Tersenyum Berjumpa Yesus

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 23:42b-43

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak yang baik. Kita bersyukur kepada Allah, dengan malam yang kita jalani bersama keluarga dan disertai Engkau Penjaga setia kami.

Firman Tuhan pagi ini dikutip dari, ”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Lukas 23:42b-43

Saudaraku, meski tengah menderita, Yesus masih peka dan menyimak apa yang berlangsung di sekitar bukit Golgota. Tubuhnya yang lebam karena pukulan. Kulit-Nya yang terkelupas lantaran pukulan cemeti yang tajam. Luka menganga bekas tusukan. Tenaga yang sudah terkuras. Semestinya, Dia lebih memperhatikan rasa sakit dan ketidak berdayaan-Nya. Ternyata tidak. Yesus masih mengikuti kata-kata olokan, hinaan dan ucapan sinis tertuju pada diri-Nya. Ia bahkan menyimak dengan baik.

Terlebih dari itu, Yesus masih mendengar dari antara berbagai ucapan yang melukai hati-Nya, ternyata ada suara berbeda. Suara simpati. Sumber suara itu bukan suara murid-murid-Nya. Bukan pula dari orang terdekat-Nya. Melainkan suara dari seorang yang juga tengah menuju kematian. Ya, suara penjahat yang nasibnya sama, sama-sama disalibkan. Dari orang yang sama-sama tengah di salib, Ia mendengar suara berbeda. Ia mendengar suara simpatik.

Dari mulai penangkapan, pengadilan dan perjalanan ke Golgota. Berbagai suara yang didengar Yesus adalah suara kebencian, cacian, hinaan, tuduhan tidak berdasar, olok-olok, dan pelecehan. Saat Ia memasuki detik-detik berakhir hidup-Nya, di golgota, Ia mendengar suara yang berbeda. Suara menyejukkan. Suara bersimpati dan bernada “membela-Nya”, ”Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Ayat 41.

Suara salah seorang penjahat di sisi-Nya menyejukkan hati-Nya. Suara itu tengah meluruskan ucapan penjahat lain yang bernada cemoohan atas diri Yesus. Bersamaan dengan itu, dari orang yang sama, Yesus mendengar permohonan yang tulus, penuh kerendahan hati dan mengandung iman yang kuat, ” Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Ayat 42:b. Segera Yesus merespon suara yang berbeda, yang langka Dia dengar sejak masa penderitaan yang dijalani-Nya. Dengan cepat Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Ayat 43.

Saudaraku, di saat Yesus menderita Ia masih terbuka atas sebuah permohonan, dan mengabulkannya. Sungguh, Yesus selalu punya tujuan atau orientasi hidup-Nya adalah memberi, memberi dan memberi. Yesus melihat salah satu penjahat itu mempunyai keinginan terdalam agar dipenuhi keinginan terakhirnya, sebelum ajal. Dan Yesus memberi sesuai permohonannya.

Saudaraku, apa artinya hidup yang tidak bisa memberi? Seseorang yang sepanjang hidupnya berorientasikan memberi, maka kematiannya akan berarti. Kematian Yesus bukan sia-sia. Hidup dan mati-Nya diabdikan untuk memberi. Bahkan pada detik-detik terakhir Ia masih memberi, yakni memberi yang paling berharga bagi manusia, yaitu “firdaus”.

Berbahagialah salah satu penjahat di samping Yesus. Ujung hidupnya memang berakhir mengenaskan. Penjahat itu mati dengan cara disalib yang menyakitkan. Tetapi, pada detik- detik terakhir hidupnya ia masih bisa mati dengan tersenyum. Ya, tersenyum, karena ia berjumpa dengan Yesus yang memberikannya firdaus.

Mari kita berdoa, “Ya, Allah, Engkaulah yang mengutus putra-Mu, Yesus Kristus. Hidup dan mati-Nya memberi yang paling didambakan manusia, yaitu firdaus. Kiranya, kami tetap setia beriman kepada-Mu. Karena hanya Yesuslah yang mampu menyediakan firdaus bagi kami..

Tuhan, kiranya di tengah pekan ini, hati dan pikiran serta iman kami disiapkan untuk menghayati penderitaan Kristus, yang memberi keselamatan. Dalam nama Yesus yang hidup dan menang, kami berdoa. Amin.

Menerima Yang Gagal

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 15:21

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki hari baru ini. Dan kita patut memuji nama-Nya.

Firman Tuhan hari ini, “Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. “

Lukas 15:21

Saudaraku, banyak orang, dan mungkin kita termasuk di dalamnya, takut dengan kegagalan. Kita tidak siap jika kita atau anak kita gagal. Entah itu gagal dalam studi, membina rumah tangga, mengelola usaha, mengembangkan karier. Bahkan ada yang mengatakan, “mau ditaruh di mana mukaku.” Ungkapan ini muncul pada saat kegagalan terjadi. Atau ada orang yang merasa dunia seakan-akan runtuh.

Memang, kegagalan dianggap aib. Tercela. Juga memalukan. Di Jepang ada tradisi yang masih berlaku kuat. Jika seorang pejabat merasa gagal dalam menjalankan tugas, segera yang bersangkutan mengajukan mundur dari jabatannya. Malah, ada tradisi harakiri. Mengakhiri hidup dengan sebilah pisau yang ditusukkan ke tubuh. Sebab, yang bersangkutan merasa malu sekali dengan kegagalan yang diperbuatnya.

Saudaraku, kegagalan memang dianggap tamparan terhadap harga diri. Bagi seseorang dari budaya tertentu, harga diri itu segala-galanya. Sehingga orang yang gagal itu sama dengan merendahkan martabatnya. Dan kehilangan segala-galanya.

Bagaimanakah Allah menanggapi orang gagal? Kita melihat adanya ungkapan terbuka dan terus terang si Anak Hilang. Dia mengaku bahwa dirinya tidak layak. Dia telah sangat berdosa kepada Allah dan manusia. Dalam kata telah berdosa itu mempunyai makna, bahwa dia sudah gagal. Gagal menjadi anak yang baik. Gagal memenuhi keinginan ayahnya.

Saudara, dalam hal atau pekerjaan tertentu kegagalan itu tidak boleh ada. Misalkan, merancang dan meluncurkan pesawat ulang alik ke ruang angkasa. Jelas, tidak boleh gagal. Gagal sedikit saja berarti beresiko karena pasti nantinya ada korban yang meninggal atau celaka.

Tetapi dalam perbuatan yang menyangkut iman, Allah itu teramat toleran. Pintu hati Tuhan terbuka atas ketukan orang-orang yang gagal memenuhi keinginan dan perintah-Nya. Gagal mengasihi. Gagal menjadi murid yang setia. Gagal memenuhi janji-jani yang intinya ingin menjadi murid Tuhan yang baik.

Saudaraku, Kita melihat dalam adegan kisah Anak yang Hilang itu. Bagaimana reaksi sang ayah secara spontan menyambut kepulangan anaknya yang telah pergi jauh. Dan pulang dengan memikul beban kegagalan. Sang Bapa menjamu anak yang gagal itu dengan makan enak, dan dipakaikan busana yang menggambarkan derajat sosial yang terhormat. Gambaran itu, menunjukkan di mata Allah, kepulangan yang gagal itu disambut. Mereka yang berbuat keliru ditunggu dengan pelukan hangat. Ya, diperlakukan istimewa manakala sungguh-sungguh mengakui sudah bertobat.

Saudaraku, kesediaan menyambut yang gagal menunjukkan keagungan kasih Allah. Pengampunan-Nya tidak dapat diukur, oleh sebab saking dalamnya. Bersyukurlah kita, kerap sekali kita gagal, sedangkan Allah terus membuka tangan dan hatinya menyambut kita lebar-lebar.

Jadi, Allah kita begitu besar kasih-Nya. Sungguh agung sifat pengampunan-Nya, sebab Allah tetap bersedia membuka pintu hati-Nya. Sambutan Allah atas orang berdosa dan berbalik kembali, Allah tetap membukakan pintu pengampunan. Dari sini ada ajakan bagi kita. Yaitu, pintu hati kita pun musti terbuka lebar-lebar untuk orang yang minta maaf kepada kita.

Kita berdoa, “Tuhan berilah kami hati dan kata-kata yang mau menerima dan menemani mereka yang harus mengalami kegagalan.

“Kami pun berdoa, Tuhan, ajar dan kuatkan tekad kami untuk memaafkan sesama kami, entah orang tua, saudara, keluarga, istri/suami, anak atau siapapun. Kami ingin berjalan terus di jalan Tuhan walau ada rintangan yang mencoba menghalangi.

Hari ini, perkenankan kami berlindung di bawah kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Jauhkan kami dari mara bahaya dan kecelakaan. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.

Tetap Saudara Kita

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 1:5-6

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita patut bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan. Hanya karena Dia jantung kita masih berdetak, paru-paru kita masih bernafas, panca indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, betapa baiknya Tuhan. Sekaligus kita masih dipercaya Tuhan melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, (6) Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,”

Matius 1:5-6

Saudaraku, setiap manusia hadir di dunia ini pasti punya silsilah keluarga. Anda dan saya atau siapapun pasti tahu anak siapa. Tidak mungkin kita ada di dunia ini ujug-ujug. Setiap sosok manusia punya ‘pohon keluarga’.

Lewat silsilah keluarga seseorang tahu keturunan siapa dan dari mana asalnya. Pada umumnya, silsilah ditarik dari garis ayah. Sehingga nama laki-laki yang dominan. Tradisi ini tidak hanya berlaku di suku-suku yang ada di Indonesia, melainkan juga di Israel. Dari garis ayahlah ditarik silsilah keluarga itu.

Demikian juga Yesus yang lahir ke dunia. Ia pun punya silsilah. Meski Ia dikandung Roh Kudus, karena lahir dari Maria seorang manusia. Maka, Yesus punya posisi dalam mata rantai keluarga. Ayat firman Tuhan di atas merupakan penggalan silsilah keluarga Yesus.

Orang kristen bisa kaget, saat melihat dan kemudian mengetahui silsilah keluarga Yesus. Kenapa itu gerangan? Yaitu, karena injil Matius memasukkan adanya 4 orang perempuan. Ini tidak lazim. Di luar kebiasaan tradisi waktu itu. Selain, ternyata beberapa perempuan punya catatan pribadi yang secara moral kurang baik.

Aneh sekali. Perempuan dimasukkan dalam silsilah keluarga Yesus. Dan betapa beraninya Matius memasukkan perempuan-perempuan yang punya latar belakang ‘cacat moral’. Tamar, misalnya, nama perempuan yang demi kepentingan pribadi, tanpa malu berpura-pura jadi Pelacur kuil. Rahab, kita tahu siapa dia. Dia seorang perempuan prostitusi. Istri Uria kita pun tahu siapa dia. Dia adalah Batsyeba. Kita lebih tahu lagi perilakunya. Sedangkan Rut, dalam dirinya tidak mengalir darah asli orang Israel.

Saudaraku, penulis injil Matius memasukkan perempuan beserta catatan pribadi masing2, bukan untuk main-main. Bukan pula hendak merendahkan keluhuran Yesus. Justru, silsilah keluarga itu mengandung hal mulia. Pertama, Yesus tidak bisa dipisahkan kehadirannya dengan perempuan. Jadi, keagungan mata rantai silsilah Yesus mengandung pengakuan keagungan perempuan. Sosok perempuan tidak direndahkan. Ia punya posisi sama dan setara dengan pria.

Sedangkan catatan moral yang melekat pada perempuan yang berada dalam silsilah keluarga itu, tidak kalah mulia kandungan artinya. Dalam hal ini, sosok Yesus tidak terlepas dari mata rantai keluarganya yang semasa hidupnya, mereka tidak luput dari hal keberdosaan. Allah melibatkan orang berdosa dalam karya sejarah keselamatan kehadiran Yesus. Allah merangkul orang yang tidak sempurna. Jadi, keluarga dengan segala keterbatasannya. Keluarga dengan segala kelemahannya.

Saudaraku. Refleksi kita hari ini berarti, kasih kita kepada keluarga tidak boleh terhenti hanya karena mereka tidak sempurna. Jangan malu mengaku bagian keluarga tertentu, meski dalam keluarga itu ada sosok yang di mata sesama tidak sempurna. Di Alkitab, kita menemukan Allah merekrut orang yang bekerja untuknya memiliki ketidak pantasan di mata manusia. Kita ingat contohnya, Jefta. Preman yang menakutkan. Gaya hidupnya dihabiskan bersama lingkungan perampok. Lahir bukan dari perkawinan yang sah. Ternyata, Allah memakainya menjadi hakim di Israel.

Memasuki Awal pekan ini, kita didorong mencintai keluarga kita. Keluarga dengan banyak kelebihan dan sederet hal yang membanggakan. Tapi di tiap silsilah keluarga pasti punya kelemahan masing-masing. Ada yang bandel. Ada yang berwatak pemberontak. Ada yang malas ikut persekutuan. Ada yang tidak jujur. Ada yang tukang nilep uang, walau uang itu milik saudara sendiri. Ada yang bodoh. Ada yang gagal rumah tangganya. Dan masih banyak lagi.

Memang bisa jadi tidak membanggakan mengakui mereka sebagai bagian keluarga dan saudara kita. Meskipun mereka tidak sempurna, kita ingat mereka bagian silsilah keluarga kita. Dan jangan mereka dihapuskan dari daftar silsilah keluarga cuma lantaran dianggap kurang berkenan di mata manusia. Kita harus tetap mencintai mereka. Sebab, mereka tetap saudara kita. Apapun kekurangannya. Ingatlah silsilah keluarga Yesus di sana pun terdapat orang-orang yang tidak sempurna. Alkitab pun tidak menutup-nutupinya bahwa dari bagian silsilah keluarga Yesus ada anggota dengan segala kekurangannya.

Kita pun musti sadar, bahwa diri kita pun tidak sempurna. Sehingga memasuki hari baru jangan menghentikan cinta kasih di antara saudara dan anggota keluarga. Sebaliknya makin dikuatkan. Hubungan kekeluargaan tetap terjaga.

Kita berdoa, “Tuhan berkatillah kehidupan kami di awal pekan ini. Karuniakan kami tetap menjaga relasi cinta kasih dengan orang-orang yang kami cintai. Membangun silaturahmi keluarga. Kiranya langkah kami senantiasa dalam lindungan-Mu.

Kami berdoa agar di sepanjang hari ini, langkah kami terarah kepada hidup yang menghormati Tuhan. Seiring dengan itu menjabarkan kasih sayang buat mereka yang sakit dan butuh bantuan. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

MENYIMAK KUALITAS PERSEMBAHAN KITA

Oleh Pdt. Weinata Sairin

”Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? Firman Tuhan semesta alam.”

Maleakhi 1:8

Manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah memiliki relasi yang khusus dan spesifik dengan Allah, Khalik Pencipta Alam Semesta. Relasi itu dilakukan dalam ibadah, pada saat berdoa dan memuji nama Tuhan, pada saat memberikan persembahan, atau bentuk-bentuk lain yang diatur oleh Gereja yang di dalamnya kita mampu mewujudkan relasi dengan Allah.

Kesemua wujud dan bentuk relasi itu seharusnya terjadi dengan sangat baik dan optimal, dan sebagai cerminan rasa syukur kita kepada Tuhan Allah yang telah menganugerahkan keselamatan kepada umat manusia.

Misalnya, kita harus menyanyi dengan kaidah-kaidah standar: suara tidak sumbang, sesuai dengan partitur lagu, volume suara yang memang sesuai dengan kebutuhan ibadah. Pakaian yang kita kenakan juga sopan elegan.

Jangan kita beranggapan menyanyi untuk Tuhan itu tidak perlu bagus, yang penting iman kita. Anggapan ini tidak berdasar, sebab menyanyikan nyanyian Gereja sebagai bagian dari liturgi/ibadah harus dilakukan dengan sangat baik, optimal; devosional dan juga khidmat.

Pendeknya, semua unsur-unsur liturgi yang ada dalam tata ibadah itu kita baca/laksanakan dengan sangat-sangat baik sehingga ibadah itu terasa benar-benar sebagai sebuah ’dialog interaktif’ antara kita dan Allah, dan ada kesegaran baru yang kita nikmati dari ibadah yang durasinya lebih kurang satu jam itu.

Kita tidak merasa bosan atau hampa dalam ibadah itu. Sebaliknya, kita akan merasakan energi baru dalam diri sebagai bekal memasuki dunia yang penuh turbulensi di minggu depan.
Ibadah kita terasa kering dan hampa, bahkan membosankan, apabila unsur-unsur liturgi itu semua dibaca secara mekanis, tanpa aksentuasi dan penghayatan. Banyak terjadi slip of the tongue pada saat pemimpin membaca, salah ketik dan salah kutip nyanyian dalam lembar liturgi, dan Paduan Suara yang tidak dipersiapkan dengan lebih bagus.

Kondisi ini acap diperparah dengan khotbah yang berdurasi lebih dari 45 menit, dengan topik yang disajikan tidak populer, dan gaya bahasa agak kuno. Pada bagian akhir, pendeta biasanya kehilangan fokus dan kesulitan mencari kata penutup.

Andaikata elemen-elemen yang amat penting tidak mengalami persiapan dengan baik, cukup besar pengaruhnya dalam konteks kita membangun relasi dengan Tuhan. Oleh karena itu, ada Gereja-gereja yang melihat
bahwa dalam ibadah, aspek entertain juga perlu mendapat perhatian sehingga umat dari segala usia tetap kerasan dan enjoy dalam beribadah di Gereja. Bahkan, mereka merasakan adanya pencerahan spiritual dalam diri mereka.

Ayat Alkitab yang dikutip dari Maleakhi 1:8 memang cukup menarik untuk dipelajari, bagaimana membangun relasi dengan Allah melalui persembahan dalam konteks Perjanjian Lama.

Ayat ini mengungkapkan kritik yang cukup pedas terhadap umat yang mempersembahkan kepada Allah binatang buta atau timpang, sakit. Firman Tuhan menegaskan bahwa tindakan seperti itu adalah tindakan yang jahat! Mengapa tindakan itu disebut jahat? Karena tindakan itu bertentangan dengan hukum agama yang berlaku saat itu.

Dalam Kitab Ulangan 6:21 secara tegas dinyatakan bahwa lembu/kambing yang cacat, timpang, atau buta dilarang untuk dipersembahkan kepada Tuhan (cf Imamat 22:18, Bilangan 6:14, dsb.).

Binatang yang dalam kondisi seperti itu tidak layak untuk disembelih dan dipersembahkan kepada Tuhan. Namun, umat tetap bisa memakan daging sembelihan itu, kecuali darahnya.
Hal yang menarik adalah, Firman Tuhan dalam Maleakhi itu memberikan pembandingan andai binatang yang cacat itu disampaikan kepada bupati. Apakah sang bupati berkenan dan menyambut si pemberi dengan baik?

Warning dan sindiran kuat Firman Tuhan dalam Kitab Maleakhi, yang ditulis lebih kurang tahun 470 SM, masih tetap relevan hingga zaman ini.
Relasi kita yang khas, spesifik dengan Tuhan Allah harus terus dipelihara dari saat ke saat melalui banyak bentuk. Dalam semangat memuliakan Allah dan bersyukur kepada-Nya maka doa, nyanyian, dan persembahan kepada Tuhan mesti kita berikan yang terbaik.

Jika para pembesar saja selalu ingin kita beri yang terbaik, apalagi Tuhan Allah yang telah memerdekakan kita dari belenggu dosa. Sudah selayaknya kita memberi yang terbaik bagi Tuhan, Allah yang kita panggil Bapa dalam nama Yesus Kristus.

Dalam ikatan dengan Yesus Kristus, kita tidak lagi berbicara tentang mempersembahkan kambing atau domba atau binatang atau benda apa pun. Kita semua, anak-anak Tuhan Yesus, dipanggil untuk ”mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah…” (Roma 12.:1).

Kita perlu menyimak ulang bentuk-bentuk persembahan kita kepada Tuhan. Dalam pemikiran manajemen modern berapa persen dari anggaran rumah tangga kita yang kita siapkan khusus untuk Gereja.

Dalam sebulan misalnya ada orang yang mampu membeli sekian bungkus rokok, mengapa ia takmampu untuk memberi permbahan yang layak bagi Tuhan?

Kita harus melakukan kajian, perenungan ulang, koreksi tentang bagaimana kita memberi persembahan yang prima bagi Tuhan. Harus diakui ada banyak hal yang memengaruhi kualitas persembahan kita.

Ada soal teologi, misalnya nas-nas Alkitab yang dibacakan menjelang pengumpulan persembahan dalam ibadah di Gereja, bisa juga soal manajemen keuangan Gereja yang tidak transparan, dsb,dsb.
Apapun dan bagaimanapun, kita harus memberi persembahan terbaik bagi Tuhan, bahkan mempersembahkan tubuh kita bagi Tuhan.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God Bless.!

Lidah Menyatakan Kelembutan Dan Kasih

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Sejak Senin hingga Sabtu kita jalani. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam kita menyegarkan.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar”.

Yakobus 3:5

Saudaraku, sebagai manusia kita dilengkapi berbagai organ tubuh. Semuanya punya fungsi khas sendiri-sendiri. Mata untuk melihat, hidung untuk membaui, telinga untuk mendengar dsb. Sekecil apapun organ tubuh kita, Tuhan menciptakannya dengan kegunaannya. Tidak ada yang sekedar ada. Tuhan sungguh menciptakan manusia sebagai maha karya.

Begitupun organ bernama lidah. Secara fisik hanya sepotong daging. Ditimbang tidak berat. Dilihat dari sisi keindahan tidak terlihat menonjol keindahannya. Tidak ada peristiwa jatuh cinta seseorang lantaran bentuk fisik lidahnya. Namun demikian, kegunaaan dan efek fungsinya luar biasa. Dengan lidahlah, kita mencecap rasa semua makanan dan minuman. Dengan lidah pula lahir ucapan dan perkataan. Kita bisa mendengar ada lagu yang terdengar indah, pidato yang memukau, itu tidak terlepas oleh sebab ada organ lidah.

Banyak istilah yang menggunakan kata lidah. Bagi kita yang suka kuliner, maka istilah yang dipakai “memanjakan lidah”. Bagi orang yang pandai berkata-kata dan cekatan berargumentasi disebut “bersilah lidah”. Dan orang menyebut “lidah tak berulang”, karena apa saja bisa dikatakan lidah.

Berkenaan dengan fungsinya yang luar biasa, lidah terutama untuk menyuarakan ungkapan hati, keinginan, perintah dan komunikasi. Lidah bukan cuma harus dirawat, tetapi sangat penting ditata dan dikontrol. Sejak kanak-kanak, kita diajar mana yang boleh diucapkan, dan mana yang tidak boleh diutarakan. Mana yang pantas dan tidak pantas diutarakan.

Lidah yang tanpa pengendalian tentu saja berbahaya dan merugikan. Sebab, lidah itu bisa mengeluarkan ungkapan hati, perasaan dan pikiran yang merugikan relasi sosial. Sebuah pertemanan bisa rusak karena ucapan dan pernyataan yang menyakitkan. Di situ lidah bisa menjadi sumbernya. Seseorang yang karena lidahnya mengutarakan kata-kata penuh kebencian dan fitnah atas orang tertentu di muka umum. Bisa berujung di meja pengadilan karena dianggap mencemarkan nama baik.

Saudaraku, pernah di Sumatra Utara ada seorang perempuan mengeluh. Tentang alat yang dipergunakan ibadah yang menimbulkan kebisingan, eh, dinilai telah melakukan penistaan agama. Banyak yang berpendapat, keluhan si ibu minimal didengar dan dimusyawarahkan. Namun justru dia ditangkap dan diadili. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari lidah. Si ibu itu dengan lidahnya mengutarakan cuma kerisauan hatinya, ternyata menyulut polemik, pro dan kontra. Akhirnya, ia harus meringkuk di penjara.

Itu baru satu contoh. Sama suasana kehidupan keluarga dan kehidupan berjemaat dipengaruhi lidah, baik yang dikontrol maupun tidak. Lidah yang memproduksi ucapan bersahabat, keramahan, pujian akan melahirkan suasana nyaman. Sebaliknya, pernyataan serangan secara pribadi melalui kata-kata lebih banyak merugikan daripada manfaatnya. Dan sering terjadi menimbulkan konflik di keluarga maupun di gereja.

Hari ini, jaga lidah kita. Disiplinkan lidah kita. Sehingga kita menghindari ungkapan lidah kita yang bersifat mengecam, bergosip, menjelek-jelekan nama baik seseorang atau kelompok atau nada instruksi yang menyakitkan hati sesama rekan kerja. Pakailah lidah untuk berdoa dan memuji Tuhan. Pergunakan lidah kita untuk memuji orang. Memproduksi sapaan hangat. Mengeluarkan suara yang menyejukkan hati dan menentramkan emosi. Dengan demikian, lidah kita tidak seperti api yang membakar hutan. Melainkan menumbuhkan tunas-tunas persahabatan dan persaudaraan. Lidah kita tidak melahirkan ungkapan kebencian, melainkan pernyataan kelembutan dan kasih sayang.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami menjalani hidup hari ini bersahabat dengan siapapun. Lidah kami tertata dalam mengeluarkan kata-kata dan ungkapan. Namun jika ada lidah orang lain yang bernada memusuhi, mampukan lidah kami membalasnya dengan ungkapan dan kata-kata berisikan kasih dan kebaikan.

Semoga akhir pekan ini, kami bisa melakukan aktivitas yang bermanfaat. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.