencerminkan kepribadian orang kaya yang tahu memperlakukan kekayaannya dengan benar. Kekayaan membantu kita melakukan hal yang menyenangkan Tuhan. Seiring dengan itu, kekayaan membantu kita membuat orang lain bersuka cita.

Saudaraku, potret diri Lidia mengajarkan kita agar harta benda itu harus membahagiakan bukan menyengsarakan. Baik itu buat diri sendiri maupun orang lain. Di antara kita ada yang hidupnya berlimpah kekayaan, ada pula yang hidup dengan kekayaan terbatas. Ada yang bisa membiayai hidup yang mewah jika mau. Ada pula yang hidupnya sederhana dari hari ke hari.

Semuanya, patut agar kita bertindak dengan hikmat dengan kekayaan yang kita miliki. Entah banyak atau sedikit. Sehingga contoh baik dari perempuan pengusaha bernama Lidia dapat menggugah kita. Kita mau hidup dekat bersama Tuhan kita.

Berbarengan dengan itu, pelajaran bagaimana memberikan bentuk sambutan hangat atas orang yang dihormati. Bagi Lidia seorang hamba Tuhan pantas mendapatkan ungkapan hormat seperti itu darinya. Lidia peduli dengan kehidupan hamba Allah. Sebab, hamba Allah itulah yang mengantarnya masuk dan mengenal Kristus. Dan hamba itulah yang membaptis dia dan keluarganya. Jadi, bukti hormat dan bahwa dia sungguh orang percaya, terlihat dari bagaimana ia memperlakukan hamba Tuhan.

Kita berdoa, “Tuhan, biarlah seluruh isi rumah kami percaya kepada-Mu. Dan kami bisa mengelola kekayaan kami, seberapun yang kami punya. Kami mengaturnya buat kemuliaan-Mu, membahagiakan diri sendiri, keluarga kami, teman-teman kami dan sesama kami. Tanamkan rasa hormat serta perduli kami kepada hamba yang Engkau percayai untuk memberitakan kebenaran-Mu.

Tuhan, Kami ingin mengerjakan hari ini hal yang terhormat dan terpuji, buat-Mu dan sesama kami. Kuatkan dan mampukan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Pembentukan Karakter

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik dan yang dikasihi Tuhan Allah. Segala aktivitas di rumah dengan segala pengalamannya kita jalani. Dan kita bersyukur, Tuhan setia menemani dan melindungi kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Tuanku sendiri telah bersumpah demi TUHAN, Allahmu, kepada hambamu ini: Anakmu Salomo akan menjadi raja sesudah aku, dan ia akan duduk di atas takhtaku. Tetapi sekarang, lihatlah, Adonia telah menjadi raja, sedang tuanku raja sendiri tidak mengetahuinya.” 1 Raja 1:17-18

Saudaraku, betapa indahnya jika kita diberi panjang umur oleh Tuhan. Dan keindahan itu menjadi lengkap bilamana dijalani dengan tenang. Dikelilingi anak-menantu-cucu atau kerabat keluarga yang akur satu sama lain. Di saat seperti itulah, manusia mensyukuri perjalanan panjang yang telah ditempuhnya. Rasa bangga dan senyum puas akan mengisi masa senja kehidupannya. Tidak heran orang suka memimpikan dan berdoa agar Tuhan memberi panjang umur.

Kita beranggapan suasana demikian hanya milik eksklusif orang yang punya jabatan dan dilimpahi kekayaan. Dengan asumsi jabatan dan kekayaan, seseorang tidak akan kekurangan untuk memenuhi berbagai keinginan di masa tuanya. Tidak perlu kerja keras, sebab bukankah segala sesuatu serba mudah terpenuhi. Ingin wisata tinggal pesan ke biro wisata. Ingin makanan favorit tinggal order online atau mengunjungi restoran yang menawarkan jenis kuliner macam-macam. Sayangnya anggapan demikian, tidak sepenuhnya benar.

Tentu, materi yang cukup dan ditopang punya kedudukan tinggi bisa membantu masa tua dihabiskan dengan tenang dan bahagia. Tapi, bukan itu yang paling menentukan. Sikap dan karakter anak-menantu dan cucu yang terpuji harus disadari berpengaruh besar atas masa tenang kehidupan seseorang.

Apa maksudnya? Alkitab mengajak kita mendapat pencerahan. Kita belajar dari masa tua raja Daud. Bisa dikatakan di masa tuanya, ia tidak kekurangan apapun. Hartanya untuk ukuran jaman itu dan jaman sekarang pun lebih dari cukup. Terlebih lagi, meski sudah uzur raja Daud masih memegang tampuk kekuasaan. Namun, jangan katakan masa tuanya sepi dari masalah. Justru gonjang-ganjing keluarga harus ia hadapi di masa tuanya.

Antar anaknya saling berebut naik tahta. Satu sama lain saling menyalip agar bisa mewarisi posisi pengganti raja Daud. Dalam hal ini, Adonia dan Salomo. Keduanya mengklaim paling pantas untuk menggantikan Daud.

Kutipan firman di atas, adalah upaya seorang ibu, Betsyeba, yang tengah memperjuangkan tahta bagi anaknya, Salomo. Pertama, ia menagih janji kepada Daud bahwa Salomo yang telah dijanjikan Daud menggantikannya. Kedua, Betsyeba menginformasikan bahwa tanpa sepengetahuan Daud, Adonia telah bertindak lancang dan melangkahi. Yakni telah mengangkat dirinya sebagai raja, tanpa sepengetahuan Daud.

Bisa dibayangkan, di istana ada dualisme kepemimpinan. Ada dua raja dalam satu istana. Suhu politik pasti panas. Pasti terbentuk kelompok pro dan kontra.

Ada yang memihak dan mendukung Adonia, karena dijanjikan sesuatu yang menggoda. Dan pasti ada juga yang loyal kepada Daud sebagai raja yang sah. Situasi demikian, jelas merenggut ketenangan masa tua raja Daud. Ia terbelit konflik keluarga, antara mendukung Adonia yang sudah mengklaim menjadi raja. Atau, memenuhi janjinya menjadikan Salomo sebagai penggantinya.

Saudaraku, Adonia adalah produk salah asuh. Selama ini ia sangat dimanja Daud. Segala keinginannya dikabulkan. Akhirnya, walaupun ayahnya masih hidup dan masih sebagai raja yang sah, Adonia dengan tanpa sepengetahuan dan ijin Daud, ayahnya, mengangkat diri menjadi raja.

Di sinilah, Daud harus menuai kekeliruan dalam hal pembentukan watak yang ditanamkan pada anak. Sehingga anak tersebut justru merusak suasana masa tua Daud. Keluarganya terbelah oleh konflik perebutan kekuasaan.

Saudaraku, karena itu jangan remehkan pembentukan watak atau karakter yang tepat atas anak-anak kita. Sebab, watak itulah yang akan menuntun masa depannya. Sekaligus juga memberi efek pada masa tua ayah dan ibunya. Sejak dini Daud tidak menanamkan disiplin dan etika yang benar pada Adonia.

Lihat, akhirnya, dia berani melangkahi wewenang orang tuanya, Daud, sang raja. Saudaraku, banyak orang yang hidup masa tuanya kacau. Balangsak, kata orang Sunda. Bukan karena faktor ketiadaan materi. Bukan. Tapi, karena salah didik orang tua atas anaknya. Pembinaan watak yang kurang pas.

Memasuki hari jumat ini, kita patut mengevaluasi. Apakah hari-hari lalu kita sudah menunaikan pendidikan watak atau karakter yang tepat untuk anak kita? Mereka butuh tidak hanya makanan dan minuman yang menyehatkan fisik mereka. Anak-anak tidak hanya perlu busana dan alat teknologi.

Mereka pun butuh, makanan dan minuman yang menyehatkan jiwa dan mental mereka. Sikap penuh kehangatan dan perhatian. Agar dalam kehidupan tubuh, jiwa dan iman, mereka pun sehat. Dan di masa tua kita tidak menuai sesal dan kecewa.

Kita berdoa, “Tuhan, terima kasih kami sudah menjalani hari2 dengan banyak tinggal di rumah. Mampukan kami orang tua menunaikan tanggung jawab mendidik anak2, dengan pembentukan karakter yang berkenan di mata-Mu dan sesama kami.

Doa pagi ini, kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Rindu Itu…

Oleh Pdt. Stefanus N. Parinussa

Pembacaan Alkitab: Mazmur 84:2-13

Rindu… Kata inilah yang beberapa hari ini sering saya baca, sekaligus mungkin juga ada di pikiran kita. Ya, kita rindu untuk bisa berjumpa, rindu untuk bercengkrama, rindu untuk saling bercerita, terlebih rindu bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan di gedung gereja ataupun di rumah-rumah anggota jemaat pada waktu Kebaktian Keluarga atau Kebaktian Rumah Tangga.

Kebersamaan kita sebagai keluarga besar umat Tuhan adalah bagian dari perjalanan hidup kita bersama. Dan kerinduan itu masih harus kita tahan lagi karena situasi dan kondisi negara kita yang belum memungkinkan untuk bisa berjumpa secara fisik, terlebih melalui surat pastoral PGI dan Majelis Sinode gereja kita masing-masing yang memutuskan perpanjangan waktu pelaksanaan ibadah di rumah masing-masing anggota jemaat.

Saya teringat almarhumah Ibu saya, yang selalu mengingatkan saya untuk selalu pergi ke gereja setiap minggu. Almarhumah selalu menyempatkan datang ke gereja (saat itu di GKP Sumedang) walaupun kadang fisiknya sedang kurang fit, misalnya karena asmanya kambuh. Dan sepulang kebaktian, almarhumah nampak bersukacita karena merasa “kewajibannya” telah dilaksanakan. Mungkin benar yang dikatakan seseorang bahwa jika tidak pergi ke gereja di hari minggu, rasanya kita merasa punya “hutang”. Dengan kita pergi ke gereja dan beribadah ada sukacita yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Raja Daud pun merasakan hal yang sama. Ia begitu rindu untuk datang ke rumah TUHAN. Ia mengatakan bahwa “betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!” (ayat 2). Daud merasakan kehilangan yang amat sangat tatkala ia belum bisa datang ke rumah TUHAN, ia katakan: “jiwaku hancur merindukan pelataran-pelataran TUHAN” (ayat 3). Ada dua hal yang Daud rindukan tatkala datang ke rumah TUHAN yakni perjumpaan dengan TUHAN Allah dalam ritual yang dilakukan dan perjumpaan dengan orang-orang yang selalu rindu memuji dan memuliakan TUHAN di rumah-Nya yang kudus. Lebih jauh Daud mengatakan: “Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau” (ayat 5). Bagi Daud, rumah TUHAN selalu membawa kebahagiaan dan kesukacitaan, karena itu ketika lama tidak menginjakan kaki di rumah TUHAN membuat dirinya merana, kehilangan bahkan berduka yang amat sangat. Karena itu dengan tegas Daud mengatakan: “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik” (ayat 11).

Kerinduan Daud adalah kerinduan kita sebagai umat untuk bisa bersekutu bersama lagi di gedung gereja kita. Kerinduan kita untuk bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan. Kerinduan kita untuk berjumpa dan bersama-sama saling menopang, saling menguatkan, saling menghibur. Dan ketika saat ini kita belum dapat berkumpul bersama di gedung gereja, kita diingatkan tentang berharganya kebersamaan itu, berharganya persekutuan itu. Tuhan memang belum mengizinkan kita untuk melepas rindu dan berjumpa secara fisik, tetapi kita tetap bisa terhubung melalui kebaktian yang kita laksanakan di rumah masing-masing secara virtual dengan tata kebaktian, nyanyian dan renungan yang sama sesuai gereja kita masing-masing. Berjumpa dalam kuasa Roh di dalam doa-doa kita bersama, dalam ibadah kita dan tentunya melalui renungan ini.

Mari kita nyatakan rindu kita terhadap persekutuan kita, saudara-saudara seiman kita bahkan gedung gereja kita melalui doa bersama. Marilah kita saling mendoakan satu dengan yang lain, apapun gereja kita bahkan apapun agama dan kepercayaan kita. Kita yakin dan percaya, ada waktunya kita akan berjumpa bersama dan melepas kerinduan kita secara fisik “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan.. berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!” Amin.

(Stef)

Resiliensi, Inovasi, dan Kebersamaan

Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121:1-2

Jawa Barat adalah salah satu daerah di Indonesia yang akrab dengan bambu. Pohon-pohon bambu tumbuh subur di berbagai tempat di propinsi yang, konon, saat diciptakanTuhan sedang tersenyum. Jika kita melancong ke Ciwidei, misalnya, kita akan disuguhkan pemandangan pepohonan bambu yang memajang berderet-deret di sisi jalanan yang berkelok-kelok.

Bambu memang tidak sekeras jati. Namun, bambu yang beragam jenis memiliki daya lentur yang luar biasa. Bambu Petung dapat menjadi tiang penyangga rumah yang cukup kokoh; jenis yang lain bisa dianyam sebagai dindingnya. Bambu pun dapat dirangkai menjadi aneka perabot dan hiasan. Bambu bisa dijadikan dipan atau kursi, tempat kita berbaring dan bersandar. Daya lentur menjadi kekuatan yang membuat bambu mudah ditata menjadi apa saja.

Di Jawa Barat, bambu diolah menjadi angklung yang melenting dengan nada-nada indah sampai mancanegara, dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Seperti pepohonan bambu yang selalu tumbuh bersama, angklung pun harus dimainkan bersama. Satu angklung, satu nada. Ketika digoyang menurut irama, keindahan dan kemegahannya tidaklah kalah dengan tuts-tuts piano seorang maestro. Malahan di sinilah kekuatannya, semakin banyak yang bermain, irama angklung akan semakin megah dan terasa begitu indah.

Dalam bermain angklung, setiap orang dengan permainan nadanya sangatlah penting, dan pentingnya itu baru akan terasa dalam sebuah permainan bersama. Jikalau terlepas sendiri-sendiri, memang setiap angklung itu masih ada nadanya, tetapi tak ada faedahnya, sebab tidak mampu mengiringi sebuah lagu yang selalu beragam nada. Paling banter, kalau terlepas sendiri-sendiri, angklung tidak lebih dari sebuah barang pajangan. Maka, dalam bermain musik bambu angklung, personalitas dan kolektivitas dihargai dan dirayakan. Inilah persisnya arti kolektif-kolegial dalam kepemimpinan. Sepakati lagunya, dan kita mainkan bersama nada-nada indah menurut irama lagu yang dipandu sang dirigen.

Itulah filosofi bambu. Filosofi yang terbayang saat membaca pengalaman seorang peziarah yang menulis: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121:1-2). Saat membayangkan gunung atau pun perbukitan di tatar Sunda, yang muncul di kepala saya adalah gugusan pohon bambu. Tuhan, sebagaimana yang kita yakini, selalu ada sebagai penolong bagi kita, terlebih-lebih di masa susah sekarang ini. Namun, Tuhan juga mau kita belajar, antara lain belajar dari bambu yang Ia tanam bergerombol dan berderet-deret di banyak tempat di bumi Priangan dan Indonesia.

Dari bambu, kita belajar mengenai resiliensi, yang secara sederhana diartikan sebagai daya lentur. Kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi. Bukan supaya situasi mengendalikan kita, tetapi kitalah yang mengendalikan situasi. Apalagi, kalau kita yakin seperti sang peziarah itu bahwa Tuhan selalu ada sebagai penolong dan pemelihara, maka semestinya kita dapat menguasai diri dan mengendalikan situasi.

Dengan daya lentur itu, niscaya kita pun akan bisa berinovasi. Apalagi, situasi yang kita hadapi saat ini adalah situasi abnormal, tidak biasa. Kondisi ini memaksa kita untuk berimprovisasi dan meng-arrangement ulang lagu kita. Yang penting kita tahu bersama lagu apa yang hendak kita iringi dan nyanyikan. Kita tahu tujuan dan target yang hendak dicapai. Kita memang harus merespons cepat kondisi dan berani berimajinasi serta mengembangkan pendekatan dan kreasi-kreasi baru dalam situasi abnormal, agar kita bisa up-normal. Kita dapat melenting dengan daya lentur dan inovasi untuk mengatasi krisis di masa pandemi.

Untuk itu, diperlukan juga kesehatian memadukan setiap nada. Setiap orang dengan potensi yang berbeda-beda harus bersatu, bersinergi, bekerja-sama dan sama-sama bekerja menurut irama. Setiap kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Walaupun secara personal kita memiliki kecerdasan, kekayaan, dan kemampuan yang luar biasa besar. Jika berjalan sendiri, kita tidak lebih dari barang pajangan yang tidak berfaedah. Kekuatan personal kita harus berpadu dengan kekuatan yang lain secara kolektif, sehingga dalam spirit kolektif- kolegial kita bisa beradaptasi dengan lentur, mencapai target, bahkan melenting dan bertransformasi menjadi pribadi dan komunitas yang signifikan dan relevan dalam beragam situasi.

Mari kita belajar dari filosofi bambu. Belajar melentur dan melenting bersama dalam irama.

Tuhan memberkati kita.

(Penulis adalah pendeta UK. Maranatha)