Memanen Kepahitan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 4:10-11

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita lewat doa kepada Allah yang memberikan hari Senin.

Firman Tuhan hari ini, ”Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. (11) Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.”

1 Samuel 4:10-11

Saudaraku, bangsa Israel dalam rangka mempertahankan keberadaannya di tengah bangsa lain harus menjalani peperangan. Sedangkan peperangan selalu menghasilkan dua keadaan: menang atau kalah. Menang berarti suka cita. Menang akan membawa bangsa Israel memiliki keleluasaan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, jika kalah maka nasib bangsa itu berada di bawah kekuasaan bangsa lain. Berkenaan dengan itu, pasti kemenangan yang selalu didambakan, bukan kekalahan.

Dua keadaan menang atau kalah merupakan hal tak terhindarkan dalam peperangan. Dan saat menghadapi bangsa Filistin, ternyata Israel kalah. Korban material dan nyawa harus diderita Israel. Bangsa yang dicintai Allah musti
menghadapi realitas pahit. Konon, 30.000 orang gugur. Suatu jumlah yang tidak sedikit.

Bagi sebuah keluarga, kehilangan satu saja anggotanya gugur di medan perang, itu sudah pukulan. 30.000 sebuah angka yang bermakna kehilangan besar. Demikian juga buat sebuah bangsa. Air mata kesedihan dan kedukaan akan mengalir di tiap keluarga Israel berkenaan dengan gugurnya putra terbaik mereka. Bolehlah kita katakan peristiwa itu menjadi hari berkabung ‘nasional’ buat seluruh umat Israel. Bangsa itu terpukul dan menangis.

Di antara yang gugur, ada dua nama yang disebutkan Hofni dan Pinehas. Dua nama dengan perangai dan kepribadiannya yang mencoreng nama baik ayahnya sendiri. Ayah mereka adalah imam Eli. Semasa hidupnya, mereka tidak pernah mau mendengar nasihat ayahnya. Sepak terjangnya jadi omongan. Sebab, tidak mencerminkan sebagai anak-anak pemimpin agama. Justru nama besar ayahnya dijadikan tameng yang melindungi perbuatan mereka yang tidak bermoral. Tukang main perempuan. Tukang mencuri pesembahan untuk Allah. Mereka memanfaatkan fasilitas ayahnya sebagai imam, tapi tidak menghargai Allah yang dilayani ayahnya.

Ketika hidup Hofni dan Pinehas, adik-kakak yang kompak. Sayangnya, dalam perbuatan-perbuatan yang membuat malu keluarga. Pada praktik hidup mereka, tidak tergambarkan rasa hormat dan takut akan Allah. Tingkah mereka yang jauh dari kesantunan dan nilai-nilai etika dan moral. Mereka selama ini lebih banyak membawa keresahan dan rasa malu, bahkan bagi keluarganya sendiri. Terutama imam Eli, seorang tokoh agama.

Saudara, betapa penting mendidik secara tepat kepada anak-anak. Jika tidak, kelak anak-anak yang tidak mendapat pendidikan tepat lebih banyak merepotkan orang tua. Mereka menjadi sumber pergumulan orang tua. Orang tua akhirnya menikmati masa tua dengan gelisah dan gundah. Anak-anak yang salah didik akan menjadi beban, padahal orang tua sudah memasuki masa tua yang ingin dinikmati dengan suasana tenang.

Imam Eli tidak memperlihatkan ketegasan sikap dan mendisiplinkan anak-anaknya. Akibatnya, buah yang ia panen adalah kepahitan. Karena itu, Saudaraku, kita patut menyediakan anak kita tidak hanya makanan yang cukup, makanan yang lengkap. Yang tidak boleh diabaikan, adalah anak kita butuh pendidikan budi pekerti dan disiplin hidup yang baik. Sehingga anak kita hormat kepada Allah dan sesama.

Kita berdoa, “Ya, Tuhan, jadikan kami sebagai pembawa kehendak-Mu dalam keluarga kami sehingga dalam keluarga kami takut akan Tuhan.

Kami berdoa untuk keluarga dan saudara kami. Kiranya Tuhan memberikan hal terbaik buat perjalanan kebersamaan dengan didukung kesehatan, hati yang bersuka cita dan sikap tangguh.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MEMPOSISIKAN UANG SECARA POSITIF

Oleh Pdt. Supriatno

”Tetapi Petrus berkata kepadanya: ’Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.”

Kisah Para Rasul 8:20

Manusia modern memosisikan uang sebagai alat atau instrumen untuk melakukan transaksi, khususnya di bidang ekonomi. Ahli ekonomi modern menyatakan bahwa uang adalah sesuatu yang sudah tersedia dan bersifat umum serta dapat di￾terima sebagai alat pembayaran bagi pembelian suatu produk baik barang maupun jasa, kekayaan, serta untuk pembayaran utang.

Dalam posisi seperti itu, uang memang menjadi amat berpengaruh dalam kehidupan manusia modern, dan tidak saja dalam bidang ekonomi tetapi juga dalam bidang-bidang lainnya yang di dalamnya manusia mengambil peran. Uang tidak hanya penting bagi manusia secara individual, tetapi juga dalam seluruh komunitasnya mulai dari keluarga, negara, bahkan dunia internasional.

Di bidang politik, kebudayaan, sosial, pendidikan bahkan keagamaan, uang menancapkan kuasanya. Hal-hal yang berhubungan dengan keuangan selalu muncul dalam kehidupan umat manusia, baik dalam perspektif positif maupun negatif. Sikap ugahari, sikap kesahajaan yang muncul dalam tema pertemuan level
nasional, tidak sempat membumi dan mewarnai sikap hidup umat. Dalam kenyataan praktis, yang terjadi justru menguatnya sikap konsumtif umat
akibat pengaruh iklan media massa.

Dalam kondisi nafsu konsumtif seperti itu, upaya manusia untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya makin menggila, yang kemudian menjerat manusia pada belenggu korupsi.
Dalam beberapa waktu terakhir ini, manusia telah menjadi hamba uang.

Uang telah menjadi berhala dalam kehidupan manusia. Manusia diperintah oleh uang, bahkan jiwa, nasib, masa depan manusia, semuanya bisa diuangkan. Uang menguasai semua dunia, semua sektor kehidupan. Di dunia pendidikan kuasa uang amat kuat. Orang bisa lulus ujian, bisa menggondol gelar S2 bersamaan waktu dengan S3, dengan menggunakan uang.

Di dunia politik, kuasa dan roh demonis yang terpancar dari uang menodai dunia perpolitikan. Politik yang suci itu hanyalah obsesi para begawan politik zaman baheula dan kontradiktif dengan kenyataan kekinian tatkala politik telah berada dalam lembah yang pengap dan berbau busuk.

Hal yang amat memprihatinkan adalah bahwa kuasa uang telah merambah ke dunia agama, dunia spiritual. Kita pernah mendengar berita tentang korupsi dalam pencetakan kitab suci, penyelewengan keuangan dalam rangka pelaksanaan ibadah ke tanah suci, dan berbagai kasus negatif lainnya di bidang keuangan yang terjadi dalam institusi pemerintah yang mengurusi bidang keagamaan.

Untuk itu, kita berharap agar seluruh institusi pemerintahan dapat melaksanakan secara profesional tugas pelayanan mereka dan dijauhkan dari pengaruh negatif di seputar uang.
Kita terus berdoa, kiranya direktorat yang melayani warga Gereja di lingkungan institusi pemerintahan dapat melaksanakan secara profesional tugas pelayanan itu dan dijauhkan dari kuasa uang, sang demonis. Ayat yang dikutip di bagian awal menjelaskan kepada kita, bahwa soal uang sudah memasuki wilayah agama.

Ada oknum yang berasumsi bahwa uang bisa membeli segalanya, termasuk membeli karunia Allah. Petrus amat berang dengan sikap oknum itu, sehingga ia melontarkan kata-kata yang amat keras.

Bagian ini menolong kita untuk memahami ulang bahwa uang bukan segala￾nya. Oleh karena itu, gunakan uang secara positif sebagai alat transaksi dan bukan untuk hal­hal negatif. Mari tampilkan kekristenan yang cantik dan elegan di bidang keuangan!

Gunakan uang untuk memuliakan nama Tuhan, untuk mengasihi sesama, untuk merawat luka dan duka umat manusia, untuk mereka yang sulit bernafas dicengkeram Corona, untuk membela HAM. Jangan gunakan uang untuk menyogok, untuk membeli kuasa/jabatan, untuk membayar demonstran.

Gunakan uang sesuai dengan hakikat dan fungsinya yang positif.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu.

Kristus Mengubah Hidup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Efesus 5:8

Pagi baru telah tiba-tiba, Saudara-saudaraku yang baik. Puji Tuhan, Allah itu maha baik. Selama-lamanya Dia tetap baik kepada kita. Selamat pagi, Saudaraku di dalam Tuhan.

Firman Tuhan hari ini, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.”

Efesus 5:8

Saudaraku, ada istilah namanya transformasi, alih bentuk. Kita ingat binatang kupu-kupu. Salah satu jenis binatang yang banyak disukai orang. Warnanya indah, beragam. Ada yang putih, hitam, merah, terpadu indah di tubuhnya. Terbangnya lincah. Makanannya sari bunga, pasti bersih. Saya yakin, banyak orang yang lebih suka pada kupu-kupu ketimbang tidak suka.

Sosok binatang indah rupawan ini, hasil transformasi atau alih bentuk. Yakni, sebelum menjadi kupu-kupu sosok semula adalah kepompong. Dan sebelum menjadi kepompong bentuk awalnya adalah ulat. Luar biasa Allah menciptakan alih bentuk sebuah binatang. Kupu-kupu yang lucu, menawan, yang bisa terbang ke sana-kemari ternyata bentuk awalnya adalah ulat.

Tentu, berbeda sekali antara keduanya, kupu-kupu dan ulat. Ulat jalannya merayap. Rupa dirinya menjijikkan. Bulunya bisa membuat kita gatal. Dan tidak boleh dilupakan, orang lebih banyak tidak suka daripada menyukainya. Inilah bukti bahwa di tangan Allah bisa terjadi alih bentuk. Transformasi dari sebuah binatang yang menjijikan menjadi binatang yang lucu dan amat disukai banyak orang.

Saudaraku, sebagai orang beriman sebenanya juga mengalami transformasi. Tapi, bukan dalam bentuk lahiriah seperti kupu-kupu dari ulat. Bukan. Transformasi menyangkut sikap, perilaku, lingkungan pergaulan dan tujuan hidup. Seperti yang rasul Paulus tegaskan, orang beriman adalah terang di dalam Tuhan. Sikap, perilaku mereka tidak lagi mencerminkan pola hidup yang lama. Dulu, mereka senang dengan kejahatan, tukang bohong, menyembah berhala, tidak perduli perbuatannya merugikan rasa ketidak adilan atas orang lain. Dengan satu kata, mereka dulu adalah hidup dalam gelap.

Jika di malam hari tiba-tiba listrik di rumah kita padam. Lalu, kita berjalan. Pasti, tabrak sana-tabrak sini. Kegelapan membuat kita tidak tahu posisi yang benar dan melangkah ke arah yang benar. Demikianlah, orang-orang Kristen di Efesus sebelum mengenal Injil Kristus. Hidup dalam kegelapan.

Pengenalan atas Kristus mengubah hidup mereka. Kini, kebaikan menggantikan kejahatan, kejujuran menggantikan kebohongan, sikap adil menggantikan sikap masa bodoh bahwa tindakannya melukai rasa keadilan orang lain. Menjadi murid Kristus melahirkan tindakan2 terpuji. Dulu, mereka seperti ulat menjijikan, kini mereka laksana kupu2 yang indah di mata dan menyenangkan hati.

Karena itu, sebagai orang beriman, yang mengenal Injil, Anda dan saya, hendaknya hidup tetap dalam terang. Jangan mau diajak, digoda, dipengaruhi untuk hidup dalam kegelapan. Sikap, perilaku semikian bukan watak anak-anak Tuhan. Itu watak orang-orang kegelapan. Dengan teranglah, kita memberi cahaya bagi orang lain. Sehingga orang lain tahu, mana yang baik dan mana yang jahat. Mana yang harus diikuti dan mana yang ditinggalkan.

Pada waktu demo anarkis dua hari lalu, berseliweran di medsos hoax, fitnah, agar negeri kita kisruh dan rusuh. Saya yakin, mereka yang sengaja membuatnya masih senang hidup dalam kegelapan. Mengajak orang berbuat salah, bukannya mendorong orang lain berbuat hal yang terpuji. Dan Anda serta saya, jangan tempatkan diri menjadi bagian kegelapan.

Kita berdoa, “Tuhan Injil-Mu mengubah perilaku manusia dari jahat menjadi baik. Dan menuntun sehingga orang hidup dalam terang. Pakailah kami memberitakan Injil-Mu. Agar kami dan sesama hidup memberi cahaya kebenaran.

Kami berdoa untuk para opa-oma yang kondisi tubuhnya sakit dan lemah. Topanglah, ya, Tuhan mereka oleh kekuatan-Mu.

Kami berdoa untuk negeri kami. Kiranya Tuhan melindungi dan membentengi dari roh perpecahan. Jadikan bangsa kami utuh dan sejahtera.

Inilah doa dan harapan yang kani naikkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Solidaritas Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Keluaran 2:23-25

Gelapnya malam telah berlalu. Mentari di Timur menandai datangnya hari baru. Selamat pagi, bapak-ibu dan Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan tanpa jedah. Puji syukur atas kebaikan Allah.

Bacaan refleksi hari ini, ”Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.”

Keluaran 2:23-25

Saudaraku. Pada suatu saat seorang bernama Fransisko naik kuda. Pria ini putra dari seorang pengusaha tekstil kaya raya. Ia berjumpa dengan seorang penderita kusta. Walaupun takut, ia tetap turun dari kudanya dan menyambut orang itu lalu menawarkannya uang, serta memberinya ciuman kasih.

Kisah itu, bukan sebuah dongeng. Melainkan sepenggal pengalaman hidup nyata yang berpengaruh pada diri Fransisko. Sebuah nama yang menjadi terkenal dengan nama Fransiskus dari Asisi. Yang kemudian melahirkan sebuah ordo di kalangan Saudara kita Gereja Katolik yang bernama Ordo Fransiskan.

Apa yang dilakukan Fransiskus bisa dibilang tindakan solidaritas. Sebuah bentuk kepedulian atas dasar simpati dan belas kasihan. Padahal status sosial di antara keduanya berbeda. Yang satu kaya dan yang satu lagi miskin. Belum lagi suasana kehidupannya berbeda. Tapi, dengan tindakannya satu sama kain menjadi dekat. Solidaritas itu mendekatkan dan menjembatani relasi antar manusia. Khususnya yang menolong dengan yang ditolong.

Saudaraku. Sebagai umat Tuhan, Israel mengalami hidup yang berat. Dalam hal ini, saat berada di Mesir. Perubahan penguasa tidak membawa perubahan hidup lebih baik. Mereka tinggal di Mesir, secara kolektif atau bersama mendapat perlakuan menyakitkan. Penderitaan dijadikan budak merupakan pengalaman penderitaan yang pahit. Tak tertanggungkan. Mereka mengeluh. Mereka mengerang. Demikian juga mereka berteriak. Saking beratnya, mereka mengadu kepada Allah.

Kepahitan dan penderitaan ini, Tuhan mendengar. Tapi bukan mendengar dengan pasif dan tidak berbuat apa-apa. Allah solider dengan mereka. Mendengar dan bertindak. Tindakan paling utama membawa keluar Israel dari Mesir. Hati Tuhan bersama umat-Nya, Israel. Allah yang dengan tindakan-Nya hadir di tengah kehidupan umat-Nya. Allah yang peduli ini, mengambil langkah besar berupa penyelamatan. Penderitaan Israel harus dihentikan. Perjalanan Israel ke tanah perjanjian merupakan pilihan Allah.

Saudaraku. Yesus, Tuhan kita yang disalib merupakan bentuk solidaritas yang membawa kita masuk ke dalam keselamatan. Tapi bukan seperti pengalaman Israel dalam bentuk keluar dari satu negeri, kemudian masuk negeri perjanjian. Salib adalah wujud solidaritas Allah sehingga manusia diselamatkan dari dosa. Solidaritas yang sungguh luar biasa, karena Allah dalam Yesus mau menderita. Salib merupakan bentuk penderitaan wujud solidaritas Allah.

Bercermin ke sosok salib, solidaritas Allah atas hidup kita dan orang beriman lainnya. Maka, jangan sia-siakan hidup kita. Hidup kita berharga di mata-Nya. Hidup kita begitu mahal, sehingga Yesus disalibkan. Karena itu, hidup kita, nyawa kita teramat mahal. Demikian juga, hidup manusia lain pun sama. Dengan demikian, kita harus menghargai hidup kita, sekaligus hidup orang lain. Jangan nyawa dibuat murah. Jelas, kita hendaknya menjaga dan memuliakan kehidupan. Tidak boleh menyakiti baik diri sendiri maupun orang lain. Jangan melakukan kekerasan apapun bentuknya.

Solidaritas Allah merupakan tindakan Allah yang membuat dekat Dia dengan kita. Dan ketika solider dengan orang lain, kita pun menjadi dekat dengan sesama. Mencintai dan menghargai mereka, seperti Yesus mencintai dan menghargai Anda, Saya dan kita semua.

Kita berdoa, “ Tuhan, kami mensyukuri keindahan solidaritas-Mu atas kami. Engkau yang jauh menjadi dekat. Dan kasih-Mu dapat dirasakan. Kiranya kami pun solider atas sesama kami, terutama yang menderita.

Kami berdoa untuk negeri kami. Kiranya kehidupan demokrasi tetap berjalan tapi berilah kepala dingin dan hati yang berhikmat dalam menyikapi perbedaan. Sehingga negeri kami lolos dari tindakan pelaku anarkis yang lebih besar. Tuhan beri pemimpin kami kekuatan tapi juga kesediaan mendengar suara rakyatnya. Dan kiranya pemerintah kami pun tegas dan bijak kepada mereka yang merusak tatanan hidup bersama.

Semua doa ini. Kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Merindukan Pembenaran Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 28:11-14

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan hari inj, ”Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lukas 28:11-14

Saudaraku, ada dua sikap manusia di hadapan Tuhan. Pertama, tipe manusia yang merasa punya prestasi keagamaan. Dia merasa semua tuntunan agama sudah diikuti. Semua kewajiban agama telah dipenuhi. Sehingga perjumpaan dengan Tuhan lebih bersifat laporan keberhasilan. Dia membeberkan segala hal yang berhasil dicapainya. Orang seperti ini, datang kepada Tuhan dengan kepala tegak dan dada penuh kebanggaan.

Orang Farisi termasuk tipe itu pada jaman Tuhan Yesus. Orang tipe seperti itulah, doa pun bukan momen perjumpaan yang diisi kerendahan hati. Doa lebih pada mengagungkan diri sendiri, merendahkan orang lain. Doa itu pameran kesuksesan. Dengan demikian, orang Farisi tidak butuh pembenaran dari Allah. Mereka merasa sudah benar. Tidak butuh dibasuh dosanya, merasa sudah suci. Bagi mereka seakan-akan ketentuan agama telah tuntas dijalani.

Lain hal profil pemungut cukai. Ia merasa hidupnya sarat kesalahan. Hidupnya penuh kegagalan mewujudkan bimbingan dan nasihat keagamaan. Ia merasa kecil. Dosa terlalu berat. Tidak heran ia tidak mempunyai keberanian mendekatkan diri pada Tuhan. Ia merasa terlalu kotor di hadapan Tuhan yang suci. Sikapnya penuh sesal. Sesal bahwa ia telah gagal memberikan sikap terbaik pada Tuhan.

Saudaraku, di mata Tuhan orang Farisi tidak memerlukan pembenaran Tuhan. Sudah merasa benar. Tipe manusia seperti ini bisa jadi kita temukan saat kini. Kewajiban agama yang dipenuhi jadi pameran. Akhirnya, sikap kesombongan yang menonjol. Dia merasa lebih saleh, suci dan benar. Bahkan bagaikan polisi spiritual. Mengontrol ketat sikap keagamaan sesuai versinya dilaksanakan umat, atau diabaikan.

Lain halnya, orang Farisi. Dia merasa dirinya tidak layak di hadapan Tuhan. Sehingga jika dia diterima Tuhan dengan segala cacat cela perilakunya, oh itu anugerah terbesar. Pemberian tak ternilai. Pemberian yang betul-betul sangat berharga. Doanya bukan laporan prestasi, melainkan mencerminkan kerinduan terdalam. Doa ketukan hati Tuhan agar diterima. Doa merupakan wujud kerinduan untuk diterima dan dipeluk Allah. Lewat doa mereka berharap penerimaan Tuhan menjadi nyata.

Saudaraku, Yesus datang bukan untuk tipe orang Farisi. Tuhan Yesus datang sebagai tabib. Sedangkan yang membutuhkan tabib adalah orang sakit. Mereka yang merasa tidak layak. Kotor. Menatap Allah pun tidak berani. Kepada mereka itulah, Dia datang ke dunia. Dia membuka hati-Nya menerima orang-orang yang tidak sempurna. Dia meninggikan orang sungguh rendah hati di hadapan Tuhan. Mereka yang tidak mengecam orang lain. Karena merasa dirinyalah yang layak dikecam. Mereka yang tidak pameran prestasi keagamaan. Karena mereka merasa Allah begitu agung. Dan mereka debu di hadapan-Nya.

Saudaraku, mari kita mengisi hari-hari di mana sebagian dari kita menyiapkan hati mengikuti sakramen Perjamuan Kudus. Mari kita penuhi undangan-Nya dengan pengakuan jujur dan rendah hati. Bahwa benarlah kita orang bersalah. Dosa kerap kita lakukan. Kita merindukan pembenaran Allah. Dialah telaga pengampunan kita. Puji syukur, Allah datang ke dunia. Dia mengulurkan tangan kepada kita. Kita dijadikan layak. Kita menjadi anak-anak-Nya. Dalam ketidak layakan kita berbenah diri. Semoga Allah saja yang menguatkan kita. Kita berlindung pada karya Allah yang menyelamatkan dalam peristiwa salib.

Kita berdoa. “ Tuhan, membawa ke hadirat-Mu kehidupan hari ini dan seterusnya kepada Engkau Maha Pengampun. Agar kami tidak tinggi hati, melainkan memptaktikkan hidup yang rendah hati (humble).

Kami berdoa untuk keluarga dan orang-orang yang kami kasihi. Semoga Tuhan memberi hidup suka cita serta sejahtera menyertainya. Berkati mereka dengan kebahagiaan di hari ini. Kiranya berkat terbaik ia kecap dalam perjalanan pribadi.

Tuhan, kasihani mereka yang tengah berjuang dalam kesulitan di masa pandemik. Ulurkanlah kasih-Mu dan ringankan beban mereka.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.