Pengalaman Membuahkan Kepercayaan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Kita berterima kasih dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Baik, Ia menambah satu hari lagi usia kehidupan kita. Dan kita bisa menikmati istirahat malam dan Ia melindungi kita.

Pada akhir pekan ini, kita ingin mendapat inspirasi dari firman Tuhan, diambil dari “Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. (20) Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu”. Filipi 2: 19-20

Saudaraku, dalam hubungan kerja yang formal tentu ada orang yang dinilai bisa dipercaya. Karena kecakapan yang dimiliki, kesungguhan dalam bekerja, kepribadian yang terpuji, maka muncullah seorang individu yang kemudian dinilai dapat dipercaya. Kita bisa temukan di kantor, di organisasi maupun dalam kehidupan gereja, ada orang-orang yang demikian. Tentu orang seperti itu menjadi aset.

Di mata rasul Paulus, Timotius adalah sosok yang punya tempat tersendiri. Ia menyebut Timotius sebagai “teman seperjuangan”. Jika saya menyebut bapak atau ibu adalah teman seperjuangan. Maka, itu artinya kita punya mimpi bersama yang luhur dan bergandengan tangan berusaha keras meraihnya. Kita dekat satu sama lain. Fase-fase sulit dalam menghadapinya tidak memisahkan kita. Di dalam istilah teman seperjuangan terkandung relasi formal, tetapi juga relasi personal yang indah. Dan memang di antara mereka terjalin keakraban yang kuat. Dua orang yang kerap ngopi bareng, lalu bertemu untuk bicara ngalor-ngidul tentu, terlalu berlebihan relasi demikian diberi label “teman seperjuangan”.

Timotius sungguh dipercaya rasul Paulus. Hal ini, pasti bukan jatuh begitu saja dari langit. Ada bukti dan ada pengalaman yang mendukung alasan rasul Paulus menaruh rasa percaya. Dari pengamatan dan lewat perjumpaan langsung sebagai teman seperjuangan rasul Paulus menilai kepantasan Timotius menyandang sebagai orang dipercaya.

Saudaraku, Firman Tuhan memberi kesaksian tentang relasi keduanya, rasul Paulus dengan Timotius. Dalam bahasa populer, mereka berdua kompak. Seiring-selangkah. Terdapat kesamaan memberi prioritas pada pelayanan kepentingan pribadi. Rasul Paulus yakin mengutus Timotius untuk mengunjungi Filipi mewakili dirinya, suatu pilihan tepat. Dan mengabarkannke Jemaat Filipi bahwa Timotius merupakan orang tepat pula.

Saudaraku, dalam bidang kehidupan apapun, khususnya yang menyangkut relasi kerja dan relasi pribadi, sangat penting adanya kepercayaan (trust). Tak kalah penting juga hadirnya orang yang dipercaya. Tak terbayangkan sebuah perusahaan kehilangan kepercayaan (trust). Bisa gulung tikar. Sebuah bank yang tiba-tiba diterpa kehilangan kepercayaan konsumennya, jangan tunggu satu bulan. Dalam hitungan hari bank itu bisa jatuh. Karena para nasabahnya menarik uang beramai2. Seorang pemimpin propinsi atau kabupaten yang kehilangan kepercayaan, segera merasakan pahitnya cibiran dan kritik. Di Korea Selatan, seorang pejabat yang diberi tugas untuk mencegah dan mengatasi penyebaran virus corona, melakukan tindakan bunuh diri. Ia merasa gagal. Sebab virus makin meluas dan korban semakin banyak. Ia merasa limbung tatkala berhadapan dengan kehilangan nilai kepercayaan.

Betapa penting dan berharganya nilai kepercayaan. Vital dalam hidup ini. Jangan jauh-jauh, bagaimana rasanya menjadi suami yang tidak lagi dipercaya istrinya, atau sebaliknya? Kita masih ingat, dulu ada seorang pemimpin agama yang amat populer. Dikagumi dan dihormati. Bukan saja di kalangan umatnya, bahkan di kalangan umat yang berbeda agama dengan tokoh itu. Kini, pesonanya hilang dan umat pun satu-persatu berpaling meninggalkannya. Mengapa? Itu tadi, kepercayaan tidak melekat lagi. Ya, karena satu langkah pilihan hidup yang diambilnya, yang kemudian menciderai kepercayaan umatnya.😌

Saudaraku, Timotius adalah sosok yang dipercaya. Tugas pelayanan diemban dengan baik. Kesetiaannya bukan musiman, tetapi permanen. Teguh cintanya pada Tuhan. Pelayanan dimaknai dengan pengabdian, bukan area meraih keuntungan pribadi. Sebagai sahabat, Timotius dapat diandalkan. Karena berada di samping rasul Paulus di momen2 tersulitnya. Tak heran rasul Paulus menyebutnya, “Timotius, anakku yang sejati dalam Tuhan!..” Pasti, rasul Paulus mengungkapkannya dengan bangga.

Api Dilawan Oleh Air

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Saudaraku, olah raga adalah aktivitas untuk menyehatkan tubuh. Seorang dokter suka menganjurkan agar sesederhana apapun bentuk olah raganya, kita sebaiknya berolah raga. Bisa jalan kaki. Senam ringan. Atau jenis olah raga yang lainnya. Dengan olah ragalah fungsi tubuh kita bisa terjaga baik dan fisik kita tetap segar.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” Roma 12:21

Dari olah raga selain kita memetik manfaat positifnya untuk tubuh, tetapi kita bisa juga belajar falsafah kehidupan. Dari catur kita belajar tentang strategi dan ketenangan. Dari sepak bola kita belajar saling ketergantungan dan kekompakan. Dari olah raga pula kita belajar sportivitas. Siap menang, siap kalah jika bertanding. Sebuah pelajaran mental yang berharga.

Ada satu jenis olah raga yang menarik dan juga kita bisa memperoleh hikmahnya. Olah raga yang bernama peselancar (surfing). Atlitnya menggunakan papan lalu berlomba cepat dengan gulungan ombak. Olahragawannya mengikuti arus ombak yang besar dan cepat serta harus bisa keluar dari gulungan ombak dengan tetap berdiri.

Beberapa waktu lalu, saya menonton olah raga ini, tentu lewat televisi. Seorang atlit perempuan peselancar yang hebat menyatakan kesaksiannya. Dia berkata, untuk bisa mengalahkan ombak, pertama-tama ia harus meyakinkan diri bahwa dia mampu. Jika tidak, bayang-bayang kegagalan akan membuatnya benar-benar gagal. Selain itu, dikatakannya pula, “ jangan cepat menyerah”. Olah raga ini pasti membuat atlitnya jatuh dan gagal. Tapi, menurutnya, penting untuk tetap mencoba terus sampai berhasil. Jangan jatuh pada sikap menyerah kalah.

Asyik, menegangkan dan cukup berbahaya. Atlit yang gagal dan dinyatakan kalah adalah atlit yang jatuh. Hempasan ombak bukan saja bisa membuat atlitnya jatuh, tetapi juga jika tidak hati-hati bisa menghantam tubuh atlitnya, sehingga membuat atlitnya terluka. Buat peselancar yang hebat semakin besar gulungan ombak, semakin disukai. Sebab buat mereka semakin besar tantangan untuk mengalahkan ombak itu. Ya, buat mereka ombaklah yang harus ditaklukkan bukan mereka yang ditaklukan ombak.

Saudaraku, kita bukan atlit, apalagi atlit peselancar. Tapi selama masih hidup di bawah kolong langit ini, kita menghadapi ombak dan gelombang, yakni ombak dan gelombang kehidupan. Dan ombak yang paling ganas adalah godaan memperlakukan sesama kita dengan tidak pantas. Bisa berupa ucapan kasar, hinaan, fitnah sampai perbuatan nyata yang menyakitkan hati orang lain. Orang lain jadi terluka fisik dan hatinya.

Kita yang kalah atas ombak dan gelombang kehidupan, akan digulung dan jatuh pada perbuatan yang tidak direstui Allah. Nah, supaya Anda dan saya bisa menaklukan godaan untuk berbuat tidak sesuai etika. Maka, kita memproduksi perbuatan baik. Semakin banyak berbuat baik, semakin besar kemampuan kita menaklukkan godaan berbuat jahat. Dengan singkat firman tadi menyatakan “mengalahkan kejahatan dengan kebaikan”.

Susah? Pasti. Sulit? Tentu sulit. Apalagi berbuat baik kepada seseorang yang memusuhi kita. Wah, berat. Laksana kejahatan itu api, maka kebaikan itu air. Kebaikan kita harus menyirami api kejahatan. Pasti api itu, kelak padam.

Tapi juga kita belajar dari atlit peselancar. Betapa penting menanamkan pada diri sendiri bahwa “saya bisa”. Dan “tidak cepat menyerah”.

Saudaraku, dalam hidup ada orang yang bersahabat dengan kita. Tapi entah karena apa, ada saja orang yang memusuhi kita. Tanpa kita ketahui penyebabnya, orang itu memproduksi tindakan atau ucapan yang membuat kita terluka.

Menurut firman Tuhan, kita bisa memaknai memusuhi itu pun perbuatan jahat. Lalu apa yang patut kita perbuat? Kita harus kalahkan musuh kita. Kita harus taklukan kejahatan. Dan kita punya potensi bisa. Tapi bukan dengan senjata. Bukan dengan pukulan fisik, melainkan perbuatan baik. Bukan gigi ganti gigi. Melainkan dengan kasih dan kebaikan. Dengan kekuatan Roh Kudus menjadi tumpuan kemampuan kita.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami hidup bersahabat dengan siapapun. Namun jika kami dimusuhi, mampukan kami membalasnya dengan kasih dan kebaikan.

Semoga hari ini, kami bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga. Kami dapat bergiat dengan aktivitas yang bermanfaat. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Selamat bergiat dalam kebaikan di tengah kehidupan.

Baik Tapi Munafik

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Setiap hari belakangan ini, langit di Jakarta dan sekitarnya, hujan. Kalaupun tidak, awannya mendung. Tentu ada kerepotan. Terlebih saat hujan, di beberapa titik lokasi volume air berlebihan masuk kedalam rumah. Meskipun demikian, kasih Allah tetap menemani kita. Dan itu juga berlaku hingga pagi ini.

Renungan kita bertumpu pada ucapan Tuhan Yesus, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” Matius 15:8

Saudaraku, apa yang diucapkan bibir bisa tidak mewakili isi hati sesungguhnya. Lewat bibir seseorang, alangkah terkesannya kita, bila yang terungkap adalah ucapan lembut, santun dan ramah. Apalagi disertai isinya berupa puja-puji dan janji yang manis. Namun, pesan firman Tuhan di atas memberi peringatan, bahwa bisa saja ucapan bibir itu tidak seiring sejalan dengan isi hati sesungguhnya. Kata-kata lembut seseorang, bisa berbeda dengan isi hati sesungguhnya orang itu. Yakni bisa saja penuh hatinya penuh kebencian.

Ajakan firman Tuhan untuk membangun terus kesadaran kita. Bahwa ada ketidak selarasan antara ucapan bibir dan isi hati seseorang, bahkan sebuah komunitas. Berbeda antara yang kita dengar dengan niat yang tersimpan dalam hati. Tentu, tidak mudah kita menilai seseorang. Atau, bisa saja kita keliru memahami seseorang. Kita menilai dan memahami seseorang, tentu lebih banyak bertumpu pada ucapan bibirnya. Sebab indra kita bisa mendengarnya. Begitu telinga kita mendengar suara yang keluar dari bibir seseorang begitu ramah dan santunnya, langsung kita katakan, “orang itu baik. Kepribadiannya lembut”.

Sedangkan indra kita, sulit menangkap isi hati sesungguhnya orang itu. Kita tidak punya alat canggih buat menerawang atau menditeksi isi hatinya. Tidak heran, sisi kelemahan ini dijadikan peluang bagi orang-orang yang mau membangun citra diri. Orang yang demikian, dalam kehidupan keagamaan adalah orang munafik. Ia membangun citra diri agar di mata orang banyak, dia seorang saleh. Orang suci. Orang yang punya relasi khusus dengan Tuhan.

Saudaraku, tipe orang yang demikian, adalah orang yang pura-pura. Di balik suaranya yang mengesankan, padahal tersimpan ada ketidakmurnian di dalam hatinya. Tuhan Yesus menyebutnya, “orang munafik”. Dalam bagian lain di kitab Injil, menurut Tuhan Yesus, sosok orang munafik itu diumpamakan bagaikan kuburan. Tampak luarnya indah, di balik tanahnya tulang belulang.

Saudaraku, orang munafik itu berambisi membangun diri “seolah-olah”. Seolah-olah orang baik. Seolah-olah orang terpuji. Seolah-olah penuh cinta kasih. Padahal hatinya, ya, isi hatinya yang merupakan ‘wajah asli’ dirinya tidak seperti itu. Tidak heran banyak orang terkecoh. Dalam pengalaman sehari-hari kita mendengar komentar orang yang terkecoh oleh penampilan luar. Misalnya, “gak nyangka, dia kalo ngomong halus sekali. Orangnya suka beribadah. Ternyata suka melakukan kekerasan pada istrinya.” Atau contoh lain lagi, “ah, jangan cepet percaya sama dia. Janji-janji manis terus waktu kampanye. Nyatanya, sudah dapat kedudukan, dia lupa sama kita. Kirain dia orang baik.”

Saudaraku, orang yang munafik tidak punya kemurnian niat. Dia berdoa, memberi santunan kepada yang lemah, berpuasa, itu semua dijalankan sebatas membangun citra diri. Dilakukan supaya orang lain melihat dirinya dan memujinya sebagai orang yang melakukan tindakan kesalehan. Tindakan keagamaan bukan tindakan tulus sebagai bentuk kasih kepada Allah dan sesama. Melainkan dipakai sebagai alat untuk meraih pujian sempit.

Saudaraku, sejak hari kemarin di kalangan GKP, kita merayakan peringatan penderitaan Kristus dan seluruh karya-Nya. Baik sekali kita isi dengan doa, sedekah serta puasa sebagai bentuk perendahan hati serta penyesalan atas perbuatan salah. Dengan demikian, penghayatan kita atas karya Tuhan Yesus semakin kuat.

Namun, jangan itu semua dikurangi nilainya manakala menjadi bentuk keagamaan yang dipamer-pamerkan untuk membangun citra diri. Demonstratif. “Lihat saya berdoa, lihat saya banyak memberi, lihat saya berpuasa”. Sebab, jika kita melakukannya demi dilihat, diketahui dan dipuji orang. Apalagi, diphoto dan kemudian dishare dalam dunia maya, supaya dunia tahu.. Awas, bahaya kemunafikan sedang menguntit kita. Tuhan Yesus sudah mengoreksi tindakan kesalehan yang pura-pura. Sebab, Tuhan tidak mengapresiasi kepura-puraan, melainkan menghargai kemurnian dan ketulusan. Jangan sampai ekspresi keagamaan kita mengulang hal keliru yang sama. Kita tidak mau. Kita tidak ingin bagaikan keledai yang jatuh pada lubang yang sama.

Kemalangan Mengantar Kepada Kemenangan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Begitu bangun pagi ini, sebagian dari kita masih harus berhadapan dengan genangan air. Bisa di dalam rumah, atau lingkungan sekitarnya. Marilah, kita tetap mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan diambil dari Kisah Para Rasul 18:1-3, “Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka.”

Saudaraku, ada ungkapan bahwa sekarang kita hidup di era globalisasi. Artinya, ada kesaling tergantungan antar manusia dengan manusia, atau negara dengan negara. Dan itu meliputi seluruh dunia. Secara mudah kita dapat kita kenali dari barang-barang di rumah kita. HP buatan China. Sepatu made in Vietnam. Kue-kue dari Singapur. Dll. Pola makanpun ada unsur kesamaan selera secara global. Di kota besar Amerika, orang-orang makan dengan menu ayam, kentang dan segelas minuman ringan, yang juga menu sama dikonsumsi orang di Manado sana. Belum lagi, lalu lintas orang yang bepergian dari satu negeri lainnya. Praktis, tidak ada lagi negara yang tidak beragam. Tenaga kerja kita tidak hanya ada di Malaysia, tetapi di Denmark pun mereka sampai di sana.

Dalam situasi demikian, masih saja ada orang yang tidak siap hidup bersama dengan yang berbeda. Berbeda karena agama, suku, etnis atau apapun. Yang menakutkan, ketidak siapan itu berubah menjadi prasangka dan kebencian. Lihat saja istilah “Aseng”. Satu ungkapan yang dipakai dengan ada nada kebencian terhadap etnis China. Meskipun tadi, perutnya masih suka capcai, mie, dim sum, dan HP yang dipakai buatan asal China. Masih saja merawat prasangka maupun kebencian dalam pikiran dan hati.

Saudara, sejak dulu sikap ketidak siapan hidup bersama dengan yang berbeda menuai korban. Tentu saja, korbannya adalah sekelompok orang atau individu yang tergolong minoritas. Banyak korban yang jatuh karena tindakan oknum yang tidak siap hidup dengan yang berbeda. Banyak tragedi kemanusiaan yang penuh kepedihan, terjadi akibat prasangka dan kebencian atas yang berbeda.

Saudara, sikap demikian bukan hanya gejala sekarang ini. Ternyata dari dulu sudah terjadi. Akwila dan Priskila merupakan pasangan suami istri. Mereka berdua korban dari sikap orang atau komunitas yang tidak mau menerima pihak yang berbeda. Mereka diminta hengkang dari tempat tinggalnya dan keluar dari negeri Italia. Mereka diusir karena etnis Semit. Mereka didesak keluar dengan paksa karena bukan pribumi. Kaisar memerintahkan seluruh orang Yahudi tanpa terkecuali, segera harus meninggalkan Roma.

Sedih sekali, manusia diterima atau tidaknya karena faktor agama, suku atau etnisnya. Begitu agamanya berbeda diusir. Begitu etnisnya lain, dipaksa pergi. Kepahitan dan kesedihan seperti itu, tengah menimpa seluruh orang Yahudi, termasuk pasangan Akwila dan Priskila, suami-istri tersebut. Mereka harus mulai lagi dari nol. Merintis lagi di tempat baru. Ini sungguh ujian kesabaran. Tanpa kesabaran yang kuat akan frustasi dan mengalami tekanan batin dan emosi yang berat.

Saudaraku, Rasul Paulus singgah di tempat baru Akwila dan Priskila di Korintus. Sebuah kota di Yunani. Di sana pula Rasul Paulus mengabarkan injil keselamatan. Di antara orang Yahudi ada yang menerima dan tidak sedikit menolak pemberitaannya. Karena rasul Paulus berprofesi sama dengan Akwila, yaitu tukang kemah, ia tinggal bersama mereka. Dari sanalah titik berangkat persahabatan mereka menjadi kuat. Dari sanalah pasangan suami-istri mengenal Kristus Yesus. Pengenalan yang kemudian menumbuhkan iman dan kesetiaan.

Saudaraku, dari nasib buruk karena korban kebencian etnis, ternyata menuntun mereka mengenal Kristus. Dari tragedi menjadi jalan yang mengantar Akwila dan Priskila menjadi pengikut Kristus. Dari kemalangan mengantar ke kemenangan. Tuhan mengubah nasib atau garis tangan suami-istri itu. Tuhan bisa membuat banyak cara orang sehingga akhirnya mengenal diri-Nya.

Bisa jadi, suami-istri itu tidak pernah membayangkan, dari nasib terusir mereka kemudian bisa mengenal Juru Selamat. Itulah, Saudaraku, Allah bekerja dalam segala peristiwa. Terbukti realitas yang buruk, yang pahit, yang menyedihkan, ternyata Tuhan pakai sebagai jalan, sehingga Akwila dan Priskila mengenal-Nya. Sedangkan rasul Paulus menjembatani perjumpaan mereka dengan Juru Selamatnya.

Kini, kita yang sudah mengenal-Nya, kita patut terus setia kepada-Nya. Selain Akwila dan Priskila, ada banyak yang lain, di mana mereka harus mengalami kepahitan dan kegetiran hidup dulu. Baru, kemudian mereka mengenal dan beriman kepada Tuhan Yesus. Setiap orang punya jalan mengenal Tuhan Yesus. Yang paling penting kita setia dan terus berbakti kepada-Nya. Iman kita tidak menjadi padam di tengah orang yang tidak siap hidup dalam keperbedaan.

Motivasi Pelayanan Hanya untuk Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudaraku yang baik. Puji syukur, Tuhan mendengar doa kita dan menerima permohonan kita. Dia mengabulkan keinginan kita untuk dapat beristirahat semalam.

Firman Tuhan yang kita jadikan renungan pagi ini adalah, “Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” 1 Raja-raja 19:20

Saudaraku, jika kita mempunyai kekayaan tentu kita ingin anak-anak kita mewarisinya. Kita berharap mereka bisa mengelola dengan benar sehingga harta warisan itu bertambah-tambah. Safat adalah seorang hartawan. Ternaknya banyak, tanahnya luas. Melihat perangai anaknya, bernama Elisa, tentu ia berbesar hati. Kelak hartanya yang berlimpah akan berada di tangan pewaris yang tepat. Mengapa? Elisa seorang pekerja keras dan penuh ketaatan pada orang tua.

Elisa bukan tipe pemuda kaya yang merongrong dan menghabiskan harta orang tuanya. Bukankah tidak sedikit anak muda yang berleha-leha dan kerjanya cuma ke sana kemari mengisi waktu. Malas bekerja dan tidak produktif. Anak muda yang berprinsip, ”buat apa kerja keras. Kekayaan orang tua tidak akan habis sampai beberapa generasi.” Safat sebagai orang tua tentu sangat beruntung punya anak dengan watak rajin dan tidak suka foya-foya.

Ternyata rencana Tuhan selain indah, juga melihat kepentingan orang banyak mendapat perhatian-Nya. Elisa, pemuda rajin dan berani berpeluh meski anak orang kaya, bertemu Elia. Dan perjumpaan itu memutar 180 derajat seluruh perjalanan hidupnya. Elia menawar Elisa bekerja bagi Tuhan sebagai seorang nabi menggantikannya kelak.

Saudara tawaran nabi Elia bukan ajakan ringan. Menjadi seorang nabi berarti seluruh konsentrasi hidupnya buat Tuhan. Berani menegur umat yang salah. Bersedia membimbing umat yang bandel. Dan ada satu lagi yang tidak ringan, yaitu hidup dalam kesederhanaan. Dunia mataerialistik harus ditinggalkan. Ini susah. Karena Elisa punya orang tua yang kaya yang warisannya bisa jatuh kepadanya. Ternyata, Elisa bukan “cowok matre”, istilah sekarang. Ia rela hidup tanpa gelimang harta yang ada di depan matanya.

Saudaraku, itulah sebabnya, Elisa pamit ke orang tuanya. Ia mohon restu menjalani hidup di jalan Tuhan. Semua konsentrasi hidupnya buat Tuhan dan siap hidup dengan segala kekurangannya. Di sini, kita melihat, Elia merekrut sosok tepat yang kelak menggantikannya selaku seorang nabi. Dia memilih seorang yang sudah selesai dengan hal duniawi. Hal ini, sungguh berbeda dengan gejala pemimpin agama sekarang. Justru banyak yang berlomba mencari dan menimbun harta duniawi. Elisa sudah selesai dengan urusan harta duniawi. Dia fokus pada pekerjaan buat Tuhan.

Manakala seorang hamba Tuhan belum selesai dengan orientasi duniawinya kasihan umatnya. Karena yang dilihat hamba itu atas umatnya bukan hatinya tapi melihat kantongnya. Akhirnya, yang kaya didekati dan yang miskin dijauhi. Firman ini merupakan kritik kepada mereka termasuk saya. Bahwa memenuhi panggilan Allah berarti konsentrasi melihat pelayanannya bukan harta milik umatnya. Hamba Allah hendaknya berkaca pada Elisa.Jangan sampai di kepalanya dan di benaknya roh pengabdian digantikan roh mata duitan. Roh ketulusan melayani tetap harus kita miliki.

Saya sangat mengapresiasi justru banyak pelayan non pendeta di gereja-gereja, bekerja berani berpeluh dan tanpa pamrih. Mereka yang dalam kesibukannya menyisihkan waktu, tenaga, pikiran dan komitmen melayani Tuhan. Bahkan harus ‘nombokin’, dengan dana pribadi. Menurut saya justru merekalah Elisa-Elisa jaman kini. Bersedia melayani tanpa tuntutan mendapatkan hal yang material. Mereka melayani tanpa tuntutan dan ketersediaan fasilitas. Sehingga benarlah pesan lagu, “kerja buat Tuhan selalu manise. Walau tanpa gaji selalu manise..”