Jangan Salah Pilih

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik, yang saya kasihi dan hormati. Kita bersyukur, bahwa Allah senantiasa memungkinkan kita dengan perjalanan hidup yang di dalamnya kita mengecap kasih Allah. Puji Tuhan.

Saudaraku. Saya mengajak kita merenungkan firman Tuhan dari, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Amsal 27:17

Saudaraku, baik binatang maupun manusia digolongkan sebagai makhluk hidup. Sosok makhluk hidup itu secara bertahap berkembang. Mari kita lihat, begitu seekor bayi sapi lahir ke dunia dari rahim ibunya. Pada awalnya, beberapa saat bayi sapi itu agak susah berdiri. Tapi, dalam hitungan waktu satu-dua jam dia berkembang begitu cepat. Semula untuk berdiri saja masih gontai. Kurang stabil, agak goyang. Tapi, setelah itu dia berdiri lebih kuat dan akhirnya dalam hitungan jam dia berdiri sempurna. Demikian juga ia kemudian mampu berjalan secara sempurna juga.

Bukankah dalam keperbedaannya, manusia pun hadir di dunia tidak langsung sebagai sosok yang sudah jadi dengan sempurna? Bahkan tahap perkembangan manusia lebih jelas lagi, proses perkembangannya kelihatan membutuhkan waktu. Begitu lahir, seorang bayi manusia sudah bisa membuka mata. Namun, Dia belum bisa bisa melihat. Seorang bayi memiliki kemampuan melihat harus menunggu dulu berapa hari. Agar bisa berdiri butuh waktu sekitar 7-8 bulan. Seorang bayi yang bisa berteriak atau menirukan suara ayah atau ibunya, itu juga sama, harus menanti berbulan-bulan, bahkan tahunan.

Saudaraku. Semua makhluk hidup, terutama yang mau kita perhatikan adalah manusia, bagaimanapun bisa berkembang memerlukan proses dan waktu. Saya, dan bisa jadi juga Anda, tentu belum pernah melihat seorang bayi yang lahir ke dunia sudah jadi. Dalam arti sudah bisa melakukan apa yang lazimnya manusia lakukan. Tidak pernah bukan, ada anak bayi langsung bisa berdiri, bisa jalan, bisa berkata-kata, bisa makan sendiri, bisa panggil papa-mama, bisa menyanyi, dsb? Sedangkan menurut kitab suci Al’quran, dalam surat Mariam, ada yang seorang bayi yang langsung bisa bicara. Bayi itu bernama Isa, Allaihi salam, atau Yesus Kristus.

Poin ini yang mau kita angkat. Pertama, bahwa manusia itu datang tidak langsung jadi. Melainkan terus berkembang. Bahkan, hal yang berkembang itu pun tidak semata-mata terbatas fisiknya, namun menyeluruh. Kepintarannya berkembang, imannya berkembang, kepribadiannya berkembang, ketrampilannya tentang hal tertentu berkembang, dll. Dari sejak lahir manusia itu terus berkembang tanpa henti. Secara fisik bisa saja manusia begitu memasuki masa tua organ tubuhnya tidak lagi berkembang, tapi sikap bijak, kematangan, kedewasaannya tidak berhenti perkembangannya.

Lihat saja, begitu jumlah gigi kita sudah tumbuh semua, tidak ada lagi gigi baru nyusul. Yang ada, makin tua makin banyak yang rapuh dan tanggal. Dan tidak ada gantinya. Sebaliknya, keberimanan ataupun kematangan kepribadian, itu tidak seperti gigi. Keberimanan dan kepribadian tidak berlaku setelah mencapai tahap perkembangan tertentu, lalu imannya merotoli, atau copot satu demi satu. Melainkan iman dan kepribadian seseorang terus berproses makin dewasa dan matang.

Poin kedua, selain manusia itu terus berproses (dalam istilah filsafat manusia itu menjadi), ada kenyataan yang tidak bisa dihindari, yaitu dia bisa berkembang memerlukan orang lain. Seorang manusia berkembang semata-mata karena ada sumbangsih orang di luar dirinya. Anak atau cucu kita bisa berjalan juga tidak terlepas dari bantuan kita. Kita pegang tangannya, lalu kita melatihnya bisa berdiri. Setelah cukup mantap bisa berdiri, selanjutnya melatih agar dia bisa belajar melangkah. Dengan sabar kita menemani dan melatih agar dia dapat melangkah satu demi satu, sampai akhirnya bisa berdiri dan berjalan mandiri setelah bayi itu mencapai usia tertentu.

Saudaraku. Tidak ada manusia pintar, trampil, sehat, dan mampu melakukan berbagai kegiatan tanpa topangan yang lain. Tidak bisa, malah mustahil. Konon, sekarang orang bisa pintar tanpa memerlukan guru di kelas. Orang bisa pintar cukup belajar dari mbah google. Memang bisa saja, tapi kita ingat di balik mbah google ada manusia yang memprogramnya.

Jadi, tanpa manusia yang lain kita tidak akan maju dan berkembang. Kita bisa trampil berkendara karena ada orang lain yang mengajari. Kita bisa mengembangkan kesetiaan kepada Tuhan karena ada pemimpin agama. Dalam hal apa saja, kehadiran dan peran orang lain itu dibutuhkan untuk kita bisa maju, berkembang, bijaksana, punya watak terpuji, dsb. Itulah yang dalam bahasa Amsal di atas, ” besi menajamkan besi. Orang menajamkan sesamanya”.

Jelas, kita butuh orang lain. Untuk itu tanpa berkomunikasi dengan orang kain kita tidak akan berkembang. Tanpa interaksi dengan sesama kita tidak akan maju. Hanya, ini perlu juga kita tegaskan, yaitu kita butuh orang yang bisa membawa kemajuan dan perkembangan yang sehat secara jasmani dan rohani. Kita juga musti seleksi atau saring siapa sesama kita.

Saudaraku. Besi bisa menajamkan besi yang lain, tapi ada juga besi yang mematahkan atau merusak besi yang lain. Jika kita berkomunikasi dengan orang yang bergajul, maka tingkah polah dan pikiran kita bukan makin bijak melainkan ikut bergajul. Jika kita punya pendirian lemah, sebaiknya hindari pergaulan dengan orang yang korup. Yakinlah, jika kita abaikan pesan itu, maka cepat atau lambat perilaku korup akan menulari kita. Karena itu ada nasihat, “jika ingin sukses, bergaulah dengan orang sukses”. Mengapa? Kita akan terinspirasi semangatnya, visinya, keuletannya, kecerdasannya, dsb. Jika kita punya jiwa yang kuat, bolehlah kita bergaul dengan orang yang salah jalan dalam hidupnya. Supaya orang itu terpengaruh enerji positif kita. Tapi, seandainya jiwa kita lemah jangan berteman dengan yang salah jalan, karena kita akan terpapar energi negatifnya. Akhirnya, kita ikut salah jalan juga. Hindari salah gaul dan salah jalan pula.

Pemurah Bukan Pemarah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi Saudara-saudara yang baik. Semoga pagi di hari Jumat ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita dituntun dari hari Senin hingga memasuki hari ini.

Firman Tuhan yang menyertai kita di hari ini, dari Hosea 11: 9, “Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.”

Saudara-saudaraku, bagi siapapun yang suka memasak tentu paham betul makna hangus. Seekor ikan yang dibakar atau digoreng yang kurang hati-hati bisa hangus. Gosong. Kalau sudah gosong ikan itu kehilangan kualitas rasa kelezatannya. Rasanya pahit. Tidak enak sama sekali. Cenderung orang memuntahkan kembali bila tanpa sengaja menyantap ikan hangus. Lidah kita menolak mencecapnya. Gigi kita malas mengunyahnya.

Kondisi makanan yang hangus adalah makanan yang sulit diolah lagi. Orang suka memilih membuang saja ikan yang hangus itu. Tidak berguna lagi. Tidak ada lagi yang bisa diambil dari makanan yang hangus. Semahal apapun harga belinya, saat diolah ternyata hangus, ya sudah. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Diberi bumbu apapun, hangus tetap hangus. Lebih baik nasib menjadi bubur daripada makanan yang hangus.

Saudaraku, ketika kata hangus menjadi kata yang dilekatkan pada manusia. Maka itu artinya, manusia itu tidak berguna lagi. Tidak tersisa kebaikan dalam dirinya. Satu-satunya manusia yang demikian cuma layak untuk dibuang. Dan itu bisa dialami tatkala Allah marah terhadap oknum manusia. Siapapun manusianya. Kemarahan Allah bisa menghanguskan. Manusia yang jadi sasaran kemarahan itu bisa disebabkan dua hal. Pertama, Oknum manusia itu melakukan kesalahan melewati batas. Hal lain, oknum manusia itu sudah tidak berguna lagi di mata Allah.

Saudaraku, umat Israel tingkah dan ujarannya sudah terlalu. Kepantasan dan kepatutan sebagai orang beriman kepada Allah, mereka telah campakkan. Tidak nampak bahwa mereka setia sebagai umat beriman. Mereka telah berpaling dari Allah dan menyembah illah. Sumber pujaan mereka berganti. Allah dilepas, illah dirangkul. Dan mereka tidak mau insyaf. Dalam kamus hidup mereka tidak ada kata bertobat.

Dengan gaya hidup yang membelakangi Allah dan kesalahan melampaui batas itu. Orang Israel bisa menjadi sasaran empuk kemarahan Allah. Kemarahan yang kelak mereka terima adalah mereka bukan apa-apa lagi dan bukan siapa-siapa lagi. Allah bisa menghanguskan mereka. Namun, suara lain kita dengar. Allah tidak menjadikan diri-Nya Pemarah. Kesalahan fatal Israel, ternyata tidak menjadikannya sebagai dasar kuat Ia menjatuhkan hukuman atas mereka.

Saudaraku, Allah menyatakan sebaliknya. Ia bukan menjadi Pemarah, melainkan tetap Pemurah. Ya, Allah tidak marah. Padahal kesalahan Isarel sudah ekstrim. Mengapa Allah bukan Allah Yang Pemarah? Firman Tuhan memberi alasannya. Yaitu, Allah tidak menghanguskan mereka oleh sebab Ia bukan manusia. Ya. Ia membedakan diri-Nya dengan manusia. Manusia itu ada batas kesabarannya. Emosinya bisa meledak. Apalagi jika melihat ketidak beresan dan kebrengsekan sebuah perbuatan. Sedangkan Allah beda. Ia lain dibanding ciptaan-Nya, manusia. Dia sungguh Maha tak terbatas kemurahan hati dan kesabaran-Nya. Artinya, Allah tidak cepat-cepat menghukum Israel. Ia akan tunggu dengan kesabaran, sampai mereka insyaf. Ia bersedia menanti hati nurani mereka bertunas kembali, sadar kealfaannya lalu kembali kepada-Nya.

Inilah hal yang menghiburkan kita pagi ini. Betapa kita telah banyak berbuat salah. Dalam bentuk kata, sikap dan perbuatan. Syukurlah, Allah kita Pemurah bukan Pemarah. Dia selalu menanti kita untuk berubah. Ia tidak cepat menghukum kita. Bukan berarti Allah setuju dan permisif dengan dosa kita. Bukan sama sekali. Karena Allah tahu bahkan Maha Tahu, jika Dia marah maka kita akan hangus. Jika sudah demikian, maka kita menjadi sosok yang tidak berguna lagi. Kita layak dibuang ke tempat sampah kehidupan. Itulah sebabnya Allah selalu membuka hati-Nya lebar-lebar menantikan kembalinya si anak bungsu yang hilang dalam perumpamaan yang dikisahkan Tuhan Yesus. Sama untuk kita pun. Dia terus menanti kita jika dalam fase kehidupan yang dijalani kita ‘pergi’ meninggalkan-Nya. Bersyukurlah, puji Allah. Allah kita adalah Allah Maha Pemurah bukan Maha Pemarah. Mari, terus menghayati kesabaran-Nya yang Maha Tak Terbatas.

Perubahan Menghadirkan Pembaruan

Oleh Pdt. Supriatno

Saudara-saudaraku yang baik. Saat bangun di pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2

Saudaraku, kita senang mempunyai kesamaan dengan pihak lain. Sementara itu, kita sulit bertemu dengan keperbedaan. Tidak heran, muncul naluri untuk bersahabat atau membangun persekutuan dengan pihak yang punya kesamaan. Waktu saya mahasiswa di Jogja, 30 tahun lalu. Betapa senang jika kumpul dengan mahasiswa lain dengan asal yang sama, khususnya dari Jawa Barat. Bisa ngobrol ngalor-ngidul dalam bahasa Sunda. Ada kenyamanan tersendiri bergaul dengan pihak yang sama.

Tidak heran, jika sekarang muncul WA grup berdasarkan kesamaan. Ada yang sama almamater sekolahnya, ada WA grup berdasarkan sama tempat tinggal, profesi, hobby, dsb. Itu semua tumbuh bagai jamur di musim hujan.

Saudaraku, bagaimanapun kesamaan itu memberi dorongan saling mendekatkan diri. Menciptakan rasa tenang. Sekaligus menjadikan hal-hal lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, hal berbeda kita hindari.

Meskipun demikian, firman Tuhan mengajar kita pagi ini tentang sisi panggilan untuk berbeda. Kita diminta untuk berbeda. Dan keperbedaan harus menjadi hal yang melekat pada identitas kita. Tentang apa gerangan? Orang Kristen hadir dengan keimanan kepada Yesus Kristus. Dalam kaitan itu, orang Kristen harus bersikap, berperilaku dan bermental sesuai keimanannya.

Tegasnya, karena iman orang Kristen di Roma berbeda iman kepercayaannya dengan orang Roma pada umumnya. Maka, mereka musti berbeda pula dalam sikap dan perbuatannya. Jika orang Roma menyembah dewa. Orang Kristen harus menjauhi tindakan demikian. Jika orang Roma senang dengan hiburan gladiator, yaitu yang mempertontonkan kaum budak yang dipertandingkan dengan hewan buas. Orang Kristen jangan punya kesenangan yang sama.

Pendeknya, antara orang Kristen dan orang Roma pada waktu itu justru harus berbeda. Tidak boleh sama. Apa artinya sudah jadi orang Kristen, sedangkan gaya hidupnya tidak memperlihatkan perubahan dan perbedaan? Wajah fisik orang Kristen tetap sama, namun sikap, perilaku moral sudah semestinya tidak boleh sama.

Saudaraku, tentu menyandang panggilan untuk berbeda dengan lingkungan tidak mudah. Kita bisa diasingkan. Tidak nyaman. Pihak lain menatap kita dengan ekspresi kurang senang.

Saudaraku, hal yang tidak dapat kita hindari adalah berbeda karena perubahan. Senang atau tidak senang. Mau tidak mau. Perubahan terus-menerus mewarnai kehidupan ini, termasuk terjadi dalam hidup kita. Jangan jauh-jauh, silahkan lihat diri kita masing-masing. Gerakan fisik kita tidak lagi sesigap dulu. Tanpa kaca mata, ada di antara bapak-ibu sudah mulai sulit membaca huruf-huruf di HP ini, membaca pun harus pelan-pelan. Lihatlah, kulit kita menjadi makin lama makin kendur. Dan koleksi penyakitpun datang tanpa diundang.

Saudaraku, dalam kehidupan iman perlu perubahan. Kita harus berbeda. Kita harus hindari sikap ikut-ikutan agar sama dengan sekitar kita. Jika tidak, maka bukan sikap ideal yang diperlihatkan. Justru sikap dan perbuatan yang memprihatinkan.

Saudaraku, apa artinya kita menjadi Kristen jika hidup kita tidak berubah? Apa artinya kehidupan penuh iri, dendam, konflik, fokus hanya pada hal yang duniawi, kehidupan rohani tidak menjadi prioritas? Jelas, itu tidak mencerminkan perubahan yang membawa pembaruan. Kulit atau casingnya baru, isi jeroannya masih lama. Hidup yang demikian, bukan kekristenan sejati. Masih jauh api dari panggang, kata pepatah kita.

Mari, Saudaraku. Di hari-hari menghayati minggu-minggu sengsara Yesus kita terus membarui diri sesuai semangat dan ajaran serta etika kristiani. Tanpa kesediaan berubah, jelas kekristenan kita tidak bermakna. Dan bisa menimbulkan komentar sinis, “katanya orang Kristen. Kok, ucapannya menyakitkan. Perbuatannya mengecewakan?” Sama saja.

Pasrah Obat Gelisah

Oleh Pdt Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, paru-paru kita masih bernafas, panca indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, betapa baiknya Tuhan. Sekaligus kita masih dipercaya Tuhan melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Yohanes 14:2

Saudaraku, gelisah adalah salah satu gejolak perasaan. Ditandai dengan adanya rasa hati yang tidak tentram. Ketika tidur malam, kualitas tidur tidak lelap. Bahkan, bila terbangun tiba-tiba di malam hari dan sulit memejamkan mata kembali. Pikiran menerawang kemana-mana. Ada suasana lesu. Kurang bergairah melakukan aktivitas. Orang yang dilanda kegelisahan mengalami “tidur tak nyenyak, makan tak enak.”

Setiap gejolak perasaan pasti ada sebabnya. Tidak ujug-ujug. Orang yang tidak mempunyai kepastian atas masa depannya bisa gelisah. Lihat, orang menjelang pensiun tak lepas dari sergapan kegelisahan. Terutama, buat orang yang belum punya gambaran bagaimana mengisi hari-pensiun ke depan.

Konon juga, buat perempuan yang menjelang usia 50 tahun, suka gelisah. Disebabkan ada hal terbaik dari dirinya, dirasanya mulai menurun. Sesekali menghitung kerutan kulit wajahnya sambil bercermin. Atau menatapi uban satu persatu yang mulai mewarnai rambut kepala. Sambil bertanya dalam hati, “masihkah aku menarik dan dicintai pasanganku?”

Saudaraku, banyak faktor penyebab ketidak tentraman hati. Dan orang yang mengalami bisa siapa saja. Bisa dari buruh kecil sampai pejabat tinggi. Dari orang yang serba kekurangan sampai orang yang hidupnya serba kelimpahan. Termasuk apapun agamanya. Atau bisa juga Anda dan saya. Sesungguhnya, semua orang bisa dihinggapi kegelisahan diri. Tidak ada seorangpun yang kebal atau imun dari kegelisahan.

Termasuk para murid Tuhan. Mereka pun gelisah, sebab mereka sadar kelak akan ada perpisahan fisik dengan Guru mereka, Yesus Kristus. Mereka takut dan kuatir apabila hal itu menjadi kenyataan. Bagaimanakah nasib masa depan kelak? Apakah nasib mereka berjalan di rute kehidupan yang baik, apabila Tuhan Yesus meninggalkan mereka? Atau justru nasib buruk telah menanti mereka? Pertanyaan-pertanyaan demikian bisa saja muncul, lalu mengusik ketentraman hati mereka.

Saudaraku, Tuhan Yesus menangkap suasana hati mereka. Hati yang tidak tenang dan tentram. Ada keraguan dalam diri para murid-Nya memasuki masa depan. Rasa ragu yang menumbuhkan rasa takut. Tuhan Yesus melihat bahwa para murid-Nya musti diyakinkan agar mereka tidak takut maupun kuatir. Untuk itu, Tuhan Yesus meminta mereka percaya kepada-Nya. Ya, kata kunci menangkal kegelisahan adalah percaya. Dalam hal ini percaya kepada Allah dan percaya pada Tuhan Yesus.

Percaya di sini mengandung arti menyerahkan hidup dan masa depan mereka kepada-Nya. Bukankah Tuhan Yesus Pemilik masa kini, sekaligus mada depan? Pemilik artinya Ia punya kuasa mencipta dan mengubah kehidupan masa kini maupun masa depan. Dengan menghargai pilihan bebas kita, Ia berkuasa merancang hidup kita kini dan nanti.

Dengan demikian, Yesus meminta para murid percaya kepada-Nya itu saran dan solusi tepat serta terbaik. Seumpama pengobatan, itu terapi termanjur. Betul. Kegelisahan akan terobati dengan memasrahkan nasib kepada Tuhan saja. Banyak orang tetap gelisah sebab beban kekuatirannya tidak dilepaskan. Seharusnya, biarkan Tuhan yang memimpin hidup kita ke depan. Serahkan masa depan kita kepada-Nya.

Saudaraku. Tatkala kini kita tengah didera kegelisahan. Entah karena pergumulan ekonomi yang tak kunjung usai, entah relasi perkawinan yang kehilangan harmoni, entah sakit yang masih mendera, atapun yang jadi sumber kegelisahan dan beban pikiran serta hati. Jelas, anjuran dan permintaan Tuhan Yesus agar percaya kepada-Nya, kita tidak punya dasar mengabaikannya. Memang yang terbaik arah ke sanalah kita musti berpaling.

Mengapa? Sekali lagi, bagaimanapun, Dia paling tahu hal terbaik buat kita. Kita sudah dan akan mengalami, rancangan-Nya atas hidup kita bernuansa damai sejahtera bukan kemalangan. Bukan nestapa tapi rancangan berpengharapan. Niscaya, dengan percaya kepada-Nya, kelak Dia akan melepaskan beban kegelisahan kita. Bukankah kita ingat dan meyakini kebenaran firman Tuhan, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” ( 1Petrus 5:7).

Mengasihi Daripada Menghakimi

Oleh Pdt. Supriatno

Firman Tuhan yang memandu langkah kita, diambil dari Yohanes 9:1-3, “1) Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. (2) Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (3) Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”

Saudaraku, ternyata beragam cara pandang melihat sebuah realitas penderitaan. Kita bisa simpulkan demikian, saya mengajak kita semua dengan mengambil contoh situasi paling aktual. Dalam hal ini, bagaimana orang melihat sekaligus menyikapi korban virus korona. Dari pengamatan saya ada beberapa yang mencuat, antara lain:

Pertama, ingat penduduk salah satu pulau di Indonesia yang menolak program observasi yang dilakukan pemerintah atas mahasiswa-mahasiswa kita yang dipulangkan dari China? Malah, wakil bupatinya pun menentang keras. Para mahasiswa itu baru mau diobservasi belum positif terinfeksi, betapa keras penolakan mereka. Suatu contoh cara pandang ketakutan lebih dominan ketimbang pertimbangan kemanusiaan. Lebih baik ditolak daripada menulari.

Kedua, memandang tersebarnya virus dan jatuhnya korban sebagai hukuman Tuhan. Seorang pendeta dari Amerika dengan lantang menyatakan, itu azab dari Allah untuk negeri Cina yang menolak Allah. Cara pandangnya lebih menghakimi daripada mengasihi. Penderitaan hadir lantaran dosa yang dilakukan. Baginya, Allah tak mampu mengubah hati manusia dengan cara baik-baik, sehingga Allah harus menurunkan bencana.

Ketiga, orang yang memanfaatkan penderitaan menjadi peluang memetik keuntungan. Orang-orang seperti ini, melihat fenomena kepanikan justru senang. Orang panik itu lebih mengikuti emosi daripada nalar. Lebih irasional daripada bersikap wajar. Jika beberapa hari ini dan beberapa hari ke depan, masker langka dan cairan anti septic hilang, buat mereka kabar baik. Tidak heran ada yang tega menimbun barang yang dibutuhkan hingga akhirnya harga menjulang tinggi. Mengeruk keuntungan sebanyak-banyak justru dari realitas penderitaan.

Keempat, mereka yang memandang penderitaan sebagai panggilan berbuat baik. Penderitaan momen memenuhi panggilan kemanusiaan dan mewujudkan nilai-nilai keimanan secara nyata. Patut kita ketahui, betapa kerasnya tenaga medis bekerja sekarang ini. Di Cina, Korea dan negara-negara lain, mereka sangat kelelahan. Pasien terus bertambah. Sementara itu, yang dirawat memerlukan penanganan dan pengawasan yang cermat. Sedangkan tenaga medis jumlahnya tidak seimbang dengan pasien yang terus datang.

Sungguh pekerjaan yang melelahkan fisik dan menguras emosi. Kita bisa membandingkan dengan waktu lalu, betapa repotnya rumah sakit dan tenaga medis kita menangani korban demam berdarah. Yang ini, jelas berkali-kali lipat tingkat kerepotannya. Dan mereka bekerja dengan diam dan tekun demi keselamatan sesamanya.

Kini, kita menengok bacaan firman Tuhan yang juga berkaitan dengan penderitaan. Para murid Tuhan Yesus bertanya relasi penderitaan dan dosa. Khususnya, ketika mereka melihat ada orang buta sejak lahir. Kebutaan merupakan penderitaan. Tak mampu menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Dunia serba gelap. Terlebih menderita tatkala sepanjang usia hidup dijalani dalam kegelapan.

Lazim orang melihat penderitaan dengan kesalahan yang dilakukan. Di jaman Tuhan Yesus anggapan itu berlaku di kalangan ahli Taurat dan orang Farisi. Malah, ada yang menghayati itu sebagai teologi. Artinya sebagai ajaran yang dihayati. Jika seseorang sakit atau celaka, dengan cepat disimpulkan bahwa ada tindakan salah yang diperbuat. Tidak heran ada orang sakit yang bertanya dalam hatinya, “dosa apa, ya, saya. Koq, saya harus sakit seperti ini?”

Tuhan Yesus menepis anggapan bahwa penderitaan lantaran kesalahan seseorang. Ia berkata tegas, “bukan dia dan bukan juga orang tuanya”. Artinya dengan penderitaan orang itu jangan entengnya mengarahkan telunjuk untuk mendakwa, bahwa orang itu atau orang tuanya sebagai penyebab penderitaan. Sekaligus, juga jangan jadi hakim yang cepat dan gegabah memutuskan orang itu sendiri atau orang tuanya terbukti melakukan kesalahan yang menimbulkan kebutaan.

Lalu, bagaimana memandang yang benar atas realitas penderitaan? Menurut Tuhan Yesus, penderitaan harus dipandang agar, “pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”. Artinya, lewat penderitaan Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Karya-Nya dihadirkan. Orang menderita adalah orang yang mengalami kesakitan, kesepian, ketidak berdayaan, kekecewaan, putus asa. Dari situasi demikian Allah akan menunjukkan kebaikan-Nya. Sehingga mereka yang menderita menjadi tegar dan melihat keindahan kasih Allah di dalam hidupnya.

Dengan kalimat lain, daripada kita menyatakan “di mana ada penderitaan, di situ ada dosa”, lebih baik kita bergerak melakukan kebaikan. Aksi mengasihi lebih indah daripada ribuan kata-kata menghakimi. Sehingga dalam situasi menderita, orang yang menderita menemukan cahaya kebaikan yang menuntunnya untuk tetap bertahan.

Saudaraku, cara pandang Tuhan Yesus ini penting di saat negeri kita dan juga negara lain tengah berjibaku menghadapi penyebaran virus korona dan korbannya. Jangan kita mengumbar kata dan komentar tuduhan atas realitas ini, termasuk dengan gampangnya mengaitkan dengan dosa. Lebih baik menyingsingkan lengan baju, bersama Allah menghadirkan kebaikan dan kebajikan. Sehingga penderitaan terlewati dan manusia yang sakit dan menderita melihat kebaikan Tuhan bekerja dan kita jadi mitra-Nya.