Patuh Dengan Utuh

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Hanya karena
Anugerah-Nya, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah, “ Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.”

Kejadian 39:12

Saudaraku, mempunyai kelebihan bisa mengundang cobaan. Karena itu, jika tanpa dibekali sikap dan mental yang kokoh, kelebihan itu menjadi sumber mala petaka. Kelebihannya mengantar dia menjadi “jatuh”. Demikian pengalaman dari episode atau penggalan hidup Yusuf.

Yusuf adalah salah satu putra Yakub. Dia lahir di masa tua Yakub. Demikian pula, di antara saudara-saudaranya, Yusuf punya kelebihan yang tak dimiliki saudara-saudaranya. Hal itulah yang membuat Yakub terlalu mengistimewakannya. Kasihnya atas Yusuf amat berlebihan. Sehingga hal itu menjadi pemantik api kecemburuan saudara-saudaranya. Akhirnya, konflik antar saudara tidak bisa dicegah. Yusuf dijadikan sosok paling dibenci bukan dicintai. Klimaksnya, Saudara-saudaranya nyaris membunuhnya, meski berubah pikiran dengan membuangnya ke dalam sumur di padang gurun.

Allah menolong Yusuf. Ada kafilah lewat sehingga mereka menyelamatkannya. Lalu, Yusuf menjadi orang yang dijual di pasar budak. Di sanalah kemudian seorang kaya bernama Potifar memperkejakannya sebagai asisten rumah tangga.

Yusuf bekerja baik. Secara fisik dia tampan. Pesona ini menjadi kelebihan di mata tuan dan nyonyanya. Tetapi, di mata nyonyanya ada keterpesonaan erotik. Sampai kemudia ia mengajaknya untuk melakukan hubungan suami dan istri. Meski, istri pejabat ini cantik. Bagi Yusuf karena perempuan itu bukan milik sahnya, ia tidak merespon ajakan nyonyanya. Yusuf hadir bukan untuk merusak keutuhan keluarga tuannya. Dia hadir di sana buat mengabdi sebagaimana tugas budak. Yusuf tidak meladeni ajakan istri Potifar. Akibatnya hasrat erotik perempuan itu bertepuk sebelah tangan.

Saudaraku, walaupun Potifar tidak tahu, bagi Yusuf tidak jadi alasan untuk tidak memegang prinsip kesetiaan. Tuannya tidak tahu, tapi Tuhan Maha tahu. Kesetiaannya berbasis kesadaran dan penghayatan personal. Kesetiaan model Yusuf merupakan contoh bagus. Kepatuhan pada nilai tetap dipertahankan meskipun tidak ada orang yang tahu. Sekaligus, Yusuf lebih takut Allah ketimbang resiko yang harus ditanggung dengan sikap penolakannya.

Bukankah di masyarakat kita seolah-olah biasa. Yaitu kepatuhan dijalankan karena ada manusia. Di kantor rajin karena ada pimpinan. Begitu pimpinan tidak ada di kantor bekerja malas-malasan. Pengendara mobil atau motor patuh terhadap rambu lalu lintas. Ya, karena melihat ada polisi. Begitu tidak ada polisi rambu-rambu tidak diperdulikan.

Yusuf lebih takut pada Tuhan dan pada nilai kesetiaan daripada mengikuti keinginan perempuan itu. Ini tidak gampang. Bahkan, bisa saja orang menyalahgunakan kelebihannya seperti Yusuf, muda dan tampan justru mengumbar ketidak setiaan.

Semoga hari ini, kita tetap setia pada Tuhan dan pada prinsip-prinsip kebenaran. Meski tidak ada orang lain yang tahu. Tapi, yang jelas. Tuhan selalu Maha Tahu atas apa yang kita lakukan. Kemarin adalah hari ketahanan keluarga secara nasional. Firman Tuhan mengingatkan kita betapa penting di dalam keluarga hadir kepatuhan dan komitmen atas kesetiaan dan keutuhan.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tetap setia. Tidak mengecewakan Tuhan dan tidak mengecewakan sesama kami.

Kami membawa dalam doa, kehidupan kami semua hari ini dan memasuki akhir pekan. Tuhan memberi kami kesempatan menikmatinya bersama keluarga. Kiranya kami diberi tubuh sehat, setia dalam iman dan hidup suka cita serta sejahtera menyertainya. Berkati keluarga kami masing-masing dengan kebahagiaan.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Sama Di Bibir dan Hati

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Terpujikah Allah, kasih-Nya tetap setia menemani kita. Dan itu juga berlaku hingga pagi ini.

Renungan kita bertumpu pada ucapan Tuhan Yesus, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”

Matius 15:8

Saudaraku, apa yang diucapkan bibir bisa tidak mewakili isi hati sesungguhnya. Lewat bibir seseorang, alangkah terkesannya kita, bila yang terungkap adalah ucapan lembut, santun dan ramah. Apalagi disertai isinya berupa puja-puji dan janji yang manis.

Namun, pesan firman Tuhan di atas memberi peringatan, bahwa bisa saja ucapan bibir itu tidak seiring sejalan dengan isi hati sesungguhnya. Kata-kata lembut seseorang, bisa berbeda dengan isi hati sesungguhnya orang itu. Yakni bisa saja penuh hatinya penuh kebencian.

Memang, tidak mudah kita menilai seseorang. Atau, bisa saja kita keliru memahami seseorang. Namun firman Tuhan mengajak kita sadar, ternyata bisa ada ketidak selarasan antara ucapan bibir dan isi hati seseorang, bahkan sebuah komunitas. Kita bisa menemukan bahwa antara yang kita dengar bisa berbeda dengan niat yang tersimpan dalam hati dan perbuatan yang nyata.

Kita menilai dan memahami seseorang, tentu lebih banyak bertumpu pada ucapan bibirnya. Sebab indra kita bisa mendengarnya. Telinga kita mendengar suara yang keluar dari bibir seseorang. Karena suaranya ramah dan santun, kita langsung katakan, “orang itu baik. Kepribadiannya lembut”.

Sementara itu, panca indra kita sulit menangkap isi hati sesungguhnya seseorang. Kita tidak punya alat canggih buat menerawang atau menditeksi isi hatinya. Tidak heran, sisi keterbatasan ini dijadikan peluang bagi orang-orang yang mau membangun citra diri. Orang mau mengelabui pandangan sesama atasnya. Orang yang demikian, dalam kehidupan keagamaan adalah orang munafik. Ia membangun citra diri agar di mata orang banyak, dia berkesan seorang saleh. Orang suci. Orang yang punya relasi khusus dengan Tuhan.

Saudaraku, tipe orang yang demikian, adalah orang yang pura-pura. Di balik suaranya yang mengesankan, padahal tersimpan ada ketidak murnian di dalam hatinya. Tuhan Yesus menyebutnya, “orang munafik”. Menurut Tuhan Yesus, sosok orang munafik itu diumpamakan bagaikan kuburan. Tampak luarnya indah, di balik tanahnya tulang belulang.

Saudaraku, orang munafik itu berambisi membangun diri “seolah-olah”. Seolah-olah orang baik. Seolah-olah orang terpuji. Seolah-olah penuh cinta kasih. Padahal hatinya, ya, isi hatinya yang merupakan ‘wajah asli’ dirinya tidak seperti itu. Tidak heran banyak orang terkecoh.

Dalam pengalaman hidup sehari-hari kita mendengar komentar orang yang terkecoh oleh penampilan luar. Misalnya, “gak nyangka, dia kalo ngomong halus sekali. Wajahnya bersahabat. Ternyata di rumah suka melakukan kekerasan KDRT.” Atau contoh lain lagi, “ah, jangan cepet percaya sama dia. Janji-janji manis terus waktu kampanye. Nyatanya, sudah dapat kedudukan, dia lupa sama kita. Kirain dia orang baik.”

Saudaraku, orang yang munafik tidak punya kemurnian niat. Dia berdoa, memberi santunan kepada yang lemah, berpuasa, itu semua dijalankan sebatas membangun citra diri. Dilakukan supaya orang lain melihat dirinya dan memujinya sebagai orang yang melakukan tindakan kesalehan. Tindakan keagamaan bukan buah dari hati yang tulus, sebagai bentuk kasih kepada Allah dan sesama. Melainkan dipakai sebagai alat untuk meraih pujian sempit.

Bentuk keagamaan bertujuan pencitraan belaka, jangan itu akan berkurang nilainya. Sebab menjadi bentuk keagamaan yang dipamer-pamerkan untuk membangun promosi diri. “Lihat saya berdoa, lihat saya banyak memberi, lihat saya berpuasa”. Sebab, jika kita melakukannya demi dilihat, diketahui dan dipuji orang. Apalagi, difoto dan kemudian di-share dalam dunia maya. Itu berarti motif keberagamaannya dangkal.

Awas, bahaya kemunafikan sedang menguntit kita. Tuhan Yesus sudah mengoreksi tindakan kesalehan yang pura-pura. Sebab, Tuhan tidak mengapresiasi kepura-puraan, melainkan menghargai kemurnian dan ketulusan.

Belajarlah dari buah manggis. Di bagian bawahnya ada indikator isi buah di dalamnya. Indikatornya empat, niscaya isi di dalamnya empat. Indikator yang di luar tidak pernah berbeda jumlah isi di dalamnya. Artinya, baik yang tampak atau yang ada di dalam selaras. Tidak pernah berbeda antara petunjuk luar maupun isi di dalamnya. Itulah, yang jika disematkan pada seseorang, maka orang itu disebut integritas. Yang dikatakan sama dengan yang diperbuat.

Kita berdoa, “Tuhan, beri kami kesesuaian antara ucapan bibir dan isi hati kami. Agar apa yang kami lakukan murni untuk memuliakan-Mu”.

“ Tuhan, sertai kegiatan kami sepanjang hari ini. Dalam tangan kuasa-Mu, kami serahkan diri kami dan kami panjatkan doa ini. Amin”.

Menjadi Sahabat Sejati

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan Alkitab: 2 Samuel 9:7b-8

Selamat pagi, Saudaraku semua yang baik dan dikasihi Tuhan Yesus. Pagi di medio Mei telah tiba. Kita yang sehat maupun sakit, mari kita tetap bersyukur kepada Allah. Memuji dan memuliakan nama-Nya.

Firman Tuhan untuk kita renungkan pagi ini yaitu, “Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku. Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?” 2 Samuel 9:7b-8

2 Samuel 9:7b-8

Saudaraku, jiwa persahabatan sejati tidak akan berubah meski ada perubahan status dan kondisi lahiriah yang buruk. Paling tidak, itulah yang tercermin dari contoh persahabatan berdasarkan pengalaman raja Daud.

Mari kita lihat. Yonathan dan Daud sering digambarkan dua sahabat sejati. Ikatan relasi mereka sangat kuat. Keduanya berbeda status satu sama lain. Yonathan adalah putra Saul, raja waktu itu. Ia berpeluang menggantikan ayahnya sebagai raja. Sedangkan Daud putra petani dan sekaligus penggembala. Yonathan biasa tinggal di istana, sedangkan Daud warga biasa. Nama Daud kemudian begitu terkenal setelah ia mengalahkan Goliath, pahlawan bangsa Filistin. Reputasi Daud mengalahkan Raksasa itu, akhirnya mempertemukan mereka berdua.

Kualitas persahabatan mereka patut diacungi jempol. Indah, akrab dan penuh persaudaraan. Yonathan membanjiri Daud dengan hadiah-hadiah dan benda-benda berharga serta mahal.

Yonathan jugalah yang melindungi Daud, sahabatnya dari sasaran murka ayahnya sendiri, Saul sang raja. Kita tahu, makin lama popularitas Daud melampaui Saul. Akibatnya, Saul yang tadinya menyimpan kekaguman atas prestasi Daud berubah. Ia menjadi benci dan marah kepada Daud.

Di mata Saul, Daud telah merebut hati rakyat. Kecemburuan mengaduk-aduk emosinya. Kita masih ingat ucapan lantang para emak-emak “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Ungkapan itu jelas meninggikan Daud, berbarengan dengan itu merendahkan Saul sang Raja.

Waktu bergulir. Jauh hari ke depan, Allah memberkati Daud. Allah menjadikan Daud duduk di tampuk kekuasaan. Daud menjadi raja. Yonathan sang sahabatnya telah meninggal. Namun, ikatan persahabatan itu tetap membekas kuat di hatinya. Daud yang telah jadi raja, ia tetap ingat kebaikan sahabatnya itu. Maka ia menyempatkan diri menelusuri nasib keturunan Saul.

Daud ingin menemukan dan ingin merajut kembali persahabatan dengan keturunan Saul dan Yonathan. Dari sanalah, Daud kemudian berjumpa dengan anak alm. Yonathan, sahabat lamanya. Namanya Mefiboset. Keadaannya menyedihkan. Hidup miskin dan kondisi fisiknya disable (dulu disebut cacat).

Menyedihkan sekali kondisi kehidupan cucu mantan seorang raja. Hidupnya kurang beruntung. Kakinya cacat dan secara ekonomi miskin. Numpang hidup di rumah orang lain. Hidupnya terlantar, sampai Mefiboset menyebut dirinya “anjing”. Siapapun orangnya, dalam keadaan demikian tidak mudah percaya diri. Mefiboset malu terhadap lingkungan, menghindar dari pergaulan sosial dan kesepian.

Tidak mudah menemukan orang yang mau jadi sahabat bagi seorang cacat plus miskin. Tidak ada yang bisa diharapkan darinya. Karena dipikirnya persahabatan dengan orang seperti itu lebih banyak merepotkan daripada mendapat sesuatu.

Setelah bertemu, raja Daud mengembalikan aset keluarga Saul kepada Mefiboset. Kehormatannya dipulihkan dengan bentuk bisa makan bersama raja. Pendeknya, raja Daud memberi fasilitas hidup yang baik bagi putra sahabatnya itu.

Di sinilah, Daud memberi teladan. Walaupun sudah jadi orang nomor satu masih menyempatkan waktu merangkai ulang arti persahabatan. Jadi, Daud bukan tipe yang gampang melupakan teman dan keturunannya.

Dalam praktik, seseorang yang sudah kaya, punya jabatan bagus dan tergolong masuk kalangan elit, bisa lupa teman. Merasa gengsinya bisa turun jika punya teman secara fisik buruk dan secara ekonomi memprihatinkan. Karena itu, orang menjadi berubah karena kekayaan dan jabatan. Teman-teman lamanya yang ndeso alias kampungan dan ditambah miskin serta derajatnya rendah, kemudian dilupakan. Dalihnya, “ tidak selevel”.

Daud tidak. Ia tidak terjatuh pada sikap demikian. Jabatan dan kekayaannya tidak mengubah wataknya yang penuh persahabatan. Jadi, belajar dari sana, kita pun patut menjaga dan memelihara persahabatan sejati. Tidak perduli sahabat kita miskin. Tidak perduli dia tidak tampan atau cantik. Tidak perduli dia tergolong kalangan biasa. Sekali sahabat, maka terus tetap sebagai sahabat.

Kita berdoa, “ Tuhan Maha Baik, semoga kami terus memupuk nilai persahabatan dengan sesama kami. Jadikanlah kami bisa menjadi sahabat sejati bagi sahabat kami yang biasa2 saja kondisi kehidupannya.

Berkati perawatan oma-opa, lansia yang kurang sehat, agar perawatan dan konsumsi obat memberi dampak kesembuhan karena ijin-Mu.

Dalam nama Yesus, kami memohon. Amin.

Kecil Namun Berdampak Besar

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Raja-Raja 5:2-3

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Seiring dengan hari baru, maka hari lalu telah menjadi kenangan. Kiranya bersama Allah menjadi memori kita yang indah.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. (3) Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” 2 Raja-raja 5:2-3

2 Raja-Raja 5:2-3

Saudaraku, dalam sebuah drama atau pertunjukan film, semua orang yang tampil pasti punya peran. Sekecil apapun. Juga sesederhana apapun. Kehadirannya memainkan adegan tertentu.

Ada pemeran utama, tetapi juga ada pemeran figuran. Jelas, orang sangat menaruh perhatian pada pemeran utamanya. Sebab, dia akan banyak tampil. Sekaligus peranannya sangat menonjol. Beda dengan pemeran figuran. Perannya kelihatan kurang penting. Bahkan seolah-olah pelengkap saja.

Saudaraku, dalam kisah penyembuhan Naaman dari penyakit kustanya, tentu pemeran utama adalah Elisa. Dia seorang nabi. Dia yang meminta Naaman agar mau mandi di sungai. Yang kemudian, sungguh terjadi Naaman bebas dari sakit kustanya.

Jelas, nabi Elisa sangat berperan. Ia menuntun sang panglima terbebas dari pergumulan fisik dan batinnya. Selain nabi Elisa, tentu Naaman punya peran menonjol dalam kisah ini.

Naaman adalah seorang panglima yang sekian lama menanggung derita. Sakit kusta jelas membuatnya menderita. Bukan cuma fisik, tapi batinnya. Panglima dituntut bertemu dengan raja dan banyak orang. Ia seorang selebritis. Namun, penyakit kustanya menghambat. Ia malu. Ya, siapa yang tidak menghindar dengan orang yang terkena penyakit kusta? Walau, tidak terbuka, secara diam-diam banyak orang menghindari berhubungan dengannya.

Dua nama itu, nabi Elisa dan Naaman jelas adalah pemeran utama. Nah, siapa figurannya? Seorang gadis Israel. Namanya pun tidak disebut. Ia yang memberi informasi awal. Dia yang memberi tahu ada seorang nabi Allah yang bisa menyembuhkan.

Saudaraku, itu saja perannya. Ia pemberi informasi. Sederhana. Tapi, jangan sebuat perannya cuma pemberi informasi. Sebab, informasi itulah pembuka jalan. Ya, dengan informasinya, Naaman lalu mengenal nabi Elisa. Bahkan lebih dari itu. Naaman setelah sembuh dapat mengatakan, “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.”

Saudaraku. Kecil sumbangsih si gadis itu. Tapi, dari tindakan kecil dan sederhana itulah peristiwa besar buat seseorang terjadi. Baiklah, kita mungkin bukan pemeran utama dalam sebuah peristiwa atau kejadian tertentu. Namun, kecil dan sesederhana apapun yang kita lakukan, jika Tuhan pakai. Yang sederhana dan kecil itu menjadi berkat besar bagi seseorang.

Dengan demikian, Tuhan tidak menyepelekan hal yang kita telah lakukan. Dan kita pun, jangan menyepelekan atau melupakan tindakan orang lain yang di mata manusia sederhana. Kecil. Seolah-olah tidak fantastis. Karena, Tuhan bisa memakainya sebagai berkat besar buat orang kita.

Suatu hari saya memperbaiki arloji saya. Biayanya cukup mahal. Setelah berhasil, saya tanya pihak toko apa yang bermasalah. Ternyata spare part kecil. Saya bertanya, “mengapa untuk benda kecil itu biayanya 500 ribu”. Pihak toko dengan enteng menjawab, “ pak, benda ini kecil tapi jika tidak diperbaiki seluruh sistem arloji ini tidak jalan. Mati”.

Jadi, jangan mengecilkan diri sendiri bila cuma bisa melakukan sederhana yang kecil. Kehidupan berlangsung karena tindakan-tindakan kecil (small things). Senyum. Sapa. Salam. Membantu menyebrangkankan seorang nenek. Itu semua hal kecil buat orang lain. Lihat jika di sebuah keluarga atau gereja tanpa senyum. Tegur sapa begitu langka. Terasa kita masuk kehidupan yang dingin. Tidak betah.

Mari, jika tidak bisa berbuat hal besar. Mengapa tidak berkontribusi dengan hal yang kecil. Seperti seorang anak yang membawa 5 potong roti dan 2 ekor ikan. Buat makan 5000 orang. Kecil. Ternyata jadi besar saat dipakai dan diberkati Tuhan.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami hidup tetap bersyukur dalam segala perubahan suasana kehidupan”. Dan mensyukuri tindakan sekecil apapun. Karena Engkau memakainya menjadi besar.

Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Hindari Emosi, Kuasai Diri

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Kejadian 4:5

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. “

Kejadian 4:5

Saudaraku, betapa berbahaya perasaan tersinggung dan cemburu manakala kita tidak mengendalikannya. Tindakan kekerasan bisa lahir gara-gara itu. Kisah Kain dan Habel mengingatkan bahaya tersebut. Walaupun keduanya terikat persaudaraan, malah saudara kandung. Tetapi begitu salah satu terbakar cemburu dan ketersinggungan, maka muncullah gelap mata. Saudaranya sendiri jadi sasaran pelampiasan tindakan kekerasan.

Persaudaraan merupakan nilai tertinggi dalam relasi antar manusia. Dua orang atau kelompok manusia yang berbeda bisa bersatu. Mengapa? Karena ada nilai persaudaraan yang merekatkan. Dengan nilai ini, kita memandang orang lain bagaikan saudara sendiri. Hidup bersama dengan rukun dan damai.

Dalam hal Kain justru lain. Demi perasaan egoisnya yang merasa bahwa sikap Allah lebih mencintai Habel, saudaranya. Ia abaikan Habel sebagai saudara. Di matanya, saudaranya adalah sasaran pelimpahan gejolak hati yang panas. Sepatutnya Kain introspeksi dan memperbaiki kekurangannya saat persembahannya ditolak Allah. Jalan itu tidak ditempuh. Ia lebih melihat Habel, saudaranya selaku saingan. Kain melihat saudaranya yang jadi pangkal, mengapa persembahannya ditolak Allah.

Saudaraku, ketersinggungan dan dipadu dengan rasa cemburu, akhirnya mengambil korban. Adik yang sepatutnya dikasihi justru kehilangan nyawa oleh tangan kakaknya sendiri. Posisi kakak dalam keluarga mengambil peran melindungi. Terutama dari ancaman dan bahaya dari luar keluarga. Kain, bukan saja gagal sebagai kakak yang melindungi adiknya. Bahkan ia sendiri pelaku tunggal yang menghilangkan nyawa saudara yang sepatutnya dikasihinya.

Saudaraku, kita mengenal istilah KDRT. Sebuah singkatan atau akronim yang menunjukkan bahwa orang terdekat dalam sebuah keluarga bisa tega berbuat kekerasan atas anggota keluarga yang lain. Sedangkan korbannya sesama anggota keluarganya sendiri. Bisa suami atas istri, atau sebaliknya. Orang tua atas anak, atau sebaliknya.

Dalam masyarakat kita, korban terbanyak adalah perempuan dan anak. Laki-laki tentu ada juga, tapi sedikit. Perempuan dan anak jadi korban karena lebih rentan. Secara fisik lebih lemah. Dan dalam budaya patriarki ( dominan bapak atau laki-laki), tersimpan sikap lebih ‘toleran’ terjadinya kekerasan atas perempuan.

Saudaraku, kekerasan itu berdampak pahit. Luka secara fisik dan batin berupa trauma akan dialami korbannya. Kita harus jadikan keluarga kita bebas kekerasan (zero violence). Kekerasan verbal berupa kata-kata, fisik atau kekerasan seksual yang belakangan ini merebak di banyak tempat.

Kita proteksi keluarga kita agar menjadi lingkungan yang nyaman, dan terhindar dari budaya kekerasan. Kita membangun suasana keluarga yang mengutamakan persaudaraan sebagai nilai tertinggi. Sehingga cinta kasih, kehangatan dan saling memberi perhatian hadir dalam keluarga kita. Cemburu dan tersinggung, pasti terjadi dalam hidup sebuah keluarga. Namun, jangan disimpan, agar suatu saat tidak meledak dalam bentuk mencederai fisik dan batin orang yang kita cintai. Kita harus mengelola emosi yang tidak sehat untuk dutundukkan oleh penguasaan diri yang kuat dan baik.

Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Jadikan kami mampu membangun kehidupan yang nyaman buat hati dan tentram dari ancaman. Baik di tengah keluarga, tempat kerja dan masyarakat.

Tuhan, kiranya kami semua bisa beraktivitas di hari ini dengan tubuh yang sehat dan jiwa penuh semangat. Tuhan berkati kami sekalian dengan kebutuhan yang kami perlukan. Ajar kami senantiasa bersyukur dalam segala keadaan. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.