Kolaborasi-Peduli-Manusiawi

Terinspirasi Sapaan jemaat pagi ini, saya jadi teringat ungkapan anak muda di acara TV: “Unlock“. Kini sudah saatnya gereja memikirkan mengenai aktualisasi Tri panggilan Gereja: Persekutuan- Pelayanan-Kesaksian. Tri panggilan gereja harus bisa disesuaikan dengan konteks masa kini yaitu dengan mempertimbangkan: Kolaborasi-Peduli-Manusiawi.

Ditengah dunia yang penuh dengan peralatan serba canggih dan berteknologi tinggi. Gereja perlu juga memikirkan bagaimana membangun kehidupan memanfaatkan teknologi masa kini yang amat dipengaruhi dan mengandalkan Teknologi Informasi. Gereja tidak menjadi alergi, namun juga bisa memanfaatkan tekonologi kekinian tersebut untuk melaksanakan tugas panggilannya.

Dalam kegelisahan dan harapan saat ini, kepasrahan berwujud dengan upaya bersama di kesempatan yang ada dan terbuka, gereja harus mengggunakan talenta karunia Tuhan diterangi nurani manusiawi dan canggihnya teknologi informasi. Hal ini boleh terjadi karena begitu besar Kasih Tuhan, Imanuel.

Oleh Pdt. Em. Djoni Sunarjo Abednego

Refleksi Harian: Ayub 38:1-2

Allah Membebaskan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Salah satu hal alami dan sekaligus karunia Tuhan adalah istirahat tidur. Puji Tuhan, semalam kita menjalaninya dalam lindungan Tuhan. Pagi ini, kita bangun dan menyongsong hari baru. Bahan refleksi harian: Ayub 38:1-2

Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub: (2) “Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?

Ayub 38:1-2

Saudaraku, kehadiran Tuhan bisa dalam beragam bentuk dan tidak terduga. Dalam pengalaman Nabi Elia, Tuhan hadir dalam angin sepoi-sepoi. Artinya, dalam suasana tenang. Hening. Hati yang mengalami kehadiran-Nya merasa damai.

Dalam pengalaman Ayub lain lagi. Dia hadir dan bersabda dalam badai. Jelas, itu suasana mencekam. Angin yang keras, hati bisa menciut. Gentar dan takut.

Apapun cara Tuhan menghadirkan diri, intinya sama. Baik kepada nabi Elia, maupun Ayub, bahwa Tuhan ada. Dia hadir. Sekaligus mengingatkan dalam situasi apapun, Tuhan tidak mengabaikan mereka (care). Tuhan tidak bersembunyi atau diam melihat hamba-hambanya kesulitan.

Saudaraku, waktu Tuhan datang dan hadir dalam angin sepoi- sepoi, Nabi Elia sedang gundah. Dia sudah berjuang demi kebenaran Allah, namun kenapa ada orang yang tidak suka. Bahkan mengancamnya. Memburunya untuk dibunuh. Dia merasa sendiri. Dan merasa tidak berdaya.

Sedangkan dalam situasi Ayub, Tuhan meyakinkannya bahwa Dia ada. Bahkan lebih sekedar ada, Dialah yang berkuasa. Dalam badai Tuhan menegaskan Ayub. Seluruh alam semesta ciptaan-Nya. Dengan berbagai pertanyaan, Tuhan menyampaikan bahwa Dialah yang meletakkan bumi. Menetapkan ukurannya. Membendung laut. Membuat awan sebagai perluasan langit.

Saudaraku, semua itu hendak menunjukkan betapa maha kuasanya Tuhan. Dengan kemahakuasaan-Nya, Tuhan bisa melepaskan Ayub dari penderitaan panjangnya. Kita tahu kisah Ayub. Sosok saleh. Setia. Namun harus dicobai iblis sehingga menjalani penderitaan panjang. Penderitaan ekstrim, berat sekali.

Jelas, kepada Nabi Elia, Ayub maupun kita semua bahwa betapa terbatas kekuatan kita. Namun, Allah kita Maha Tak terbatas. Dengan demikian, kehadiran Yesus dalam natal merupakan wujud kehadiran-Nya yang Maha Tak Terbatas. Allah menjadi manusia. Itulah fakta dari kehadiran Allah yang bisa beragam wujud. Kedatangan dan Kehadiran-Nya yang menemani manusia dalam jerih juangnya (care). Dia yang membebaskan manusia dari kesulitannya. Dan dalam Yesus, Ia memulihkan mereka yang percaya kepada-Nya. Mari, di minggu adven kita resapi kehadiran Allah dalam segala situasi dan keadaan. Niscaya menguatkan kita.

Kita berdoa: Tuhan, dalam situasi apapun jika kami berjalan dengan Engkau, kami melangkah dengan semangat. Optimis tanpa jatuh ke situasi gentar dan takut.

Kami berdoa bagi saudara kami yang berulang tahun. Semoga hari yang istimewa ini dijalani dengan hati suka cita, sehat, dan hidup dalam pengharapan dan percaya akan Tuhan di hari yang diberikan Tuhan. Berikan apa yang ia dambakan agar menjadi kenyataan.

Peliharalah dan lindungi semua anggota keluarga kami masing-masing sepanjang hari ini. Sehingga kami aman, tentram dan suka cita.

Doa kami ini, kami panjatkan dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Ayub 38:1-2

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 3:6

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 3:6

Memberi Dan Memberdayakan

Selamat pagi Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus. Pagi baru telah tiba. Malam yang gelap telah berlalu. Cahaya kasih Tuhan yang menuntun kita terus menemani. Betapa Maha Baik Tuhan kita. Puji syukur. Bahan refleksi harian: Kisah Para Rasul 3:6

Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!

Kisah Para Rasul 3:6

Saudaraku, kita sering mendengar kata “kecanduan” (adiktif). Tindakan yang dilakukan karena rasa nikmat, padahal membahayakan kesehatan. Merokok, menggunakan narkoba atau meminum minuman keras, dll. bisa dilakukan lantara kecanduan.

Orang yang kecanduan hidupnya amat tergantung pada benda yang menimbulkan rasa kecanduannya. Orang yang kecanduan minum minuman keras, maka ada rasa ketagihan yang sulit dilawan. Jika ketahihannya tidak dipenuhi yang bersangkutan merasakan kegelisahan dan penderitaan.

Apakah mengemis bisa digolongkan pada tindakan kecanduan? Di sebuah daerah ada yang namanya kampung pengemis. Nama itu dipakai sebab mereka yang tinggal di situ keseluruhannya bekerja dengan mengemis. Yang membuat terkejut, orang pasti punya gambaran rumah-rumahnya gubuk dan buruk. Ternyata tidak. Bahkan, sebuah TV swasta yang melakukan liputan investigasi menemukan adanya rumah mewah.

Jadi, cara mudah mendapatkan pemberian dari orang lain, apakah kecanduan? Yang jelas, pemberian yang keliru menimbulkan kecanduan. Orang itu sangat tergantung pada belas kasihan orang lain. Ia tidak berusaha keras mengubah dirinya.

Saudaraku, Rasul Petrus berjumpa dengan seorang pengemis. Ia melihat orang itu melakukannya karena faktor fisik, kakinya lumpuh. Tentu Rasul Petrus merasa iba. Ia merasakan betapa berat hidup si pengemis. Tapi, ia tidak mempunyai apa yang diminta diharapkan pengemis tersebut. Uang tak ada, benda berharga lain pun tidak punya.

Rasul Petrus tidak bisa memenuhi harapan si pengemis. Tapi itu bukan berarti tidak ada yang diberi. Rasul Petrus menyatakan, “emas dan perak tidak ada padaku.” Artinya, jangan berharap si pengemis memperoleh apa yang sesuai harapannya. Meski demikian, sang rasul bukan berarti tidak bisa memberi yang lebih berguna dari uang.

Justru rasul Petrus mampu hal jauh lebih besar daripada sekedar uang. Ia menyatakan, “ berjalanlah”. Dan ketika pengemis ini kemudian bisa berjalan, maka rasul Petrus telah memberikan lebih daripada yang diminta.

Sejak itu, si Pengemis tidak lagi cuma hidup dari belas kasih orang lain. Dirinya lebih berdaya. Sekaligus ia bisa mencari nafkah dengan cara lebih terhormat. Ia menjadi mandiri. Dengan kelumpuhannya disembuhkan, si pengemis bisa tidak tergantung pada belas kasihan orang lain. Ke sana-kemari tidak perlu lagi membuat repot orang lain. Nasibnya telah berubah.

Jadi, karunia Allah melalui rasul Petrus memperlihatkan Allah mau menolong seseorang, namun bersifat pemberdayaan. Ketagihan karena rasa kemudahan harus berhenti. Dimulai memberi yang lebih berarti.

Saudaraku, firman Tuhan menyatakan terlebih berbahagia memberi daripada menerima. Hanya, kita juga harus memberi yang benar. Ada saatnya kita memberi ikan. Tapi, agar tidak “kecanduan” jangan lupa memberi pancing dan cara mendapat ikan, itu tindakan memandirikan. Lebih baik dan lebih mulia.

Kita berdoa, “ Tuhan kami sungguh telah mengecap baiknya Engkau. Kiranya di hari baru ini, kami tidak kuatir dan cemas melangkah. Karena Engkau baik melebihi keinginan yang kami pikirkan.

Kami serahkan Saudara-saudara kami yang tengah terbaring sakit. Kami mendoakan saudara yang menderita kesakitan. Pertolongan-Mu kiranya hadir bersamanya, sehingga cepat sehat kembali.

Kami mendoakan Saudara kami yang berulang tahun. Di saat ulang tahun hari ini, berkat dan suka cita kiranya Tuhan karuniakan. Demikian juga kesehatan dan panjang umur.

Doa kami ini, kabulkanlah ya Alla. Kami memohon dalam nama Yesus yang bangkit. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 3:6

Refleksi Harian: Daniel 3:28

Refleksi Harian: Daniel 3:28

Taat Tanpa Kompromi

Mentari telah terbit lagi di Timur. Tanda datangnya pagi dan berlalunya malam. Selamat pagi ibu-bapak, oma-opa dan saudararaku yang baik. Puji syukur, Tuhan mengijinkan kita masih menikmati hari yang baru. Bahan refleksi harian: Daniel 3:28

Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka

Daniel 3:28

Saudaraku, keterbukaan hati merupakan kunci menemukan kebenaran sejati. Sedangkan hati yang tertutup akan menuntun pada penolakan kebenaran. Meski kebenaran amat dekat dan dirasakannya, orang yang tertutup hatinya tidak akan menerima dan mengakui kebenaran.

Mari, kita melihat raja Nebukadnezar. Seorang raja yang memerintah Babel. Dialah yang mencaplok negeri Yehuda, dan membawa penduduknya ke negeri Babel. Adapun Babel merupakan kerajaan adi daya (super power), pada waktu itu. Jika diumpamakan bagai Amerika Serikat atau China saat ini.

Dengan kekuasaannya yang besar, tentu saja negeri-negeri sekitarnya tunduk kepadanya. Penguasa negeri-negeri sekitarnya hormat atasnya. Rakyatnya sangat hormat dan mematuhinya. Adakah yang berani coba-coba tidak patuh dan taat kepadanya?

Saudaraku, ternyata di antara penduduk negerinya ada yang menolak perintahnya. Walau, mereka itu bukan asli keturunan bangsa itu. Siapa mereka yang “nekat” itu? Mereka itu tiga sekawan, Sadrach, Mesakh dan Abednego. Mereka punya posisi dalam pemerintahan negeri itu. Tapi, mereka berani membangkang penguasa kerajaan adi daya itu.

Mengapa? Bukankah posisi mereka sudah nyaman. Tidak semua orang Yahudi seberuntung tiga sekawan itu, punya kedudukan baik di negeri orang.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah warga negeri yang patuh, juga taat. Tapi, di mata mereka tidak semua permintaan raja wajib dipatuhi. Terutama permintaan untuk menyangkali iman. Perintah apapun mereka akan kerjakan. Tapi, soal keyakinan dan kepercayaan mereka tidak mau kompromi.

Saudaraku, buat tiga sekawan persoalan iman merupakan prinsip hidup. Melepaskan iman berarti hidup yang tanpa makna. Karena itu, saat raja Nebukadnezar membuat perapian buat menghukum mereka. Mereka tidak bergeming. Panasnya api tujuh kali lipat tidak menggoyahkan iman mereka. Meminjam pepatah kita “Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup bercermin bangkai: daripada hidup menanggung malu, lebih baik mati.”

Allah tidak diam melihat kesetiaan ketiga hamba-Nya. Dia menjadikan api itu tak mempan membakar tubuh orang yang lebih beriman kepada-Nya, daripada mematuhi suara manusia. Atas dasar momen inilah, raja Nebukadnezar menemukan kebenaran sejati. Ia terbuka hatinya. Ia menerima adanya Allah Israel.

Saudaraku, karena ketaatan tanpa kompromi seorang raja berbalik hatinya. Dari benci menjadi simpati. Bahkan bersedia melindungi orang-orang yang percaya kepada Allah Israel.

Kabar dari Mesir, pemerintah mengijinkan ratusan gedung gereja menjadi tempat ibadah yang sah. Itu buah dari ketaatan yang telah dibangun lama. Warga gereja itu, yang kebanyakan anggota gereja koptik, tetap teguh. Tidak bergeming dari keyakinan dan imannya. Dan puji Tuhan, pemimpin-pemimpin negeri Mesir memiliki hati yang terbuka. Sehingga kebenaran tidak bisa dibendung. Mari belajar dari SMA, Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Kita berdoa: Tuhan, bukanlah hati banyak orang, sehingga semula membenci-Mu berubah melihat dan mengakui kebenaran-Mu.

Kami mendoakan Saudara yang berulang tahun. Tuhan karuniakan pertambahan usia. Kiranya suka cita atas kebaikan-Mu beserta saudara kami ini. Kiranya Tuhanlah yang membuat dia mengisi hari-hari yang indah dan bermakna. Demikian juga kebahagiaan dan panjang umur besertanya.

Kami juga berdoa buat para balita dan anak-anak. Kami percaya mereka semua hidup dalam kasih-Mu. Jadikan rasa syukur dan kegembiraan hati beserta mereka di hari ini.

Tuhan, Kami serahkan mereka yang mengalami pergumulan hidup. Hiburkan dan kuatkan mereka.

Kami serahkan mereka yang sakit, baik dirawat di rumah maupun di rumah sakit. Tolonglah mereka satu persatu. Dan hati mereka menjadi lega karena pertolongan-Mu.

Seluruh doa ini, kami minta mohonkan dalam nama Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Daniel 3:28

Refleksi Harian: Mazmur 103:2

Refleksi Harian: Mazmur 103:2

Mengingat Kebaikan Tuhan

Puji Tuhan. Ketika kita membuka mata, pagi baru telah tiba. Dan Tuhan tetap sayang kepada ibu-bapak, oma-opa dan saudara-saudaraku yang baik. Kiranya di hari baru kita merasa kesinambungan kasih-Nya. Refleksi Harian: Mazmur 103:2

Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!

Mazmur 103:2

Saudaraku, di candi Borobudur ada relief yang punya pesan moral. Di relief itu, seekor serigala meminta tolong pada seekor bangau. Agar ia mau mengeluarkan tulang yang tersangkut pada tenggorokannya. Awalnya bangau itu menolak. Dia tahu, betapa licik dan ganasnya sang serigala. Jangan-jangan itu trik serigala supaya bisa menyantapnya.

Serigala mencoba membujuk bangau itu, dan meyakinkannya. Bahwa jika tulang itu tidak diambil oleh paruhnya yang panjang, ia akan mati. Selain itu, ia berjanji akan memberi hadiah.

Luluhlah hati bangau. Kemudian ia menjulurkan paruhnya ke dalam mulut serigala. Dan benar, di tenggorokan serigala ia menemukan tulang yang tersangkut. Setelah ia berhasil mengeluarkannya, ia menagih janji hadiahnya.

Sang serigala sambil memperlihatkan taringnya yang tajam, berkata, “hadiahnya adalah ketika paruh bangau itu berada di mulutnya, ia tidak menyantapnya”.

Saudaraku, Kebaikan adalah tindakan yang sebenarnya harus disyukuri penerimanya. Sang pelaku kebaikan melakukannya bisa saja dengan penuh pengorbanan. Dan dengan semangat tulus serta cinta kasih. Sayangnya, ada orang yang melupakan kebaikannya. Bahkan berterima kasih pun tidak. Ada orang yang ditolong atau dibantu oleh pihak lain, tapi kurang mengapresiasinya.

Tuhan Yesus pernah menemukan orang-orang tipe demikian. Dia menyembuhkan 10 orang berpenyakit kusta. Ternyata cuma satu orang yang menyadari kebaikan-Nya dan datang kembali mengucap syukur. Yang lain? Lupa dan abai. Cuma satu orang yang merasakan kesan indah sebuah kebaikan. Mayoritas lainnya tidak ketahuan rimbanya, kemana mereka.

Saudaraku, dalam cerita legenda yang terkenal, kita tahu kisah Malin Kundang. Di balik kisah itu, pasti ada peristiwa nyata bagaimana seorang anak melupakan kebaikan ibunya. Artinya kepada sosok yang paling dekat saja bisa dilupakan apalagi yang lain. Kebaikan budi orang lain tak berbekas di hati.

Karena itu, Pemazmur mengingatkan saya, Anda dan orang beriman “janganlah melupakan segala kebaikan-Nya”. Segala menunjukkan “semua”, “banyak”. Jadi, tidak boleh satu saja kebaikan Tuhan kita lupakan.

Saudaraku, orang yang meninggalkan Allah. Bertahun-tahun tak memuji-Nya, bertahun-tahun tak memuja-Nya. Atau berpaling pada keyakinan lain. Jangan-jangan orang itu tengah melupakan kebaikan Tuhan. Seolah-olah kebaikan Tuhan bukan hal istimewa. Hatinya tak tersentuh. Jiwanya tak terpaut dengannya. Semoga kita tidak demikian.

Kita berdoa: Tuhan, karena kebaikan-Mu kami ada hingga saat ini. Kiranya kebaikan-Mu terus melekat dalam hati kami. Sehingga kami terus terpaut dan berterima kasih pada-Mu.

Tuhan, Kami serahkan para lansia, orang tua kami yang sudah sepuh. Kami percaya kehadiran-Mu membahagiakan mereka. Hadirlah atas mereka. Yang sakit diringankan. Yang kesepian dihiburkan. Dan para anak-anak dan keluarga memberi perhatian yang memadai.

Lindungilah kehidupan anak-anak jemaat, baik yang balita maupun remaja dan pemuda. Yang sekolah agar mereka cinta ilmu. Dan yang mencari jati diri, kiranya mereka menemukan jati diri yang menuntun ke perkembangan diri yang baik dan sehat.

Seluruh doa ini, kami panjatkan dalam nama Yesus. Kabulkanlah, ya, Tuhan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Mazmur 103:2