Mengalungkan dan Mengukir Kesetiaan

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Setelah semalam kita berbaring dan tidur, pagi baru hadir. Semua yang kita kecap merupakan kebaikan Tuhan. Haleluya.

Firman Tuhan, “ Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, (4) maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.

Amsal 3:3-4

Saudaraku, stadion olimpiade Mexico City, tahun 1968, mencatat kisah menarik. Sore itu, penonton tinggal sedikit yang masih duduk menunggu. Seharusnya stadion sudah ditutup. Wartawan sudah banyak yang pulang. Tapi panitia dan penonton masih menanti seorang atlit yang masih berjuang untuk menyelesaikan garis finish. Meskipun, pembagian hadiahnya selesai.

Yang mereka tunggu bernama John Akwari, atlet asal Tanzania. Tak diduga kakinya kram. Terjatuh terantuk trotoar. Ia terluka. Tulang kakinya bergeser karena jatuh. Bahunya luka. Dengan balutan di sana sini, bersikukuh hendak menyelesaikan pertandingan. Dengan tubuh sempoyongan, menahan rasa sakit, nafas yang berat, akhirnya terlambat satu setengah jam, ia memasuki stadion yang lampunya telah dimatikan.

Begitu kakinya masuk stadion, sontak gemuruh tepuk tangan penonton menyambutnya. Diiringi sorak sorai, kakinya menjejak garis finish. Tuntas.
Dengan rasa kagum, seorang wartawan yang tersedia, bertanya mengapa ia harus menyelesaikan pertandingan. Karena, bagaimanapun ia tidak akan memperoleh jenis medali apapun.

Apa jawabnya? Ia mengatakan,” negeri saya mengutus saya mengikuti pertandingan di tempat yang jaraknya 5.000 mil, bukan hanya pada garis start. Tetapi negeri saya mengutus agar saya bertanding sampai garis finish.” Sebuah jawaban mengapa ia menuntaskan pertandingan meski tidak ada peluang mendapat medali.

Saudaraku, suatu contoh sebuah kesetiaan terhadap apa yang diemban dan dipercayakan lalu dikerjakan dengan tuntas. Ucapan Amsal dengan gamblang menggambarkan pentingnya kesetiaan. Sampai-sampai perlu dikalungkan dan diukir dalam loh hati. Tanda kesetiaan harus melekat erat. Tidak boleh lepas atau dilepaskan. Terlihat, sekaligus tertanam pada hati.

Memang kesetiaan penting. Tugas, perkawinan, iman, perlu kesetiaan. Setia dalam tugas berarti mengerjakan tugas sampai akhir. Tidak berhenti di tengah jalan dan ogah-ogahan. Setia dalam pekawinan, berarti patuh terhadap janji nikah, dan itu dijaga sampai maut memisahkan. Setia dalam iman, menegaskan iman dilakukan tidak sewaktu-waktu. Namun, dijalankan tanpa berpaling memilih keyakinan yang lain.

Kesetiaan atas hal tertentu, maka kita menunaikannya, kita tidak cepat menyerah. Dan terus dijalani dari mulai start hingga finish. Kesulitan merupakan ujian yang tak mampu menghentikan apa yang hendak dikerjakan.

Saudaraku, kesetiaan juga kita kalungkan di leher dan diukir pada loh hati kita. Pertanda kesetiaan itu tidak boleh hilang dan patut dilaksanakan sampai tuntas. Dan mereka yang setia akan diganjar kasih dan penghargaan dari Allah dan manusia. Seperti John Akhwari, betul tak ada medali apapun dibawa pulang. Kegigihan dan kesetiaannya menorehkan kagum dan pesona. Dan aksinya menjadi legenda.

Mari, terus menjaga kesetiaan. Sehingga kesetiaan menjadi hal indah dalam hidup kita. Terpasang di leher kita. Dan tak luntur karena diukir pada loh hati kita.

Kita berdoa, “Tuhan, menempuh kesetiaan kerap harus menempuh jalan terjal. Tapi kiranya kami kukuh menghayati dan mempraktikkannya”. Amin.

Pdt. Supriatno

Musuh Menjadi Sahabat

Refleksi Pagi, Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik dan yang dikasihi Allah. Semoga kasih Kristus beserta kita dan kita mengucap syukur di pagi yang baru ini.

Firman Tuhan hari ini, Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Lukas 6:35

Saudaraku, manusia pada dasarnya diminta hidup bersama dengan lainnya dengan damai. Saling tolong-menolong. Saling mengisi. Saling topang-menopang. Hal yang mendasarinya banyak. Salah satu alasan utama adalah setiap manusia mempunyai keterbatasan. Kita bisa membaca lantaran ada guru. Kita tidak mungkin bisa makan selengkap sekarang jika tanpa kehadiran orang yang menanam sayur, menangkap ikan, dll.

Dengan hidup damai dan harmonis itulah, apa yang kita punya bisa bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya, hal yang dimiliki orang lain bisa mendukung hidup Anda atau saya. Kita bisa rasakan ketika yang terjadi bukan damai tapi konflik. Orang lain, bukannya memberi manfaat malah menjadi sosok yang merugikan.

Karena konflik maka lahirlah garis pemisah atau demarkasi. Ini kelompokku, itu kelompokmu. Terbentuklah kami dan mereka. Suasana saling membutuhkan, diganti saling bermusuhan. Begitu konflik terjadi melihat orang lain pun menjadi berbeda. Semula bisa saling membantu. Kini hidup sendiri-sendiri. Tentu, hidup bersama menjadi terganggu.

Ketika sesama berubah menjadi musuh, bagaimana kita harus menyikapi dengan benar? Tuhan Yesus, tahu tentang peta relasi antar manusia. Bahwa situasi yang Ia jalani bersama murid-murid-Nya pun tidak lepas dari kehadiran musuh. Memang mereka tidak memusuhi, tapi dimusuhi.

Tuhan Yesus jelas sadar betul, kita tidak hidup dalam suasana permusuhan. Sekaligus tahu, betapa berbahayanya sebuah hati yang dipenuhi permusuhan. Karena itu, Dia mengajarkan agar kita bisa mengubah sosok musuh menjadi sahabat. Bukan menganjurkan kita bersikap yang malah makin memperbesar api permusuhan. Bagaimana caranya? Bukan pendekatan Habil, dengan kekerasan. Apalagi sampai mengakibatkan kehilangan nyawa. Bukan dengan mengangkat senjata.

Cara yang dianjurkan Tuhan Yesus adalah mengasihi mereka dan pinjamkan sesuatu dengan tidak mengharapkan balasan. Ini pendekatan baru, kasih dan kebaikan. Anjuran yang asing, dan bisa juga aneh di telinga banyak orang. Itulah cara jitu mengubah hati seseorang. Dari musuh menjadi sahabat, dari permusuhan menjadi persahabatan.

Saudaraku. Enak didengar, tapi apakah pelaksanaannya mudah? Apalagi ditambah lagi “mendoakan” mereka. Tidak salahkah nasihat demikian? Saya tidak akan kaget jika ada orang menyatakan, “wah, pak pendeta, mengasihi saja susah banget. Apalagi, sekaligus mendoakannya”. Betul, sekali. Sulit teramat sulit. Bagaimana mungkin, seseorang bisa mengasihi orang yang menghinanya, menghancurkan bisnisnya, merebut kekasihnya, menjegal kariernya, menjelek-jelekan dan melecehkan Tuhannya, merenggut nyawa keluarganya?

Bisakah Anda dan saya atau orang kristen memadukan dua hal tadi, mengasihi dan mendoakan? Komentar banyak orang, “ya, Allah, gak mungkinlah”. Atau ” itu sulit. Enak aja. Dia sudah mergikan saya lalu dikasihi”. Bahkan sering kita dengar ungkapan, ” hutang nyawa musti dibalas nyawa”. Seluruh ungkapan-ungkapan ini memperlihatkan betapa sulitnya nasihat yang disarankan Yesus. Nasihat itu bagus, tapi sulit. Bisa jadi ada yang menilai kurang realistis. Imposible.

Saudaraku. Ungkapan-ungkapan itu memang kita dapat mengerti, terlebih jika yang jadi korban adalah keluarga sendiri, apakah suami atau istri, orang tua atau anak. Betul, sulit dan teramat sulit. Tapi jika tidak bisa dan tidak mau, Tuhan Yesus menyatakan, “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian”

Dengan bahasa lain. Lalu, jika orang beragama tidak mau, apa artinya keagamaan kita. Justru keagamaan yang tulen jiwanya penuh pengampunan. Jika tidak, dalam bahasa kasarnya, “apa gunanya kamu beragama? Berarti tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengasihi Allah.”

Jika kita bersikukuh tidak mau dan tidak bisa, di mana cinta kasih dan sikap doa kita? Kita mengakui, tatkala kita tidak mempraktikkan perintah Tuhan Yesus, kita melanggengkan permusuhan. Sadar atau tidak, kita membiarkan api permusuhan menyala terus. Tidak kunjung surut malah makin menjadi-jadi. Rantai permusuhan terus bersambung, tidak putus-putus. Bahkan permusuhan diwariskan ke anak cucu..

Tapi, bagaimanapun selama kita pengikut Kristus, itulah panggilan kita. Kita tidak membalas, melainkan mengasihi dan mendoakan.

Kita berdoa, “Tuhan, kuasai kami dengan Roh Kudus agar kami bisa mengubah musuh menjadi sahabat, permusuhan menjadi persaudaraan.

Kami berdoa buat saudara kami yang berulang tahun. Semoga hari ini berbahagia. Tuhan karuniakan usia yang bertambah. Semoga panjang umur, sehat, sejahtera menjadi berkat yang ia kecap. Tuhan menyayanginya.

Dalam nama Yesus, kami betdoa. Amin.

Tuhan Hadir dan Menyelamatkan

Refleksi Pagi, Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Hidup adalah perjalanan. Kita terus bergerak, melewati waktu. Puji syukur kepada Tuhan, perjalanan kita memasuki hari baru.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, ”Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.”

Yesaya 43:4

Saudaraku, di pinggir Jakarta ada nama satu tempat yang cukup terkenal. Kebanyakan orang tahu. Bukan karena sebagai lokasi wisata dengan pemandangan indah. Bukan. Tidak juga karena tempat itu mempunyai nilai historis atau bersejarah. Tidak juga. Tempat itu, tidak menyimpan pesona bagi manusia umumnya.

Nama tempat itu Bantar Gebang. Mudah-mudahan Anda semua tahu. Ya, di salah bagian daerah itu terdapat tempat pembuangan sampah. Sampah di mana-mana dianggap benda yang sudah tidak dipakai. Layak dibuang. Orang menganggap benda tidak berguna lagi. Manusia yang disebut “sampah masyarakat”, sebutan menyakitkan dan melecehkan seseorang. Orang itu berarti layak dibuang sebab tidak berguna lagi buat masyarakat.

Namun, definisi sampah sebagai benda yang tidak punya nilai kegunaan tidak berlaku. Seorang bernama Sitorus, justru di tempat itu melihat sampah secara berbeda. Justru, tambang emas. Diolah kembali dan menghasilkan nilai ekonomis milyaran rupiah. Bukan hanya dia lalu diuntungkan, tapi banyak orang. Bahkan ia membayar pajak ke pemerindah daerah dengan angka yang besar sekali.

Saudaraku, jika sebuah benda yang sudah dibuang orang di tempat yang kotor, di mata seseorang masih berharga. Tetap punya nilai. Maka, jika kita refleksikan kepada kita sebagai manusia, di mata Allah. Jelas, Allah memandang kita lebih dari itu. Kita ingat kota Niniwe. Kota metropolitan yang jahat, berdosa dan sikapnya memuakkan. Di mata Yunus, penduduk kota itu layak dibinasakan. Saking muaknya, dia menolak perintah Tuhan ke sana. Lalu, bagaimana di mata Allah? Tetap dikasihi. Tidak dibuang. Tidak pula dibinasakan.

Saudaraku, umat Tuhan berada di pembuangan. Ratusan tahun hidup di negeri orang, baik Persia maupun Babylonia. Iran dan Irak sekarang ini. Dalam situasi demikian, Yesaya mengingatkan mereka bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka. Alasanya, mereka berharga di mata Allah. Janji dan harapan ini tentu bagaikan air sejuk di tengah padang gurun. Menyegarkan dan memberi semangat buat mereka. Di tempat yang jauh dari kampung halaman, Tuhan hadir dan menyelamatkan mereka.

Saudaraku. Salah satu perasaan berat yang dihadapi manusia adalah ditimpa kesulitan. Sehingga merasa ditinggalkan. Perasaan ditinggalkan adalah perasaan seolah-olah dalam kesendirian ia menghadapi realitas yang berat. Seorang istri merasa ditinggalkan suami. Maka, sang istri merasa ada beban berat yang harus dipikulnya. Mungkin Anda familiar dengan lagu, “Mother how are you today?”. Seorang anak yang meyakinkan bahwa dia tidak meninggalkan ibunya. Karena itu jangan kuatir.

Pagi ini, di hari Senin, kita melangkah dengan tegap. Kita percaya bahwa kita berharga di mata-Nya. Karena itu, jangan kuatir. Ia bersama langkah kita.

Kita berdoa, Tuhan, Engkaulah sumber kekuatan kami. Syukur kami berharga di hadapan-Mu. Luputkan kami dari bahaya di hari baru ini. Amin

Teguran Tanda Peduli

1 Raja-raja 19:3-4

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di akhir pekan ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. (4) Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

1 Raja-raja 19:3-4

Saudaraku, banyak milik manusia yang berharga. Dan bagi siapapun menganggap bahwa yang paling berharga nyawa. Saking berharganya, orang berani membayar berapapun biaya yang harus dikeluarkan demi nyawanya. Lumrah. Karena manusia cuma punya satu nyawa. Tidak ada cadangannya. Dan, tidak diperjual belikan.

Bagi seorang nabi, hal itu pun sama. Wajar, saat nyawanya terancam maka harus diambil langkah penyelamatan. Seorang nabi tidak membiarkan nyawa hilang begitu saja. Dengan segala upaya, seorang nabi pun agar nyawanya tidak hilang sia-sia.

Kita tahu menjadi nabi itu penuh resiko. Tugasnya untuk menyampaikan kehendak Allah, tidak selalu disambut dengan ramah dan terima kasih. Nasihat dan anjurannya tidak selalu diterima dengan suka cita. Di mata orang yang bergelimang dalam ke salahan. Dan enggan keluar dari sana. Suara nabi bukan suara yang diperlukan. Malah, dianggap mengganggu. Menganggu keasyikan mereka.

Nabi Elia merasakan dan mengalami resiko itu. Hidupnya terancam, setelah menjalankan tugas kenabiannya. Memang, tugasnya berat. Kali ini, yang dihadapi pun bukan figur yang sembarangan.

Tugasnya, mengharuskannya menghadapi 450 nabi Baal. Dan berhasil, semua diatasinya. Itu jelas-jelas merupakan reputasi luar biasa. Elia dengan gagah berani melampaui tugas itu dengan baik. Tapi, rentetan selanjutnya, karena tindakannya itu ia harus berhadapan dengan ratu Izebel. Perempuan nomor satu di kerajaan itu. Ratu pelindung nabi-nabi Baal tersebut tidak berkenan dengan Elia.

Suasana seperti apa, yang musti dihadapi nabi Elia? Ratu itu murka. Tingkat kemurkaannya sampai ia memerintahkan agar menangkap nabi Elia untuk dibunuh. Betapa takutnya nabi Elia, nyawanya terancam. Sebagai seorang nabi, ia juga manusia. Ia tidak rela nyawanya hilang. Situasi ini menimbulkan tekanan psikologis dan keresahan batin. Sehingga ia mengadu kepada Tuhan. Sekaligus terungkap pernyataan tanda ia tertekan dan frustasi serta mengeluh, “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku…”

Saudaraku, membawa orang lain untuk sadar dari kekeliruan ternyata membawa konsekuensi. Betul, ada orang yang berakal sehat, yang senang jika salah diingatkan. Betul, ada orang yang hatinya terbuka, jika berbuat keliru maka bersedia dinasihati. Kemudian ia berbalik pada pola hidup yang benar.

Nabi Elia berhadapan dengan orang yang menolak keras nasihat, teguran dan ajakannya berbuat baik. Padahal, siapa sih orang orang yang tidak punya salah? Setiap pribadi tidak lepas dari kekeliruan. Sayangnya, begitu ada pihak dengan tulus hati, motif yang bersih, dan niat yang bening, memberitahu dan mengajak kembali ke jalan yang benar. Tidak semua orang menyambutnya dengan baik. Dianggapnya, tindakan itu membuka aib. Disangkanya berniat mempermalukan. Bahkan ada yang merespon berlebihan sebagai pencemaran nama baik. Tidak heran, reaksi marah dan tersinggung kemudian muncul.

Saudaraku, hari ini, saat kita beraktivitas, ternyata ada hal kurang pas yang kita lakukan. Bersyukurlah, jika ada orang lain menegur dan menasihati. Teguran tanda peduli dan perhatian.

Seiring dengan itu, jika kita melihat justru orang dekat kita, yang bertindak kurang pas. Melanggar etika dan tidak sejalan dengan firman Tuhan. Bisa saudara sekandung, anak kita, pasangan hidup kita, atau rekan kita sendiri. Jangan ragu, ingatkan dan nasihati. Bertindaklah dengan niat yang tulus dan cara yang tidak melukai hati. Bahasa agama itu santun. Tidak usah pakai teriak-teriak, nada marah dan bahasa jorok atau vulgar. Kiranya Tuhan menguatkan kita mengemban tugas ini.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami tidak gentar untuk memikul tugas luhur menciptakan kehidupan yang benar bagi siapapun.

Kami berdoa buat saudara kami yang sakit dan harus dirawat di rumah atau di rumah sakit. Kami memohon kepada-Mu, Tuhan, agar diberi perkembangan kesehatan yang lebih baik. Kehadiran-Mu memberi kekuatan dan pengharapan.

Tuhan, semoga akhir pekan ini, kami bisa menikmati hari bersama keluarga, saudara atau teman-teman dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Kami dapat mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Oleh: Pdt. Supriatno

Mengelola Talenta

Kejadian 37:28

Puji syukur kepada Allah Sang Pemberi kehidupan, pagi ini kita masih menghirup udara hari yang baru. Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudaraku yang baik.

Pagi ini kita ingin memetik hikmat dari firman Tuhan, yakni, “Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.”

Kejadian 37:28

Saudaraku. Setiap orang punya kelebihan. Allah memberikan tiap manusia dengan talenta masing-masing. Dalam satu keluarga ada yang talentanya sama, namun tidak sedikit yang beragam. Pada umumnya, setiap orang memiliki kelebihan khas masing-masing. Ada yang unggul di bidang olah raga, ada juga di bidang organisasi, contohnya. Meski satu keluarga ada beragam talenta.

Seyogyanya setiap kelebihan yang dimiliki oleh anggota keluarga kita menjadi kebanggaan bersama. Kelebihan disyukuri sebagai pemberian yang kelak berdampak positif atas yang lain. Sebaiknya demikian. Sayangnya, fakta di dalam kehidupan sehari-hari tidak begitu. Kelebihan di sebuah keluarga malah memicu iri hati. Sangat disayangkan, akhirnya relasi dalam keluarga terganggu. Kelebihan dimaknai keliru maka efeknya bukan membawa kebersamaan, malahan menimbulkan perpecahan.

Yakub mengalami kepahitan berkenaan kurang tepat menyikapi kelebihan salah satu putranya, Yusuf. Di mata Yakub, Yusuf punya kelebihan melampaui saudara-saudaranya yang lain. Semata-mata karena Ia dilahirkan di masa tua Yakub. Sosok Yusuf lebih diistimewakan. Jubahnya saja lebih baik daripada yang lain. Ditambah lagi, Yusuf punya kelebihan sebagai visioner. Tahu tentang masa depan. Hal ini membuat Yakub makin berlebihan mengistimewakannya. Sedangkan respon saudara-saudaranya menunjukkan ketidak sukaan. Justru hal itu memercikkan kecemburuan. Saudara-saudara Yusuf bukan membanggakannya malah merancang hal jahat atasnya.

Drama keluarga terjadi lantaran keliru memaknai. keluarga menuai perpecahan. Keutuhan terganggu. Klimaksnya, muncul rancangan pembunuhan. Ya, bagaimana melenyapkan Yusuf dari dunia ini. Sebuah permufakatan jahat tercipta di kepala saudara-saudara Yusuf. Itu tanda betapa saking besar kebencian yang tertanam pada diri saudara Yusuf. Mereka tidak lagi punya rasa cinta dan belas kasihan. Yusuf itu saudara sendiri. Punya ayah yang sama, tinggal di bawah atap yang sama, makan dari masakan dapur yang sama. Itu semua dilupakan jika kebencian sudah sampai ke ubun-ubun.

Awalnya saudara Yusuf hendak membunuhnya dengan membuang Yusuf ke sumur. Skenario berubah, mereka menjual Yusuf sebagai budak berharga 20 syikal perak. Bagi mereka dua keuntungan dipetik, pertama sosok Yusuf tidak ada lagi di depan mata mereka. Mereka lega. Kedua, keuntungan ekonomis. Dapat uang.

Saudaraku, mala petaka dimulai. Yusuf telah tiada di rumahnya. Sejak itu Yakub kehilangan semangat hidup. Sedih berkepanjangan. Sepotong informasi bohong yang direkayasa anak-anaknya itulah yang jadi pegangannya bahwa Yusuf telah tewas oleh binatang buas. Pancaran kegembiraan di hati Yakub pudar. Kebanggaan atas anak tersayang direnggut tiba-tiba. Seorang ayah menjalani hari-hari panjangnya dengan rasa hilang yang mendalam.

Saudaraku, bagaimana kelebihan harus dikelola dengan benar sehingga tidak berubah menjadi bencana keluarga? Kelebihan di antara saudara jangan diperlakukan berlebihan sehingga ada yang merasa diperlakukan berbeda. Hindari ada anak emas di tengah keluarga. Sebab nanti ada anak yang lain merasa tidak diperlakukan sama. Di gerejapun semua warga jemaat harus dilayani dan diperlakukan sama, entah dia punya kelebihan apapun. Tidak ada favoritisme. Demikian juga dalam kehidupan berbangsa. Tidak ada warga negara kelas satu, hanya karena menganut agama tertentu. Semuanya sama. Perlakuan sama akan melahirkan kekompakan, sedangkan pembedaan membuahkan perpecahan. Drama keluarga Yusuf patut menjadi pelajaran berharga. Seorang ayah harus berpisah puluhan tahun dengan anak yang dicintainya. Persaudaraan diporak porandakan rasa iri, cemburu dan kebencian. Agar kita tidak demikian, kita menerima anggota keluarga kita dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan rasa syukur. Yang nasibnya kaya kita syukuri, dan kurang kaya kita cintai juga. Yang berhasil dalam menimba ilmu kita kasihi, yang tidak dia juga kita sayangi.

Mari kita berdoa, Ya, Tuhan, Engkau mengaruniakan kami dengan talenta masing-masing. Kiranya itu dapat kami kelola dengan tepat dan baik sehingga menjadi berkat buat kami. Doa ini kami panjatkan hanya dalam nama Yesus Tuhan kami. Amin.