Kemalangan Mengantar Kepada Kemenangan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Begitu bangun pagi ini, sebagian dari kita masih harus berhadapan dengan genangan air. Bisa di dalam rumah, atau lingkungan sekitarnya. Marilah, kita tetap mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan diambil dari Kisah Para Rasul 18:1-3, “Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka.”

Saudaraku, ada ungkapan bahwa sekarang kita hidup di era globalisasi. Artinya, ada kesaling tergantungan antar manusia dengan manusia, atau negara dengan negara. Dan itu meliputi seluruh dunia. Secara mudah kita dapat kita kenali dari barang-barang di rumah kita. HP buatan China. Sepatu made in Vietnam. Kue-kue dari Singapur. Dll. Pola makanpun ada unsur kesamaan selera secara global. Di kota besar Amerika, orang-orang makan dengan menu ayam, kentang dan segelas minuman ringan, yang juga menu sama dikonsumsi orang di Manado sana. Belum lagi, lalu lintas orang yang bepergian dari satu negeri lainnya. Praktis, tidak ada lagi negara yang tidak beragam. Tenaga kerja kita tidak hanya ada di Malaysia, tetapi di Denmark pun mereka sampai di sana.

Dalam situasi demikian, masih saja ada orang yang tidak siap hidup bersama dengan yang berbeda. Berbeda karena agama, suku, etnis atau apapun. Yang menakutkan, ketidak siapan itu berubah menjadi prasangka dan kebencian. Lihat saja istilah “Aseng”. Satu ungkapan yang dipakai dengan ada nada kebencian terhadap etnis China. Meskipun tadi, perutnya masih suka capcai, mie, dim sum, dan HP yang dipakai buatan asal China. Masih saja merawat prasangka maupun kebencian dalam pikiran dan hati.

Saudara, sejak dulu sikap ketidak siapan hidup bersama dengan yang berbeda menuai korban. Tentu saja, korbannya adalah sekelompok orang atau individu yang tergolong minoritas. Banyak korban yang jatuh karena tindakan oknum yang tidak siap hidup dengan yang berbeda. Banyak tragedi kemanusiaan yang penuh kepedihan, terjadi akibat prasangka dan kebencian atas yang berbeda.

Saudara, sikap demikian bukan hanya gejala sekarang ini. Ternyata dari dulu sudah terjadi. Akwila dan Priskila merupakan pasangan suami istri. Mereka berdua korban dari sikap orang atau komunitas yang tidak mau menerima pihak yang berbeda. Mereka diminta hengkang dari tempat tinggalnya dan keluar dari negeri Italia. Mereka diusir karena etnis Semit. Mereka didesak keluar dengan paksa karena bukan pribumi. Kaisar memerintahkan seluruh orang Yahudi tanpa terkecuali, segera harus meninggalkan Roma.

Sedih sekali, manusia diterima atau tidaknya karena faktor agama, suku atau etnisnya. Begitu agamanya berbeda diusir. Begitu etnisnya lain, dipaksa pergi. Kepahitan dan kesedihan seperti itu, tengah menimpa seluruh orang Yahudi, termasuk pasangan Akwila dan Priskila, suami-istri tersebut. Mereka harus mulai lagi dari nol. Merintis lagi di tempat baru. Ini sungguh ujian kesabaran. Tanpa kesabaran yang kuat akan frustasi dan mengalami tekanan batin dan emosi yang berat.

Saudaraku, Rasul Paulus singgah di tempat baru Akwila dan Priskila di Korintus. Sebuah kota di Yunani. Di sana pula Rasul Paulus mengabarkan injil keselamatan. Di antara orang Yahudi ada yang menerima dan tidak sedikit menolak pemberitaannya. Karena rasul Paulus berprofesi sama dengan Akwila, yaitu tukang kemah, ia tinggal bersama mereka. Dari sanalah titik berangkat persahabatan mereka menjadi kuat. Dari sanalah pasangan suami-istri mengenal Kristus Yesus. Pengenalan yang kemudian menumbuhkan iman dan kesetiaan.

Saudaraku, dari nasib buruk karena korban kebencian etnis, ternyata menuntun mereka mengenal Kristus. Dari tragedi menjadi jalan yang mengantar Akwila dan Priskila menjadi pengikut Kristus. Dari kemalangan mengantar ke kemenangan. Tuhan mengubah nasib atau garis tangan suami-istri itu. Tuhan bisa membuat banyak cara orang sehingga akhirnya mengenal diri-Nya.

Bisa jadi, suami-istri itu tidak pernah membayangkan, dari nasib terusir mereka kemudian bisa mengenal Juru Selamat. Itulah, Saudaraku, Allah bekerja dalam segala peristiwa. Terbukti realitas yang buruk, yang pahit, yang menyedihkan, ternyata Tuhan pakai sebagai jalan, sehingga Akwila dan Priskila mengenal-Nya. Sedangkan rasul Paulus menjembatani perjumpaan mereka dengan Juru Selamatnya.

Kini, kita yang sudah mengenal-Nya, kita patut terus setia kepada-Nya. Selain Akwila dan Priskila, ada banyak yang lain, di mana mereka harus mengalami kepahitan dan kegetiran hidup dulu. Baru, kemudian mereka mengenal dan beriman kepada Tuhan Yesus. Setiap orang punya jalan mengenal Tuhan Yesus. Yang paling penting kita setia dan terus berbakti kepada-Nya. Iman kita tidak menjadi padam di tengah orang yang tidak siap hidup dalam keperbedaan.

Motivasi Pelayanan Hanya untuk Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudaraku yang baik. Puji syukur, Tuhan mendengar doa kita dan menerima permohonan kita. Dia mengabulkan keinginan kita untuk dapat beristirahat semalam.

Firman Tuhan yang kita jadikan renungan pagi ini adalah, “Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” 1 Raja-raja 19:20

Saudaraku, jika kita mempunyai kekayaan tentu kita ingin anak-anak kita mewarisinya. Kita berharap mereka bisa mengelola dengan benar sehingga harta warisan itu bertambah-tambah. Safat adalah seorang hartawan. Ternaknya banyak, tanahnya luas. Melihat perangai anaknya, bernama Elisa, tentu ia berbesar hati. Kelak hartanya yang berlimpah akan berada di tangan pewaris yang tepat. Mengapa? Elisa seorang pekerja keras dan penuh ketaatan pada orang tua.

Elisa bukan tipe pemuda kaya yang merongrong dan menghabiskan harta orang tuanya. Bukankah tidak sedikit anak muda yang berleha-leha dan kerjanya cuma ke sana kemari mengisi waktu. Malas bekerja dan tidak produktif. Anak muda yang berprinsip, ”buat apa kerja keras. Kekayaan orang tua tidak akan habis sampai beberapa generasi.” Safat sebagai orang tua tentu sangat beruntung punya anak dengan watak rajin dan tidak suka foya-foya.

Ternyata rencana Tuhan selain indah, juga melihat kepentingan orang banyak mendapat perhatian-Nya. Elisa, pemuda rajin dan berani berpeluh meski anak orang kaya, bertemu Elia. Dan perjumpaan itu memutar 180 derajat seluruh perjalanan hidupnya. Elia menawar Elisa bekerja bagi Tuhan sebagai seorang nabi menggantikannya kelak.

Saudara tawaran nabi Elia bukan ajakan ringan. Menjadi seorang nabi berarti seluruh konsentrasi hidupnya buat Tuhan. Berani menegur umat yang salah. Bersedia membimbing umat yang bandel. Dan ada satu lagi yang tidak ringan, yaitu hidup dalam kesederhanaan. Dunia mataerialistik harus ditinggalkan. Ini susah. Karena Elisa punya orang tua yang kaya yang warisannya bisa jatuh kepadanya. Ternyata, Elisa bukan “cowok matre”, istilah sekarang. Ia rela hidup tanpa gelimang harta yang ada di depan matanya.

Saudaraku, itulah sebabnya, Elisa pamit ke orang tuanya. Ia mohon restu menjalani hidup di jalan Tuhan. Semua konsentrasi hidupnya buat Tuhan dan siap hidup dengan segala kekurangannya. Di sini, kita melihat, Elia merekrut sosok tepat yang kelak menggantikannya selaku seorang nabi. Dia memilih seorang yang sudah selesai dengan hal duniawi. Hal ini, sungguh berbeda dengan gejala pemimpin agama sekarang. Justru banyak yang berlomba mencari dan menimbun harta duniawi. Elisa sudah selesai dengan urusan harta duniawi. Dia fokus pada pekerjaan buat Tuhan.

Manakala seorang hamba Tuhan belum selesai dengan orientasi duniawinya kasihan umatnya. Karena yang dilihat hamba itu atas umatnya bukan hatinya tapi melihat kantongnya. Akhirnya, yang kaya didekati dan yang miskin dijauhi. Firman ini merupakan kritik kepada mereka termasuk saya. Bahwa memenuhi panggilan Allah berarti konsentrasi melihat pelayanannya bukan harta milik umatnya. Hamba Allah hendaknya berkaca pada Elisa.Jangan sampai di kepalanya dan di benaknya roh pengabdian digantikan roh mata duitan. Roh ketulusan melayani tetap harus kita miliki.

Saya sangat mengapresiasi justru banyak pelayan non pendeta di gereja-gereja, bekerja berani berpeluh dan tanpa pamrih. Mereka yang dalam kesibukannya menyisihkan waktu, tenaga, pikiran dan komitmen melayani Tuhan. Bahkan harus ‘nombokin’, dengan dana pribadi. Menurut saya justru merekalah Elisa-Elisa jaman kini. Bersedia melayani tanpa tuntutan mendapatkan hal yang material. Mereka melayani tanpa tuntutan dan ketersediaan fasilitas. Sehingga benarlah pesan lagu, “kerja buat Tuhan selalu manise. Walau tanpa gaji selalu manise..”

Tekad Untuk Turut Jalan Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Allah yang menempatkan kita di bawah sayap pernaungan-Nya. Sehingga pagi ini, kita bangun dan menghirup kehidupan dan mengecap kasih di pekan yang baru.

Firman Tuhan yang kita renungkan, “Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. (12) Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.” Ayub 23:11-12

Saudaraku, betapa indah isi firman di atas. Menunjukkan tekad kuat orang yang mau taat. Dan orang yang ingin mengikuti jejak yang ditinggal Allah kemanapun Allah pergi. Seiring dengan itu, bersedia menempatkan ucapan Allah di tempat terbaik. Tempat terbaik adalah sanubari. Firman dalam sanubari, itu mudah terhapus dan mampu menggerakan perilaku.

Mengapa saya katakan indah? Karena pernyataan mengandung tekad kuat. Ada ungkapan komitmen. Yang terucap dari seorang Ayub. Sedangkan Ayub sendiri tengah berada dalam situasi berat. Harta yang tadinya berlimpah, telah sirna semua. Anak-anak terkasihnya telah pergi selamanya, meninggal. Sedangkan istri yang tak tahan menghadapi tragedi itu kecewa amat berat. Allah pun digugatnya. Istrinya bersimpang jalan kesetiaan dengan Ayub. Tidak cukup sampai di situ hanya itu, Ayub pun telah kehilangan kesehatan terbaiknya.

Bagaimanapun, tidak mudah menyatakan komitmen atau tekad mau taat pada saat menderita. Apalagi penderitaan tak tertahankan. Lebih mudah kita mengeluh dan menggugat. Lebih gampang menyatakan kata “mengapa?”. Mengapa saya jadi miskin? Mengapa anak2ku mati? Mengapa istriku tidak tabah? Mengapa tubuhku sakit begini rupa? Namun, tiasa terucap hal demikian dari bibir Ayub. Ia sungguh memperlihatkan yang tetap mau setia dan taat pada Allah, seperti tercermin pada firman Tuhan di atas.

Dalam kehidupan nyata, kehilangan banyak hal yang berharga menyebabkan hati seseorang patah, tak bergairah hidup. Pendiriannya limbung. Goyah. Semangat hidup hilang. Perasaan lesu. Pengalaman Ayub yang kehilangan bahkan tidak hanya harta benda, sosok-sosok tercinta pun hilang selama-lamanya. Saya yakin, ini situasi yang stressfull. Artinya, berat sekali. Orang yang tidak tahan akan stress berat. Dan orang stress kehilangan energi terbaik untuk mau melakukan keinginan dari pihak di luar dirinya. Coba saja lihat, orang yang demikian cenderung tidak mau menggubris nasihat orang lain. Apalagi, mau menjalankan tindakan tertentu. Orang yang tengah bergumul dalam situasi berat, maunya menenggelamkan diri dalam kemasa bodohan. Sekaligus hanyut dalam kepedihan.

Saudaraku, kita ingat sepenggal firman Tuhan mengatakan, “ buluh yang terkulai tidak dipatahkanya, lampu yang pudar tidak dipadamkannya”. Berkaca lewat situasi terburuk dalam pengalaman Ayub. Ia masih menyimpan rasa percaya kepada Allah. Semua memang sudah habis. Anak, istri, harta semuanya hilang. Termasuk teman-temannya yang hanya pandai menasihati dan menyalahkan dirinya. Yang masih tetap adalah Allah dan kesediaan Ayub mengikuti jalan Allah. Sungguh Tuhan tetap menguatkan Ayub di momen hidup terberatnya.

Saudaraku, sisi inilah yang menjadikan inspirasi buat kita. Kita belajar tentang ketahanan iman. Orang yang tahan iman meski jiwanya telah lelah oleh rupa-rupa kesulitan, tidak hanyut oleh arus hidup yang berat. Dia tidak tenggelam oleh badai kehidupan yang menakutkan. Tapi, tetap jalan hidupnya mengikuti suara Allah. Sulit. Tapi, Ayub membuktikan bersama Tuhan itu bisa. Semoga, iman yang demikian dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Hati yang Memberi

Oleh Pdt. Supriatno

Akhir pekan telah tiba. Sejak Senin, kita menikmati perjalanan hidup yang kita tempuh. Ada aktivitas rutin, yang berulang kita tekuni dan geluti, seperti pekerjaan. Ada pula hal- hal tak terduga yang hadir mewarnai hidup kita. Entah senang, atau susah. Dan kini, kasih Tuhan tetap menemani. Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Cinta kasih Tuhan terus menemani.

Kita akan merefleksikan firman Tuhan untuk pagi ini, dari 1 Raja-raja 17: 9, “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

Saudaraku, tentu kita pernah mendengar nasihat, atau jangan-jangan kita pun pernah mengutarakannya, “kiranya yang kuat menolong yang lemah. Yang kaya mengulurkan tangan ke orang miskin”. Nasihat bijak agar tumbuh sikap peduli. Ya, yang kuat jangan menutup mata atas kesusahan yang dihadapi yang lemah. Yang miskin jangan tercecer tanpa topangan orang secara finansial kuat. Peduli dan berbagi merupakan praktik ideal yang patut diwujudkan.

Meskipun demikian, nasihat demikian patut dihindari dari kesalah mengertian. Apa itu salah mengerti? Nasihat yang indah dan seindah jika menjadi tindakan nyata itu, seolah-olah kita baru membantu bila telah kuat lebih dahulu. Tafsir seperti itu, berarti kita akan membantu yang lemah, ya, tapi nanti setelah kita kaya. Sesudah kita maju baru kita membantu. Mana kala ada pihak yang sedang susah, tak berdaya, kritis, kita hanya melihat dan diam. Kenapa? Ya, kita belum kaya secara materiil. Kita akan berdalih, “nanti bila saya sudah kaya. Itulah saatnya tiba saya mengulurkan pertolongan”.

Saudaraku, pola pikir demikian tentu kita kurang setuju. Sayangnya, praktik itulah yang kerap terjadi. Sebuah Jemaat enggan berbagi atau berperan serta meringankan kesulitan Jemaat lain, memakai alasannya tadi. Jemaat kami kecil. Kami belum menjadi Jemaat yang kaya. Nantilah! Atau juga, dengan dalih lebih yang bernada tajam, “saya saja masih susah, masa sih saya musti bantu. Gak salah, tuh!

Sudah janda, miskin lagi. Suatu kombinasi yang menunjukkan perempuan yang ditemui nabi Elia ini orang kecil dan lemah. Status janda waktu itu menunjukkan posisi sosial rendah, miskin menandakan secara ekonomi perlu bantuan. Jelas, perempuan itu tipe yang membutuhkan pertolongan. Dia wujud konkrit orang susah. Masa depannya buram.

Tapi, apa yang kita lihat? Ke perempuan itu nabi Elia diarahkan Allah untuk mendapatkan makanan. Ke sang janda dan miskin itu, Allah memerintahkan Elia mencari pertolongan. Jika bertukar posisi dengan nabi Allah itu, bukan tidak mungkin terbersit kesangsian, “ apakah tidak salah Allah menyuruh ke sana?” Apa yang bisa didapatkan dari orang, yang dirinya sendiri musti dibantu? Perempuan itu tudak layak dimintai, yang pantas ia yang diberi.

Saudaraku, janda dan miskin. Hidup perempuan itu pasti berat. Pertanyaan apakah besok bisa makan, adalah pertanyaan utama dalam sosok perempuan itu. Dan, lihatlah, saat nabi Elia meminta makan, yang tersedia cuma sepotong roti untuk penyambung hidup hari itu. Sepotong kecil roti dan kayu untuk mengolahnya. Tak lebih dari itu. Sepotong roti yang jadi satu-satunya konsumsi untuk anaknya hari itu. Esok, adalah hari ketidak jelasan.

Bisa jadi, nabi Elia bergumul batinnya saat meminta makan. Sebab, dengan meminta roti itu, ia sama dengan merampas sumber hidup satu-satunya milik janda itu. Bahkan, roti itu pun buat anaknya. Begitu pula, sang janda miskin, ia pasti bergumul hebat pula. Batinnya terombang-ambing. Memberikan roti itu, lalu bagaimana dengan dirinya dan anaknya? Jika tidak memberi, Elia adalah seorang nabi. Dia harus mendapat bantuan sebagai utusan Allah, Sang Pemberi hidup. Dalam kekurangan harus memberi, bagaimanapun sungguh merupakan momen pergumulan tidak mudah.

Saudaraku, kita tahu akhir kisah ini. Si janda miskin bisa keluar dari pergumulan. Ia lolos dari dilema. Ia memilih memberi di tengah ketidak berdayaan. Ia membantu, pada saat dirinya sendiri pada posisi sebagai pihak yang musti dibantu. Almarhum Bunda Theresa menyatakan, “ jika mengasihi, mengasihilah sampai terluka”. Ini contoh nyata. Janda miskin itu memberi bukan dari kelebihan tapi dari kekurangan.

Hari ini, posisi kita di mana? Jika kita sekarang adalah orang yang kuat secara sosial dan ekonomi. Ulurkan tangan untuk mereka yang lapar dan haus. Kekuatan kita menjadi kekuatan yang memberdayakan pihak yang butuh bantuan. Jika saat ini, kita belum maju dan kuat, ternyata firman Tuhan mengetuk kita, bahwa kita pun harus berbuat terhadap mereka yang amat membutuhkan. Jangan tunggu nanti, tatkala Allah meminta kita untuk peduli dan berbagi.

Setara di Hadapan Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Seiring dengan mentari terbit di timur. Kita memasuki hari baru. Saat mata terjaga, itulah tanda Tuhan percaya atas kita. Agar kita terus melanjutkan hidup untuk berkarya dan memelihara iman, pengharapan dan kasih.

Mari kita berefleksi hari ini dengan berpijak pada sepenggal firman Tuhan, dari “Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: (7) “Perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar; memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya di tengah-tengah saudara-saudara ayahnya; engkau harus memindahkan kepadanya hak atas milik pusaka ayahnya.” Bilangan 27:7

Saudaraku, orang tua semasa hidup, mereka melengkapi dan memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya hingga anak-anaknya mandiri. Itu merupakan panggilan dan kewajiban orang tua. Alami. Setiap orang tua tak terkecuali terikat pada hal itu. Bilamana orang tua meninggal, bahkan harta kekayaan yang dimilikinya pun ditempatkan agar anak-anaknya mampu melanjutkan kehidupannya. Di situlah tempat dan fungsi apa yang kita kenal dengan nama warisan.

Orientasi orang tua adalah memberi ruang dan fasilitas hidup bagi anak-anaknya. Kesejahteraan menjadi visi utama orang tua buat keturunannya. Berkenaan dengan warisan, kerap menjadi hal polemik. Karena harus dibagi di antara anak-anak, ternyata itu bukan perkara mudah. Paska kematian orang tua, ada anak-anak yang berhasil dan bijaksana mengatur pembagian. Ada pula kisah yang gagal. Tidak heran warisan bukannya menyejahterakan, malah keutuhan persaudaraan terganggu. Konflik meletup. Ketidak sepahaman antara saudara terjadi. Akhirnya, warisan bukan menjadi berkat, malah menghancurkan nilai persaudaraan.

Saudaraku, hal warisan tidak semata-mata soal bentuk yang diwariskan. Melainkan juga berkaitan dengan posisi dan pembagian. Siapa dapat berapa. Beragam pola pembagian warisan di tiap masyarakat. Di Israel jaman Musa, seorang anak sulung mendapat hak 2 kali lipat dari anak laki2 lainnya. Sedangkan anak perempuan tidak mendapat jatah warisan sama sekali. Dari pola pembagian hak warisan itu, kita dapat melihat bagaimana posisi laki dan perempuan. Jelas, ada ketidak setaraan. Laki-laki diistimewakan sedangkan perempuan dipandang lebih rendah.

Saudaraku, lima orang perempuan bernama “Mahla, Noa, Hogla, Milka dan Tirza”. Mereka mengadu. Mengeluh. Sekaligus menuntut hak waris. Posisi kelima perempuan ini haknya tidak tertampung atau terakomodasi dengan pola pembagian warisan yang ada. Padahal orang tua mereka tidak memiliki anak laki2. Kasus ini baru buat Musa. Demikian juga bagi imam, pemimpin dan masyarakat waktu itu. Karena kasus baru, tentu tidak mudah diputuskan. Karena kasus baru, tidak ada rujukan keputusan sebelumnya yang bisa dipakai.

Kitab Bilangan kemudian mengisahkan, Musa berkonsultasi dengan Allah tentang perkara itu. Tindakan Musa sangat terpuji. Dia tidak gegabah cepat memutuskan. Sekaligus agar terhindar dari keputusan keliru. Dan ternyata Allah membenarkan tuntutan lima perempuan atas hak waris mereka. Dalam perintah-Nya, Allah tidak ingin perempuan kehilangan haknya hanya karena mereka perempuan.

Saudaraku, Allah membenarkan tuntutan hak kelima perempuan itu, menandakan aturan, hukum atau norma harus mencerminkan keadilan. Dan keadilan akan terlihat ketika bagaimana perempuan diperlakukan setara dengan laki-laki. Sehingga sebuah masyarakat, gereja bahkan negara yang adil yaitu manakala perempuan dlindungi hak-haknya setara dengan laki2. Dengan kata lain, bagaimana perempuan diperlakukan merupakan gambaran nyata apakah ada keadilan atau tidak.

Saudaraku, syukurlah dalam kehidupan gereja dan keluarga kristiani, posisi perempuan sudah setara. Pendeta laki-laki dan perempuan tidak dibeda2kan hak dan kewajibannya. Kita menganggap sudah bukan jamannya dalam kepanitiaan atau komposisi majelis jemaat, perempuan hanya di posisi “ngurusin” konsumsi atau bendahara. Perempuan cakap menjadi top leader, ketua. Orang tua menyekolahkan setinggi mungkin, tidak hanya untuk laki-laki, tapi juga untuk anak perempuan. Kita menempatkan anak laki dan perempuan sama istimewanya. Sama-sama dikasihi dan diperhatikan dengan bobot sama.

Telah jauh pencapaian kita. Meski demikian, kita tidak boleh menutup mata di sana-sini, perlakuan ketidak setaraan masih ditemukan. Di keluarga anak perempuang diminta ngalah kepada anak laki-laki jika ada prioritas yang harus dilakukan. Yang mengenaskan, praktik-praktik kekerasan masih marak atas perempuan. Kekerasan di dalam rumah tangga mayoritas korbannya adalah perempuan. Mari, sebagai keluarga kristen dan selaku Gereja, kita menjunjung tinggi kesetaraan. Dan itu menjadi bentuk kesaksian kita.