BERDOA DI DEPAN PUBLIK DALAM SPIRIT PANCASILA

Oleh Weinata Sairin

Kita semua sebagai warga bangsa sepakat bahwa Pancasila harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai aspek.

Ada sebuah contoh praktis bagaimana melaksanakan Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Doa di level manapun di depan publik sebaiknya dimulai dgn kata-kata “saya berdoa sesuai dgn agama saya (misal: Islam atau Kristen atau Hindu), saudara-saudara yang hadir mohon berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing”.

Dengan cara itu maka kita,pemimpin Doa, menghargai setiap agama dan kepercayaan yang dianut warga bangsa, yang hadir dalam pertemuan itu. Spirit Pancasila adalah spirit yang mengapresiasi agama-agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bukan spirit yang menafikan/meniadakan dan atau tidak menghormati agama lain. Oleh karena itu tatkala kita berdoa di depan publik di level manapun (instansi pemerintah,swasta, DPR, MPR, DPD, di Pusat atau Daerah) ingatlah selalu bahwa publik yang kita hadapi tidak semua seagama dengan kita.

Doa yang dipimpin oleh Prof Nasaruddin Umar-Imam Besar Masjid Istiqlal, misalnya, pada acara Debat Capres yang lalu, sangat bagus sekali karena berada dalam spirit Pancasila. Beliau menyatakan akan memimpin doa secara agama Islam, dan saudara-saudara yang lain dipersilakan berdoa menurut agamanya masing-masing Doa para pejabat pemerintah pada hari-hari raya nasional sangat baik jika berpola seperti yang diteladankan dengan baik oleh Prof Nasaruddin Umar. Dengan cara itu kita telah mengimplementasikan Pancasila dengan konsisten.

Mari kita laksanakan Pancasila secara kontinyu dan konsisten dalam kehidupan praktis, dan tidak berhenti pada seremoni dan selebrasi!
Jika kita sendiri sebagai bangsa Indonesia tidak bangga kepada Pancasila, dan tidak konsisten melaksanakan Pancasila, apa kata dunia?

Jakarta, di semarak HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan RI.


Merdeka Adalah Modal Hidup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Bilangan 14:3

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Di awal hari ini, kita bersyukur kepada Tuhan saat bangun dari tidur. Pada tanggal inilah, bangsa kita merdeka dari penjajahan. Dan kita sejauh ini, kita menghirup kemerdekaan karunia Tuhan ini.

Firman yang menjadi pijakan refleksi: ”Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?”

Bilangan 14:3

Saudaraku, orang bisa mengambil penilaian dan kesimpulan berbeda, walaupun sama-sama berangkat dari melihat kenyataan yang sama. Ambillah contoh, hal ulang tahun. Ada yang mengatakan, “aduh, sayang sekali. Umur saya di dunia ini berkurang satu tahun”. Tentu ungkapan itu bernada menyesalkan. Wajah bisa murung tatkala ungkapan ini dinyatakan. Sebaliknya ada banyak yang mengatakan ”Puji Tuhan. Dia menambahkan usia saya”. Tentu, nada ungkapannya bersifat gembira.

Pengalaman demikian, mirip yang dialami 12 orang yang diutus Musa. Mereka mendapat tugas melihat, mempelajari, mengumpulkan informasi dan memberi gambaran tanah perjanjian. Musa memerlukan informasi selengkap mungkin. Sebab, dengan memiliki informasi mengenai keadaan tanah perjanjian akan membantu Musa. Musa akan terbantu untuk mengambil keputusan yang tepat.

Rupanya berkaitan dengan informasi dan gambaran mengenai tanah perjanjian itu, 12 orang terbelah dua. Ada dua versi yang muncul. Kubu atau kelompok pertama, menyatakan tanah itu benar berlimpah susu dan madu. Dan dihuni orang-orang yang secara fisik kuat. Kelompok ini hanya berjumlah 2 orang. Memberi gambaran utuh. Laporannya ada aspek yang menggembirakan. Sekaligus membeberkan tantangan tidak ringan yang musti dihadapi.

Sedangkan kelompok kedua, menggambarkan serba buruknya tanah perjanjian itu. Menurut mereka penghuni tanah itu adalah manusia raksasa. Secara fisik mereka lebih kuat. Tinggi-tinggi. Demikian juga, suka makan manusia penduduknya. Artinya kanibal. Sedangkan menggambarkan dirinya seperti belalang. Mangsa yang empuk buat mereka. Yang menyatakan informasi seperti itu ada 10 orang.

Lihat. Realitas yang dilihat sama. Namun penggambaran dan penilaian berbeda. Yang satu optimis dengan laporannya. Sedangkan yang 10 orang laporannya menakut-nakuti bernada pesimis. Mereka sudah putus asa lebih dulu.

Ternyata informasi yang kedua, yang bernada pesimis telah menggiring suasana emosi umat Israel. Opini terbentuk bahwa mereka akan mati di negeri itu. Segera umat panik dan protes. Mereka menuntut kembali ke Mesir, tidak apa- apa jadi budak lagi. Suasana gaduh dan tidak puas meletup dari bibir umat Israel. Malah ada yang membandingkan hidup di Mesir jauh lebih baik. Walau waktu di sana status mereka sebagai budak. Di mata mereka kebebasan dari Mesir keliru. Sebab, di Mesir hidup mereka jauh lebih baik. Kepemimpinan Musa dan Harun digugat. Kedua tokoh besar yang membawa kemerdekaan itu disalahkan.

Saudaraku. Umat Israel salah memahami. Seolah-olah jika masuk ke negeri perjanjian dan terlepas dari belenggu penguasa Mesir, hidup langsung mulus. Tidak ada persoalan lagi. Tidak heran laporan 10 pengintai bagaikan siraman bensin atas semak-semak yang mudah terbakar. Langsung laporan 10 orang yang bernada pesimis itu yang mereka jadikan pegangan. Mereka tidak menggubris laporan yang bernada optimis.

Jelas, sudah. Baik yang 2 orang maupun kelompok yang 10 orang sama melihat dan memperoleh informasi yang sama-sama mereka lihat. Tapi penilaian dan penyikapannya berbeda. Dan umat Tuhan lebih percaya dan terpengaruh oleh laporan versi 10 pengintai.

Saudaraku. Kita sudah merdeka. Namun, bukan berarti tidak ada lagi pekerjaan rumah. Masih ada, bahkan banyak. 75 tahun merdeka, orang miskin masih tinggi jumlahnya. 75 tahun merdeka, masih ada kelompok yang tidak menghargai umat lain, yang sama-sama warga negara yang sah. Sehingga masih ada kejadian kelompok yang menghalangi kebebasan beragama. Bangsa kita dikenal sangat agamis, tapi 75 tahun merdeka tingkat korupsi masih tinggi. Dan banyak lagi pekerjaan rumah.

Belajar dari Kaleb, yang punya sikap optimis. Bahwa merdeka itu menjadi modal hidup lebih baik ke depan. Tantangan bukan berarti tidak ada lagi. Ada. Tetap banyak. Hanya jika tidak merdeka suasananya lebih buruk lagi. Dan kita pun telah mengecap banyak hal baik dan kemajuan dari hasil kemerdekaan. Bahkan bersama Tuhan yang mengaruniakan kita kemerdekaan, kita yakin kesulitan dan tantangan bangsa kelak teratasi.

Kita berdoa: Tuhan dengan rasa terima kasih dan syukur, kami bergembira menikmati kemerdekaan. Ajarkah kami agar kemderkaan ini, membantu kami tidak berkecil hati, melainkan tetap optimis.

Doa-doa kami ini, kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

DIRGAHAYU KE-75 RI. MERDEKA!

KEMERDEKAAN YANG MEMERDEKAKAN

Oleh Weinata Sairin

Ya Allah, ya Tuhan kami
Di hari kemerdekaan negeri kami
Kami memohon kepada-MU ya Allah
Ilhamilah kami untuk menyadari dan mensyukuri
Dengan benar rahmat agung anugerah-Mu
Nikmat kemerdekaan kami.

Berilah kepada kami dan pemimpin-pemimpin kami
Kecerdasan memahami arti kemerdekaan yang benar
Berpuluh tahun kami dijajah oleh kebodohan kami
Berpuluh tahun kami dijajah oleh bangsa asing
dan bangsa sendiri

Dan kini setelah merasa merdeka kami mulai dijajah
Oleh nafsu dan kedengkian kami sendiri
Ya Allah, ya Tuhan kami
Jajahlah kami, jajahlah kami oleh-Mu sendiri
Merdekakanlah kami
Jangan biarkan selain-MU, termasuk diri-diri kami
Ikut menjajah kami….

(Petikan dari “Doa Kemerdekaan”, Mustofa Bisri)

Kemerdekaan, kebebasan , kondisi tidak terbelenggu dan tidak terpenjara, siapa yang tidak merindukannya? Semua orang, siapapun dia, begitu menginginkannya. Oleh sebab itu, kemerdekaan diperjuangankan, bahkan hingga titik darah penghabisan. Peringatan hari kemerdekaan selalu disambut dengan sukacita. Di era non Corona, HUT Proklamasi diramaikan dengan pembacaan puisi, lomba panjat pinang, ada upacara, ada remisi, ada layar tancap di kampung-kampung, ada merah-putih tertancap di depan rumah; ya, ada seberkas sukacita yang diekspresikan oleh setiap warga bangsa.

Namun, setiap kali kemerdekaan ini datang menjamah sejarah, seberkas tanya selalu mengemuka: Apakah kita sebagai bangsa sudah benar-benar merdeka? Apakah tiap-tiap warga negara sudah mengenyam makna kemerdekaan?
Mustofa Bisri dalam puisinya “Doa Kemerdekaan” yang sebagian dikutip di atas menyatakan kemerdekaan belum sepenuhnya dinikmati oleh warga bangsa; kemerdekaan belum seutuhnya memerdekakan. “Kami mulai dijajah oleh nafsu dan kedengkian kami sendiri,” kata Bisri. Sebab itu, dalam puisinya itu ia memohon kepada Tuhan agar manusia tidak dijajah dan diperbudak oleh diri sendiri, oleh dengki dan nafsu yang muncul dari diri sendiri, tetapi biarlah dijajah oleh Tuhan, dikuasai dan dikendalikan oleh Tuhan. Kemerdekaan, oleh sebab itu, amat menghargai kebersamaan, kebersatuan, kemerataan, solidaritas, dan hidup senasib sepenanggungan. Suatu kehidupan yang diskriminatif, sentralistik, primordial, otoriter,yang mengakomodasi serta memberi ruang hanya satu golongan dalam masyarakat , bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai dasar dan kemerdekaan itu sendiri. Para pendiri negara kita sejak awal dengan sangat tajam mencermati adanya bahaya yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, apabila hal-hal yang diskriminatif mendapat tempat dalam kehidupan bangsa kita yang amat majemuk.

Tindakan para pendiri negara kita tanggal 18 Agustus 1945 yang berani meniadakan hal-hal yang diskriminatif dalam suatu sistem perundang-undangan yang mengatur kehidupan secara nasional, merupakan aktualisasi sikap kenegarawanan yang arif dan antisipatif. Sikap kenegarawanan seperti itu perlu diteruskan dalam kurun waktu mendatang, ketika bangsa kita menghidupi kemerdekaan pada era yang baru.

Kemerdekaan benar-benar kemerdekaan jika ia memberi tempat yang layak bagi rakyat, yaitu ketika kemerdekaan itu adalah sebuah ruang yang di dalamnya diwujudkan secara konsisten pembangunan yang berorientasi pada kepentingan rakyat banyak. Ketika rakyat hanya menjadi tumbal, ketika rakyat tak lebih dari sekadar ornamen yang selalu dijadikan “atas nama”, ketika rakyat makin tersuruk dan terpuruk, ketika rakyat selalu tersingkir dan tersungkur, ketika rakyat makin terempas dan terkandas, ketika rakyat tidak lagi memiliki haknya yang sejati, maka sesungguhnya kita belum benar-benar merdeka, tetapi baru seolah-olah merdeka. Kemerdekaan belum sepenuhnya memerdekakan.

Kemerdekaan adalah anugerah Allah, tidak jatuh dari langit, dan telah banyak menelan korban. Sebab itu, ia harus dihidupi dengan penuh tanggung jawab. Agama-agama harus diingatkan terus agar memotivasi warga bangsa agar mereka memberi kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara. Para tokoh agama harus berani menjadi pionir dan teladan dalam menghidupi kemerdekaan secara benar. Sebagai bagian padu dari bangsa, umat beragama harus berani terus-menerus menjalankan perannya secara positif, kreatif, kritis, realistis dan transformatif dalam kehidupan bangsa sebagaimana telah dilakukannya pada masa-masa lampau. Agama-agama harus menjadi nabi bagi zamannya, tidak apatis, bisu, dan membutakan diri terhadap realitas sejarah.

Oleh karena itu, agama-agama tidak boleh teralienasi dari kekinian dunia. Ia harus menjadi garam, terang, bagi komunitas di sekitar dirinya.
NKRI yang majemuk yang memberi ruang bagi agama-agama tidak boleh mengerdilkan diri mengarah ke negara agama, negara yang dibangun berdasarkan ajaran satu agama. NKRI harus benar-benar menjadi negara Pancasila yang real, konkret dan seutuhnya, sebagaimana yang sudah di tetapkan the founding fathers di masa lalu.

Seiring dengan itu, agama-agama harus bergandeng tangan menerjemahkan Pancasila dalam kehidupan konkret. Pancasila harus menjadi nafas dan roh dalam kedirian manusia Indonesia. Cerdas sekali ungkapan Bisri: kita baru merdeka seutuhnya, jika Tuhan menjajah kita. Jika kuasa Tuhan memasuki kehidupan kita, kita akan merdeka! Merdeka!

Selamat Berjuang. God Bless!

DIALAH JURU SELAMAT

Oleh Weinata Sairin

“Aku, akulah Tuhan dan tidak ada juruselamat selain daripada-Ku. Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.”

Yesaya 43: 11;25

Gaya bahasa dengan menggunakan kata ganti orang pertama memiliki makna yang amat kuat, signifikan, dan defenitif, untuk menyatakan secara pasti dan adekuat, bahwa “Akulah” yang melakukan tindakan itu. “Aku”, “Akulah” yang melakukan action, bukan orang lain, pihak lain, atau institusi lain.

Gaya bahasa seperti ini bisa kita temukan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru Yesus acapkali menggunkana gaya bahasa “Aku” untuk menegaskan kesiapan diri-Nya dan menyatakan dengan lebih kuat apa visi dan misi-Nya di tengah dunia. Materi dan konteks itu dirasakan lebih kukuh dan mendalam apabila disampaikan dalam bentuk “Aku”.

Dari aspek “rasa bahasa”, ada saja orang yang menafsirkan bentuk “Aku” seperti ini sebagai wujud dari rasa superior, bahkan sikap arogan seseorang. Namun, jika membaca teks dan konteks, dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tafsir semacam itu menjadi kehilangan relevansinya. Yesus tidak dalam kapasitas arogan atau menunjukkan superioritas-Nya, tetapi Ia mengatakan hal itu lebih pada pengertian untuk menunjukkan kasih-Nya yang menyelamatkan umat manusia.

Dirinyalah penyelamat umat manusia, bukan orang lain. Dialah satu-satunya Juruselamat umat manusia; tidak ada pihak lain yang dapat melakukan tindakan sebesar itu. Tindakan penyelamatan itu tidak ada bandingnya dengan peristiwa apapun. Itu terjadi sekali, satu-satunya, dan sempurna.

Kitab Nabi Yesaya yang dikutip di awal tulisan ini memberikan penegasan bahwa Allah yang berfirman melalui Nabi Yesaya adalah Juruselamat, bahkan Juruselamat satu-satunya. Hal yang menarik adalah bahwa istilah “Juruselamat” sudah dipakai pada saat itu, sekitar abad ke-8 SM.

Itu berarti, bahwa rencana Allah untuk menyelamatkan umat manusia dengan konsep Juruselamat bukan hal baru, melainkan sudah lama sekali “diprogramkan”. Oleh dan melalui diri Yesus Kristus-lah konsep itu mewujud nyata secara sempurna.

Cukup menarik bahwa istilah yang digunakan adalah “Juruselamat” dan bukan “Guruselamat”.
Menurut KBBI makna kata “juru” adalah “orang yang pandai dalam suatu pekerjaan yang memerlukan latihan, kecakapan, kecermatan, keterampilan”.

Kita mengenal beberapa profesi antara lain : jurumudi, jurubahasa, jurubayar, jurukunci jurumasak, juru runding. Kita bersyukur bahwa kita percaya kepada Juruselamat Yesus Kristus, Ia yang menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa.

Realitas itu yang seharusnya memotivasi kita dan Gereja-gereja untuk memberi kontribusi terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God Bless!

Ibadah Sosial

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Yesaya 1:16-17

Selamat pagi, opa-oma, bapak-ibu, mbak-mas dan segenap Saudara yang baik. Seiring dengan terbitnya mentari di ufuk timur, kembali kita memasuki hari baru. Sekaligus bertambah usia kita satu hari. Puji syukur kepada Tuhan, Pencipta kita.

Firman Tuhan pagi ini, “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, (17) belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”

Yesaya 1:16-17

Saudaraku, kita selalu berusaha beribadah kepada Allah. Seiring dengan itu, kita pun sering mengajak dan mendorong orang lain pun beribadah. Hal itu, dimotivasi kesadaran bahwa ibadah merupakan ungkapan iman kepada Allah. Dalam ibadahlah kita berjumpa dengan-Nya. Kita memuja dan memuji keagungan-Nya. Dalam ibadahlah kita merasakan momen kedekatan dengan Allah. Seperti syair sebuah lagu menyatakan, “Tuhan itu sejauh doa”.

Dengan demikian, dalam ibadah kita yakin Allah berkenan ditemui. Hati kita bergetar merasakan kehadiran-Nya. Firman-Nya menerangi emosi dan pikiran kita sebagai orang beriman. Lagu pujian menyegarkan batin kita. Pendeknya, ibadah kepada Allah momen terbaik kita merayakan relasi antara kita dan Allah.

Saudaraku, saat kita menelusuri firman Tuhan pagi ini, maka kita akan menemukan hal yang janggal. Aneh. Bertolak belakang dengan dugaan atau asumsi kita. Apakah gerangan? Allah malah menolak ibadah umat-Nya. Allah tidak berkenan dengan doa dan segala bentuk persembahan ibadah orang Israel. Kita pasti mengalami penasaran. Mengapa Allah bersikap demikian? Bukankah dalam ibadahlah momen terbaik dan terhangat manusia bisa berjumpa dengan-Nya.

Saudaraku, Allah tetap terbuka untuk menerima ibadah orang beriman. Masalahnya adalah corak ibadah itu sendiri. Betul ibadah umat Israel penuh semarak dan segala benda terbaik dipersembahkan umat itu. Sayang sekali, ibadah mereka tidak selaras dengan sikap hidup mereka. Yang ada yaitu Ibadah jalan, kemunafikan pun berjalan. Ibadah jalan, perbuatan jahat mereka tidak berhenti. Mereka tidak punya kesadaran dosa.

Bayangkan, betapa berbahayanya sikap hidup yang tanpa kesadaran adanya dosa. Itu berarti berbuat “semau gue”, tanpa merasa bersalah apa-apa walaupun tindakannya tidak pantas. Masa bodoh bahwa perbuatannya tidak baik secara etika. Menyimpang secara moral. Dan tidak perduli bahwa tindakannya merugikan sesamanya.

Rupanya, ibadah atau kegiatan keagamaan mereka hanya untuk memuaskan diri sendiri. Ya, mereka beribadah, tapi bukan memuji Allah melainkan supaya mereka sendiri dipuji. Tujuan utama ibadah mereka cuma kepuasan pribadi. Sama seperti sekarang terjadi di mana-mana. Orang beribadah supaya dipuaskan. Tidak heran ada ungkapan “saya dipuaskan beribadah di gereja anu…” kata “puas” jadi ukuran ibadah..

Saudaraku, umat Israel beribadah dengan corak luar biasa. Tangan ditadahkan ke atas. Korban persembahan banyak sekali. Meriah biasanya. Sayangnya, itu tadi. Semua itu sebenarnya bukan buat Tuhan. Ibadah yang sebenarnya untuk mereka sendiri. Pusat tujuan ibadah bukan Allah, melainkan diri mereka. Doa hanya untuk cari muka. Demi popularitas semata. Itulah bentuk kemunafikan.

Berdasarkan kekeliruan itu, Allah masih tetap membimbing mereka. Allah menganjurkan hal yang lebih baik daripada ibadah penuh kepalsuan. Yaitu, lebih baik mereka memberi perhatian sosial. Allah meminta mereka bertindak adil buat orang-orang yang rentan. Anak-anak dan janda merupakan sosok rentan. Belalah mereka. Dan berhentilah berbuat jahat. Mulailah mengawali hidup baik. Merintis meninggalkan perbuatan yang munafik.

Saudaraku, besok hari Minggu. Kita diajak untuk beribadah agar makin dekat Allah. Kita intens beribadah. Namun, bukan ibadah yang hanya untuk kepuasan diri sendiri. Ibadah demikian merendahkan Allah, meninggikan diri sendiri. Dan bentuk ibadah yang ditawarkan Allah adalah ibadah sosial. Cintai dan beri perhatian kasih atas anak-anak yang susah. Janda-janda yang miskin. Mereka yang bisa jadi ada di depan mata kita setiap hari. Yang justru menunggu praktik ibadah sosial kita.

Kita berdoa, Tuhan ajarlah kami merendahkan hati untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Sehingga ibadah kami tidak hanya di gedung gereja tapi menyentuh orang-orang yang susah dengan cinta kasih yang tulus.

Doa ini kiranya berkenan kepada-Mu, dengan tidak ada dosa yang kami simpan dan sembunyikan di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus, Tuhan dengarkanlah doa kami dan kabulkanlah. Amin.