Menjadi Gereja Tua Baru

Oleh Pdt. Hariman Pattianakotta

Covid-19 yang mengguncang dan menggebuk manusia di berbagai belahan dunia berdampak pada banyak instansi dan aspek. Covid-19 bukan hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi masalah kehidupan, sebab hampir semua aspek terdampak.

Gereja adalah salah satu instansi atau persekutuan yang terkena imbas Covid-19. Ibadat-ibadat ragawi yang biasa dilakukan secara terpusat di gedung-gedung gereja, kini dilakukan di rumah masing-masing. Yang paling fenomenal adalah ibadat on line atau daring. Covid-19 mempercepat gereja-gereja masuk ke dalam kehidupan masyarakat industri 4.0. Ibadat atau persekutuan yang dilakukan secara daring dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi telekomunikasi itu, kini mulai dinikmati sebagai new normal. Anak-anak milenial, khususnya mereka yang hidup di perkotaan, mungkin lebih suka dengan model ibadat dan persekutuan yang demikian.

Jika kita mengikuti ibadat yang berlangsung secara virtual atau daring, sebenarnya tidak ada yang berbeda secara signifikan dengan model ibadat yang biasa dilakukan pada masa sebelum pandemi. Ibadat ragawi di gedung gereja hanya dipindahkan ke dalam dunia virtual, yang tentu meniadakan kontak fisik. Namun, berbagai unsur ibadat tetap sama. Firman yang ditaburkan juga sama. Lantas, pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah pasca Covid-19 ibadat daring ini bisa tetap dipertahankan?

Menurut saya, ibadat daring ini bisa terus dilanjutkan sebagai new normal, namun bukan untuk menggantikan ibadat ragawi yang dilakukan di gedung gereja. Siaran langsung bisa tetap dipertahankan bagi mereka yang tidak sempat datang beribadat di gedung gereja karena alasan-alasan tertentu, seperti sakit, usia lanjut, atau sedang berada di luar kota. Lebih menarik lagi, ibadat ini bisa mengatasi kesulitan jemaat-jemaat yang sukar membangun gedung gereja, misalnya karena tidak mendapat ijin dari lingkungan dan sulit menembus birokrasi yang kadang membebek pada desakan para perusuh dan pengganggu kebhinekaan.

Dalam komunitas Kristen perdana yang sulit beribadat karena dihambat, mereka beribadat di rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, ada yang beribadat di gua-gua dan katakombe atau kuburan. Mereka bertemu beberapa saat, membaca firman dan berdoa, kemudian kembali ke dalam kehidupan sehari-hari untuk melakukan ibadat yang sejati.

Dengan kecanggihan teknologi di masa sekarang ini, kita bisa bersekutu bersama, berdoa dan membaca Alkitab untuk saling meneguhkan, kemudian kembali ke dalam ibadat harian. Dalam ibadat harian itu, pasca pandemi tentu saja, kita tetap bisa saling berkunjung, saling peduli dan berbagi. Sebab, gereja itu bukan persekutuan seminggu sekali. Persekutuan gerejawi itu tentang hidup bersama (koinonia) di tengah suka dan duka yang dijalani dalam ikatan kasih sayang Allah Tritunggal. Inilah arti esensial dari persekutuan kristiani.

Jadi, kalau kita beribadat di gedung gereja seminggu sekali tanpa pemahaman yang esensial dan penghayatan akan makna persekutuan itu, maka tidak ada artinya ibadat yang dilakukan. Ibadat tersebut tidak ada ubahnya dengan kerumunan yang ramai sesaat, lalu lenyap dalam keseharian.

Ibadat ritual, baik yang dilakukan dan diikuti secara ragawi atau virtual harus semakin meneguhkan orang percaya untuk menghidupi persekutuan, pelayanan, dan kesaksian dalam hidup harian. Jadi, bukan soal forma atau bentuk/cara, tetapi tentang esensi dan dampak dalam hidup sehari-hari. Itu berarti, ibadat ritual harus terhubung dan saling menguatkan dengan ibadat harian, seperti refleksi dan aksi yang tidak bisa dilepaskan satu dari yang lain. Tanpa ibadat harian, ibadat ritual akan garing. Vice verca, tanpa ibadat ritual, yang harian pun akan kering.

Dalam ibadat harian, kita menerjemahkan firman dalam laku hidup sehari-hari melalui kata dan perbuatan. Kita memperlihatkan kasih, kepedulian, kebenaran, dan keadilan bersama dan untuk sahabat, tetangga, bahkan orang asing. Sama seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang murah hati.

Old Normal Menjadi New Normal

Satu hal lagi yang menarik di masa Covid adalah tindakan-tindakan filantropis. Gereja-gereja tidak asing dengan tindakan kedermawanan membagi-bagikan sembako, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan lain. Aksi filantropis itu dikenal dengan sebutan diakonia. Sejatinya, diakonia bukan tindakan sewaktu-waktu dari gereja, tetapi identitas dari gereja itu sendiri, sebab Allah di dalam Yesus Kristus hadir sebagai Diakonos Agung. Karena itu, jika gereja menyebut Yesus sebagai Guru dan Tuhan, maka karya pelayanan diakonal Yesus Kristus itu tersemat sebagai identitas yang harus terus dilakukan gereja dalam karya-karya ministerial di sepanjang waktu dan zaman.

Pandemi Covid-19 kemudian memaksa gereja-gereja untuk memikirkan dan melakukan karya diakonia secara lebih bersungguh-sungguh. Sebab, di situ terletak “keselamatan” bersama. Diakonia yang dilakukan tidak terbatas pada kehidupan internal saja, tetapi terbuka secara eksternal. Dalam tindakan diakonia, gereja membagi kasih Kristus yang tak terbatas bersama dan untuk sesama.

Lebih jauh, karya diakonia pun tidak terbatas pada tindakan karitatif yang bersifat jangka pendek, tetapi juga terarah ke depan untuk jangka panjang. Karena itu, diakonia gereja harus pula bersifat reformatif dan transformatif. Artinya, ia menjadi karya yang memberdayakan dan membebaskan. Dan di situ, gereja kemudian dapat berperan sebagai sentra-sentra ekonomi dan bertindak layaknya lembaga-lembaga advokasi. Kalau kita menilik sejarah, hal-hal ini bukan barang baru. Tradisi di banyak gereja memperlihatkan karya-karya semacam itu di berbagai tempat dan waktu.

Tradisi dan kebiasaan tersebut kini kita “temukan” lagi urgensinya di masa Covid-19. Situasi ini mendorong kita untuk memikirkan dan mempraktikkannya secara lebih serius, sebab dampak Covid menerpa hampir seluruh aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Maka, kita “dipaksa” oleh kondisi ini untuk membuat old normal menjadi new normal sesuai dengan kebutuhan konteks masa kini.

Menjadi Gereja Tua Baru

Bertolak dari kebiasaan dan tradisi yang selama ini sudah dilakukan oleh gereja-gereja dengan kadar dan keterbatasan yang ada, saya merasa optimis bahwa gereja akan lebih mampu menghadapi situasi pandemi dan pasca pandemi nanti. Apalagi, untuk gereja-gereja yang selama ini disebut dengan istilah gereja tua, atau gereja mainstream, atau gereja tradisional. Mengapa? Alasannya adalah karena gereja-gereja tua ini mempunyai tradisi panjang yang sudah teruji dan terus berkembang di dalam sejarah.

Diana Butler Bass dalam bukunya Practicing Congregation mengemukakan bahwa tradisi berperan besar dalam proses revitalisasi sebuah jemaat atau gereja. Tradisi itu ia ibaratkan sebagai dasar, tempat di mana kita berdiri. Untuk bisa melangkah lebih jauh dan melakukan hal-hal yang bermakna, kita selalu membutuhkan dasar. Akan tetapi, tradisi sebagai dasar itu harus dilihat sebagai sesuatu yang bisa terus diperbarui. Tradisi bukan seperti deposito bank yang tidak bisa disentuh oleh para pewarisnya. Menurut Bass, tradisi adalah sesuatu yang dinamis, yang dapat diperjumpakan dengan tradisi dari gereja lain, bahkan agama lain, dan hal tersebut akan menghasilkan sesuatu yang baru, yang lebih imaginatif dan indah. Maka, panggilan kita adalah terus menerus memperbarui tradisi, sehingga tradisi lama akan terus menjadi baru. Old normal menjadi new normal.

Di situlah saya melihat bahwa dengan imajinasi dan kreativitas, gereja-gereja tua akan bisa melewati pandemi ini dan menjadi gereja tua baru. Gereja-gereja ini memiliki praktik ritual yang kuat, namun mereka tidak boleh menjadi ritualisme. Ritual itu justru harus menjadi api yang memanaskan gereja dan orang Kristen untuk berkarya dalam hidup sehari-hari. Maka, ibadat yang dilakukan secara virtual pun tidak boleh sekadar menambah jumlah ibadat yang baru, tetapi menawarkan api semangat yang baru bagi orang Kristen untuk berkarya secara konkret dalam kehidupan publik.

Dengan demikian, praktik diakonia yang lekat dengan tradisi gereja mesti diterjemahkan sebagai wujud ibadat publik atau ibadat sosial, sehingga peran gereja di masa dan pasca Covid akan semakin dirasakan. Ibadat publik ini tidak kalah penting dengan ibadat ritual. Mereka setara, dan dilakukan sebagai cara gereja mengakui Yesus Kristus, Sang Diakonos Agung, sebagai Guru dan Tuhan. Di situlah gereja-gereja menuturkan cerita mulia, cerita Tuhan Yesus dan cinta kasih-Nya dalam kata dan perbuatan. Cerita tentang kasih yang selalu mengalir tanpa pernah bisa dibendung oleh kekuatan dan kuasa apapun, termasuk oleh birokratisme dan institusionalisme gereja.

Di masa Covid-19 ini, justru kita sedang diingatkan oleh kasih Tuhan yang mengalir itu, sekaligus diperbarui oleh-Nya untuk tidak menjadi gereja tua yang lamban dan stagnan karena ditawan oleh beban-beban administrasi dan birokrasi. Era masyarakat industri 4.0 ini menyediakan bentuk-bentuk baru komunikasi yang lebih casual, cair, tangkas namun tepat sasaran. Kirbat baru komunikasi ini tentu lebih cocok untuk menampung anggur baru di masa Covid dan setelahnya.

(Penulis adalah Pendeta Universitas Kristen Maranatha, Bandung)

Kasih Itu Aksi

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 1 Yohanes 3:18

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, seluruh organ tubuh kita berfungsi. Jika pun kita tengah menderita sakit, Tuhan memberi kesabaran dan daya tahan menanggungnya. Untuk itu, kita patut tetap mengucap terima kasih kepada Allah.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” 1 Yohanes 3:18

1 Yohanes 3:18

Saudaraku, pernahkah berjumpa dengan seseorang yang piawai dalam berkata-kata? Orang yang bisa membuat banyak orang terpukau dengan ketrampilan berbicaranya. Cakap merangkai kata. Telinga kita pun bersemangat untuk mendengar. Dan pikiran kita dengan mudah mencerna isi pesannya.

Ada memang tipe orang yang sungguh pandai mengolah ide dan menyampaikannya dengan kemasan sangat menarik. Tentu tipe seperti itu bagus bagi mereka yang mempunyai profesi yang berbicara di depan publik. Dosen, pembawa acara (MC), pengkotbah, presenter, membutuhkan kepandaian berbicara. Sebab, dengan itu bisa membuat para audiensnya betah mengikuti acaranya.

Ada lagi, orang pandai bicara, yang sayangnya, dikategorikan negatif. Orang yang hebat bersilat lidah. Yakni orang menyebutnya “pembual”. Bicaranya bisa menarik. Ucapannya memukau. Tapi, sayang, lebih banyak menyampaikan hal-hal tanpa didukung fakta.

Jika ada orang bicara dengan mengaku bahwa dia bersahabat dengan tokoh elit dan para selebritis terkenal. Tentu, kita bisa tertarik mendengar kisahnya. Lebih menarik lagi jika dia bicara bahwa dia penasihat pribadi presiden, dan tiap hari mendampingi presiden. Pasti makin banyak telinga yang ingin mendengar karena penasaran. Namun, jika kita tahu siapa dia sebenarnya, yang cuma mengarang tanpa fakta. Tentu, spontan orang yang mendengarnya berkata, “ah, dia pembual”.

Saudaraku, kita atau orang lain bisa sesumbar menyatakan bahwa kita orang penuh kasih kepada sesama. Kita bisa bercerita dari A sampai Z bertutur tentang indahnya kasih. Namun, jika itu sebatas cerita dan perkataan, tanpa disertai bukti konkrit. Ucapan minus tindakan. Maka, bisa dinilai bualan belaka.

Apa artinya, kita mengatakan kita mengasihi ibunda atau ayahanda kita? Sementara itu, mereka sakit dan dirawat di rumah sakit kita tidak pernah menginjakkan kaki mengunjunginya. Apa maknanya, kita kerap melontarkan ucapan mengasihi anak? Sedangkan kita tidak mau duduk dan mendengarkan keluhannya dengan serius dan empati.

Itu yang jadi sasaran pengingatan firman Tuhan. Mengaku mengasihi, nyatanya berhenti pada kata-kata belaka. Bagaimanapun, kasih itu seyogyanya tindakan. Aksi yang dirasakan.

Firman Tuhan pagi ini konteksnya ada orang yang hidupnya disertai kemakmuran. Sementara itu hadir pula di sana orang yang kesulitan ekonomi. Untuk itu, orang yang berharta tidak cukup hanya mengatakan bahwa mereka mengasihi orang-orang yang ditimpa kemalangan. Perlu aksi yang konkrit. Buka hatinya. Agar hati yang pemurah mengalirkan bantuan kepada yang lain.

Sama dengan kita berdoa untuk saudara-saudara yang kena dampak covid-19. Mereka yang kena PHK, dirumahkan, tutup jualan karena sepi pembeli. Tidak cukup kita berhenti sebatas doa. Doa tidak boleh mewakili tanggung jawab tindakan kasih. Doa itu penting sekali. Namun, doa tidak boleh menghentikan aksi kasih yang nyata. Doa adalah awal dari aksi kasih yang nyata.

Saudaraku. Ucapan bibir tidak boleh menggantikan aksi nyata untuk membantu. Musti disertai langkah-langkah perbuatan konkrit. Sehingga kita menggenapi ungkapan “ora et labora”. Ada doa dan ada kerja nyata.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, dengan aksi kasih yang nyata.

“Ya, Tuhan berkati aktivitas kami masing-masing Kiranya bukan hanya menjadi berkat bagi kami, juga menjadi berkat buat keluarga, teman, gereja dan sesama kami.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Hentikan Perundungan (Bully)

oleh Pdt. Stefanus N. Parinussa

Pembacaan Alkitab: Matius 22:34-40

Di media sosial viral tentang seorang anak yang mengalami perundungan atau bully oleh sekelompok pemuda pada saat dirinya menjual makanan jalangkote (makanan khas Makasar). Para netizen begitu marah karena anak tersebut berjualan jalangkote untuk membantu orangtuanya. Untung saja pihak kepolisian bergerak cepat, saat ini para pelaku telah ditangkap.

Perundungan atau bullying merupakan perbuatan yang tidak pantas dilakukan terlebih kepada anak-anak atau orang yang lebih lemah. Namun, faktanya menurut riset Programme for International Students Assessment (PISA) tahun 2018 lalu ada 41,1% murid sekolah di Indonesia yang pernah menjadi korban bully. Dan yang memprihatinkan Indonesia peringkat ke-5 dari 78 negara sebagai negara yang paling banyak murid sekolahnya mengalami bully atau perundungan.

Terdapat 4 macam tindakan perundungan atau bullying, yakni pertama, secara fisik, misalnya dipukul, ditendang, didorong dan sebagainya. Kedua, secara verbal misalnya diejek, dihina, dikata-katain dan sebagainya. Ketiga, secara sosial misalnya menyebarkan rumor atau gosip tentang seseorang yang belum tentu kebenarannya. Keempat, cyberbullying, misalnya komentar kasar, ancaman, tuduhan yang ditulis di internet atau media sosial.

Bagi Tuhan Yesus, tindakan bullying adalah kejahatan di mata Tuhan karenanya setiap kita dipanggil untuk tidak melakukan bullying kepada siapapun. Sebaliknya, kita dipanggil Tuhan untuk mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri sendiri (lih. Matius 22:39).

Stop perundungan atau bullying adalah sikap kita sebagai umat Tuhan. Karena itu, mari kita sebarkan kasih dan kemurnian hati dimanapun kita berada.

Cari Kerendahan Hati

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Zefanya 2:3

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.”

Zefanya 2:3

Saudaraku, ada benda yang digolongkan benda keras, pun ada pula yang lembek atau lembut. Material seperti besi, baja, batu, tentu saja termasuk yang keras. Sedangkan nasi, buah-buahan, dimasukan ke golongan benda-benda yang lembut. Sesuai karakternya, maka benda yang keras itu tidak gampang dibentuk.

Jika seseorang akan membuat pisau dengan bahan dasar besi atau baja, proses pembuatannya tidak mudah. Besi harus dibakar pada derajat kepanasan yang tinggi, sampai memperlihatkan warna merah membara. Lalu ditempa atau dipukul berkali-kali agar membentuk benda yang diinginkan. Membuat pisau dari benda keras, membutuhkan kerja keras. Peluh mengucur. Tenaga terkuras.

Lain halnya, benda yang lembek, lembut atau lunak. Buah, nasi atau benda apapun yang masuk benda lembut, mudah sekali kita mengolah atau membentuknya. Ingin membuat juice dari buah-buahan tidak perlu berkeringat dan menguras tenaga. Pakai alat blender, masukan buah-buahan, seperti: mangga, alpukat, strawberry. Tunggu dalam beberapa menit saja. Dalam hitungan waktu yang singkat itu, telah berubah bentuk buah-buahan tersebut. Simpel.

Saudaraku, hati manusia itu tergolong benda lembut atau keras? Orang bisa bilang lembut. Itu benar sekali jika melihat sisi materialnya. Pasti kita sudah melihat hati atau jantung ayam atau sapi. Seperti itu materialnya, benda yang lembek. Namun, ketika hati yang dimaksud merujuk atau menyangkut watak, mental dan sikap. Nah, ternyata bisa keras dan bisa juga lembut.

Ketika ada seseorang yang sulit dinasihati. Bandel. Nasihat seolah-olah tidak digubris. Maka penilaian yang muncul “hatinya keras”. Anda tentu pernah bertemu, atau malah kenal dengan orang seperti itu. Hatinya keras sehingga sangat tertutup atas masukan positif dari orang lain. Sifat atau wataknya susah berubah.

Lain halnya dengan orang yang jika bicara maka pilihan katanya sangat terpilih. Ia tidak mau ucapannya menyinggung, apalagi melukai teman bicaranya. Suara bicaranya pun halus. Enak komunikasinya. Menghargai pendapat orang lain, dan welcome untuk berubah dan membaharui diri. Orang akan memberi label orang demikian sebagai orang yang “lembut hatinya”.

Saudaraku, firman Tuhan menawarkan kita untuk melihat sisi yang menarik. Di luar kebiasaan. Apa itu? Pada umumnya, orang yang punya hati yang keras untuk diubah. Hati yang keras adalah punya sifat tinggi hati. Sombong. Angkuh. Mereka yang jadi sasaran untuk bertobat. Seumpama kesehatan, orang yang hatinya keras yang butuh obat. Sehingga hati yang keras berubah menjadi orang yang lembut. Terbuka dengan nasihat, terlebih nasihat bersumber dari firman Tuhan. Kali ini tidak seperti yang kita pahami. Sekaligus tidak seperti asumsi pada umumnya.

Orang yang rendah hatilah yang diminta untuk makin rendah hati. Diminta mencari Allah. Bukannya mereka yang keras dan sombong. Mengapa? Hal ini disebabkan, orang rendah hati itulah yang mudah diubah, diatur untuk berubah menjadi lebih baik. Orang rendah hatilah yang selalu bersedia mendengar, terbuka dan menerima nasihat. Ya, orang seperti itulah, yang mau berubah dan membaharui diri.

Saudaraku, mengisi hari ini, hendaknya kita tidak mengeraskan hati. Bagaimanapun, dengan kita mengambil posisi untuk menjadi orang yang rendah hati, kita bisa lebih kaya melihat kenyataan hidup. Lebih welcome atas suara kebenaran Tuhan.

Karena itu kita marilah terbuka atas ide, cerita, kesaksian, pengetahuan positif yang datang dari luar. Dan yang datang dari luar itu, akan menjadi wawasan hidup kita bertambah lagi dan bertambah lagi. Orang yang rendah hati bagaikan gelas yang belum terisi penuh. Sehingga mau ditambah lagi dan ditambah lagi. Dan kata firman Tuhan, Allah tidak memurkai orang yang rendah hati. Justru Allah mengapresiasinya.

Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Secara khusus, berikan saudara-saudara kami yang terkena dampak Covid-19. Mereka yang sumber pendapatannya berkurang, bahkan ada yang terhenti penghasilannya. Kuatkan mereka. karuniakan rasa sabar dan terus berupaya mendapat jalan pemecahan.

Kiranya kami semua bisa beraktivitas di hari Selasa ini, dengan semangat dan dijiwai rasa syukur. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Malang Jadi Menang

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Kis 18:1-3

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan diambil dari Kisah Para Rasul 18:1-3, “Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka.”

Kisah Para Rasul 18:1-3

Saudaraku, orang tidak selalu siap hidup bersama dengan yang berbeda. Berbeda karena agama, suku, etnis atau apapun. Yang menakutkan, ketidaksiapan itu berubah menjadi prasangka dan kebencian.

Peristiwa beberapa waktu lalu di Surabaya, Saudara kita berasal dari wilayah paling timur, diumpat dengan memakai nama binatang. Atau, di Cikarang seorang penganut kristen diminta menghentikan ibadah Minggu di rumah. Padahal ibadah di rumah dilakukan untuk memenuhi himbauan pemerintah. Karena untuk memutus rantai penyebaran virus corona, dihimbau ibadah diselenggarakan di rumah.

Sejak dulu sikap ketidaksiapan hidup bersama dengan yang berbeda menuai korban. Tentu saja, korbannya adalah sekelompok orang atau individu yang tergolong ‘minoritas’. Banyak korban yang jatuh karena ketidaksiapan hidup dengan yang berbeda. Banyak tragedi yang penuh kepedihan akibat prasangka dan kebencian atas yang berbeda.

Saudara, sikap demikian bukan hanya gejala sekarang ini. Sejak dulu sudah terjadi. Akwila dan Priskila merupakan pasangan suami istri. Mereka berdua korban dari sikap yang tidak mau menerima pihak yang berbeda. Suami-istri itu menjadi obyek dari orang-orang yang anti orang asing. Namanya xenophobia.

Mereka diminta hengkang dari tempat tinggalnya dan keluar dari negeri Italia. Mereka diusir karena etnis Semit. Mereka didesak keluar dengan paksa karena bukan pribumi. Kaisar memerintahkan seluruh orang Yahudi tanpa terkecuali, segera harus meninggalkan Roma.

Sedih sekali, manusia diterima atau tidaknya karena agama, suku atau etnisnya. Begitu agamanya berbeda diusir. Begitu etnisnya lain, dipaksa pergi. Kepahitan dan kesedihan menimpa seluruh orang Yahudi, termasuk pasangan suami-istri tersebut. Mereka harus mulai lagi dari nol. Merintis lagi di tempat baru. Ini sungguh ujian kesabaran. Tanpa kesabaran yang kuat akan frustasi dan mengalami stress berat.

Rasul Paulus singgah di tempat baru Akwila dan Priskila di Korintus. Sebuah kota di Yunani. Di sana pula Rasul Paulus mengabarkan injil keselamatan. Di antara orang Yahudi ada yang menerima dan tidak sedikit menolaknya. Karena rasul Paulus berprofesi sama dengan Akwila, yaitu tukang kemah, ia tinggal bersama mereka.

Dari sanalah persahabatan mereka menjadi kuat. Dari sanalah pasangan suami-istri mengenal Kristus Yesus. Pengenalan yang kemudian menumbuhkan iman dan kesetiaan.

Saudaraku, dari nasib buruk karena korban kebencian etnis, ternyata menuntun mereka mengenal Kristus. Dari tragedi menjadi jalan yang mengantar Akwila dan Priskila menjadi pengikut Kristus. Dari kemalangan mengantar ke kemenangan. Tuhan bisa membuat banyak cara orang mengenal dirinya.

Bisa jadi, suami-istri itu tidak pernah membayangkan, dari nasib terusir mereka kemudian bisa mengenal Juru selamat. Itulah, Saudaraku, Allah bekerja dalam segala peristiwa. Terbukti realitas yang buruk, yang pahit, yang menyedihkan, ternyata Tuhan pakai sehingga Akwila dan Priskila mengenal-Nya. Sedangkan rasul Paulus menjembatani perjumpaan mereka dengan Juru Selamatnya.

Kini, kita yang sudah mengenal-Nya teruslah setia kepada-Nya. Selain Akwila dan Priskila, ada banyak yang lain, di mana mereka harus mengalami kepahitan dan kegetiran hidup dulu. Baru, kemudian mereka mengenal dan beriman kepada Tuhan Yesus. Setiap orang punya jalan mengenal Tuhan Yesus. Yang paling penting kita setia dan terus berbakti kepada-Nya. Iman kita tidak menjadi padam di tengah orang yang tidak siap hidup dalam keperbedaan.

Kita berdoa, Tuhan, Engkau memakai berbagai cara agar manusia mengenal-Mu. Ajar kami tetap setia. Mampukan kami hidup di tengah keragaman dan keperbedaan.

Tuhan berkati hari ini, anak-anak dan cucu-cucu kami, orang-orang yang kami kasihi. Mereka yang menjalani proses belajar dan kerja di rumah. Kiranya segala aktivitas mereka menyenangkan Hati-Mu dan para orang tua dan sesama.

Tuhan, iringi mereka yang sedang bergumul dalam ujian hidup, yang sakit dan lansia dengan pengasihan-Mu, Tuhan. Sehingga mereka sabar dan kuat di dalam Engkau di saat-saat kelemahan emosi dan tubuh dan situasi menekan.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.