Mari Hitung Berkat

Oleh Pdt. Supriatno

Kisah Para Rasul 23:23-24

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Selamat menyongsong hari baru. Dalam keadaan apapun, kita percaya selama Tuhan menyertai kita, maka hari itu kita akan menemukan berkat-Nya yang indah.

Firman Tuhan kita hari ini “Kemudian kepala pasukan memanggil dua perwira dan berkata: “Siapkan dua ratus orang prajurit untuk berangkat ke Kaisarea beserta tujuh puluh orang berkuda dan dua ratus orang bersenjata lembing, kira-kira pada jam sembilan malam ini. (24) Sediakan juga beberapa keledai tunggang untuk Paulus dan bawalah dia dengan selamat kepada wali negeri Feliks.”

Kisah Para Rasul 23:23-24

Saudaraku, pertolongan bisa saja lahir dari siapapun, bahkan berasal dari pihak yang tidak terduga. Rasul Paulus nyawanya nyaris direnggut oleh pemimpin agama Yahudi dan kelompok massa. Itu artinya, nyawa kehidupan rasul Paulus kurang dihargai. Oleh teman sebangsanya sendiri justru ia diperlakukan secara buruk.

Kita melihat perlakuan istimewa malah datang dari pasukan Romawi atas rasul Paulus. Demi keselamatan nyawanya dikerahkan kekuatan pasukan ekstra. 470 orang prajurit dengan berbagai spesialisasi dikerahkan melindunginya. Sungguh luar biasa. Hal tersebut bisa mencerminkan simpati pimpinan militer pasukan Romawi. Mereka tidak mau rasul Paulus yang dalam tahanan tewas di tangan orang Yahudi. Mereka membawa rasul Paulus dengan aman kepada gubernur. Penguasa dan pemimpin militer merasa tetap bertanggung jawab atas keselamatan warganya.

Padahal rasul Paulus tidak punya koneksi orang penting atau kenalan pejabat militer di kekaisaran Romawi. Juga tidak punya saudara atau keluarga yang menjadi prajurit Romawi. Lalu mengapa bisa? Sungguh pembelajaran bermakna. Hal tersebut dikarenakan hukum Romawi sangat menjunjung tinggi keselamatan warganya. Dan betapa kuat kepatuhan pemimpinnya atas aturan main tersebut. Kita tahu, rasul Paulus meski kebangsaannya Yahudi dan dididik dalam kehidupan tradisi dan agama Yahudi, tetapi ia adalah warga negara Romawi.

Secara iman, kita meyakini bahwa rencana dan kehendak Allah yang dilakukan rasul Paulus tidak terhalangi niat jahat bangsanya sendiri. Dan Allah melakukan cara penyelamatan yang terbaik melalui tangan pasukan militer Romawi.

Saudaraku. Selain perlakuan demikian, Alkitab mencatat bahwa selama dua tahun berada di kota Roma. Rasul Paulus “tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.” ( Kis 28:31).

Hal tersebut menjadi pembelajaran bahwa menjadi hamba Tuhan atau juga orang kristen, tidak selalu diperlakukan buruk. Tidak senantiasa kesulitan dan penderitaan yang dihadapi. Hidup itu, tidak selalu muram. Wajah kekristenan tidak selalu identik dengan kesusahan dan kesengsaraan. Kepedulian, dukungan, simpati juga mengalir dari pihak manapun. Tuhan bisa memakai siapapun menjadi berkat buat orang kristen. Hal ini bukan berarti kita mau menutup mata dengan pergumulan berat yang sewaktu-waktu kita alami. Tidak sama sekali. Hanya tidak berimbang dan fair melihat kehidupan hanya pada sisi penderitaan saja. Terlebih melupakan karya Tuhan yang membuat hidup kita indah. Kita pun mengecap manisnya dan indahnya menjadi orang kristen di dunia ini, konkritnya di negeri ini.

Saudaraku, saat di hadapan mata kita ada setangkai bunga mawar. Apakah kita melihat durinya yang tajam atau sosok bunganya yang indah? Kebanyakan orang melihat bunganya. Bila fokus pada durinya, bukan tidak mungkin bunga mawar tidak disukai. Tajam dan perih bila tertusuk durinya. Demikian pun, kita melihat sosok orang kristen. Ada banyak pengalaman yang menyenangkan dan penuh kegembiraan. Tidak percaya? Mari kita menghitung berkat Tuhan satu-persatu.

Kita berdoa, Tuhan, Engkau bisa saja memakai siapapun yang menjadi alat mendatangkan suka cita dan damai sejahtera. Selama ini, kami mengecap dan mensyukurinya. Dengan demikian, Tuhan menyediakan hidup yang indah di dunia ini.

Kami berdoa, bagi lansia dan mereka yang berjuang dengan keluarga yang tengah memikul salib kehidupan. Karena orang yang dikasihinya tengah sakit. Kuatkan dan berilah penghiburan sejati. Kiranya Tuhan berkenan menguatkan dan mendampingi mereka. Agar mereka hanya berpaling kepada-Mu. Hari esok kiranya Tuhan tetap bersama mereka.

Kami serahkan segala aktivitas kami kepada-Mu. Jika menghadapi hal yang sulit, kami tidak meninggalkan Engkau. Bila meraih kemudahan, kami mensyukuri kebaikan-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Jangan Diam

Oleh Pdt. Supriatno

Kisah Para Rasul 13:6-7

Firman Tuhan sebagai pijakan refleksi diambil dari, ”Mereka mengelilingi seluruh pulau itu sampai ke Pafos. Di situ mereka bertemu dengan seorang Yahudi bernama Baryesus. Ia seorang tukang sihir dan nabi palsu. (7) Ia adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, yang adalah orang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah.”

Kisah Para Rasul 13:6-7

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Hidup yang kita jalani adalah anugerah. Ketika kita masih bernafas dan jantung kita berdegup, kita bersyukur atas anugerah Tuhan yang tetap berkesinambungan.

Saudaraku, seseorang akan marah disertai rasa benci, pada saat kemapanannya terganggu. Maka, modus untuk melindunginya adalah dengan bertindak secara emosi berlebihan. Pengalaman ini terjadi dalam kisah nyata (true story) yang dihadapi rasul Paulus dan Barnabas.

Dalam rangka mengabarkan Injil Kristus, rasul Paulus dan Barnabas menjadikan sinagoga (tempat ibadah orang Yahudi) sebagai titik pijak. Di sanalah Injil diberitakan, dan dari sana kemudian rasul Paulus bisa mengenal berbagai pekerjaan dan karakter seseorang.

Di tempat ibadah itu, sinagoge, rasul Paulus bertemu dengan dua tokoh agama dan masyarakat serta pemerintahan. Yang satu bernama Baryesus, seorang tukang sihir dan sekaligus nabi palsu. Pengaruh Baryesus sudah mencengkram komunitas orang Yahudi waktu itu. Dengan mengajar tentang harapan palsu dan ajaran penuh misteri, orang Yahudi tidak berani menyingkirkan keberadaan dan cengkraman kuku pengaruh Baryesus. Ditambah lagi, pergaulan sosial Baryesus tergolong hebat. Ia bisa menjadi teman gubernur. Ini menggambarkan tokoh ini masuk kelompok elit keagamaan dan masyarakat waktu itu.

Sementara itu, di mata Baryesus kedatangan Barnabas dan rasul Paulus untuk mengabarkan Injil merupakan awal ancaman baru. Ia merasa terusik. Dia melihat para pendatang baru dimaknai selaku ancaman baru. Lebih-lebih gubernur bernama Sergius Paulus menunjukkan minat, ingin mendengar dan ingin tahu pengajaran rasul Paulus dan Barnabas. Gubernur sebagai orang cerdas terus mencari wawasan dan pegangan yang bisa dipercayai kebenarannya.

Jelas, itu membuat Baryesus gelisah. Sebab, jika gubernur terpikat ajaran rasul Paulus dan Barabas goyahlah posisi sosialnya. Ia bisa diabaikan sang gubernur. Dan itu dampaknya bisa kemana-mana, termasuk periuk nasinya. Tidak mengherankan itu kemudian memicu lahirnya upaya menggagalkan keinginan gubernur. Baryesus menghalang-halangi hasrat gubernur, sahabatnya itu.

Saudaraku, rasul Paulus tidak berdiam diri atas apa yang dilakukan si tukang sihir merangkap nabi palsu itu. Ia tidak cuma menggertak tapi sekaligus membuat Baryesus mengalami kebutaan selama beberapa hari.

Artinya, saudara, jika ada pihak yang bertindak sewenang-wenang dan menghambat seseorang mencari kebenaran hakiki, kita tidak boleh diam. Pasif berarti menyetujui. Allah tidak merestui kita cuma pasrah dan diam saja. Kita ingat ucapan Tuhan Yesus saat menjalani penderitaan-Nya. Ia pun mempertanyakan ”Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?”

Saudaraku, ucapan Tuhan Yesus dan pengalaman rasul Paulus mengajar kita supaya jangan diam. Atau bahkan jangan takut, tatkala kita menyampaikan berita dan informasi yang benar tentang Allah yang menyelamatkan. Orang kristen tidak boleh seperti trenggiling. Saat situasi berbahaya wajahnya disembunyikan. Masuk ke cangkangnya. Begitu lingkungan aman, keluar wajahnya. Identitasnya hanya muncul di kala aman dan senang. Di saat berhadapan tantangan menyembunyikan wajah identitasnya.

Kita berdoa, “Tuhan biarlah kami merespon jika ada yang membutuhkan pesan Injil-Mu. Dan tidak berdiam diri saat tindakan mereka menghambat tugas yang kami kerjakan. Ajarlah jangan diam, apalagi bersembunyi dalam ketakutan.”

Kami berdoa agar keluarga tercinta kami, mereka Tuhan lindungi. Engkau berkenan menjadi benteng yang kokoh. Jauhkan kami semua dari bahaya wabah dan mampukan kami menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin.
Seluruh doa ini, kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Back To Basic

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 2 Raja-raja 5:16

Waktu terus bergulir. Pagi berganti malam. Malam berlalu, kini pagi baru telah tiba. Selamat pagi, ibu-bapak, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Terpujilah Tuhan Yesus yang menemani dan melindungi kita hingga detik ini.

Firman Tuhan hari ini, “Tetapi Elisa menjawab: “Demi TUHAN yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa.” Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolak.

2 Raja-raja 5:16

Saudaraku, tentu masih ingat seorang panglima militer bangsa Aram bernama Naaman. Seorang yang mengalami pertolongan Allah sehingga tubuhnya yang berkusta, sembuh sepenuhnya. Ia tidak melupakan peranan nabi Elisa dalam proses penyembuhannya. Respon Naaman setelah pulih menyatakan bahwa “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!”

Selain pernyataan tersebut mengandung sebuah pengakuan iman. Selain itu, memperlihatkan Naaman merasa sangat berutang budi atas jasa baik nabi Elisa. Karena itu, dengan penuh rasa hormat dan tulus, ia ingin memberikan tanda kasih. Rupanya, nabi Elisa tidak berkenan menerima tanda kasih berupa materi. Ia menghayati selaku pelayan Allah, mengerjakan tugas dengan tanpa pamrih, atau bermotifkan ingin memperoleh harta benda. Tidak heran ia menolaknya, meski Naaman meminta dengan sangat agar pemberian tanda kasihnya diterima.

Berpisahlan mereka satu sama lain. Nabi Elisa sangat menjunjung penghayatan status nabi sebagai pelayan Allah. Tapi, tidak demikian halnya dengan Gehazi. Ia melihat niat baik dan sikap berbudi Naaaman sebagai peluang memperoleh keuntungan. Ia beranggapan, bahwa jika ia memperoleh benda materiil pasti Naaman tidak keberatan.

Maka, dikejarnya rombongan Naaman. Dan Gehazi memakai nama Elisa. Dia menyatakan nabi Elisa berubah pikiran. Ia mengajukan permintaan tanda kasih merupakan keinginan nabi Elisa. Gehazi dengan beraninya memanipulasi permintaan itu, dengan mengatas namakan nabi Elisa. Gehazi hendak memperkaya diri, tak perduli dia menurunkan citra nabi di mata Naaman. Seolah-olah nabi Elisa plin-plan. Mudah berubah pendirian. Meski buat Naaman, dia sendiri tidak keberatan dengan memberi dua talenta perak dan dua lembar pakaian.

Saudaraku, orang yang merasa berutang budi, memang kerap memberi dengan suka cita. Jaman kini, sulit orang atau bahkan hamba Tuhan yang punya pendirian seperti nabi Elisa. Jika diperdebatkan memang sepintas kelihatannya jika mau menerima hadiah, itu tidak salah. Itu, bukan suap. Bukan pula pemerasan. Itu pemberian tulus. Lalu, pertanyaannya kenapa nabi Elisa menolak?

Saudaraku, di belakang penolakan pemberian itu, pasti nabi Elisa punya pendirian dan nilai yang ingin dijaga. Bisa jadi, ia tidak mau jatuh pada kebiasaan mau melayani karena ada target memperoleh harta duniawi. Nabi Elisa tidak mau motif meraih materiil menjadi dasar melayani. Saudara sekarang ini godaan melayani motif materi merupakan godaan besar yang tidak gampang ditepis. Seorang hamba Tuhan bisa tergelincir hanya mau melayani orang atau pihak yang mengiming-imingi materi. Sikap nabi Elisa ini melihat jauh ke depan, ia mencegah jangan sampai terjadi kemerosotan nilai pelayanan. Dalam ungkapan lain ‘komersialisasi pelayanan’. Dan siapapun tahu, kelimpahan materi itu menyenangkan dan membanggakan. Sikap nabi Elisa bisa berfungsi sebagai refleksi agar para pelayan Tuhan kembali ke niat awal melayani (back to basic).

Hal kedua, sikap buruk Gehazi mengajak kita agar hati-hati. Sebaiknya, kita tidak memanfaatkan kebaikan orang lain untuk menarik keuntungan pribadi. Gehazi bukan tipe hamba yang menjaga nama baik tuannya, nabi Elisa. Ia malah, mendiskreditkan nama nabi. Mata dan hatinya sudah silau dengan terbukanya peluang mendapat keuntungan dari kebaikan Naaman. Sehingga ia tidak mampu melihat dan menilai dengan jernih perilakunya yang cacat.

Saudaraku, inilah tantangan riil kehidupan di tengah masyarakat kita kini. Jelas, tidak gampang mengikuti jejak nabi Elisa. Kalaupun bisa, kemudian dianggap aneh. Karena berbeda dengan sikap yang dilakukan pada umumnya. Sudikah Anda dan saya hari ini menjaga kemurnian nilai pelayanan?

Kita berdoa, Tuhan, karuniakan keyakinan bahwa dengan hidup yang takut kepada Tuhan, Engkau mencukupkan kebutuhan hidup kami. Sehingga kami terhindar dari tergelincir dari hal yang benar.

Berkati bapak-ibu yang berharap kepada kebaikan-Mu. Kami yakin Tuhan tidak mengecewakannya. Tuhan mendengar suara-suara doa dan harapan mereka dan menjawabnya.

Seluruh doa kami ini, kami bawa dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Berjalan Bersama Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Kejadian 26:22

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah “Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: “Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.”

Kejadian 26:22

Saudaraku, air merupakan kebutuhan vital. Orang bisa bertahan tidak makan satu minggu, tetapi orang tidak akan bisa bertahan hidup tanpa minum air satu minggu. Selain itu, banyak keperluan sehari- hari kita mau tidak mau membutuhkan air. Mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan masak, tidak bisa dipisahkan dengan air. Bahkan kini air menjadi komoditi atau barang dangan utama.

Pada era atau zaman Israel kuno, semasa hidup keturunan Abraham, dalam hal ini Ishak, arti air lebih penting lagi. Menguasai air akan menguasai kemakmuran. Tidak heran, mata air, dalam hal ini sumur bukan sekedar tempat air semata-mata. Sebuah komunitas atau kelompok orang yang bisa menggali tanah dan menemukan mata air, komunitas itu akan berkembang menjadi kelompok yang hidupnya sejahtera dan makmur.

Kita tahu, negeri Israel kuno dan sekitarnya lebih banyak padang gurun ketimbang daerah-daerah yang hijau. Air itu sangat langka. Menemukan sumur yang di tempat itu tersedia mata air sungguh sebuah keberuntungan besar. Air bisa untuk makan-minum. Air juga bisa mengembangkan pertanian. Itulah sebabnya, bagi siapa yang punya sumur masyarakatnya sejahtera. Sementara itu, konsekwensinya, sering terjadi konflik antar kelompok masyarakat gara-gara memperebutkan sumur.

Saudaraku, demi ketahanan hidup dan merintis kemakmuran, Ishak dan keluarga besarnya harus menjadi imigran atau pendatang di negeri Filistin. Penguasa dan masyarakat negeri Filistin terusik dengan kedatangan mereka. Ishak beserta rombongan keluarganya tidak disukai sebab mereka kompetitor. Pesaing. Datangnya mereka berpotensi merebut sumur yang ada dan itu berbahaya. Berkali-kali hambanya menemukan sumur berisi mata air, namun berkali-kali mereka harus berkelahi dengan penduduk lokal di lokasi sekitar sumur yang ditemukan. Air menjadi sumber permusuhan. Perdamaian antar masyarakat terganggu gara-gara air.

Akhirnya, Ishak dan hambanya menemukan sumur yang berisi mata air yang tidak pernah kering. Mereka menamakannya Rehoboth. Dan untuk sumur ini, tidak mencuatkan konflik dan perkelahian antara komunitas Ishak dan masyarakat pribumi di sekitarnya. Sehingga Ishak bisa tinggal aman dan tenang di lokasi itu. Dan di sanalah Tuhan memberi Ishak hidup sejahtera dan damai. Di sanalah, Tuhan memberi mereka kesempatan hidup yang sejahtera dan hidup berdampingan dengan damai bersama masyarakat sekitar.

Saudaraku, nama Rehoboth melekat pada suatu tempat pemberian Tuhan atas umat-Nya. Mereka tinggal di wilayah sumber atau mata air yang tak pernah kering. Subur dan mendatangkan kemakmuran.

Selain itu, dengan perjalanan Ishak menemukan sumur ini. Tuhan merestui segala usaha dan kerja keras, dan lihatlah hasilnya baik.

Selain itu, Tuhan memberi hati yang damai dan hidup bersama tanpa konflik. Sekaligus, mereka bisa membawa diri. Sehingga tidak berkonflik dengan pihak lain. Tidak dicemburui. Mereka bisa mengelola sumber daya alam tanpa konflik horizontal.

Saudaraku, segala aktivitas yang membawa nama Tuhan untuk kelangsungan hidup secara pribadi maupun kelompok, tidak boleh memusuhi yang lain. Aneh rasanya, membawa nama Tuhan tetapi hatinya penuh permusuhan, jiwanya tidak damai. Dan itu bisa kita lihat dalam masyarakat kita belakangan ini.

Ada pemahaman dan praktik hidup yang keliru, membawa-bawa nama Tuhan sedangkan sikapnya tidak ingin hidup damai bersama orang lain. Melihat yang berbeda dengan prasangka. Seyogyanya semakin hidup kita bersama Tuhan, semakin kita menumbuhkan benih persaudaraan dan persahabatan. Bukannya membuat orang lain takut.

Saudaraku, memasuki hari Senin dan masuk ke dalam aktivitasnya, mari berjalan bersama Tuhan. Berjalan bersamanya kita akan memetik arti hidup tenang dan sejahtera. Berbarengan dengan itu, berjalan bersama Tuhan maka hati dan jiwa kita dipenuhi hasrat hidup damai dengan orang lain.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tidak perlu cemas. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

Sertai kami hari ini dengan berkat dan kasih-Mu, Tuhan. Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Kekuatan Yang Lebih Besar

Oleh Pdt. Supriatno

Mazmur 46:2-3

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Perjumpaan dengan kasih Tuhan selalu membawa kelegaan dan suka cita. Seperti Zakeus yang meluap suka citanya karena Tuhan Yesus mau menjumpainya di rumahnya.

Firman Tuhan pagi ini, ”Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut.”

Mazmur 46:2-3

Saudaraku, sebuah kejadian berpotensi mengancam nyawa membawa akibat psikologis. Ada yang takut, malah mungkin panik. Terutama mereka yang mempunyai posisi dekat dengan sumber ancaman. Bayangkan terjadinya banjir yang disebabkan meluapnya sungai. Pasti penghuni rumah dengan lokasi di tepi sungai itu, bagaimanapun mengalami kecemasan.

Ancaman apapun bentuknya, apakah dari alam atau dari manusia, menimbulkan rasa cemas dan gelisah. Ketakutan akan lahir dari hati seseorang. Pada dasarnya sebuah ancaman punya dampak merugikan. Apakah itu kerugian harta benda bahkan nyawa sekalipun. Tidak mengherankan setiap manusia menghindari ancaman, dan bersikap waspada atas kehadirannya.

Saudaraku, situasi itulah yang dihadapi orang-orang percaya, seperti yang kita lihat dalam mazmur ini. Hidup mereka diperhadapkan dengan ancaman. Bahkan bisa menimbulkan efek kesesakan. Suatu keadaan yang menimbulkan kesusahan jiwa. Tidak tenang. Dalam bahasa populer hati yang “galau”.

Meski demikian, orang beriman mampu menghadapinya dengan tegar. Ketakutan tidak menguasai hati mereka. Apa kuncinya? Kuncinya adalah kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka di saat yang tidak mudah itu. Pemazmur dengan tegas menyatakan, “sekalipun bumi berubah. Sekalipun gunung-gunung goyang..”, orang percaya tidak akan surut iman dan keberaniannya.

Saudara, hidup di sebuah kota besar tentu tak lepas dari ancaman. Kadang kita mendapat kiriman video tentang modus kejahatan. tentu video itu dikirim agar kita waspada. Tetapi juga, makin menyadarkan kita betapa ancaman kejahatan itu makin canggih dan tak terduga.

Tentu, ancaman bahaya itu muncul dari berbagai sumber: bisa lalu lintas, penipuan, demo anarkis. Sampai pada ancaman yang mengganggu kesinambungan hidup kita dan masa depan kita, misalnya kena PHK. Takutkah kita? Gentarkah kita? Secara wajar, sesekali muncul juga rasa gentar dan takut.

Saudaraku. Waktu saya tinggal di Bandung, punya pengalaman mencekam. Saya pulang ke Bandung dari Jogjakarta menggunakan pesawat baling-baling. Hujan di atas kota Bandung deras sekali. Awan tebal. Jarak pandang pendek sekali karena langit sangat gelap. Berkali-kali pesawat berusaha mendarat tapi gagal. Sehingga cukup lama pesawat berputar-putar. Sampai akhirnya ada pengumuman dari pilot bahwa pesawat harus kembali ke Jogjakarta.

Saya berusaha melirik penumpang di satu deretan. Semuanya memperlihatkan wajah lega. Setelah dicekam ketakutan. Kemudian pesawat mendarat kembali di bandara Adi Sucipto. Menunggu kabar situasi cuaca, penumpang boleh turun dari pesawat. Akhirnya, pesawat berangkat kembali ke Bandung. Saya lihat beberapa kursi jadi kosong. Rupanya mereka membatalkan diri naik pesawat itu lagi. Bisa dimengerti, mereka pasti tidak ingin mengalami ketakutan berulang.

Kali ini, cuaca lebih baik. Pesawat bisa mendarat di bandara Husein dengan selamat. Pesan yang saya hendak sampaikan bahwa sesuatu yang kita takuti ternyata tidak selalu menjadi kenyataan. Tentu, waktu itu saya pun dilanda ketakutan. Dua hal yang saya lakukan untuk mengatasinya, pertama: berdoa. Menenangkan diri. Siapapun dalam situasi demikian nama Tuhanlah yang paling banyak disebut. Saat berkali-kali pesawat tidak bisa mendarat, doa sungguh membantu meredakan kecemasan. Kedua, saya mensugesti diri, bahwa betapa beruntungnya saya. Karena untuk 2 kali perjalanan, saya hanya perlu bayar satu kali saja.

Saudaraku. Kita bersyukur, pagi ini pemazmur mengingatkan ada kekuatan yang lebih besar dari segala ancaman yang kita hadapi. Yaitu Allah yang terbukti kehadiran-Nya mampu menghalau ancaman atas diri kita. Allah lebih besar dan berkuasa dari apapun. Dialah yang membentengi kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, pasangan hidup kita, saudara-saudara kita, dari resiko yang ditimbulkan sebuah ancaman. Dengan demikian, mari pagi ini kita melangkah pasti. Berani beraktivitas. Jangan biarkan ketakutan mengatur hidup kita. Melainkan, biarlah Allah saja yang mengatur hidup kita.

Kita berdoa, Tuhan, kehadiran-Mu itulah pangkal keselamatan kami. Kiranya Engkau menjadi Benteng perlindungan kami di sepanjang hari ini.

Tuhan, kami punya banyak alasan untuk kami takut. Tapi, sebagai orang beriman kami kehadiran-Mu kiranya menjadikan kami tidak takut. Sebab Engkau beserta kami sepanjang hari ini. Berkati aktivitas kami.

Dalam nama Tuhan Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.