Sidang Sinode Ke-29 Gereja Kristen Pasundan

Cipanas, 15 Juli 2022

Gereja Kristen Pasundan melaksanakan Sidang Sinode ke-29 bertempat di Hotel Zuri Resort Cipanas-Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 12-15 Juli 2022. Sidang Sinode GKP kali ini dihadiri oleh perwakilan dari 59 Jemaat GKP, Badan/Lembaga yang berada di bawah naungan GKP, Badan Pelaksana Klasis GKP, dan gereja serta lembaga mitra GKP.

Klasis GKP Wilayah Bekasi menjadi tuan dan puan rumah serta panitia pelaksana Sidang Sinode ke-29 GKP. Sedangkan yang menjadi tema dalam Sidang Sinode ke-29 GKP adalah: ” Bersama Yesus Pokok Kehidupan, GKP membangun kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan lingkungan hidup” (Markus 16:15; Yohanes 15:5; Roma 10:15).

Sidang Sinode ke-29 GKP diawali dengan Kebaktian Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari berbagai pihak antara lain, Ketua Panitia Pelaksana, Majelis Sinode GKP, Kementerian Agama RI serta sambutan dan pesan gerejawi dari Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.

Pada Sidang hari pertama acara berisi tentang pembukaan persidangan, panggilan kehadiran (roll call) serta pemilihan dan penetapan Majelis Ketua Sidang, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian laporan-laporan dari Majelis Sinode, Penasihat Majelis Sinode, Pengawas Perbendaharaan Sinode, dan informasi dari Panitia Pemilihan Majelis Sinode.

Di hari ke-2 dan ke-3, kegiatan Sidang Sinode GKP dilanjutkan dengan persidangan kelompok. Terdapat 6 kelompok yang membahas berbagai materi Sidang, dan seluruh perwakilan jemaat serta Badan/Lembaga masuk ke berbagai kelompok tersebut bersama untuk membahas materi sidang.

Pada Sidang Sinode ke-29 GKP juga dilaksanakan pemilihan Majelis Sinode, Penasihat Majelis Sinode, Pengawas Perbendaharaan Sinode periode tahun 2022-2027.

Adapun nama Majelis Sinode periode tahun 2022-2027 adalah sebagai berikut:

JabatanNama
Ketua UmumPdt. Magyolin Carolina Tuasuun
Sekretaris UmumPdt. Tongam Adama A. Sihite
BendaharaEdwin Handiman
Ketua 1Pdt. Hariman A. Pattianakotta
Sekretaris 1Pdt. Titin Meryati Gultom
Ketua 2Pdt. Sains Pieter Surlia
Sekretaris 2OD Sariningsih
Ketua 3Seriwati Ginting
Sekretaris 3Pdt. Leonard Bayu Laksono Dalope
Ketua 4Poltak H. Siagian
Sekretaris 4Arie Kusuma

Nama Anggota Pengawas Perbendaharaan Sinode Periode tahun 2022-2027 adalah sebagai berikut:

Pdt Erna Demosti Butar-Butar
Tania Prameswari
Aris Herlinawati
Herman Yacob Zeth Katipana
Priyo Sudibyo

Nama Anggota Penasihat Majelis Sinode Periode tahun 2022-2027 adalah sebagai berikut:

Pdt. Em. Engkih Gandakusumah
Pdt. Em. Krisna Ludia Suryadi
Pdt. Lelly Frida Sundoro
Pdt. Supriatno
Yohanes Tandililing Sampelalong

Pada Sidang Sinode ke-29 GKP juga melaksanakan peneguhan MS, PMS, dan PPS periode tahun 2022-2027.

Refleksi Harian: Mikha 5:1

Refleksi Harian: Mikha 5:1

Kecil Namun Berharga

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Kini kita memasuki akhir pekan. Hari yang semakin dekat dengan hari raya Natal. Puji syukur kepada Tuhan, kita tetap dipelihara-Nya. Bahan refleksi harian: Mikha 5:1

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala

Mikha 5:1

Saudaraku, setiap bulan Desember maka ada satu kota yang muncul dalam benak kita. Yakni kota Betlehem. Meskipun bisa jadi kita belum menginjakkan kaki di kota itu. Tetapi, setiap Desember, kota ini muncul dengan segenap maknanya. Karena tidak mungkin kita mengingat Natal, tanpa menyebut kota ini.

Betlehem sebenarnya nama kota kecil. Seukuran desa jika mau dibandingkan. Beda jauh dengan kota Yerusalem. Yerusalem berkali-kali lipat luasnya dan lebih besar pamornya. Tentu saja, karena Yerusalem merupakan kota terbesar. Pusat keagamaan. Kota ini punya sejarah yang panjang. Di sanalah juga para petinggi kerajaan dan agama tinggal.

Waktu itu, orang pun akan lebih bangga dan percaya diri, menyebut dirinya berasal dari Yerusalem ketimbang Betlehem. Kota Yerusalem banyak tamu dan peziarah. Berbeda dengan Betlehem, kota sepi dan kecil. Pesona keindahan kotanya tidak ada. Dia hanya punya makna kata kotanya sebagai gudang roti. Kalaupun hendak dicatat sebagai kota kecil yang menyimpan pesona, di kota itulah Daud lahir. Sekaligus di kota itulah ia dinobatkan sebagai raja oleh Samuel. Itulah catatan sejarah yang dimilikinya.

Saudaraku. Walaupun di mata manusia kecil, bukan berarti kecil juga di mata Tuhan. Betul, popularitas Betlehem kalah jauh dari Yerusalem atau kota Samaria. Ternyata, nubuatan nabi Mikha mengangkat derajad kota kecil itu. Betlehemlah yang dipilih Allah di mana akan bangkit seorang yang memerintah Israel. Dan ketika merujuk kepada kelahiran bayi Yesus, maka tidak cuma memerintah Israel tetapi seluruh bumi.

Di kota itu, kelak sebuah sosok bernama Yesus akan memerintah. Namun, bukan seperti pemerintahan bersifat kenegaraan atau kerajaan pada umumnya. Melainkan memerintah di hati manusia yang percaya kepada-Nya. Yang membawa kesejahteraan melampaui hal material semata-mata, tetapi shalom. Kesejahteraan yang lengkap dan utuh. Lahir dan batin. Jasmani maupun rohani. Kini dan setelah kehidupan di bumi ini.

Pemerintahan yang agung ini, diawali dari kota kecil dan sepi. Pagi ini, untuk itu kita diingatkan agar tidak menyepelekan hal-hal kecil. Hal lazim yang kecil suka dilihat sebelah mata. Apalagi, disertai dengan segala kesederhanaan dan keterbatasannya. Padahal, dalam meraih dan meniti keberhasilan, banyak yang memulai dari hal kecil.

Hal kecil patut dihargai karena kelak bisa mengangkat ke level yang lebih besar. Tuhan Yesus pernah bersabda, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”

Termasuk kejatuhan seseorang bisa dari hal kecil. Tuhan Yesus pun bersabda, “Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Dalam pengalaman kehidupan, orang tersandung dan jatuh. Itu bukan disebabkan oleh batu besar sebesar kerbau, melainkan disebabkan batu kecil.

Dengan demikian, jika kita hendak membahagiakan keluarga tidak harus selalu mengguyur mereka dengan membelikan barang-barang mahal dan berharga. Sapaan pagi yang lembut. Senyuman manis disertai wajah cerah yang tulus. Pelukan hangat tanda kasih sayang. Itu semua hal kecil. Malah tak berbayar dan tidak menuntut tenaga. Namun, bisa melahirkan hati dan emosi penuh suka cita.

Saudaraku, banyak hal yang kita lakukan walau sebenarnya kecil namun berharga. Apalagi dilakukan dengan hati. Spontan tidak dibuat-buat. Dan tidak ada motif lain, dan tidak ada pamrih apa-apa. Niscaya melukuhkan hati dan membahagiakan seseorang. Laksana Betlehem, desa udik, kecil dan sepi tapi dipakai Allah membahagiakan seluruh bumi, dulu, kini dan nanti.

Kita berdoa: Tuhan, ajar kami menghargai hal kecil yang berdampak besar. Sehingga kami tidak meluputkan hal kecil dalam hidup kami.

Kami ingin mendoakan saudara-saudara kami di bulan Desember ini menghadapi bencana alam. Kuatkan dan berilah ketangguhan buat para korban erupsi gunung Semeru. Kiranya kami saling bertolong-tolongan meringankan mereka.

Kami ingin mensyukuri dalam doa atas hari indah karena berulang tahun. Kiranya mereka bahagia dan panjang umur. Dan bersyukur atas kebaikan Tuhan.

Kami mendoakan agar kami mengisi akhir pekan dengan membangun kebersamaan dan kehangatan bersama keluarga dan sesama. Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Mikha 5:1

Refleksi Harian: Mazmur 133:1

Refleksi Harian: Mazmur 133:1

Kerukunan Itu Menyegarkan

Selamat pagi, Ibu- bapak, Oma-opa dan Saudara-saudara yang baik. Terpujilah nama Tuhan. Waktu terus bergulir, pagi yang baru telah tiba. Dan kita tetap dilindungi-Nya. Bahan refleksi harian: Mazmur 133:1

Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

Mazmur 133:1

Saudaraku, hidup bersama di tengah keluarga dengan rukun itu kebutuhan penting. Dalam Alkitab digambarkan pola hidup demikian banyak manfaatnya. Karena jaman itu, tanah dan ternak tidak dibagi-bagikan untuk setiap ahli waris. Melainkan dikerjakan bersama-sama dan hasilnya buat dinikmati bersama.

Sedangkan jika terjadi perselisihan antara kakak-adik, dan mereka harus berpisah. Peristiwa itu sangat disesalkan. Kita ingat Abraham dan Lot, serta Yakob dan Esau. Mereka berselisih. Akhirnya berpisah dan terjadi pembagian kekayaan.

Saudaraku, mazmur ini mengingatkan ulang tentang indahnya hidup bersama dengan rukun. Ada manfaat yang bisa dipetik dari suasana demikian. Pemazmur memakai dua kiasan. Pertama, bagaikan minyak yang di atas kepala Harun yang meleleh ke janggutnya. Kedua, bagaikan embun gunung hermon.

Kedua kiasan itu mengandung pesan bahwa kerukunan itu menyegarkan. Dan memberikan sumber produktivitas. “Embun Hermon” di musim kemarau menunjukkan embun yang berlimpah. Sehingga ladang dan pohon berbuah baik.

Sebagai orang kristen kita mengenal dua makna “Saudara”. Pertama pengertian “saudara” lantaran ikatan darah yang sama. Kedua adalah saudara satu sama lain, karena ikatan iman yang sama. Dalam ikatan dan semangat kesatuan itulah, kita saling mengasihi, saling hidup rukun, dan saling mengampuni manakala terjadi kesalahan. Seperti layaknya saudara, kita merasa dekat, hangat dan penuh pengertian. Sebuah kehidupan bersama tanpa cinta, rukun, memaafkan maka kebersamaannya rapuh. Keropos. Kata “saudara” menjadi hambar. Hampa tanpa makna.

Sedangkan jika hidup dengan rukun, kita merasa kebersamaan yang menyegarkan. Kerukunan juga memberi peluang lahirnya hal-hal baik. Kesukacitaan, kreativitas, saling membantu, pengembangan diri, dll. Itu semua bisa muncul dalam hidup bersama yang rukun.

Di sinilah, karena itu Anda dan saya memandang penting hidup bersama dengan menjaga dan memelihara semangat kerukunan. Permusuhan cepat diselesaikan. Konflik cepat diatasi agar cepat padam. Satu sama lain merasakan diterima dengan tangan terbuka dan hati yang hangat.

Saudaraku, kita tahu sifat sebuah kota besar. Bertahun-tahun kita menghirup kehidupan kota besar. Kita menghirup udara polusi. Sekaligus juga menghirup hidup bersifat egoistik. Hidup sendiri-sendiri. Masa bodoh satu sama lain (selfish).

Gaya hidup demikian, bukan gaya hidup kristiani. Kita diajari Tuhan Yesus untuk hidup bersama yang lain. Dan suasananya diwarnai kerukunan. Semoga itu juga, yang kita kecap. Sekaligus, hal itu juga yang kita kampanyekan lewat mulut dan jari (medsos).

Kita berdoa: Tuhan, menyongsong peringatan natal, mampukan kami bukan berselisih tapi hidup yang rukun dengan sesama.

Kami menyerahkan aktivitas kami masing-masing ke dalam tangan Tuhan. Kiranya kami dilindungi dan dijaga oleh kuasa-Mu. Doa ini, kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Mazmur 133:1

Refleksi Harian: Bilangan 12:1-2

Refleksi Harian: Bilangan 12:1-2

Pembawa Damai

Selamat pagi, ibu-bapak, kakek-nenek, dan saudara-saudaraku yang baik. Ketika kita bangun di pagi ini, ada yang tubuhnya sehat. Ada juga yaang justru masih terbaring sakit. Meskipun demikian, kiranya tetap bersyukur kepada Tuhan. Dengan bersyukur itulah, kita masih melihat banyak hal yang kita terima dari Allah. Bahan Refleksi Harian: Bilangan 12:1-2

Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. (2) Kata mereka: “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.

Bilangan 12:1-2

Saudaraku, betapa berbahagianya punya saudara sekandung semuanya terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Orang tua mana yang tidak bangga, jika semua anaknya aktif di dunia keagamaan. Anak-anak yang bisa berperan demikian, satu sama lain bisa saling tukar pikiran dan saling memperkaya wawasan.

Amram memiliki tiga orang putra-putri, 2 laki dan satu perempuan. Anak laki-lakinya sangat berperan memimpin orang Israel keluar dari Mesir, yaitu Musa dan Harun. Sedangkan putrinya bernama Miryam. Posisinya pun penting, ia disebut nabiah. Pemimpin di kalangan perempuan orang Israel.

Pada satu momen, ketiga bersaudara itu hampir terputus persaudaraannya. Gara-gara perkawinan Musa. Harun dan Miryam menolak keras Musa mengawini perempuan Kush. Mereka mengatai Musa. Di mata mereka kekeliruan. Mungkin, bagi mereka mengapa Musa tidak menikahi perempuan Israel saja.

Ternyata, sikap penolakan kedua bersaudara itu berkepanjangan. Miryam dijatuhi hukuman oleh Tuhan. Seluruh tubuhnya terkena kusta. Penyakit menakutkan dan tak tersembuhkan. Rencana keberangkatan rombongan meninggalkan Mesir pun tertunda.

Mengapakah sampai sejauh itu, sebuah penolakan diganjar Tuhan? Saudaraku, sikap mengatai Musa, tidak semata-mata serangan pribadi. Lebih dari itu. Penolakan mereka bisa membentuk opini buruk tentang Musa. Dan itu akan menurunkan kredibilitas Musa di mata orang Israel.

Padahal, waktu itu dibutuhkan keutuhan dan kebulatan kepercayaan atas Musa. Opini yang diciptakan Harun dan Miryam berpengaruh pada rencana Tuhan. Apalagi, Harun dan Miryam secara tidak langsung (implisit) menyatakan bahwa Allah bisa berfirman tanpa lewat Musa. Tentunya, maksudnya bisa lewat mereka.

Jelas, sikap Harun dan Miryam bisa melahirkan rivalitas di antara mereka. Dan ini berbahaya, sebab akan berdampak pada kesatuan sikap orang Israel pada Musa.

Di sinilah, terlihat ada iri hati dan ketidak tulusan dari ketidak setujuan atas perkawinan Musa dengan perempuan Kusy. Ada agenda dan rencana lain. Mereka ingin menggantikan Musa. Jelas, Allah tidak berkenan. Ada udang di balik batu dari sikap Harun dan Miryam. Karena itu menjatuhkan hukuman. Bersyukurlah kemudian Tuhan mengampuninya.

Saudaraku, Allah tidak menyukai nilai persaudaraan terputus. Dan Allah pun tidak mau itu berdampak buruk pada rencana-Nya. Di sinilah, kita senang jika dalam sebuah keluarga aktif dan berkontribusi dalam pekerjaan Tuhan. Saling menopang dan memperkaya. Keutuhan persaudaraan berdampak positif pada pelayanan kita kepada-Nya.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya jadikan kami pembawa damai. Bukan yang suka dengan konflik dan permusuhan. Kiranya itu tercipta di lingkungan keluarga dan pekerjaan Tuhan.

Kami berdoa buat saudara kami yang bertambah usia. Kiranya hari ini merupakan bagian dari cinta kasih Tuhan. Sehingga ulang tahun menjadi momen indah dan penuh kegembiraan.

Kami berdoa untuk kesehatan dan keselamatan diri kami masing-masing. Jauhkanlah kami dari bahaya. Hindarkanlah dari sakit-penyakit. Khusus, buat mereka mereka yang tubuhnya lemah dan memerlukan perawatan. Ulurkanlah pertolongan-Mu yang ajaib. Sehinggga cepat pulih dan sehat kembali.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Bilangan 12:1-2

Refleksi Harian: 2 Timotius 1:5

Refleksi Harian: 2 Timotius 1:5

Ditempa Dalam Keluarga

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong pagi baru dengan mengucap syukur kepada Allah. Karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi degup kehidupan. Bahan reflekis harian: 2 Timotius 1:5

Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu

2 Timotius 1:5

Saudaraku, kita tahu di mana Tuhan Yesus melakukan mukjizat pertama kali. Yaitu di sebuah perkawinan. Adakah maknanya? Atau cuma kebetulan belaka, Dia membuat air menjadi anggur di sebuah perkawinan di Kana. Tentu, momen itu diambil lantaran ada pesan penting yang hendak disampaikan. Dalam hal ini, di mata Tuhan Yesus betapa pentingnya kehadirannya di tengah keluarga.

Bagaimanapun, keluarga adalah lingkungan pertama manusia diperkenalkan dengan kehidupan. Dan di sana juga manusia mengetahui siapa dirinya. Dalam keluargalah Anda dan saya mulai belajar bicara, berjalan, makan-minum dan bagaimana harus bersikap. Dari yang sederhana hingga hal yang menjadi inti kehidupan.

Dalam keluarga jugalah kita dibimbing tentang Tuhan. Sejak dini ditanamkan adanya kebaikan Allah dan betapa pentingnya doa. Orang tua menstranfer kehidupan rohani agar menjadi praktik bersama. Selain itu, hadir pula asuhan cinta kasih mewarnai kehidupan keluarga.

Timotius, rekan kerja Rasul Paulus lahir dan dibesarkan oleh keluarga demikian. Ia punya ibu dan nenek yang mengasuhnya dengan cinta dan pengetahuan Alkitab. Tidak heran Timotius mampu menjadi kawan dan mitra pelayanan yang setia rasul Paulus. Hubungan keduanya teramat dekat dan spesial.

Eunike, ibunda Timotius dan Lois, nenek Timotius dua perempuan yang menjadi nakhoda keluarga. Keduanya yang “mencetak” kepribadian dan watak Timotius. Sehingga Timotius sebagai sosok yang dilimpahi pujian Rasul Paulus.

Keduanya bukan perempuan biasa. Lois adalah seorang nenek dengan iman yang semangat. Cinta dan pengetahuan Alkitabnya, dia tularkan kepada keluarganya. Lois membesarkan cucunya dengan kasih sayang dan sekaligus memperkenalkan cinta firman Tuhan. Sedangkan Eunike adalah perempuan yang teguh pendirian imannya.

Saudaraku, jadi jelaslah bagi kita. Keluargalah merupakan wilayah atau lingkungan yang paling efektif menanamkan nilai-nilai kesetiaan, ketegaran iman dan sikap penuh pengabdian. Orang dekat, dalam hal ini orang tua, apakah itu ayah, ibu, opa-oma, tante-om, kakak, dsb. menjadi media ampuh melahirkan manusia berkarakter. Seperti Timotius yang ditempa nenek dan ibunda tercintanya.

Saudaraku, kini membangun keluarga yang ideal sungguh merupakan panggilan yang patut sangat diperhatikan. Tantangan makin besar. Keutuhan keluarga sungguh sangat diuji. Di Amerika Serikat, misalnya, tingkat perceraian makin tinggi. Perceraian sudah dianggap hal biasa! Dulu, dikenal istilah “kenakalan anak-anak”. Kini dikenal juga “kenakalan orang tua”. Suasana keluarga yang hambar dan kehilangan semangat cinta perlu perhatian kita.

Mari, kita bangun terus keluarga kita. Kita jaga dan rawat sebaik mungkin. Sebab, dari sanalah kebaikan mengalir. Dari sanalah kesetian iman dilahirkan. Dan dari sanakah juga pendidikan buat manusia unggul dilahirkan. Tuhan memberkati keluarga kita.

Mari, berjalan bersama Tuhan dan keluarga. Berjalan bersama-Nya dan nikmati manisnya cinta kasih keluarga. Kini dan kelak kita akan memetik arti hidup persaudaraan, kehangatan, ketenangan dan sejahtera.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selalu bersama-Mu dan keluarga, kami tetap setia menjadi murid-Mu. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai bersama keluarga.”

“Kami membawa dalam doa, kehidupan saudara kami yang berulang tahun. Hari ini Tuhan tambahkan usianya. Semoga mereka sehat, suka cita dan sejahtera. Sehingga mereka bisa meraih merasakan indahnya Cinta-Mu, Tuhan.”

“Tuhan, Berkati persekutuan kami hari ini. Semoga mengeratkan ikatan dengan Tuhan dan ikatan antar sesama anggota keluarga. Lindungi seluruh orang yang kami kasihi dan kegiatan kami menjadi saluran suka cita.”

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 2 Timotius 1:5