Kekuatan Yang Lebih Besar

Oleh Pdt. Supriatno

Mazmur 46:2-3

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Perjumpaan dengan kasih Tuhan selalu membawa kelegaan dan suka cita. Seperti Zakeus yang meluap suka citanya karena Tuhan Yesus mau menjumpainya di rumahnya.

Firman Tuhan pagi ini, ”Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut.”

Mazmur 46:2-3

Saudaraku, sebuah kejadian berpotensi mengancam nyawa membawa akibat psikologis. Ada yang takut, malah mungkin panik. Terutama mereka yang mempunyai posisi dekat dengan sumber ancaman. Bayangkan terjadinya banjir yang disebabkan meluapnya sungai. Pasti penghuni rumah dengan lokasi di tepi sungai itu, bagaimanapun mengalami kecemasan.

Ancaman apapun bentuknya, apakah dari alam atau dari manusia, menimbulkan rasa cemas dan gelisah. Ketakutan akan lahir dari hati seseorang. Pada dasarnya sebuah ancaman punya dampak merugikan. Apakah itu kerugian harta benda bahkan nyawa sekalipun. Tidak mengherankan setiap manusia menghindari ancaman, dan bersikap waspada atas kehadirannya.

Saudaraku, situasi itulah yang dihadapi orang-orang percaya, seperti yang kita lihat dalam mazmur ini. Hidup mereka diperhadapkan dengan ancaman. Bahkan bisa menimbulkan efek kesesakan. Suatu keadaan yang menimbulkan kesusahan jiwa. Tidak tenang. Dalam bahasa populer hati yang “galau”.

Meski demikian, orang beriman mampu menghadapinya dengan tegar. Ketakutan tidak menguasai hati mereka. Apa kuncinya? Kuncinya adalah kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka di saat yang tidak mudah itu. Pemazmur dengan tegas menyatakan, “sekalipun bumi berubah. Sekalipun gunung-gunung goyang..”, orang percaya tidak akan surut iman dan keberaniannya.

Saudara, hidup di sebuah kota besar tentu tak lepas dari ancaman. Kadang kita mendapat kiriman video tentang modus kejahatan. tentu video itu dikirim agar kita waspada. Tetapi juga, makin menyadarkan kita betapa ancaman kejahatan itu makin canggih dan tak terduga.

Tentu, ancaman bahaya itu muncul dari berbagai sumber: bisa lalu lintas, penipuan, demo anarkis. Sampai pada ancaman yang mengganggu kesinambungan hidup kita dan masa depan kita, misalnya kena PHK. Takutkah kita? Gentarkah kita? Secara wajar, sesekali muncul juga rasa gentar dan takut.

Saudaraku. Waktu saya tinggal di Bandung, punya pengalaman mencekam. Saya pulang ke Bandung dari Jogjakarta menggunakan pesawat baling-baling. Hujan di atas kota Bandung deras sekali. Awan tebal. Jarak pandang pendek sekali karena langit sangat gelap. Berkali-kali pesawat berusaha mendarat tapi gagal. Sehingga cukup lama pesawat berputar-putar. Sampai akhirnya ada pengumuman dari pilot bahwa pesawat harus kembali ke Jogjakarta.

Saya berusaha melirik penumpang di satu deretan. Semuanya memperlihatkan wajah lega. Setelah dicekam ketakutan. Kemudian pesawat mendarat kembali di bandara Adi Sucipto. Menunggu kabar situasi cuaca, penumpang boleh turun dari pesawat. Akhirnya, pesawat berangkat kembali ke Bandung. Saya lihat beberapa kursi jadi kosong. Rupanya mereka membatalkan diri naik pesawat itu lagi. Bisa dimengerti, mereka pasti tidak ingin mengalami ketakutan berulang.

Kali ini, cuaca lebih baik. Pesawat bisa mendarat di bandara Husein dengan selamat. Pesan yang saya hendak sampaikan bahwa sesuatu yang kita takuti ternyata tidak selalu menjadi kenyataan. Tentu, waktu itu saya pun dilanda ketakutan. Dua hal yang saya lakukan untuk mengatasinya, pertama: berdoa. Menenangkan diri. Siapapun dalam situasi demikian nama Tuhanlah yang paling banyak disebut. Saat berkali-kali pesawat tidak bisa mendarat, doa sungguh membantu meredakan kecemasan. Kedua, saya mensugesti diri, bahwa betapa beruntungnya saya. Karena untuk 2 kali perjalanan, saya hanya perlu bayar satu kali saja.

Saudaraku. Kita bersyukur, pagi ini pemazmur mengingatkan ada kekuatan yang lebih besar dari segala ancaman yang kita hadapi. Yaitu Allah yang terbukti kehadiran-Nya mampu menghalau ancaman atas diri kita. Allah lebih besar dan berkuasa dari apapun. Dialah yang membentengi kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, pasangan hidup kita, saudara-saudara kita, dari resiko yang ditimbulkan sebuah ancaman. Dengan demikian, mari pagi ini kita melangkah pasti. Berani beraktivitas. Jangan biarkan ketakutan mengatur hidup kita. Melainkan, biarlah Allah saja yang mengatur hidup kita.

Kita berdoa, Tuhan, kehadiran-Mu itulah pangkal keselamatan kami. Kiranya Engkau menjadi Benteng perlindungan kami di sepanjang hari ini.

Tuhan, kami punya banyak alasan untuk kami takut. Tapi, sebagai orang beriman kami kehadiran-Mu kiranya menjadikan kami tidak takut. Sebab Engkau beserta kami sepanjang hari ini. Berkati aktivitas kami.

Dalam nama Tuhan Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Merekatkan Relasi Manusia

Oleh Pdt. Supriatno

Galatia 5:22-23

Selamat pagi, bapak-ibu, opung, Saudara-saudaraku yang baik. Bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita, ”Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Galatia 5:22-23

Saudaraku, orang kristen itu beragam. Bukan hanya latar belakang suku, kebangsaan, kemampuan ekonomi, kebiasaan yang aneka ragam tapi juga pemahaman keimanannya. Salah satunya mengenai keberadaan dan karya Roh. Ada yang meyakini bahwa orang dikuasai roh, yaitu bisa berbahasa roh. Bagi mereka umat beriman yang mampu berbahasa roh itulah orang kristen yang sejati. Suatu bahasa tertentu yang tidak dimengerti kebanyakan orang. Kemampuan berbahasa roh ini bersifat eksklusif. Dalam arti terbatas di kalangan orang tertentu saja. Keyakinan dan pemahaman tersebut, ada yang setuju dan ada pula yang kontra. Tentu dikembalikan ke pribadi mereka masing-masing kebenarannya.

Jika kita menilik dan merenungkan firman Tuhan di atas. Sesungguhnya, kehadiran Roh Kudus dalam hidup pribadi dan Gereja terlihat dari tindakan kebajikan. Dalam ucapan Yesus, “dari buahnyalah kita kenal”. Tindakan konkrit merupakan tanda kehadiran roh. Jika Anda, saya atau gereja mampu mempraktikkan kasih, suka cita, kelemah lembutan, murah hati, kesetiaan, dan praktik baik yang lainnya. Di sana hadir roh yang sebenarnya.

Saudaraku. Tentu amat disayangkan pribadi yang bisa berbahasa Roh, tapi praktik hidupnya kosong. Berhenti pada pintar berbicara. Sedangkan hidupnya tidak menjalankan hidup yang berbuahkan Roh. Yakni: kasih, suka cita, kesabaran, dsb. Jangan sampai memunculkan komentar sinis, “ah, itu omdo: ngomong doang”. Roh bukan sekedar kemampuan bersilat lidah. Roh bersangkut paut dengan sikap hidup yang melakukan sederet kebajikan. Sekaligus roh itu kekuatan yang merekatkan relasi manusia satu sama lain.

Roh itu mendekatkan antar manusia. Berlaku di mana-mana, bahwa orang yang punya kasih dekat dengan sesama. Orang yang lembut hati pasti akrab dengan sesama. Orang yang penuh suka cita pasti bertautan relasi dengan sesamanya.

Saudaraku, oleh karena itu dapat dipastikan orang yang berbuah Roh, mampu membangun relasi sosial yang indah. Akrab. Hangat. Bukan sikap hidup yang bersifat angkuh dan merasa lebih hebat ketimbang yang lain. Merasa secara rohani lebih tinggi dari sesamanya. Justru semakin dikuasai roh makin bermutu pola hidupnya.

Sementara itu, menyikapi perkembangan terakhir kehidupan politik di negeri kita. Di tengah suhu kecurigaan, nafsu berkuasa yang keblinger, dan ketertutupan atas saran yang baik. Baiklah, kiranya kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, warga gereja kita, jangan ikut demo di jalan jika tanpa panduan roh. Memang, demonstrasi di negeri demokrasi, itu hal biasa. Hal itu sebagai wujud menawarkan hal yang lebih baik. Tapi, jika sudah merusak fasilitas publik, menimbulkan rasa takut, dan menanamkan kebencian dan permusuhan, itu sudah keliru. Salah besar. Itu sudah bersimpangan jalan dengan keinginan roh.

Saudaraku. Demonstrasi yang dirancang untuk mengutarakan aspirasi, dilandasi semangat kasih, suka cita, kelemah lembutan, itulah bentuk ideal yang harus diapresiasi. Namun jika bermotifkan nafsu kekuasaan yang dipenuhi kebencian, kemarahan dan kekasaran, jauhilah. Jangan jadi bagian gerakan demo seperti itu. Itu tidak cocok dengan prinsip-prinsip buah-buah roh.

Demo kita yang benar adalah mempraktikkan hidup baik untuk sesama. Itu saja. Dan itu kita yakini merupakan buah Roh yang sejati. Jangan ikut demo yang dilakukan dengan mengkhianati prinsip kekristenan. Mari, lahirkan buah roh yang akan membimbing langkah tepat buat Tuhan dan sesama.

Mari Kita berdoa, “Tuhan, kami berdoa untuk negeri kami. Ada orang-orang yang demi kekuasaan selalu menciptakan kekisruhan di negeri kami. Demo yang tidak mencerminkan hati nurani dan semangat moral. Mereka yang bersorak jika negeri kami kacau. Lindungilah negeri kami oleh kuasa-Mu.

Tuhan, perkenankan hari ini, seluruh anak-anak-Mu, yang beriman dan berusaha mengasihi-Mu diperkenankan hidup dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Tetap tersenyum di tengah kesulitan. Tetap setia pada-Mu di tengah ujian kehidupan.

Kiranya Engkau berkenan bersama kami sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Rute Kehidupan

Oleh Pdt. Supriatno

Kejadian 45:28

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih-Nya tidak berujung. Terus berkesinambungan pemeliharaan dan perlindungan-Nya atas kita dan keluarga. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Allah atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Kata Yakub: “Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati.”

Kejadian 45:28

Saudaraku, hidup manusia itu berliku-liku. Jalannya tidak lurus. Jika kita hendak pergi ke Semarang, gunakanlah jalan tol trans Jawa. Maka perjalanan kita akan lurus dan cepat. Tapi, tidak demikian jalan hidup setiap orang. Rute kehidupan yang dijalani tidak bisa ditebak. Dan kerap kita tidak duga sejak awal.

Kisah hidup suster bernama Lucys, bisa kita jadikan contoh. Seorang putri keluarga kaya yang punya kaitan dengan orang kaya nomor satu di Indonesia. Tentu dibanjiri kelimpahan materi. Rumah bagus, tempat tinggal di daerah aman, selalu tersedia makanan enak. Ternyata, hatinya terpanggil untuk melayani Tuhan. Berarti secara total meninggalkan pola hidup putri kaya dan berganti baju dengan segala kesederhanaan. Kelimpahan ditinggalkannya, dan hidupnya dijalani berbagi kehangatan kasih dengan mereka yang haus kasih sayang.

Perjalanan hidup Yusuf dalam Perjanjian Lama melewati lika-liku hidup yang tidak gampang. Penuh onak dan duri. Mengalami pahit-getir. Mulai dari perlakuan saudara-saudaranya sendiri, hingga jebakan dan kesaksian palsu istri Potifar. Yang menghantarnya masuk bui. Namun, semua kepahitan dan onak duri perjalanan rute hidupnya tersibak. Dan jalan hidup Yusuf memasuki rute pengabdian sekaligus ia memetik penghargaan. Akhirnya, Yusuf dihantar kepada posisi yang pasti tidak dibayangkan dan diimpikan. Menjadi pejabat penting di sebuah negeri besar, kaya dan makmur jaman itu.

Saudaraku, itulah jalan hidup. Sulit terselami. Tapi selama itu berada dalam rencana Tuhan, kelak akan melewati dan mengecap keindahan. Waktunya memang bisa jadi kita tidak ketahui. Bisa seperti Yusuf, lama dan berliku-liku, namun indah pada waktunya. Meski ada orang yang mereka-rekakan yang jahat atas kita. Percayalah, selama hidup dalam rencana Tuhan, sesungguhnya Tuhan tetap mereka-rekakan yang baik. Dan rekaan atau rancangan Tuhan tidak akan pernah dihalangi atau dihambat manusia.

Penggalan firman Tuhan yang kita kutip merupakan bagian reuni keluarga. Reuni berarti bersatu kembali. Yakub yang sekian lama digerogoti batinnya oleh kerinduan atas Yusuf yang informasi awalnya telah tewas, bangkit kembali semangat hidupnya. Pucuk harapan dan kegembiraan tumbuh di batinnya, mana kala ada informasi baru bahwa Yusuf masih hidup. Bukan cuma masih hidup. Yusuf telah membanggakan keluarga dan bangsanya.

Saudaraku, Yakub dan anak-anaknya utuh kembali. Utuh secara jumlah. Lebih dari itu, utuh dalam persaudaraan yang selama ini terkoyak. Itulah, salah satu wujud kebahagiaan. Orang tua dan anak serta relasi antar saudara hidup dalam suasana tanpa kebencian. Reuni yang tidak ada satupun tercecer. Dan tidak ada kata terlambat buat Yakub yang sudah uzur. Reuni itu tetap membuat hatinya meluap dengan semangat hidup. Ia memetik hari-hari masa tuanya dengan keindahan yang tak terkira dan terduga. Anak-anaknya semua berkumpul lagi. Itu nilainya melampaui emas, emas tua sekalipun.

Demikian pula, doa dan harapan Anda dan saya, agar bisa jalan hidup kita terus dalam rencana Tuhan. Dan kita pun berharap kehidupan antar saudara rukun dan damai. Sebab, itu sangat berharga. Tidak dapat dibeli di manapun. Dan tidak dijual oleh siapapun.

Kita berdoa, Tuhan, karuniakan kami di tengah rute kehidupan yang kami tempuh. Kami bernaung dalam rencana-Mu. Dan tetap menjaga keutuhan keluarga kami.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Mereka yang berangkat kerja dan aktivitas lain, serta belajar dari rumah, kami berlindung dalam kuasa-Mu. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Mendamaikan Bukan Memprovokasi

Oleh Pdt. Supriatno

1 Samuel 18:7-8

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, kita masih bernafas, panca indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, kita masih dikasihi Allah melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan hari ini berbunyi, ”perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” (8) Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.”

1 Samuel 18:7-8

Saudaraku, telah lahir bintang baru dalam kehidupan bangsa Israel, namanya Daud. Umurnya masih belia, rupawan wajahnya dan berani mentalnya. Goliath jago perang yang ditakuti dari bangsa Filistin tumbang di tangannya. Popularitas Daud sebagai pahlawan baru bangsa Israel langsung melesat tinggi. Belum lagi, setelah kemenangan gemilang itu, diikuti kemenangan-kemenangan lain yang menambah harum nama Daud.

Itu semua buah manis yang dikecap Daud dari keberhasilan tugas di pundaknya. Otomatis pula muncul pengagum-pengagum baru yang mengidolakannya. Di antara mereka itu adalah para perempuan. Kombinasi antara postur tubuh yang ideal dan kehebatan perangnya, melahirkan para perempuan yang mengidolakannya. Namun, sayangnya rasa kagum atas sang idola sangat berlebihan. Terlihat dari sambutan mereka atas Daud sepulang dari medan perang. Mereka memuji kehebatan Daud.

Sementara itu dengan terbuka mereka mengecilkan nama rajanya sendiri, Saul. Daud dielu-elukan dengan gempitanya, seiring dengan itu Saul sang raja malah direndahkannya. Kedua nama besar di negeri itu dibanding-bandingkan dengan blak-blakan. Mereka membesar-besarkan bahwa Daud mampu membunuh musuh sampai puluhan ribu, sedangkan Saul jumlahnya lebih sedikit, ribuan saja.

Saudaraku, tentu saja tindakan para perempuan itu cenderung bersifat provokatif. Pujian berubah menjadi memanas-manasi. Membesarkan yang satu, meledek yang lainnya. Akhirnya, tindakan mereka itu meletupkan luapan kemarahan raja Saul. Sehingga ia memandang Daud sebagai rivalnya. Kompetitor. Akibatnya, Saul memandang Daud menjadi pesaing beratnya, padahal relasi Daud dengan Yonathan, putra Saul amat dekat dan mesra.

Provokasi bisa menimbulkan panas hati. Tindakan memanas-manasi sangat berbahaya. Provokasi bisa melahirkan ledakan kemarahan yang besar. Apalagi, yang panas hati itu orang yang punya jabatan, punya senjata, punya pasukan dan kekuasaan, seperti raja Saul. Maka, sejak itu, hubungan Saul dan Daud menjadi renggang. Bahkan memburuk, Daud dikejar- kejar dan diburu untuk dibunuh.

Saudaraku, lebih mudah menciptakan konflik daripada membangun keutuhan relasi antar dua pribadi. Karena itu, kita sekali-kali tidak boleh melakukan provokasi. Sekaligus waspada dan hati-hati dengan para provokator. Lihat saja, situasi yang terjadi di Jakarta dan beberapa kota sejak beberapa hari lalu. Demonstrasi yang berlangsung dengan hati panas. Kabar bersifat Hoax atau kebohongan plus fitnah, berhasil memprovokasi emosi yang labil dan keterbatasan pengetahuan atas masalah sebenarnya.

Apa akibatnya? Tindakan bersifat merusak atau anarkis pun meledak. Korban luka-luka atas aparat telah terjadi, demikian juga kerugian material. Suhu politik jadi hangat. Penyebab awalnya, tidak bisa dipisahkan adanya informasi atau kabar berisi ungkapan provokatif dari orang yang suka negeri ini tidak damai.

Di sinilah, kita sebagai orang beriman berpikir jernih sehingga kata-kata yang keluar dari bibir kita pun jernih, bukan memperkeruh. Kata-kata kita menenangkan bukan membuat situasi jadi tegang dan lahir suasana permusuhan. Termasuk kita harus bijak menggunakan jari kita. Agar jari kita tidak menyusun kata memanas-manasi di HP kita. Lebih baik, kembali ke status orang beragama. Yakni menghayati ajaran untuk mengasihi bukan membenci. Mendamaikan bukan memprovokasi. Jika tidak, apa artinya beragama?

Mari kita berdoa, Tuhan, karuniakan gairah dan semangat dalam hidup kami untuk menjadi juru damai. Bukan sebagai penyulut permusuhan. Karena Engkau adalah Raja damai, dan kami pun ingin menjadi orang yang membawa damai.

Tuhan, mampukan kami beserta orang-orang yang kami cintai, menjalani hari baru bersama kasih-Mu. Lindungilah seisi rumah kami dan berkati aktivitas kami. Kiranya langkah kami senantiasa dalam lindungan-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Rancangan Indah Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Daniel 6:4

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Kita panjatkan terus rasa syukur dan terima kasih kepada Allah. Seperti pada pagi ini, sebab kasih dan perlindungan-Nya kita alami.

Firman Tuhan hari ini, “Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.”

Daniel 6:4

Saudaraku, bekerja dengan berprestasi baik dan berperilaku jujur tentu bagus. Warga Jakarta pernah dipimpin sosok yang memiliki karakter seperti ini. Banyak kemajuan kota ini diraih di bawah kepemimpinannya. Berbagai fasilitas publik dibenahi. Permukiman kumuh ditata lebih manusiawi. Sungai tidak lagi sumber banjir tahunan. Membangun transportasi umum yang nyaman dan murah. Bahkan, rakyat bisa melihat dan merasakan pemimpin yang tidak mata duitan. Sekaligus, pejabat diubah mentalnya. Bukan dilayani tapi melayani.

Menyenangkan dan bangga punya pemimpin berkarakter. Kinerjanya baik dan wataknya terpuji. Namun ternyata, tidak semua lapisan orang menyanjungnya. Tidak semua elemen masyarakat nyaman di bawah kepemimpinannya. Deretan orang yang biasa menikmati keuntungan dari kebiasaan buruk amat membencinya. Yang biasa menilep uang rakyat, atau makan uang proyek. Mereka merasa periuk rejekinya terganggu. Senang bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi mereka yang bermental korup. Begitupun mereka yang berpikir sempit.

Saudaraku, kisah hidup Daniel menarik. Daniel bekerja hebat luar biasa. Prestasinya menonjol, sehingga oleh raja Darius diberikan kursi kepercayaan dan kekuasaan yang besar. Di negeri itu, Daniel statusnya pendatang, bukan pribumi. Reaksi ketidak senangan muncul. Tidak main-main mereka itu adalah pejabat tinggi dan wakil raja. Para pribumi yang haus kekuasaan itu tidak happy. Daniel dinilai mengusik nikmatnya kursi kekuasaan mereka. Dan Daniel jauh lebih populer daripada mereka.

Semua cara dicari untuk menjatuhkan Daniel. Sikap, perilaku dan kinerja Daniel nilainya baik. Daniel tidak melakukan kesalahan dan tipe orang yang loyal. Lolos. Semua bersih. Tinggal satu, agama. Ya, iman Daniel tidak sama dengan agama dan keyakinan raja beserta rakyatnya. Dari sanalah Daniel digoyang. Mereka mendesak dan menekan raja untuk mengeluarkan kebijakan bahwa barang siapa memeluk agama di luar agama yang mereka anut, harus dihukum. Tidak main-main hukuman mati. Harus dijebloskan ke kandang singa.

Suatu taktik licik. Agama dipakai untuk menyingkirkan orang baik dan yang berkinerja cemerlang. Sebenarnya, Raja sayang sekali pada Daniel, tapi ia takut tekanan massa sehingga ia memenuhi desakan mereka. Tapi, kemudian Daniel lolos dari kematian. Sungguh, tak terselami jalan-jalan pemeliharaan Tuhan.

Saudaraku, Allah punya rancangan indah atas mereka yang berkontribusi baik bagi kepentingan umum. Ketika kita berkontribusi buat orang banyak: membenahi yang bobrok, menata ulang kehidupan bersama agar menjadi baik. Kelak tidak selalu pujian dan bintang kehormatan yang diperoleh. Cepat atau lambat, kita pun bisa berhadapan dengan orang-orang yang justru merasa dirugikan dengan perbuatan baik.

Hal itu, jangan jadi alasan kita mengurungkan tekad bekerja baik dan jujur. Di sanalah justru kita menghadirkan kesaksian konkrit. Di sanalah kita bagai bunga teratai yang tetap berbunga indah, meski berada di tengah air yang kotor. Patut direnungkan tatkala kita berhadapan dengan individu maupun kelompok antipati. Kita ingat, Allah tidak tidur. Allah tetap menyertai. Kita pun patut setia terus pada iman dan berprestasi baik dalam bekerja.

Kita berdoa, Tuhan, ajarlah apa yang kami lakukan berguna buat sesama kami, sekecil apapun perbuatan kami.

Tuhan, sertai negeri kami. Lindungilah dari orang-orang fasik yang tidak menginginkan negeri ini utuh dan damai. Kiranya rencana demonstrasi hari ini tidak terjadi perilaku yang anarkis dapat ditanggulangi aparat keamanan.

Kiranya, hari ini, kami semua hidup dalam perlindungan-Mu yang ajaib. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.