Orientasi Untuk Memberi

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak yang baik. Kita bersyukur kepada Allah, dengan hari yang kita jalani bersama keluarga dan sesama kita.

Firman Tuhan pagi ini dikutip dari,” Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (43) Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23:42b-43

Saudaraku, meski tengah menderita, Yesus masih peka dan menyimak apa yang berlangsung di sekitar bukit Golgota. Perdebatan di antara penjahat di samping kanan dan kiri-Nya. Tubuhnya yang lebam karena pukulan. Kulit-Nya yang terkelupas lantaran pukulan cemeti yang tajam. Luka menganga bekas tusukan. Tenaga yang sudah terkuras. Semestinya, Dia lebih memperhatikan rasa sakit dan perih luka-Nya.

Ternyata tidak. Yesus masih mengikuti kata-kata olokan, hinaan dan ucapan sinis tertuju pada diri-Nya. Ia menyimak dengan serius.

Terlebih dari itu, Yesus masih mendengar dari antara berbagai ucapan yang melukai hati-Nya, ternyata ada suara berbeda. Suara simpatik. Sumber suara itu bukan suara para murid-Nya. Bukan pula dari orang terdekat-Nya. Melainkan suara dari seorang yang juga tengah menuju kematian. Ya, suara penjahat yang nasibnya sama, sama-sama disalibkan. Dari orang yang di sampingnya yang juga tengah disalib, Ia mendengar suara berbeda. Ia mendengar suara simpati dan empati.

Dari mulai penangkapan, pengadilan dan perjalanan ke Golgota. Berbagai suara dominan yang didengar Yesus adalah suara kebencian, cacian, hinaan, tuduhan tidak berdasar, olok2, dan pelecehan. Saat Ia memasuki detik-detik ujung hidup-Nya, di golgota, Ia mendengar suara yang berbeda. Ada nada lain. Suara menyejukkan. Suara yang bernada ‘membela-Nya’. Walau sebenarnya Yesus tidak perlu dibela, karena sama sekali peradilan tidak berhasil membuktikan bahwa Dia bersalah.

Penjahat itu, meluruskan sesat pikir penjahat lain lawan bicaranya. Dengan berkata ”Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”Ayat 41.

Suara salah seorang penjahat di sisi-Nya menyejukkan hati Yesus. Suara itu tengah meluruskan ucapan penjahat lain yang bernada cemoohan atas diri-Nya. Bersamaan dengan itu, dari orang yang sama, Yesus mendengar permohonan yang tulus, penuh kerendahan hati dan mengandung keyakinan yang kuat, ” Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Ayat 42:b.

Segera Yesus merespon suara yang berbeda, yang langka Dia dengar sejak masa penderitaan yang dijalani-Nya. Dengan cepat Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Ayat 43.

Saudaraku, di saat Yesus menderita Ia masih terbuka atas sebuah permohonan, dan mengabulkannya. Sungguh, Yesus, Tuhan kita selalu punya tujuan atau orientasi hidup-Nya adalah, memberi, memberi dan memberi. Sang penjahat mempunyai keinginan terdalam, Tuhan mengabulkan keinginan terakhirnya. Yesus memberi sesuai permohonannya.

Saudaraku, apa artinya hidup yang tidak bisa memberi? Seseorang yang sepanjang hidupnya berorientasikan memberi, maka kematiannya akan berarti. Kematian Yesus bukan sia-sia. Hidup dan mati-Nya diabdikan untuk memberi. Bahkan pada detik-detik terakhir Ia masih memberi, yakni memberi yang paling berharga bagi manusia, yaitu “firdaus”.

Berbahagialah buat salah satu penjahat di samping Yesus. Ujung hidupnya memang berakhir mengenaskan. Penjahat itu tetap mati dengan cara disalib yang menyakitkan. Tetapi, di ujung kematiannya, ia masih bisa mati dengan tersenyum. Ya, tersenyum, karena ia berjumpa dengan Yesus yang memberikannya firdaus.

Menata Masa Depan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi. Selamat menyongsong hari baru, Saudaraku yang baik dan dikasihi Tuhan.

Firman Tuhan mengantar aktivitas kita hari ini diambil dari kitab Kej 28: 15, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Saudaraku, setiap orang menganggap penting masa depan. Terutama kerinduan punya masa depan yang cerah, atau penuh prospek. Tidak mengherankan, apa yang kita lakukan di hari ini dipengaruhi keinginan menjelmakan masa depan yang indah. Jika Anda punya anak dan cucu, tentu kita merancang agar mereka bisa merengkuh masa depan yang baik.

Dengan sekuat tenaga kita berjuang mengupayakan anak kita bisa duduk di bangku sekolah yang baik. Kita menabung atau menyisihkan anggaran buat pembiayaan pendidikannya. Makanan yang disediakan memenuhi kriteria empat sehat lima sempurna. Kita mendorong mereka mengikuti berbagai kursus tambahan. Kursus musik. Kursus matematika. Untuk aoa? Semuanya sekali lagi, demi masa depan.

Saya suka ingat cerita tentang etnis tertentu yang sangat ketat dalam pengeluaran keluarga. Bila perlu makan bubur dengan menu lauk sederhana. Mereka bukan pelit, namun berhemat supaya dapat menabung. Mengapa menabung? Sekali lagi demi investasi masa depan. Anak-anaknya bisa masuk di sekolah dengan akreditasi baik. Yang kemudian mereka bisa bekerja atau bisnis dengan baik.

Bandingkan orang yang tidak perduli dengan masa depan. Sekolah anak-anaknya di sekolah yang abal-abal pun tidak masalah. Yang penting anaknya sekolah. Uang lebih banyak dihamburkan untuk makan enak, pakaian serba bagus, sosialita, kendaraan gemerlap. Sedangkan dana pendidikan anak tidak diindahkan dan disiapkan.

Orang beriman adalah orang yang sepatutnya sadar bahwa masa depan itu penting. Dan firman Tuhan di atas menyangkut hari esok. Diingatkan landasan untuk kita bisa membangun masa depan adalah penyertaan Tuhan. Tuhan hadir di hari lalu, hari ini dan hari depan. Dengan itu maka masa depan kita berada pada kebaikan Tuhan. Hanya, kita juga jangan salah mengartikan firman ini. Seolah-olah dengan penyertaan-Nya lalu otomatis semua kebutuhan kita tersedia. Ingin makan, ingin memakai baju bagus, ingin rumah yang nyaman dan indah, ingin karier baik, datang begitu saja. Kita tinggal menadahkan tangan lalu semua itu jatuh dari surga. Tentu tidak.

Orang yang berhikmat tentu tidak bersikap demikian. Yakub yang pertama kali mendapat janji itu, dia tidak lalu duduk manis. Ia bekerja. Ia mengelola ternak dan tanahnya dengan kerja keras. Janji Tuhan tentang masa depan diimbangi dengan segala perjuangan. Janji Tuhan disertai peluh dan keringat kerja keras.

Di sini, kita pun hendak menyikapi masa depan dengan hikmat. Pertama, jangan habiskan semua aset kehidupan kita hanya untuk hari ini. Kesehatan kita, keuangan kita, tenaga kita, sebaiknya dikelola dengan memperhatikan masa depan. Orang yang suka mabuk, penjudi, malas-malasan, tidak mau sekolah, melupakan pentingnya Tuhan, adalah contoh dari orang yang mengabaikan masa depan.

Kedua, masa depan yang disediakan Tuhan memacu kita tidak kuatir atas hari esok yang masih belum jelas. Kekuatiran bisa mengakibatkan seseorang merasa tidak berdaya, dan akhirnya tidak mau berbuat apa-apa. Kita bisa melihat dalam realitas, orang yang masa depannya cerah dan maju adalah tipe orang yang optimis. Artinya, Jangan jadi serba takut dengan hari esok, sekaligus jangan menakut-nakuti tentang bahaya hari esok. Sikap Optimis lebih utama daripada bersikap pesimistik.

Ketiga, jika kita merancang masa depan dan upaya keras memenuhinya, itu adalah tindakan yang sesuai dengan iman. Iman itu tidak meninabobokan kita agar menunggu berkat jatuh dari langit. Tidak. Iman itu justru menyadarkan dan membuka pikiran kita untuk mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya.

Semoga masa depan kita, anak cucu kita cerah. Tidak suram. Hidupnya tidak berantakan. Tapi mempunyai masa depan yang indah bersama Tuhan.

Sisi Baik Pada Realita Yang Buruk

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Semalam kita istirahat, sepanjang istirahat itu kita yakin Tuhan tidak tidur. Tuhan mendampingi dan melindungi kita. Puji Tuhan.

Kita akan merefleksikan Firman Tuhan dari kitab Roma 5:3b-4, “ Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”

Saudaraku, kita suka mendengar kata “kearifan lokal”. Yaitu gagasan dan nilai yang suka dipraktikkan dalam hidup sehari-hari di sebuah masyarakat. Diwariskan secara turun-temurun, oleh sebab terasa manfaat kebijakannya.

Bisa jadi, salah satu kearifan lokal yang sering kita temui yaitu menyikapi sebuah musibah dengan mengungkapkan kata, “untung”. Jika ada kejadian perampokan di sebuah rumah, lalu dibilang “untung perampok itu hanya mengambil sebagian hartanya”. Tapi, jika perampok itu menguras semua benda berharga. Tetap bisa muncul ungkapan “untung”. Untung perampok itu tidak melukai pemilik rumah yang dirampok itu. Niscaya, jika perampok itu melukai sang korban. Saya yakin, masih tersimpan untung yang berikutnya.

Saudaraku, itulah kearifan lokal yang paling kita kenal. Ada pembelajaran di dalamnya. Bahwa setidak ideal apapun sebuah kenyataan, kita masih bisa menemukan sisi baik. Sebuah kenyataan buruk tidak absolut buruk seluruhnya. Ada sisi positif yang dapat kita lihat. Dengan kearifan demikian, menciptakan daya tahan mental dan kejiwaan menghadapi kenyataan seberat apapun.

Lalu, bagaimana dengan kearifan firman Tuhan? Iman dan identitas kristen suka diperhadapkan dengan kesengsaraan. Tidak terkecuali Jemaat di kota Roma. Seolah-olah ada garis tangan harus menghadapi kesengsaraan. Di sini, rasul Paulus mengajak melihat kesengsaraan. Betul, kesengsaraan di mana pun dan kapanpun tidak menyenangkan. Dari dulu sampai sekarang, yang namanya kesengsaraan itu menyakitkan.

Rasul Paulus menasihati mereka bahwa kesengsaraan tidak mutlak buruk. Ternyata kesengsaraan membentuk sikap ketekunan. Dari sana berbuahkan tahan uji. Dan kemudian tahan uji melahirkan pengharapan. Jadi, seiring hadirnya kesengsaraan ada pembelajaran positif yang bisa kita dapatkan.

Tidak heran, rasul Paulus menghadapi kesengsaraan tidak cengeng, patah semangat, jiwa yang loyo tapi dengan bermegah. Karena orang beriman yang mau belajar dari sebuah realitas buruk, mereka akan mendapatkannya.

Saudaraku, siapa yang bisa menyangkali bahwa dampak virus corona sungguh berat. Ekonomi terguncang. Pendapatan seseorang menurun, malah ada yang stop sama sekali. Bepergian tidak bebas. Biasanya tiap hari ada jadwal acara kemana-mana. Sekarang pagi di rumah, siang di rumah, malam pun di rumah sampai berminggu-minggu.

Secara kejiwaan tingkat kecemasan tinggi. Saking cemasnya, ada yang tidak mau menerima tamu, padahal itu rekan kerjanya yang punya tingkat kesadaran kesehatannya tinggi. Dan paling dramatis, virus itu merenggut nyawa dan banyak keluarga berduka.

Saudaraku, mampukah kita memiliki cara pandang kearifan firman Tuhan atau kearifan lokal? Yakni, kita masih menemukan sisi yang memungkinkan menjadi modal kita bertahan. Masih tersisakah dasar untuk bermegah? Atau dalam bahasa iman, apakah ada dasar kita tetap bersyukur?

Di sinilah, iman itu menyuguhkan sisi kekuatannya. Dalam hal ini membantu kita melihat dan punya pola berpikir yang positif. Kita yakin bahwa di balik kerugian besar yang diakibatkan virus corona ada berkat terselubung. Ada blessing in disguise. Langit kota Jakarta biasanya keruh, kini warna birunya kelihatan. Paru-paru kita lebih lega saat bernafas. Karena saking tingginya tingkat polusi. Konon, lapisan ozon lebih baik. Biasanya gas rumah kaca menyemorotnya tiada istirahat. Lapisan es di kutub makin menebal.

Gereja mengakui, selama ini lebih mengkultuskan pemimpin dan popularitasnya, daripada Tuhan Yesus Sang Raja Gereja. Dan dalam kehidupan pribadi, orang makin takut Tuhan. Umat beriman sadar dirinya rapuh, dididik lebih rendah hati. Ada guyonan, “dampak positif saya kerja di rumah di rumah adalah, bukan prestasi kerja. Malah bobot badan bertambah!

Artinya, melihat realitas seburuk apapun dengan kaca mata iman, kita tetap punya pengharapan. Terdapat sisi baik di balik sebuah peristiwa. Itu modal besar kita untuk bertahan. Kita tidak mengidealisir realitas buruk. Apalagi memuja-muja virus corona, sama sekali tidak. Kita melawannya. Namun, Allah bisa menghadirkan hal baik untuk kebaikan kehidupan manusia, seiring mewabahnya virus tersebut. Dengan demikian, bersama Allah kita dapat terus melangkah. “Untung” punya Allah Yang Maha Baik. Terpujilah Dia.

Sahabat Setia

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, mas-mbak, bapak-ibu, opa-oma dan saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Allah yang menempatkan kita di bawah sayap pernaungan-Nya. Laksana anak ayam di bawah sayap induknya. Sehingga pagi ini, kita bangun dan menghirup kehidupan.

Firman Tuhan yang kita renungkan, “Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.” Ayub 23:11-12

Saudaraku, betapa indah isi firman di atas. Menunjukkan tekad kuat dari orang yang mau tetap taat. Dan orang yang ingin mengikuti jejak yang dibuat Allah kemanapun Allah pergi. Dia ingin berjalan di jalan yang lurus.

Mengapa saya katakan indah? Karena pernyataan itu terucap dari seorang Ayub. Sedangkan Ayub tengah berada dalam situasi berat. Harta yang tadinya berlimpah, telah sirna semua. Hartanya sungguh berlimpah. Setara ratusan miliar rupiah. Jumlah yang bukan main. Anak-anak telah pergi selamanya. Sedangkan istri kecewa dan minggat. Tidak hanya itu, Ayub pun telah kehilangan kesehatan terbaiknya.

Jadi, ungkapan tekad itu lahir dari seorang yang tengah menghadapi kemalangan besar. Untuk orang biasa, mungkin bisa memerlukan penanganan dokter jiwa. Sebab beban yang dipikul amat berat. Ada yang hilang sementara, seperti harta benda. Ada yang hilang selamanya, yakni kematian anak yang dicintainya.

Bagaimanapun, tidak mudah menyatakan komitmen atau tekad mau taat pada saat menderita. Lebih mudah mengeluh dan menggugat. Lebih gampang menyatakan kata “mengapa?”. Mengapa saya jadi miskin, Tuhan? Mengapa anak-anakku mati, Tuhan? Mengapa istriku tidak tabah dan menemani di saat kesusahan berat, Tuhan? Namun, Ayub memperlihatkan yang tetap mau setia dan taat pada Allah. Ini sungguh mental baja dan iman luar biasa.

Dalam kehidupan nyata, kehilangan banyak hal yang berharga menyebabkan hati seseorang limbung. Semangat hidup hilang. Perasaan lesu. Gairah untuk melanjutkan hidup sangat rendah. Pengalaman keterpurukan Ayub itu, kisah contoh bagaimana kehilangan hal yang terbaiknya. Bahkan tidak hanya harta benda, sosok-sosok tercinta pun hilang selama-lamanya. Saya yakin, ini situasi yang stressfull. Artinya, berat sekali. Orang yang tidak tahan akan stress berat.

Orang stress kehilangan energi terbaik untuk mau melakukan keinginan dari pihak di luar dirinya. Coba saja lihat, orang yang demikian tidak mau menggubris nasihat orang lain. Hati tertutup atas nasihat. Ia hanya melamun dan melamun.

Apalagi, mau menjalankan tindakan tertentu. Orang yang tengah bergumul dalam situasi demikian, maunya menenggelamkan diri dalam kemasa bodohan. Sekaligus hanyut dalam kepedihan. Jiwanya lumpuh.

Saudaraku, artinya, dalam situasi terburuk apapun, Ayub masih menyimpan rasa percaya kepada Allah. Semua memang sudah habis. Anak, istri, harta semuanya hilang. Termasuk teman-temannya yang hanya pandai menasihati dan menyalahkan dirinya. Yang masih tetap mau di samping Ayub cuma satu. Dia adalah Allah. Allah tetap sabar menjadi Sahabat setia di kala duka.

Itulah yang membuka mata batin Ayub. Allah tidak beranjak dan meninggalkan dia sendiri. Di tengah beban akhirnya Ayub menegaskan kesediaannya tetap mengikuti jalan Allah. Jalan dari Dia yang amat setia mengerti kesusahan batin dan fisiknya.

Saudaraku, sisi inilah yang menjadikan inspirasi buat kita. Kita belajar tentang ketahanan iman. Orang yang tahan iman tidak hanyut oleh arus hidup yang berat. Dia tidak tenggelam oleh badai kehidupan yang menakutkan. Tapi, tetap jalan hidupnya mengikuti suara Allah.

Sulit. Jelas, memang amat sulit. Kita pun saat ini, masih berada dalam bayangan kesulitan berat. Bahkan, kesulitan nyata. Wabah belum selesai. Perjuangan melawan dan mengatasinya belum usai. Ayub menginspirasi kita. Kita tidak boleh kalah oleh kesulitan. Kesulitan tidak boleh menumbangkan iman dan ketahanan mental kita.

Sumber kekuatan adalah Allah tidak meninggalkan Saudara dan saya. Allah setia di samping kita. Seperti yang dilakukan Allah atas Ayub. Sehingga kisah Ayub membuktikan, ia bisa. Sulit. Sungguh amat sulit. Jalan terjal kehidupan ia bisa lewati. Semoga, iman yang demikian dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Peduli Adalah Wujud Kasih

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, selamat akhir pekan, Saudara2 yang baik. Indahnya kehidupan manakala Cinta kasih Tuhan terus menaungi hidup kita. Hendaklah kita berkata, “ terima kasih Tuhan Yesus. Kami bersyukur dan memuji nama-Mu.

Firman Tuhan hari ini diambil dari Ibrani 13:2, “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”

Saudaraku. Ciri khas orang jaman baheula adalah melakukan perjalanan. Mungkin ada yang langsung komentar, ” oh, sekarang juga sama, pak. Orang suka traveling. Orang senang melakukan perjalanan, apalagi kini moda transportasi sudah lengkap dan nyaman”. Betul, sekali. Orang jaman now, juga suka melakukan perjalanan. Pergi ke berbagai kota dan negeri, naik kendaraan darat, laut maupun udara. Tinggal di penginapan atau hotel, sambil bertualang kuliner. Pergi ke Jogja cari gudeg, pergi ke Surabaya, cari lontong balap, pergi ke Bali cari babi guling. Jadi, pergi melakukan perjalanan kini malah trend.

Tepat sekali, saat ini orang suka melakukan perjalanan, bahkan tidak hanya mengunjungi kota-kota dan tempat di dalam negeri, malah hingga ke luar negeri. Apa bedanya? Bedanya adalah orang-orang yang hidup di jaman firman Tuhan ini disampaikan, mereka melakukan perjalanan dengan amat sederhana. Mereka bepergian lebih banyak jalan kaki. Membawa bekal sendiri, dan jika malam tiba untuk waktunya istirahat mereka tidur di tempat2 yang dianggap aman bukan nyaman.

Dengan corak perjalanan demikian, tubuh sangat letih, makanan sangat terbatas dan tempat istirahat begitu sederhana. Sehingga sudah menjadi kebiasaan baik, bagi orang yang murah hati bersedia membuka pintu rumahnya buat orang yang kemalaman dalam perjalanannya. Istilah yang dipakai tumpangan. Memberi tempat buat istirahat malam, disertai berbagi makanan yang sesederhana apapun, supaya besok pagi orang itu bisa melanjutkan perjalanannya kembali. Ya, tentu tubuh lebih segar dan mungkin juga diberi bekal makanan buat di jalan.

Kebiasaan baik ini dalam firman Tuhan di atas, dianjurkan hendaknya dipraktikkan dan dilestarikan. Yaitu memberi tumpangan bagi orang yang berada dalam perjalanan. Sebuah praktik keramahan terhadap orang asing. Mereka belajar mengerti dan memberi, tertuju kepada tamu yang tidak dikenal. Rumah mereka menjadi rumah yang bisa mensuplai tenaga yang baru. terlebih dari itu budaya sehat untuk merenda persaudaraan dengan orang yang tidak dikenal.

Jelas, dengan memberi tumpangan, seorang tuan atau nyonya rumah terbebani. Mereka harus direpotkan dengan kedatangan tamu tidak dikenal dan diundang. Repot menyediakan makanan, ruang buat berbaring dan tidur tamunya, bisa pula kebutuhan lain yang diperlukan sang tamu. Ya, bisa dilihat sebagai beban.

Tapi firman Tuhan mengajaknya menjadi kebajikan. Suatu perbuatan yang terpuji. Bahkan, seorang malaikat bisa datang yang mencari tumpangan. Artinya, malaikat ingin melihat dan merasakan sendiri, apakah orang percaya sudah berlaku ramah dan perduli atas pihak yang sedang membutuhkan tumpangan.

Orang yang butuh tumpangan bisa saja orang asing. Tidak ada ikatan kerabat atau sahabat. Orang yang betul-betul tidak dikenal sebelumnya. Kelihatannya suatu situasi sekarang berbeda. Jangankan memberi tumpangan, jika kita bertanya alamat saja ada yang sudah ketakutan. Orang yang dianggap asing harus dihadapi hati-hati. orang asing atau tidak dikenal sekarang lebih banyak dicurigai.

Bukankah itu juga yang kini banyak ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya, “ingat, ya, jangan buka pintu kalau ada tamu yang kamu tidak kenal” atau “jangan sekali-kali komunikasi dengan orang yang tidak dikenal. Hati-hati nanti diculik, lho.” Saya mengerti nasihat itu lahir buat melindungi anak-anak kita. Saya mengerti banyak orang tua tidak mau dirinya atau anggota keluarganya terkena risiko akibat berjumpa dengan orang asing. Karena seringnya beredar informasi tentang ulah orang jahat, yang diasosiasikan pelakunya orang asing yang tidak dikenal.

Akhirnya, dipukul rata. orang asing itu membahayakan. Hati-hati. Jangan sekali membuka komunikasi dengan mereka. Jika itu ditanamkan terus lama-lama orang takut bergaul secara berlebihan. Terutama dengan orang yang baru ditemui. Di kereta atau bus takut mengobrol dengan penumpang di sebelahnya. Akibatnya, jika ada orang asing punya niat tulus bertanya, tidak digubris.

Jika pola pikir itu makin menggumpal, rasanya sulit sekali orang mau melaksanakan firman di atas. Firman yang mengajak berbuat ramah atas orang asing, berbagi kebaikan dengan mereka. Bisa menganggap tidak penting membangun persaudaraan dengan orang yang baru pertama kali berjumpa.

Lalu, apakah itu berarti firman itu tidak relevan? Justru di situ tantangan melaksanakan ajakan firman Tuhan. Firman Tuhan tidak gampang dipraktikkan tapi bukan tidak bisa. Tuhan memberi tuntunan tentu Dia tahu kita mampu menjalankannya. Cuma ini menyangkut keseriusan dan komitmen. Jika tidak punya keseriusan dan komitmen jangankan hal sulit, yang mudah saja tidak mau melakukannya. Salah satu sebab karena setba takut. Termasuk takut kena risiko.

Inti firman Tuhan adalah, kasih itu tidak memandang bulu. Kasih itu diberlakukan kepada pihak yang tidak punya ikatan keluarga dan kawan. Kasih itu tidak sempit. Tetapi menjangkau mereka yang butuh bantuan. Tak terbatas pada orang yang kita kenal.

Diberlakukan untuk orang yang kita kenal juga buat yang tidak kita kenal. Terlebih buat yang sedang emergency. Yakni orang yang betul-betul sedang membutuhkan pertolongan. Di depan mata kita, di sebelah rumah kita, kini banyak yang butuh bantuan.

Ini panggilan kasih kristiani kita yang paling up to date. Memberi kelegaan atas korban wabah virus korona. Ada seorang supir yang seharian tidak membawa pulang uang buat keluarga. Ada pedagang yang pulang dengan makanan tak terjual. Ada karyawan kehilangan pekerjaan. Perusahaan mengalami kerugian besar. Sampai orang yang butuh kelegaan batin, karena kerabatnya pergi selama-lamanya.

Jangan tak acuh atas orang2 seperti itu, siapa tahu orang yang seperti itu adalah malaikat utusan Allah yang ingin melihat, apakah kita orang beriman punya kasih dan perduli atas mereka yang tengah memikul kesukaran dalam hidup.

Kita berdoa, Ya, Allah. Terima kasih buat hari ini. Kiranya hari ini kami dapat bertindak hal yang melegakan buat sesama kami yang tengah butuh bantuan.

Tuhan, Kami berdoa kepada-Mu agar warga negeri ini dan pemimpin kami taat dan takut kepada-Mu. Sehingga semua berkesadaran menghormati kepentingan bersama. Dalam nama Yesus yang penuh belash kami berdoa.