Berpijak Pada Rencana Allah

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik. Refleksi kita pada hari ini mengajak kita untuk berpijak pada rencana Allah.

Firman Tuhan pagi ini, ”Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir”.

Matius 2:14

Saudaraku, situasi di Betlehem sangat membahayakan keselamatan bayi Yesus. Karena Herodes menempatkan bayi Yesus kelak pesaing atau kompetitor masa depannya. Ia merasa kelanggengan kekuasaannya terganggu. Betapa berbahayanya penguasa yang dihinggapi perasaan demikian. Akibatnya, terasa langsung. Yusuf, Maria dan Yesus harus hengkang dari kampung halaman.

Keputusan Yusuf sungguh berani dan tepat. Perjalanan dari Betlehem ke Mesir tidak boleh disamakan seperti perjalanan dari Jakarta Surabaya saat ini. Jauh, membahayakan dan lama. Maklum alat transportasinya yang tersedia adalah unta. Keputusan yang merupakan bentuk ketaatan Yusuf atas suara malaikat yang memberi perintah supaya pergi ke Mesir.

Dua kali Yusuf mendapat pesan dari malaikat. Pertama, malaikat meminta Yusuf tidak memutuskan pertunangannya dengan Maria. Oleh sebab kehamilan Maria. Yang kedua, permintaan malaikat untuk menyelamatkan bayi Yesus ke Mesir. Kedua permintaan dan nasihat malaikat itu dia ikuti. Suatu sikap penyerahan diri mengikuti rancangan Allah. Yusuf tetap berpijak pada rencana Allah.

Kedua permintaan malaikat itu beresiko. Tetapi, ia tetap mengutamakan kepatuhan daripada mencari selamat sendiri. Saudaraku, bagaimanapun kepatuhan kepada keinginan dan rencana Allah itu baik. Sikap terpuji. Tindakan mulia. Wibawa Allah kita hormati. Pada sisi lain, pemenuhan keinginan Allah menuntut keberanian menanggung resiko. Ada akibat yang harus dihadapi.

Yusuf dan Maria tentu harus berhadapan dengan kelelahan fisik, ketidak nyamanan padang gurun, bahkan ancaman orang-orang jahat yang beroperasi di wilayah padang gurun. Bisa jadi inilah salah satu perjalanan migran paling awal dengan motif keagamaan. Terpaksa pergi ke luar dari negerinya karena situasi dalam negerinya yang memaksa.

Saudaraku, kita melihat bahwa Allah yang hadir ke dunia, selain penuh kesederhanaan. Tetapi juga sarat dengan ancaman yang membahayakan. Penolakan manusia begitu kasat mata. Bayi Yesus diwarnai pengorbanan. Dan kelak puncaknya di kayu salib.

Kita bersyukur sebagai orang menyambut Yesus Sang Bayi Natal. Sekarang memang tidak ada lagi Herodes. Namun, orang yang menolak bayi Natal masih ada di mana-mana. Mereka yang takut Bayi Yesus mengancam kemapanannya. Mereka yang berwajahkan rasa takut dengan kehadiran natal. Ya, rasa takut bahwa Yesus mengusik rasa aman mereka. Seperti sikap melarang penyelenggaraan kebaktian perayaan natal. Hal ini menghambat hak paling dasar milik manusia, yakni kebebasan beragama.

Saudaraku, seperti Yusuf tidak menghentikan ketaatan dan kepatuhan atas suara Allah. Hendaknya kita pun bisa berbuat demikian. Langkah kita berpijak pada rencana dan keinginan Allah, meski jalannya terjal. Melelahkan. Tapi kita tidak boleh menyerah dan berhenti. Apalagi level tantangan dan masalah kita masih lebih rendah dibandingkan yang dihadapi Yusuf dan Maria.

Kita berdoa, Tuhan, ajarkan sikap taat dan mau dengar-dengaran suara-Mu. Meski untuk itu, terbentang resiko yang harus dilewati. Namun, kami percaya Engkau menuntun kami sehingga bisa menghadapinya.

Tuhan sertai perjalanan kami hari ini. Karuniakan kami dengan kesehatan, suka cita dan perlindungan-Mu.

Doa-doa ini kami naikkan dalam nama yang indah Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Peraih Kemenangan

Selamat pagi, ibu-bapak, mas-mbak, opa-oma dan seluruh saudaraku yang dikasihi Tuhan. Telah datang lagi pagi yang baru. Maka, datang pula kasih Tuhan yang selalu baru setiap pagi. Puji syukur kepada Tuhan, hari ini kita memasuki satu hari menjelang natal. Refleksi kita hari ini ingin memaknai hidup sebagai peraih kemenangan.

Firman Tuhan hari ini, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.”

1 Timotius 6:11

Saudaraku, banyak kiasan yang dipakai untuk menyatakan arti kehidupan ini. Ada yang bilang hidup itu bagaikan roda. Karena hidup itu berputar terus. Ada saat di bawah, ada pula saatnya di atas. Ada saat sehat dan muda, ada saat tubuh lemah dan menjadi tua. Ada saat menjabat dan ada saat turun jabatan. Begitupun, ada orang mengistilahkan hidup bagaikan air. Mengalir bebas. Tanpa belenggu, terus bergerak mengikuti lekak- liku kehidupan.

Selain itu, saya mengiaskan hidup itu seperti permainan roller coaster. Ada momen menakutkan, ada momen tertawa-tawa. Ada naik, ada turun. Ada waktu tenang, ada waktu berjalan cepat. Berbagai perasaan muncul buat yang pernah menaiki roller coaster. Begitu jugalah hidup.

Di dalam Alkitab kita temui berbagai kiasan tentang apa itu hidup. Salah satu kiasan yang populer adalah, hidup itu bagaikan pertandingan. Rasul Paulus yang memperkenalkan kiasan ini. Ia menyampaikan kiasan ini, sebab dia tahu situasi jaman waktu itu. Di era kejayaan imperium Romawi, olah raga merupakan kegiatan hiburan dan aktivitas prestasi yang amat disukai. Tontonan favorit. Nama stadion muncul dari sana. Penggemarnya massif atau banyak sekali. Pada saat rasul mengumpamakan hidup dengan perlombaan atau pertandingan, sedikit banyak orang-orang percaya di jamannya paham tentang itu.

Saudaraku, dalam suatu pertandingan pasti ada pihak yang disebut sebagai peraih kemenangan, ada pula pihak yang menderita kekalahan. Sebuah pertandingan membutuhkan stamina tubuh yang prima. Latihan rutin dan disiplin. Menguasai jenis yang dilombakan. Ada jurinya. Dan pasti ada juara beserta hadiahnya. Hal- hal tersebut merupakan unsur-unsur yang senantiasa ada pada sebuah pertandingan. Tanpa itu semua, tidak tepat disebut pertandingan.

Saudaraku, karena hidup adalah pertandingan, maka impian atau visi utama orang beriman harus menjadi pemenang. Cita-cita kita adalah berhasil menjadi peraih kemenangan. Sehingga kita mendapat hadiahnya. Dalam konteks iman, menang di sini adalah iman yang tidak tanggal. Iman yang terus bertahan sampai akhir kehidupan. Dalam satu kata yang padat disebut dalam kitab Wahyu, “Setia sampai akhir”. Itulah, orang beriman yang menang dalam pertandingan. Imannya tetap melekat hingga akhir hidupnya.

Sedangkan hadiah yang diberikan kepada setiap pemenang, bukan piala, medali, atau trophy kejuaran berbentuk apa yang kita kenal. Bukan trophy atau piala yang terbuat dari logam tetentu. Apakah itu terbuat dari timah, perunggu, perak atau emas. Bukan. Bukan berbentuk semua itu. Melainkan sang pemenang akan dianugerahi apa yang dinamakan “Hidup yang kekal”.

Yang dimaksud hidup yang kekal suatu suasana kehidupan yang amat dekat dengan Tuhan. Hadiah yang diberikan buat sang pemenang adalah “ kehidupan tanpa kertak gigi”. Sebuah gambaran suasana yang indah, nyaman dan minus penderitaan. Tidak ada keluhan sakit osteoprosis, diabet, jantung, asma sampai sakit gigi, terjangkiti virus ebola atau covid 19, yang semuanya menandakan unsur kelemahan tubuh jasmani kita.

Saudaraku, hari ini kita melanjutkan aktivitas rutin kita. Yang belum libur kerja berangkat ke pekerjaan dan melakukan tugasnya. Yang jadi ibu rumah tangga, sebentar lagi atau sudah mulai menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan buat merayakan natal esok hari. Para anggota keluarga sudah berkumpul. Pendeknya, kita semua melakukan kegiatan. Dan di tengah situasi kesibukan sehari menjelang natal ini, hendaklah kita bertekad untuk terus setia. Kita mau memposisikan diri selaku pemenang dalam pertandingan kehidupan. Kita tetap menjaga iman kita, dan iman itu mewarnai kehidupan sepanjang hari ini. Kita berjuang supaya kita atau orang-orang yang kita kasihi tidak mengalami kekalahan dalam pertandingan iman hari ini. Kita tidak mau menjadi pecundang, melainkan pemenang. Kita sambut bayi natal dengan senyum kemenangan. Semoga kasih Kristus memampukannya.

Kita berdoa, “ya, Allah, terima kasih kami masih menjalani kehidupan. Berikan kami kekuatan untuk hidup mulia di hadapan-Mu dan sesama kami. Dan kami tetap memelihara iman di tengah hidup sebagai perlombaan. Kiranya kami menyiapkan hati untuk menyambut-Mu dalam natal.

Kami berdoa buat semua saudara kami yang bergumul dalam hidup saat ini. Berikan mereka kekuatan, kesabaran dan pengharapan. Agar mereka mampu menghadapi rupa-rupa tantangan dan ujian hidup karena pertolongan-Mu, Tuhan.”

Kembali kami berdoa buat Saudara kami yang merindukan kesembuhan. Yang sampai saat ini dirawat di rumah sakit atau di rumah. Kami mendambakan kasih-Mu bersama mereka. Dan kuasa-Mu menjamah tubuh mereka. Kiranya natal hadir di tengah-tengah mereka.

Inilah doa dan harapan kami, ya Tuhan. Dengan pengharapan di dalam Kristus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Selamat menyongsong Natal.

Oleh Pdt. Supriatno

Membangun Relasi

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya tidak pernah berubah kepada kita, keluarga dan beriman kepada Allah Pagi ini, kita tetap merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita. Refleksi hari kita diajak untuk memaknai membangun relasi.

Firman Tuhan hari ini, ”Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Lukas 1:28

Saudaraku, salah satu bentuk yang mewarnai relasi dan komunikasi antar sesama manusia, adalah menyampaikan “salam”. Misalnya, “selamat pagi.” Atau, “selamat sore. Apa kabar?”. Hal itu kita lakukan sepanjang hidup kita. Sapaan itu menandakan adanya relasi hangat yang terus terjaga. Ada keperdulian atas orang lain. Seorang anak mengirim pesan lewat whatts app, dengan menyapa ibu atau bapaknya. Itu sesungguhnya ungkapan perhatian yang menghangatkan hati orang tuanya. Orang tua merasa anaknya tetap dekat, meski mungkin tidak tinggal serumah. Atau sedang ada kegiatan yang berada di tempat berlainan.

Sebaliknya, relasi antar manusia (interpersonal) yang tidak saling menyapa, bahkan dengan anggota keluarganya sendiri. Itu tanda bahwa relasinya sedang buruk. dingin. Bukan tidak mungkin sedang konflik. Saling diam memperlihatkan adanya relasi yang perlu dibenahi. Bagaimanapun praktik tegur sapa mengandung arti meningkatkan kualitas relasi antar manusia.

Malaikat mengunjungi orang yang terkait langsung atau tidak langsung dengan peristiwa natal. Kita ingat kepada para gembala dan sesuai firman Tuhan, mengunjungi Maria. Dengan menegaskan bahwa merupakan perempuan istimewa. Dan meminta Maria tidak terombang ambing dalam mengambil keputusan. Semua disapa dengan salam dan penegasan “jangan takut.”

Salam itu dari kata shalom. Artinya, damai sejahtera. Kata “salam” identik dengan “selamat”. Ketika saya menyatakan kepada Anda semua “selamat pagi”. Itu bukan sekedar sebatas ungkapan kesantunan, apalagi cuma “basa-basi”. Sebenarnya terkandung harapan tulus agar Anda yang saya sapa, pagi ini selamat. Anda semua dalam damai sejahtera.

(Karena itu, sangat pas jika kita tidak menyapa Allah, “ selamat pagi, ya Allah”. Karena Allah pemilik keselamatan. Kita tidak pada tempatnya mengharapkan agar Allah selamat. Yang butuh keselamatan itu manusia, sedangkan Allah adalah sumber keselamatan dan damai sejahtera).

Malaikat datang menyapa dan menyampaikan salam kepada Maria. Itu menunjukkan Allah ingin yang disapa berada dalam situasi damai. Seiring dengan itu, kita tidak takut maupun gelisah. Terutama berkaitan dengan kedatangan Yesus dalam natal. Natal adalah wujud keselamatan yang datang ke dunia. Dengan demikian, jangan memberi tempat ketakutan. Sebaliknya diri dan hati Anda serta saya menerima dengan girang.

Saudaraku, karena Allah datang ke dunia adalah sumber suka cita, maka semakin dekat kita dengan Dia, semakin kita merasakan kegembiraan. Termasuk semakin kuat tingkat sapaan antar sesama, baik itu di gereja atau di masyarakat. Sapaan yang mencerminkan rasa hormatii satu sama lain.

(Sebaliknya, suatu masyarakat ataupun kehidupan gereja yang kehilangan sapaan satu sama lain. Maka, keduanya kehilangan nutrisi yang dibutuhkan sebuah kehidupan bersama).

Kemarin, saya memandu sebuah seminar melalui online (webinar). Salah satu pembicara menyampaikan hasil riset perilaku keagamaan orang yang intoleran. Yaitu orang yang tidak menghormati orang atau kelompok yang berbeda. Ternyata, semakin kuat keberagamaan mereka semakin tidak menghargai mereka yang berbeda. Justru mereka tidak mau membangun relasi dengan yang lain. Suatu hal yang ironis.

Hal seperti ini, jangan sampai menjangkiti kita juga. Semakin rajin ke gereja, eh..semakin memusuhi atau berprasangka terhadap pihak lain yang berbeda. Apakah beda agama, beda suku, beda kelas sosial, beda orientasi politik, dsb.

Pesan utama natal, semakin dekat dengan Allah yang datang, maka semakin kuat kita membangun relasi antar manusia. Hidup bersama dengan damai. Tidak takut dan tidak menakut-nakuti yang berbeda. Tidak terancam dan tidak mengancam kehadiran sesama yang lain. Karena itu, benarlah sapaan dan salam malaikat, “jangan takut”.

Saudaraku, berkaitan dengan itu, pagi ini sapalah Allah. Dalam doa kita menyapa Allah. Setelah itu, kita lanjutkan menyapa dan memberi salam kepada sesama kita. Dengan salam namaste dan senyum hangat terekspresi secara alami. Lahir dari hati kita perasaan tentram atas kehadiran-Nya dan seiring dengan itu, sikap perduli atas sesama.

Kita berdoa, “Tuhan, karuniakan kami untuk selalu dekat dengan Engkau. Sebab dengan Engkaulah kami telah dan akan terus merasakan keindahan kebaikan-Mu. Demikian juga dengan sesama kami sehingga kami saling menyapa.

Kami serahkan hidup kami di tengah pekan ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Karuniakan kesehatan agar natal dapat kami rayakan dengan suka cita. Doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Hidup Tulus

Selamat pagi, oma-opa, ibu-bapak dan Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan. Kita berterima kasih kepada Tuhan, semalam kita dapat menutup mata, membaringkan diri dan beristirahat. Dan pagi ini kita menghirup udara pagi yang baru. Refleksi hari ini akan mengajak kita memaknai hidup tulus.

Firman hari ini adalah, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik”.

Roma 12:9

Saudaraku, ada seorang penyanyi rock Indonesia yang cukup terkenal, Achmad Albar. Kini usianya sudah tua. Tapi, sebagian orang masih mengingat sebuah lagunya yang menyatakan, “dunia ini panggung sandiwara”. Ya, menurut lagu ini, kehidupan ini penuh cerita. Dan setiap orang melakukan perannya. Ada peran wajar dan peran pura-pura. Syair lagu ini banyak yang menyukai karena dapat secara pas menggambarkan kenyataan sesungguhnya kehidupan ini.

Saudara, jika kita membaca firman tadi di atas, ada unsur pengakuan bahwa memang hidup itu betul sandiwara. Hanya memang sebagai orang kristen tidak dianjurkan. Sebab, orang yang bermain sandiwara tidak memperlihatkan jati diri sebenarnya. Orang kristen tidak boleh melakukan sesuatu dalam tujuan pura-pura. Anda atau saya bisa tidak merasa nyaman menjalankan peran pura-pura: pura-pura bahagia, pura-pura rajin, pura-pura ramah, pura-pura baik hati, pura-pura menolong, dsb.

Di sini, kita dianjurkan agar jangan mempraktikkan kasih yang pura-pura. Berarti tindakan kasihnya tidak tulus. Ada motif tersembunyi di balik apa yang dilakukan. Pepatah kita mengatakan “ada udang di balik batu”. Kasih yang pura-pura bukan supaya orang lain merasa kesejukan dari efek perbuatan kita, malah dirugikan. Kepentingan diri sendiri menjadi niat utama di balik kasih yang pura-pura. Ada rencana meraih keuntungan lebih besar daripada yang dilakukan.

Saudara, kepura-puraan bersifat tidak langgeng. Sebagai ilustrasi, Jika saya pura-pura baik hati dan ramah kepada orang lain, maka dalam waktu singkat orang itu akan mengenal sikap saya sebenarnya. Oh, ternyata saya itu orangnya kikir. Ketus. Kepura-puraan tidak bisa disembunyikan karena pelakunya akan lelah batinnya, karena perbuatannya tidak sesuai sikapnya yang asli. Kata orang, “akhirnya, ketahuan juga belangnya”.

Ganti pura-pura adalah perbuatan tulus. Murni. Motif yang sejujurnya di balik berbagai tindakan kita. Orang yang pura-pura akan menyeretnya dirinya sendiri pada hal yang jahat. Lihat saja, bukankah para penipu kebanyakan memerankan kepura-puraan. Kendaraan yang dikendarai, busana yang dipakai, makanan yang disantap, semua mencerminkan bonafiditas orang itu. Padahal, sebenarnya ia orang miskin yang pura-pura kaya untuk mengelabui orang lain untuk mendapat keuntungan dari penampilannya yang bersifat pura-pura itu. Yang dilakukannya jauh dari sikap hidup tulus.

Allah yang Maha Kaya turun ke dunia dalam kesederhanaan. Perbuatan Allah ini tidak pura-pura, karena Allah tidak bersandiwara. Kepapaan dan kesederhanaan-Nya merupakan bukti cinta kasih-Nya. Ia bersedia mengosongkan diri (Filipi 2:7) sebagai bentuk kesediaan sama dengan manusia dan bentuk ketaatan pada rencana Allah Bapa.

Orang yang pura-pura itu lupa. Ada dua pihak yang tidak bisa dikelabui oleh tindakan dan sikap kepura-puraanya, yaitu pertama Tuhan dan kedua, hati nuraninya. Karena itu, Saudaraku, mari kita berbuat wajar dan tulus. Jika kita kesulitan melakukannya, kita mohon Tuhan agar menguatkanya. Jika gagal melakukannya, kita mohon agar Tuhan berkenan mengampuninya. Daripada kita hidup dalam kepura-puraan, yang membohongi orang lain. Dan marilah kita hidup tulus dalam kasih, sebab kasih itu sesungguhnya adalah sikap yang murni yang direstui Tuhan dan hati nurani.

Kita berdoa: Tuhan, kami ingin bersikap dan bertindak dalam bimbingan-Mu, agar hati yang tulus dan murni mewarnai tindakan kami. Janganlah kami bersandiwara, karena Engkau tidak dapat dibohongi.

Hari ini, kami mengingat peran dan cinta kasih para ibu. Mereka sumber keteduhan dan perhatian atas keluarga. Pada saat merayakan hari ibu, kami berdoa agar mereka bahagia. Jerih dan perjuangan mereka Tuhan berkati.

Doa kami ini, kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Penuh Pengampunan

Penuh Pengampunan

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong akhir pekan seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Refleksi pagi ini kita akan memaknai bahwa Allah itu penuh pengampunan.

Firman Tuhan hari ini, “..Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Yohanes 8:11

Saudaraku, salah satu narasi atau kisah yang paling indah dalam kita Injil adalah kisah Tuhan Yesus mengampuni perempuan berzinah. Pasti suasananya tegang. Mereka yang merasa pembela kesucian moral masyarakat, membawa perempuan yang tertangkap basah berselingkuh. Mendebarkan buat si perempuan. Betapa tidak? Kedapatan berzina merupakan kekeliruan yang berakibat pada hukuman berat. Hukumannya rajam. Pelemparan batu pada perempuan itu hingga tewas. Sebuah bentuk vonis menakutkan. Sementara itu, teman petualangan seksualnya, lolos dari jerat hukuman. Entah, pada peristiwa itu di mana berada gerangan.

Lewat peristiwa ini, ahli taurat dan kaum Farisi hendak menjebak Yesus. Jika Yesus bersikap membela perempuan itu. Mereka punya dalih bahwa Yesus menyimpang dari hukum dan aturan yang berlaku. Jika tidak, ternyata Yesus tidak bisa menolong nyawa perempuan itu. Sungguh, tokoh agama itu bermain-main dengan nyawa seseorang, demi mendapatkan Yesus jatuh pada keputusan keliru (tricky).

Tuhan Yesus dengan diperhadapkan kasus perselingkuhan itu, pada posisi serba salah. Pasti para ahli agama dalam hatinya bersorak. Mereka beranggapan Yesus pada posisi pelik. Karena memilih yang manapun, mereka akan menemukan putusan Yesus akan salah. Di mata mereka, Yesus tertekan secara psikologis.

Ternyata Yesus menjungkir balikan keadaan. Yakni, dengan pertanyaan simpel yang menohok, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Keadaan berubah. Kini yang tertekan secara psikologis para pemimpin agama. Yesus tidak menghalangi pelaksanaan hukum rajam. Tetapi, dengan pertanyaan itu, mengetuk hati nurani siapapun yang siap-siap melempari batu, melihat dan menilai diri sendiri. Eksekusi batal. Ternyata, mereka tidak bisa menyangkali keberdosaan masing-masing. Mereka yang menganggap dirinya saleh, sadar mereka pun bukan orang suci. Sehingga satu-persatu malu dengan diri sendiri. Pergi dengan rasa sungkan.

Saudaraku. Cara Yesus, Guru Agung kita bersikap demikian sungguh di luar dugaan mereka yang siap menghakimi perempuan itu. Dari sana, Tuhan Yesus menampar muka para pendakwa perempuan berdosa itu.

Pada sisi lain, kita dimungkinkan melihat bagaimana Tuhan Yesus yang penuh pengampunan terhadap si perempuan. Sekaligus dengan tegas, memintanya tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Cara Tuhan Yesus memperlakuan orang berdosa, meloloskan perempuan itu dari jerat hukuman yang dramatis.

Saudaraku, ada prinsip indah yang kita petik dari kisah ini. Yakni sikap Tuhan Yesus memperlakukan orang berdosa. Di mata Tuhan seorang yang tergelincir ke dalam dosa bukan langsung dihukum seberat-beratnya. Dalam hal ini hukuman mati. Bagi Tuhan, selalu tersedia pintu pengampunan. Pintu itu terbuka lebar. Dan dari pengampunan yang diperoleh, seorang berdosa tidak mengulang perbuatan fatalnya. Waktu hidupnya tidak dihabiskan dengan bergelimang dosa lagi. Bangun. Bangkit. Melangkah ke arah yang benar.

Tuhan Yesus tetap menempatkan pelanggaran kesetiaan pada perkawinan itu merupakan kesalahan. Tidak sedikit sebuah perkawinan bubar gara-gara perzinahan. Artinya, perbuatan zina membawa efek merugikan keutuhan kehidupan perkawinan. Jelas itu sebuah bentuk kesalahan. Dan kesalahan serius. Ada yang dkhianati perkawinannya.

Saudaraku, kehadiran Tuhan Yesus ke dunia adalah kedatangan yang mencerminkan hati Allah yang penuh pengampunan. Orang berdosa tidak dibiarkan melangkah menuju kematian. Melainkan, agar hidup kita diperbarui. Dia datang bukan untuk menghukum. Dia datang buat mengasihi. Sehingga kita menempatkan posisi hidup kita agar hidup dalam cinta bukan dosa. “Pergilah jangan berbuat dosa lagi”. Sebuah perintah yang mengandung kepercayaan, sekaligus misi mengisi hidup yang penuh arti.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tetap patuh menjadi murid-Mu. Menghargai cinta kasih yang Engkau limpahkan pada kami”.

“Kami membawa dalam doa, untuk suka cita dan kesehatan setiap orang yang Tuhan berkenan. Semoga mereka berbahagia dan pajang umur. Tuhan melengkapi kebutuhan hidup mereka”.

Tuhan, tolonglah agar saudara-saudara kami yang masih terbaring sakit, di rumah maupun di rumah sakit. Mereka mendapat pemulihan dan kesembuhan.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin

Oleh Pdt. Supriatno