Kecil Berdampak Besar

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 2 Raja-raja 5:2-3

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

2 Raja-Raja 5:2-3

Saudaraku, dalam sebuah drama atau pertunjukan film, semua aktor dan aktris yang tampil pasti punya peran. Sekecil apapun. Juga sesederhana apapun. Kehadirannya memainkan adegan tertentu.

Ada pemeran utama, tetapi juga ada pemeran figuran. Jelas, orang sangat menaruh perhatian pada pemeran utamanya. Sebab, dia akan banyak tampil. Sekaligus peranannya sangat menonjol. Beda dengan pemeran figuran. Perannya kelihatan kurang penting. Bahkan seolah-olah bersifat pelengkap saja.

Saudaraku, meminjam istilah dalam drama atau film. Maka dalam kisah penyembuhan Naaman dari penyakit kustanya, tentu pemeran utama adalah Elisa. Dia seorang nabi. Dia yang meminta Naaman agar mau mandi di sungai. Yang kemudian, setelah membersihkan diri sungguh terjadi mukjizat. Naaman bebas dari penyakit kustanya.

Jelas, posisi nabi Elisa sangat berperan. Ia menuntun sang panglima terbebas dari pergumulan fisik dan batinnya. Selain dia, tentu Naaman sendiri. Naaman adalah panglima militer. Orang penting. Jabatannya strategis. Namun, perannya terganggu. Ia terkena penyakit kusta. Penyakit paling menakutkan dan belum ada obatnya.

Naaman sekian lama ia menanggung derita sakit kusta itu. Sakit kusta jelas membuatnya menderita. Bukan cuma fisik, tapi batinnya. Panglima dituntut bertemu dengan raja dan banyak orang penting. Namun, penyakit kustanya menghambat. Ia malu. Ya, siapa yang tidak menghindar bertemu dengan orang yang terkena penyakit kusta? Walau, tidak terbuka, secara diam-diam banyak orang menghindari berhubungan dengannya. Semua takut tertular.

Dua nama itu, nabi Elisa dan Naaman jelas adalah pemeran utama. Nah, siapa figurannya? Seorang gadis Israel. Namanya pun tidak disebut. Anonim. Ia yang memberi informasi awal. Dia yang memberi tahu ada seorang nabi Allah yang bisa menyembuhkan dan menolongnya.

Saudaraku, itu saja perannya. Ia pemberi informasi. Perannya sebagai informan. Sederhana. Tapi, jangan sebut perannya cuma pemberi informasi. Itu bukan peran sepele. Sebab, informasi itulah menjadi pembuka jalan. Ya, dengan informasinya, Naaman lalu mengenal nabi Elisa. Bahkan lebih dari itu. Naaman setelah sembuh dapat mengatakan, ”Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.” Sebuah pengakuan yang jujur dan otentik.

Saudaraku. Kecil sumbangsih si gadis itu. Tapi, dari tindakan kecil dan sederhana itulah peristiwa besar buat seseorang terjadi. Baiklah, kita mungkin bukan sebagai pemeran utama dalam sebuah peristiwa atau kejadian tertentu. Namun, kecil dan sesederhana apapun yang kita lakukan, jika Tuhan pakai. Maka hal sederhana dan kecil itu menjadi berkat besar bagi seseorang.

Dengan demikian, Tuhan tidak menyepelekan hal yang kita telah lakukan. Dan kita pun, jangan menyepelekan atau melupakan tindakan orang lain yang di mata manusia tergolong sederhana. Kecil. Seolah-olah tidak fantastis. Ternyata, Tuhan bisa memakainya sebagai berkat besar buat orang lain atau kita. Atau apa yang kita lakukan buat orang lain, sekecil dan sesederhana apapun bisa berarti banyak buat orang lain.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami hidup tetap bersyukur dalam segala perubahan suasana kehidupan. Dan mensyukuri tindakan sekecil apapun. Karena Engkau mampu memakainya menjadi peristiwa besar.

Kami berdoa buat saudara kami yang sakit. Baik yang dirawat di rumah maupun masih perlu penanganan dokter. Kami memohon kepada-Mu, Tuhan agar mereka pulih kembali.

Kami ingat di akhir pekan ini, Tuhan tetap memberi kekuatan dan kesabaran bagi yang mempunyai pergumulan atau kesulitan hidup yang berat. Engkau yang memberi nafas kehidupan buat mereka semua. Semoga mereka juga tetap membuat mereka mampu berbahagia hari ini. Demikian pun mereka tetap mampu membahagiakan orang-orang yang mereka cintai. Anugerahkan kesehatan, kesejahteraan dan suka cita dalam kehidupan mereka.

Tuhan, semoga akhir pekan ini, kami bisa menikmati hari baru dengan tetap mencintai Saudara, ayah-ibu, keluarga dan sesama. Kami dapat menjalani aktivitas yang bermanfaat. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Jangan Tunggu Nanti

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 1 Raja-raja 17:9

Sejak Senin, kasih Tuhan tetap setia menemani. Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Kita bersyukur pagi ini kepada Tuhan.

Kita akan merefleksikan firman Tuhan untuk pagi ini, ”Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

1 Raja-raja 17:9

Saudaraku, tentu kita pernah mendengar nasihat, atau jangan-jangan kita pun pernah mengutarakannya, ”kiranya yang kuat menolong yang lemah. Yang kaya mengulurkan tangan kepada mereka yang miskin”. Nasihat bijak agar tumbuh sikap kerpedulian. Ya, yang kuat jangan menutup mata atas kesusahan yang dihadapi yang lemah. Yang miskin jangan tercecer tanpa topangan orang yang secara finansial kuat. Peduli dan berbagi merupakan praktik ideal yang patut diwujudkan.

Meskipun demikian, nasihat demikian patut dihindari dari kesalah mengertian. seolah-olah kita baru membantu bila telah kuat lebih dahulu. Tafsir seperti itu, berarti kita akan membantu yang lemah, ya, tapi nanti setelah kita kaya. Sesudah kita maju baru kita membantu. “nanti bila saya sudah kaya. Itulah saatnya tiba saya mengulurkan pertolongan”.

Saudaraku, pola pikir demikian tentu berbeda dengan teks bacaan kita. Sayangnya, praktik itulah yang kerap terjadi. Seseorang enggan berbagi atau berperan serta meringankan kesulitan Sesama lain, memakai alasannya tadi. Kami kecil. Kami belum mapan dari aspek kekayaan. Nantilah! Atau juga, dengan dalih lebih yang bernada tajam, “saya saja masih susah, masa sih saya musti bantu. gak salah, tuh !

Sudah janda, miskin lagi. Suatu kombinasi yang menunjukkan perempuan yang ditemui nabi Elia ini orang kecil dan lemah. Status janda waktu itu menunjukkan posisi sosial rendah. Sedangkan miskin menandakan secara ekonomi perlu bantuan. Jelas, perempuan itu tipe orang yang membutuhkan pertolongan. Dia wujud konkrit orang susah. Masa depannya buram.

Tapi, apa yang kita lihat? Ke perempuan itulah nabi Elia diarahkan Tuhan untuk mendapatkan makanan. Ke sang janda dan miskin itu, Allah memerintahkan Elia mencari pertolongan. Bukan tidak mungkin terbersit kesangsian pada diri nabi Allah itu, “apakah tidak salah Allah menyuruh ke sana?” Apa yang bisa didapatkan dari orang yang kondisinya sendiri justru dirinya sendiri musti dibantu. Perempuan itu tidak layak dimintai, yang pantas ia yang diberi.

Saudaraku, janda dan miskin. Hidup perempuan itu pasti berat. Pertanyaan apakah besok bisa makan, adalah pertanyaan utama dalam sosok perempuan seperti itu. Dan, lihatlah, saat nabi Elia meminta makan kepadanya. Tidak ada sepotong roti pun. Tersedia cuma segenggam tepung, minyak dan kayu untuk mengolahnya. Setelah jadi roti hanya untuk sekali makan, setelah itu mereka akan kelaparan. Persediaan untuk penyambung hidup sekali makan saja. Tak lebih dari itu. Sepotong roti yang jadi satu-satunya konsumsi untuk anaknya hari itu. Esok, adalah hari ketidak jelasan.

Saudaraku. Suatu gambaran kemiskinan ekstrim. Bisa jadi, nabi Elia bergumul batinnya saat meminta makan. Sebab, dengan meminta roti itu, ia sama dengan merampas sumber hidup satu-satunya milik janda itu. Bahkan, roti itu pun buat anaknya. Begitu pula, sang janda miskin, ia pasti bergumul hebat pula. Batinnya terombang-ambing. Jika memberikan tepung roti itu, lalu bagaimana dengan dirinya dan anaknya? Dalam kekurangan harus memberi, bagaimanapun sungguh merupakan momen pergumulan.

Saudaraku, kita tahu akhir kisah ini. Si janda miskin bisa keluar dari pergumulan. Ia yakin dengan ucapan nabi Elia bahwa apabila bermurah hati memberikan tepung roti itu, Tuhan akan membuat persediaan makanan yang tak akan habis. Ia percaya dan patuh atas janji Tuhan lewat suara seorang nabi.

Janda miskin itu lolos dari dilema. Ia memilih memberi di tengah ketidak berdayaan. Ia membantu, pada saat dirinya sendiri pada posisi pihak yang musti dibantu. Almarhum Bunda Theresa menyatakan, “ jika mengasihi, mengasihilah sampai terluka”. Artinya memberi yang sungguh-sungguh penuh pengorban. Janda miskin itu memberi kita contoh nyata. Janda miskin itu memberi bukan dari kelebihan tapi dari kekurangan.

Hari ini, posisi kita di mana? Jika kita sekarang adalah orang yang kuat secara sosial dan ekonomi. Ulurkan tangan untuk mereka yang lapar dan haus. Kekuatan kita menjadi kekuatan yang memberdayakan pihak yang butuh bantuan. Jika saat ini, kita belum maju dan kuat, ternyata firman Tuhan mengetuk kita, bahwa kita pun harus berbuat terhadap mereka yang amat membutuhkan. Jangan tunggu nanti, tatkala Allah meminta kita untuk peduli dan berbagi. Jangan menunggu kaya lebih dulu. Mapan lebih dulu. Saat di depan mata kita hadir sosok yang betul-betul tiada berdaya. Ingatlah janda Sarfat. Teladani sikap dan perbuatannya. Kelak Tuhan juga tidak akan membuat kita kekurangan.

Kita berdoa, “Tuhan, berilah kami hati yang mau peduli atas mereka yang menghampiri untuk dibantu.” Amin

Diingat Dan Dikenang

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Markus 14:9

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan seluruh Saudaraku yang baik. Hari baru telah tiba. Dan firman Tuhan menyatakan bahwa kasih Tuhan selalu baru setiap pagi. Berarti saat sekarang kita memasuki pagi baru, kita pun mengecap kasih yang baru itu. Puji Tuhan.

Firman Tuhan menyatakan, ”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”

Markus 14:9

Saudaraku, bila kita diminta mengingat seseorang, pasti segera yang terbayang selain sosok fisiknya namun juga perangai dan tindakannya. Taruhlah sebagai contoh, kita semua membayangkan sosok Jokowi, presiden kita. Segera imajinasi kita memunculkan sebuah sosok ramping, rambut lurus, dan senang memakai kemeja putih dan sepatu skets. Itu sosok fisiknya. Pada saat bersamaan, kita membayangkan nama ini senang meladeni rakyat yang ingin berselfi. Selain itu, muncul pula bayangan kepribadiannya yang suka bekerja keras, tidak menyerang pribadi musuh politiknya, dan menjalani hidup pribadi dan keluarga secara sederhana.

Itulah, yang namanya mengingat seseorang. Sosok fisik dan kepribadian akan muncul di kepala kita. Sekarang, Anda dan saya ingin diingat atau kelak ingin dikenang seperti apa dalam memori orang lain? Anak-anak kita akan menyimpan bayangan apa dalam pikirannya jika Anda sebagai ibu atau ayahnya. Atau orang lain akan mengingat Anda seperti apa sebagai karyawan, sebagai warga jemaat, sebagai anggota masyarakat, sebagai sahabat, dsb.

Tentu, sangat ditentukan oleh apa telah yang kita lakukan. Perbuatan kita itulah yang kelak terekam dalam kepala atau memori di kepala anak-anak kita, tetangga kita, dan saudara-saudara kita atsu teman-temab kita. Jika kita suka rewel, pasti yang ada dalam benak orang lain, tingkah kerewelan kita. Bila sebagai anggota majelis, kita adalah seorang yang setia dalam ibadah dan tugas pelayanan. Itu juga yang muncul dalam benak orang lain.

Saudaraku, sungguh luar biasa tindakan seorang perempuan kepada Tuhan Yesus dalam firman pagi ini. Perempuan ini membasuh kaki Yesus, bukan dengan air biasa seperti lazimnya. Melainkan minyak narwastu murni yang mahal dipakai perempuan itu untuk membersihkan kaki Yesus.

Buat salah seorang murid Yesus, memunculkan komentar bahwa tindakan itu berlebihan. Tidak efisien. Di matanya cuma menghambur-hamburkan dana saja. Sebab, nilai ekonomis minyak itu bisa berharga jutaan rupiah jika dihitung dengan rupiah saat ini. Boros, karena hanya dipakai membasuh satu kali saja, dan setelah itu kaki Yesus akan kotor dan berdebu lagi. Karena itu, sang murid yang bernama Yudas itu berkeberatan bahkan gusar. Bukankah lebih baik dipakai untuk menyantuni orang miskin.

Lain dalam pandangan Yudas, lain pula penilaian di mata Tuhan Yesus. Di mata Tuhan Yesus, perbuatan demikian bukan kategori pemborosan. Itu ungkapan cinta kasih. Cinta kasih itu tidak hitungan. Perempuan itu mau menempatkan Tuhan Yesus sosok istimewa di hatinya. Maka harta yang paling istimewa pula yang harus diberikannya buat Yesus. Rasa cinta kasihnya yang menjadi motif utama, mengapa perempuan itu mau menghabiskan biaya yang mahal demi membasuh kaki Yesus. Sekali lagi bukan pemborosan. Besarnya nilai ekonomi mencerminkan betapa besar cinta kasihnya atas Tuhan Yesus.

Saudara pasti tahu, ada bangunan yang bernama Taj Mahal di India. Bangunan yang terbuat dari marmer dengan ukuran bangunan besar sekali. Bangunan yang indah dan menakjubkan. Tamu-tamu kenegaraan pemerintah India dan selebritis dunia berusaha menyempatkan mengunjungi bangunan megah nan indah itu.

Dibangun oleh seorang kaisar bernama Shah Jahan. Ia membangunnya sebagai tanda kasih kepada istri favoritnya, Mumtaz Mahal. Boros? Berlebihan? Bisa saja ada yang berkomentar boros dan berlebihan. Tapi, di mata sang kaisar itukah tanda nyata dan ungkapan cinta buat istrinya. Di mata kaisar Shah Jahan kemegahan Taj Mahal sangat setimpal dengan rasa cintanya buat istrinya.

Saudaraku, perempuan yang membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu mahal itu akan selalu diingat, dikenang dan dijadikan contoh. Bahwa kekuatan cinta akan memampukan seseorang memberi kepada pihak yang dianggap istimewa sebuah perbuatan istimewa pula. Perempuan itu akan abadi diingat dan dikenang selama firman Tuhan diberitakan. Ingatan dan kenangan atas tindakannya yang mengagumkan buat Tuhan Yesus.

Kini. Sebagai anak, apa yang akan diingat orang tua atas diri Anda? Sebagai mbah, apa yang akan diingat para cucu atas Anda? Sebagai ayah atau ibu, gambaran seperti apa yang akan dilihat anak kita? Sebagai pelayan Tuhan, apa yang akan diingat warga jemaat atas kita?

Saya berharap, kita akan diingat dan dikenang dengan gambaran indah dan manis. Sebagai anak, kita diingat sebagai sosok yang perduli dan hormat kepada orang tua. Sebagai ibu, diingat selaku figur yang suka memberi pelukan hangat buat anak-anak yang tengah limbung oleh masalah. Sebagai pelayan, kita dikenang selaku sosok yang diingat dengan suara ramah dan tanggap atas kebutuhan Jemaat dan masyarakat. Pendeknya, bayangan manis dan indah tentang kita ada dalam benak orang lain.

Kita berdoa, “ Tuhan, biarlah dengan ucapan dan perbuatan kami, Engkau dan sesama kami mempunyai ingatan yang indah atas kami.”

Kami pun berdoa agar aktivitas kami di hari Kamis ini berkenan di hadapan-Mu dan sesama kami. Sekaligus memberi manfaat positif bagi diri kami sendiri, keluarga kami, jemaat kami dan kehidupan sosial kami. Semoga saat belajar di rumah, tempat kerja dan urusan2 lain, Tuhan memberikan kami perlindungan dan keselamatan. Demi Kristus, kami berdoa. Amin.

Hadir Dan Berkontribusi

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Daniel 2:3

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, paru- paru kita masih bernafas, indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, kita masih dipercaya Allah melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan kita hari ini, ”Kata raja kepada mereka: “Aku bermimpi, dan hatiku gelisah, karena ingin mengetahui mimpi itu.”

Daniel 2:3

Saudaraku, mimpi apa semalam? Mimpi indah atau buruk? Bagaimanapun, setiap orang pasti saat tidur suka mengalami mimpi. Tidak mungkin ada orang yang tidak pernah bermimpi. Apa itu mimpi sebenarnya? Ada yang bilang mimpi itu bunga tidur. Artinya sesuatu yang membuat tidur menyenangkan. Lebih ilmiah menyatakan, mimpi itu proyeksi dari realitas yang ada di alam bawah sadar kita. Ketika kita terjaga dia tidak muncul. Saat tidur, saat itulah realitas itu keluar lewat mimpi kita.

Dalam Alkitab mimpi itu tidak semata-mata bunga tidur. Ingat Yusuf yang menerjemahkan mimpi Firaun? Kini, Daniel, yang diminta raja Nebukadnezar menerjemahkan mimpinya. Bagi mereka mimpi mengandung pesan bahwa akan terjadi sesuatu dalam dunia nyata. Mengetahui pesan mimpi akan memampukan mereka menyikapi realitas secara tepat. Sebaliknya, jika mimpi itu tidak terpecahkan isi pesannya. Maka, pihak yang bermimpi tidak bisa menyikapi kenyataan yang akan muncul.

Jika mimpi Firaun tidak bisa dipecahkan isi pesannya oleh Yusuf. Pastilah, mereka tidak tahu bahwa negeri Mesir akan mengalami 7 tahun masa kemakmuran dan kemudian berganti 7 tahun masa paceklik panjang. Tanpa mengetahui pesan mimpi itu, niscaya ketika makmur orang Mesir akan berfoya-foya. Menghabiskannya tanpa perhitungan. Mereka tidak tahu bahwa kemudian terjadi paceklik hebat. Dan saat masa paceklik tiba pasti mereka akan tidak siap. Akibatnya mereka bisa mengalami kelaparan besar dan bukan mustahil banyak rakyat yang mati. Karena kemampuan memecahkan mimpi itulah, Yusuf dianggap sangat berjasa. Membantu raja mampu menyikapi kejadian secara tepat.

Saudaraku, raja Nebukadnezar gelisah. Tidak ada satu pun orang bijaksana yang mampu memecahkan mimpi. Mereka kesulitan mengartikan mimpi rajanya. Tanpa mengetahui pesan mimpi, raja merasa buta dan tidak siap jika ada kejadian penting yang harus dihadapi. Pemecahan isi mimpi menjadi kunci raja bisa menyikapi kejadian yang muncul.

Hal tersebut menimbulkan kegelisahan hati raja Nebukadnezar. Saking gelisahnya, raja memberi ultimatum. Barang siapa tidak ada orang menguak isi pesan mimpinya, semua orang bijaksana akan dibunuh. Seolah-olah mereka sudah tidak berguna.

Di tengah kegelisahan dan kepanikan itulah tampil Daniel. Ia mampu secara detail menerjemahkan arti mimpi raja. Isi singkatnya, bahwa ada kerajaan-kerajaan di sekitar Babel yang meskipun tidak sebesar kekuasaan dan sekaya Nebukadnezar akan muncul. Kerajaan-kerajaan itu kelak merongrong keberadaannya. Mereka ancaman laten atau tersembunyi atas kekuatan raja Babel. Jadi, raja harus mewaspadai ancaman itu.

Saudaraku, karena pertolongan Tuhan, maka Daniel memecahkan mimpi raja. Raja merasa tenang. Selanjutnya karena merasa senang, raja memberikan posisi jabatan lebih baik dan lebih besar. Tidak hanya buat Daniel, tapi juga buat Sadrach, Mesakh dan Abednego (SMA).

Di sini kita belajar, kita selaku orang yang beriman yang mempunyai kelebihan atau talenta dari Tuhan amat dibutuhkan bagi bangsa di mana kita hidup. Nebukadnezar tahu, Daniel menyembah Allah Istael. Tapi, karena bisa menyumbangkan talentanya, Daniel akhirnya mendapat tempat terhormat. Saudaraku, apapun talenta kita. Sebesar apapun potensi kita. Tidak akan percuma jika bisa bermanfaat bagi masyarakat. Dan bukan mustahil, karena sumbangsih talenta dan potensi itu, kita pun mendapat respek dari masyarakat. Terlebih di saat-saat bangsa sedang membutuhkan peranan kita.

Kini. Bangsa kita tengah berjuang melawan covid-19, yang tak kunjung selesai. Seorang murid dalam bahasa Inggris disciple. Sedangkan kepatuhan kita menyebutnya disiplin. Konon, itu juga berasal dari kata yang sama disciple. Mari kita wujudkan disiplin kita sebagai murid Tuhan, agar kita berperan memutus rantai persebaran virus jahat itu. Tuhan menguatkan kita.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami tidak mengasingkan diri hidup di tengah masyarakat. Tetapi bisa hadir dan berkontribusi bagi kebaikan masyarakat dan bangsa kami.”

Tuhan, mampukan kami beserta orang-orang yang kami cintai, menjalani hari baru bersama kasih-Mu. Lindungilah seisi rumah kami dan berkati aktivitas kami. Kiranya langkah kami senantiasa dalam lindungan-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Ungkap Dengan Murni

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Amsal 28:23

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan.

Firman Tuhan pagi ini, “Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.”

Amsal 28:23

Saudaraku, ada dua jenis ungkapan komentar atas kita, yaitu kritik dan pujian. Di dalam sebuah kritik ada unsur yang menyingkapkan kekurangan kita. Sedangkan pujian mengungkapkan kelebihan kita. Ketika mendengar kritik kebanyakan orang tidak siap. Seolah-olah ditafsirkan ‘menelanjangi’ kelemahan seseorang dan ingin mempermalukannya. Sementara itu pujian, dimaknai sebagai bentuk ungkapan penghargaan. Pujian ditempatkan sebuah ungkapan pengakuan atas nilai positif pada diri kita.

Penempatan kritik seperti itu, tentu akhirnya orang tidak suka kepada seseorang yang mengajukan kritik. Orang yang mengkritik disamakan mau menyerang dan menjatuhkan orang lain. Sebaliknya, pujian lebih diterima. Membuat relasi antar manusia menjadi lebih hangat. Apalagi, pada dasarnya setiap orang suka pujian. Taruhlah contoh sederhana. Anda pergi ke tempat pesta dengan busana batik. Lalu di sana bertemu seseorang yang mengomentari, “wah, batiknya cerah sekali. Ibu kelihatan lebih cantik.” Spontan, pasti pujian itu meresap ke hati dan membuahkan rasa suka cita.

Saudaraku, kritik dalam bahasa lain itu teguran. Menyatakan kekurangan sesuatu sambil mengarahkan ke arah yang benar. Dalam firman Tuhan justru orang yang menegur akan makin disayangi. Padahal, tadi saya utarakan banyak orang tidak suka ditegur. Sebab, teguran dimengerti sebagai bentuk membuka kelemahan orang lain.

Mari kita mendudukan teguran atau kritik secara pas dan tepat. Saya ambil ilustrasi simpel. Jika Anda mengritik atau menegur orang yang malas, misalnya. Tentu, kita akan membeberkan akibat buruk kemalasan. Lupa masa depan, lupa waktu bahkan menyia-nyiakan waktu berharga pemberian Tuhan. Lalu, kita katakan orang malas itu jelek kepada orang itu. merugikan. Bisa jadi, awalnya buat si pemalas teguran itu bukan yang diharapkan.

Tapi, teguran itu apalagi terus-menerus tanpa lelah dilakukan, sehingga suatu saat sang pemalas itu sadar. Terlebih sadar sebelum yang terburuk terjadi. Niscayalah, orang yang melakukan teguran pada awalnya dinilai suka ikut campur urusan orang lain. Pastilah, sang mantan pemalas itu berbalik sikapnya. Justru ia akan sangat berterima kasih atas tegurannya. Tegurannya menyelamatkan masa depannya. Dan, selanjutnya orang yang menegur bukan dibenci tapi dikasihi.

Teguran itu menyelamatkan seseorang dari arah hidup yang bisa menghancurkan dirinya. Teguran itu pahit di awal, namun manis di penghujungnya. Ingat Tuhan Yesus banyak melakukan teguran. Itu semua demi perbaikan dan niat mulia.

Kini, perihal pujian. Pujian tentu menyenangkan. Konon, setiap manusia senang dipuji. Tak heran sebuah ungkapan pujian membuat hati gembira. Pujian bisa membuat relasi antara yang memuji dan dipuji menjadi makin baik. Tapi, harus diingat. Itu bila pujian yang tulus. Murni mengungkapkan kelebihan orang lain dan mengapresiasinya.

Sayangnya, ada jenis pujian yang bagaikan racun. Awalnya menyenangkan, kemudian cepat atau lambat bisa membinasakan jiwa seseorang. Yaitu menjilat. Pujian menjilat itu sebuah pujian tapi tidak tulus. Ada maksud terselubung. Biasanya maksud yang buruk. Ada ungkapan ABS, asal bapak senang. Itu kalau anak buah menjilat pimpinannya. Orang yang menjilat adalah orang penuh kebohongan. Hal jelek disebut bagus. Hal yang kurang dimanipulasi menjadi hal hebat. Jilatan memang bisa menyenangkan orang.

Anda bisa bayangkan rasa senang seorang berusia 70 tahun, lalu dipuji dengan ucapan, ”wajah Anda sama seperti umur 40 tahun. Masih segar, seperti Ade Rai. Jalan masih sigap. Hebat, ya”. Itu pasti jilatan jika faktanya, orang yang dipuji itu wajahnya sudah penuh kerutan, jalan sudah tertatih-tatih. Saya yakin orang yang dipuji seperti itu langsung merasa melayang, senang. Sayangnya itu pujian bersifat menjilat. Sangat tidak etis.

Saudara, kritik atau teguran memang kadang tidak menyenangkan. Tapi itu bagaikan obat, pahit yang menyehatkan. Kritik membantu kita tahu sikap yang tepat dan arah hidup yang benar. Jadi, jika dalam sebuah kotbah Anda merasa dikritik, terimalah dengan lapang dada. Sebab itu sedang menyehatkan tubuh dan jiwa Anda. Karena kritik bersifat membangun. Hanya patut diingat, kritik atau teguran bukan kecaman. Kecaman hanya melihat kekurangan orang dengan niat menjatuhkan.

Demikian juga, Anda dan saya jangan cepat senang dan bangga saat mendapat pujian. Kita harus waspada, apakah itu pujian murni atau ungkapan orang yang mau menjilat. Menjilat terdengar menyenangkan, padahal ke depan bisa mencelakakan kita. Menjilat itu bungkus luarnya menyenangkan, namun isinya membahayakan jiwa dan mental kita. Apalagi disertai motif mencari keuntungan.

Karena itu juga, jika kita memuji seseorang, itu tentu hal bagus. Tapi, hati-hati jangan menjilat. Karena ada unsur kebohongan, dan orang lain bisa terantuk jatuh oleh pujian yang bersifat menjilat. Kasih yang sejati adalah setiap kata yang keluar niatnya selalu baik dan dilakukan tidak mencelakakan orang lain. Tuhan menolong kita mengungkapkan hal secara benar, jujur dan murni.

Mari kita berdoa, Tuhan, tanamkan dalam lidah kami kemauan menegur orang lain daripada menjilat orang lain yang menyebabkannya terjatuh.

Tuhan, perkenankan kami mensyukuri kebaikan kasih-Mu yang ajaib. Terutama hari ini Tuhan memberi pertolongan dan keselamatan dalam aktivitas kami.

Tuhan, kami ingin berjalan terus bersama-Mu. Peganglah tangan kami di sepanjang perjalanan kami hari ini. Yang sakit dipulihkan. Yang sehat tetap terjaga kesehatannya. Doa ini, kami mohon dalam Kristus Tuhan kami. Amin.