Setia Sampai Akhir

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Wahyu 2:10b

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan Saudara yang baik. Semoga pagi ini, kita, keluarga dan seluruh insan menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, segenap kita masih diberi perlindungan dan nafas kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Wahyu 2:10b

Saudaraku, dari sebuah peristiwa penderitaan kita bisa menilai watak, mental dan iman seseorang. Saya pernah melakukan perjalanan pulang dari luar kota menuju Jakarta. Saya menumpang kendaraan travel. Sepanjang jalan situasi lalu lintas padat dan macet. Beberapa kali supir mengemudikan mobilnya membahayakan kendaraan lainnya. Serta supir itu mengeluarkan umpatan dan teriakan dengan nada tak sopan ke pengemudi lainnya.

Jelas, dari situasi lalu lintas yang tidak nyaman itu, kita bisa menebak seseorang sabar atau tidak. Pasti supir ini temperamental. Sedangkan pengendara lain, yang sama-sama harus menghadapi kondisi jalan yang tidak menyenangkan. Mengemudikan mobilnya tetap menghargai yang lain.

Sama. Kita bisa tahu seseorang teman sejati atau bukan, ya juga pada saat situasi kesulitan. Bila ada orang yang sakit, dan bertahun-tahun tidak kunjung sembuh. Sedangkan temannya tiada jemu mengunjungi atau memberi perhatian. Itu sudah cukup bagi kita mengetahui, bahwa dia memang teman sejati yang tulen.

Jika ada suami atau istri jatuh miskin, dari sana juga kita bisa tahu apakah pasangannya betul-betul mencintai atau tidak. Ternyata, pasangannya lebih banyak mengeluh dan kerap pergi entah kemana. Itu sudah cukup bercerita, sejauh mana kadar cinta yang sesungguhnya.

Taruhlah sebagai contoh, ada seorang perempuan dengan pasangan hidupnya sudah pensiun, tua, tidak gagah lagi dan sakit-sakitan. Dan ternyata sikapnya tetap konsisten tidak berubah. Ia dampingi dengan kasih. Dia rawat dengan telaten. Tak diragukan lagi, perempuan itu betapa mulia sikap yang dimilikinya.

Kita ingin tahu jiwa dan karakter seseorang, bisa melalui bagaimana orang itu bersikap di masa sulit. Demikian juga, kita bisa tahu seseorang menghayati iman sejati atau tidak, terlihat pada saat penderitaan dan kesulitan datang.

Orang-orang percaya di Jemaat Smirna contohnya. Mereka mengalami pergumulan pahit. Mengaku terang-terangan amat beresiko. Tidak heran ada yang menyembunyikan identitas keimanannya sebagai orang Kristen. Perlakuan buruk dan jahat mereka alami. Masyarakat dan pemerintah Romawi, khususnya, waktu itu menindas mereka. Bahkan ada yang kehilangan nyawa.

Konon, bila Saudara mengenal kata “Qua Vadis”, itu lahir dari suatu kisah kehidupan kekristenan yang berat dan sulit. Suatu hari rasul Petrus hendak pergi dari kota Roma. Ia mau meninggalkan kota itu sekaligus Orang-orang Kristen waktu itu. Sebab, ia tak tahan. Deraan sebagai orang Kristen sudah melampaui batas. Dicerca. Dihina. Dipersekusi. Ketika tiba di perbatasan kota Roma, sebuah suara terdengar tertuju ke rasul Petrus, “Qua Vadis dominee. Mau kemana Tuan?”. Pertanyaan itu menggugah kesadarannya, mengapa harus meninggalkan domba-domba Allah. Maka, segera rasul Petrus mengurungkan niatnya dan kembali ke kota Roma. Jadi, penderitaan hampir membuat rasul Petrus meninggalkan domba-domba yang dipercayakan kepadanya.

Demikian juga di Smirna. Smirna salah satu kota penting di bawah kekuasaan Romawi. Sekarang letaknya di wilayah negara Turki. Di sana, umat Tuhan dibom-bardir. Penderitaan tak kunjung henti. Akibatnya, ada yang tak tahan. Ada yang keluar dari persekutuan. Ada yang meninggalkan Yesus karena terlalu berat harga yang harus dibayar. Meski demikian, terdapat mereka yang tetap setia.

Saudaraku. Penderitaan menyaring mana orang beriman yang tulen dan mana yang kw atau palsu. Bagi yang tulen, keadaan dan situasi bagaimanapun sulitnya, tetap beriman. Kesetiaannya tidak goyah. Sehingga firman Tuhan menyatakan bahwa mereka yang setia sampai akhir akan mendapat mahkota kehidupan. Yaitu suatu hadiah yang tidak fana yang diberikan khusus bagi yang menang dari pertandingan iman dan ujian.

Saudaraku, kiranya kita memasuki hari Kamis ini, kita tetap orang-orang yang setia dan teguh dalam iman kepada Tuhan. Yesus. Konsisten, dulu, kini dan esok tetap percaya kepada Kristus. Tidak banting setir di jalan berbalik dari Kristus.

Mari kita berdoa, “ Tuhan, situasi pandemi belum berakhir. Masih banyak orang yang dalam kesulitan, berilah mereka kekuatan dan kesabaran.

Berkati aktivitas kami, kesehatan kami dan lindungilah kami agar hari ini kami berada dalam naungan sayap kasih-Mu.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Disiplin Hidup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 4:10-11

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Pagi ini kita terbangun dari tidur kita. Pertama-tama, marilah kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik. Ia yang mengatur hidup alam buat kebaikan kita.

Firman Tuhan, ”Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.”

1 Samuel 4:10-11

Saudaraku, bangsa Israel dalam rangka mempertahankan keberadaannya di tengah bangsa lain, harus menjalani peperangan. Sedangkan peperangan selalu menghasilkan dua keadaan: menang atau kalah. Menang berarti suka cita. Menang akan membawa bangsa Israel memiliki keleluasaan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Sementara itu, jika kalah maka nasib bangsa itu berada di bawah kekuasaan bangsa lain. Tidak punya kedaulatan. Untuk itu, pasti kemenangan yang selalu didambakan, bukan kekalahan.

Dua keadaan yakni menang atau kalah merupakan hal tak terhindarkan dalam peperangan. Saat menghadapi bangsa Filistin, ternyata Israel kalah. Kali ini kekalahan kedua kali. Korban material dan nyawa harus diderita pihak Israel. Bangsa yang dicintai Allah menghadapi realitas pahit. Konon, 30.000 orang gugur. Suatu jumlah yang tidak sedikit.

Bagi sebuah keluarga, kehilangan satu anggotanya gugur di medan perang itu sudah pukulan. Kehilangan besar. Demikian juga buat sebuah bangsa. Air mata kesedihan dan kedukaan mengalir di tiap keluarga Israel berkenaan dengan gugurnya putra terbaik mereka. Bangsa itu terpukul.

Di antara yang gugur, ada dua nama yang tewas yakni Hofni dan Pinehas. Dua nama dengan kepribadiannya yang mencoreng nama baik ayahnya sendiri. Mereka adalah anak imam Eli. Semasa hidupnya tidak pernah mau mendengar nasihat ayahnya. Perilakunya jadi omongan. Sebab, tidak mencerminkan anak-anak pemimpin agama.

Nama besar ayahnya dijadikan tameng yang melindungi perbuatan mereka yang tidak bermoral. Tukang main perempuan. Tukang mencuri pesembahan untuk Allah, dan lain sebagainya. Mereka memanfaatkan fasilitas dan kewenangan ayahnya sebagai imam, untuk kepentingan pribadi. Selain itu, mereka tidak menghargai Allah Israel yang dilayani ayahnya.

Saudaraku, setiap orang pasti mati. Sayangnya, kematian Hofni dan Pinehas bukan bagian kehidupan yang orang banyak tangisi. Mereka tidak digolongkan pahlawan. Justru, jangan-jangan orang Israel bergembira dengan kematian mereka. Sebab, semasa hidup mereka, umat Israel sudah muak dengan perilaku dua bersaudara itu. Tingkah mereka yang jauh dari kesantunan dan nilai-nilai etika dan moral. Mereka selama ini lebih banyak membawa keresahan dan rasa malu, bahkan bagi keluarganya sendiri. Terutama imam Eli, seorang tokoh dan pemimpin agama.

Saudaraku, hidup itu ada ujungnya. Termasuk anak seorang tokoh agama pun ada ujungnya. Yang disayangkan adalah saat tewas, Hofni dan Pinehas masih melekat dengan nama buruk. Mereka belum mengubah perilakunya. Mereka mati dengan nama yang bercela. Jika demikian, bisa saja bangsa itu tidak menangisi kematiannya. Bangsa itu justru terbebas dari beban moral. Sebab, telah tewas biang onar. Kedua orang itu, saat hidup banyak merepotkan keluarga dan bangsa. Bisa saja kematian mereka tidak diiringi rasa duka dan kehilangan umat Israel.

Rangkaian dari kabar buruk kekalahan Israel dan tewasnya Hofni dan Pinehas, imam Eli begitu mendengar kabar buruk itu amat terpukul. Ia jatuh, dan meninggal seketika. Sungguh, hari penuh mendung duka buat umat Israel. Kalah perang, puluhan ribu prajurit mengalami ajal di medan perang. Pemimpin agamanya, yaitu Imam Eli yang seharusnya menghibur duka bangsa itu, ternyata ia pun karena syok, jatuh dan menyusul kedua putranya, tewas.

Saudara, betapa penting mendidik secara tepat kepada anak-anak. Jika tidak, kelak mereka lebih banyak merepotkan orang tua. Perilaku mereka menjadi sumber pergumulan orang tua. Orang tua menikmati masa tua dengan gelisah dan gundah. Anak-anak yang salah didik akan menjadi beban, padahal orang tua sudah memasuki masa tua yang ingin dinikmati dengan suasana tenang. Imam Eli tidak memperlihatkan ketegasan sikap dan mendisiplinkan anak-anaknya. Ia tidak tegas menegur anak-anaknya yang bertindak keliru.

Akhirnya, buah yang ia panen adalah kepahitan. Karena itu, Saudaraku, kita menyediakan anak-anak kita tidak hanya makanan yang cukup, busana yang lengkap. Yang tidak boleh diabaikan adalah, anak-anak kita butuh pendidikan dan disiplin hidup yang baik. Sehingga dalam diri anak-anak kita tertanam rasa hormat kepada Allah dan sesama.

Kita berdoa, “Ya, Tuhan, jadikan kami sebagai pembawa kehendak-Mu dalam keluarga kami sehingga dalam keluarga kami hadir sikap takut akan Tuhan.

Doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Kerukunan Permata Kehidupan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Mazmur 133:1

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”

Mazmur 133:1

Saudaraku, betapa pahitnya pengalaman berkonflik, terlebih dengan orang yang sangat dekat dengan kita. Orang yang dekat dengan kita setelah orang tua adalah saudara kandung atau saudara tiri. Secara gen atau darah maupun secara psikologis saudara merupakan sosok yang relasinya paling intim. Orang tua sama, hidup di bawah atap rumah yang sama, sejak kecil telah terbentuk kehangatan saling mengasihi secara alami, dan faktor lain yang amat banyak. Karena itu, bila suatu saat ada seseorang terjebak pada permusuhan dengan saudaranya sendiri, amat disesalkan. Sebab, dampak perasaan lukanya pun justru lebih berat.

Alkitab secara blak-blakan mengisahkan beberapa kisah pedih itu. Kisah yang menggambarkan buruknya relasi antara adik dan kakak. Alkitab tidak menyembunyikan informasi tentang anak-anak “tokoh alkitab” yang malah menghancurkan nilai2 persaudaraan. Mereka yang gagal menjadi contoh baik, agar kita meneladani bagaimana hidup rukun antar saudara.

Soal brutalitas perlakuan kakak atas adik, kisah Kain yang membunuh Habil, sungguh membuat kita bergidik. Gara2 cemburu soal persembahan, seorang kakak yang harusnya melindungi adik kandung sendiri, menghilangkan nyawa adiknya. Tega betul dia!

Kita ingat perjalanan hidup Yusuf. Di mata kakak2nya, Yusuf dianggap _sok pintar._Dan merebut perhatian ayahnya, Yakub, hanya tertuju untuk Yusuf. Sehingga mereka merasakan pembedaan kasih sayang. Ujung dari ketidak puasan ini, mereka menyingkirkan adiknya sendiri. Dibuang dan dicelakakan.

Kisah ini pun sungguh mempertontonkan ketidak mampuan kakak memproteksi adiknya sendiri. Kita tahu, akibatnya bertahun-tahun Yakub menyimpan kepedihan karena kehilangan Yusuf. Dan sekian tahun, penderitaan itu disebabkan ulah anak2 kandungnya sendiri.

Hanya itukah kisah bagaimana orang memperlakukan saudaranya dengan buruk? Oh, tidak. Masih banyak. Hanya saya ingin mengangkat satu kisah lagi, yakni hancurnya kerukunan Yakub dan Esau. Konflik yang tidak dipisahkan dengan semangkuk kacang merah. Kisah konflik ini pun sarat ataupun penuh dengan drama yang menguras emosi kakak-adik.

Betul, konflik antar keduanya tidak sampai saling berdarah-darah. Hanya ingat, bertahun-tahun antar mereka hidup terpisah dalam suasana takut terhadap saudaranya sendiri. Mereka rindu untuk berjumpa dan berpelukan. Tapi, rasa marah dan takut menghalangi mereka. Bahkan, bukan hanya di antara mereka secara individu. Relasi ipar dan saudara sepupu pun tidak mengenal kehangatan kasih satu sama lain.

Saudaraku, mengapa Alkitab mengangkat sisi hitam anak-anak tokoh sekaliber Isak, Yakub, bahkan yang lain juga seperti anak-anak Daud? Tentu, ada kandungan pesannya. Yaitu jangan berkonflik antar saudara sekandung atau tiri. Sebab, kita akan kehilangan nilai terindah yang semestinya kita kecap. Konflik itu harus segera diatasi sejak dini. Selagi kadar konfliknya masih rendah, sebaiknya harus cepat diselesaikan. Konflik yang dibiarkan maka kelak akan menjadikan manusia seperti monster yang tidak mengenal belas kasihan. Permusuhan yang tidak cepat dipadamkan akan membakar kebeningan hati dan melahirkan sikap kejam.

Sadar bahwa persaudaraan itu nilai yang indah, bahkan lebih indah dari sebuah persembahan. Tuhan Yesus berkata, ”tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” Matius 5:24

Saudaraku. Selama minus nilai persaudaraan, maka berbuntut relasi antar manusia penuh dengan konflik dan kekerasan. Kerukunan menjadi hal langka. Sulit dilihat dan ditemui. Padahal nasihat firman Tuhan kepada kita agar kita “diam bersama dengan rukun”. Kita dipanggil membangun kerukunan. Hidup bersama akan keropos tanpa kerukunan. Satu sama lain dipenuhi permusuhan. Kita tahu, dalam situasi permusuhan hati tidak damai. Sekaligus suasana takut merasuki pikiran dan emosi manusia.

Mari, kita jaga nilai persaudaraan dan kerukunan, sebab itu bagaikan permata kehidupan. Terlihat indah dan terasa menyejukkan hati, saat kita memilikinya. Karena itu, hidup rukun menjadi pilihan kita bukan bermusuhan dengan saudara sendiri.

Dalam konteks hidup bermasyarakat dan berbangsa, betapa pentingnya ikatan persaudaraan. Sehingga dalam keragaman suku, agama dan ras, bangsa kita tetap menjaga kerukunan dan keutuhannya. Kita tempatkan spirit atau semangat persaudaraan menjadi perekat sejatinya. Oleh karena itu, mari kita bergandengan agar kerukunan tidak berhenti pada wacana, melainkan wujud nyata dalam kehidupan bersama yang lain.

Kita berdoa, “ Ya, Tuhan, jadikan kami sebagai pembawa damai dalam keluarga kami dan hidup rukun, tak bermusuhan dengan saudara sendiri maupun saudara sebagai sesama.

Kami berdoa untuk acara kebersamaan dalam rangka HUT KE 75 RI. Semoga semakin kuat ikatan persaudaraan dan semakin kokoh keakraban antar anggota masyarakat. Sekaligus memperkuat kesadaran kebangsaan. Kiranya selama kegiatan berlangsung mereka pun menikmati rasa suka cita.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

BERDOA DI DEPAN PUBLIK DALAM SPIRIT PANCASILA

Oleh Weinata Sairin

Kita semua sebagai warga bangsa sepakat bahwa Pancasila harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai aspek.

Ada sebuah contoh praktis bagaimana melaksanakan Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Doa di level manapun di depan publik sebaiknya dimulai dgn kata-kata “saya berdoa sesuai dgn agama saya (misal: Islam atau Kristen atau Hindu), saudara-saudara yang hadir mohon berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing”.

Dengan cara itu maka kita,pemimpin Doa, menghargai setiap agama dan kepercayaan yang dianut warga bangsa, yang hadir dalam pertemuan itu. Spirit Pancasila adalah spirit yang mengapresiasi agama-agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bukan spirit yang menafikan/meniadakan dan atau tidak menghormati agama lain. Oleh karena itu tatkala kita berdoa di depan publik di level manapun (instansi pemerintah,swasta, DPR, MPR, DPD, di Pusat atau Daerah) ingatlah selalu bahwa publik yang kita hadapi tidak semua seagama dengan kita.

Doa yang dipimpin oleh Prof Nasaruddin Umar-Imam Besar Masjid Istiqlal, misalnya, pada acara Debat Capres yang lalu, sangat bagus sekali karena berada dalam spirit Pancasila. Beliau menyatakan akan memimpin doa secara agama Islam, dan saudara-saudara yang lain dipersilakan berdoa menurut agamanya masing-masing Doa para pejabat pemerintah pada hari-hari raya nasional sangat baik jika berpola seperti yang diteladankan dengan baik oleh Prof Nasaruddin Umar. Dengan cara itu kita telah mengimplementasikan Pancasila dengan konsisten.

Mari kita laksanakan Pancasila secara kontinyu dan konsisten dalam kehidupan praktis, dan tidak berhenti pada seremoni dan selebrasi!
Jika kita sendiri sebagai bangsa Indonesia tidak bangga kepada Pancasila, dan tidak konsisten melaksanakan Pancasila, apa kata dunia?

Jakarta, di semarak HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan RI.


Merdeka Adalah Modal Hidup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Bilangan 14:3

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Di awal hari ini, kita bersyukur kepada Tuhan saat bangun dari tidur. Pada tanggal inilah, bangsa kita merdeka dari penjajahan. Dan kita sejauh ini, kita menghirup kemerdekaan karunia Tuhan ini.

Firman yang menjadi pijakan refleksi: ”Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?”

Bilangan 14:3

Saudaraku, orang bisa mengambil penilaian dan kesimpulan berbeda, walaupun sama-sama berangkat dari melihat kenyataan yang sama. Ambillah contoh, hal ulang tahun. Ada yang mengatakan, “aduh, sayang sekali. Umur saya di dunia ini berkurang satu tahun”. Tentu ungkapan itu bernada menyesalkan. Wajah bisa murung tatkala ungkapan ini dinyatakan. Sebaliknya ada banyak yang mengatakan ”Puji Tuhan. Dia menambahkan usia saya”. Tentu, nada ungkapannya bersifat gembira.

Pengalaman demikian, mirip yang dialami 12 orang yang diutus Musa. Mereka mendapat tugas melihat, mempelajari, mengumpulkan informasi dan memberi gambaran tanah perjanjian. Musa memerlukan informasi selengkap mungkin. Sebab, dengan memiliki informasi mengenai keadaan tanah perjanjian akan membantu Musa. Musa akan terbantu untuk mengambil keputusan yang tepat.

Rupanya berkaitan dengan informasi dan gambaran mengenai tanah perjanjian itu, 12 orang terbelah dua. Ada dua versi yang muncul. Kubu atau kelompok pertama, menyatakan tanah itu benar berlimpah susu dan madu. Dan dihuni orang-orang yang secara fisik kuat. Kelompok ini hanya berjumlah 2 orang. Memberi gambaran utuh. Laporannya ada aspek yang menggembirakan. Sekaligus membeberkan tantangan tidak ringan yang musti dihadapi.

Sedangkan kelompok kedua, menggambarkan serba buruknya tanah perjanjian itu. Menurut mereka penghuni tanah itu adalah manusia raksasa. Secara fisik mereka lebih kuat. Tinggi-tinggi. Demikian juga, suka makan manusia penduduknya. Artinya kanibal. Sedangkan menggambarkan dirinya seperti belalang. Mangsa yang empuk buat mereka. Yang menyatakan informasi seperti itu ada 10 orang.

Lihat. Realitas yang dilihat sama. Namun penggambaran dan penilaian berbeda. Yang satu optimis dengan laporannya. Sedangkan yang 10 orang laporannya menakut-nakuti bernada pesimis. Mereka sudah putus asa lebih dulu.

Ternyata informasi yang kedua, yang bernada pesimis telah menggiring suasana emosi umat Israel. Opini terbentuk bahwa mereka akan mati di negeri itu. Segera umat panik dan protes. Mereka menuntut kembali ke Mesir, tidak apa- apa jadi budak lagi. Suasana gaduh dan tidak puas meletup dari bibir umat Israel. Malah ada yang membandingkan hidup di Mesir jauh lebih baik. Walau waktu di sana status mereka sebagai budak. Di mata mereka kebebasan dari Mesir keliru. Sebab, di Mesir hidup mereka jauh lebih baik. Kepemimpinan Musa dan Harun digugat. Kedua tokoh besar yang membawa kemerdekaan itu disalahkan.

Saudaraku. Umat Israel salah memahami. Seolah-olah jika masuk ke negeri perjanjian dan terlepas dari belenggu penguasa Mesir, hidup langsung mulus. Tidak ada persoalan lagi. Tidak heran laporan 10 pengintai bagaikan siraman bensin atas semak-semak yang mudah terbakar. Langsung laporan 10 orang yang bernada pesimis itu yang mereka jadikan pegangan. Mereka tidak menggubris laporan yang bernada optimis.

Jelas, sudah. Baik yang 2 orang maupun kelompok yang 10 orang sama melihat dan memperoleh informasi yang sama-sama mereka lihat. Tapi penilaian dan penyikapannya berbeda. Dan umat Tuhan lebih percaya dan terpengaruh oleh laporan versi 10 pengintai.

Saudaraku. Kita sudah merdeka. Namun, bukan berarti tidak ada lagi pekerjaan rumah. Masih ada, bahkan banyak. 75 tahun merdeka, orang miskin masih tinggi jumlahnya. 75 tahun merdeka, masih ada kelompok yang tidak menghargai umat lain, yang sama-sama warga negara yang sah. Sehingga masih ada kejadian kelompok yang menghalangi kebebasan beragama. Bangsa kita dikenal sangat agamis, tapi 75 tahun merdeka tingkat korupsi masih tinggi. Dan banyak lagi pekerjaan rumah.

Belajar dari Kaleb, yang punya sikap optimis. Bahwa merdeka itu menjadi modal hidup lebih baik ke depan. Tantangan bukan berarti tidak ada lagi. Ada. Tetap banyak. Hanya jika tidak merdeka suasananya lebih buruk lagi. Dan kita pun telah mengecap banyak hal baik dan kemajuan dari hasil kemerdekaan. Bahkan bersama Tuhan yang mengaruniakan kita kemerdekaan, kita yakin kesulitan dan tantangan bangsa kelak teratasi.

Kita berdoa: Tuhan dengan rasa terima kasih dan syukur, kami bergembira menikmati kemerdekaan. Ajarkah kami agar kemderkaan ini, membantu kami tidak berkecil hati, melainkan tetap optimis.

Doa-doa kami ini, kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

DIRGAHAYU KE-75 RI. MERDEKA!