Refleksi Harian: Yohanes 4:9

Toleran Adalah Ekspresi Iman

Selamat pagi, opa-oma, bapak-ibu, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Langit mendung dan curah hujan tinggi. Meski demikian kita terus bersyukur kepada Tuhan, karena kasih Tuhan pun terus mengalir dalam hidup kita. Sekaligus, kita berterima kasih atas segala kebaikan-Nya. Bahan refleksi harian: Yohanes 4:9

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

Yohanes 4:9

Saudaraku, sering kita mendengar ungkapan larangan di kalangan Saudara muslim kita bahwa seorang pria tidak boleh berjalan sembarangan dengan bukan muhrimnya. Artinya, tidak boleh pria dengan perempuan bukan istrinya atau pasangan resminya terlihat hanya berdua-dua saja. Maksudnya baik, agar mencegah terjadinya hubungan kurang pantas. Pelarangan itu juga mencegah melahirkan gosip yang kurang pas.

Di era atau zaman Tuhan Yesus larangan demikian sudah ada. Ya, larangan untuk tidak sembarangan ngobrol atau komunikasi dengan seorang perempuan. Malah, tidak sebatas dengan bukan pasangan resminya. Seorang pria Israel tidak boleh bercakap-cakap dengan perempuan Samaria. Seorang pemimpin agama dilarang bergaul dan berkomunikasi dengan perempuan janda. Semuanya untuk menjaga kesucian diri.

Larangan-larangan itu, dipatahkan Tuhan Yesus saat bertemu dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub. Yesus tidak menggubris segala tetek bengek pembatasan itu. Padahal, terlarang sekali berdua berkomunikasi dengan perempuan kawan bicara-Nya itu. Di mata norma atau aturan yang berlaku, pasti tindakan Tuhan Yesus tidak pantas. Pertama, kawan bicaranya jelas-jelas perempuan. Bukan istri atau pasangan hidup seperti yang diatur oleh norma. Kedua, perempuan itu orang Samaria. Orang Israel melihat keimanan orang Samaria itu tidak murni. Ketiga, perempuan itu tipe sudah lima kali 5 suaminya berganti. Statusnya sekarang, tengah hidup bersama dengan seorang pria tanpa ikatan perkawinan resmi.

Tentu saja, di mata orang Israel tindakan Tuhan Yesus digolongkan perbuatan tercela. Bercakap-cakap dengan perempuan yang jelas-jelas buruk secara moral keagamaan. Komentar kita, berani sekali Tuhan Yesus melakukan itu? Bukankah masyarakat bisa menjatuhkan sanksi atau hukuman sosial, bisa cibiran, gosip sampai pengusiran. Apakah dasar yang melatarbelakangi tindakan Tuhan Yesus?

Saudara, kita pernah mendengar ucapan Tuhan Yesus bahwa hanya orang sakit yang membutuhkan tabib. Betul, orang sakitlah yang membutuhkan dokter. Jika, perempuan itu dinilai perempuan sakit, dalam pengertian rohaninya sakit, justru tepatlah tindakan Tuhan Yesus. Perempuan itu membutuhkan tabib, dan Tuhan Yesuslah tabib yang tepat. Dia membimbing dan mengarahkan perempuan itu pada jalan kehidupan yang benar.

Saudaraku. Orang sakit bukannya disisihkan dan ditinggalkan. Dia akan makin parah penyakitnya. Seseorang yang rohaninya sedang haus atau selama ini tidak mendapatkan minum air yang sehat, berilah minum minuman rohani yang sehat. Adalah keliru jika yang tersesat lalu malah disisihkan. Orang itu akan makin tersesat dan makin jauh.

Hal lain yang juga patut kita renungkan, Tuhan Yesus mengajarkan pola keagamaan yang benar. Yakni sikap keagamaan yang terbuka. Dalam bahasa sekarang disebut inklusif. Bahwa beragama itu membangun relasi bukan menutup relasi, terutama dengan yang berbeda. Bisa beda agama maupun sukunya. Atau biasa memakai kiasan membangun jembatan bukan membangun tembok.

Inilah tantangan kita sekarang. Di tengah pandemi dan bencana alam di mana-mana, seperti banjir. Dibutuhkan sikap bergandengan tangan. Menghimpun potensi bersama. Lalu menolong yang kena musibah tanpa melihat apapun agama dan sukunya.

Masih ada ketakutan bergaul dan hidup bersama dengan yang berbeda. Ada orang tua yang menanamkan sejak dini pada anak-anaknya tidak boleh bergaul dengan anak sebaya yang berbeda agama atau suku. Sejak dini sudah menanamkan hal buruk kepada anaknya tentang agama lain. Demikian juga, di perguruan tinggi marak dicekoki atau diindoktrinasi sifat-sifat buruk agama lain.

Orang Kristen melangkah dengan mengikui jejak Guru Agung kita. Tuhan Yesus sangat ramah, terbuka atas orang-orang yang berbeda. Berbeda baik agama, suku dan jenis kelaminnya. Justru, Tuhan Yesus mematahkan aturan-aturan yang membatasi pergaulan sosial lintas iman dan suku. Jadi, sebagai orang kristen kita membangun jembatan agar kita bisa terhubung dengan yang lain. Dan kita harus membobol tembok yang menghalangi perjumpaan kemanusiaan kita dengan mereka yang berbeda. Dengan cara demikian, kita menjadi orang kristen yang teguh, sekaligus luwes. Menghormati keperbedaan itu tidak mengurangi iman. Keperbedaan itu tidak menakutkan kita, melainkan menjadi pelangi kehidupan. Memperkaya kehidupan iman dan relasi kita. Dengan sikap toleran tidak membuat kekristenan kita merosot. Tidak sama sekali. Malah, itulah ekspresi iman seperti yang diajarkan Tuhan Yesus.

Kita berdoa, “ya, Allah Pencipta manusia dengan keragamannya. Berilah kami sikap keagamaan dan spiritualitas yang rendah hati dan toleran. Kami ingin dihargai oleh penganut agama lain, tetapi kami pun sebaiknya menghargai mereka.

Kami ingin berdoa untuk Tuhan telah tambahkan usianya. Semoga suka cita dan bahagia hadir di hari istimewa ini. Istri, anak-anak dan cucu juga ikut bersuka cita.

Berkati kami hari ini, ya Allah. Yang sakit tolong pulihkanlah, yang sehat tetap terjaga kesehatannya. Biarlah kebahagiaan menjadi milik kami semua pada hari ini.
Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi harian: Yohanes 4:9

Refleksi Harian: Kejadian 31:5-7

Hubungan Mertua dan Menantu

Selamat pagi, ibu-bapak, Eyang kung-eyang ti, mbak-mas, dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik, serta memungkinkan kita memasuki pagi yang baru. Baham refleksi harian: Kejadian 31:5-7

Telah kulihat dari muka ayahmu, bahwa ia tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadaku, tetapi Allah ayahku menyertai aku. (6) Juga kamu sendiri tahu, bahwa aku telah bekerja sekuat-kuatku pada ayahmu. (7) Tetapi ayahmu telah berlaku curang kepadaku dan telah sepuluh kali mengubah upahku, tetapi Allah tidak membiarkan dia berbuat jahat kepadaku. “

Kejadian 31:5-7

Saudaraku, Yakub adalah menantu Laban karena menyunting Lea dan Rachel anaknya sebagai istri pertama dan keduanya. Tapi, perlakuan Laban atas Yakub lebih mencerminkan relasi tuan dan hamba. Bahkan, Laban telah melakukan berbagai kecurangan dalam pemberian upahnya. Besaran upah disunat dari jumlah yang semestinya. Berpuluh tahun praktik kecurangan itu terjadi. Laban telah dibutakan hati nuraninya demi harta kekayaan. Ia berambisi ingin semakin kaya. Betul, berhasil. Jumlah ternaknya semakin banyak. Sayangnya, salah satunya bersumber dari hasil tindakan kecurangan atas menantunya sendiri.

Saudara, relasi mertua-menantu ini sama sekali tidak mencerminkan relasi kasih sayang. Mertua lebih banyak memeras atau mengeksploitasi menantunya sendiri. Tentu saja, ada titik batas kesabaran Yakub. Ia bersama kedua istrinya akhirnya bersepakat meninggalkan Laban. Cukup sudah menanggung perilaku curang dan keserakahan Laban. Menantu dan anak-anak bulat tekadnya meninggalkan Laban. Mereka melarikan diri dari rumah Laban.

Sudah hilang kesabaran menghadapi mertua/ayah yang kemaruk harta. Sudah saatnya Yakub mengajak Lea dan Rachel pulang, meski pada waktu itu relasi Yakub dan Esau belum pulih. Tapi, yang penting keluar dulu dari lingkungan rumah Laban.

Rupanya relasi mertua-menantu tidak selalu serasi dan harmonis. Hingga kini pun relasi kurang sehat itu dapat ditemui. Ada mertua yang dianggap terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya, padahal dengan berumah tangga orang tua harus tahu batas. Mana yang boleh dan tidak boleh orang tua ikut mengaturnya. Ada keluhan yang menandakan mertua terlalu jauh mengatur atau mendikte.

Kekurang rukunan relasi mertua dan menantu sudah merupakan gejala yang dapat mudah ditemui. Sampai-sampai ada guyonannya. Konon, ada pertanyaan berikut, “siapa perempuan paling bahagia di dunia?” Maka, jawabnya adalah Hawa. Mengapa? Karena Hawa tidak punya mertua. Atau ada satu jenis bunga yang daunnya cukup tajam. Nama bunga itu, “bunga lidah mertua”. Hal demikian lahir bisa jadi disebabkan dari perasaan ketidak sukaan atas sosok mertua.

Saudaraku, relasi mertua dan menantu hendaknya mencerminkan relasi dua orang yang saling mengasihi. Mertua melihat menantunya bukan untuk mendapat keuntungan, terselubung atau terbuka. Jika kita punya menantu, dia itu harus diperlakukan tidak kurang sebagai anak. Karena menantu itu, adalah belahan hati dari anak kita. Sayang sekali, Laban gagal mempraktikkan hal itu. Melihat menantu bagai buruh. Diperas tenaganya untuk menarik keuntungan sendiri. Bukan memandangnya sebagai sosok anak yang patut dikasihi. Demikian juga anak dperlakuan seperti properti. Bisa diberikan kepada seseorang yang mau bekerja padanya.

Demikian juga, sebaliknya ada saja kasus menantu yang memoroti mertuanya yang kaya. Dengan cerdik tapi sayangnya malas, si menantu hidup berteduh pada kekayaan mertua tanpa mau bekerja keras. Ini pun bentuk eksploitasi. Memanfaatkan orang yang harusnya dihormati, malah jadi obyek meraih keuntungan pribadi.

Saudaraku, dalam menjalani hidup perkawinan, maka suasana bahagia juga ikut ditentukan relasi mertua dengan menantu. Kiranya sikap saling hormat, saling mengasihi, saling menghargai, menjadi bagian nyata dalam hidup kita. Sehingga mertua tidak mengeluh terus tentang anak menantunya. Atau, juga sebaliknya. Mertua tidak kecewa terus dengan sikap dan perilaku menantunya.

Kita berdoa, “Tuhan, tuntunlah kami menjadi mertua atau menantu yang menaruh hormat dan cinta kasih sejati satu sama lain dalam relasi sehari-hari.

Pada hari Senin ini, Tuhan karuniakan kami kesehatan, tenaga dan kegairahan agar terus dekat kepada-Mu. Peliharalah seluruh anggota keluarga kami.

Inilah doa kami. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kejadian 31:5-7

Refleksi Harian: Roma 12:2

Membawa Pembaruan

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Saat bangun di pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur. Bahan refleksi harian: Roma 12:2.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Roma 12:2

Saudaraku, tentu tahu binatang bunglon. Satu kebiasaan dan kepiwaiannya mengubah diri sama dengan lingkungannya. Jika lingkungannya dominan coklat, tubuhnya berubah kecoklatan. Ia mampu menyamakan dirinya.

Ternyata, yang senang mempunyai kesamaan dengan lingkungannya adalah juga manusia. Tidak heran, muncul naluri untuk bersahabat atau membangun persekutuan dengan pihak yang punya kesamaan. Ada kenyamanan tersendiri bergaul dengan pihak yang punya kesamaan.

Sekarang, muncul WhatsApp group berdasarkan kesamaan. Ada yang sama almamater sekolahnya, ada WA grup berdasarkan sama tempat tinggal, profesi, hobby, dsb. Bagaimanapun, kesamaan itu memberi dorongan saling mendekatkan diri. Menciptakan rasa tenang. Sekaligus menjadikan hal-hal tertentu lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, betapa repotnya bergaul dengan yang berbeda.

Firman Tuhan mengajar tentang panggilan untuk berbeda. Kita diminta untuk berbeda. Keperbedaan yang melekat karena identitas kita. Tentang apa gerangan? Orang kristen hadir dengan keimanan kepada Yesus Kristus. Dalam kaitan itu, orang kristen harus bersikap, berperilaku dan bermental sesuai keimanannya.

Tegasnya, karena iman orang kristen di Roma berbeda iman kepercayaannya dengan orang Roma pada umumnya. Maka, mereka musti berbeda pula dalam sikap dan perbuatannya. Jika orang Roma menyembah dewa. Orang kristen menjauhinya. Jika orang Roma senang memelihara budak, Orang kristen jangan punya praktik yang sama.

Pendeknya, antara orang kristen dan orang Roma pada waktu itu justru harus berbeda. Tidak boleh sama. Apa artinya sudah jadi orang kristen, sedangkan gaya hidupnya tidak memperlihatkan perubahan dan perbedaan? Wajah fisik orang kristen memang tetap sama, namun sikap, perilaku moral sudah semestinya tidak boleh sama.

Saudaraku, menyandang panggilan untuk berbeda dengan lingkungan suatu hal yang tidak mudah. Kita bisa diasingkan. Tidak nyaman. Pihak lain menatap kita dengan ekspresi dahi memgernyit. Tidak senang.

Saudaraku, apa artinya kita menjadi kristen jika hidup kita tidak berbeda? Apa artinya orang lain punya kehidupan penuh kurang pantas ternyata orang kristen juga sama saja?

Saudaraku, pasti tidak semua harus berbeda. Kita punya kesamaan dengan lingkungan kita. Kesukaan kulinernya bisa sama. Jenis olah raga yang ditekuni sama. Selera busana yang disukai, sama. Ada banyak hal yang sama. Tetapi, jangan lupa kita punya keperbedaan berdasarkan semangat, ajaran serta etika kristiani. Tanpa kesediaan berbeda dan berubah, jelas kekristenan kita tidak bermakna. Dan bisa menimbulkan komentar sinis, “Lho, orang kristen, koq begitu.”

Kita berdoa, “ya, Tuhan, kiranya ucapan, pikiran dan perbuatan kami selalu baru sesuai dengan iman kami kepada-Mu.

Kami ingin membawa doa kepada-Mu agar gereja-Mu hidup dalam pembaruan budi. Sehingga kehadiran gereja menjadi teladan di tengah dunia, bukan sama dengan dunia.

Kami berdoa kepada-Mu, Tuhan buat Ibu-bapak, saudara yang sedang menghadapi pergumulan. Curahkanlah karunia kebaikan-Mu. Tuhan melegakan hati mereka, bahkan kegembiraan meluap dalam diri mereka. Ucapan syukur ada dalam bibir mereka. Kesehatan dan kekuatan semoga beserta mereka.

Kiranya Engkau berkenan bersama keragaman kegiatan kami sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Roma 12:2

Refleksi Harian: 1 Raja-Raja 5:5-6

Pendidikan Yang Tepat Untuk Anak

Selamat pagi, mas-mbak, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik. Bahan refleksi harian: 1 Raja-Raja 5:5-6

Lalu Adonia, anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata: “Aku ini mau menjadi raja.” Ia melengkapi dirinya dengan kereta-kereta dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya. (6) Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor dia dengan ucapan: “Mengapa engkau berbuat begitu?” Iapun sangat elok perawakannya dan dia adalah anak pertama sesudah Absalom

1 Raja-Raja 5:5-6

Saudaraku, ambisi itu baik. Tanda adanya keinginan yang kuat. Gigih. Sedangkan ambisius berbeda. Keinginan untuk menjadi sesuatu lalu menabrak rambu-rambu aturan. Seorang yang ambisius demi mencapai sesuatu, tanpa sungkan- sungkan menghalalkan segala cara. Lebih buruk lagi ambisius dalam meraih jabatan. Main kayu bisa ditempuh. Fitnah bisa dihalalkan. Berbohong dianggap hal biasa.

Masa tua Daud harus melihat bahwa sikap demikian dipraktekkan anaknya sendiri. Salah satu anaknya bernama Adonai. Secara fisik tampan. Secara lahiriah menawan. Tapi, berbicara kepribadian dan sikapnya tidak seelok perawakannya. Di balik daya tarik penampilan lahiriahnya, tersimpan sifat ambisius berbahaya. Ia haus kekuasaan.

Apa bentuknya? Bayangkan, ayahnya, Daud masih raja yang sah dan belum mati. Tapi, dengan lantang menyatakan, “aku ini mau menjadi raja”, sambil menghimpun kekuatan pasukan. Suatu tindakan tiada beretika. Tidak menghormati perasaan ayah sendiri, yang masih berkuasa.

Raja adalah orang nomor satu di sebuah kerajaan. Semua kekuasaan berpusat pada diri raja. Sekaligus fasilitas selaku raja tentu berbeda dengan posisi lain, apalagi rakyat jelata. Tidak heran Adonai terpincut ingin menjadi raja. Maka Adonai melakukan tindakan yang sekarang biasa disebut kudeta. Merebut kekuasaan dari orang yang sedang menjabat. Laksana tindakan militer terhadap Aung San Suu Kyi di Burma.

Raja Daud mengalami pengalaman pahit itu. Anak-anaknya lantaran haus kekuasaan saling bermusuhan. Raja Daud sudah sepuh. Badannya sudah kehilangan kemampuan terbaiknya. Ternyata, raja Daud malah menonton anak-anaknya saling cakar-cakaran. Masa tua bukan masa menikmati masa tenang dan bahagia dengan anak-anak yang saling hidup rukun.

Anak-anaknya malah membuat rusak masa senja kehidupan ayahnya sendiri. Tubuh raja Daud yang rapuh menjadi momen untuk mengincar jabatan yang di mata mereka sebentar lagi ditinggalkan raja Daud. Sementara itu, Daud masih resmi sebagai raja dan masih hidup! Sungguh Adonai sosok yang ambisius. Semata-mata demi menempati jabatan raja, segala cara ditempuh.

Profil Adonia, ia adalah anak kedua Daud. Saudara tiri Salomo. Penampilannya memang elok. Tapi, karena dimanja oleh ayahnya, raja Daud, sifatnya kurang mandiri. Sikapnya tidak mengundang pujian. Ia anak manja. Ayahnya tak pernah menegurnya. Akibatnya, perawakannya elok, sayang sikap dan perangainya kurang elok.

Saudaraku, pendidikan watak di tengah keluarga itu penting. Jika anak berbuat salah harus ditegur. Tegas bukan berarti tidak sayang. Justru menanamkan nilai agar anak tahu, mana yang boleh dan mana yang tidak. Anak yang terlalu dimanja berakibat rusak mentalnya. Merasa semua tindakan boleh. Pendidikan yang tepat atas anak, amat penting. Niscaya anak jadi berkat bukan sumber masalah.

Kita berdoa, “ya Tuhan tanamkan agar kami melakukan hal baik bagi kepentingan orang banyak di tengah pelayanan gereja maupun masyarakat.

Doa-doa ini kami naikkan dalam nama yang indah Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Raja-Raja 5:5-6

Refleksi Harian: Mazmur 17:6

Tuhan Mau Menjadi Kawan Bicara

Malam telah berlalu, hari baru telah tiba. Selamat pagi, opa-oma, bapak-ibu dan Saudaraku yang baik. Di pagi baru ini, kita mengawali dengan mengucap syukur. Bahan refleksi harian: Mazmur 17:6

Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.

Mazmur 17:6

Saudaraku yang kami kasihi. Salah satu yang kita lakukan sebagai manusia adalah berkomunikasi. Bercakap-cakap. Seorang ibu bercakap-cakap dengan putra atau putrinya. Seorang karyawan melakukan percakapan dengan kolega maupun atasannya.

Tidak ada satu pun manusia yang lepas dari hakikat dan kebiasaan ini. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa disertai percakapan dengan sesamanya.

Ketika kita melakukan percakapan dengan orang lain, ada saatnya suara kita didengar. Tapi pernah juga seolah-olah kawan bicara kita tidak mengacuhkannya. Kesannya tidak mau mendengar. Yang paling fatal, dia benar-benar tidak mau mendengar suara kita secara sengaja. Bukan turup mulut, namun tutup telinga.

Ketika seseorang tidak mau mendengar secara sengaja. Berarti ada kualitas relasi yang buruk. Hubungan yang tidak harmonis. Sebaliknya, saat kita bercakap-cakap kawan bicara mendengar. Merespon dengan hangat dan ramah. Itu petunjuk kawan bicara menghargai kita.

Pemazmur tengah melakukan percakapan, tapi tidak bersifat antar manusia. Melainkan percakapan yang menyangkut dirinya dengan Tuhan. Bahkan dia menyatakan, “ aku berseru kepada-Mu”. Dia berseru kepada Tuhan. Ia melakukan itu karena Tuhan bersedia menjawabnya.

Itu tanda dan bukti bahwa Tuhan menghargai dan mengapresiasi keberadaan pemazmur. Jadi, Tuhan sungguh-sungguh mengindahkan kehadiran pemazmur.

Dengan kata lain, Tuhan itu menggubris. Memberi atensi terhadap suara orang yang beriman.

Bila kita bercakap-cakap dengan orang lain, sementara itu orang lain tidak menangkap pesan-pesan kita dan enggan memenuhi harapan kita. Tentu saja, sedikit-banyak kita kecewa. Perasaan demikian tidak ada pada diri pemazmur. Sebab apa? Sebab, seperti dinyatakan tadi, bahwa Tuhan menjawabnya.

Dan Tuhan menyendengkan telinga-Nya. Seseorang menyendengkan telinganya saat melakukan percakapan dengan kita. Orang itu sungguh menyimak ucapan kita. Bilamana saya menyendengkan telinga mendengar suara Saudara. Tandanya saya ingin sekali mendengar suara Saudara. Sekaligus, saya sangat menghargai suara Saudara.

Jadi, Saudara, saya, kita atau siapapun orang beriman bercakap-cakap dengan Tuhan. Pengalaman menggembirakan jika Tuhan mau menjadi kawan bicara kita. Dia mau mendengar. Tuhan tidak hanya mau memperdengarkan suara-Nya. Ternyata suara kita pun berkenan didengar-Nya.

Selama saudara dan saya hidup di dunia ini, tentu suara kita diutarakan kepada Tuhan. Sekaligus kita yakin Tuhan mau mendengar suara kita. Tuhan mengabulkan curahan hati kita. Lebih dari itu, Tuhan menyendengkan telinga-Nya. Artinya suara kita teramat berharga sehingga perlu didengar.

Saudaraku, karena suara kita Tuhan mau dengar. Maka, jangan jemu-jemu mendengar suara Tuhan dan menghargai sebagai perintah utama dalam hidup kita.

Kita berdoa, “Tuhan, betapa Engkau menghargai suara dan diri kami. Untuk itu, sepanjang hari ini, kami ingin mendengar dan mematuhi suara-Mu.

Kami juga berdoa, kiranya Engkau melindungi para tenaga kesehatan yang terus berjuang untuk padien covid 19. Pertolongan-Mu menyertai mereka agar mereka terhindar dari paparan virus. Saat mereka didera kelelahan berat berilah tenaga baru yang mendukung tugas dan panggilan mereka.

Doa kami ini, kami bawa kepada-Mu. Kabulkanlah. Dalam nama Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Mazmur 17:6