MEMIMPIN ITU MELAYANI

Oleh Pdt. Weinata Sairin

The first renponsibility of a leader is to define reality. The last is to say thank you. In between the leader is a servant.

Max DePree

Menjadi pemimpin bukan pekerjaan mudah dan sederhana, baik pada level lokal, regional, nasional, atau internasional. Setiap level punya kerumitannya sendiri. Ada kondisi ”kegentingan yang memaksa” dalam bobot yang bervariasi. Ya, selalu ada saja kerumitan. Yang penting, bagaimana kita menyiasati kerumitan tersebut dan mengelolanya dengan baik agar program dan kehidupan bisa berjalan dengan baik.

Hal sulit bisa saja terjadi tatkala kita menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga. Pada level keluarga, yang lebih banyak dikedepankan adalah ”perasaan”. Dalam keluarga tak ada AD/ART, tak ada Tata Kerja atau Tata Kelola, tak ada SOP seperti yang kita temukan pada perusahaan-perusahaan.

Hampir semua hal dikelola berdasarkan kultur, konvensi, khotbah/tausyiah yang diberikan pejabat agama pada saat berlangsung acara pernikahan. Walau demikian, tidak berarti dalam keluarga tidak ada aturan. Kita tidak bisa urakan dan ”slebor” seenaknya.

Prinsip-prinsip organisasi secara umum ada dan diterapkan juga di dalam keluarga. Hanya, prinsip-prinsip itu tidak tercatat seperti dokumen-dokumen pada perusahaan.

Hal yang amat penting dibangun dalam keluarga adalah cinta kasih, kepercayaan, dialog, dan sikap ”kesalingan dan kekitaan”. Tingkat kerumitan dalam memimpin rumah tangga lebih dielaborasi tatkala ruang bagi keluarga besar (kakek/nenek/paman) diberi tempat.

Keikutsertaan dan elaborasi keluarga besar dalam kehidupan rumah tangga berpotensi positif, yakni memperkuat basis keluarga di tengah berbagai dinamika dunia yang acap mengancam daya tahan dan keberadaan keluarga.

Dulu pemimpin hampir selalu diberi persepsi ”orang yang berada di puncak”. Oleh karena itu, ia memerlukan banyak ”tangan” untuk mampu
menjangkau dan ”mengais” yang di bawah. Akibatnya, seorang pemimpin dikelilingi banyak orang (dengan sekian kepentingan). Pemimpin bisa menjadi amat jauh dengan yang dipimpin, baik dari segi jarak maupun ide atau pemikiran.

Realitas ini mengakibatkan lahirnya pemimpin elite yang tercabut dari akar sosiologisnya. Kita semua berharap agar para pemimpin pada level apa pun benar-benar memahami kebutuhan dasar dan mengakomodasi pemikiran orang-orang yang ia pimpin, selain memotivasi mereka menuju masa depan yang lebih baik.

Para pemimpin mesti mengayomi yang dipimpin, membuat mereka aman dan nyaman dalam membangun kehidupan. Pemimpin tidak hanya seorang yang visioner, tetapi juga orang yang peduli dengan pergumulan riil para anggotanya.

Kita bersyukur, dalam beberapa waktu terakhir ini kata ”pelayanan”, ”service”, dan ”ministry” diberi tempat lebih banyak dalam kehidupan masyarakat.

Kata ”pelayanan” berasal dari kata Yunani ”diakonia”, suatu sikap yang sangat ”memanjakan” orang lain. Kata ini awalnya diterapkan kepada orang-orang yang melayani tamu-tamu di restoran: mengantarkan makanan ke meja makan, mengatur piring, gelas, dan sendok sesuai dengan SOP.

Para tamu menjadi ”raja” dan dilayani penuh.
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang berinsiatif, yang mendatangi dan membantu sepenuhnya.

Banyak kantor pemerintah yang kini menyebut dirinya sebagai Kantor Pelayanan secara eksplisit sehingga warga yang datang dibantu, tidak dipersulit. Ada kepuasan dari warga karena dilayani secara cepat, transparan, menyenangkan, bahkan gratis.

Sebenarnya, semua kantor pemerintah yang berhubungan dengan kepentingan publik harus memahami diri sebagai kantor pelayanan. Para pejabatnya adalah para pelayan atau diakonos dalam bahasa Yunani! Pepatah yang kita kutip di bagian awal menyatakan dengan tegas bahwa pemimpin adalah pelayan, yakni figur yang menuntun, mengarahkan, membimbing,
dan mendampingi dalam perjalanan panjang menuju masa depan ceria.

Pada level apa pun kita membutuhkan pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang dilayani. Kita merindukan kepemimpinan melayani, bukan kepemimpinan laissez faire (’kendali bebas’), yaitu kepemimpinan yang semuanya terserah kepada yang dipimpin; kepemimpinan yang mandul dan bisu. Kepemimpinan model begini akan hancur digerus zaman!

Pemimpin itu bergerak dan bertindak, bukan berdiamdiri dan atau menyembunyikan diri.
Kita semua adalah Pemimpin pada level kita masing-masing di rumah, di kantor, di masyarakat dan di berbagai tempat dan bidang.

Marilah kita menjadi Pemimpin yang melayani, bukan Pemimpim yang dilayani, yang menjadi Big Bos!

Selamat Berjuang, God Bless!

Memenuhi Janji

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Yeremia 24:7

Selamat pagi, Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus. Selama kita bernafas kiranya kita terus bersyukur kepada Allah yang Pengasih. Pagi ini pun kita patut bersyukur kepada Allah.

Firman Tuhan bagi kita hari ini, “Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya.”

Yeremia 24:7

Saudara-saudaraku, seorang anak remaja berkata pada ibu-Nya, “ibu, kelak jika aku telah menyelesaikan sekolahku. Aku ingin segera bekerja. Dan aku akan membelikan ibu pakaian yang indah“. Ungkapan ini tentu kita tahu, itu sebuah janji seorang anak buat ibunya. Betapa seringnya kita berjanji kepada orang lain, atau sebaliknya, orang yang berjanji pada kita. Sebuah janji bersifat rencana. Karena itu banyak menggunakan kata “akan”, “bila”. Pemenuhannya berlangsung membutuhkan waktu. Contoh lain,” aku akan melayani Tuhan tahun depan”.

Sebuah janji terasa menyenangkan bagi yang sang penerimanya. Betapa berbunga-bunga hati dan perasaan ibu yang mendengar janji anaknya di atas. Ia senang bahwa kelak ia akan mengecap ungkapan kasih putrinya. Itu, baru janji dengan kategori yang tidak terlalu sulit pemenuhannya. Apalagi sebuah janji bernada muluk-muluk, seperti, ” nanti, deh. Mama aku belikan mobil kalau aku sudah kerja”. Tentu hati sang ibu makin melambung suka cita. Ibunya senang meski ada nada ragu.

Selain, hal di atas. Sebuah janji diutarakan terutama kepada orang yang kita kasihi, teman dekat, kerabat yang dianggap istimewa. Kini, para elit tengah berpolemik mengenai apakah PILKADA diselenggarakan tahun ini atau ditunda.

Jika tetap diselenggarakan nanti kita bisa lihat. Pada masa kampanye PILKADA akan meluncur dari mulut para Calon Pemimpin sekian banyak janji-janji . Entah tulus atau tidak, janji-janji mereka kepada kita seakan-akan menempatkan kita istimewa. Kita berharga di mata para calon-calon itu. Sehingga janji-janjinya semua manis. Ada yang berjanji ” membuat harga murah”, “Ini atau itu gratis “, “Bantuan pendidikan”. Janji itu hendak memperlihatkan betapa kita diperhatikan kebutuhan-kebutuhan kita, dan mereka akan memenuhinya kelak jika kita pilih.

Saudara, Allah juga berjanji. Kepada Abraham Ia berjanji akan mengaruniakan keturunan yang banyak bagai bintang-bintang di langit. Kepada Israel, Allah berjanji akan membawa keluar dari Mesir dan membawa mereka masuk tanah perjanjian. Perhatikan, Allah berjanji karena Allah mengasihi Abraham, sama Ia juga menyayangi Israel. Dan semua janji-janji-Nya dipenuhi. Allah setia menepati-Nya.

Firman Tuhan pagi ini pun bersifat janji. Ia akan memberikan hati yang membuat kita mengenal-Nya. Apakah janji ini direalisasi? Jelas, ya. Roh Kudus memampukan kita mengenal dan mengimani-Nya. Menurut Alkitab, Dia menjadi Allah kita dan kita umat-Nya semata-mata realisasi janji Allah. Dengan demikian, kehidupan keimanan kita merupakan inisiatif Allah. Allah menempatkan Saudara dan Saya berharga. Ya, kita istimewa di hadapan-Nya. Maka, iman kita juga berharga karena merupakan pemberian-Nya.

Saudara, kita suka mendengar ungkapan “janji palsu”, “ah, janji doang”. Ungkapan demikian hendak menyatakan bahwa ternyata janji itu enak didengar namun tidak seindah realisasinya. Bisa saja yang direalisasi berbeda dengan yang dijanjikan. Atau janji itu sama sekali tidak menjadi kenyataan. Karena itu, banyak orang mengalami dikecewakan oleh sebab sebuah janji. Kita bersyukur bahwa Allah yang kita imani adalah yang berjanji sekaligus yang menepati janji-Nya dengan indah. Termasuk Yesus yang bangkit dari maut, itu juga sudah dijanjikan Allah.

Kita hidup kerap sarat atau penuh pernyataan berisikan janji. Saat kita Sidi atau menyatakan iman secara dewasa, kita berjanji kepada Tuhan akan setia. Ketika melangsungkan perkawinan, kita berdiri di depan Jemaat menyatakan janji setia dalam perkawinan. Begitupun kita berjanji menjadi ayah atau ibu yang baik bagi anak-anak saat mereka hadir di dunia ini. Kita berjanji menjadi pegawai yang berintegritas saat dilantik sebagai pegawai atau karyawan. Kita berjanji membahagiakan orang tua kita, saat kita melihat dan merenungkan perjuangan mereka. Dan banyak lagi.

Dari sekian janji yang kita utarakan, sudahkah menjadi kenyataan? Berapa kali kita gagal, sebab tidak mudah mewujudkannya? Ya, dalam konteks janji, Allah melakukan dan telah mewujudkannya. Maka, baiklah kita memohon kuasa-Nya menguatkan kami memenuhi janji-janji kita.

Kita berdoa, “Tuhan mampu kami merealisasikan janji-janji yang pernah dan akan kami utarakan. Agar membuat Engkau dan sesama kami bersuka cita.”

Biarlah hari ini, atas perkenan Tuhan dalam keluarga dan rumah kami masing-masing, kami mengecap janji-Mu yang manis. Dalam Yesus, semua permohonan ini kami panjatkan. Amin.

Menjadi Garam Dunia

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 5:13

Selamat pagi, bapak- ibu, Oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Bagi kita orang percaya memulai sebuah perjalanan akan menjadi indah di mata Tuhan, saat diawali dengan doa dan ucapan syukur. Kiranya, demikianlah kita memulai perjalanan hidup di hari ini.

Sedangkan firman Tuhan yang menjadi dasar perenungan kita, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Matius 5:13

Saudaraku, keluhan atas menu makanan yang kita santap bisa disebabkan karena faktor macam-macam. Bisa karena kualitas bahan makanannya jelek. Bisa karena kurang bumbu. Atau bisa juga disebabkan dimasak secara tidak sempurna, misalnya masih mentah.

Selain keluhan lantaran faktor di atas, pada umumnya orang tidak menyukai makanan yang kurang asin atau terlalu asin. Kurang asin berarti kurang garam. Tidak disukai sebab rasa makanan hambar. Dingin. Anyep. Sebagus apapun mutu bahan mentahnya dan sesempurna apapun mengolahnya, kalau kurang garam orang ogah-ogahan memakannya. Malas menyantapnya.

Demikian juga sebaliknya, makanan terlalu asin, jelas orang pun kehilangan selera untuk menyantapnya. Nilai kelezatannya hilang. Buat penderita darah tinggi, jelas menghindarinya. Makan terlalu asin tentu disebabkan kelebihan porsi garam yang dibubuhkan ke dalam makanan itu. Seorang suami biasanya sebagai ungkapan komplain atas sajian yang terlalu asin, yang dibuat istrinya, suka menyindir. ”Wah, air laut pindah ke panci dapur kita.”

Jelas, betapa garam itu tidak boleh dipandang sepele untuk menjadikan makanan yang sedap. Kelebihan atau kekurangan garam menimbulkan orang tidak bersemangat menyantapnya. Takaran yang pas itulah yang dibutuhkan.

Saudaraku, Anda, saya dan semua orang percaya adalah garam. Kiasan ini artinya, kita itu dibutuhkan. Dan keberadaan kita dihadirkan di mana pun agar lingkungan kita menjadi indah, nyaman, tentram, sejahtera dan menyenangkan.

Kita semua punya fungsi, yakni berfungsi menggarami seperti dinyatakan di atas. Ketika ada orang kristen kehadirannya malah membawa onar dan dicap tukang bikin reseh. Di lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja kurang gaul, sampai pada tingkat orang yang tidak disukai. Maka, orang itu telah kehilangan fungsi garamnya. Dia akan diinjak-injak orang. Bahkan dibuang. Dianggap tidak berguna. Eksistensinya tidak bermanfaat.

Orang yang tidak menjadi garam sama dengan menyangkali identitas yang diberikan Tuhan Yesus. Sekaligus orang seperti itu tidak menaruh apresiasi atas status, dan tugas yang dipercayakan Allah kepadanya.

Dan jangan lupa. Orang kristen menjadi garam bukan di kalangan terbatas. Yakni cuma di area internal saja. Kehadiran kita yang membuat kehidupan menjadi indah dan suasana menjadi nyaman, tidak hanya pada lingkungan gereja saja. Tempat kita di tengah dunia. Menjadi garam dunia, menandakan Anda, saya dan seluruh orang kristen tempatnya di dunia. Dunia merupakan lingkungan pergaulan yang luas, bisa di tengah keluarga, gereja, pergaulan sehari-hari, masyarakat dan negara.

Jangan sampai di lingkungan gereja seorang kristen menjadi sosok yang baik. Sedangkan di luar gereja hidupnya semau gue. Itu jelas keliru. Lebih menyedihkan di lingkungan sendiri (internal) tidak mau menggarami. Begitupun sama di tengah masyarakat (eksternal), gagal fungsi. Sikap dan perbuatan baik dipraktikkan sama di mana pun kita berada. Layaknya garam, di mana pun ia berada asinnya harus dirasakan. Tidak kurang dan tidak lebih. Sepanjang hari Senin, mari hadirkan diri kita yang menjadi faktor yang menghadirkan hidup nyaman, aman, menyenangkan. Allah dipuji, sesama dihargai.

Tuhan, terus mampukan kami menjadi sosok yang dibutuhkan di tengah keluarga, gereja, teman-teman dan masyarakat. Karena bagaimanapun Engkau menjadikan kami adalah garam yang harus menggarami dunia.

Tuhan berkati kesehatan kepada para Lansia dan yang sakit. Semoga Engkau berikan tubuh yang segar dan pulihkan, sehingga mereka bisa beraktivitas normal seperti biasa. Kekuatan dan kesabaran bersama mereka.

Kami ingin mendoakan seluruh anak-anak dan cucu-cucu kami; baik yang masih bayi maupun sudah dewasa. Tuhan limpahkan kasih-Mu atas mereka. Mereka yang belajar dan menimba ilmu di rumah maupun bekerja. Lindungilah mereka dari tangan-tangan atau virus jahat. Kiranya mereka aman di tangan-Mu. Mereka bertumbuh dan berkembang seturut kehendak-Mu. Takut akan Engkau dan hormat pada orang tua. Jadikanlah mereka maju dalam studi dan karier. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

MEWUJUDKAN KEKRISTENAN OTENTIK DI DUNIA YANG LUKA

Oleh Pdt. Weinata Sairin

”Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan lakukanlah apa yang baik bagi semua orang. Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung padamu hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”

Roma 12:17, 18

Ruang-ruang dan koridor dalam bangunan NKRI yang majemuk dalam beberapa waktu terakhir ini agak pengap, bahkan nyaris menyesakkan dada. Iklim seperti itu terasa makin kental dan amat parah terutama di tataran media sosial. Setiap detik, begitu banyak informasi yang memenuhi medsos yang sebagian besar nadanya tidak menyejukkan.

Ada ujaran kebencian yang vulgar dan tidak pantas keluar dari mulut sang tokoh. Ada hasutan, ancaman, provokasi, pelecehan, penistaan, dan berbagai bentuk postingan yang semuanya amat kontraproduktif dalam konteks NKRI yang majemuk.

Seorang pejabat kepolisian pernah menyampaikan informasi ke tengah publik, bahwa ada kelompok cyber yang memang secara khusus membuat informasi yang menyesatkan untuk disebar di medsos dengan tujuan memecah-belah persatuan bangsa. Sinyalemen tersebut menandakan bahwa ada penyalahgunaan teknologi informasi untuk kepentingan negatif yang berbahaya bagi keutuhan NKRI. Udara pengap dan menyesakkan, baik dalam ruang publik maupun di dunia maya, terjadi karena koinsidensi beberapa hal yang dianggap belum memuaskan publik (tertentu), yang kemudian secara kolaboratif meledak ke permukaan.

Disana ada masalah politik (sisa-sisa rezim yang lalu, kontestasi Pilpres, Pilkada, dan lain-lain), masalah ekonomi, dan masalah agama yang dijadikan pemicu.

Ujaran kebencian, gambar dan meme menghujat/melecehkan, gaya manusia arkais dan barbar memenuhi dunia maya dan terekam dalam memori kolektif seluruh warga bangsa. Realitas ini sangat tidak baik bukan saja bagi kesehatan (jiwa), melainkan dalam jangka panjang, yaitu penguatan NKRI yang majemuk.

Umat kristiani mesti cerdas memahami realitas ini, antara lain dengan tidak melakukan langkah-langkah yang mengesankan ‘perlawanan’ terhadap apa yang terjadi di tingkat nasional. Warga Gereja di Indonesia dipanggil untuk makin mengedepankan nilai-nilai luhur kekristenan dan mengekspresikannya di ruang publik.

Dialog, lobi, dan pemikiran kritis konstruktif, yang dulu diteladankan dengan amat baik dan sempurna oleh para tokoh Indonesia Timur tanggal 18 Agustus 1945 dan berhasil mengubah tujuh kata dalam teks Piagam Jakarta, harus tetap menjadi referensi dan inspirasi bagi kita semua.

Kita mesti menghentikan rasa sesak dan tidak nyaman yang terjadi di dunia maya dan di ruang publik. Narasi­narasi positif yang dimiliki agama-agama seperti kasih sayang, silaturahmi, dan kerukunan perlu lebih dikedepankan dan menjadi bagian dari kosakata kita sehari-hari.

Terminologi ”mayoritas”, ”minoritas”, ”genocide”; ujaran kebencian, kata-kata vulgar, pelecehan, dan ungkapan negatif tentang SARA mestinya kita tinggalkan. Pesan Paulus kepada Jemaat Roma patut kita garis bawahi di hari-hari ke depan. Kekristenan tidak boleh berhenti sebatas terminologi atau institusi nirmakna. Kekristenan harus menjadi komunitas bernas di ruang publik yang mengampuni, mendamaikan, menyejukkan, menggarami, dan menerangi.

Tak ada pilihan lain. Mari wujudkan kekristenan otentik di dunia yang luka dan penuh noda, agar makin banyak orang mengenal Kristus Yesus. Jangan terpenjara oleh Corona!

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God Bless!

MENULIS YANG CERDAS BERNAS BAGI NKRI YANG MAJEMUK

Oleh Weinata Sairin

”Hominem pagina nostra sapit”

Tulisan kita memiliki rasa kemanusiaan kita

Kita bersyukur karena kita diberi kemampuan untuk menulis oleh
Tuhan Yang Maha Esa. Menulis dalam arti biasa sudah kita mulai
sejak kecil: membaca, menulis, dan berhitung (calistung) yang
diajari oleh guru kita dan oleh orangtua kita di rumah. Namun, menulis juga memiliki arti ’mengarang’, menyusun esai atau artikel yang berisi gagasan dan/atau pemikiran kita tentang suatu isu tertentu.

Menulis dalam arti ini adalah bakat/talenta yang tumbuh pada diri
seseorang yang kemudian mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu melalui pelatihan/workshop dan tentu latihan mandiri yang dilakukannya.

Menulis dalam makna pertama ternyata juga tidak terlalu mudah.
Waktu sekolah di SD, pada tahap awal kita diperkenalkan dengan huruf,
lalu kita menghafal abjad dalam lingkup bahasa Indonesia. Baru kemudian kita belajar membaca dan menulis. (Sekarang sejak TK pun sudah diajari membaca dan menulis.) Pada saat itu, dalam pelajaran Menulis, kita diajarkan bagaimana menulis dengan huruf yang bagus dan rapi.

Tatkala ulangan Bahasa Indonesia, khususnya Mengarang, penilaian
berfokus pada aspek ”isi” tulisan itu. Bagi yang menganggap soal tulisan dan kebahasaan itu mudah dan remeh, tentu tak ada masalah.
Sesudah melewati jenjang SD, tentu saja pelajaran Menulis tidak lagi
dialami.

Di jenjang selanjutnya sampai dengan SMA, pada pelajaran Bahasa Indonesia, aktivitas Mengarang harus kita lakukan. Pada saat itu kita menuangkan imajinasi dan gagasan kita dalam bentuk tulisan untuk kemudian diperiksa dan diberi nilai oleh guru.

Patut dicatat bahwa untuk menguji ketepatan kita dalam menulis,
kemampuan ”mendengar” juga menjadi sangat penting. Pada saat saya sekolah di Sekolah Rakyat (SR; setingkat SD sekarang) ada kegiatan tulis-menulis yang bahannya didiktekan oleh guru.

Bapak atau ibu guru membacakan secara perlahan dokumen tertulis dengan aksentuasi dan intonasi sesuai dengan tanda baca, kemudian peserta didik harus mendengarkan dan menuliskan dengan cermat bahan yang didiktekan itu. Biasanya bahan itu sudah tersedia dalam buku Bahasa Indonesia.

Bapak/Ibu guru biasanya memeriksa apakah hal-hal yang didiktekan
tadi telah ditulis dengan tepat oleh kita. Ketepatan menulis dan kecermatan mendengar akan bisa dipantau dengan lebih baik oleh para guru. Akan sangat berbahaya jika ada perbedaan antara apa yang kita dengar dan apa yang kita tulis.

Pada masa kini, terutama kita yang sudah melewati masa-masa SMA,
berbicara tentang ”menulis” berarti berbicara tentang aktivitas seseorang yang memiliki gagagan cerdas, bernas, dan orisinal, yang menuangkannya dalam bentuk tulisan/artikel untuk kemudian dimuat dalam media massa
dan/atau media sosial.

Dalam dunia dan peradaban yang makin maju, kita hidup di tengah
membanjirnya tulisan dalam berbagai wujudnya. Tulisan di media cetak,
buku, dan internet membantu kita memperluas informasi, menambah
keterampilan, dan mengedukasi banyak hal kepada umat manusia. Inilah fungsi penting dari sebuah tulisan.

Hanya, harus disadari bahwa kehausan anak muda merakit bom dan meledakkannya di tempat tertentu, info dan ilmu itu pun mereka peroleh dari tulisan/artikel di internet. Provokasi makar, hasutan untuk melakukan kegiatan destruktif, dan banyak hal negatif lainnya berasal dari tulisan.

Tulisan bisa menampilkan wajah yang multi, yang beragam angle tapi
tetap dalam keduaan, kegandaan: positif dan negatif. Di situlah hakikat
sebuah tulisan baik di koran, buku, maupun internet, medsos, dlsb., selalu mengandung ”dimensi ganda”: ya, positif; ya, negatif.

Pepatah kita menegaskan: ”tulisan kita memiliki rasa kemanusiaan
kita”. Artinya, sesuatu yang kita tulis itu bukan ujaran kebencian, provokator ke arah SARA, penghinaan terhadap agama/aliran agama/lembaga agama, penghujatan terhadap dasar negara, penghinaan kepada negara, atribut negara, pejabat negara, dsb., melainkan tulisan yang menghargai martabat manusia, menghargai dan memajukan HAM, memuliakan manusia sebagai ciptaan Allah, menyadarkan hakikat manusia sebagai ”makhluk yang ditanggungi jawab”.

Mari kita menulis sesuatu yang bermakna bagi peningkatan martabat kemanusiaan, konsistensi terhadap hakikat manusia sebagai khalifah Allah dan imago Dei. Menulislah demi dunia yang lebih ramah dan damai.

Tulislah pikiran-pikiran orisinal yang kita miliki,jangan menjadi plagiat, mengambil tulisan orang dan mengakui sebagai tulisan kita.

Jadilah penulis yang beretika, bermartabat dengan menyampaikan gagasan brilian dan bernas,bukan menghujat atau menghakimi pihak lain. Menulislah demi memperkuat NKRI yang majemuk.

Selamat Berjuang,God Bless!