Kecil Namun Berdampak Besar

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Raja-Raja 5:2-3

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Seiring dengan hari baru, maka hari lalu telah menjadi kenangan. Kiranya bersama Allah menjadi memori kita yang indah.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. (3) Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” 2 Raja-raja 5:2-3

2 Raja-Raja 5:2-3

Saudaraku, dalam sebuah drama atau pertunjukan film, semua orang yang tampil pasti punya peran. Sekecil apapun. Juga sesederhana apapun. Kehadirannya memainkan adegan tertentu.

Ada pemeran utama, tetapi juga ada pemeran figuran. Jelas, orang sangat menaruh perhatian pada pemeran utamanya. Sebab, dia akan banyak tampil. Sekaligus peranannya sangat menonjol. Beda dengan pemeran figuran. Perannya kelihatan kurang penting. Bahkan seolah-olah pelengkap saja.

Saudaraku, dalam kisah penyembuhan Naaman dari penyakit kustanya, tentu pemeran utama adalah Elisa. Dia seorang nabi. Dia yang meminta Naaman agar mau mandi di sungai. Yang kemudian, sungguh terjadi Naaman bebas dari sakit kustanya.

Jelas, nabi Elisa sangat berperan. Ia menuntun sang panglima terbebas dari pergumulan fisik dan batinnya. Selain nabi Elisa, tentu Naaman punya peran menonjol dalam kisah ini.

Naaman adalah seorang panglima yang sekian lama menanggung derita. Sakit kusta jelas membuatnya menderita. Bukan cuma fisik, tapi batinnya. Panglima dituntut bertemu dengan raja dan banyak orang. Ia seorang selebritis. Namun, penyakit kustanya menghambat. Ia malu. Ya, siapa yang tidak menghindar dengan orang yang terkena penyakit kusta? Walau, tidak terbuka, secara diam-diam banyak orang menghindari berhubungan dengannya.

Dua nama itu, nabi Elisa dan Naaman jelas adalah pemeran utama. Nah, siapa figurannya? Seorang gadis Israel. Namanya pun tidak disebut. Ia yang memberi informasi awal. Dia yang memberi tahu ada seorang nabi Allah yang bisa menyembuhkan.

Saudaraku, itu saja perannya. Ia pemberi informasi. Sederhana. Tapi, jangan sebuat perannya cuma pemberi informasi. Sebab, informasi itulah pembuka jalan. Ya, dengan informasinya, Naaman lalu mengenal nabi Elisa. Bahkan lebih dari itu. Naaman setelah sembuh dapat mengatakan, “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.”

Saudaraku. Kecil sumbangsih si gadis itu. Tapi, dari tindakan kecil dan sederhana itulah peristiwa besar buat seseorang terjadi. Baiklah, kita mungkin bukan pemeran utama dalam sebuah peristiwa atau kejadian tertentu. Namun, kecil dan sesederhana apapun yang kita lakukan, jika Tuhan pakai. Yang sederhana dan kecil itu menjadi berkat besar bagi seseorang.

Dengan demikian, Tuhan tidak menyepelekan hal yang kita telah lakukan. Dan kita pun, jangan menyepelekan atau melupakan tindakan orang lain yang di mata manusia sederhana. Kecil. Seolah-olah tidak fantastis. Karena, Tuhan bisa memakainya sebagai berkat besar buat orang kita.

Suatu hari saya memperbaiki arloji saya. Biayanya cukup mahal. Setelah berhasil, saya tanya pihak toko apa yang bermasalah. Ternyata spare part kecil. Saya bertanya, “mengapa untuk benda kecil itu biayanya 500 ribu”. Pihak toko dengan enteng menjawab, “ pak, benda ini kecil tapi jika tidak diperbaiki seluruh sistem arloji ini tidak jalan. Mati”.

Jadi, jangan mengecilkan diri sendiri bila cuma bisa melakukan sederhana yang kecil. Kehidupan berlangsung karena tindakan-tindakan kecil (small things). Senyum. Sapa. Salam. Membantu menyebrangkankan seorang nenek. Itu semua hal kecil buat orang lain. Lihat jika di sebuah keluarga atau gereja tanpa senyum. Tegur sapa begitu langka. Terasa kita masuk kehidupan yang dingin. Tidak betah.

Mari, jika tidak bisa berbuat hal besar. Mengapa tidak berkontribusi dengan hal yang kecil. Seperti seorang anak yang membawa 5 potong roti dan 2 ekor ikan. Buat makan 5000 orang. Kecil. Ternyata jadi besar saat dipakai dan diberkati Tuhan.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami hidup tetap bersyukur dalam segala perubahan suasana kehidupan”. Dan mensyukuri tindakan sekecil apapun. Karena Engkau memakainya menjadi besar.

Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Hindari Emosi, Kuasai Diri

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Kejadian 4:5

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. “

Kejadian 4:5

Saudaraku, betapa berbahaya perasaan tersinggung dan cemburu manakala kita tidak mengendalikannya. Tindakan kekerasan bisa lahir gara-gara itu. Kisah Kain dan Habel mengingatkan bahaya tersebut. Walaupun keduanya terikat persaudaraan, malah saudara kandung. Tetapi begitu salah satu terbakar cemburu dan ketersinggungan, maka muncullah gelap mata. Saudaranya sendiri jadi sasaran pelampiasan tindakan kekerasan.

Persaudaraan merupakan nilai tertinggi dalam relasi antar manusia. Dua orang atau kelompok manusia yang berbeda bisa bersatu. Mengapa? Karena ada nilai persaudaraan yang merekatkan. Dengan nilai ini, kita memandang orang lain bagaikan saudara sendiri. Hidup bersama dengan rukun dan damai.

Dalam hal Kain justru lain. Demi perasaan egoisnya yang merasa bahwa sikap Allah lebih mencintai Habel, saudaranya. Ia abaikan Habel sebagai saudara. Di matanya, saudaranya adalah sasaran pelimpahan gejolak hati yang panas. Sepatutnya Kain introspeksi dan memperbaiki kekurangannya saat persembahannya ditolak Allah. Jalan itu tidak ditempuh. Ia lebih melihat Habel, saudaranya selaku saingan. Kain melihat saudaranya yang jadi pangkal, mengapa persembahannya ditolak Allah.

Saudaraku, ketersinggungan dan dipadu dengan rasa cemburu, akhirnya mengambil korban. Adik yang sepatutnya dikasihi justru kehilangan nyawa oleh tangan kakaknya sendiri. Posisi kakak dalam keluarga mengambil peran melindungi. Terutama dari ancaman dan bahaya dari luar keluarga. Kain, bukan saja gagal sebagai kakak yang melindungi adiknya. Bahkan ia sendiri pelaku tunggal yang menghilangkan nyawa saudara yang sepatutnya dikasihinya.

Saudaraku, kita mengenal istilah KDRT. Sebuah singkatan atau akronim yang menunjukkan bahwa orang terdekat dalam sebuah keluarga bisa tega berbuat kekerasan atas anggota keluarga yang lain. Sedangkan korbannya sesama anggota keluarganya sendiri. Bisa suami atas istri, atau sebaliknya. Orang tua atas anak, atau sebaliknya.

Dalam masyarakat kita, korban terbanyak adalah perempuan dan anak. Laki-laki tentu ada juga, tapi sedikit. Perempuan dan anak jadi korban karena lebih rentan. Secara fisik lebih lemah. Dan dalam budaya patriarki ( dominan bapak atau laki-laki), tersimpan sikap lebih ‘toleran’ terjadinya kekerasan atas perempuan.

Saudaraku, kekerasan itu berdampak pahit. Luka secara fisik dan batin berupa trauma akan dialami korbannya. Kita harus jadikan keluarga kita bebas kekerasan (zero violence). Kekerasan verbal berupa kata-kata, fisik atau kekerasan seksual yang belakangan ini merebak di banyak tempat.

Kita proteksi keluarga kita agar menjadi lingkungan yang nyaman, dan terhindar dari budaya kekerasan. Kita membangun suasana keluarga yang mengutamakan persaudaraan sebagai nilai tertinggi. Sehingga cinta kasih, kehangatan dan saling memberi perhatian hadir dalam keluarga kita. Cemburu dan tersinggung, pasti terjadi dalam hidup sebuah keluarga. Namun, jangan disimpan, agar suatu saat tidak meledak dalam bentuk mencederai fisik dan batin orang yang kita cintai. Kita harus mengelola emosi yang tidak sehat untuk dutundukkan oleh penguasaan diri yang kuat dan baik.

Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Jadikan kami mampu membangun kehidupan yang nyaman buat hati dan tentram dari ancaman. Baik di tengah keluarga, tempat kerja dan masyarakat.

Tuhan, kiranya kami semua bisa beraktivitas di hari ini dengan tubuh yang sehat dan jiwa penuh semangat. Tuhan berkati kami sekalian dengan kebutuhan yang kami perlukan. Ajar kami senantiasa bersyukur dalam segala keadaan. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Ajakan Melalui Teladan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yosua 24:15

Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Allah senantiasa bertindak baik dan ajaib. Sepanjang rentang waktu yang telah lewat, hingga pagi ini Tuhan terus berkarya.

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Yosua 24:15

Yosua bersama seluruh umat Israel berada di tanah Sikhem. Sudah berada di tanah perjanjian. Negeri yang dijuluki “berlimpah susu dan madu”. Sebuah negeri yang menjadi idaman dan impian mereka. Betapa tidak. Di negeri itu mereka akan menjadi bangsa yang bebas dari perbudakan Mesir. Dan negeri yang menjanjikan kesuburan dan kemakmuran.

Yosua menantang dan mengingatkan. Menantang, apakah mereka setelah memasuki negeri itu akan tetap menyembah Allah, atau beribadah kepada allah atau dewa lain.

Di mata Yosua, di negeri yang baru selain menjanjikan keindahannya. Tapi, mereka juga bisa tergelincir pada ajakan dan godaan kepercayaan lain. Umat Israel bisa seperti kacang lupa kulitnya. Lupa pada Allah.

Yosua tidak hanya memperhadapkan dengan tantangan. Tapi, ia menyodorkan kepada mereka sikapnya dan keluarganya. Apa itu? Bagi Yosua, ia tidak akan pernah bergeser dari keyakinan yang selama ini diiimani. Dia tidak pernah mengganti kepada siapa ia menyembah. Yakni ia dan keluarga tetap beriman dan menyembah Allah.

Pernyataan ini, merupakan pengakuan bahwa Allah yang selama ini terbukti berbuat banyak untuk Israel. Sekaligus di dalamnya adalah Yosua dan keluarganya. Di mata Yosua, posisi Allah tidak bisa dan tidak boleh digantikan oleh allah atau dewa-dewa lain. Kuasa dan kasih Allah bukan cerita, melainkan sudah mereka rasakan sepanjang 40 tahun dalam perjalanan di padang gurun. Pengalaman itu lebih dari cukup. Menandakan dan membuktikan Allah hadir dan terus mendampingi perjalanan mereka.

Saudara-saudara,

Satu prinsip yang muncul dari pernyataan dan komitmen Yosua adalah keluarga menjadi bagian dari tekadnya. Ia tidak mau cuma dirinya yang menyembah Allah, sedangkan keluarganya tidak.

Indahnya, sebuah keluarga yang satu langkah, satu hati dan satu iman. Itulah kondisi yang ideal yang Yosua sampaikan kepada umat Allah. Dengan menyatakan demikian, terkandung maksud agar umat Israel pun melakukan hal yang sama. Yosua meminta mereka mengikuti jejaknya.

Menarik cara atau metode yang digunakan Yosua. Tindakannya bersifat tawaran dan pemberian contoh. Ia tidak memaksa umat Israel mematuhi komitmennya. Dalam kehidupan iman cara ini sungguh tepat. Beriman dan beribadah harus merupakan pilihan bebas. Sehingga orang yang beriman dan beribadah melakukannya dengan suka cita. Dan lahir dari kesadaran lubuk hati terdalam.

Sehingga, bila pada suatu saat menghadapi akibat dari pilihannya. Terutama berhadapan dengan hal yang berat. Pasti tidak menyalahkan orang lain. Termasuk tidak menyalahkan orang tua. Seiring dengan itu, jika beriman dan beribadah bersifat pemaksaan. Maka, ada unsur keterpaksaan.

Sama bila beribadah hanya lantaran ancaman, kelak hanya menghasilkan orang beriman yang pura-pura. Pura-pura rajin. Pura-pura setia. Padahal hal itu didorong rasa ketakutan. Itu namanya beriman yang tidak murni atau otentik.

Saudaraku, pilihan dan komitmen Yosua yang beriman dan beribadah kepada Allah. Bukan berarti selama di perjalanan padang gurun tidak masalah. Ada masalah. Bahkan banyak dan beragam. Haus dan lapar mendera umat itu. Putus asa sebab menghadapi alam yang keras. Tidak heran umat Israel kerap bersungut-sungut dan mengeluh.

Saudaraku, berkaca pada firman Tuhan, khususnya bagian dari sikap Yosua di atas. alangkah baik dan indahnya kita pun meneladaninya. Tuhan menjanjikan hidup dengan sisi terbaik sebab Allah konsisten hadir. Dia tetap bersama kita. Mengulurkan tangan saat kita jatuh. Memberi kekuataan saat kita lemah. Allah menjadi pusat optimisme kita di hari yang baru.

Kita menyadari pasti hari ini punya cerita sendiri yang belum kita ketahui. Bisa saja cerita yang bisa menggoda kita berpaling dari Allah. Situasi sulit yang tidak kita inginkan justru hadir. Namun, apapun yang terjadi, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan kita tidak beriman dan menyembah Allah. Kita tetap kokoh dalam keberimanan kita.

Sekaligus, kita pun membentengi seisi rumah kita dengan pendidikan iman, tempaan mental agar mereka tahan bantingan. Tetap setia kepada Allah. Tidak manja apalagi cengeng. Dengan demikian, apapun yang kelak terjadi di hari yang baru ini. Situasi apapun yang mengisi hidup kita. Kita tidak akan bergeser dan berubah. Hanya Allah yang hendak terus kita imani dan sembah.

Kita berdoa, “ Ya, Tuhan. Kami ingin tetap setia beriman dan menyembah-Mu. Demikian pula termasuk keluarga kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa.

Dalam Pimpinan Roh

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Perjalanan kita kini memasuki akhir pekan, kita bersyukur kepada-Nya baik dalam duka maupun suka.

Firman Tuhan menyatakan, ” Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” Galatia 5:22-23

Saudaraku, rasul Paulus mengingatkan bahwa ada dua hal dalam sosok manusia, yaitu daging dan roh. Daging itu bukan pengertian daging yang kita ketahui secara umum saat ini. Daging yang kita kenal sehari-hari adalah bagian lunak yang dilapisi kulit dan mekekat pada tulang. Bukan daging yang ada pada hewan atau manusia seperti itu.

Daging yang dimaksud firman Tuhan adalah sarx, dalam bahasa Yunaninya, sifat kemanusiaan yang buruk. Seseorang yang mencuri, mabuk, mengamuk tidak terkendali, egois, membuat ujar kebencian, memfitnah, itu semua tindakan bersifat kedagingan. Dan rasul Paulus menyatakan, sifat kedagingan itu seharusnya disalibkan atau dibinasakan saja.

Sisi lain dari keberadaan Anda dan saya sebagai orang beriman adalah Roh. Sifat kebaikan yang hadir dalam diri kita. Roh ini bisa berbuah. Nah, deretan kebajikan di atas, yakni kesabaran, lemah lembut, perduli atas mereka yang kesusahan, kasih, kegembiraan itulah semua berkaitan dengan Roh.

Jika dipampangkan antara daging dan Roh, kita bisa melihat hal berbeda sekali. Bila warna, yang satu hitam dan satunya lagi putih. Daging itu perilaku yang sifatnya merusak kehidupan manusia yang bermartabat. Sedangkan Roh menuntun kita bisa berbuat hal yang luhur.

Bahwa daging itu hitam, sedangkan Roh itu putih, maka jelas hendaknya hidup kita semua memilih yang putih. Sebab, hidup di dalam Kristus semestinya kita menghasilkan buah-buah Roh. Jangan kita asyik bergelimang hidup dalam “dunia hitam”. Karya Kristus di dalam kita menuntun kita hidup dalam roh.

Rasul Paulus mengutarakan ini, pasti ada sebabnya. Ia menasihati kita agar jangan hidup dalam daging, melainkan dalam pimpinan Roh. Berawal saat ia melihat, tentu sambil prihatin, orang-orang pengikut Kristus yang hidup di Galatia waktu itu. Rasul menemukan perilaku dan pola hidup mereka masih asyik dengan kedagingannya (sarx). Dengan kalimat lain, “katanya sudah kristen, nyatanya perilakunya tidak jauh beda seperti sebelum mengikut Yesus.”

Saudara, jika seseorang mengaku pengikut Kristus mau tidak mau mempunyai hal yang baru dan berbeda. Yakni kesediaan hidupnya dipimpin oleh Roh. Mengaku pengikut Kristus tapi hatinya menyimpan iri, dendam, selingkuh, merampas kepunyaan orang lain, senang bikin hoax, kejam, masa bodoh atas orang yang menderita. Lalu apa arti kekristenannya? Itu bagaikan kuburan. Di luar tampilannya bagus, bagian dalamnya tulang belulang.

Jika kita hidup dipimpin daging jelas kehidupan macam apa yang dihasilkan. Pola hidup kedagingan yang diterapkan di keluarga pasti akan menghasilkan keluarga yang penuh konflik, bagaimana tidak konflik sifat marah terus dilestarikan. Ucapannya penuh kecaman atas yang lain. Siapa yang betah hidup dalam keluarga, di mana lebih banyak kata cacian daripada pujian tulus. Anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar bersama temannya, daripada tinggal di rumah yang penuh bara. Panas, bukan sejuk.

Pasti lain, keluarga yang dibangun dengan anggotanya hidup dipimpin Roh. Orang tua mengutamakan suasana senang dapat tercipta untuk anak atau cucunya. Satu kesulitan yang dihadapi salah satu anggota keluarga, segera yang lain menopang dan meringankan. Dapat rezeki dijadikan berkat buat bersama. Bukan dihabiskan sendiri dan sembunyi-sembunyi. Anak hormat pada orang tua. Takut atau patuh pada Tuhan tanpa perlu disuruh-suruh, dan tidak dikerjakan dengan terpaksa.

Begitupun, sifat saling melayani menjadi budaya, atau kebiasaan yang ditanamkan sejak dini. Semua memperlihatkan sikap terpuji, sehingga suasana keluarga itu hangat dengan cinta kasih. Relasi antar satu dengan yang lain terasa sejuk. Sebab diwarnai ucapan lembut dalam berkomunikasi. Itu semua mungkin bila Roh yang memimpin hidup kita.

Saudara, memang hidup dalam pimpinan Roh tidak segampang membalikkan tangan. Kita sadar itu sulit. Tapi bukan tidak mungkin diwujudkan. Tentu, butuh kesungguhan dan pertolongan Tuhan sendiri. Kita sadar hal itu. Meskipun demikian, kita tidak cepat menyerah dengan dalih: ah, itu sulit, tidak mungkin, pasti tidak mampu.

Tentu, hidup dipimpin Roh adalah perjuangan. Meski demikian, kelak saatnya kita akan memetik buah dari sebuah perjuangan yakni indahnya corak hidup dipimpin Roh.

Firman Tuhan mengajak saya dan anda serta kita semua hadir di akhir pekan ini, dengan senyum, sapaan hangat, pelukan penuh persaudaraan, uluran tangan tanda hidup berdamai, tatapan mata yang menandakan kesediaan berkomunikasi. Ya, kita dengan itu semua tanda bahwa kita hidup dipimpin Roh.

Kita berdoa, ” Tuhan, kami ingin selalu terbuka dipimpin oleh Roh-Mu, agar kami membangun hidup yang penuh kebajikan dan kasih sayang.

Tuhan sertai aktivitas kami hari ini. Jauhkan dari bahaya dan karuniakan kesehatan. Kami beserta keluarga hidup dan berkarya, dengan hidup dalam pimpinan Roh-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Menghargai Yang Kecil

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu Maha baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan memasuki hari Jumat ini. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan diambil dari, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Lukas 16:10”

Saudaraku, setiap orang gandrung mendapatkan atau memiliki sesuatu dengan ukuran besar. Rumah besar. Gereja besar. Prestasi besar. Gaji besar. Negara besar. Termasuk mendapat kepercayaan besar dari pihak lain. Hal yang menyangkut sesuatu besar itu sangat disukai.

Sebab, ukuran yang bersifat besar menunjukkan siapakah kita ini. Punya rumah besar, tanda sebagai orang kaya. Gereja besar menunjukkan pertumbuhan gereja yang membanggakan. Gaji besar menjadi bukti posisi baik seseorang dalam pekerjaannya.

Sebaliknya, yang kecil dalam hal tertentu kurang diminati. Coba saja, siapa yang mau bekerja ditawari gaji kecil? Begitu juga, orang tidak mau punya rumah kecil. Karena merasa kehilangan rasa nyaman. Ruang tamu pun bisa berubah jadi gudang penyimpanan barang. Prestasi kecil, menandakan pencapaian yang kurang greget.

Bagaimanapun hal yang kecil dinilai tidak berarti, lantaran hal itu tidak bisa mengkatrol popularitas diri bagi yang senang sorotan publik. Atau juga, yang kecil seolah-olah sosok yang kurang sreg di hati. Peran dan kontribusinya seolah-olah tidak berarti bagi kehidupan. Tidak heran orang yang dilabeli “kecil” dilihat sebelah mata.

Mengingat hal kecil berkesan kurang greget, maka hal itu mengakibatkan seseorang atau orang banyak mengabaikan hal tersebut. Padahal, hal besar itu tidak ujug-ujug. Tidak juga jatuh dari langit. Orang bergaji besar, pasti dilatar belakangi kecakapan, prestasi, keseriusan kerja, lebih dahulu atas hal yang kecil. Orang bergaji besar awalnya dari bawah. Gaji kecil dulu. Baru karena itu didukung komptensi dan kesetiaan, lama kelamaan merangkaklah posisi dan gajinya.

Jadi, mulai dari kecil dulu. Karena itu, jika ada orang mencari kerja dan langsung minta gaji besar. Sementara kinerja dan kompetensinya belum terlihat dan jelas. Itu sudah keliru dari segi prinsip.

Lihatlah, contoh menarik jenjang karier presiden kita, Jokowi. Mulai dari kota ‘kecil’ dulu. Karena berprestasi, jujur dan pekerja keras. Orang percaya, dipilihlah dia sebagai gubernur. Setelah itu karena konsisten dengan prestasi dan kepribadiannya yang baik, terpilih jadi presiden. Bahkan sampai dua periode.

Bandingkan, jika ada orang yang belum pernah meniti karier dari camat, walikota, gibernur. Lalu langsung ingin jadi presiden. Bisa kemungkinan gagal dia. Karena orang belum melihat kesetiaannya dalam menunaikan tugas dari level yang ‘kecil’ dulu.

Saudaraku, tepatlah yang dikatakan Firman Tuhan. Allah akan memberi kita hal-hal besar, jika kita sudah membuktikan setia dalam perkara-perkara yang kecil. Jika yang kecil diabaikan, dan disepelekan. Itu sama dengan melepas peluang untuk mendapat perkara-perkara atau berkat-berkat besar dari Tuhan.

Tuhan menghargai orang yang menjalankan hal-hal kecil dengan serius. Akan tiba waktunya, Allah mengganjarnya dengan memberikan kepercayaan yang lebih besar. Jabatan pelayanan yang di mata manusia, “oh itu jabatan kecil”, biarlah komentar demikian tidak menghalangi kesetiaan kita. Demikian pun dengan hal lain. Mari kita terus setia sekecil apapun buat Tuhan dan bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

Kita berdoa, Tuhan, terima kasih atas pemberian hati nurani dalam diri kami. Kiranya melalui suara hati nurani kami setia atas kehendak-Mu.

Tuhan, kami berdoa secara khusus buat anak-anak dan para cucu kami. Mereka yang telah berbulan-bulan aktivitasnya terbatas. Mereka terpelihara semangatnya supaya bisa mengatasi kebosanan dan kejenuhan. Mampukan para orang tua agar menemani dan secara kreatif menyediakan kegiatan dan permainan yang melepaskan perasaan kejenuhan.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang menang dari maut.