Refleksi Harian: Markus 11:12-13a

Berbuah Dan Bermakna

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Malam telah berlalu, dan pagi yang baru telah datang. Sungguh kasih setia Tuhan terus beserta kita. Bahan refleksi harian: Markus 11:12-13a

Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. (13) Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu.”

Markus 11:12-13a

Saudaraku. Kita kerap mendengar kata “produktif”. Yakni kemampuan menghasilkan sesuatu. Jika seorang penulis disebut penulis produktif, berarti banyak tulisan yang dihasilkannya. Berkenaan dengan itu, kelihatannya pohon ara yang dijumpai Yesus dan rombongannya adalah pohon yang tidak produktif. Daunnya lebat, namun tidak ditemukan sebutir buah pun. Tetapi, memang bukan musim berbuah.

Jika memang belum waktunya, jelas saja pohon ara itu tidak berbuah. Bagaimanapun, jenis pohon berbuah punya musimnya sendiri untuk berbuah. Lalu, mengapa Tuhan mengambil tindakan sehingga pohon ara itu tidak akan pernah berbuah lagi? Sesungguhnya, Yesus tentu tahu perihal pohon bisa berbuah hanya pada waktunya. Di balik tindakan Yesus, Ia hendak memberi pesan dan pembelajaran.

Apakah pesannya? Apa maksudnya? Melalui tindakan terhadap pohon ara, Yesus mau menyatakan tidak ada arti kehidupan seseorang, jika tidak berbuah. Hidup bermakna bila ada yang bisa diberikan kepada orang lain.

Saudaraku. Di negeri Palestina terdapat dua danau. Satu bernama danau Tiberias. Dan satunya lagi terkenal disebut Laut Mati. Kedua danau itu mendapat air dari aliran sungai Yordan. Tapi, ada perbedaan kontras, mencolok sekali. Danau Tiberias menyimpan ikan yang berlimpah. Airnya menjadi sumber air minum memenuhi 70-80 prosen penduduk Israel.

Berbeda dengan danau atau Laut Mati. Tidak ada makhluk air yang bisa hidup, karena airnya mengandung tingkat keasinan yang di atas kewajaran. Sekaligus, airnya tidak bisa dikonsumsi.

Jelas, danau yang satu menghidupkan dan danau lain malah tidak. Pertanyaannya mengapa? Karena Danau Tiberias dia menerima air dari sungai Yordan, seiring dengan mengalirkan lagi. Sedangkan Laut Mati tidak. Setiap aliran air berhenti di danau/laut itu. Danau itu tidak mampu mengalirkannya, mengingat lokasinya 430,5 meter di bawah permukaan laut. Danau ini cuma menampung dan menampung, tidak mengenal mengalirkan lagi.

Jadi, mirip dengan hidup manusia. Jika manusia itu menerima kebaikan Allah, lalu berbuah buat orang lain, akan menghidupkan. Jika cuma menerima dan tidak mengenal memberi, hidupnya tidak produktif. Miskin makna.

Saudaraku. Mari hari ini kita menjadi orang yang produktif. Memberi buah. Sehingga hidup kita memberi efek suka cita dan kebahagiaan buat yang lain.

Saudaraku ada kisah kecil dari negeri Sakura, Jepang. Seorang kakek berusia 80 tahun mendaftar jadi relawan penanggulangan covid 19. Anak-anaknya keberatan. Takut tertular. Karena memang usia itu rawan terpapar. Apa jawab kakek itu kepada anak-anaknya, “lebih baik aku mati sedang melayani. Daripada kalian temukan aku mati di kamar panti jompo.” Artinya, kakek itu tahu arti hidup yang sesungguhnya.

Kita berdoa, “Tuhan, jadikan kami pribadi yang produktif. Mampu menghasilkan buah-buah kebaikan dan kebenaran. Sebab, Engkau sebagai panutan kami mengajarkannya. Dan Engkau sendiri telah lebih dulu melakukannya.

Kami serahkan pergumulan Saudara-saudara kami. Baik karena mempunyai harapan yang belum terkabulkan, karena kesulitan ekonomi, kesehatan belum kunjung sembuh maupun lainnya. Tuhan, tolonglah agar mereka menjadi lega karena Tuhan mekepaskan pergumulannya.

Doa ini, kami minta dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Markus 11:12-13a

Refleksi Harian: 1 Raja-Raja 21:2

Kuasa Untuk Kesejahteraan

Selamat pagi, selamat menikmati pagi tengah pekan Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Kita terus bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan juga terus mendampingi dan melindungi kita. Bahan refleksi harian: 1 Raja-Raja 21:2

Berkatalah Ahab kepada Nabot: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang.”

1 Raja-Raja 21:2

Saudaraku, banyak orang tidak siap ketika mengajukan permintaan ternyata ditolak. Ada perasaan dirinya kurang dihargai. Akibatnya memunculkan reaksi emosi bermacam-macam. Merasa Tersinggung. Bahkan berujung pada tindak kekerasan.

Permintaan seorang raja sering diartikan perintah. Seorang raja mengajukan permintaan, itu sama perintah yang harus dipenuhi. Tidak boleh didebat, apalagi didebat. Yang jadi obyek dimintai cuma satu pilihannya, yakni patuh dan mengabulkan permintaan seorang raja.

Nabot, orang kecil. Rakyat jelata. Kekayaannya terbatas. Dalam keterbatasan pemilikan harta material, dia punya sepetak tanah warisan. Karena tanah warisan ia tidak punya niat melepasnya, untuk dijual. Menjual harta warisan tindakan tercela. Tidak menghargai leluhur yang mewariskan agar keturunannya bisa mengelola demi kesejahteraan. Musti dijaga turun-temurun

Tragedi Nabot dimulai saat Ahab, sang raja mengidamkan untuk memiliki tanah yang ditanami anggur itu. Bukan saja tanah itu subur. Tapi juga, lokasinya dekat rumah raja Ahab. Mulailah nafsu keserakahan menguasai Ahab. Apalagi, pasti tidak perlu susah payah menguasai tanah tersebut. Karena milik orang kecil. Dampak politiknya tidak besar.

Berlatar belakang itulah, Ahab, Sang Raja meminta untuk tukar guling. Ahab menjanjikan akan menyediakan tanah pengganti di lokasi lain dan ditambah sejumlah uang.

Ternyata permintaan Ahab Sang Raja ditolak. Nabot tidak silau dengan iming-iming raja. Betapa menyakitkan penolakan demikian. Yang marah dan tersinggung harga dirinya bukan cuma Ahab, tapi juga Izebel, istrinya. Suami istri ini karakternya setali tiga uang,alias sama.

Kedua orang itu merasa mereka punya kekuasaan. Penolakan Nabot tidak bisa diterima. Mereka galau. Jengkel, ada rakyat jelata berani-beraninya menolak permintaan orang nomor satu. Izebel sebagai istri bukannya menyadarkan sifat keserakahan suaminya. Justru, dia mengompori atau memprovokasi raja bahwa itu penghinaan pada orang nomor satu.

Langkah mereka lebih lanjut adalah merancang pembunuhan. Tidak dengan menyewa pembunuh bayaran. Tapi, cara yang rapi tapi jahat. Yakni, bagaimana membuat opini bahwa Nabot telah melakukan tindak penodaan agama. Tuduhan seram. Dan hukumannya juga menakutkan sebab kematian. Bagaimana caranya? Izebel memohon tokoh-tokoh agama dan masyarakat berpuasa. Dengan dalih melindungi kepentingan kerajaan yang telah dilanggar Nabot. Selain itu, menyewa preman dan memviralkan informasi bahwa Nabot telah melakukan penodaan agama.

Dengan dua tuduhan palsu itu, Nabot divonis bersalah. Kemudian orang banyak merajamnya sampai tewas. Sebuah muslihat rapi, tapi jahat.

Saudaraku, kekuasaan itu bisa untuk kebaikan tapi bisa juga berbuat sewenang-wenang, sekaligus menyengsarakan orang lain. Ada pemilik kekuasaan memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya dipakai untuk mensejahterakan orang lain. Mereka bertindak adil. Dengan kekuasaan mereka mengangkat derajat kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya. Kekuasaan menjadi saluran berkat. Betapa bersyukurnya, jika kita punya presiden, gubernur, lurah, yang menjadikan jabatan dan kekuasaan untuk bisa berbuat baik.

Sebaliknya, betapa berbahayanya sebuah negeri yang pemimpinnya lebih mengutamakan dirinya. Kekuasaan menjadi korup. Fasilitas negara dipakai seolah-olah milik pribadi. Sama seperti raja Ahab ini. Dia merasa orang nomor satu di kerajaannya, maka ia manfaatkan kekuasaannya untuk memenuhi segala keinginannya. Ini berbahaya, sebab namanya manusia keinginannya tidak pernah berhenti. Tidak pernah mengenal cukup. Sudah punya ini, ingin itu. Sudah punya motor ingin mobil. Sudah punya mobil satu, ingin dua. Dan seterusnya.

Kekuasaan sekali lagi bermata dua. Seperti pisau, di tangan juru masak yang piawai bisa menjadi alat yang berguna untuk membantu pekerjaannya memasak makanan lezat. Tapi, di tangan perampok, pisau itu menjadi alat menakutkan dan berbahaya, untuk meminta paksa harta benda orang lain. Oleh karena itu, kekuasaan harus dibimbing moral dan pemiliknya takut akan Tuhan. Disertai ikut berkarya dan berdoa untuk negeri ini. Sehingga adil sejahteralah negeri kita dan berbahagialah warganya.

Kita berdoa, “Ya, Allah, karuniakan negeri kami dengan pemimpin yang menggunakan amanat dan kekuasaan untuk membangun negeri ini. Jauhkanlah negeri kami dari pemimpin yang takabur, serakah dan merugikan rakyat.

Kami berdoa buat keluarga oran beriman yang tercinta. Kiranya cinta-Mu yang agung bersama kami di tengah pekan ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan refleksi harian: 1 Raja-Raja 21:2

Refleksi Harian: Kejadian 27:43-46a

Persaudaraan Yang Rukun

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, yang kasih setia-Nya kepada kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita. Bahan refleksi harian: Kejadian 27:43-46a

Jadi sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku, bersiaplah engkau dan larilah kepada Laban, saudaraku, ke Haran, (44) dan tinggallah padanya beberapa waktu lamanya, sampai kegeraman (45) dan kemarahan kakakmu itu surut dari padamu, dan ia lupa apa yang telah engkau perbuat kepadanya…”

Kejadian 27:43-46a

Saudaraku, meski lahir dari rahim ibu yang sama, karakter tiap-tiap anak berbeda. Bukan hanya berbeda, malah bisa saling bertolak belakang. Ada yang pendiam, ada yang cerewet. Sering karena watak yang berbeda itu menimbulkan sikap yang juga berbeda menanggapi suatu kenyataan. Anak yang cerewet pasti komentarnya panjang dulu jika melihat suatu hari ibunya membelikan pakaian. Sedangkan si pendiam, tenang-tenang saja. Dia lihat, dia senang, langsung dia pakai.

Yakub dan Esau putra-putra Ishak, satu sama lain berbeda wataknya. Yakub ambisius, sedangkan Esau suka menyepelekan hal yang berharga. Puncak keperbedaan antar mereka berujung pada konflik panjang dan pahit. Kebencian dan dendam mewarnai perjalanan relasi kakak-adik. Tidak hanya sebatas mereka berdua. Ishak dan istri terkena imbas mereka. Mereka harus mengalami kepedihan mendalam.

Hal itu berawal dari ambisi Yakub ingin memperoleh hak dan berkat kesulungan. Sesungguhnya, sebagai anak kedua, itu jatah kakaknya Esau. Tapi, sesuai dengan wataknya ingin memiliki dan menguasai, cara menipu-pun dia tempuh. Sementara itu, Esau menganggap remeh hak dan berkat kesulungan. Sampai hal berharga itu, dengan ringannya dia mau barter dengan semangkuk sop kacang merah. Baru setelah proses barter terjadi, dia sadar adiknya merugikannya. Sebab, hak kesulungan akan mendatangkan jatah warisan tanah yang luas dan subur.

Kesadaran datang terlambat. Esau marah besar atas Yakub. Teganya, Yakub menipunya. Esau tidak mau introspeksi. Sebab bagaimanpun, wataknya yang menyepelekan atas hal yang berharga, ikut memberi andil terjadinya permadalah dia dan adiknya. Ia tumpahkan seluruh sumber kesalahan pada Yakub. Tak heran, ia marah sekali. Saking marahnya ia mau membunuh adiknya. Yakub bisa selamat, karena Ishak cepat memintanya pergi ke tempat aman. Dalam hal ini mengungsi ke rumah Laban, saudaraku.

Saudaraku, sesuatu yang penting dalam hidup itu tidak semata-mata yang bersifat bendawi. Persaudaraan yang rukun antar adik-kakak, itu juga sangat berharga. Antar kakak-adik harus dibangun sikap saling hormat. Dan jangan merugikan kakak atau adik, yang akhirnya menciptakan keretakan dalam relasi. Memang antar kakak dan adik meski lahir dari rahim yang sama, suka menyimpang perbedaan. Namun perbedaan itu harus dikelola dengan formula yang tepat. Meminjam falsafah Sunda, hidup agar saling tetap rukun harus saling asih, asuh dan asah. Saling mengasihi, saling memperhatikan dan merawat serta saling memperkuat.

Drama Yakub dan Esau tidak boleh terjadi di tengah keluarga kita. Serta, jangan sampai hal itu terjadi pada anak-anak kita. Persaudaraan yang rukun antar adik-kakak, itulah yang jika tercipta indah, menjadikan orang tua di masa tua bangga dan bahagia. Masa tua itu yang dipentingkan bukan berapa banyak jumlah uang di tabungan. Berapa luas lahan yang dimiliki. Tapi, seberapa rukun dan saling mengasihi antar anak-anaknya. Untuk itu, kita belajar dari kesalahan Yakub dan Esau, supaya kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Tuhan memberkati hidup penuh rukun.

Mari kita berdoa, “Tuhan, jadikan kami memberlakukan kasih sejati antar adik-kakak menjadi nyata.

Kami berdoa untuk anak-anak, cucu-cucu, para keponakan yang menimba ilmu. Tuhan lindungi mereka, dan mampukan mereka tetap bertahan dengan pola belajar di masa pandemik. Kiranya di tengah keterbatasan ruang gerak mereka bisa bertahan karena pertolongan Tuhan. Berkati orang tua yang membimbing.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kejadian 27:43-46a

Refleksi Harian: Lukas 13:8-9

Selagi Diberi Kesempatan

Selamat pagi, opa-oma, ibu-bapak, Saudaraku yang terkasih dalam Kristus. Baik dalam keadaan sehat maupun sakit, kita bersyukur di pagi yang baru. Bahan refleksi harian: Lukas 13:8-9

Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”

Lukas 13:8-9

Saudaraku, hidup itu kesempatan. Selagi kita masih bernafas, maka apapun mungkin bisa kita lakukan. Kesempatan adalah mengandung waktu yang dimiliki namun kelak akan berlalu. Waktunya bersifat singkat. Sehingga jika tidak segera dimanfaatkan akan lewat dengan cepat.

Setiap orang yang masih hidup punya kesempatan, namun berbeda-beda memanfaatkannya. Ada yang memanfaatkan sebaik-baiknya. Joe Biden, presiden Amerika Serikat yang baru saja dilantik berusia 78 tahun. Dalam usia sepun begitu, dia manfaatkan dengan berkarya sampai-sampai dipercayai sebagai orang nomor satu di negara adi daya tersebut.

Sayangnya, ada pula orang yang membiarkan kesempatan berlalu tanpa mengisi dengan hal bermakna secara optimal. Selagi seseorang masih punya orang tua, sekaligus Tuhan memberi kesempatan anak-anaknya mengasihinya. Lalu, apakah setiap anak mengasihi sungguh-sungguh orang tuanya. Tentu ada, dan banyak. Mereka yang memperlakukan orang tua dengan kasih. Cuma, tidak sedikit juga anak-anak yang gagal untuk itu. Sikap melawan orang tua, hidup ugal-ugalan, dan tidak menyantuni orang tua dengan cinta kasih. Hal demikian merupakan contoh-contoh yang mudah ditemui. Jelaslah, anak seperti itu membiarkan kesempatan untuk mencintai orang tua gagal dilaksanakan.

Pada kasus lain, orang tua yang mengabaikan kesempatan mencintai anak-anaknya sendiri, juga tidak sedikit. Kita bisa lihat ada anak-anak yang haus perhatian dan cinta kasih ayah atau ibunya. Mereka melihat ayah atau ibunya lebih banyak menghabiskan untuk orang lain, sedangkan buat mereka sendiri seakan hanya sisa-sisa waktu saja.

Dalam dunia kerja. Seseorang yang diberi kepercayaan untuk menduduki jabatan atau tugas tertentu. Lalu, bukannya mengisi dengan prestasi, malah cuma berleha-leha atau memperkaya diri sendiri. Hal demikian, kesempatan disia-siakan.

Tuhan Yesus memberi perumpamaan, tentang sebatang pohon ara. Tiga tahun sudah pemiliknya berharap dapat memetik buahnya. Apa yang dilihat pemiliknya? Ternyata harapannya tidak terpenuhi. Tiga tahun harapannya tudak menjadi kenyataan. Dia memutuskan memberi waktu tambahan satu tahun lagi, jika pohon ara itu tetap tidak berbuah ia meminta pengurus kebunnya menebang pohon itu. Sang pemilik sudah memberi kesempatan, ternyata ia pulang dari kebunnya dengan tangan hampa. Maka, ia memberi kesempatan terakhir, dan jika tetap saja pohon aranya tidak berbuah, keputusan telah diambil pohon ara itu akan ditebang. Satu tahun yang diberikan itulah kesempatan.

Saudaraku. Kesempatan itu berharga, dan bisa tidak terulang. Hidup Anda dan saya di dunia ini tidak berulang. Hanya sekali saja hidup di bumi ini. Mengutip sepenggal puisi Chairil Anwar, “sekali hidup. Lalu mati”.

Saudaraku, banyak kesempatan yang dikaruniakan Tuhan buat Anda dan saya. Bisa melayani Tuhan, itu kesempatan. Hidup kita dilengkapi kesehatan itu juga kesempatan. Anak-anak kita tengah memasuki masa remaja itu juga kesempatan. Pada saatnya itu semua di atas akan lewat. Maka, jangan biarkan kesempatan itu semua berlalu tanpa kita memberi makna.

Jika kita tidak mengisi berbagai kesempatan yang kita miliki itu sebaik-baiknya dan seoptimal mungkin, Itu sama dengan pohon ara yang tidak berbuah. Anda dan saya tahu pesan tegas firman Tuhan tadi, konsekwensi jika kita tidak berbuah, ditebang. Kasarnya, “bila hidup kita itu percuma, tidak bisa menghasilkan apa-apa. Maka, kehidupan kita tidak bermakna.”

Saudaraku. Dengan pertolongan Tuhan dan perawatan iman yang rutin dan tekun, percayalah dan bertekadlah bahwa kita bukan pohon ara yang tidak berbuah. Kita berpotensi menghasilkan buah. Sekaligus potensi itu telah dan terus menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jadikanlah itu tekad kita. Komitmen Anda dan saya.

Kita berdoa, “Tuhan hendaklah Roh Kudus bekerja dalam diri kami agar kami tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup yang Engkau karuniakan.

Tuhan, besertalah bersama saudara-saudara kami yang telah lama sakit, agar kiranya Tuhan bersama mereka. Engkau Memulihkan kesehatan, memberikan harapan dan kesabaran atas mereka dan keluarga mereka masing-masing.”

Dalam nama Yesus, doa ini kami naikkan kepada-Mu. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Refleksi Harian: Lukas 13:8-9

Refleksi Harian: Matius 5:7

Murah Hati Memberi Kebahagiaan

Selamat pagi, selamat memasuki akhir pekan. Semoga bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku bangun dengan tubuh yang segar, hati yang gembira dan perasaan penuh syukur. Terpujilah Tuhan. Bahan refleksi harian: Matius 5:7

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan

Matius 5:7

Saudaraku, beberapa waktu saya dan beberapa warga jemaat bicara-bicara soal kebahagiaan. Lalu, sampailah pada topik kuliner. Kira-kira makanan apakah yang bisa membuat happy. Eh, muncullah menu makanan yang semuanya sepakat bahwa makanan itu membuat rasa senang luar biasa. Anda tahu kira-kira makanan itu? Biar saya bocorkan. Yaitu nasi hangat ditemani ikan peda dan dikucuri jeruk nipis. Plus sambal. Maknyus.

Betapa sederhananya. Kami tidak menilai menu steak yang ratusan ribu sebagai makanan yang membahagiakan. Begitu Anda makan yang disebutkan di atas, keringat meleleh dan pedasnya sambal membuat mata lebih berbinar-binar. Mana bisa steak, baik daging lokal maupun impor bisa menciptakan suasana seperti itu?

Kisah kedua, di saat normal sebelum pandemik, yang membuat saya rasa bahagia adalah opa-oma yang pulang dari ibadah. Saya melihat opa atau oma yang menyebrang jalan di depan gedung gereja. Terus-terang saya sering was-was saat mereka menyebrang. Sebab, lalu lintas sangat ramai. Dan para pengendara memacu kendaraannya cukup kencang. Namun, rasa was-was berubah lega, manakala melihat jika ada satpam membantu menyebrangkan mereka. Dan sang satpam balik lagi dengan senyum. Saya perhatikan senyum itu merupakan tanda mereka melakukannya dengan senang. Happy.

Saudaraku, ternyata untuk kita bisa berbahagia itu tidak mahal. Buat saya tidak identik dengan hal-hal besar. Ada anggapan umum bahwa kalau ingin berbahagia maka kita harus mencarinya. Rasa suka cita, atau kebahagiaan tidak harus berbiaya mahal untuk mendapatkannya. Tidak harus menunggu jadi orang kaya lebih dahulu. Seolah-olah kebahagiaan disamakan dengan kemampuan memiliki barang yang mahal.

Demikian juga, kebahagiaan bukan berada di luar sana. Ada dalam diri kita sendiri. Kita bisa menciptakan kebahagiaan. Orang yang murah hati adalah orang membuat orang lain bahagia. Apa yang dimilikinya bisa membuat orang senang. Kemurahan hati merupakan sumber kebahagiaan buat orang lain. Dan pada gilirannya kebahagiaan orang lain memantul balik. Sehingga si pemurah hati pun menjadi berbahagia pula.

Saudaraku. Perhatikanlah dalam hidup sehari-hari. Tidak sedikit orang yang disebut hartawan dengan kekayaan yang cukup. Sayangnya karena ia tidak murah hati, kekayaannya selalu dianggap masih kurang. Ujung-ujungnya ia tidak mau apa yang dimilikinya dipakai membahagiakan orang lain. Akibatnya, ia pun kehilangan suasana kebahagiaan. Kekayaannya tidak membahagiakannya. Bagaikan minum air laut, rasa hausnya tak kunjung mengobati kedahagaannya.

Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa menjadi bahagia itu simpel. Sederhana. Kebahagiaan itu bukan dicari keluar dari diri kita. Kita punya potensi kebahagiaan. Asal kita mau membuat hati kita murah hati, maka jadilah kita orang berbahagia. Belakangan, suka ada survey untuk mengetahui negara mana yang paling bahagia di dunia. Bukan Amerika Serikat negara adi daya dan kaya. Bukan Indonesia negeri yang punya apa saja. Tetapi negara yang paling berbahagia adalah Swiss dan Denmark. Negerinya kecil. Suhunya dingin sekali. Apa yang membuat orang-orangnya bahagia dan hatinya hangat? Karena orang-orangnya senang membantu, termasuk pada orang asing sekalipun. Benarlah ucapan Tuhan Yesus, “Berbahagilah orang yang murah hatinya”. Semoga hari ini atau esok dan hari-hari mendatang, kita termasuk yang berbahagia itu.

Kita berdoa, “ Ya, Tuhan. Taruhlah dalam hati kami kemurahan hati sehingga kami membahagiakan orang tua kami, saudara kami, pasangan hidup kami bahkan sesama kami. Hidupkanlah semangat untuk bermurah hati.

Kami berdoa buat saudara-saudara kami yang sedang bergumul dengan kesulitan hidup. Karuniakan mereka satu persatu dengan cinta kasih dan berkat-Mu yang indah. Peliharalah, ya Tuhan, hidup mereka dengan keagungan cinta-Mu. Sehingga mereka sehat dan suka cita. Penuhilah kebutuhan hidup mereka sesuai usia dan harapan mereka masing-masing. Semoga kekuarga ikut merasakan kebahagiaan hari ini.

Berkati pelayanan ibadah kami di hari minggu besok. Dan berkati juga semua anak-anak-Mu, Tuhan. Dalam nama Yesus doa ini kami panjatkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan refleksi harian: Matius 5:7