Mengelola Talenta

Kejadian 37:28

Puji syukur kepada Allah Sang Pemberi kehidupan, pagi ini kita masih menghirup udara hari yang baru. Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudaraku yang baik.

Pagi ini kita ingin memetik hikmat dari firman Tuhan, yakni, “Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.”

Kejadian 37:28

Saudaraku. Setiap orang punya kelebihan. Allah memberikan tiap manusia dengan talenta masing-masing. Dalam satu keluarga ada yang talentanya sama, namun tidak sedikit yang beragam. Pada umumnya, setiap orang memiliki kelebihan khas masing-masing. Ada yang unggul di bidang olah raga, ada juga di bidang organisasi, contohnya. Meski satu keluarga ada beragam talenta.

Seyogyanya setiap kelebihan yang dimiliki oleh anggota keluarga kita menjadi kebanggaan bersama. Kelebihan disyukuri sebagai pemberian yang kelak berdampak positif atas yang lain. Sebaiknya demikian. Sayangnya, fakta di dalam kehidupan sehari-hari tidak begitu. Kelebihan di sebuah keluarga malah memicu iri hati. Sangat disayangkan, akhirnya relasi dalam keluarga terganggu. Kelebihan dimaknai keliru maka efeknya bukan membawa kebersamaan, malahan menimbulkan perpecahan.

Yakub mengalami kepahitan berkenaan kurang tepat menyikapi kelebihan salah satu putranya, Yusuf. Di mata Yakub, Yusuf punya kelebihan melampaui saudara-saudaranya yang lain. Semata-mata karena Ia dilahirkan di masa tua Yakub. Sosok Yusuf lebih diistimewakan. Jubahnya saja lebih baik daripada yang lain. Ditambah lagi, Yusuf punya kelebihan sebagai visioner. Tahu tentang masa depan. Hal ini membuat Yakub makin berlebihan mengistimewakannya. Sedangkan respon saudara-saudaranya menunjukkan ketidak sukaan. Justru hal itu memercikkan kecemburuan. Saudara-saudara Yusuf bukan membanggakannya malah merancang hal jahat atasnya.

Drama keluarga terjadi lantaran keliru memaknai. keluarga menuai perpecahan. Keutuhan terganggu. Klimaksnya, muncul rancangan pembunuhan. Ya, bagaimana melenyapkan Yusuf dari dunia ini. Sebuah permufakatan jahat tercipta di kepala saudara-saudara Yusuf. Itu tanda betapa saking besar kebencian yang tertanam pada diri saudara Yusuf. Mereka tidak lagi punya rasa cinta dan belas kasihan. Yusuf itu saudara sendiri. Punya ayah yang sama, tinggal di bawah atap yang sama, makan dari masakan dapur yang sama. Itu semua dilupakan jika kebencian sudah sampai ke ubun-ubun.

Awalnya saudara Yusuf hendak membunuhnya dengan membuang Yusuf ke sumur. Skenario berubah, mereka menjual Yusuf sebagai budak berharga 20 syikal perak. Bagi mereka dua keuntungan dipetik, pertama sosok Yusuf tidak ada lagi di depan mata mereka. Mereka lega. Kedua, keuntungan ekonomis. Dapat uang.

Saudaraku, mala petaka dimulai. Yusuf telah tiada di rumahnya. Sejak itu Yakub kehilangan semangat hidup. Sedih berkepanjangan. Sepotong informasi bohong yang direkayasa anak-anaknya itulah yang jadi pegangannya bahwa Yusuf telah tewas oleh binatang buas. Pancaran kegembiraan di hati Yakub pudar. Kebanggaan atas anak tersayang direnggut tiba-tiba. Seorang ayah menjalani hari-hari panjangnya dengan rasa hilang yang mendalam.

Saudaraku, bagaimana kelebihan harus dikelola dengan benar sehingga tidak berubah menjadi bencana keluarga? Kelebihan di antara saudara jangan diperlakukan berlebihan sehingga ada yang merasa diperlakukan berbeda. Hindari ada anak emas di tengah keluarga. Sebab nanti ada anak yang lain merasa tidak diperlakukan sama. Di gerejapun semua warga jemaat harus dilayani dan diperlakukan sama, entah dia punya kelebihan apapun. Tidak ada favoritisme. Demikian juga dalam kehidupan berbangsa. Tidak ada warga negara kelas satu, hanya karena menganut agama tertentu. Semuanya sama. Perlakuan sama akan melahirkan kekompakan, sedangkan pembedaan membuahkan perpecahan. Drama keluarga Yusuf patut menjadi pelajaran berharga. Seorang ayah harus berpisah puluhan tahun dengan anak yang dicintainya. Persaudaraan diporak porandakan rasa iri, cemburu dan kebencian. Agar kita tidak demikian, kita menerima anggota keluarga kita dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan rasa syukur. Yang nasibnya kaya kita syukuri, dan kurang kaya kita cintai juga. Yang berhasil dalam menimba ilmu kita kasihi, yang tidak dia juga kita sayangi.

Mari kita berdoa, Ya, Tuhan, Engkau mengaruniakan kami dengan talenta masing-masing. Kiranya itu dapat kami kelola dengan tepat dan baik sehingga menjadi berkat buat kami. Doa ini kami panjatkan hanya dalam nama Yesus Tuhan kami. Amin.

Kunci Kebahagiaan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah. Dia yang memberi nafas kehidupan, sekaligus melengkapi kita dengan segenap bentuk keperluan hidup kita. Pagi ini, kita membuka mata dan merasakan betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,” dan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! “.

Bahan: Filemon 1:9b, Filipi 4:4

Saudaraku, bagaimana gambaran menghabiskan masa tua yang indah? Pada umumnya, orang punya konsep yakni hidup dikelilingi anak-menantu- cucu yang saling hidup rukun. Ekonomi cukup. Bisa pesiar ke tempat-tempat indah. Tubuh sehat. Dan secara rutin bertemu teman2 secara rutin, baik di lingkungan gereja atau bukan. Minimal, demikianlah yang didambakan banyak orang.

Hal itu, tentu banyak orang setuju. Masalahnya adalah bagaimana buat mereka yang memasuki masa tua tanpa dikelilingi anak cucu, ekonomi yang tetap memprihatinkan, pergi berwisata bagaikan sebuah mimpi, dan bertemu teman jarang-jarang saja. Apakah, mereka tidak punya peluang dan kesempatan bahagia?

Hari tua memang menjadi momen menikmati hidup. Kerap dikiaskan dengan ungkapan, “ senja kehidupan”. Sepenggal waktu sebelum semua memasuki akhir kehidupan. Kebanyakan orang ingin menjadikan momen itu untuk mereguk sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya hal indah.

Bagaimana masa tua yang dijalani rasul Paulus? Nampak tidak memenuhi gambaran dan suasana ideal. Masa tuanya meringkuk di penjara. Jelas sendiri dan menjalani hidup dengan sepi. Keluarga tidak punya, sahabat berada nun jauh di kota-kota lain. Ekonominya pasti jauh dari kecukupan. Sehari-hari waktunya banyak dihabiskan di lingkungan penjara.

Tapi, jangan katakan bahwa masa tua rasul Paulus cuma bergelimang kesengsaraan. Kita patut hati-hati agar tidak secara serampangan menyatakan hidupnya tidak bahagia. Karena ternyata, rasul Paulus mensyukuri hidupnya. Ia bahagia. Bahagia dapat dilihat dari sikapnya menikmati hidup (enjoy of life). Ada kegembiraan di dalamnya (joy). Salah satu ekspresi kebahagiaan adalah suka cita. Karena itu, rasul Paulus mengajak, “bersuka citalah.. sekali lagi kukatakan bersuka citalah”.

Sebaliknya, orang yang tidak bahagia tercermin pada sikap suka mengeluh dan sering tidak puas. Sebuah riset menyatakan kelimpahan materi dan standar hidup yang lebih baik, tidak menjamin kebahagiaan. Di negara maju dan makmur ternyata orang malah tinggi tingkat ketidak puasannya. Contohnya, konon di Amerika Serikat.

Kembali lagi kepada rasul Paulus. Ia malah bangga dengan masa tuanya yang berbeda sekali dengan dambaan setiap orang. Rasul Paulus bangga sebab dia terus mempunyai kekuatan memberitakan kabar baik. Hidupnya untuk Injil yang menyelamatkan.

Artinya, tindakan dan berbuat sesuatu yang bermakna buat orang lain itulah sumber hidup yang membahagiakan. Orang yang bisa memberi tanda ia merasa hidupnya sudah cukup meski secara material tidak berkelimpahan. Sebaliknya, hidup seseorang masih berkutat dalam kemiskinan jiwa, jika dalam hidupnya hanya mau menerima. Walaupun secara material berkelimpahan. Memberi kepada orang lain merupakan tanda kebahagiaan dan kekayaan jiwa seseorang.

Saudaraku, selain kita punya gambaran sendiri tentang hidup yang indah. Alangkah indahnya, jika kita menjalani hidup ini dengan berbuat hal berarti bagi orang lain. Itulah kunci kebahagiaan. Dengan demikian, hidup kita tidak dibanjiri keluhan. Tidak diwarnai ketidak puasan. Melainkan ada suka cita dan rasa syukur.

Sebagai orang yang suka nonton film. Saya sempat kaget sekali, mendengar kabar Robin William salah satu bintang film favorit saya meninggal. Kekagetan itu diikuti kekagetan lain. Yakni, ia tewas bunuh diri. Tidak diduga, dia bintang populer. Hartanya berlimpah. Namun, memutuskan mebgakhiri hidup karena perasaan tidak bahagia.

Marilah, jangan biarkan waktu yang kita jalani hari ini, terpolusi dengan ketidak puasan dan keluhan. Dalam diri kita ada modal dari Tuhan untuk berbahagia, hanya kerap manusia mencari sumber kebahagiaan dari luar.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami mengelola waktu hidup kami diisi dengan kegembiraan dan rasa syukur. Dan kami menghadirkan hidup sehingga orang lain bergembira dan bersyukur pula.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Saling Tolong Menolong

Bahan bacaan: Kejadian 40:14

Sebuah kelegaan dan suka cita mengawali hari, ketika kita masih bangun di pagi hari. Karena, itu bukti bahwa Tuhan tetap menemani kita dengan setia. Perlindungan-Nya kita bisa melewati malam. Semoga demikian juga dengan orang yang spesial dan kita kasihi. Puji Tuhan. Selamat pagi Saudara-saudaraku yang baik.

Firman Tuhan yang jadi titik tolak refleksi kita, “Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini.”

Kejadian 40:14

Saudaraku, proses tolong-menolong merupakan ciri utama kehidupan. Hari ini, Anda dan saya bisa jadi menolong orang lain. Khususnya, individu atau kelompok yang membutuhkan bantuan kita. Bisa berbentuk nasihat, fasilitas atau material. Hal demikian, tergantung pada apa yang dibutuhkan. Seiring dengan apa yang kita miliki.

Dan setiap manusia dapat dipastikan suka berganti posisi dan peran. Hari ini, kita berada posisi menolong orang lain. Pada kesempatan lain, giliran kita yang membutuhkan dan mendapat pertolongan orang lain. Tukar posisi menunjukkan siapapun tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya oleh diri sendiri. Kita punya keterbatasan.

Yusuf, saat dijebloskan penjara karena dituduh mengganggu istri tuannya, Potifar. Padahal dalam kasus ini, Yusuf berada sebagai orang yang diajak mengkhianati kesetiaan perkawinan nyonya majikannya. Namun, ia menolak ajakan itu. Berakibat Yusuf jadi korban fitnah. Ternyata saat di balik jeruji besi itu, di sana di tempat tahanan yang sama bertemu mantan juru minuman raja.

Pertemuan ini, menjadikan mereka mengenal satu sama lain. Sampai suatu ketika, mukanya muram. Perasaan itu muncul lantaran ada pergumulan yang tak terpecahkan. Ia punya mimpi, sayang tak tahu apa arti mimpi itu. Dari situ, dengan pertolongan Tuhan, Yusuf mampu memecahkan arti mimpi. Bahkan pesan mimpi itu membawa suka cita. Karena ada pemulihan nama baik. Dan pegawai Firaun itu, dalam 3 hari, akan kembali pada posisi dan jabatan terhormat semula.

Saudaraku, dengan itu Yusuf telah menolong orang itu. Setelah itu, Yusuf yang meminta tolong agar dengan modal koneksinya, pegawai Firaun mau menceritakan kasusnya kepada Firaun tahu bahwa ada Yusuf yang mendekam dalam sel disebabkan fitnah tak berdasar. Kini, Yusuf yang memerlukan bantuan orang lain.

Saudaraku, jiwa yang saling tolong menolong adalah terpuji. Dan sekaligus, mengingatkan kita bahwa kodrat manusia harus seperti itu. Tidak ada manusia yang terus menolong. Tidak ada dan tidak mampu. Secara realistis tidak mungkin. Orang berasumsi bahwa dia selalu menolong dan tidak butuh pertolongan orang lain, tengah menjalani kebohongan besar. Sekaligus kesombongan tidak berdasar.

Begitupun, jika ada orang yang hanya ingin selalu pada posisi ditolong, orang demikian tidak menghargai apa yang dimiliki. Sekaligus melupakan bahwa Tuhan melengkapi hidupnya agar mampu menolong. Bisa berbentuk pengalaman, pengetahuan, kerajinan, atau apa yang biasa kita sebut berkat. Orang yang cuma mau menerima dan tidak mau memberi pertolongan, tipe manusia demikian melupakan berkat Tuhan yang dimiliknya.

Di tengah pekan ini, jika posisi kita dimintai menjadi penolong, lakukanlah itu tanpa ragu. Sebaliknya, ternyata kita tengah butuh pertolongan sampaikan itu tanpa ragu. Firaun tidak tahu Yusuf butuh pertolongan jika pegawainya tidak menyampaikan. Begitupun, pegawai Firaun tidak bercerita tuannya, jika Yusuf tidak mengajukan permohonan untuk dibantu.

Tapi, jangan peminta-minta. Karena enak pada posisi ditolong, jadi lebih kecanduan minta ditolong. Padahal, setiap orang harus mau menolong juga. Ingatlah, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”.

Tuhan, mampukan kami untuk saling memberi dan menerima, sehingga dalam hidup bersama kami saling mengisi dan menguatkan.

Kami berdoa buat yang bergumul dengan kesulitan. Berilah jalan keluar. Dan jadikan kami alat di tangan-Mu buat meringankan mereka. Semua doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Keseriusan Dan Totalitas

Bahan: Matius 8:21b-22

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, yang kasih setia-Nya kepada kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

Matius 8:21b-22

Saudaraku, mengikuti seseorang untuk kita jadikan guru atau pemimpin, maka dari diri kita dibutuhkan ketaatan. Tanpa itu, kita tidak akan maksimal menjadi murid. Sekaligus itu berarti kita tidak akan banyak menimba manfaat dari seorang guru. Relasi guru dan murid, atau antara pemimpin dan yang dipimpin, sekali lagi musti diwarnai ketaatan. Khususnya, lahir dari sikap murid kepada guru, yang dipimpin kepada yang dipimpin.

Sebagai murid seberapa besar ketaatan kita kepada Tuhan Yesus? Saudaraku, tema ketaatan mencuat saat Tuhan Yesus merespon keinginan seorang ahli Taurat yang mengutarakan keinginannya menjadi murid. Ahli Taurat itu menyatakan tekad mengikuti Tuhan Yesus kemana pun akan pergi. Sungguh sikap mengesankan. Seorang terhormat di mata masyarakat, bersedia kemana Tuhan Yesus pergi, ia akan di samping-Nya. Di mana Tuhan Yesus berada, di situ pun ia akan berada. Jelas, murid seperti ini jempolan. Luar biasa komitmennya.

Berangkat dari situ, Tuhan Yesus menjelaskan konsekwensi menjadi murid Tuhan. Ia mengawali dengan menyatakan bahwa Dia adalah sosok yang bekerja keras. Saking kerasnya bekerja, Ia kurang waktu untuk istirahat. Hidup-Nya sepenuhnya didedikasikan buat melayani. Maka, menjadi murid Tuhan Yesus harus siap seperti Dia. Konsentrasi dan sungguh-sungguh. Menjadi murid Tuhan dituntut keseriusan. Sehingga istirahat pun terbatas. Artinya jika mau menjadi murid Tuhan Yesus, ahli Taurat itu harus berani lelah. Menjadi murid Tuhan bukan duduk manis dan senang-senang.

Pada saat bersamaan, salah satu murid-Nya memohon ijin karena harus menguburkan ayahnya yang meninggal. Dari momen itu, Tuhan Yesus memanfaatkan kembali untuk menanamkan arti kemuridan. Dia menyatakan “biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” Waktu itu dan hingga sekarang pun, menguburkan ayah atau ibu yang mati di Israel merupakan kewajiban penting. Malah amat penting. Anak-anaknya meski sedang berada di tempat jauh akan pulang dan menunaikan kewajiban utama itu.

Nah, Ucapan Tuhan Yesus itu bukan mau bercanda. Meski menimbulkan tanda tanya, “apa, sih maksud ucapan Tuhan ini?” Karena mana bisa secara nyata orang mati menguburkan orang mati. Bagaimanapun, hanya orang hidup yang bisa menguburkan orang mati. Maksud ucapan Tuhan Yesus adalah, jika mau menjadi murid-Nya harus siap. Siap dalam hal apa? Siap untuk mengutamakan Yesus paling penting dibandingkan urusan penting yang lain. Bahkan lebih penting ketimbang menguburkan ayah atau ibu yang mati.

Dengan kata lain, menjadi murid Tuhan Yesus harus bersedia menempatkan ketaatan kepada-Nya melebihi atas yang lain. Mengikut Dia harus sepenuh hati. Menjadi murid Tuhan tidak main-main. Dibutuhkan keseriusan dan totalitas. Tidak angin-anginan. Dan tidak pula dinomor duakan. Semoga, hari ini kemuridan kita memperlihatkan kualitas demikian.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kemuridan kami berakar pada ketaatan, rasa hormat dan kesungguhan kepada-Mu.

Kami berdoa bagi saudara-saudara kami bersuka cita hari ini. Khususnya, yang bertambah usianya. Kiranya suka cita, sejahtera dan kesehatan menyertainya. Keluargapun ikut berbahagia atas berkat-Mu pada mereka.

Kami berdoa untuk kesehatan dan pemulihan saudara-saudara yang terbaring sakit. Kiranya pengobatan mempercepat penyembuhannya.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.

Lebih Berharga Kerukunan

Mazmur 133:1

Firman Tuhan sebagai bahan renungan kita dari Mazmur 133:1, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”

Saudaraku, dalam sebuah acara yang besar, yang dihadiri banyak orang biasanya orang tidak saling mengenal. Semua asyik dan sibuk dengan dirinya sendiri. Berbagai tipe orang ada di sana. Ada orang yang ramah, ada pula yang ketus. Ada orang yang tenang, ada juga yang terburu-buru. Dengan orang beraneka watak dan gaya, jika mereka kumpul bisa berpotensi terjadinya kesalah mengertian dan konflik.

Teks Mazmur 133, latar belakang konteksnya adalah kota Yerusalem tengah dipadati orang-orang ziarah dari berbagai tempat dan negeri. Penuh sesak. Waktu itu, paskah merupakan acara sangat penting. Sekali setahun untuk merayakan Paskah, orang-orang Israel yang berada di negeri lain mudik. Mereka pulang kampung, dalam rangka merayakan umat Israel keluar dari Mesir.

Di situlah, kota Yerusalem menampung manusia yang berjejalan memenuhi sudut-sudut kotanya. Dan tujuan utama mereka ziarah untuk beribadah di Bait Allah. Pada saat itulah tercipta hidup bersama. Pendatang dan penduduk lokal berbaur hidup bersama. Maka, sungguh hal indah di antara mereka tidak terjadi gesekan. Para pendatang menghargai penduduk lokal. Penduduk lokal tidak bertindak hal yang tidak sopan atas pendatang. Tiap-tiap orang saling respek. Di situlah tercipta keindahan dipandang mata dan baik dirasakan semua pihak, tatkala mereka berdampingan dengan rukun. Keperbedaan bukan ancaman, melainkan berdampak positif untuk hidup bersama. Kesatuan dan kerukunan merupakan nilai berharga.

Sebagai orang kristen kita adalah saudara satu sama lain. Kita menjadi saudara laki-laki dan saudara perempuan karena ikatan iman yang sama. Dalam ikatan dan semangat kesatuan itulah, kita saling mengasihi, saling hidup rukun, dan saling mengampuni manakala terjadi kesalahan. Seperti layaknya saudara, kita merasa dekat, hangat dan penuh pengertian. Sebuah kehidupan bersama tanpa cinta, rukun, memaafkan maka kebersamaannya rapuh. Keropos. Kata “saudara” menjadi hambar. Hampa tanpa makna.

Sebuah bangsa dan negeri yang mampu melakukan keharmonisan di tengah ancaman keragaman, itu adalah Afrika Selatan. Orang kulit hitam setelah berkuasa, dengan pemimpinnya Nelson Mandela. Mereka bisa saja membalas penghinaan dan diskriminasi yang pernah dilakukan orang kulit waktu itu. Afrika Selatan bisa dinafasi kebencian dan dendam. Ternyata mereka lolos. Afrika Selatan tidak terperosok dalam pembalasan etnis besar-besaran. Alm. Nelson Mandela, presiden merupakan sosok yang membangun jiwa sebuah bangsa. Bahwa betapa lebih berharga kerukunan daripada konflik. Jiwa dan wataknya suka mengampuni, ternyata dicontoh dan diikuti rakyatnya.

Di sinilah, Anda dan saya memandang penting hidup bersama dengan menjaga dan memelihara semangat kerukunan. Permusuhan cepat diselesaikan. Konflik cepat diatasi agar cepat padam. Satu sama lain merasakan diterima dengan tangan terbuka dan hati yang hangat. Saudaraku, kita tahu sifat sebuah kota besar. Bertahun-tahun kita menghitup kehidupan kota besar. Kita menghirup udara polusi. Sekaligus juga menghirup hidup bersifat egoistik. Hidup sendiri-sendiri. Masa bodoh satu sama lain. Bahasa Betawinya, “elu-elu, gue-gue.” Atau ada istilah EGP, emang gue pikirin.

Gaya hidup demikian, bukan gaya hidup kristiani. Kita diajari Tuhan Yesus untuk hidup bersama yang lain. Dan suasananya diwarnai kerukunan. Semoga itu juga, yang kita kecap. Sekaligus, hal itu juga yang kita kampanyekan lewat mulut dan jari (medsos).

Kita berdoa, “Tuhan memasuki hari Senin ini, taruhlah api kerukunan dalam hati kami. Sehingga semangat cinta dan damai hadir di tengah2 kami.

Tuhan, Kami serahkan setiap langkah kami di sepanjang hari ini. Tuhan kiranya berkenan menjaga dan mengaruniakan kami hati yang memperlakukan orang lain sebagai saudara. Demi Kristus, kami berdoa. Amin.