Dididik Mengasihi Sesama

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Galatia 3:28

Mentari telah terbit kembali di Timur. Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Cinta kasih Tuhan itu berkesinambungan, dari semalam hingga kini terus berlangsung. Kita bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.

Firman Tuhan hari ini, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

Galatia 3:28

Saudaraku, manusia adalah ciptaan Tuhan. Apapun keyakinan dan agama yang dipeluk. Dalam keragaman identitas suku, kebangsaan, adat kebiasaan berbeda-beda, tidak ada yang berani membantah bahwa Pencipta manusia itu sama dan esa, yaitu Allah. Sebagai orang Kristen kita bisa temukan kisah penciptaan manusia. Tegas dan jelas, Alkitab memberi kesaksian bahwa manusia dan makhluk hidup lainnya diciptakan Allah. Itulah keyakinan bahwa Allah itu esa (monoteisme).

Berabad-abad sejarah manusia diwarnai permusuhan, karena pengakuan yang kurang apresiatif atas mereka yang berbeda. Terutama berbeda agama. Merendahkan dan menjelek- jelekan satu sama lain. Dari sana konflik diawali dan permusuhan disulut. Kini, ternyata masih banyak sikap kurang toleran atas mereka yang berbeda. Agama bukan jadi perekat kemanusiaan, malah dipakai untuk membenarkan diri memusuhi yang lain. Bahasa agama bukan membangun persaudaraan, melainkan kebencian.

Buat orang kristen, berpalinglah pada Injil, di sana kita bisa temukan sikap Tuhan Yesus yang amat menaruh respek atas yang berbeda. Bahkan dijadikan contoh keteladanan. Kita ingat perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Padahal waktu itu, orang Samaria dicap tidak punya iman yang murni. Kisah perempuan Kanaan yang gigih meminta demi kesembuhan putrinya. Atau, kisah perwira Romawi, yang notabene berbeda keyakinan. Tuhan Yesus menyatakan tentangnya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.” (Matius 8:10).

Pada satu satu sisi, ada umat beragama mempergunakan agama untuk memusuhi yang berbeda. Sedangkan Tuhan Yesus bersikap sebaliknya. Jika orang itu baik, apapun agama dan kebangsaannya. Tuhan Yesus mengapresiasinya. Karena itu, ironis jika kita mengaku murid Yesus tetapi tidak menjiwai sikap dan tindakan Tuhan Yesus atas yang berbeda. Berarti pemahaman dan sikap yang tidak menaruh hormat atas yang berbeda itu, bukan bersumber dari spirit dan keteladan Tuhan Yesus.

Saudaraku, seharusnya bahasa agama adalah bahasa mempersatukan antar manusia. Siapapun manusia itu. Bahasa agama yang membuat kita merasa ngeri, penganutnya bersikap angker, sesungguhnya merendahkan keluhuran agama. Karena, bagaimanapun Tuhan Pencipta kita, menciptakan manusia buat saling mengasihi dan menyayangi.

Kita harus mengakui ada warisan sejarah, yang menyebabkan kita masih menyimpan curiga dan ingin serba menang atas yang lain. Sudah saatnya diganti dengan sikap yang bersahabat dan menghargai keyakinan dan agama yang dianut orang lain. Sikap ini tidak akan melemahkan dan mengurangi keimanan kita. Malah wujud nyata kesaksian kita. Kita dididik mengasihi sesama. Sedangkan sesama itu tidak dibatasi pada orang yang punya kesamaan. Melainkan juga mereka yang berbeda.

Tentu, kita tidak suka ketika sedang mencari tempat kost buat anak kita, lalu menemui ada tulisan “tidak terima kost buat yang non…”. Kita tidak happy, jika Anda menemui ada perumahan yang penghuninya dikhususkan beragama tertentu saja. Mengapa? Kita tidak suka agama dijadikan tembok yang memisahkan bukan jembatan yang mempertemukan manusia yang satu dengan yang lainnya.

Saudaraku, dalam surat Galatia, seperti yang kita kutip di atas. Itu nasihat sekaligus peringatan. Yakni panggilan kita sebagai orang percaya adalah bergaul itu dengan orang dari suku mana saja dan bangsa apa saja. Berteman dengan orang berstatus yang berbeda, demikian pula jenis kelamin yang tidak sama. Orang Yahudi jelas berbeda dengan orang Yunani. Kebangsaannya beda. Kebiasaannya tidak sama. Namun, sebagai orang kristen harus hidup membaur. Bersahabat dan membangun persaudaraan dengan yang berbeda itu.

Persahabatan dan persaudaraan sejati tidak akan tercipta. Yakni bila ada yang merasa paling benar, paling selamat, paling hebat. Segala ungkapan bernada merendahkan yang lain, yang berbeda, bisa menjadi tembok. Menghalangi kita berteman secara tulus dengan yang lain. Dan ungkapan bernada kesombongan sama sekali tidak diajarkan Kristus.

Kita ingat nasihat lama, ”belajarlah dari padi. Makin berisi makin merunduk”. Jadi, makin beriman harusnya semakin rendah hati dan semakin terbuka. Terbuka untuk berteman. Terbuka untuk bersaudara. Tidak makin tertutup dan takut dengan yang berbeda.

Senin ini, kita berbaur dengan siapa pun partner kerja kita, tetangga kita, teman sekolah, teman usaha dan teman seperjalanan kita. Dengan jiwa bersaudaralah pilihan terbaik kita, hidup bersama orang lain yang berbeda. Mari ikutlah teladan Yesus, jangan mengikuti jejak orang-orang yang mengajak mengedepankan permusuhan, kebencian dan keangkuhan. Kasih Tuhan Yesus merangkul semua yang Dia berkenan.

Kita berdoa, “Tuhan bangsa kami hidup di tengah beragam suku, budaya, agama dan kebiasaan. Semoga ini membuka kesadaran kami dan seluruh bangsa kami untuk saling menghormati hak hidup masing-masing. Demikian juga kesadaran kami, sebagaimana sikap Kristus yang mengasihi setiap manusia ciptaan-Nya.”

Kami berdoa buat para Oma-opa yang kondisi tubuhnya memerlukan topangan kekuatan dari Tuhan. Kiranya mereka mampu bersabar di dalam Tuhan.

Kami ingin berdoa untuk para anak-anak. Kami mendoakan agar kasih-Mu yang indah menyertai masa kanak-kanaknya. Semoga keluarganya bersuka cita dan berbahagia merawat dan memelihara mereka. Jadikanlah usia kehidupan mereka diisi dengan berbagai pengalaman indah bersama Tuhan dan sesama. Dalam nama Kristus, kami berdoa. Amin.

MEWUJUD NYATAKAN GEREJA YANG MISIONER

Oleh Pdt. Weinata Sairin

“Tetapi kita yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopogkan pengharapan keselamatan”

1 Tesalonika 5:8

Kekristenan tidak lahir dan hadir dalam sebuah dunia yang kosong dan steril, dunia yang putih bersih, dunia yang tanpa apa-apa. Kekristenan lahir dalam sebuah dunia yang sudah ”menjadi”, yangnyaris established dan mapan di zamannya.

Kekristenan datang berhadapan dengan struktur budaya, politik, dan agama yang sedang tumbuh dengan pengaruh kuat di dalamnya. Itulah sebabnya kekristenan yang datang dengan konsep (teologi) baru, budaya, dan paradigma baru di berbagai bidang ditentang, dihujat, dilawan, bahkan mencapai titik kulminasi dengan mengadili Yesus secara tidak adil dan menyalibkannya. Walaupun demikian, kekristenan tidak pernah berakhir dengan
kematian Yesus. Darah Yesus dan darah para martir telah membangkitkan kekristenan dengan kekuatan dan energi baru, melahirkan Gereja-gereja yang memenuhi seluruh muka bumi. Kekuatan kekristenan yang berlandaskan Injil, euangelion, yang adalah Kabar Kesukaan dan dunamos Allah, tak bisa lagi dibendung oleh kuasa mana pun yang ada di dalam dunia.

Gereja-gereja membentuk lembaga-lembaga pekabaran Injil dan dengan semangat misioner yang amat tinggi para misionaris/pekabar Injil
menyiarkan Kabar Kesukaan itu ke seluruh dunia. Injil tidak lagi merupakan sebuah ”produk lokal” dan ”produk domestik”. Injil telah merambah kelingkup global dan dikenal secara mondial.

Hal yang amat esensial yang acap diingatkan dalam surat-surat Perjanjian Baru adalah bahwa kekristenan minimal harus mengedepankan
dua hal signifikan yaitu bahwa ia adalah Jemaat Misioner, jemaat yang dinamis dan bergerak menyongsong ”Maranatha”, dan bukan jemaat yang apatis, membisu, dan loyo berhadapan dengan tantangan zamannya; dan bahwa kita adalah komunitas kristiani yang bekerja dalam terang, atau ”orang-orang siang” yang tidak berkolaborasi dengan ”kuasa kegelapan”.

Pemahaman tentang jemaat yang misioner atau kekristenan yang misioner menjadi amat penting agar Gereja dan kekristenan tidak berhenti sebagai kekuatan yang mapan, jumud, dan terpenjara pada roh-roh dunia, tetapi sebuah kekristenan yang berbasis Kabar Kesukaan dan tetap menjadi kekristenan yang energik, yang bersaksi, yang memberi pengharapan masa
depan bagi peradaban manusia.

Pada tahun 1970-an, Pdt. Dick Rudolf Maitimoe (GPIB) melakukan program pembinaan tentang membangun jemaat misioner dalam konteks Indonesia yang majemuk. Kata ”misioner” dalam konteks Gereja-gereja di Indonesia memberikan daya dorong kuat untuk mewartakan berita Injil di tengah medan yang amat sulit. Kita tidak boleh alergi dengan diksi “misioner”, seolah kata itu buatan para penjajah dan berkonotasi penaklukan satu terhadap yang lain. Istilah itu penuh dengan power, dunamos, semangat untuk memberitakan Injil yang di zaman now agaknya makin redup.

Surat Paulus kepada Jemaat Tesalonika sebagaimana dikutip di atas memberi lesson learn cerdas dan menyadarkan bahwa kita adalah ”orang-orang siang”, bukan ”orang-orang malam yang bersekutu dengan kuasa gelap” dengan baju zirah (baju tembaga), yaitu iman dan kasih, disertai dengan ketopong (helm pelindung kepala), yaitu pengharapan keselamatan.

Metafora ”baju zirah” dan ”ketopong” sengaja digunakan Paulus untuk menegaskan bahwa iman, kasih dan keselamatan sudah menjadi bagian (built in) dari kedirian kita. Dengan baju zirah dan ketopong kita terbebas dari kontaminasi roh-roh dunia. Sebab itu, kita akan mampu mewujudnyatakan kekristenan yang misioner, di kekinian sejarah.

Mari terus secara kreatif mencari bentuk-bentuk baru mewartakan Injil dalam era milenial. Gereja takboleh diam dan bisu. Gereja yang tidak punya hasrat mengabarkan Injil, ia kehilangan hakikatnya sebagai Gereja.

Beberapa tahun yang lalu seorang tokoh oikoumenis: Dr. SAE Nababan berdiskusi secara khusus dengan saya di kantor PGI bagaimana cara terbaik mengembangkan pekabaran injil di Jawa bagian Barat. Beliau bahkan akan mengajak Gereja-gereja lain dan mengupayakan dana untuk program itu. Melihat keseriusan Dr Nababan maka saya meminta pimpinan Gereja saya untuk menindaklanjuti hal tersebut dengan melibatkan beberapa orang di level pimpinan. Beberapa bulan kemudian Dr Nababan menjenguk saya tatkala saya dirawat di RS PGI Cikini. Saat itu beliau memberitahu bahwa program pekabaran injil di Jawa Barat, sebagaimana yang pernah kami diskusikan belum bisa terwujud. Jujur, saya merasa malu dan terpukul dengan realitas itu. Dan secara pribadi saya salut kepada tokoh sekaliber Dr Nababan yang tetap bersemangat tinggi mewartakan Injil.

Gereja-gereja tidak boleh terpenjara oleh Covid 19, Gereja-gereja harus tetap punya agenda untuk mengabarkan Injil!

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless!

Enough Is Cukup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ulangan 27:17

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara akhir pekan seraya mengucap syukur kepada Tuhan. Sebab, cinta Tuhan tidak mengenal jeda. Sampai kini, kita dan keluarga kita masih diberi tambahan umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, ”Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! “

Ulangan 27:17

Saudaraku, dalam diri manusia terdapat naluri dan hasrat mempunyai segala sesuatu secara berlebih. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa kekurangan itu membawa akibat kesusahan. Kurang uang. Kurang sehat. Kurang perhatian. Kurang makan. Hal kekurangan dalam hal tertentu, berdampak buruk bagi manusia, baik fisik maupun kejiwaan.

Kurang sehat mengakibatkan fisik menjadi lemah. Kurang uang menimbulkan perasaan murung. Kurang iman mudah mengeluh dan putus asa. Tidak heran, setiap manusia lebih menginginkan kelebihan daripada kekurangan. Apalagi kelebihan yang bersifat materi. Seakan-akan ada perasaan puas dan tenang jika hidup dalam kelebihan.

Tuhan pun memberikan Abraham, Ishak, Yakub dan tokoh lain dengan kehidupan melimpah secara materi. Hidup mereka dilengkapi tanah yang luas, hewan ternak yang lebih dari cukup. Bahkan sosok Ayub, misalnya. Dia “memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar…”. Fantastik sekali jumlah kekayaannya. Hidup mereka betul-betul sejahtera. Alkitab hendak menggambarkan nama-nama di atas hidupnya secara materi berlimpah. Tidak mengenal kekurangan.

Saudaraku, naluri ingin mempunyai lebih ternyata harus dikontrol. Sebab, jika itu tidak dikontrol bisa tergelincir jatuh ke dalam keserakahan. Akibat buruk dari keserakahan adalah ingin mengambil dan menguasai milik orang lain. Firman Tuhan tadi merupakan rambu-rambu buat manusia mematuhinya supaya tidak jatuh dalam keserakahan itu.

Dalam hal ini berbentuk bersifat peringatan keras agar tidak menggeser batas tanah milik pihak orang lain. Jelas, peringatan ini merupakan fungsi kontrol keserakahan. Dan bukan tidak mungkin, praktik yang suka menggeser batas tanah lazim terjadi.

Di jaman itu, bukti kepemilikan tanah belum berbentuk sertifikat tanah. Tanda kepemilikan tanah milik seseorang, hanya ditandai secara tradisional. Berupa batu atau pohon jadi penanda batas kepemilikan tanah. Dan terlihat betapa mudahnya orang berniat buruk mengambil tanah bukan miliknya, yakni dengan menggeser batas tanah. Orang Israel diperingatkan tidak boleh melakukan itu. Mengingat menguasai tanah bukan miliknya digolongkan perbuatan terkutuk. Sangsinya berat. Hidupnya kelak menderita. Tanah adalah sumber kehidupan. Tindakan mengambil dan menguasai tanah orang lain, itu sama dengan merusak sumber kehidupan seseorang. Itu tidak boleh.

Dengan demikian, pada satu sisi, Allah ingin melindungi hak kepemilikan atas sesuatu, termasuk sebidang tanah. Pada sisi lain, tidak menggeser batas tanah seseorang merupakan bentuk pencegahan hasrat memiliki lebih dan keserakahan seseorang.

Saudaraku, apakah kenal raja Midas? Tentu, ia bukan nama yang pernah hidup di negeri tercinta ini. Raja Midas adalah seorang raja yang ingin hidupnya sudah berlimpah, tapi ingin terus makin bertambah. Ia punya kemampuan, setiap tangannya menyentuh sesuatu maka yang benda yang disentuhnya berubah menjadi emas. Ia pegang tongkat, segera tongkatnya berubah menjadi emas berkilauan. Pegang kursi, wow, kursi itu berubah menjadi kursi emas. Tentu dia senang. Dengan kemampuan itu, ia berlimpah harta. Sebab emas ada di mana-mana.

Sampai suatu hari, anaknya kangen ingin dipeluk ayahnya, raja Midas. Sang raja pun sama, ia rindu memeluk anaknya. Anaknya melihat ayahnya segera berlari ke arah raja. Raja yang dikuasai perasaan rindu yang kuat, spontan membentangkan tangannya. Jatuhlah anak itu dalam pelukan ayahnya. Seketika itu juga, anak raja Midas berubah jadi emas. Sedih dan menyesallah sang raja.

Demikian, ilustrasi orang yang selalu berlebih tapi tidak mampu mengontrolnya. Akibatnya, ia memetik kesusahan dan penderitaan bukan suka cita dan kebahagiaan. Saudaraku. Keserakahan adalah racun kehidupan bukan madu yang memberi manisnya kehidupan. Orang kerap tidak berhasil menghayati pola hidup “sudah cukup”. Enough is enough. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan agar kita meminta dengan formula, “berikanlah makanan kami yang secukupnya. Sayang, banyak yang gagal.

Saudaraku, menurut WHO, lembaga kesehatan dunia, penyakit yang menempati nomor satu penyebab kematian seseorang dewasa ini. Yaitu, jantung. Terutama berkaitan erat dengan diabet dan kelebihan berat badan. Artinya, apa? Sekarang orang memkonsumsi berlebihan makanan yang masuk dalam tubuh. Manusia modern sulit menyatakan secukupnya. Termasuk membiarkan tubuhnya disuplai makanan berlebihan. Tentu, tidak hanya makanan, tapi juga hal lain selalu ingin berlebih tanpa daya mengontrolnya.

Kita berdoa, “Tuhan, ajar dan mampukan kami hidup dengan pola secukupnya. Hindari kami dari pola hidup yang membuat kami terjatuh dalam keserakahan“.

Kami membawa dalam doa, kehidupan kami hari ini. Semoga Tuhan memberi akhir pekan yang diwarnai kehadiran berkat dan kebaikan-Mu.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

HIDUP ITU (SALING) MEMAAFKAN

Oleh Weinata Sairin

Vincere est honestum, opprimere acerbum,
pulchrum ignoscere.

Menang itu terhormat, menghancurkan itu pahit,
(tetapi) memaafkan itu indah


Hidup ini adalah sebuah realitas yang dinamis, bukan sebuah kediam-diaman tanpa makna. Hidup ini mencakupi segalanya. Hidup mesti bergerak, bertindak. Hidup mesti bersuara:
menyuarakan isi hati yang tak bisa disuarakan oleh pihak-pihak lain termasuk oleh partai politik atau mereka yang telah diambil sumpah sebagai wakil rakyat. Ya, bersuara keras, lantang, bersuara lirih; menyuarakan suara-suara dari mereka yang tak mampu lagi bersuara.

Hidup berarti juga membaca, mempelajari sejarah masa lalu. Hidup juga menulis. Menuliskan segala sesuatu yang kita alami, yang kita lihat dan rasakan, yang tidak bisa masuk di media cetak, elektronik, ataupun media sosial.

Hidup adalah merawat luka, duka, dan berbagai penyakit. Hidup tak bisa berdiam diri terhadap mereka yang didera derita, derita kemanusiaan yang lahir dari abad ke abad; mereka yang dihabisi karakternya, mereka yang mengalami semacam genocide, mereka yang terusir dari lokus mereka karena berbeda paham keagamaan, mereka yang dihujani pelor-pelor teror,
mereka yang tercabut dari akar kultural-sosiologis karena masalah etnik dan primordial, mereka yang menjadi korban perang.

Dalam arti spesifik, karena alasan keamanan, dunia yang damai, memerangi terorisme, menyelamatkan benda dan situs keagamaan dari serangan terorisme, hidup juga adalah sikap memerangi kelompok yang tak berkeadaban, mengajak dan mempertobatkan mereka untuk kembali ke jalan lurus yang berbasis agama.

Hidup adalah sesuatu yang komprehensif, simultan, dan menyeluruh, yang terus bergerak hingga tiba di terminal penghabisan. Hidup rumit dan complicated itu mesti dihargai dan diapresiasi, karena hidup itu dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Jangan dilihat sulit dan rumitnya sebuah kehidupan, tetapi sadari benar bahwa hidup adalah anugerah yang amat besar dari Tuhan Yang Mahakasih.

Kita semua harus menjalani hidup ini dengan penuh tanggung jawab. Manusia adalah ”makhluk yang ditanggungi jawaban”. Manusia yang melarikan diri dari tanggung jawab adalah manusia yang menyangkal hakikat kediriannya sebagai manusia. Dalam hidup yang rumit, pelik, dan mahaluas ini, kita harus menjadi manusia petarung, sosok yang dengan gagah berani berusaha keras melawan berbagai hambatan dan ”musuh” dalam kehidupan kita.

Sikap manusia yang bagai petarung, tak mudah menyerah, akan melahirkan kita sebagai pemenang dalam kehidupan ini. Itulah saat terindah dalam kehidupan, saat kita menjadi ”pemenang”. Apalagi, jika kemenangan
kita diperoleh melalui perjuangan dan prosedur yang baku, bukan karena faktor-faktor negatif, pasti lebih indah lagi.

Faktor mahapenting dalam sebuah kehidupan adalah faktor spiritualitas, agama. Dalam hal ini, ajaran agama harus menjadi roh/ruh/ruach
dalam perjalanan kita menapaki kehidupan yang Tuhan sediakan. Kita tidak sekadar beragama secara formal, bukan sekadar agama kita tercantum dalam KTP, tetapi beragama secara praksis/fungsional.

Artinya, keberagamaan kita bisa diverifikasi dalam kehidupan nyata, kehidupan sehari-sehari di luar waktu pelaksanaan ibadah kita. Ajaran agama tidak hanya kita tahu dan hafal, tetapi harus terinternalisasi dalam kedirian kita. Kita mesti beragama secara konsisten dan kafah (’sempurna; keseluruhan’).

Sebagai warga dari bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak bisa tidak kita, adalah warga yang beragama.

Menarik kisah tentang Voltaire, seorang yang menyatakan dirinya ateis. Suatu saat Voltaire menyaksikan matahari terbit ditemani sahabat dekatnya. Tatkala memandang matahari yang terbit di atas horizon di pagi cerah itu, ia tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia berseru: ”Oh, Tuhan! Aku memuji-Mu!” Sahabat kentalnya amat terkejut mendengar ungkapan Voltaire itu.

Voltaire yang ateis tak bisa terpenjara pada keateisannya. Ia secara spontan mengungkapkan pujian yang kontennya sebenarnya paradoksal dengan hakikat dirinya yang ateis. Karya Tuhan yang besar, yang tiada pernah tertandingi, sejatinya memang harus mengantar seseorang untuk percaya kepada Tuhan.

Pepatah kita mengingatkan hal yang amat penting dalam kehidupan. Menang, menghancurkan, dan memaafkan adalah hal yang bisa dan biasa terjadi dalam episode kehidupan kita. Kita harus melakukannya dalam tanggung jawab sebagai manusia. Menang dari kuasa kegelapan, menghancurkan kezaliman dalam berbagai bentuk, dan saling memaafkan adalah sesuatu yang mesti dilakukan dalam kehidupan yang kompleks ini.

Saling memaafkan adalah sesuatu yang khas manusia, namun memaafkan tidak berarti menafikan proses-proses hukum yang mesti ditempuh jika hal itu membawa kebaikan. Kita juga terbuka untuk memaafkan orang-orang yang dicatut namanya atau ditipu untuk ikut dalam kerumunan deklarasi, kita memaafkan siapapun yang menghujat kita karena ia perlu uang untuk kelangsungan periuknya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Hidup saling memaafkan itu indah, dan sangat indah.

Jembatan Penghubung

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 25:32-34

Pagi baru telah tiba. Pertanda Tuhan memberi kita kepercayaan untuk mengisi kehidupan hari ini. Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan sebab kita masih dipercaya untuk hidup.

Bacaan refleksi pagi ini: “Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: “Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; (33) terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. (34) Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing.”

1 Samuel 25:32-34

Saudaraku, konflik adalah bagian dalam kehidupan masyarakat yang terus ada, bahkan sepanjang keberadaan hidup bersama antar manusia, konflik akan terus ada. Selama ada keperbedaan kepentingan konflik bisa meletup. Demikian pula, selama nilai yang dihayati manusia beraneka ragam, konflik tidak bisa dihindari. Gara-gara perlakuan yang tidak setara, itu pun bisa membuat ledakkan konflik.

Dalam keluarga fakta adanya konflik itu kita bisa lihat. Adik dan kakak bisa berseteru. Dua pribadi yang telah dipersatukan Allah saja bisa bersilang sengketa. Tak terkecuali dalam wilayah keagamaan. Di situ pun meletup konflik. Barangkali tidak berlebihan, kita katakan selama ada manusia di situ konflik pun selalu ada.

Konflik tidak bisa dihindari. Datang dan pergi. Pengelolaan konflik yang sepatutnya harus kita miliki. Banyak orang takut konflik, oleh karena konflik yang tidak dicarikan solusi dengan baik mengakibatkan banyak korban yang jatuh. Suami-istri yang terus-menerus konflik tanpa menemukan titik temu, bisa berakhir dengan putusnya ikatan perkawinan. Kakak-adik yang tidak mau dirukunkan, kehangatan persaudaraan mulai hilang.

Konflik itu beragam wujudnya. Dari keengganan berkomunikasi antar pihak yang berkonflik sampai ingin menghancurkan satu sama lain. Naluri yang bergejolak pada diri yang berkonflik adalah diri sendiri ingin menang sedangkan seterunya kalah. Di mana-mana fenomenanya begitu.

Konflik yang berkepanjangan kerap menakutkan, apalagi melibatkan dua atau lebih banyak pihak. Wajar menakutkan, karena ongkos yang dibayar selalu mahal. Siapa yang bisa menyangkali oleh sebab konflik keluarga bisa pecah. Satu negara saling mengangkat senjata untuk ‘mengakhiri konflik’. Jangan lupa, di Indonesia sebuah Gereja terbelah bukan karena pengembangan, namun gara-gara konflik.

Saudaraku, konflik bisa berlarut-larut atau berefek pada kerugian besar, bila melibatkan pihak ‘orang kuat’. Orang banyak bisa ikut ‘demam’ jika orang kuat saling bertikai. Sebab dampaknya ke mana-mana. Dalam teks bacaan kita ada dua orang kuat yang berkonflik, raja Daud dan Nabal. Satu penguasa, dan yang satu lagi pengusaha.

Jelas, mereka digolongkan orang kuat bukan mengada-ada. Daud sebagai raja, dia dalam pengungsian karena ancaman raja Saul. Daud tetap punya kekuatan riil. Pasukannya ribuan. Loyal. Dan efektif memberi pengamanan. Nabal pun sama orang kuat. Kekayaan yang berlimpah merupakan kekuatan riil juga. Bukankah kita tahu, uang atau materi bisa membeli pendirian orang. Banyak kisah, yang menceritakan bagaimana demi harta orang bisa meninggalkan iman. Apalagi, hal-hal lebih rendah daripada iman.

Dua orang sama-sama kuat. Sama-sama merasa kuat dan besar. Terbayangkan sulitnya meredakan konflik dan meretas jalan damai. Tiap-tiap pihak bisa mempertahankan harga diri. Jika sudah demikian, betapa susahnya mengalah demi sebuah kebaikan. Sama-sama menang (win-win) itu bukan idaman bagi pihak yang merasa kuat.

Saudaraku, raja Daud merasa telah melindungi ternak kekayaan Nabal. Daud minta agar itu dihargai. Ia merasa kehadiran tentaranya memberi manfaat bagi Nabal. Sedangkan Nabal merasa tidak kenal, apalagi merasa menyewa jasa keamanan. Sehingga begitu Daud meminta makanan dan minuman buat kebutuhan tentaranya. Maka jawaban yang Nabal bersifat penolakan. Ketegangan segera memuncak. Suhu relasi menjadi panas. Saling ancam mulai terlontar.

Apa yang terjadi bilamana dua orang kuat berkonflik tak terjembatani? Konflik akan berubah menjadi pertumpahan darah. Dan itu kerugian di kedua belah pihak. Pada saat jalan buntu karena tiap-tiap pihak tidak mau bergeser dari pendirian dan egonya, seorang perempuan tampil. Dia adalah Abigail, istri Nabal. Kemampuan membaca situasinya tajam. Naluri dan sikap bijaknya kuat. Dialah yang menjembatani antar kedua belah pihak mengurangi ketegangan. Instruksinya kepada hamba-hambanya agar menggelontorkan bantuan makanan kepada pihak raja Daud, terbukti mengurangi dampak akibat konflik. Betul, akhir cerita Nabal tewas. Tapi, keluarga dan hamba-hambanya tetap hidup. Kerugian akibat konflik terkurangi.

Saudaraku, di sekolah, di kekuarga, di gereja, di kantor dan dalam kehidupan masyarakat tak luput dari konflik. Kita patut punya kemampuan mengelola konflik. Agar di mana kita berada konflik bisa didamaikan dan kerugian bisa diminimalisir. Mengelola bukan diartikan konflik itu dipelihara. Bukan diawetkan. Melainkan, dari konflik itu kita mencari manfaat positifnya dan membuang efek negatifnya.

Mari kita berdoa, Tuhan, ajar dan mampukan kami untuk menjadi juru damai di mana pun kami berada.

Kami membawa kepada-Mu yang sakit. Bapak-ibu dan saudara-saudara kami. Kiranya Tuhan memberi pemulihan dan tubuhnya sehat kembali. Berkati juga dengan suka cita buat para lansia.

Seluruh doa kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.