Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 16:14

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 16:14

Pembaharuan Diri

Burung telah berkicau. Deru kendaraan terdengar. Mentari telah terbiit di Timur. Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa, dan saudara-saudara yang baik. Kita berterima kasih kepada Tuhan, kini kita memasuki hari baru. Seiring dengan itu, kasih-Nya terus menemani kita. Ini adalah modal penting kita menjalani aktivitas di hari Senin ini. Bahan refleksi harian: Kisah Para Rasul 16:14

Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus

Kisah Para Rasul 16:14

Saudaraku, ada seorang perempuan pengusaha. Biasa disapa Lidia. Mengajukan diri untuk dibaptis bersama seluruh isinya rumahnya.

Dia seorang pedagang kain ungu. Kain ungu bukan bahan dagangan biasa. Jaman itu barang mewah yang bisa dibeli kalangan tertentu. Pembuatannya rumit dan harganya mahal.

Dengan gambaran itu, berarti Lidia tergolong orang kaya. Sangat dikenal lingkungannnya. Dia biasa berhubungan dan bergaul dengan orang- orang terpandang. Kaya dan punya jabatan.

Tapi hidup yang bermakna, bagi Lidia tidak cukup sampai di situ. Hidup tidak cuma gelimang harta yang cukup dan teman pergaulan yang bergengsi. Setelah mendengar pengajaran tentang Injil Kristus, ia sadar iman kepada Kristus menuntun kepada hidup yang lebih punya arti.

Pilihan ini, adalah yang kita sebut pertobatan. Perubahan kiblat atau orientasi kehidupan. Arah hidup berubah, demikian pula gaya hidupnya. Lidia tidak lagi jadi bagian yang menyembah kepercayaannya yang lama. Kini, dengan dibaptis pusat keimanannya adalah Kristus.

Saudaraku, pertobatan selalu disertai perubahan. Bahkan bisa berbeda dengan lingkungannya. Karena itu dibutuhkan keberanian. Berani berbeda. Dan itu pun pasti terjadi pula dengan Lidia. Dengan perubahan pilihan imannya, Lidia musti menghadapi reaksi keras lingkungannya. Bahkan bisa kehilangan pembeli dari orang-orang kaya dan terhormat.

Di sinilah, tidak mudahnya menata diri dan bertobat. Ada resiko yang bisa dituai. Dan itu resiko yang bisa merenggut hidup yang tadinya sudah nyaman dan tenang. Tapi, buat Lidia itu semua tidak menghentikan niatnya mengikut Kristus. Bahkan, seluruh keluarganya pun diajak.

Saudaraku, memasuki minggu-minggu adven. Penataan diri menjadi panggilan Allah atas kita. Kedatangan Sang Raja Damai harus disambut dengan bebenah diri. Kita menanggalkan kebiasaan buruk dan digantikan perilaku yang berkenan bagi-Nya.

Kita berdoa: Tuhan, nyalakan api cinta kami kepada-Mu dan sesama kami serta kepada siapapun. Kiranya kami mencintai-Mu dengan sepenuh hati dan membawa suka cita. Kiranya kami diperlengkapi dengan kesediaan hati dan pikiran terbuka atas bimbingan-Mu.

Kami mendoakan saudara yang berulang tahun. Mereka bertambah usianya. Semoga berkat-Mu yang indah bersama mereka. Suka cita, syukur dan panjang umur kiranya Tuhan karuniakan.

Kami berdoa kiranya Tuhan memberkati Saudara kami yang masih sakit. Yang dirawat di rumah maupun di rumah sakit. Kesembuhan kiranya kelak milik mereka.

Kami mendoakan anak- anak kami yang mulai hari menjalani ulangan pelajaran sekolah. Semoga Tuhan memberi ketekunan, kemauan belajar dan tubuh yang sehat menyertai mereka, sehingga kelak mereka memetik hasil nilai yang baik. Sertai orang tua dan para lansia. Kiranya masa tua mereka Tuhan sediakan keindahannya.

Doa ini, kami naikkan dalam nama Yesus. Amin.

Happy monday.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 16:14

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 11:26

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 11:26

Dikenal Dari Buahnya

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Bahan refleksi harian: Kisah Para Rasul 11:26

Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen

Kisah Para Rasul 11:26

Saudaraku, Tuhan Yesus bersabda seseorang dikenal dari buahnya. Artinya siapa saya, siapa Anda dan siapa seseorang tidak cukup dikenali dari identitas nama diri. Melainkan juga melalui apa yang diperbuatnya. Tindakan, ucapan dan sikap seseorang mencerminkan profil seseorang.

Bagaimana mula-mula seseorang atau kelompok orang disebut sebagai orang kristen? Sejak kapan berawal? Nama kristen bukan produk yang langsung turun dari surga. Bukan ujug-ujug.

Di kota Antiokhia sebutan orang kristen muncul pertama kali. Sebuah kota di tepi pantai masuk wilayah negara Suriah saat ini. Latar belakang mereka bukan orang Yahudi. Tapi ada yang dari Siprus, Yunani dan Kirene, Libya. Boleh dikatakan pengikut Kristus ini merupakan perkembangan baik yang tidak terduga.

Mereka disebut orang kristen oleh masyarakat lingkungan sekitarnya. Mereka memberi identitas karena buah yang dihasilkan orang-orang yang berasal dari berbagai negeri itu.

Penduduk kota Antiokia melihat orang-orang itu mempraktikkan keimanan yang berbeda. Mereka orang-orang yang taat dalam iman. Patuh dalam bimbingan. Dari sanalah lahir sebutan orang kristen.

Tidak hanya mereka tergolong taat dan patuh dengan imannya. Mereka pun orang-orang yang murah hati. Terlihat saat Gereja induk Yahudi di Yerusalem mengutus Barnabas ke Antiokhia. Tujuannya agar orang-orang baru percaya ini didampingi, dan mereka tetap setia. Mereka tanggap mengulurkan bantuan. Mereka menyingsingkan lengan baju dan membantu secara finansial.

Saudaraku. Sementara itu, mereka juga orang-orang yang tahu resiko menjadi pengikut Kristus. Secara jumlah merupakan persekutuan yang kecil. Dan terlebih dari itu mengalami penganiayaan atau persekusi.

Jadi, sebutan kristen tidak bisa dipisahkan dengan buah baik yang telah diperlihatkan. Setia pada iman. Peka dan tanggap atas saudara seiman yang tengah kesulitan dan mempunyai karakter sabar terhadap penghinaan karena iman.

Dengan demikian, saat kita melekatkan identitas sebagai orang kristen pada diri kita. Itu tidak semata-mata karena hal simbolis, seperti: kalung salib yang dikenakan, penyebutan dalam KTP, atau hiasan rumah, dll. Namun ada yang lebih utama, atau esensial. Yaitu praktik kesetiaan dan semangat kemurah hatian dalam kehidupan beriman. Kita dikenal dan memperkenalkan diri dengan “buahnya”. Dalam hal ini, perbuatan terpuji.

Apa artinya kita menyebut diri orang kristen, tapi praktik hidupnya jauh dari esensi atau inti kekristenan? Apa artinya gembar-gembor menonjolkan simbol atau lambang kristen, sedangkan perbuatannya menodai kekristenan? Kekristenan adalah identitas yang nyata dari praktik hidup. Dalam hal ini orang yang mempraktekkan nilai: setia, penuh antusias, murah hati, suka cita dan tetap tegar. Dan itu semua diwujudkan oleh orang kristen di Antiokhia.

Semoga, kita mampu menyandang identitas kekristenan dengan sikap dan perilaku yang senafas dengan “jiwa” kekristenan. Sehingga orang-orang di jaman kita ini melihat kita sebagai orang kristen sejati, sebab sebagai orang yang punya praktik hidup terpuji. Semoga Tuhan memampukan kita.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya kami bisa menyandang identitas sebagai pengikut-Mu. Dan mampukan kami taat ke atas, tanggap ke bawah.

Kami berdoa bagi para guru yang telah purna tugas maupun masih aktif. Merekalah dengan profesi mendidik manusia agar cerdas dan berkarakter baik. Berkati hidup mereka.

Doa ini kami panjatkan dalam nama di atas nama, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami adalah kawanan kecil, namun kiranya mampu menjadi murid-Mu yang berkualitas. Jadikan kami orang kristen yang sejati. Kami ingin memuji-Mu setulus hati.

Kami berdoa agar apa yang kami alami hari ini, kiranya kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu.

Tuhan, semoga yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya kami bisa berbagi kebaikan dengan sesama kami hari ini.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Kiranya dengan beraktivitas kita menjadikan lebih berarti.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 11:26

Refleksi Haran: 1 Raja-raja 17:6

Refleksi Harian: 1 Raja-raja 17:6

Merasakan Mukjizat Tuhan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik di dalam Tuhan. Semoga pagi yang indah dapat kita nikmati saat bangun pagi ini. Bahan refleksi harian: 1 Raja-raja 17:6

Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu

1 Raja-raja 17:6

Saudaraku, banyak orang menyukai burung. Ada yang karena suaranya yang indah. Menyenangkan didengar telinga. Ada pula lantaran bulunya yang indah. Sehingga sedap dipandang mata. Dua hal itu, yang selalu menjadi pertimbangan orang suka memelihara burung atau menyukai itu.

Bagaimana dengan burung yang tidak memiliki keduanya? Bulunya tak indah, suaranya tak merdu. Jelas, orang tidak menyukainya. Termasuk di sini burung yang bernama burung gagak. Bulunya semua hitam, suaranya parau. Tidak sedap dilihat, tidak enak didengar. Malah, sosoknya menakutkan. Burung gagak dengan warnanya yang hitam mengilap, suaranya jauh dari merdu. Sering dinilai menyeramkan karena dianggap sebagai pertanda kematian. Mana ada orang mengoleksinya?

Tapi, dalam kisah nabi Elia, Tuhan menjungkir balikan asumsi bahwa burung gagak itu menyeramkan karena berkaitan dengan orang mati. Justru burung itu dipakai Tuhan buat kesinambungan hidup nabi Elia. Setiap hari burung gagak itu membawa roti dan daging. Dengan demikian buat nabi Elia burung gagak itu selalu ditunggu kedatangannya.

Tuhan menjadikan burung gagak sebagai media pensuplai kebutuhan hidup harian seorang nabi. Teratur, pagi dan sore. Luar biasa. Bukan burung itu yang diberi makan, tapi sebaliknya. Burung gagak itu pemberi makanan.

Saudaraku. Nabi Elia sedang dikejar-kejar raja Ahab yang kejam dan prajuritnya. Mereka tidak senang dengan nasihat nabi. Bukannya mereka berterima kasih kepada nabi, justru mereka mengancam kehidupan nabi Eli.

Di tengah kesulitan itu, Allah bertindak di luar dugaan. Allah menyembunyikannya di tepi sungai Kerit. Kemudian Allah memakai burung gagak bukan manusia biasa yang mensuplai konsumsi buat nabi Elia. Dengan Allah memakai burung, maka prajurit tidak bisa melacak keberadaan sang nabi.

Burung gagak rutin memasok kebutuhan makan nabi Elia. Dengan begitu, sang nabi tetap aman dalam persembunyiannya. Dan tetap tersedia konsumsinya.

Saudaraku, inilah mukjizat kehidupan. Allah mempergunakan media dengan kreatif. Bahkan tidak diduga oleh nalar atau pikiran manusia. Apakah mukjizat kehidupan yang Allah lakukan secara kreatif tidak ada lagi?

Sebenarnya, mukjizat kehidupan tetap ada dan terjadi dalam hidup Anda dan saya. Hanya sering hal biasa dianggap peristiwa biasa saja. Cobalah kita merenungkan, betulkah kita tidak pernah mengalami mukjizat kehidupan?

Orang yang mengalami mukjizat kehidupan akan peka atas tindakan Tuhan. Dia merasakan Allah yang bertindak dalam kehidupan. Jiwanya bergetar haru. Emosinya menangkap getar kehadiran Allah.

Yakinlah, ada pengalaman hidup yang membuat kita heran dan takjub atas tindakan Allah. Kehadiran Allah itu nyata dan fakta, bukan teori semata. Benarlah ungkapan sebuah lagu, “mukjizat itu ada”. Terutama pertolongan Tuhan yang datang indah pada waktunya dan teratur waktunya.

Kita berdoa: Tuhan, betapa ajaib karya yang Engkau lakukan di tengah hidup nabi Elia. Kami percaya, kiranya karya-Mu itu, terjadi saat ini dan nanti dalam bentuk lain dalam hidup kami.

Kami mendoakan mereka yang berulang tahun. Kiranya suka cita dan berkat Tuhan yang indah bersamanya. Demikian juga yang sakit. Jamahlah, Tuhan. Mohon pulihkan dan sembuhkan.

Dalam nama Yesus, kabulkanlah permohonan kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Raja-raja 17:6

Refleksi Harian: Yeremia 35:8

Refleksi Harian: Yeremia 35:8

Patuh Dan Taat

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Malam telah kita lalui. Kini kita memasuki pagi yang baru di hari yang baru. Mari, kita mesyukuri cinta kasih Tuhan yang telah hadir di hari yang baru. Bahan refleksi harian: Yeremia 35:8

Kami mentaati suara Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur kami dalam segala apa yang diperintahkannya kepada kami, agar kami tidak minum anggur selama hidup kami, yakni kami sendiri, isteri kami, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kami

Yeremia 35:8

Saudaraku, setiap manusia dibentuk oleh lingkungan sosialnya. Jika kita mempunyai 2 orang putra, lalu kirim mereka studi di luar kota. Satu studi di kota Jogja, dan satunya lagi di kota Bandung. Tunggulah empat tahun setelah mereka menuntaskan studinya. Saya yakin, gaya kedua orang itu punya perbedaan.

Cita rasa atas masakan sudah berbeda. Yang satu suka gudeg dan yang satu lagi senang sayur asem, ikan dan daun-daunan. Belum lagi kebiasaan dan cara berkomunikasi pun niscaya satu sama lain punya nuansa berbeda.

Keturunan kaum Rekhab adalah orang asing dan pengungsi di Yerusalem. Nabi Yeremia mengundang mereka. Sesuai pesan firman Tuhan kepada Yeremia agar mereka diundang datang di salah satu ruang di rumah Allah dan dijamu minum anggur.

Makan dan minum anggur sudah hal yang lazim. Anggur merupakan buah istimewa. Bagi tamu yang diundang dan dijamu minum anggur memperlihatkan rasa hormat tuan rumah atas tamunya, sekaligus istimewanya sang tamu.

Saudaraku, undangan nabi Yeremia dipenuhi. Kaum Rekhab menghargai undangan tersebut. Tapi jamuan minum anggur tidak disentuh. Mereka menolaknya. Mereka tidak bersedia meminumnya.

Mengapa? Apakah itu mencerminkan mereka merendahkan jamuan yang disajikan seorang nabi? Apalagi, firman Tuhan sendiri yang meminta nabi melakukannya.

Saudaraku, kaum Rekhab merupakan kaum yang setia memegang ketaatan. Mereka patuh dan konsisten pada pesan orang tua dan leluhur mereka. Yakni, seluruh anggota keluarga kaum itu musti memilih hidup sederhana. Mereka tinggal di kemah, berprofesi pandai besi dan tidak makan atau minum anggur.

Kepatuhan dan ketaatan itu tetap terpelihara meski mereka sedang mengungsi di kota Yerusalem. Kehidupan dan kebiasaan serta pola hidup lingkungan sosialnya tidak menggoyahkan prinsip mereka.

Kaum ini diundang nabi Yeremia tujuannya agar umat Israel melihat sikap ketaatan mereka. Karena saat Yeremia menjadi nabi, umat Israel tidak mau mendengar firman Tuhan dan menaatinya. Nah, dengan mengundang kaum ini supaya orang Israel berkaca diri. Contohlah kaum Rekhab. Terhadap suara manusia saja taat dan patuh tanpa kompromi. Tentu lebih lagi pada firman Tuhan.

Saudaraku, salah satu ciri hidup di kota besar adalah selalu mengikuti perubahan. Hal yang baru datang pergi silih berganti. Lihat saja, misalnya betapa cepatnya model handphone berubah.

Belajar dari kaum Rekhab adalah bagaimana memelihara ketaatan secara konsisten di tengah perubahan. Kota Yerusalem, kota terpenting dan utama, tidak mampu mengubah sikap konsisten mereka atas pesan orang tua dan leluhur.

Saudaraku. Kita pun baiknya bersikap demikian, selain taat dan patuh atas firman Tuhan. Kita juga patut taat dan patuh atas pesan mulia orang tua atau leluhur kita. Mengingat hal itu, seyogyanya kita simpan, jaga dan rawatlah pesan luhur orang tua kita. Kita tidak boleh sia-siakan. Taruhlah di tempat terhormat dan jadikan rujukan kita bertindak, selain Firman Tuhan.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya ketaatan dan kepatuhan kepada-Mu kami utamakan. Selain itu, kami taat dan hormat pesan luhur orang tua atau leluhur kami.

Kami mendoakan mereka yang sakit. Kami percaya Engkau tidak tinggal diam melihat anak-anak-Mu terbaring sakit. Mereka yang menjalani perawatan di rumah maupun dirawat di rumah sakit. Kami memohon sembuhkanlah mereka.

Tuhan, Engkau kiranya mengaruniakan hari ini penuh suka cita atas Saudara kami yang berulang tahun. Kiranya suka cita, rasa syukur, panjang umur bersamanya.

Dalam satu nama doa ini dialaskan yakni pada nama Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yeremia 35:8

Refleksi Harian: 1 Korintus 10:13

Refleksi Harian: 1 Korintus 10:13

Selalu Ada Jalan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Sungguh Allah itu penuh kuasa dan baik. Dia yang menciptakan alam semesta dan segenap makhluk serta memelihara keberlangsungannya. Puji syukur, kita adalah bagian dari ciptaan-Nya, yang dipelihara dan dikasihi-Nya hingga kini. Bahan refleksi harian: 1 Korintus 10:13

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya

1 Korintus 10:13

Saudaraku, segala yang terukur ada batasnya. Sebuah kendaraan dirancang pembuatnya mempunyai batas kecepatan tertentu. Presiden Jokowi meresmikan arena balap internasional, dengan mengendarai motor balap istimewa. Sepeda motor itu bisa melesat dengan kecepatan tinggi. Tapi, tetap ada batasnya.

Tidak hanya kendaraan, manusia pun demikian. Kita bisa mengangkat beban tapi juga ada batasnya. Saya bisa mengangkat barang seberat 50 kg, selebih dari itu tidak mampu. Memang, setiap orang kemampuannya berbeda. Meskipun demikian tiap orang pun ada batas kemampuannya.

Saudaraku, dalam kehidupan iman, setiap orang diperhadapkan pencobaan. Hal itu bisa berbentuk penderitaan, kesakitan, kesulitan, dsb. Realitas ini dialami siapapun, tidak pandang bulu. Dan ini pengalaman umum manusia. Contohnya, seorang yang kehilangan orang yang dicintai. Ini bukan pengalaman unik milik satu orang. Setiap manusia pasti pada saatnya mengalami.

Pencobaan itu meski pengalaman milik setiap manusia, tetap saja kenyataan yang berat. Menimbulkan tangisan, kesesakan batin, jerit pilu, bahkan tidak sedikit ada yang putus harapan. Seolah-olah kekuatan dirinya tak sanggup lagi menghadapinya. Ia merasa pencobaan yang dihadapinya sudah melampaui batas kekuatannya.

Saudaraku, saat pencobaan tertentu dianggap sudah melampaui batas kekuatan, maka pasti tidak bisa apa-apa. Menyerah kalah. Tidak ada yang mampu lagi yang bisa diperbuat.

Demikianlah, hal yang dipikirkan orang-orang kristen di Korintus. Mereka merasa tidak dapat lagi menanggung beban pencobaan. Beratnya sudah melampaui daya tahan mereka. Perasaan yang juga bisa dialami sekarang. Ada yang merasa beban pencobaannya berat sekali. Sehingga sudah melewati batas. Dan merasa tidak berdaya.

Saudaraku, pencobaan tetaplah beban. Pengalaman yang tidak menyenangkan. Namun, satu hal, Firman Tuhan menegaskan bahwa pencobaan itu tidak akan melampaui kekuatan kita. Apa maksudnya? Padahal kita tahu, dan kita merasa ada beban yang sudah melampaui kekuatan kita (overload).

Saudaraku, betul, bisa jadi kekuatan kita tak mampu. Namun, jangan lupa ada kekuatan ekstra, tambahan yang kita punya. Apa itu? Kita patut memperhitungkan pemeliharaan Tuhan. Dia mengontrol yang kita hadapi. Dia intervensi dalam hidup manusia. Tak heran, di saat pencobaan datang Tuhan memberi jalan.

Saudaraku, dalam hidup jika ada masalah pasti ada solusi. Di tengah himpitan ada kelegaan. Datangnya virus Covid 19, datang pula vaksinnya. Tidak ada masalah mengambang tak terselesaikan bagi umat beriman. Selalu ada jalan keluar.

Demikian, jika saat ini atau nanti, pencobaan datang dalam hidup kita. Itu hal yang bisa dialami siapapun. Dan bersama Tuhan selalu ada jalan. Tidak ada kata menyerah dan kalah. Yang ada harapan dan kekuatan.

Kita berdoa: Tuhan, hidup di dunia tidak akan lepas dari pencobaan. Kami bersyukur kami tetap mampu menghadapi dan mengatasinya bersama Engkau.

Kita berdoa, “Tuhan terima kasih atas berbagai berkat yang kami terima hingga hari ini. Kiranya kami terus mensyukurinya. Tuhan tambahkan usia bagi saudara kami yang berulang tahun. Semoga mereka sehat, bersuka cita dan membangun landasan hidup ke depan. Mereka mendapat berkat dari Tuhan.

“Kami juga berdoa, kiranya Tuhan mendengar suara hati mereka yang tubuhnya didera penyakit dan menanti kekuatan serta penyembuhan. Sendengkanlah telinga-Mu dan berkenan menjawab harapan kesembuhan mereka. dengarlah suara hati yang merindukan proses pemulihan berjalan baik dan lancar. Engkau Penyembuh Sejati kiranya berkenan dekat dengannya.

Kami mendoakan yang mencari pekerjaan yang tepat, pasangan hidup, dan kerinduan buah hati. Kiranya Tuhan menjawab dan memenuhinya.

Doa-doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Korintus 10:13