Berbagi Berkat

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 42:22

Seiring mata hari terbit di Timur, maka berlalulah malam. Hari baru telah datang. Begitu bangun, iman kita berbisik “Tuhan tidak berlalu. Dia tetap bersama di hari baru”. Puji Tuhan, bapak-ibu, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Kiranya kita mengawali hari dengan menyapa-Nya dalam kekaguman dan rasa syukur.

Renungan pagi ini, “Lalu Ruben menjawab mereka: “Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita.”

Kejadian 42:22

Saudaraku, peran dan posisi seseorang dalam hidup bisa berganti-ganti. suatu saat seorang berada di kursi empuk dan menentukan nasib banyak orang. Coba ikuti, dua puluh tahun kemudian, bisa jadi posisinya sudah betganti. Syukur, jika dipromosikan ke posisi lebih tinggi dan berkuasa. Namun, bukan tidak mungkin dia telah bergeser karena usia, dll.

Kisah hidup Yusuf, salah satu putra Yakub, penuh dengan kisah perjalanan manusia yang tidak terduga. Ambillah kita menyoroti hidup saudara-saudara Yusup. Bukankah, karena mereka cemburu dengan kelebihan Yusuf, lalu bertindak hal yang merugikan Yusuf, adik kandungnya sendiri. Mereka merasa kuat. Posisi mereka lebih senior dari Yusuf, sayangnya tindakan mereka mencelakakan adiknya sendiri. Figur kakak dan saudara tidak melindungi adiknya, malah menyingkirkannya.

Itu dulu. Saat mereka merasa kuat. Mereka mampu memperlakukan adiknya semena-mena. Seiring waktu berjalan, di negeri mereka terjadi kelaparan. Maka, mereka pergi ke Mesir. Mencari bantuan makanan guna mengatasi kelaparan yang melanda Israel.

Kini, di hadapan Yusuf, para kakaknya tidak tahu bahwa penguasa yang ada di depan mereka adalah Yusuf. Yusuf adik yang mereka celakakan hidupnya. Posisi mereka telah berubah. Mereka lemah, Yusuf menjadi orang kuat. Berkuasa menentukan masa depan saudaranya sendiri.

Begitulah hidup laksana roda. Dulu, kakak-kakak Yusuf berada di atas sedangkan Yusuf di bawah. Kini, posisi dan peran berganti. Yusuf di atas dan kakaknya di bawah. Yusuf sekarang yang amat menentukan nasib berikut masa depan saudara-saudaranya. Yusuf kuat, saudara-saudaranya lemah.

Menarik, Yusuf tidak memanfaatkan kekuatan dan kekuasaan, begitu juga posisinya di atas, buat balas dendam. Jika mau, betapa mudahnya. Ia punya kesempatan untuk melampiaskan kekerasan. Ternyata, Yusuf tidak menjadikannya pilihan. Ia tidak mau kehilangan saudara, meski apapun yang pernah mereka perbuat atas dirinya. Yusuf lebih meminta kejujuran mereka untuk menjawab di mana saudara bungsunya.

Saudaraku. Firman Tuhan yang menyatakan “ rancangan Tuhan adalah damai sejahtera bukan kecelakaan”, terlihat dalam perjalanan Yusuf. Bisa juga Anda pernah mengalaminya. Memang Yusuf harus menderita: berpisah dari orang tua dan saudara, difitnah dan didakwa melakukan tindakan asusila, bahkan mendekam di penjara. Semua itu dia alami dan lewati. Fakta kehidupan yang berat dan menyakitkan. Dan, ternyata Yusuf lebih fokus melihatnya dan merasakan itu sebagai hadirnya damai sejahtera dari rancangan Allah atas hidupnya.

Dan Yusuf tidak mau jika damai sejahtera itu tercoreng oleh tindakannya dengan bentuk membalas perbuatan jahat saudara-saudaranya. Yusuf menjaga posisinya dan perannya yang baru, agar memberi sumbangsih buat keluarga dan bangsanya. Ia tidak mau senang sendiri, sejahtera sendiri dan sukses cuma buat diri sendiri.

Sebuah cerita rakyat yang populer dari timur tengah, terdapat tokohnya bernama Sinbad seorang pelaut. Saat ia sudah kaya, ia berkata dengan nada melas, “apa artinya semua harta yang banyak yang telah kukumpulkan, karena aku tidak punya saudara”. Artinya, kesejahteraannya sia-sia. Karena dia tidak bisa berbagi atas kelimpahannya.

Saudaraku. Jangan lupakan saudara ketika posisi kita baik dan dilimpahi kesejahteraan. Kebahagiaan dan suka cita menjadi lengkap, saat saudara dan keluarga dirangkul untuk ikut mengecapnya. Jika tidak, apa artinya saudara dan keluarga buat kita?

Kita berdoa, “ Tuhan, ajarlah kami mengingat saudara-saudaraku, keluarga dan bangsaku, saat kami berada di tengan situasi dan kondisi yang baik. Biarlah, kami menempatkan saudara-saudara dan kekuarga kami berkesempatan merasakan berkat melalui apa yang telah kami miliki”.

Doa ini, kami bawa dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Tuhan Mengasihi Seluruh Manusia

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kisah Para Rasul 10:35

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.”

Kisah Para Rasul 10:35

Saudaraku, diperlakukan secara berbeda bisa menyakitkan hati. Terutama diperlakukan lebih buruk. Seorang anak diperlakukan tidak sebaik saudaranya. Seorang karyawan tidak diberikan hak yang sama dibanding karyawan lainnya. Seorang warga negara tidak sama dan setara. Ketika kita mengalami pengalaman demikian, satu atau dua kali kita bisa bertahan. Kita hanya menyimpannya dalam hati. Namun, jika berkepanjangan perlakuan atas kita akan menimbulkan ledakan protes atau kemarahan.

Konflik di tengah keluarga bisa diawali karena ada yang tidak puas. Mengapa tidak puas? Karena bisa jadi, dalam keluarga itu diterapkan sengaja atau tidak sengaja praktik pembedaan. Istilah “anak emas” merupakan ungkapan bernada negatif. Yakni ada anak yang diperlakukan istimewa. Seiring dengan itu berarti, ada anak yang diperlakukan biasanya saja.

Saudaraku, Tuhan itu tidak memandang muka atau istilah lain tidak memandang bulu. Siapapun manusia di hadapan-Nya, Ia melihatnya sama dan setara. Setiap manusia yang mempraktikkan rasa takut kepada Tuhan, melakukan kebenaran dan berbuat welas asih kepada sesama, Tuhan menyayanginya. Tuhan itu tidak diskriminatif hanya karena suku yang berbeda: status sosial, ketampanan/kecantikan, kecerdasan, bangsa bahkan agama yang berbeda.

Banyak orang yang tidak siap ketika tahu Tuhan mengasihi seluruh manusia tanpa dibeda-bedakan. Ada manusia yang inginnya dan mencoba Tuhan dibatasi cinta-Nya. Seolah-olah hanya untuk dirinya, keluarganya, komunitas agamanya bahkan bagi kalangan kristen hanya pada Jemaatnya. Sadarkah bahwa ketika ada pola pikir demikian, kita memposisikan Tuhan telah membeda-bedakan manusia. Sekaligus membatasi kehadiran kasih Allah. Tuhan terkungkung.

Saudaraku. Kita ingat kisah Yunus. Tipe Yunus adalah orang yang tidak siap bahwa Tuhan mencintai siapapun. Keyakinan bahwa Tuhan mencintai semua manusia di luar kita, justru itulah Tuhan yang adil. Tuhan tidak mau ada sama-sama ciptaan-Nya terluka hatinya gara-gara Tuhan membeda-bedakan.

Di balik pemikiran bahwa Tuhan mencintai dirinya atau kelompoknya dan bahkan agamanya, tersimpan kesombongan cuma dirinya yang takut akan Tuhan, mengamalkan kebenaran dan bertindak welas asih. Padahal, dalam kelompoknya tidak sedikit ada yang tidak takut Tuhan, tidak mengamalkan kebenaran dan perbuatannya sadis serta tidak berperi kemanusiaan.

Saudaraku. Tidak hanya di keluarga. Pengalaman diperlakukan secara berbeda kerap terjadi di tengah masyarakat. Karena punya koneksi dengan pemegang kekuasaan, urusan dimudahkan. Berbeda dengan tidak punya koneksi, urusan bisa serba lama. Dipingpong ke sana kemari. Atau, ada tanda “K” di identitas KTP, lalu mengalami pembedaan. Karier dipersulit. Di masa pandemik ini, bisa saja muncul kekecewaan dari orang yang tidak mendapat bantuan, sedangkan tetangganya dapat. Perlakuan berbeda itu menyakitkan. Pengalaman pahit.

Syukurlah Tuhan Maha adil. Ia menghargai seluruh manusia ciptaan-Nya. Tidak memandang muka. Dan Dia mengampuni dan mengasihi mereka semua yang takut akan Tuhan, mengamalkan kebenaran dan bertindak penuh kasih kepada sesama (bandingkan Matius 7:21). Kita bersyukur mempunyai Tuhan yang demikian. Maka, kita musti menghindarkan mempunyai sikap diskriminatif. Memutuskan tindakan dengan tidak setara.

Kita berdoa, “Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Beserta para orang tua kami. Anak-anak kami. Cucu-cucu kami. Saudara sekandung kami serta para sahabat kami. Serta beserta semua sesama kami. Sehingga kami semua terpelihara dan aman bersama-Mu. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Jembatan Penghubung

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 25:32-34

Pagi baru telah tiba. Pertanda Tuhan memberi kita kepercayaan untuk mengisi kehidupan hari ini. Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan sebab kita masih dipercaya untuk hidup.

Bacaan refleksi pagi ini: “Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: “Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; (33) terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. (34) Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing.”

1 Samuel 25:32-34

Saudaraku, konflik adalah bagian dalam kehidupan masyarakat yang terus ada, bahkan sepanjang keberadaan hidup bersama antar manusia, konflik akan terus ada. Selama ada keperbedaan kepentingan konflik bisa meletup. Demikian pula, selama nilai yang dihayati manusia beraneka ragam, konflik tidak bisa dihindari. Gara-gara perlakuan yang tidak setara, itu pun bisa membuat ledakkan konflik.

Dalam keluarga fakta adanya konflik itu kita bisa lihat. Adik dan kakak bisa berseteru. Dua pribadi yang telah dipersatukan Allah saja bisa bersilang sengketa. Tak terkecuali dalam wilayah keagamaan. Di situ pun meletup konflik. Barangkali tidak berlebihan, kita katakan selama ada manusia di situ konflik pun selalu ada.

Konflik tidak bisa dihindari. Datang dan pergi. Pengelolaan konflik yang sepatutnya harus kita miliki. Banyak orang takut konflik, oleh karena konflik yang tidak dicarikan solusi dengan baik mengakibatkan banyak korban yang jatuh. Suami-istri yang terus-menerus konflik tanpa menemukan titik temu, bisa berakhir dengan putusnya ikatan perkawinan. Kakak-adik yang tidak mau dirukunkan, kehangatan persaudaraan mulai hilang.

Konflik itu beragam wujudnya. Dari keengganan berkomunikasi antar pihak yang berkonflik sampai ingin menghancurkan satu sama lain. Naluri yang bergejolak pada diri yang berkonflik adalah diri sendiri ingin menang sedangkan seterunya kalah. Di mana-mana fenomenanya begitu.

Konflik yang berkepanjangan kerap menakutkan, apalagi melibatkan dua atau lebih banyak pihak. Wajar menakutkan, karena ongkos yang dibayar selalu mahal. Siapa yang bisa menyangkali oleh sebab konflik keluarga bisa pecah. Satu negara saling mengangkat senjata untuk ‘mengakhiri konflik’. Jangan lupa, di Indonesia sebuah Gereja terbelah bukan karena pengembangan, namun gara-gara konflik.

Saudaraku, konflik bisa berlarut-larut atau berefek pada kerugian besar, bila melibatkan pihak ‘orang kuat’. Orang banyak bisa ikut ‘demam’ jika orang kuat saling bertikai. Sebab dampaknya ke mana-mana. Dalam teks bacaan kita ada dua orang kuat yang berkonflik, raja Daud dan Nabal. Satu penguasa, dan yang satu lagi pengusaha.

Jelas, mereka digolongkan orang kuat bukan mengada-ada. Daud sebagai raja, dia dalam pengungsian karena ancaman raja Saul. Daud tetap punya kekuatan riil. Pasukannya ribuan. Loyal. Dan efektif memberi pengamanan. Nabal pun sama orang kuat. Kekayaan yang berlimpah merupakan kekuatan riil juga. Bukankah kita tahu, uang atau materi bisa membeli pendirian orang. Banyak kisah, yang menceritakan bagaimana demi harta orang bisa meninggalkan iman. Apalagi, hal-hal lebih rendah daripada iman.

Dua orang sama-sama kuat. Sama-sama merasa kuat dan besar. Terbayangkan sulitnya meredakan konflik dan meretas jalan damai. Tiap-tiap pihak bisa mempertahankan harga diri. Jika sudah demikian, betapa susahnya mengalah demi sebuah kebaikan. Sama-sama menang (win-win) itu bukan idaman bagi pihak yang merasa kuat.

Saudaraku, raja Daud merasa telah melindungi ternak kekayaan Nabal. Daud minta agar itu dihargai. Ia merasa kehadiran tentaranya memberi manfaat bagi Nabal. Sedangkan Nabal merasa tidak kenal, apalagi merasa menyewa jasa keamanan. Sehingga begitu Daud meminta makanan dan minuman buat kebutuhan tentaranya. Maka jawaban yang Nabal bersifat penolakan. Ketegangan segera memuncak. Suhu relasi menjadi panas. Saling ancam mulai terlontar.

Apa yang terjadi bilamana dua orang kuat berkonflik tak terjembatani? Konflik akan berubah menjadi pertumpahan darah. Dan itu kerugian di kedua belah pihak. Pada saat jalan buntu karena tiap-tiap pihak tidak mau bergeser dari pendirian dan egonya, seorang perempuan tampil. Dia adalah Abigail, istri Nabal. Kemampuan membaca situasinya tajam. Naluri dan sikap bijaknya kuat. Dialah yang menjembatani antar kedua belah pihak mengurangi ketegangan. Instruksinya kepada hamba-hambanya agar menggelontorkan bantuan makanan kepada pihak raja Daud, terbukti mengurangi dampak akibat konflik. Betul, akhir cerita Nabal tewas. Tapi, keluarga dan hamba-hambanya tetap hidup. Kerugian akibat konflik terkurangi.

Saudaraku, di sekolah, di kekuarga, di gereja, di kantor dan dalam kehidupan masyarakat tak luput dari konflik. Kita patut punya kemampuan mengelola konflik. Agar di mana kita berada konflik bisa didamaikan dan kerugian bisa diminimalisir. Mengelola bukan diartikan konflik itu dipelihara. Bukan diawetkan. Melainkan, dari konflik itu kita mencari manfaat positifnya dan membuang efek negatifnya.

Mari kita berdoa, Tuhan, ajar dan mampukan kami untuk menjadi juru damai di mana pun kami berada.

Kami membawa kepada-Mu yang sakit. Bapak-ibu dan saudara-saudara kami. Kiranya Tuhan memberi pemulihan dan tubuhnya sehat kembali. Berkati juga dengan suka cita buat para lansia.

Seluruh doa kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Mulai Dari Yang Kecil

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 16:10

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan memasuki akhir pekan. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Lukas 16:10

Saudaraku, setiap orang gandrung mendapatkan atau memiliki sesuatu dengan ukuran besar. Rumah besar. Gereja besar. Prestasi besar. Gaji besar. Negara besar. Termasuk mendapat kepercayaan besar dari pihak lain. Hal besar itu sangat disukai. Sebab, ukuran yang bersifat besar menunjukkan siapakah kita ini. Punya rumah besar, tanda sebagai orang kaya. Gereja besar menunjukkan pertumbuhan gereja yang membanggakan. Gaji besar menjadi bukti posisi baik seseorang dalam pekerjaannya.

Sebaliknya, yang kecil dalam hal tertentu kurang diminati. Coba saja, siapa yang mau bekerja ditawari gaji kecil? Begitu juga, orang tidak mau punya rumah kecil. Karena merasa kehilangan rasa nyaman. Ruang tamu pun bisa berubah jadi gudang penyimpanan barang. Prestasi kecil, menandakan pencapaian yang kurang greget. Tidak berarti lantaran tidak bisa mengkatrol popularitas diri bagi yang senang sorotan publik.

Mengingat hal kecil berkesan kurang greget, maka hal itu mengakibatkan seseorang atau orang banyak mengabaikan hal tersebut. Padahal, hal besar itu tidak ujug-ujug. Tidak juga jatuh dari langit. Orang bergaji besar, pasti dilatar belakangi kecakapan, prestasi, keseriusan kerja, lebih dahulu. Orang bergaji besar awalnya dari bawah. Gaji kecil dulu. Baru karena itu didukung komptensi dan kesetiaan, lama kelamaan merangkaklah posisi dan gajinya. Jadi, mulai dari kecil dulu. Karena itu, jika ada orang mencari kerja dan langsung minta gaji besar. Itu sudah keliru dari segi prinsip.

Lihatlah, contoh menarik jenjang karier Jokowi. Mulai dari kota ‘kecil’ dulu. Karena berprestasi, jujur dan pekerja keras. Orang percaya, dipilihlah dia sebagai gubernur. Setelah itu karena konsisten dengan prestasi dan kepribadiannya yang baik, terpilih jadi presiden. Bahkan sampai dua periode. Bandingkan, dengan yang belum pernah meniti karier dari walikota, gibernur. Lalu langsung ingin jadi presiden. Gagal dia. Karena orang belum melihat kesetiaannya dalam menunaikan tugas dari yang ‘kecil’ dulu.

Saudaraku, tepatlah yang dikatakan Firman Tuhan. Allah akan memberi kita hal-hal besar, jika kita sudah membuktikan setia dalam perkara-perkarw yang kecil. Jika yang kecil diabaikan, dan disepelekan. Itu sama dengan melepas peluang untuk mendapat perkara-perkara atau berkat-berkat besar dari Tuhan. Jadi, Tuhan menghargai orang yang menjalankan hal-hal kecil dengan serius. Akan tiba waktunya, Allah mengganjarnya dengan memberikan kepercayaan yang lebih besar. Jabatan pelayanan yang di mata manusia, “oh itu jabatan kecil”, biarlah komentar demikian tidak menghalangi kesetiaan kita. Demikian pun dengan hal lain. Mari kita terus setia sekecil apapun buat Tuhan dan bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

Kita berdoa, Tuhan, terima kasih atas pemberian hati nurani dalam diri kami. Kiranya melalui suara hati nurani kami setia atas kehendak-Mu.

Kami berdoa pula buat saudara kami yang telah memasuki lansia. Puji syukur Tuhan selalu mencinta mereka. Dulu, kini dan hari esok semoga berkat indah-Mu terus bersamanya dan keluarganya. Kiranya suka cita dan sejahtera dikaruniakan oleh-Mu. Berikan kesehatan dan panjang umur.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan.

Selamat menikmati akhir pekan.

MENJADI MURID KRISTUS DI TENGAH PERUBAHAN GLOBAL

REFLEKSI ALKITAB, MINGGU, 26 JULI 2020

Oleh Weinata Sairin

Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

2 Petrus 1: 5-7

Menjadi orang Kristen ternyata tidak semudah yang dipikirkan banyak orang. Seolah dengan iming-iming sembako, atau dibantu asap dapurnya , dan mendapat fasilitas standar dalam hidupnya membuat seseorang dengan mudah dibaptis dan menjadi orang Kristen. Lalu, jadilah ia secara formal orang Kristen. Tahun 1960-1970-an marak istilah Kristenisasi di beberapa daerah, yang kemudian muncul istilah “Kristen beras” atau “Kristen susu”. Maksudnya adalah seseorang menjadi Kristen karena mendapat sumbangan beras atau susu dari lembaga atau pribadi yang bergerak dalam bidang penginjilan. Dalam masa itu, tatkala kemiskinan benar-benar melilit rakyat kecil, aspek ekonomi memang sering berpautan dengan berpindah agama.

Pada saat penulis menjadi pendeta di kota kecil Cimahi. Sekitar tahun 1974-1978, beberapa kali ada orang-orang (Sunda) yang datang dari sekitar Cimahi untuk ikut Kebaktian Minggu di gereja. Mereka menyatakan keinginan untuk “masuk Kristen”. Sempat dilakukan percakapan dengan mereka, dengan melibatkan beberapa anggota Majelis Jemaat. Dalam percakapan itu ditangkap adanya nuansa motif ekonomis dari mereka dalam kaitan keinginan untuk menjadi Kristen.

Petrus, dalam surat yang dikirim kepada Jemaat di sekitar Asia tahun 100. Saat di tengah berbagai derita yang dialami umat karena kekristenannya. Ia menegaskan bahwa dalam menghadapi realitas empirik yang demikian sulit maka Iman itu tidak cukup. Dengan beriman, tercatat dalam buku register Gereja, datang dalam Ibadah Minggu dan kegiatan rutin gerejawi lainnya. Seolah sudah beres semuanya, dan seat di sudah tersedia.

Rasul Petrus mengingatkan agar kita dengan sungguh-sungguh berusaha. Berusaha untuk menambah Iman dengan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri dan ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih akan semua orang.

Ia tentu saja mempunyai alasan spesifik dan argumentatif. Sehingga dirinya perlu menyebut secara eksplisit tujuh keywords/kata kunci yang perlu ditambahkan kepada Iman. Hal ini agar iman umat itu mampu bertahan di tengah politik kekuasaan yang saat itu mengguncang kehidupan. Petrus tahu betul karakter umat yang ia kirimi surat, bagaimana daya tahan iman mereka. Petrus tahu bagaimana politik licik penguasa saat itu. Mereka yang selalu memosisikan umat Kristen sebagai kambing hitam yang melakukan pembakaran kota atau tindak kriminal lainnya. Itulah sebabnya Petrus dalam gaya pastoralnya yang bernas, cerdas, dan dalam, mengungkapkan hal itu dalam suratnya.

Tatkala kita kini hidup dan menghidupi dunia postmodern. Dunia dengan tingkat peradaban yang makin maju. Dunia yang ketika beragam informasi memasuki ruang-ruang privasi kita secara telanjang. Serta dunia yang tatkala informasi mondial hanya sebatas kemauan dan kemampuan jemari kita mengeklik. Tetap saja kekristenan tidak mendapat ruang yang sejuk dan nyaman/convenience. Kekristenan tetap ditolak oleh dunia, seperti yang Yesus katakan. Hujatan, penodaan, penistaan, bahkan kriminalisasi terhadap kekristenan tak pernah surut.

Umat Kristen Indonesia adalah bagian integral dari bangsa ini. Mereka bukan penumpang gelap atau penumpang tanpa karcis di gerbong NKRI. Kita adalah pemilik sah negeri ini yang telah menyumbangkan darah, tubuh dan bentuk-bentuk pengorbanan yang lain demi tegaknya NKRI.

Mari terus mengukir karya terbaik di negeri ini. Kita wujudkan tujuh kata kunci penting seperti yang dikatakan Petrus. Sehingga sebagai murid Kristus kita mampu survive, bahkan mampu memberi kontribusi ditengah perubahan global.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu
God Bless !