Menghadapi Pencobaan

Oleh Pdt. Audra R. Likumahuwa

Iblis mencobai Yesus dengan menawarkan 3 (tiga) hal:

  1. Kebutuhan hidup
  2. Kekayaan
  3. Kedudukan/kemuliaan diri.

Semua hal ini dicari manusia setiap hari bahkan manusia rela melepaskan Tuhan dan kebenaranNya, menyakiti sesama dan menjual harga diri asalkan semua hal di atas ia miliki.

Pencobaan itu bagian integral hidup manusia. Semua orang menghadapinya tapi tidak semua orang dapat keluar sebagai pemenang atasnya.

Yesus menghadapi dan tidak lari. Ada kalimat menarik yang ia katakan, yaitu “ada tertulis” dan “….manusia hidup tidak hanya…”

Ada sikap berani anti mainstream dari Yesus dalam upaya melawan iblis. Sikap berani memilih gaya hidup berbeda di tengah dunia yang nyaris seragam mencintai hal hal semu.

Doa Adalah Mengetuk Hati Allah yang Pemurah Bukan Pemarah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara2ku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah Lukas 28:11-14, “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Saudaraku, ada dua sikap manusia di hadapan Tuhan. Pertama, tipe manusia yang merasa punya prestasi keagamaan. Dia merasa semua tuntunan agama sudah diikuti. Semua kewajiban agama telah dipenuhi. Sehingga perjumpaan dengan Tuhan lebih bersifat laporan keberhasilan. Doa merupakan momen membeberkan segala hal yang berhasil dicapainya.

Orang Farisi termasuk tipe itu pada jaman Tuhan Yesus. Orang terkemuka. Dihormati di kalangan masyarakat. Memakai istilah sekarang, mereka adalah para elit keagamaan. Seakan-seakan penguasa bidang keagamaan. Mereka pun merasa punya kewenangan menentukan mana orang yang layak dan tidak di hadapan Tuhan. Kemudian mereka bisa dengan mudah menjatuhkan sangsi berat atas nama agama. Terutama kepada orang berpandangan berbeda.

Orang tipe seperti itulah, doa pun bukan momen perjumpaan yang diisi kerendahan hati. Doa lebih mengagungkan diri sendiri, merendahkan orang lain. Doa itu pameran kesuksesan. Mereka merasa sudah benar. Sudah suci. Semua ketentuan agama telah tuntas dijalani.

Karena itu, doanya penuh keangkuhan. Isi doanya bukan permohonan kepada Allah, melainkan lebih menegaskan bahwa dirinya bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan pula pemungut cukai. Bahkan bukan seperti manusia lainnya.

Orang seperti orang Farisi ini, datang kepada Tuhan dengan kepala tegak dan dada penuh kepongahan. Merasa orang baik-baik. Bukan bagian dari sederet nama-nama yang mengotori masyarakat dengan praktik hidup yang merugikan orang lain. Bahkan, hal puasa yang dijalaninya dan persepuluhan yang ditaati, dibeberkan dalam doanya untuk menegaskan bahwa ia orang benar. Jelas, orang Farisi datang ke tempat ibadah dan berdoa, bukan lantaran butuh pembenaran dari Allah. Dia butuh pengakuan atas segala prestasi keagamaannya.!

Saudaraku, lain hal profil pemungut cukai. Ia merasa hidupnya sarat kesalahan. Perbuatannya penuh kegagalan mewujudkan bimbingan dan nasihat keagamaan. Ia merasa kecil. Dosanya terlalu besar. Kepalanya tertunduk, ia tidak memiliki keberanian menatap wajah Ilahi. Tidak heran ia tidak mempunyai keberanian mendekatkan diri pada Tuhan. Ia merasa terlalu kotor di hadapan Tuhan yang suci. Sikapnya penuh sesal. Sesal bahwa ia telah gagal memberikan sikap terbaik pada Tuhan.

Saudaraku, di mata Tuhan, orang Farisi seperti itu menggambarkan orang yang merasa tidak lagi memerlukan pembenaran Tuhan. Ia telah merasa benar. Tipe manusia seperti ini bisa saja kita temukan saat kini. Dalam hal ini, orang-orang yang menempatkan agama jadi pameran kesalehan. Busana yang dikenakan, bukan lagi menyangkut kain penutup tubuh. Lewat busana, mereka ingin menyampaikan pesan kepada khalayak bahwa dirinya adalah orang saleh, ini, lho, kami kaum tak bercacat dalam agama. Akhirnya, sikap kesombongan yang menonjol, merasa lebih saleh, suci dan benar.

Lain halnya, sang pemungut cukai. Dia merasa dirinya tidak layak di hadapan Tuhan. Ia malu. Terlalu jauh ia tersesat. Sehingga jika dia diterima Tuhan dengan segala cacat-cela perilakunya, oh itu merupakan anugerah besar. Pemberian tak ternilai. Pemberian yang betul-betul sangat berharga. Doa baginya mengetuk hati Allah yang Pemurah bukan Pemarah. Dengan Allah yang berkenan mendengar doanya, buat sang pemungut cukai, itu sudah merupakan belas kasihan tidak bertara. Allah yang mau mendengar lirih permohonannya, itu sudah merupakan anugerah penerimaan Tuhan yang luar biasa.

Saudaraku, Yesus datang bukan untuk tipe orang Farisi. Tuhan Yesus datang sebagai tabib. Sedangkan yang membutuhkan tabib adalah orang sakit. Orang seperti apakah itu? Yaitu orang yang tidak layak. Kotor. Orang- orang yang menengadah ke Allah pun tidak berani. Rendah hati di hadapan Tuhan, sebab Allah begitu agung. Ia menatap dirinya laksana debu di hadapan Allah. Tidak mampu mengecam orang lain, bukankah posisi dirinya saja adalah orang yang sepatutnya dikecam? Kepada orang seperti itulah, Yesus mau menderita. Dia membuka hati-Nya menerima orang-orang yang tidak sempurna. Bagi Tuhan Yesus, orang yang tidak pameran prestasi keagamaan, dia itulah yang akan ditinggikan-Nya.

Saudaraku, mari kita mengisi hari-hari di Minggu pra-paskah atau minggu sengsara ini, dengan pengakuan jujur dan rendah hati. Bahwa benarlah kita orang bersalah. Dosa kerap kita lakukan. Kita terus- menerus teramat merindukan pembenaran Allah. Dialah telaga pengampunan kita. Puji syukur, Allah datang ke dunia dan bersedia menderita. Dia mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Kita dijadikan layak, menjadi anak2-Nya. Dalam kondisi ketidak layakan, kita dirangkulnya. Dalam semangat kerendahan hati, itu kita berbenah diri. Semoga Allah saja yang menguatkan kita.

Pengalaman Membuahkan Kepercayaan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Kita berterima kasih dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Baik, Ia menambah satu hari lagi usia kehidupan kita. Dan kita bisa menikmati istirahat malam dan Ia melindungi kita.

Pada akhir pekan ini, kita ingin mendapat inspirasi dari firman Tuhan, diambil dari “Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. (20) Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu”. Filipi 2: 19-20

Saudaraku, dalam hubungan kerja yang formal tentu ada orang yang dinilai bisa dipercaya. Karena kecakapan yang dimiliki, kesungguhan dalam bekerja, kepribadian yang terpuji, maka muncullah seorang individu yang kemudian dinilai dapat dipercaya. Kita bisa temukan di kantor, di organisasi maupun dalam kehidupan gereja, ada orang-orang yang demikian. Tentu orang seperti itu menjadi aset.

Di mata rasul Paulus, Timotius adalah sosok yang punya tempat tersendiri. Ia menyebut Timotius sebagai “teman seperjuangan”. Jika saya menyebut bapak atau ibu adalah teman seperjuangan. Maka, itu artinya kita punya mimpi bersama yang luhur dan bergandengan tangan berusaha keras meraihnya. Kita dekat satu sama lain. Fase-fase sulit dalam menghadapinya tidak memisahkan kita. Di dalam istilah teman seperjuangan terkandung relasi formal, tetapi juga relasi personal yang indah. Dan memang di antara mereka terjalin keakraban yang kuat. Dua orang yang kerap ngopi bareng, lalu bertemu untuk bicara ngalor-ngidul tentu, terlalu berlebihan relasi demikian diberi label “teman seperjuangan”.

Timotius sungguh dipercaya rasul Paulus. Hal ini, pasti bukan jatuh begitu saja dari langit. Ada bukti dan ada pengalaman yang mendukung alasan rasul Paulus menaruh rasa percaya. Dari pengamatan dan lewat perjumpaan langsung sebagai teman seperjuangan rasul Paulus menilai kepantasan Timotius menyandang sebagai orang dipercaya.

Saudaraku, Firman Tuhan memberi kesaksian tentang relasi keduanya, rasul Paulus dengan Timotius. Dalam bahasa populer, mereka berdua kompak. Seiring-selangkah. Terdapat kesamaan memberi prioritas pada pelayanan kepentingan pribadi. Rasul Paulus yakin mengutus Timotius untuk mengunjungi Filipi mewakili dirinya, suatu pilihan tepat. Dan mengabarkannke Jemaat Filipi bahwa Timotius merupakan orang tepat pula.

Saudaraku, dalam bidang kehidupan apapun, khususnya yang menyangkut relasi kerja dan relasi pribadi, sangat penting adanya kepercayaan (trust). Tak kalah penting juga hadirnya orang yang dipercaya. Tak terbayangkan sebuah perusahaan kehilangan kepercayaan (trust). Bisa gulung tikar. Sebuah bank yang tiba-tiba diterpa kehilangan kepercayaan konsumennya, jangan tunggu satu bulan. Dalam hitungan hari bank itu bisa jatuh. Karena para nasabahnya menarik uang beramai2. Seorang pemimpin propinsi atau kabupaten yang kehilangan kepercayaan, segera merasakan pahitnya cibiran dan kritik. Di Korea Selatan, seorang pejabat yang diberi tugas untuk mencegah dan mengatasi penyebaran virus corona, melakukan tindakan bunuh diri. Ia merasa gagal. Sebab virus makin meluas dan korban semakin banyak. Ia merasa limbung tatkala berhadapan dengan kehilangan nilai kepercayaan.

Betapa penting dan berharganya nilai kepercayaan. Vital dalam hidup ini. Jangan jauh-jauh, bagaimana rasanya menjadi suami yang tidak lagi dipercaya istrinya, atau sebaliknya? Kita masih ingat, dulu ada seorang pemimpin agama yang amat populer. Dikagumi dan dihormati. Bukan saja di kalangan umatnya, bahkan di kalangan umat yang berbeda agama dengan tokoh itu. Kini, pesonanya hilang dan umat pun satu-persatu berpaling meninggalkannya. Mengapa? Itu tadi, kepercayaan tidak melekat lagi. Ya, karena satu langkah pilihan hidup yang diambilnya, yang kemudian menciderai kepercayaan umatnya.😌

Saudaraku, Timotius adalah sosok yang dipercaya. Tugas pelayanan diemban dengan baik. Kesetiaannya bukan musiman, tetapi permanen. Teguh cintanya pada Tuhan. Pelayanan dimaknai dengan pengabdian, bukan area meraih keuntungan pribadi. Sebagai sahabat, Timotius dapat diandalkan. Karena berada di samping rasul Paulus di momen2 tersulitnya. Tak heran rasul Paulus menyebutnya, “Timotius, anakku yang sejati dalam Tuhan!..” Pasti, rasul Paulus mengungkapkannya dengan bangga.

Api Dilawan Oleh Air

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Saudaraku, olah raga adalah aktivitas untuk menyehatkan tubuh. Seorang dokter suka menganjurkan agar sesederhana apapun bentuk olah raganya, kita sebaiknya berolah raga. Bisa jalan kaki. Senam ringan. Atau jenis olah raga yang lainnya. Dengan olah ragalah fungsi tubuh kita bisa terjaga baik dan fisik kita tetap segar.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” Roma 12:21

Dari olah raga selain kita memetik manfaat positifnya untuk tubuh, tetapi kita bisa juga belajar falsafah kehidupan. Dari catur kita belajar tentang strategi dan ketenangan. Dari sepak bola kita belajar saling ketergantungan dan kekompakan. Dari olah raga pula kita belajar sportivitas. Siap menang, siap kalah jika bertanding. Sebuah pelajaran mental yang berharga.

Ada satu jenis olah raga yang menarik dan juga kita bisa memperoleh hikmahnya. Olah raga yang bernama peselancar (surfing). Atlitnya menggunakan papan lalu berlomba cepat dengan gulungan ombak. Olahragawannya mengikuti arus ombak yang besar dan cepat serta harus bisa keluar dari gulungan ombak dengan tetap berdiri.

Beberapa waktu lalu, saya menonton olah raga ini, tentu lewat televisi. Seorang atlit perempuan peselancar yang hebat menyatakan kesaksiannya. Dia berkata, untuk bisa mengalahkan ombak, pertama-tama ia harus meyakinkan diri bahwa dia mampu. Jika tidak, bayang-bayang kegagalan akan membuatnya benar-benar gagal. Selain itu, dikatakannya pula, “ jangan cepat menyerah”. Olah raga ini pasti membuat atlitnya jatuh dan gagal. Tapi, menurutnya, penting untuk tetap mencoba terus sampai berhasil. Jangan jatuh pada sikap menyerah kalah.

Asyik, menegangkan dan cukup berbahaya. Atlit yang gagal dan dinyatakan kalah adalah atlit yang jatuh. Hempasan ombak bukan saja bisa membuat atlitnya jatuh, tetapi juga jika tidak hati-hati bisa menghantam tubuh atlitnya, sehingga membuat atlitnya terluka. Buat peselancar yang hebat semakin besar gulungan ombak, semakin disukai. Sebab buat mereka semakin besar tantangan untuk mengalahkan ombak itu. Ya, buat mereka ombaklah yang harus ditaklukkan bukan mereka yang ditaklukan ombak.

Saudaraku, kita bukan atlit, apalagi atlit peselancar. Tapi selama masih hidup di bawah kolong langit ini, kita menghadapi ombak dan gelombang, yakni ombak dan gelombang kehidupan. Dan ombak yang paling ganas adalah godaan memperlakukan sesama kita dengan tidak pantas. Bisa berupa ucapan kasar, hinaan, fitnah sampai perbuatan nyata yang menyakitkan hati orang lain. Orang lain jadi terluka fisik dan hatinya.

Kita yang kalah atas ombak dan gelombang kehidupan, akan digulung dan jatuh pada perbuatan yang tidak direstui Allah. Nah, supaya Anda dan saya bisa menaklukan godaan untuk berbuat tidak sesuai etika. Maka, kita memproduksi perbuatan baik. Semakin banyak berbuat baik, semakin besar kemampuan kita menaklukkan godaan berbuat jahat. Dengan singkat firman tadi menyatakan “mengalahkan kejahatan dengan kebaikan”.

Susah? Pasti. Sulit? Tentu sulit. Apalagi berbuat baik kepada seseorang yang memusuhi kita. Wah, berat. Laksana kejahatan itu api, maka kebaikan itu air. Kebaikan kita harus menyirami api kejahatan. Pasti api itu, kelak padam.

Tapi juga kita belajar dari atlit peselancar. Betapa penting menanamkan pada diri sendiri bahwa “saya bisa”. Dan “tidak cepat menyerah”.

Saudaraku, dalam hidup ada orang yang bersahabat dengan kita. Tapi entah karena apa, ada saja orang yang memusuhi kita. Tanpa kita ketahui penyebabnya, orang itu memproduksi tindakan atau ucapan yang membuat kita terluka.

Menurut firman Tuhan, kita bisa memaknai memusuhi itu pun perbuatan jahat. Lalu apa yang patut kita perbuat? Kita harus kalahkan musuh kita. Kita harus taklukan kejahatan. Dan kita punya potensi bisa. Tapi bukan dengan senjata. Bukan dengan pukulan fisik, melainkan perbuatan baik. Bukan gigi ganti gigi. Melainkan dengan kasih dan kebaikan. Dengan kekuatan Roh Kudus menjadi tumpuan kemampuan kita.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami hidup bersahabat dengan siapapun. Namun jika kami dimusuhi, mampukan kami membalasnya dengan kasih dan kebaikan.

Semoga hari ini, kami bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga. Kami dapat bergiat dengan aktivitas yang bermanfaat. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Selamat bergiat dalam kebaikan di tengah kehidupan.

Baik Tapi Munafik

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Setiap hari belakangan ini, langit di Jakarta dan sekitarnya, hujan. Kalaupun tidak, awannya mendung. Tentu ada kerepotan. Terlebih saat hujan, di beberapa titik lokasi volume air berlebihan masuk kedalam rumah. Meskipun demikian, kasih Allah tetap menemani kita. Dan itu juga berlaku hingga pagi ini.

Renungan kita bertumpu pada ucapan Tuhan Yesus, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” Matius 15:8

Saudaraku, apa yang diucapkan bibir bisa tidak mewakili isi hati sesungguhnya. Lewat bibir seseorang, alangkah terkesannya kita, bila yang terungkap adalah ucapan lembut, santun dan ramah. Apalagi disertai isinya berupa puja-puji dan janji yang manis. Namun, pesan firman Tuhan di atas memberi peringatan, bahwa bisa saja ucapan bibir itu tidak seiring sejalan dengan isi hati sesungguhnya. Kata-kata lembut seseorang, bisa berbeda dengan isi hati sesungguhnya orang itu. Yakni bisa saja penuh hatinya penuh kebencian.

Ajakan firman Tuhan untuk membangun terus kesadaran kita. Bahwa ada ketidak selarasan antara ucapan bibir dan isi hati seseorang, bahkan sebuah komunitas. Berbeda antara yang kita dengar dengan niat yang tersimpan dalam hati. Tentu, tidak mudah kita menilai seseorang. Atau, bisa saja kita keliru memahami seseorang. Kita menilai dan memahami seseorang, tentu lebih banyak bertumpu pada ucapan bibirnya. Sebab indra kita bisa mendengarnya. Begitu telinga kita mendengar suara yang keluar dari bibir seseorang begitu ramah dan santunnya, langsung kita katakan, “orang itu baik. Kepribadiannya lembut”.

Sedangkan indra kita, sulit menangkap isi hati sesungguhnya orang itu. Kita tidak punya alat canggih buat menerawang atau menditeksi isi hatinya. Tidak heran, sisi kelemahan ini dijadikan peluang bagi orang-orang yang mau membangun citra diri. Orang yang demikian, dalam kehidupan keagamaan adalah orang munafik. Ia membangun citra diri agar di mata orang banyak, dia seorang saleh. Orang suci. Orang yang punya relasi khusus dengan Tuhan.

Saudaraku, tipe orang yang demikian, adalah orang yang pura-pura. Di balik suaranya yang mengesankan, padahal tersimpan ada ketidakmurnian di dalam hatinya. Tuhan Yesus menyebutnya, “orang munafik”. Dalam bagian lain di kitab Injil, menurut Tuhan Yesus, sosok orang munafik itu diumpamakan bagaikan kuburan. Tampak luarnya indah, di balik tanahnya tulang belulang.

Saudaraku, orang munafik itu berambisi membangun diri “seolah-olah”. Seolah-olah orang baik. Seolah-olah orang terpuji. Seolah-olah penuh cinta kasih. Padahal hatinya, ya, isi hatinya yang merupakan ‘wajah asli’ dirinya tidak seperti itu. Tidak heran banyak orang terkecoh. Dalam pengalaman sehari-hari kita mendengar komentar orang yang terkecoh oleh penampilan luar. Misalnya, “gak nyangka, dia kalo ngomong halus sekali. Orangnya suka beribadah. Ternyata suka melakukan kekerasan pada istrinya.” Atau contoh lain lagi, “ah, jangan cepet percaya sama dia. Janji-janji manis terus waktu kampanye. Nyatanya, sudah dapat kedudukan, dia lupa sama kita. Kirain dia orang baik.”

Saudaraku, orang yang munafik tidak punya kemurnian niat. Dia berdoa, memberi santunan kepada yang lemah, berpuasa, itu semua dijalankan sebatas membangun citra diri. Dilakukan supaya orang lain melihat dirinya dan memujinya sebagai orang yang melakukan tindakan kesalehan. Tindakan keagamaan bukan tindakan tulus sebagai bentuk kasih kepada Allah dan sesama. Melainkan dipakai sebagai alat untuk meraih pujian sempit.

Saudaraku, sejak hari kemarin di kalangan GKP, kita merayakan peringatan penderitaan Kristus dan seluruh karya-Nya. Baik sekali kita isi dengan doa, sedekah serta puasa sebagai bentuk perendahan hati serta penyesalan atas perbuatan salah. Dengan demikian, penghayatan kita atas karya Tuhan Yesus semakin kuat.

Namun, jangan itu semua dikurangi nilainya manakala menjadi bentuk keagamaan yang dipamer-pamerkan untuk membangun citra diri. Demonstratif. “Lihat saya berdoa, lihat saya banyak memberi, lihat saya berpuasa”. Sebab, jika kita melakukannya demi dilihat, diketahui dan dipuji orang. Apalagi, diphoto dan kemudian dishare dalam dunia maya, supaya dunia tahu.. Awas, bahaya kemunafikan sedang menguntit kita. Tuhan Yesus sudah mengoreksi tindakan kesalehan yang pura-pura. Sebab, Tuhan tidak mengapresiasi kepura-puraan, melainkan menghargai kemurnian dan ketulusan. Jangan sampai ekspresi keagamaan kita mengulang hal keliru yang sama. Kita tidak mau. Kita tidak ingin bagaikan keledai yang jatuh pada lubang yang sama.