Kebaikan Yang Membangkitkan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Dan kita masih melihat birunya langit, tanda kesetiaan kasih Allah atas umat-Nya.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.” Mazmur 103:5

Saudaraku, bersediakah Anda menyebutkan dalam hati kebaikan Tuhan di hari kemarin? Saya yakin tentu mudah Anda menemukan dan menyebutkannya. Jangankan kebaikan hari kemarin, hari-hari sebelumnya, saya tetap yakin, Anda masih mengingat dengan baik lalu menyebutkan dalam hati. Demikian pula, untuk waktu-waktu yang telah lama kita lewati pun, bukan mustahil Anda masih mengingat kebaikan Tuhan yang Anda jumpai dan cecap. Kita ingat, karena pengalaman kebaikan selalu menggoreskan kesan mendalam.

Kita punya ruang memori untuk menyimpan peristiwa kebaikan. Terkecuali orang berwatak Malin Kundang, melupakan kebaikan dari seorang yang amat mengasihi demi kepentingan prestise atau gengsi. Bagi kita kebaikan manusia saja kita tetap ingat, apalagi kebaikan Allah. Yaitu tadi, karena menorehkan kesan di hati.

Saudara. Dalam berkomunikasi dengan orang lain, di dalam prosesnya ditaburi dengan pujian. Baik berbentuk kata-kata maupun berbentuk simbol. Ketika mendapat pesan WA, dan Anda merasa terkesan dan senang. Kemungkinan besar Anda merespon dengan mengirim balik gambar jempol tangan. Bukankah itu simbol pujian? Kita sangat suka memuji langsung ke segala kalangan, mulai kepada teman, atasan atau anak buah, pemimpin politik, atlit idola sampai kepada anak-anak, cucu atau saudara sekandung sendiri. Anda masih ingat sebuah iklan yang menggambarkan rasa senang dan pujian seorang nenek atas cucunya dan berkata, “Eh, cucuku sudah bisa berdiri”. Sekali lagi, pujian lahir dari rasa kagum dan terkesan sehingga terekspresikan melalui ungkapan kata-kata maupun bentuk simbolik tertentu.

Saudaraku, pemazmur memuji Allah. Tentu karena ia terkesan dengan kebaikan Tuhan. Paling tidak ada lima kebaikan Tuhan atas dirinya: Allah mengampuni, menyembuhkan, menebus, memahkotai dan memuaskan. Semua itu yang mendasari pemazmur memuji Allah. Jadi, pujian yang tulus dan sungguh-sungguh lahir dari perjumpaan dengan kebaikan Tuhan. Pujian tulus lahir dari pengalaman nyata dan langsung. Jika kita memuji anak-anak kita yang menyanyi padahal kita tidak mengalami keindahan penampilan mereka, itu pasti didorong cuma untuk memberi semangat. Itu cuma agar membuat anak-anak senang belaka. Pujian kurang bumbu, sebenarnya.

Banyak orang memuji sebenarnya karena basa-basi. Pujian kosong. Pujian yang berangkat tidak dari pengalaman mengesankan yang sesungguhnya. Bahkan, maaf, ada pujian yang bersifat menjilat. Cuma mau menyenangkan orang lain belaka. Dan ada pujian dilontarkan dalam rangka untuk mendapat imbalan tertentu. Meminjam pepatah kita “ada udang di balik batu”.

Saudaraku, kebaikan Tuhan itu riil. Nyata. Konkret. Tidak hanya buat pemazmur tatkala ia menuliskan mazmur ini bahwa kebaikan itu nyata. Begitu pun kita, kita mengalami hal serupa dalam realita kehidupan yang kita ziarahi ini. Kita mengecap kasih Tuhan yang mengampuni saat kita salah. Itu fakta. Tuhan menyembuhkan saat kita jatuh sakit. Itu fakta. Tuhan menebus kita karena jika tidak kita kehilangan sorga. Tuhan memahkotai atau memuliakan kita saat kita direndahkan orang yang memusuhi kita. Tuhan memuaskan saat kita rindu dengan kehadiran-Nya. Saudaraku, semua itu fakta yang kita imani dan benar-benar mengesankan kita.

Saudaraku, lebih jauh kita pun merasakan seperti pengalaman pemazmur. Yaitu bahwa berjumpa dengan kebaikan Tuhan membangkitkan daya hidup. Ada energi kehidupan dalam diri kita. Energi yang melahirkan semangat yang menyala-nyala. Allah yang berkarya dalam sejarah kehidupan kita dunia pun nyata. Berbagai wujud kasih-Nya itu fakta. Bukan kisah fiktif. Kebaikan Allah adalah fakta. Saya yakin, kita semangat itulah yang menjadi landasan pengharapan orang beriman mengalami situasi apapun. Semangat yang menjadi modal untuk menghadapi beragam situasi peristiwa kehidupan.

Saudaraku. Pemazmur mengumpamakan semangat yang demikian dengan sosok rajawali. Burung yang tangkas dan sigap menangkap mangsanya. Tidak pernah lelah terbang. Postur tubuhnya kuat. Bisa dikatakan harimau raja hutan tapi ratu angkasa adalah rajawali. Tak gentar angin besar. Tak takut hujan badai. Bisa seperti itulah orang yang disentuh kebaikan Tuhan. Sigap, semangat, sepertinya tidak mengenal lelah.

Di dalam menghadapi ledakan penyebaran Covid 19, kita jangan kehilangan semangat hidup. Memang kita lelah disajikan informasi terus-menerus terutama makin bertambahnya korban. Apalagi mereka yang menjadi garda terdepan. Mereka lelah secara fisik dan psikologis. Di sini kita menumpukan harapan pada kasih Allah. Kasih Allah senantiasa memberi energi. Energi untuk menguatkan diri sendiri, melainkan juga energi yang memberi efek ke orang lain. Karena disentuh kasih Tuhan yang faktual, kita menjadi sigap, cepat dan semangat dalam membangun kebersamaan dan pelayanan kemanusiaan. Itu semua efek kelihatan dikarenakan perjumpaan dengan kasih Tuhan yang mengesankan.

Seruan Majelis Sinode GKP: Penghentian Sementara Kegiatan Jemaat

Salam Sejahtera.

Saat ini virus Covid-19 menjadi masalah yang sangat serius di seluruh belahan dunia. Korban terus berjatuhan dan pemerintah kita baik di pusat maupun daerah telah mengambil langkah-langkah menanggulangi penyebarannya agar terhindar jatuhnya korban yang lebih besar. Salah satu langkah yang diambil pemerintah untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus Covid-19 ialah menghimbau seluruh bagian masyarakat agar melakukan Pembatasan Interaksi Sosial (Social Distancing). Presiden Ir. Joko Widodo mengingatkan agar dilaksanakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan beribadah dari rumah.

Menyikapi hal tersebut maka Majelis Pekerja Harian PGI menghimbau gereja-gereja anggotanya untuk memindahkan ibadah gereja-gereja ke ibadah rumah masing-masing. Dengan demikian Gereja mengambil peran untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Berdasarkan hal di atas menindaklanjuti Surat MS No. 2261/SINODE GKP/III/2020 tanggal 16 Maret 2020, kami sampaikan:

  1. Penyelenggaraan kegiatan peribadahan di Jemaat, yaitu Kebaktian Minggu tanggal 22 Maret 2020 dan 29 Maret 2020 tidak dilakukan di dalam gedung gereja, melainkan di rumah masing-masing dan Majelis Jemaat kiranya dapat mengupayakan cara ibadah secara daring/online melalui sosial medai yang dimiliki jemaat atau cara-cara lain yang dianggap paling tepat untuk konteks jemaat masing-masing.
  2. Untuk ibadah atau kegiatan lain dapat melihat surat kami sebelumnya.
  3. Penyelenggaraan kebaktian pemberkatan nikah yang telah terjadwal sebelumnya masih dapat dilakukan dengna memperhatikan protokol keselamatan dan kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah.
  4. Penyelenggaraan kebaktian pemakaman oleh karena sifatnya tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan protokol keselamatan dan kesehatan yang dianjurkan pemerintah.
  5. Kegiatan-kegiatan klasikal dan sinodal selama 14 hari ke depan akan diatur ulang pelaksanaanya atau dengan memperhatikan anjuran pemerintah pusat atau daerah mengenai kegiatan-kegiatan yang bersifat massal.

Kami berharap seruan di atas dilihat sebagai sikap antisipatif dan tidak dipertentangkan dengan keyakinan iman kita mengenai Allah yang selalu menjaga dan melindungi kita. Perbedaan yang ada kiranya tetap berada dalam bingkai kasih persaudaraan yang selama ini dibangun di antara kita.

Dalam momen pra paskah ini kita diajak untuk membangun kehidupan berdasarkan cinta kepada Allah dan kepada sesama. Karenanya kami mengajak kita semua untuk melandaskan langkah-langkah kita dalam cinta kasih yang besar kepada sesama. Bila pembatasan interaksi sosial kita merupakan salah satu langkah pemutusan mata rantai penyebaran virus Covid-19, maka inilah salah satu bentuk persembahan atau derma kita. Dengan menjaga dan membatasi diri kita sudah menolong orang lain menjaga diri mereka seperti yang dituliskan dalam Galatia 6:2, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus”. Inilah upaya yang dapat kita lakukan untuk saling topang dalam mengambil peran di tengah kehidupan bangsa yang kita kasihi ini.

Demikian seruan kami dan kiranya dapat diperhatikan serta dilaksanakan oleh seluruh jemaat-jemaat Gereja Kristen Pasundan. Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja memberkati dan menolong kita.


Himbauan Majelis Sinode GKP Terkait Penyebaran Virus Corona dan DBD

Sehubungan dengan perkembangan penyebaran Virus Corona (COVID-19) di beberapa negara belakangan ini, khususnya di Indonesia, dan untuk mendukung program pemerintah tentang pencegahan penularan virus Corona dan juga maraknya kasus Deman Berdarah Dengue (DBD) yang juga telah memakan korban jiwa, maka kami menyampaikan beberapa imbauan untuk dapat diperhatikan, dipertimbangkan dan dilaksanakan oleh kita semua.

Kepada Seluruh Anggota Jemaat GKP

  1. Tetap berdoa dalam situasi seperti ini untuk memohon pertolongan Tuhan dalam menghadapi pandemi Virus Corona dan Demam Berdarah (DbD), dan tetap berpengharapan dan bersukacita di dalam Tuhan.
  2. Agar mencari dan mengikuti perkembangan situasi terkini tentang penyebaran Virus Corona dari sumber terpercaya, yaitu informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, serta menghindari pemberitaan yang bersifat hoax dan apalagi menyebarkan berita hoax terkait penyebaran Virus Corona ini.
  3. Menjaga situasi tetap tenang dan tidak panik, termasuk melakukan tindakan-tindakan yang diakibatkan kepanikan tersebut, sehingga justru dapat merugikan orang lain. Contohnya seperti pembelian kebutuhan sembako (sembilan bahan pokok) dan kebutuhan harian lainnya secara berlebihan, serta menimbun bahan makanan.
  4. Memperhatikan protokol kesehatan WHO, yaitu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sesering mungkin, menghindari pertemuan dengan kerumunan orang banyak, tidak bersalaman dengan cara tertentu (tidak saling menyentuh), bila merasa sakit pakailah masker dan langsung ke dokter serta beristirahat di rumah, juga untuk menjaga kesehatan dengan melakukan pola hidup yang sehat.
  5. Menerapkan pola hidup sehat dan kebersihan lingkungan rumah seperti melakukan tindakan membersihkan lingkungan yang fokus pada adanya titik-titik keberadaan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, seperti pada beberapa tempat berikut ini: Bak kamar mandi / toilet, tempat penampungan air, air jebak semut (kaki meja), air pembuangan kulkas, tempat minum burung yang jarang diganti, pot bunga berisi air, dispenser air minum, dan barang bekas di sekitar rumah (ban, kaleng, batok / tempurung kelapa, botol, gelas air mineral, potongan bambu, dan semua tempat yang dapat menampung air)
  6. Berpikir positif, menghargai dan tidak menghakimi seseorang yang memilih untuk membuat jarak (berdiri, duduk, cara bersalaman, dan lainnya) karena hal tersebut dilakukan bukan hanya melindungi diri (karena merasa kurang sehat atau kondisi tidak prima) tetapi juga melindungi orang-orang sekitarnya.

Kepada Majelis Jemaat GKP

  1. Tetap tenang dan mampu menenangkan anggota jemaatnya dalam menghadapi situasi seperti yangsekarang ini terjadi.
  2. Memantau kondisi anggota jemaatnya yang rentan terpapar Virus Corona dengan mengecek kondisianggota jemaatnya melalui telepon, grup media sosial jemaat, atau pelawatan.
  3. Melaksanakan tindakan edukasi pencegahan penyebaran Virus Corona ini kepada anggota jemaatnya(seperti cara mencuci tangan yang benar, tindakan menutup mulut saat batuk dan menutup hidungsaat bersin, dan informasi umum mengenai Virus Corona) melalui berbagai cara dan media (sepertiWarta Jemaat, pengumuman, info grafis melalui grup media sosial jemaat dan sebagainya).
  4. Mengimbau agar penyelenggaraan kegiatan di Jemaat (Kebaktian Minggu, Kebaktian Rumah Tanggadan Kebaktian Kategorial, rapat Majelis Jemaat) dilakukan dengan tetap melihat dan mempertimbangkan perkembangan situasi dan kondisi termasuk anjuran Pemerintah Daerah diwilayahnya masing-masing.
  5. Mengimbau untuk mempertimbangkan menunda kegiatan Jemaat berupa kebaktian padang, retret,Rapat Jemaat dan atau kegiatan lain yang mengumpulkan massa dalam jumlah banyak, setidaknyasampai 14 hari ke depan atau dengan memperhatikan anjuran pemerintah mengenai kegiatankegiatan yang bersifat massal.
  6. Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan rumah sakit pemerintah rujukan penanganan pandemiVirus Corona untuk dapat melakukan tindakan mensterilkan ruangan ibadah dengan disinfektan, mendapatkan informasi lebih lanjut terkait Virus Corona, informasi standar prosedur penangananpasien terpapar virus dan penanganan jenazah dari pasien meninggal dunia terpapar virus; dan jugauntuk melakukan tindakan pengasapan / fogging pada terjadinya kasus Demam Berdarah Dengue.
  7. Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat atau rumah sakit pemerintah rujukan penangananpandemi Virus Corona dan Demam Berdarah Dengue bila mana ada anggota jemaat yang terpapar virus dan yang meninggal dunia terpapar virus (terutama dalam kasus Virus Corona).
  8. Mensosialisasikan informasi layanan darurat Virus Corona atau Convid 19 yaitu nomor 119 dan 112, dan nomor-nomor penting lainnya terkait instansi kesehatan setempat kepada anggota jemaatnya (nomor-nomor terlampir).

Kepada Badan-badan Pelaksana Klasis GKP

  1. Berkoordinasi dengan Majelis-majelis Jemaat di Wilayah Klasisnya untuk melakukan edukasipencegahan Virus Corona dan Demam Berdarah Dengue
  2. Mempertimbangkan kemungkinan penundaan waktu pelaksanaan Rapat Kerja Klasis (khususnya bagiKlasis yang belum melaksanakan Rapat Kerjanya) sampai kondisi yang lebih baik atau memungkinkan.
  3. Menginformasikan kepada Majelis Sinode GKP sesegera mungkin perihal pelaksanaan atau penundaanRapat Kerja Klasis kepada Badan-badan Pelayanan GKP agar semua Badan-badan pelayanan mengikuti anjuran pemerintah dan dinas terkait.

Bersama dengan surat ini, kami juga lampirkan beberapa informasi dan materi edukasi (berupa tautansosial media) terkait pencegahan penyebaran Virus Corona (COVID-19) dan Demam Berdarah Dengue.

Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. Kiranya kita diberikan hikmat untuk menyikapi berbagaisituasi yang sedang berkembang saat ini, berjaga-jaga dan berdoa, tetap tenang dan percaya terhadap pemeliharaan Sang Pencipta, karena di situlah letak kekuatan kita (bdk. Yesaya 30:15b).

Tuhan menolong kita.

Gembala Yang Menuntun

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu dan Saudara-saudaraku yang baik. Istirahat merupakan kebutuhan utama, sedangkan tidur malam menjadi bagian yang perlu dilakukan. Darinya organ-organ tubuh, suasana hati, kualitas emosi dan pikiran kita memperoleh penyegaran. Terpujilah Allah yang mengaruniakan kita tidur malam.

Saudara-saudaraku, Firman Tuhan yang menguatkan kita melakukan aktivitas kita diambil dari Mazmur 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya”

Saudaraku, salah satu yang realitas yang dihadapi manusia adalah kematian. Sosoknya selalu dihindari. Secara iman kita tahu kematian tidak bisa dihindari jika saatnya telah tiba. Sekaligus orang beriman dan beragama meyakini bahwa kematian merupakan fase untuk masuk ‘dunia’ lain yang lebih baik. Meskipun demikian, pada umumnya manusia menghindar dari kematian. Tidak usah dengan bahasa yang sulit dan penuh taburan kata-kata, jika ada orang menawarkan, “jika demikian maukah kamu mati?”. Tawaran dan pertanyaan ini menjadi hal yang amat sulit dijawab. Tentu, lebih banyak orang menggeleng kepala.

Mazmur 23 secara keseluruhan menggambarkan Allah sebagai Gembala. Sedangkan Pemazmur memposisikan dirinya selaku domba. Yang satu hakikatnya memberi dan yang lain menerima. Hakikat Allah yaitu Dia selalu memberi, tidak pernah berubah, dulu, kini dan nanti. Sementara itu, manusia di hadapan Allah, dirinya sebagai domba yang sifat hakikinya menerima. Pemazmur menggambarkan Allah sebagai Gembala yang membawa dombanya dapat berbaring di padang hijau dan membimbing ke air yang tenang. Rumput untuk dimakan dan air untuk diminum. Sebuah keadaan aman dan nyaman. Suasana ideal diberikan Gembala atas domba-Nya. Pemberian terbaik yang dilengkapi Allah buat kita. Kita patut bersyukur atas itu dan memuji tindakan Allah.

Pemazmur tidak hanya membatasi tindakan Gembala semata-mata pada ketersediaan dan kelimpahan makan dan minum. Gembala yang baik itu, pun menuntun di jalan yang benar. Kekeliruan menempuh rute yang diambil bisa membawa ke arah yang salah. Allah tidak menginginkan kita berjalan pada pilihan rute yang membuat kita tersesat. Sebagai Gembala, Ia menuntun kita ke tujuan yang baik. Pilihan manusia bisa salah. Kalkulasi manusia bisa keliru. Di situlah Gembala menggiring domba-Nya dengan pilihan arah yang tepat.

Saudaraku, kita tiba pada bagian perenungan kita. Setelah Allah sebagai Gembala mengantar pada realitas yang nyaman dan aman. Kini, bukankah dalam hidup ini kita diperhadapkan dengan hal yang pelik. Yang tidak gampang diurai untuk diatasi. Tidak gampang dilewati. Kita diperhadapkan dengan hal yang sulit. Karena situasinya yang tak mudah dijalani. Dalam konteks Pemazmur dibahasakan “lembah kekelaman”. Atau lembah bayang-bayang kematian (the valley of the shadow of the death). Suatu keadaan yang teramat gelap dan amat jarang dilewati. Bagi siapa yang berjalan di sana, ia tengah dibayang-bayangi maut. Orang yang berjalan di lembah kekelaman, berarti yang bersangkutan harus mempertaruhkan keselamatan dirinya. Nyawanya berada di bibir jurang. Salah melangkah ajal menjemputnya.

Lembah kekelaman menjadi rute yang teramat ditakuti untuk dilewati. Bagi siapapun yang menjajal rute itu, maka potensi untuk tersesat, jatuh dan mati merupakan keniscayaan. Saudaraku, dalam realitas mencekam dan genting yang harus dilewati domba itu. Pemazmur bicara tentang keyakinan dirinya. Bahwa dirinya dengan ketetapan hati menyatakan tidak takut. Lembah kekelaman tidak menyebabkan ia terpuruk pada kecemasan. Ia tidak gentar. Tidak takut selama Gembala itu menyertainya. Dengan kata lain, sikapnya tidak akan seteguh itu dan kepercayaannya akan luruh. Bila ia berjalan tanpa disertai Allah yang adalah Gembalanya.

Saudaraku, kembali kita berbicara tentang kematian. Maut. Secara halus (implisit) kita dapat mendengar getaran ketakutan Pemazmur, bila harus melewati rute paling gelap gulita dalam perjalanan hidupnya. Rute yang berpotensi mengancam keselamatan dirinya. Tapi, dengan gamblang (eksplisit) menyatakan, seberbahaya apapun jalan yang harus ditempuh, dia tidak takut bahaya. Sekali lagi harus dikatakan, tidak takut bahaya. Mengapa? Sebab Allah besertanya. Allah yang membuat mantap hatinya melewati rute yang menakutkan sekalipun.

Saudaraku, siapa yang tidak takut dengan situasi kini? Dunia tengah diguncang makhluk tak terlihat dan tak teraba tapi terasa ‘sengatannya’. Makhluk yang bernama Covid 19 itu jelas melahirkan kegentaran. Bahkan kepanikan menjadi fenomena di mana-mana. Penguasa cemas. Rakyat was-was. Ilmuwan memeras otak berpacu waktu untuk menemukan penangkalnya. Di sinilah, kita meresapkan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa agar membiarkan Tuhan menuntun kita. Tuntunan yang membawa kita berpikir jernih. Tuntunan yang membuat kita menetapkan pilihan yang tepat. Dan yang utama, kita dituntun Allah Sang Penguasa Kehidupan. Yang punya otoritas tertinggi yang menentukan mati dan hidupnya kita. Sekaligus, yang menentukan mati dan hidupnya virus Covid 19 yang menggentarkan itu. Mari, dengan hati yang tetap, kita daraskan dalam diri, “ Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Agama Untuk Manusia

Oleh Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Virus Covid 19 membuat banyak pihak menjadi kikuk. Pola relasi yang selama ini berlangsung tiba-tiba berubah. Aktivitas yang mengumpulkan orang banyak tidak dianjurkan, bahkan dilarang untuk dilakukan. Setiap orang diajak untuk mewujudkan solidaritas dengan berjarak secara sosial. Pilihan dan keputusan ini sudah pasti tidak menyenangkan, tetapi penting untuk keselamatan bersama.

Hari Minggu kemarin saya masih sempat memimpin ibadat Minggu. Kita yang terbiasa salaman dengan berpegangan tangan, bahkan cipika-cipiki, tetiba dilakukan dengan cara lain dengan jarak tertentu. Cukup dengan menempelkan kedua tangan di dada sembari membungkukkan kepala. Saya sendiri menjadi kikuk dengan cara tersebut, namun itulah cara terbaik dalam situasi darurat sekarang ini.

Beberapa jemaat dari gereja tertentu bahkan “meliburkan” kegiatan ibadat bersama, termasuk ibadat Minggu. Ibadat-ibadat dianjurkan untuk dilakukan di rumah masing-masing. Pemimpin Jemaat tetap mempersiapkan renungan dan disiarkan melalui media sosial yang ada. Dalam kondisi pandemik seperti ini, cara tersebut bisa dimaklumi. Bahkan, hemat saya, layak dan harus dilakukan.

Ada beberapa alasan teologis untuk hal itu. Pertama, agama ada untuk manusia, bukan manusia untuk agama. Gereja ada untuk melayani dan menempatkan keselamatan umat manusia sebagai prioritas utama. Demi keselamatan umat manusia dan alam semesta itulah, Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini. Demikian juga dengan Roh Kudus yang diutus untuk memelihara dunia dan menuntunnya pada kesempurnaan keselamatan di parousia. Jadi, gereja yang mengaku percaya kepada Allah Tritunggal sudah seharusnya menempatkan keselamatan umat manusia sebagai keutamaan.

Kedua, secara seteriologis, keselamatan itu bukan hanya urusan nanti, tetapi soal sekarang. Hidup sehat lahir dan batin di sini adalah bagian dari perayaan keselamatan di dunia sekarang ini. Tanpa kesehatan, manusia akan sakit dan mati. Lantas, kalau sudah demikian maka tidak ada lagi karya yang bisa dilakukan di dunia sekarang ini. Jadi, panggilan menjaga kesehatan adalah bagian penting dari kehidupan. Bahkan, Alkitab menyebutkan bahwa tubuh kita adalah bait Allah. Maka, tubuh harus dijaga dan dirawat, agar dapat dipersembahkan sebagai ibadat yang sejati. Dengan demikian, menjaga kesehatan adalah juga bagian dari ibadat, sehingga kalau kita menutup ibadat bersama dan melakukannya untuk sementara di rumah masing-masing demi kesehatan tubuh kita, hal tersebut adalah hal yang benar dan tepat.

Ketiga, ketika kita beribadat di rumah masing-masing, hal itu tidak mengurangi esensi dan makna dari ibadat kepada Allah Tritunggal. Yesus Kristus sendiri berkata bahwa “dua atau tiga orang yang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Jadi, jika kita beribadat di rumah dalam kondisi darurat, ibadat kita itu tetap sah secara teologis dan tidak mengurangi makna ibadat barang sedikitpun. Tuhan tetap hadir di situ, dan Ia memberkati kita sama seperti kita beribadat di gedung-gedung gereja secara bersama.

Momentum Iman Bersama Keluarga

Selain itu, secara praktis, ibadat bersama anggota keluarga di rumah menjadi momentum yang penting dalam rangka kita mengakrapkan kembali relasi kekeluargaan kita. Bagi keluarga yang tinggal di kota-kota besar, yang selalu sibuk sehingga waktu bersama keluarga menjadi barang langka, inilah waktu yang tepat untuk beribadat bersama. Kita punya kesempatan di masa yang tidak nyaman ini untuk kembali menyamankan hubungan sebagai orang tua-anak ataupun suami-istri dalam rengkuhan kasih Tuhan. Syukur-syukur, momen ini bisa membuat mata kita terbuka untuk menyadari bahwa pasangan atau anak kita kapan saja bisa mati; bisa hari ini ataupun besok, sehingga kita akan semakin saling mencintai dan memanfaatkan waktu hidup yang ada dengan penuh dedikasih dan tanggung-jawab.

Jika kita menilik sejarah gereja di masa awal, mereka juga lebih sering berkumpul di rumah masing-masing. Konsep “gereja rumah” memang selalu datang dari situasi-situasi yang tidak menyenangkan seperti ini. Dahulu kekristenan dilarang bahkan diserang oleh otoritas pemerintah Romawi, juga oleh pemimpin-pemimpin agama yang mapan di kala itu. Namun, hal tersebut tidak membuat kekristenan mati. Sebaliknya, kekristenan tumbuh secara vital dan menarik, sehingga ia bertambah-tambah dalam kualitas dan kuantitas. Lalu, kalau hari ini kita “dirumahkan” oleh Corona, saya kira hal itu bisa menjadi momentum untuk kita melakukan revitalisasi iman, pengharapan, dan kasih kita. Dan hal itu bisa dimulai dari rumah kita masing-masing.

Jadi, kalau kita merumahkan aktivitas ibadat yang biasanya kita lakukan secara kolektif di rumah-rumah ibadat karena situasi darurat ini, maka sebetulnya tidak ada yang salah. Juga bukan karena kita tidak atau kurang beriman. Iman itu bukan fatalisme yang sembrono.

Memang, ada juga yang masih bertanya “Tapi, bagaimana dengan perjamuan kudus? Bagaimana dengan penahbisan atau peneguhan Majelis atau komisi-komisi? Bagaimana dengan sidi? Bukankah ini momen-momen khusus gerejawi?”

Kembali kepada pemikiran-pemikiran mendasar di atas. Agama, gereja, organisasi, peraturan, ritual, semua itu untuk manusia. Jangan dibalik! Semua masih bisa dilakukan nanti. Gereja belum berakhir hanya karena kegiatan-kegiatan bersama “diliburkan” dua atau tiga Minggu, tergantung situasi dan kondisi. Persembahannya berkurang, ia, mungkin. Tetapi masa yang dipikirkan adalah persembahan? Bisa saja itu yang dipikirkan orang tertentu, tetapi pasti karena Tuhannya Mamon, bukan Allah Tritunggal.

Tetaplah beriman, terus waspada alias hidup dengan hikmat, jaga kesehatan, dan mari berdoa semoga pandemi Corono ini cepat berlalu.

Tuhan memberkati kita! Amin.

(Penulis adalah Pendeta UK. Maranatha, dari GKP; Wakil Ketua Umum DPD PIKI Jabar)