Hindari Emosi, Kuasai Diri

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Kejadian 4:5

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. “

Kejadian 4:5

Saudaraku, betapa berbahaya perasaan tersinggung dan cemburu manakala kita tidak mengendalikannya. Tindakan kekerasan bisa lahir gara-gara itu. Kisah Kain dan Habel mengingatkan bahaya tersebut. Walaupun keduanya terikat persaudaraan, malah saudara kandung. Tetapi begitu salah satu terbakar cemburu dan ketersinggungan, maka muncullah gelap mata. Saudaranya sendiri jadi sasaran pelampiasan tindakan kekerasan.

Persaudaraan merupakan nilai tertinggi dalam relasi antar manusia. Dua orang atau kelompok manusia yang berbeda bisa bersatu. Mengapa? Karena ada nilai persaudaraan yang merekatkan. Dengan nilai ini, kita memandang orang lain bagaikan saudara sendiri. Hidup bersama dengan rukun dan damai.

Dalam hal Kain justru lain. Demi perasaan egoisnya yang merasa bahwa sikap Allah lebih mencintai Habel, saudaranya. Ia abaikan Habel sebagai saudara. Di matanya, saudaranya adalah sasaran pelimpahan gejolak hati yang panas. Sepatutnya Kain introspeksi dan memperbaiki kekurangannya saat persembahannya ditolak Allah. Jalan itu tidak ditempuh. Ia lebih melihat Habel, saudaranya selaku saingan. Kain melihat saudaranya yang jadi pangkal, mengapa persembahannya ditolak Allah.

Saudaraku, ketersinggungan dan dipadu dengan rasa cemburu, akhirnya mengambil korban. Adik yang sepatutnya dikasihi justru kehilangan nyawa oleh tangan kakaknya sendiri. Posisi kakak dalam keluarga mengambil peran melindungi. Terutama dari ancaman dan bahaya dari luar keluarga. Kain, bukan saja gagal sebagai kakak yang melindungi adiknya. Bahkan ia sendiri pelaku tunggal yang menghilangkan nyawa saudara yang sepatutnya dikasihinya.

Saudaraku, kita mengenal istilah KDRT. Sebuah singkatan atau akronim yang menunjukkan bahwa orang terdekat dalam sebuah keluarga bisa tega berbuat kekerasan atas anggota keluarga yang lain. Sedangkan korbannya sesama anggota keluarganya sendiri. Bisa suami atas istri, atau sebaliknya. Orang tua atas anak, atau sebaliknya.

Dalam masyarakat kita, korban terbanyak adalah perempuan dan anak. Laki-laki tentu ada juga, tapi sedikit. Perempuan dan anak jadi korban karena lebih rentan. Secara fisik lebih lemah. Dan dalam budaya patriarki ( dominan bapak atau laki-laki), tersimpan sikap lebih ‘toleran’ terjadinya kekerasan atas perempuan.

Saudaraku, kekerasan itu berdampak pahit. Luka secara fisik dan batin berupa trauma akan dialami korbannya. Kita harus jadikan keluarga kita bebas kekerasan (zero violence). Kekerasan verbal berupa kata-kata, fisik atau kekerasan seksual yang belakangan ini merebak di banyak tempat.

Kita proteksi keluarga kita agar menjadi lingkungan yang nyaman, dan terhindar dari budaya kekerasan. Kita membangun suasana keluarga yang mengutamakan persaudaraan sebagai nilai tertinggi. Sehingga cinta kasih, kehangatan dan saling memberi perhatian hadir dalam keluarga kita. Cemburu dan tersinggung, pasti terjadi dalam hidup sebuah keluarga. Namun, jangan disimpan, agar suatu saat tidak meledak dalam bentuk mencederai fisik dan batin orang yang kita cintai. Kita harus mengelola emosi yang tidak sehat untuk dutundukkan oleh penguasaan diri yang kuat dan baik.

Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Jadikan kami mampu membangun kehidupan yang nyaman buat hati dan tentram dari ancaman. Baik di tengah keluarga, tempat kerja dan masyarakat.

Tuhan, kiranya kami semua bisa beraktivitas di hari ini dengan tubuh yang sehat dan jiwa penuh semangat. Tuhan berkati kami sekalian dengan kebutuhan yang kami perlukan. Ajar kami senantiasa bersyukur dalam segala keadaan. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Ajakan Melalui Teladan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yosua 24:15

Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Allah senantiasa bertindak baik dan ajaib. Sepanjang rentang waktu yang telah lewat, hingga pagi ini Tuhan terus berkarya.

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Yosua 24:15

Yosua bersama seluruh umat Israel berada di tanah Sikhem. Sudah berada di tanah perjanjian. Negeri yang dijuluki “berlimpah susu dan madu”. Sebuah negeri yang menjadi idaman dan impian mereka. Betapa tidak. Di negeri itu mereka akan menjadi bangsa yang bebas dari perbudakan Mesir. Dan negeri yang menjanjikan kesuburan dan kemakmuran.

Yosua menantang dan mengingatkan. Menantang, apakah mereka setelah memasuki negeri itu akan tetap menyembah Allah, atau beribadah kepada allah atau dewa lain.

Di mata Yosua, di negeri yang baru selain menjanjikan keindahannya. Tapi, mereka juga bisa tergelincir pada ajakan dan godaan kepercayaan lain. Umat Israel bisa seperti kacang lupa kulitnya. Lupa pada Allah.

Yosua tidak hanya memperhadapkan dengan tantangan. Tapi, ia menyodorkan kepada mereka sikapnya dan keluarganya. Apa itu? Bagi Yosua, ia tidak akan pernah bergeser dari keyakinan yang selama ini diiimani. Dia tidak pernah mengganti kepada siapa ia menyembah. Yakni ia dan keluarga tetap beriman dan menyembah Allah.

Pernyataan ini, merupakan pengakuan bahwa Allah yang selama ini terbukti berbuat banyak untuk Israel. Sekaligus di dalamnya adalah Yosua dan keluarganya. Di mata Yosua, posisi Allah tidak bisa dan tidak boleh digantikan oleh allah atau dewa-dewa lain. Kuasa dan kasih Allah bukan cerita, melainkan sudah mereka rasakan sepanjang 40 tahun dalam perjalanan di padang gurun. Pengalaman itu lebih dari cukup. Menandakan dan membuktikan Allah hadir dan terus mendampingi perjalanan mereka.

Saudara-saudara,

Satu prinsip yang muncul dari pernyataan dan komitmen Yosua adalah keluarga menjadi bagian dari tekadnya. Ia tidak mau cuma dirinya yang menyembah Allah, sedangkan keluarganya tidak.

Indahnya, sebuah keluarga yang satu langkah, satu hati dan satu iman. Itulah kondisi yang ideal yang Yosua sampaikan kepada umat Allah. Dengan menyatakan demikian, terkandung maksud agar umat Israel pun melakukan hal yang sama. Yosua meminta mereka mengikuti jejaknya.

Menarik cara atau metode yang digunakan Yosua. Tindakannya bersifat tawaran dan pemberian contoh. Ia tidak memaksa umat Israel mematuhi komitmennya. Dalam kehidupan iman cara ini sungguh tepat. Beriman dan beribadah harus merupakan pilihan bebas. Sehingga orang yang beriman dan beribadah melakukannya dengan suka cita. Dan lahir dari kesadaran lubuk hati terdalam.

Sehingga, bila pada suatu saat menghadapi akibat dari pilihannya. Terutama berhadapan dengan hal yang berat. Pasti tidak menyalahkan orang lain. Termasuk tidak menyalahkan orang tua. Seiring dengan itu, jika beriman dan beribadah bersifat pemaksaan. Maka, ada unsur keterpaksaan.

Sama bila beribadah hanya lantaran ancaman, kelak hanya menghasilkan orang beriman yang pura-pura. Pura-pura rajin. Pura-pura setia. Padahal hal itu didorong rasa ketakutan. Itu namanya beriman yang tidak murni atau otentik.

Saudaraku, pilihan dan komitmen Yosua yang beriman dan beribadah kepada Allah. Bukan berarti selama di perjalanan padang gurun tidak masalah. Ada masalah. Bahkan banyak dan beragam. Haus dan lapar mendera umat itu. Putus asa sebab menghadapi alam yang keras. Tidak heran umat Israel kerap bersungut-sungut dan mengeluh.

Saudaraku, berkaca pada firman Tuhan, khususnya bagian dari sikap Yosua di atas. alangkah baik dan indahnya kita pun meneladaninya. Tuhan menjanjikan hidup dengan sisi terbaik sebab Allah konsisten hadir. Dia tetap bersama kita. Mengulurkan tangan saat kita jatuh. Memberi kekuataan saat kita lemah. Allah menjadi pusat optimisme kita di hari yang baru.

Kita menyadari pasti hari ini punya cerita sendiri yang belum kita ketahui. Bisa saja cerita yang bisa menggoda kita berpaling dari Allah. Situasi sulit yang tidak kita inginkan justru hadir. Namun, apapun yang terjadi, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan kita tidak beriman dan menyembah Allah. Kita tetap kokoh dalam keberimanan kita.

Sekaligus, kita pun membentengi seisi rumah kita dengan pendidikan iman, tempaan mental agar mereka tahan bantingan. Tetap setia kepada Allah. Tidak manja apalagi cengeng. Dengan demikian, apapun yang kelak terjadi di hari yang baru ini. Situasi apapun yang mengisi hidup kita. Kita tidak akan bergeser dan berubah. Hanya Allah yang hendak terus kita imani dan sembah.

Kita berdoa, “ Ya, Tuhan. Kami ingin tetap setia beriman dan menyembah-Mu. Demikian pula termasuk keluarga kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa.

Dalam Pimpinan Roh

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Perjalanan kita kini memasuki akhir pekan, kita bersyukur kepada-Nya baik dalam duka maupun suka.

Firman Tuhan menyatakan, ” Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” Galatia 5:22-23

Saudaraku, rasul Paulus mengingatkan bahwa ada dua hal dalam sosok manusia, yaitu daging dan roh. Daging itu bukan pengertian daging yang kita ketahui secara umum saat ini. Daging yang kita kenal sehari-hari adalah bagian lunak yang dilapisi kulit dan mekekat pada tulang. Bukan daging yang ada pada hewan atau manusia seperti itu.

Daging yang dimaksud firman Tuhan adalah sarx, dalam bahasa Yunaninya, sifat kemanusiaan yang buruk. Seseorang yang mencuri, mabuk, mengamuk tidak terkendali, egois, membuat ujar kebencian, memfitnah, itu semua tindakan bersifat kedagingan. Dan rasul Paulus menyatakan, sifat kedagingan itu seharusnya disalibkan atau dibinasakan saja.

Sisi lain dari keberadaan Anda dan saya sebagai orang beriman adalah Roh. Sifat kebaikan yang hadir dalam diri kita. Roh ini bisa berbuah. Nah, deretan kebajikan di atas, yakni kesabaran, lemah lembut, perduli atas mereka yang kesusahan, kasih, kegembiraan itulah semua berkaitan dengan Roh.

Jika dipampangkan antara daging dan Roh, kita bisa melihat hal berbeda sekali. Bila warna, yang satu hitam dan satunya lagi putih. Daging itu perilaku yang sifatnya merusak kehidupan manusia yang bermartabat. Sedangkan Roh menuntun kita bisa berbuat hal yang luhur.

Bahwa daging itu hitam, sedangkan Roh itu putih, maka jelas hendaknya hidup kita semua memilih yang putih. Sebab, hidup di dalam Kristus semestinya kita menghasilkan buah-buah Roh. Jangan kita asyik bergelimang hidup dalam “dunia hitam”. Karya Kristus di dalam kita menuntun kita hidup dalam roh.

Rasul Paulus mengutarakan ini, pasti ada sebabnya. Ia menasihati kita agar jangan hidup dalam daging, melainkan dalam pimpinan Roh. Berawal saat ia melihat, tentu sambil prihatin, orang-orang pengikut Kristus yang hidup di Galatia waktu itu. Rasul menemukan perilaku dan pola hidup mereka masih asyik dengan kedagingannya (sarx). Dengan kalimat lain, “katanya sudah kristen, nyatanya perilakunya tidak jauh beda seperti sebelum mengikut Yesus.”

Saudara, jika seseorang mengaku pengikut Kristus mau tidak mau mempunyai hal yang baru dan berbeda. Yakni kesediaan hidupnya dipimpin oleh Roh. Mengaku pengikut Kristus tapi hatinya menyimpan iri, dendam, selingkuh, merampas kepunyaan orang lain, senang bikin hoax, kejam, masa bodoh atas orang yang menderita. Lalu apa arti kekristenannya? Itu bagaikan kuburan. Di luar tampilannya bagus, bagian dalamnya tulang belulang.

Jika kita hidup dipimpin daging jelas kehidupan macam apa yang dihasilkan. Pola hidup kedagingan yang diterapkan di keluarga pasti akan menghasilkan keluarga yang penuh konflik, bagaimana tidak konflik sifat marah terus dilestarikan. Ucapannya penuh kecaman atas yang lain. Siapa yang betah hidup dalam keluarga, di mana lebih banyak kata cacian daripada pujian tulus. Anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar bersama temannya, daripada tinggal di rumah yang penuh bara. Panas, bukan sejuk.

Pasti lain, keluarga yang dibangun dengan anggotanya hidup dipimpin Roh. Orang tua mengutamakan suasana senang dapat tercipta untuk anak atau cucunya. Satu kesulitan yang dihadapi salah satu anggota keluarga, segera yang lain menopang dan meringankan. Dapat rezeki dijadikan berkat buat bersama. Bukan dihabiskan sendiri dan sembunyi-sembunyi. Anak hormat pada orang tua. Takut atau patuh pada Tuhan tanpa perlu disuruh-suruh, dan tidak dikerjakan dengan terpaksa.

Begitupun, sifat saling melayani menjadi budaya, atau kebiasaan yang ditanamkan sejak dini. Semua memperlihatkan sikap terpuji, sehingga suasana keluarga itu hangat dengan cinta kasih. Relasi antar satu dengan yang lain terasa sejuk. Sebab diwarnai ucapan lembut dalam berkomunikasi. Itu semua mungkin bila Roh yang memimpin hidup kita.

Saudara, memang hidup dalam pimpinan Roh tidak segampang membalikkan tangan. Kita sadar itu sulit. Tapi bukan tidak mungkin diwujudkan. Tentu, butuh kesungguhan dan pertolongan Tuhan sendiri. Kita sadar hal itu. Meskipun demikian, kita tidak cepat menyerah dengan dalih: ah, itu sulit, tidak mungkin, pasti tidak mampu.

Tentu, hidup dipimpin Roh adalah perjuangan. Meski demikian, kelak saatnya kita akan memetik buah dari sebuah perjuangan yakni indahnya corak hidup dipimpin Roh.

Firman Tuhan mengajak saya dan anda serta kita semua hadir di akhir pekan ini, dengan senyum, sapaan hangat, pelukan penuh persaudaraan, uluran tangan tanda hidup berdamai, tatapan mata yang menandakan kesediaan berkomunikasi. Ya, kita dengan itu semua tanda bahwa kita hidup dipimpin Roh.

Kita berdoa, ” Tuhan, kami ingin selalu terbuka dipimpin oleh Roh-Mu, agar kami membangun hidup yang penuh kebajikan dan kasih sayang.

Tuhan sertai aktivitas kami hari ini. Jauhkan dari bahaya dan karuniakan kesehatan. Kami beserta keluarga hidup dan berkarya, dengan hidup dalam pimpinan Roh-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Menghargai Yang Kecil

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu Maha baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan memasuki hari Jumat ini. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan diambil dari, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Lukas 16:10”

Saudaraku, setiap orang gandrung mendapatkan atau memiliki sesuatu dengan ukuran besar. Rumah besar. Gereja besar. Prestasi besar. Gaji besar. Negara besar. Termasuk mendapat kepercayaan besar dari pihak lain. Hal yang menyangkut sesuatu besar itu sangat disukai.

Sebab, ukuran yang bersifat besar menunjukkan siapakah kita ini. Punya rumah besar, tanda sebagai orang kaya. Gereja besar menunjukkan pertumbuhan gereja yang membanggakan. Gaji besar menjadi bukti posisi baik seseorang dalam pekerjaannya.

Sebaliknya, yang kecil dalam hal tertentu kurang diminati. Coba saja, siapa yang mau bekerja ditawari gaji kecil? Begitu juga, orang tidak mau punya rumah kecil. Karena merasa kehilangan rasa nyaman. Ruang tamu pun bisa berubah jadi gudang penyimpanan barang. Prestasi kecil, menandakan pencapaian yang kurang greget.

Bagaimanapun hal yang kecil dinilai tidak berarti, lantaran hal itu tidak bisa mengkatrol popularitas diri bagi yang senang sorotan publik. Atau juga, yang kecil seolah-olah sosok yang kurang sreg di hati. Peran dan kontribusinya seolah-olah tidak berarti bagi kehidupan. Tidak heran orang yang dilabeli “kecil” dilihat sebelah mata.

Mengingat hal kecil berkesan kurang greget, maka hal itu mengakibatkan seseorang atau orang banyak mengabaikan hal tersebut. Padahal, hal besar itu tidak ujug-ujug. Tidak juga jatuh dari langit. Orang bergaji besar, pasti dilatar belakangi kecakapan, prestasi, keseriusan kerja, lebih dahulu atas hal yang kecil. Orang bergaji besar awalnya dari bawah. Gaji kecil dulu. Baru karena itu didukung komptensi dan kesetiaan, lama kelamaan merangkaklah posisi dan gajinya.

Jadi, mulai dari kecil dulu. Karena itu, jika ada orang mencari kerja dan langsung minta gaji besar. Sementara kinerja dan kompetensinya belum terlihat dan jelas. Itu sudah keliru dari segi prinsip.

Lihatlah, contoh menarik jenjang karier presiden kita, Jokowi. Mulai dari kota ‘kecil’ dulu. Karena berprestasi, jujur dan pekerja keras. Orang percaya, dipilihlah dia sebagai gubernur. Setelah itu karena konsisten dengan prestasi dan kepribadiannya yang baik, terpilih jadi presiden. Bahkan sampai dua periode.

Bandingkan, jika ada orang yang belum pernah meniti karier dari camat, walikota, gibernur. Lalu langsung ingin jadi presiden. Bisa kemungkinan gagal dia. Karena orang belum melihat kesetiaannya dalam menunaikan tugas dari level yang ‘kecil’ dulu.

Saudaraku, tepatlah yang dikatakan Firman Tuhan. Allah akan memberi kita hal-hal besar, jika kita sudah membuktikan setia dalam perkara-perkara yang kecil. Jika yang kecil diabaikan, dan disepelekan. Itu sama dengan melepas peluang untuk mendapat perkara-perkara atau berkat-berkat besar dari Tuhan.

Tuhan menghargai orang yang menjalankan hal-hal kecil dengan serius. Akan tiba waktunya, Allah mengganjarnya dengan memberikan kepercayaan yang lebih besar. Jabatan pelayanan yang di mata manusia, “oh itu jabatan kecil”, biarlah komentar demikian tidak menghalangi kesetiaan kita. Demikian pun dengan hal lain. Mari kita terus setia sekecil apapun buat Tuhan dan bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

Kita berdoa, Tuhan, terima kasih atas pemberian hati nurani dalam diri kami. Kiranya melalui suara hati nurani kami setia atas kehendak-Mu.

Tuhan, kami berdoa secara khusus buat anak-anak dan para cucu kami. Mereka yang telah berbulan-bulan aktivitasnya terbatas. Mereka terpelihara semangatnya supaya bisa mengatasi kebosanan dan kejenuhan. Mampukan para orang tua agar menemani dan secara kreatif menyediakan kegiatan dan permainan yang melepaskan perasaan kejenuhan.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang menang dari maut.

Bagi Tuhan Tidak Ada Yang Mustahil

Oleh Pdt. Stefanus N. Parinussa

Beberapa waktu lalu sebelum PSBB diberlakukan, saya mendengar dua orang ojol (ojek online) yang sedang mengobrol. Ojol pertama berkata: “seharian muter-muter cuma dapat 3 penumpang, gimana bayar cicilan motor ini..?”. Ojol kedua berkata: “saya malah baru dapat 2 penumpang, tapi ya disyukurilah, Allah pasti memberi rejeki..”. Obrolan seperti itu mungkin sering kita dengar atau mungkin kita yang terlibat dalam percakapan itu. Kita mengeluhkan tentang kekurangan, ketidakidealan dan sebagainya.

Dalam situasi dan kondisi saat ini banyak orang-orang yang mengeluhkan banyaknya pengeluaran yang tidak sebanding dengan pemasukan. Apalagi mereka yang bekerja secara harian dan bergantung dengan pendapatan harian seperti ojol, opang (ojek pangkalan), pedagang kecil, buruh bangunan dan sebagainya. Dalam sebuah acara di televisi, seorang ojol berkata bahwa dirinya ingin ikut saran pemerintah untuk isolasi di rumah bersama keluarga, tetapi kalau ia tidak keluar rumah bagaimana isteri dan anak-anak mereka bisa makan?

Bagaimana dengan saudara? Kita pun mungkin mengalami hal yang sama. Pemberlakuan social distancing dan work from home sedikit banyak berdampak terhadap kita termasuk perekonomian keluarga.

Dalam pembacaan Alkitab saat ini, kita melihat bagaimana Tuhan Yesus bersama murid-murid berusaha untuk menghindari orang banyak. Tuhan mau menenangkan diri setelah letih dalam pelayanan dan duka mendengar Yohanes Pembaptis dibunuh (lih. Mat. 14:1-12). Namun, bukannya dirinya terhindar dari orang banyak justru bertemu dengan orang banyak yang ingin dilayani Tuhan. Hati Tuhan tergerak oleh belas kasihan sehingga Ia pun melayani dan menyembuhkan mereka yang sakit (ayat 13-14).

Meski letih, hati yang tidak nyaman karena duka yang ia dengar, tidak mengurangi kasih Tuhan Yesus terhadap orang-orang yang mencari dan menunggu-Nya. Bahkan bukan hanya memperhatikan kehausan mereka akan kebenaran dan harapan kesembuhan dari sakit penyakitnya, Tuhan pun peduli dengan perut mereka. Tuhan tahu orang-orang itu pasti lapar. Kepedulian Tuhan ditunjukkan dengan mengatakan bahwa para murid harus memberi mereka makan.

Murid-murid sendiri memiliki pemikiran sendiri bahwa seharusnyalah orang-orang itu pulang untuk makan dan itu menjadi tanggung jawab masing-masing. Kebingungan mereka bertambah ketika Tuhan meminta agar murid-murid memberi orang banyak itu makan karena hanya ada lima roti dan dua ikan (ayat 17). Tentu tidak cukup untuk memenuhi makan bagi 5000 orang laki-laki belum termasuk perempuan dan anak (ayat 21).

Namun, apa yang terjadi? Tuhan tidak mengeluhkan keadaan. Ia tidak menyalahkan para murid atau orang banyak itu. Ia tidak bersungut-sungut dengan roti dan ikan yang sedikit itu. Melainkan Ia “menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu …lalu murid-murid membagikannya kepada semua orang. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh” (ayat 19b-20). Mujizat terjadi karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Kekurangan dan keterbatasan bukan menjadi alasan kita untuk mengeluh, berduka, khawatir yang berlebihan. Justru dalam keterbatasan, kita harus berdoa dan memohon berkat Tuhan agar apa yang ada, yang kita miliki (seberapapun itu) dijamah dan dikuduskan serta diberkati Tuhan sehingga mencukupi kebutuhan dan keperluan kita. Dalam kondisi saat ini hampir semua orang mengalami hal yang sama. Tetapi berbeda cara menghadapinya.

Sebagai persekutuan umat percaya, kita percaya bahwa Tuhan akan dan senantiasa menyertai serta memberkati kita. Karena itu, apapun kondisi kita, mari kita terus berdoa agar berkat Tuhan tercurah dalam kehidupan kita. Agar “lima roti dan dua ikan” yang kita miliki mencukupi kebutuhan-kebutuhan harian kita. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil karena Ia peduli dan mengasihi kita – saudara dan saya. Amin!