Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 8:24

Lebih Baik Didoakan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Salah satu hal alami dan sekaligus karunia Tuhan adalah istirahat tidur. Puji Tuhan, semalam kita menjalaninya dalam lindungan Tuhan. Pagi ini, kita bangun dan menyongsong hari baru. Bahan refleksi harian: Kisah Para Rasul 8:24

Jawab Simon: “Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu.”

Kisah Para Rasul 8:24

Saudaraku, semua orang beriman atau beragama pasti suka berdoa. Terlepas setiap orang punya kerajinan atau intensitas masing-masing. Ada yang begitu teramat rajin, namun ada juga yang naik-turun kerajinannya, bahkan ada yang ‘kendor’.

Dalam doa yang bersifat permintaan, sang pendoa tidak hanya mendoakan diri sendiri. Orang lain pun, baik orang yang punya hubungan dekat maupun jauh, menjadi bagian doa seseorang. Orang tua, saudara kandung, pasangan hidup dan anak-anak atau orang yang dikenal, bisa jadi nama yang paling kerap ada dalam sebuah doa.

Doa bukan cuma rangkaian kata semata. Demikian pun bukan sekedar tangan terlipat. Doa mencerminkan perhatian dan keperdulian kita. Dalam hal ini tertuju kepada nama-nama yang didoakan itu. Doa yang sungguh-sungguh selain dipanjatkan kepada Tuhan dengan hati yang tulus. Seiring dengan itu, pertanda hati kita terpaut dengan pihak yang didoakan.

Saudaraku, ada seorang ahli sihir dan hipnotis bernama Simon Magus. Karena kehebatan dan kekuatan magisnya, ia banyak dikagumi orang. Suatu saat ia melihat di tengah-tengah kekaguman orang-orang atas dirinya, muncul Filipus, Petrus dan Yohanes. Simon Magus merasa kecil dibanding ketiga rasul itu. Kehebatannya tidak ada apa-apanya. Bahkan, Simon Magus bertobat setelah melihat mukjizat yang dikerjakan Filipus.

Tidak berhenti pada rasa kagum, Simon Magus ternyata ingin memiliki Roh Kudus. Ia terpikat untuk mampu berbuat mikjizat pula. Sayangnya, motifnya keliru. Ia hendak memanfaatkan buat kepentingannya. Dalam rangka itu, dia siap membayar atau membeli kuasa Roh Kudus.

Reaksi kemarahan meletup pada diri Petrus. Sampai-sampai rasul Petrus berkata, “Binasalah kiranya uangmu itu…sebab hatimu tidak lurus… Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini”.

Saudaraku, keras sekali ucapan rasul Petrus. Merespon hal tersebut, Simon Magus ketakutan. Ia minta didoakan, agar ucapan rasul Petrus tidak menjadi kenyataan dalam hidupnya.

Jadi, doa tidak hanya buat orang yang kita kasihi dan sesama yang punya ikatan relasi dalam hidup kita. Melainkan juga, doa ditujukan buat orang yang hatinya tidak lurus. Untuk apa? Yakni menghjndarkannya dari resiko akibat kesalahannya. Sekaligus, orang itu menata kembali langkah hidupnya.

Saudara, nyatalah doa juga kiranya kita panjatkan buat orang yang salah jalan. Keliru dalam bertindak. Mereka yang hatinya bengkok, atau tidak lurus.

Dengan demikian, daripada kita menghakimi orang yang bersalah, lebih baik didoakan. Daripada bergosip ria buat yang salah jalan, lebih indah orang itu didoakan. Sehingga doa kita menjadi permintaan kepada Tuhan supaya Dia memberikan pengampunan. Sekaligus, yang bersalah menemukan kembali jalan yang benar. Siapkah kita untuk melakukan itu? Semoga.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya kami mau berdoa buat orang-orang yang tengah tersesat jalan kehidupannya. Agar kiranya Engkau membawa kembali ke jalan yang benar.

Pulihan dan sembuhkan saudara kami yang tengah sakit, baik di rumah sakit maupun dirawat di rumah.

Kasih-Mu kiranya beserta saudara kami yang memasuki lansia atau usia senjanya. Semoga mereka tetap menemukan alasan buat bersuka cita dan bersyukur di dalam Engkau.

Doa kami ini, kami panjatkan dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 8:24

Refleksi Harian: 2 Samuel 12:9a

Terbuka Menerima Nasihat

Selamat pagi, Ibu-bapak, eyang kung-eyang putri dan Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan. Kini, kita memasuki pagi di hari pertama bulan Nopember. Kita bersyukur atas hari-hari dijalani dalam tuntunannya. Bahan refleksi harian: 2 Samuel 12:9a

Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya?

2 Samuel 12:9a

Saudaraku, menyampaikan sesuatu dengan lembut lembut bukan berarti lemah, dan menyampaikan sesuatu dengan nada tegas bukan berarti kasar. Kombinasi lemah lembut dengan ketegasan merupakan paduan serasi untuk mengingatkan orang lain yang jatuh dalam dosa. Jika hanya disampaikan dengan lembut, seolah-olah tidak perlu digubris. Sedangkan jika cuma tegas, orang yang diingatkan bisa marah dan tersinggung.

Orang yang bisa meramu dua pendekatan tersebut sungguh pribadi yang hebat, matang dan taktis. Dalam hal ini ada pada diri Natan, seorang nabi di jaman Daud berkuasa sebagai raja. Natan hebat, karena tidak semua orang berani mengutarakan kesalahan, menegur dan sekaligus menjatuhkan sangsi kepada orang besar. Dalam hal ini seorang raja, ya raja Daud. Seorang raja yang punya reputasi gemilang dalam menghadapi musuh dan berhasil membangun negerinya. Tapi, berbarengan dengan itu, Daud tergelincir. Ia menyalah gunakan jabatannya untuk melakukan tindakan amat merugikan orang-orang dekatnya. Dalam hal ini merebut Batsyeba dari Uria, suaminya yang sah.

Betul, sebagai seorang nabi, Natan mempunyai tugas menegur dan mengajak semua orang yang bersalah untuk bertobat. Tugas itu harus dilakukannya tanpa pandang bulu. Tapi, siapapun tahu, pada prakteknya betapa sulit melakukan tugas kenabian ditujukan kepada orang besar, orang kaya, berpengaruh dan orang berkuasa. Sebab, jika orang sekaliber demikian tidak mau terima, akan menimbulkan akibat yang jauh. Bila tersinggung, maka menimbulkan kekalapan yang membahayakan. Pejabat yang tersinggung pasti berbeda dengan rakyat jelata yang tersinggung.

Di sinilah, kematangan nabi Natan. Ia membeberkan lembaran kelam kehidupan Daud tidak dengan cara tembak langsung. Ia memakai perumpamaan. Perumpamaan tentang kesewenang-wenangan orang kaya yang memperdayai orang kecil dan lemah. Lewat penggunaan perumpamaan ini, menggugah Daud. Daud diajak menyadari orang kaya dalam perumpamaan itu salah, dan ia memiliki panggilan untuk mengkoreksi tindakan orang kaya itu, dan membela yang miskin.

Dengan cara memakai perumpaan itulah Natan menyatakan, bahwa orang kaya yang dimaksud adalah Daud, “Engkaulah orang itu.” Tentu saja Daud tidak berkutik. Sadarlah dia. ia ternyata telah bertindak hal yang jahat kepada Tuhan. Namun, karena cara Natan menyingkapkan dosanya dengan pola lemah lembut, meski pahit Daud mau mengakuinya. Sekaligus ia bersedia menerima sangsi atau hukuman dari Tuhan.

Saudaraku, penolakan untuk diberitahu bahwa ada hal yang keliru pada dirinya, bisa terjadi pada setiap orang. Bisa dengan dalih, “ini, kan urusan pribadi saya. Saudara sebaiknya jangan ikut campur.” Orang seperti itu sebenarnya takut bahwa niat baik seseorang akan merusak nama baiknya. Daud, meski seorang raja saat ia tersingkapkan telah melakukan kesalahan. Mata batinnya menuntun jiwanya terbuka menerima dengan penyesalan.

Daud bersikap demikian. Pertama, karena cara pendekatan Natan yang tepat. Tidak membuat ia tersinggung, walau pasti dia berat menerima kenyataan itu. Kedua, ia menghormati wibawa ilahi yang ada pada Natan. Ia sadar, Natan melakukan fungsi menasihati dan menegur bukan untuk menjatuhkannya. Daud sadar justru nasihat nabi Natan membuat dirinya tidak makin jatuh lebih dalam. Di matanya, nasihat dan teguran nabi Natan memang pahit dan menyakitkan tapi menghindarkannya dari situasi lebih buruk, dan lebih buruk lagi.

Saudaraku, kita sadar bahwa kita ini manusia. Sebagai manusia hal yang tidak bisa kita hindari adalah berbuat salah.

Patut kita camkan bahwa, justru dengan teguran itulah kita bisa mengevaluasi hidup kita. Benar atau salahkah yang sudah kita perbuat? Semoga kita belajar dari kedua tokoh itu di hari baru.

Kita berdoa: Tuhan, bagaimanapun kami punya kesalahan dan dosa. Kiranya kami bersedia terbuka atas nasihat sesama kami dan untuk memperbaiki diri. Sehingga melangkah ke depan lebih baik lagi.

Kami ingin mendoakan Saudara kami yang bertambah usia. Kiranya hari-hari dianugerah-Mu, ya Tuhan, membawa suka cita dan syukur. Mereka terus berjalan bersama berkat-Mu yang indah. Panjang umur dan bahagia.

Kami ingat, para remaja dan pemuda kami. Kiranya mereka terus tekun dalam menimba ilmu dan bekerja dengan rajin serta cerdas dalam mengembangkan diri.

Sertai langkah kami di sepanjang bulan Nopember ini. Dalam nama Yesus kabulkanlah doa kami. Amin.

Happy monday.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 2 Samuel 12:9a

Refleksi Harian: 2 Tawarikh 16:10

Terbuka Terhadap Nasihat

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Malam telah berlalu, pagi baru telah tiba. Kasih Tuhan tetap menyertai kita. Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Bahan refleksi harian: 2 Tawarikh 16:10

Maka sakit hatilah Asa karena perkataan pelihat itu, sehingga ia memasukkannya ke dalam penjara, sebab memang ia sangat marah terhadap dia karena perkara itu. Pada waktu itu Asa menganiaya juga beberapa orang dari rakyat

2 Tawarikh 16:10

Saudaraku, dalam suatu kunjungan ke seorang warga jemaat yang dirawat di rumah sakit. Kamar perawatannya tenang sekali dan tidak sedikitpun suara dari luar terdengar. Padahal lokasinya tidak jauh dari jalan raya yang amat sibuk. Saya melihat mobil mundar-mandir. Padat sekali. Lalu, dalam kepenasaran saya membuka sedikit jendelanya. Langsung suara deru mobil dan klakson riuh terdengar masuk. Spontan saya tutup lagi. Maka kamar itu tenang sekali. Kembali tidak ada suara sedikitpun masuk. Itulah namanya kedap suara.

Suara sekeras apapun tidak bisa tembus ke sebuah kamar yang kedap suara. Bagaimana jika ada orang yang telinga dan hatinya tidak mendengar suara apapun dari luar? Ia tidak perduli suara dari siapapun. Ia terus melakukan apa yang dalam penilauannya benar. Wataknya laksana kamar kedap suara tersebut.

Raja Asa, memerintah 41 tahun. Menandakan betapa hebatnya dia, sehingga bisa berkuasa selama itu. Orang yang berkuasa di sebuah jabatan bisa dua kemungkinan. Dia berhasil dan sangat disukai. Atau, dia berkuasa dengan tangan besi. Yang tidak suka dibungkam.

Sosok raja Asa merupakan figur yang sukses. Ia hebat. Dia politikus yang licin bagai belut. Untuk mengalahkan seseorang dia sangat cerdik. Jika pakai jalan kekerasan tidak mempan, dia pakai pendekatan suap. Dia tahu, salah satu kelemahan manusia adalah pada nafsu terhadap harta.

Lalu, buat seorang nabi kiprah raja Asa menjadi sasaran nasihat. Nabi Hanani melihat ada ketidak beresan. Di matanya raja Asa mengelola kekuasaan tidak sesuai keinginan Allah. Raja Asa lebih bertumpu pada kekuasaan. Dia tidak bersandar pada Allah.

Saudaraku, suara nabi mencerminkan keinginan Allah. Dalam hal ini agar raja Asa memperbaiki diri. Tapi, sebagai orang yang “kedap suara”, ia tidak menggubris suara kenabian. Suara kejujuran nabi dinilainya mengganggu. Karena tidak berupa pujian dan dukungan.

Akibatnya, raja Asa marah ke sang nabi. Sekaligus kepada rakyat yang menyuarakan pesan yang sama. Ia mengganjar mereka dengan hukuman penjara. Di mata raja Asa suara kebenaran yang diutarakan mereka merecoki kekuasaannya.

Saudaraku, Alkitab menyatakan bahwa ”Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.”. Artinya, ada orang yang tertutup atas ajaran yang benar. Termasuk nasihat yang benar. Mengingat suara seperti itu mengusik ketenangannya. Bukankah suara kejujuran berkata salah adalah salah. Dan bodoh adalah bodoh, seperti yang dikatakan nabi Hanani.

Saudaraku, di akhir pekan ini, kita terbuka atas suara yang ingin memperbaiki diri kita. Selama pekan ini tentu ada ucapan, tindakan dan keputusan yang keliru yang lahir dari kita. Tatkala ada suara kebenaran datang, kita menyambutnya. Jangan “ kedap suara” atasnya.

Kita berdoa: mampukan kami untuk terus memperbaiki diri dan mengikuti suara kebenaran-Mu.

Kami bersyukur dan ikut bersuka cita pada hari ini, bagi mereka yang mendapat usia baru. Berkatilah hidup mereka. Limpahi dengan kesehatan, kegembiraan, kebahagiaan dan damai sejahtera. Keluarga mereka pun kiranya merayakannya dengan penuh syukur, kehangatan dan antusias.

Berkati orang tua kami, opa-oma kami, anak2 dan cucu2 kami, cicit2 kami, segenap saudara, kerabat dan terlebih juga pasangan hidup kami. Dia yang Engkau berikan sebagai pendamping hidup kami. Buatlah agar kami tetap setia dan mencintainya.

Doa ini, kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 2 Tawarikh 16:10

Refleksi Harian: Nehemia 6:14

Gigih Menuntaskan

Selamat pagi, ibu-bapak, kakek-nenek dan saudara-saudaraku yang baik. Waktu terus bergulir. Perjalanan hidup kita berlanjut. Ada yang sehat, ada yang sembuh dari sakit, ada pula yang tengah menantikan pemulihan dan kesehatan. Dalam keragaman itu, kita tetap bersyukur. Bahan refleksi harian: Nehemia 6:14

Ya Allahku, ingatlah bagaimana Tobia dan Sanbalat masing-masing telah bertindak! Pun tindakan nabiah Noaja dan nabi-nabi yang lain yang mau menakut-nakutkan aku

Nehemia 6:14

Saudaraku, mengabdi pada pekerjaan mulia tidak otomatis semua orang mendukung. Meskipun yang kita kerjakan tidak punya motif mencari uang, ada saja yang kontra. Ada saja yang keberatan. Nehemia mengalami pengalaman demikian. Ia direcoki dan dihalang-halangi dalam membangun tembok Yerusalem.

Ia tinggalkan pekerjaan bergengsinya, lalu “pulang kampung”. Sebagai juru minuman raja jelas itu pekerjaan yang amat dipercayai raja. Kenalannya kelas atas. Pergaulannya luas dari berbagai kalangan. Tapi, hatinya pedih mendengar nasib buruk yang menimpa kota Yerusalem. Ia memutuskan meninggalkan gaya hidup istana, serba bersih dan mudah.

Kemudian berganti dengan pekerjaan penuh keringat, tenaga terkuras, tanpa fasilitas lengkap. Tapi itu tadi, pengorbanan begitu besar tidak semua orang mengapresiasi. Ada yang memfitnah, ada yang menakut-nakuti. Bahkan tembok yang sudah dibangun ada yang merusaknya.

Tadi, firman Tuhan menyebut nama Sanbalat. Ia tokoh berpengaruh. Tapi, selalu memusuhi Nehemia malah musuh terbesarnya. Begitu pun Tobia, tokoh licik. Kedua orang itu melancarkan ejekan, ancaman, melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan Nehemia.

Saudaraku, tidak hanya dua orang itu saja yang nyinyir atas niat mulia Nehemia. Ternyata ada juga nabi perempuan dan nabi-nabi lain. Mereka masuk golongan yang tidak merestui pekerjaan Nehemia. Tokoh masyarakat dan tokoh agama keliru sikap. Sama-sama kontra pekerjaan luhur dan mulia.

Kita bisa membayangkan betapa lelahnya Nehemia. Lelah fisik dan juga lelah batin, menghadapi rongrongan dan intimidasi mereka. Jika ia tidak punya mental baja, ia sudah mental. Terlempar. Jika ia tidak mengandalkan Tuhan dan sahabat lain yang simpatik, dia sudah menyerah. Mengapa? Karena bekerja buat hal mulia perlu ditopang banyak hal. Finansial tentu perlu. Tapi sikap gigih dan tahan uji juga penting.

Saudaraku, tidak hanya dulu kini pun terjadi. Tatkala kita atau gereja hendak berbuat baik di tengah masyarakat. Ada yang bersimpati dan mendukung. Ada pula yang mencurigai. Seolah-olah di balik kegiatan kita ada agenda atau niat buruk dan busuk.

Pengalaman Nehemia, selama ia tidak bertindak curang. Ia mengajak serta pihak lain yang hatinya bersih. Dan melibatkan Tuhan dalam pekerjaan. Akhirnya Alkitab menyatakan “Maka selesailah tembok itu pada tanggal dua puluh lima bulan Elul, dalam waktu lima puluh dua hari.”

Mari kita berdoa: Tuhan, saat kami berniat mengerjakan hal mulia, kiranya kami gigih menuntaskannya. Meski ada yang menghalang-halangi.

Tuhan, bagi yang berulang tahun, karuniakan hidupnya dengan hati gembira. Sehingga di tengah suka cita dan bahagia, dia menjadikan hidupnya sebagai garam dan terang. Berikan kebahagiaan dan panjang umur.

Tuhan, berkenanlah berada dekat dengan mereka yang mengalami pergumulan pribadi dan keluarga. Semoga Tuhan memberi solusi bagi mereka.

Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Nehemia 6:14

Refleksi Harian: Mazmur 139:1-3

Semua Transparan

Puji Tuhan. Ketika kita membuka mata, pagi baru telah tiba. Dan Tuhan tetap sayang kepada ibu-bapak, oma-opa dan saudara-saudaraku yang baik. Kiranya di hari baru kita merasa kesinambungan kasih-Nya. Bahan refleksi harian: Mazmur 139:1-3

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.”

Mazmur 139:1-3

Saudaraku, Tuhan mengenal kita amat dekat. Saking dekatnya, Ia tahu isi pikiran, hati dan apapun yang kita perbuat. Tidak ada tabir setebal apapun yang bisa menghalangi Tuhan melihat keberadaan kita.

Meskipun demikian, tidak sedikit orang lupa atau mengabaikan hal tersebut. Bisa jadi gelap mata dan gelap nurani sehingga ucapan dan tindakannya dilakukan seakan Tuhan tidak tahu.

Saudaraku, suatu hari seorang kakak-adik mengunjungi kediaman kakeknya, sekaligus pertaniannya. Kakeknya menyarankan sang cucu lelakinya bernama Johny bermain-main di hutan dekat rumahnya. Sambil si kakek membekali dengan sebuah ketapel.

Sayangnya, tidak ada seekor binatang pun yang bisa dibawa pulang. Dengan hati kesal, ia balik ke rumah kakeknya. Selanjutnya, ia melihat seekor bebek, yang sesungguhnya binatang yang amat disayangi neneknya. Diluapi rasa kesal ia mengarahkan ketapelnya yang berisi batu ke arah bebek itu. Eh, ternyata kena tepat di kepalanya dan langsung mati.

Cucu lelaki itu panik, takut dan sedih. Segera dengan diam-diam dia kubur bebek malang itu, lalu ditutupi tumpukan kayu. Ternyata kakak perempuannya bernama Sally, melihat semua kejadian itu. Namun ia tidak berkata sepatah kata pun.

Setelah makan malam, neneknya meminta Sally untuk mencuci alat-alat makan. Tapi, Sally berkata, “Nek, Johny berkata padaku, ia yang mau mencucinya”. Lalu Sally menghampiri Johny dan berbisik, “Ingat bebek mati itu?” Johny akhirnya yang mencuci.

Beberapa hari kemudian, kakeknya bertanya apakah cucunya mau memancing. Neneknya berkata, “Kek, Sally aku mau minta membantu menyiapkan makan malam”. Sally tersenyum dan berkata, “Tapi Johny tadi bilang, dia yang mau menyiapkannya, Nek”. Dia berbisik lagi ke Johny, “Ingat, bebek itu?” Akhirnya Sally senang-senang memancing, sedangkan Johny bekerja.

Akhirnya, lama-lama Jhony tak tahan. Ia mendatangi neneknya dan mengaku tindakannya. Neneknya memeluk Johny dan berkata, “ Aku tahu, sayang. Karena waktu itu nenek sedang berdiri dekat jendela dan melihat seluruh kejadian itu. Nenek mencintaimu dan telah mengampunimu. Hanya, nenek ingin tahu berapa lama kau mau sembunyikan kejadian itu?”

Saudaraku, Tuhan maha tahu segala peristiwa, termasuk kesalahan yang kita lakukan. Di hadapan-Nya semua transparan. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Tak ada pula yang bisa ditutup-tutupi. Hanya, setelah melakukan kesalahan atau dosa, berapa lama kita menunda untuk mengaku dan memohon pengampunan-Nya. Jangan terlambat, karena keterlambatan bisa merugikan kita sendiri secara fatal. Jangan sampai penyesalan kita terlambat, sebab kita tidak tahu umur kita. Selain itu, Tuhan selalu menanti momen kita memohon pengampunan. Kita bisa bersembunyi dari mata manusia, tapi mata Tuhan dapat melihat apapun dalam diri Anda dan saya.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya kami memohon pengampunan-Mu, sebab Engkau Maha Pengampun dan Maha Tahu segalanya dengan ucapan, sikap dan segenap diri kami.

Bagi yang ulang tahun, berkat Tuhan yang indah beserta saudara kami. Berilah kebahagiaan dan panjang umur. Demikian juga keluarga bersuka cita.

Tuhan, Kami serahkan para lansia, orang tua kami yang sudah sepuh. Kami percaya kehadiran-Mu membahagiakan mereka. Hadirlah atas mereka. Yang sakit diringankan. Yang kesepian dihiburkan. Dan para anak-anak dan keluarga memberi perhatian yang cukup.

Lindungilah kehidupan anak-anak jemaat, baik yang balita maupun remaja dan pemuda. Yang sakit jamahlah agar sembuh. Dan yang mencari jati diri, kiranya mereka menemukan jati diri yang menuntun ke perkembangan diri yang baik dan sehat.

Seluruh doa ini, kami panjatkan dalam nama Yesus. Kabulkanlah, ya, Tuhan. Amin.

”Cara berpikir yang berkenan kepada Tuhan dan sesama, kelak membentuk watak penuh cinta kepada-Nya dan sesama.”

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Mazmur 139:1-3